16 November 2012

Di Kota Jambi, Prov Jambi, Penanggulangan HIV/AIDS Dilakukan di Hilir

Tanggapan Berita (17/11-2012) – “HIV/AIDS ini ada yang namanya fenomena gunung es. Artinya, kalau 1 orang ditemukan dalam stadium AIDS, berarti dibawahnya masih banyak orang yang terinfeksi. Makanya jumlah itu setiap tahun bertambah. Karena, jika ditemukan hari ini 1 orang terinfeksi, maka akan ditemukan lagi tahun depan.”  Ini pernyataan Erwan Mujio, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Jambi (534 Kasus Baru HIV/AIDS, www.jambiekspres.co.id, 14/11-2012). 

Ada beberapa hal yang bisa menyesatkan dalam pertanyaan Erwan di atas karena dalam berita tidak ada penjelasan yang akurat.

Pertama, fenomena gunung es pada penyebaran HIV/AIDS artinya kasus yang terdeteksi, sekali lagi yang terdeteksi yaitu orang-orang yang sudah mengidap HIV/AIDS, adalah bagian kecil dari kasus yang ada di masyarakat. Pada gunung es kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang menyembul ke permukaan dan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Kedua, yang perlu diingat adalah tidak ada rumus yang pasti berapa kasus di masyarakat berdasarkan kasus yang terdeteksi.

Ketiga, biar pun ada kasus HIV yang terdeteksi di masa AIDS, artinya sudah tertularn antara 5-15 tahun sebelumnya tidak bisa dipastikan bahwa ybs. sudah menularkan HIV kepada orang lain.

Keempat, pernyataan ”jumlah itu setiap tahun bertambah” menunjukkan pemahaman terhadap cara pelaporan kasus HIV/AIDS yang tidak akurat. Pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga biar pun penderita atau pengidap HIV/AIDS banyak yang meninggal angka laporan tidak akan pernah berkurang atau turun.

Kelima, pernyataan ”jika ditemukan hari ini 1 orang terinfeksi, maka akan ditemukan lagi tahun depan” juga tidak akurat karena tidak bisa dipastikan kapan seseorang tertular HIV. Kasus yang terdeteksi tahun ini tidak bisa dipastikan tahun berapa dia tertular HIV.

Dikabarkan kasus HIV/AIDS di Kota Jambi terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Seak tahun 1999 sampai sekarang tercatat 543 kasus HIV/AIDS, yang terdiri atas  283 HIV dan 260 AIDS.

Ada pernyataan ” .... yang mematikan dan belum ditemukan obatnya ini.”

Pernyataan ini menyesatkan karena belum ada laporan kematian karena HIV atau AIDS atau HIV/AIDS. Kematian pada orang-orang yang mengidap HIV/AIDS terjadi karena penyakit lain yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare dan TBC, yang terjadi pada masa AIDS (setelah tertular antara 5-15 tahun).

Penyakit yang belum ada obatnya bukan hanya HIV/AIDS. Ada penyakit yang tidak ada obatnya, seperti demam berdarah. Ada pula penyakit yang ada obatnya tapi tidak bisa disembuhkan, seperti diabetes dan darah tinggi. Sedangkan HIV/AIDS ada obatnya yaitu obat antiretroviral (ARV) untuk menekan laju pertumbuhan HIV di dalam darah.

Disebutkan: ” ....  seseorang akan terinfeksi virus HIV sebelum dinyatakan positif mengidap AIDS.  Ini lanjutnya, mengalami kurun waktu yang cukup lama.”

Pernyataan ini juga tidak akurat karena tidak ada yang positif mengidap AIDS, tapi positif tertular atau mengidap (virus) HIV. AIDS adalah kondisi yang terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV yang ditandai dengan penyakit-penyakit infeksi oportunistik.

Di Kota jambi sendiri, menurut Erwan, penderita HIV/AIDS ini rata-rata dari golongan usia 20 tahun hingga 30 tahun.

Pertanyaannya:

(1) Bagaimana kasus HIV/AIDS terdeteksi pada golongan usia 20 tahun hingga 30 tahun?

(2) Apa faktor risiko penularan HIV pada usia 20 tahun hingga 30 tahun tsb.?

(3) Mengapa banyak kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada usia 20 tahun hingga 30 tahun?

Sayang, wartawan tidak mengajukan tiga pertanyaan di atas kepada Erwan sehingga tidak ada penjelasan yang komprehensif terkait dengan kasus HIV/AIDS pada usia 20 tahun hingga 30 tahun.

Terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS disebutkan oleh Erwan bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai penyuluhan di beberapa lokasi dan kepada orang yang rawan terinfeksi.

Yang diperlukan bukan hanya sekedar penyuluhan, tapi program yang konkret, al. intervensi terhadap laki-laki yang melacur agar memakai kondom. Tanpa program ini maka penyebaran HIV/AIDS di Kota Jambi akan terus terjadi.

Disebutkan pula: ” .... Kita juga melakukan pengobatan untuk ODHA yang memenuhi syarat untuk diobati.”  Ini adalah penanggulangan di hilir. Artinya, Pemkot Jambi menunggu dulu ada penduduknya yang tertular HIV baru diobati.

Dikatakan pula: “Kita juga melakukan pendampingan untuk merehabilitasi mental dan sosial penderita HIV/AIDS ini.” Ini juga di hilir. Tetap saja menunggu penduduk tertular HIV kemudian terdeteksi untuk selanjutnya didampingi.

Yang diperlukan adalah penanggulangan di hulu agar insiden infeksi HIV baru bisa ditekan. Intervensi ini perlu jika di Kota Jambi ada praktek pelacuran. Pemkot Jambi boleh-boleh saja menepuk dada dengan mengatakan bahwa di Kota Jambi tidak ada pelavcuran. Itu benar, tapi hanya karena tidak ada lokalisasi pelacurna. Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Maka, tanpa program penanggulangan yang konkret, terutama pada praktek pelacuran, kasus HIV/AIDS di Kota Jambi kelak akan sampai pada ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.