09 November 2012

Banyak Suami di Kab Manokwari, Papua Barat, Menularkan HIV/AIDS kepada Istrinya



Tanggapan Berita (10/11-2012) – “Ibu rumah tangga menjadi kelompok yang paling rentan terjangkit HIV/AIDS. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Papua Barat menyebut, hingga Mei 2012 lalu tercatat 172 orang yang berstatus sebagai ibu rumah tangga (IRT) di Manokwari positif mengidap HIV. Bahkan, 58 orang di antaranya sudah pada tahap AIDS.” Ini lead berita pada berita “Di Manokwari, Pengidap HIV/AIDS Dominan Ibu-ibu” (kompas.com, 9/11-2012).

Penyebutan ibu rumah tangga terkait dengan HIV/AIDS terkesan senasional, padahal yang faktual adalah 172 suami atau laki-laki menularkan HIV/AIDS kepada istri atau pasangannya.

Ibu rumah tangga bukan orang yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV sehingga mereka tidak rentan tertular HIV. Yang rentang adalah suami yang perilakunya berisiko, al. sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan.

Seperti yang dikemukakanoleh Kepala Dinas Kesehatan Manokwari, Drg. Hendri Sembiring: "Mereka yang terjangkit itu tertular dari suami mereka sendiri."

Sayang, wartawan tidak bertanya klepada Sembiring: Apakah suami-suami ibu rumah tangga tsb. sudah menjalani tes HIV?

Kalau jawabannya sudah maka tidak ada persoalan karena suami-suami itu sudah dikonseling atau dibimbing agar tidak menularkan HIV kepada orang lain.

Tapi, kalua jawabannya belum, maka suami-suami itu akan menularkan HIV kepada orang lain, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Penyebaran HIV/AIDS terjadi tanpa disadari karena mereka tidak mengetahui kalau mereka sudah tertular HIV/AIDS.

Di Manokwari ada pengkaplingan PSK yaitu PSK asal P Jawa ditempatkan di lokasi pelacuran Maruni 55, kira-kira dua jam perjalanan dari kota Manokwari. Sedangkan PSK asal Manado buka ‘praktek’ di beberapa hotel di kota Manokwari (Lihat: ‘Praktek’ Pekerja Seks Komersial (PSK) di Manokwari, Papua Barat, ‘Dikapling’ - http://www.aidsindonesia.com/2012/10/praktek-pekerja-seks-komersial-psk.html).  

Disebutkan bahwa jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS terbanyak kedua setelah ibu rumah tangga ditempati oleh pekerja seks komersial (PSK)  sebanyak 100. Lima di antaranya telah mengidap AIDS.

Kalau saja wartawan jeli maka data 100 PSK ini merupakan isu yang menarik kalau dibawa ke ranah sosial.

Pertama, ada kemungkinan 100 PSK itu tertular HIV dari laki-laki dewasa penduduk lokal yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK. Ini artinya ada 100 laki-laki yang mengidap HIV/AIDS. Dalam kehidupan sehari-hari 100 laki-laki ini bisa sebagai suami sehingga ada risiko penularan kepada istri atau pasangan mereka.

Kedua, ada kemungkinan 100 PSK yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS itu sudah tertular di luar Manokwari.Jika ini yang terjadi maka laki-laki dewasa penduduk Manokwari yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa kondom berisiko tertular HIV. Laki-laki yang tertular HIV dari PSK dalam kehidupan sehari-hari 100 laki-laki ini bisa sebagai suami sehingga ada risiko penularan kepada istri atau pasangan mereka.

Ketiga, jika setiap malam seorang PSK meladeni tiga laki-laki, maka setiap malam ada 300 laki-laki yang berisiko tertular HIV.

Tiga hal di atas luput dari perhatian wartawan karena lebih mengedepankan sensasi yaitu ibu rumah tangga.

Dikabarkan kasus HIV/AIDS juga terdeteksi pada 82 pegawai negeri sipil (PNS), 33 di antaranya sudah masuk masa AIDS. Ini adalah konsekuensi logis karena PSN mempunyai penghasilan yang tetap sehingga mereka bisa ‘membeli’ seks kepada PSK. Celaknya, mereka melacur di kota. Padahal, PSK yang ‘praktek’ di hotel di kota tidak terjangkau program sosialisasi kondom.

Menurut Hendri, penyebaran HIV/AIDS di Manokwari sebagian besar terjadi, karena perilaku seks tidak aman.

Kondisi itu merupakan gambaran umum di Indonesia. Laki-laki ‘hidung belang’ tidak mau memakai kondom dengan berbagai macam alasan.

Untuk itulah diperlukan langkah yang konkret berupa regulasi agar laki-laki ‘hidung belang’ memakai kondom ketika sanggama dengan PSK. Celakanya, Pemkab Manokwari tidak mempunyak program yang konkret untuk mencegah penularan HIV dari laki-laki ke PSK dan sebaliknya dari PSK ke laki-laki.

Pemerintah Kabupaten Manokwari, sendiri sudah menerbitkan membuat Peraturan Daerah Perda No 6 Tahun 2006 tentang penanggulangan HIV/AIDS. Menurut Hendri: "Implementasi dari perda ini yang belum maksimal. Tapi kami terus berupaya."

Persoalannya bukan implementasi yang belum maksimal, tapi tidak ada satu pun pasal di perda itu yang memberikan langkah konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS (Lihat: Perda AIDS Kab. Manokwari, Prov Papua Barat - http://www.aidsindonesia.com/2012/10/perda-aids-kab-manokwari-prov-papua.html).  

Yang diperlukan di Manokwari adalah program yang konkret di lokasi pelacuran Maruni 55 yaitu ‘memaksa’ laki-laki ‘hidung belang’ memakai kondom jika sanggama dengan PSK. Tanpa program yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di Manokwari akan terus terjadi. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.