29 November 2012

Menyelamatkan Perempuan dan Anak dari HIV/AIDS di Jateng tanpa Program yang Konkret


Tanggapan Berita (30/11-2012) – “ …. perkembangan AIDS di Jateng selalu meningkat tiap tahun.” Ini dikatakan oleh Kepala BP3AKB Sri Kusuma Astuti tentang kasus HIV/AIDS di Prov Jawa Tengah (Jateng) dalam berita “Jumlah Penderita HIV Meningkat Tiap Tahun” di suaramerdeka.com (25/11-2012).

Agaknya, Sri Kusuma tidak memahami pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Kasus HIV/AIDS di Indonesia dilaporkan secara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya. Maka, biar pun banyak pengidap atau penderita HIV/AIDS yang meninggal angka laporan kasus HIV/AIDS tidak akan pernah turun.

Yang perlu dipersoalkan adalah: Apakah ada perilaku penduduk yang berisiko tertular HIV sehingga terjadi insiden infeksi HIV baru?

Kunci jawaban adalah: Apakah ada pelacuran di Jateng?

Tentu saja Sri Kusuma akan membusungkan dada dan mengatakan: Tidak ada!

Itu memang benar. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran, sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Tahun 2010 kasus HIV tercatat 373 dan 501 AIDS. Pada 2011 755 HIV dan 521 AIDS. Sampai Juni 2012 tercatat 276 HIV dan 387 AIDS. Total kumulatif HIV/AIDS di Jateng sejak 1993 hingga Juni 2012 terdapat 5.301. Kasus terdeteksi pada pekerja swasta (20,26%), ibu rumah tangga (18,3%) dan sisanya karyawan, PSK, anak, napi maupun PNS.

Kasus-kasus yang dilaporkan itu adalah yang terdeteksi. Epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi (5.301) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut (Lihat Gambar).

Ini pernyataan Sri Kusuma: "Perempuan yang sudah tertular HIV lebih rentan masuk ke fase AIDS karena beban keluarga. Selain harus merawat diri sendiri, ia juga harus merawat suami dan anaknya."

Pernyataan itu bersifat opini karena tidak ada fakta yang mendukungnya.

Disebutkan: Untuk itu perlu kesadaran masyarakat dan komitmen dari berbagai pihak untuk menyelematkan perempuan dan anak dari kematian karena HIV dan AIDS. 

Pertanyaannya: Apa langkah Pemprov Jateng untuk menyelamatkan perempuan dan anak agar tidak tertular HIV?

Tentu saja tidak ada. Lihat saja Perwali AIDS Surakarta (http://www.aidsindonesia.com/2012/08/peraturan-walikota-surakarta-solo.html), Perda AIDS Prov Jateng (http://www.aidsindonesia.com/2012/08/perda-aids-provinsi-jawa-tengah.html), Perda AIDS Kab Semarang (http://www.aidsindonesia.com/2012/09/perda-aids-kab-semarang-prov-jawa-tengah.html), dan Perda AIDS Kab Batang (http://www.aidsindonesia.com/2012/09/perda-aids-kabupaten-batang-prov-jawa.html) sama sekali tidak memberikan langkah yang konkret untuk menanggulangi HIV/AIDS.

Disebutkan oleh Sri Kusuma: "Saya minta jauhi narkoba yang menggunakan jarum suntik. Suntak suntik suntak suntik itulah yang membikin HIV AIDS. Dan pasangan yang gonta ganti, tidak boleh yang seperti itu."

Busyet. Pasien yang menjalani operasi (bedah) memakai narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) sebagai obat anestesi.

Risiko penularan HIV melalui penyalahgunaan narkoba bisa terjadi kalau narkoba disuntikkan dengan memakai jarum secara bersama-sama dengan bergantian.

Soal ganti-ganti pasangan, banyak laki-laki ’hidung belang’ yang tidak ganti-ganti pasangan jika melacur. Mereka mempunyai ’pasangan tetap’ di kalangan pekerja seks.

Pernyataan yang dijadikan berita ini sama sekali tidak memberikan pencerahan kepada masyarakat. Tidak ada informasi yang akurat tentang cara penularan dan pencegahan.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kelak Pemprov Jateng terpaksa menghadapi ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.