14 November 2012

HIV/AIDS di Kab Jember, Jatim, Didominasi Ibu Rumah Tangga



Tanggapan Berita (15/11-2012) – "Jumlah penderita HIV/AIDS saat ini sangat memprihatinkan." Ini pernyataan Kepala Dinkes Jember,Jawa Timur (Jatim), Bambang Suwartono, tentang jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Jember yang mencapai 780 yang terdata dari tahun 2003 sampai 2012 (780 Warga Jember Terinfeksi HIV/AIDS, metrotvnews.com, 13/11-2012).

Kalau saja wartawan yang menulis berita ini memahami HIV/AIDS sebagai fakta medis, maka yang memprihatinkan adalah Pemkab Jember, dalam hal ini Dinkes Jember, tidak mempunyai program yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS.

Berita ini juga tidak menjelaskan berapa kasus HIV dan AIDS serta jumlah kematian dan penyakit penyebab kematian.

Menurut Bambang, Ironisnya, penyebaran HIV/AIDS paling tinggi didominasi golongan non-risiko tinggi, seperti ibu rumah tangga, pelajar, dan mahasiswa.

Risiko tinggi tertular dan menularkan HIV bukan terletak pada kelompok atau kalangan tertentu, tapi erat kaitannya dengan perilaku seks orang per orang.

Pelajar dan mahasiswa bisa saja perilakunya berisiko tinggi tertular HIV kalau mereka pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan.

Sedangkan ibu rumah tangga perilakunya tidajk berisiko, tapi suami mereka berperilaku yang berisiko tertular HIV, al. berzina dengan perempuan yang berganti-ganti atau melacur dengan pekerja seks tanpa kondom.

Maka, yang ironis adalah banyak suami di Kab Jember yang menularkan HIV kepada istrinya.

Masih menurut Bambang: "Ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan."

Pertanyaan untuk Bambang: Apa program konkret yang Anda jalankan untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Kab Jember?

Sayang, wartawan tidak bertanya sehingga dalam berita tidak ada penjelasan tentang program yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Kab Jember.

Disebutkan bahwa Bambang mengimbau masyarakat peduli dengan memberikan pemahaman bagi yang lain agar tidak melakukan perilaku seks bebas, serta ikut mengawasi peredaran narkoba pada anak-anak muda karena hal itu memudahkan penyebaran HIV/AIDS.

Lagi-lagi Bambang menyebarkan mitos (anggapan yang salah) yaitu ‘seks bebas’. Kalau ‘seks bebas’ diartikan sebagai melacur, maka tidak ada kaitan langsung antara melacur dan penularan HIV. Penularan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual), jika salah satu dari pasangan tsb.mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali sanggama (kondisi hubungan seksual).

Ini juga pernyataan Bambang: "Kami mengimbau kepada warga yang berpotensi tinggi tertular HIV/AIDS, agar memeriksakan diri ke klinik VCT yang berada di Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Soebandi Jember, RSD Balung, dan Puskesmas Puger."

Celakanya, dalam berita tidak dijelaskan siapa ” warga yang berpotensi tinggi tertular HIV/AIDS”. Maka, himbauan itu pun tidak tepat sasaran.

Kalau saja Bambang menjelaskannya dan wartawan bertanya tentulah dalam berita ada penjelasan tentang siapa saja warga yang berpotensi tinggi tertular HIV/AIDS. Dan, mengapa mereka harus tes HIV?

Dikatakan lagi oleh Bambang: Permasalahan yang banyak muncul saat ini, keengganan penderita untuk memeriksakan diri di klinik VCT karena dipengaruhi oleh perasaan malu dan sebagian besar mereka berobat pada saat stadium lanjut atau sudah parah.

Orang-orang yang sudah terdeteksi HIV/AIDS melalui tes HIV yang sesuai dengan standar prosedur operasi tes HIV yang baku akan terus berhubungan dengan klinik VCT karena mereka memerlukan konseling dan pengobatan jika sudah sampai pada tahap tertentu, yaitu obat antiretroviral (ARV).

Berita ini menunjukkan Dinkes Jember menanggulangi HIV/AIDS di hilir, al. anjuran tes HIV. Yang diperlukan adalah penanggulangan di hulu.

Pertanyaan untuk Dinkes Jember: Apakah di wilayah Kab Jember ada praktek pelacuran?

Kalau jawabannya tidak ada, maka di Jember tidak ada penyebaran HIV/AIDS dengan faktor risiko hubungan seksual.

Tapi, kalau jawabannya ada, maka diperlukan langkah konkret berupa intertensi terhadap laki-laki yang melacur agar memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks.

Jika tidak ada intervensi, maka penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi di Kab Jember yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.