25 November 2012

Di Kota Bitung, Sulut, Agama jadi Benteng ‘Melawan’ HIV/AIDS

Tanggapan Berita (26/11-2012) – “Kegiatan keagamaan dianggap salah satu cara untuk membentengi generasi muda dari bahaya HIV/AIDS.” Ini pernyataan Walikota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), Hanny Sondakh dalam berita “Bentengi Diri Dari HIV/AIDS Lewat Kegiatan Keagamaan” (beritamanado.com,


Pertanyaan untuk Sondakh: Apakah kalangan dewasa, terutama laki-laki beristri,  sudah cukup beragama?

Kalau jawaban Sondakh mengatakan ya, maka itu bertolak belakang dengan realitas sosial terkait dengan penyebaran HIV/AIDS karena kasus HIV/AIDS justru banyak terdeteksi pada kalangan dewasa, seperti ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya.

Selain itu kalau memang kalangan dewasa di Kota Bitung sudah cukup beragama tentulah tidak ada lagi perzinaan melalui praktek pelacuran.

Atau Sondakh masih mengelak: Di Kota Bitung tidak ada pelacuran!

Ya, Sondakh benar adanya. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada ’kan lokalisasi pelacuran yang dibentuk berdasarkan regulasi atau peraturan. Tapi, apakah Sondakh bisa menjamin di kota yang dipimpinnya itu tidak ada perzinaan melalui praktek pelacuran?

Tentu saja tidak! Maka, pertanyaan selanjutnya: Mengapa tidak ada tuntutan keagamaan bagi kalangan dewasa agar tidak melacur (tanpa kondom)?

Masih menurut Sondakh, para siswa harus senantiasa membentengi diri dengan meningkatkan keikutsertaan pada kegiatan-kegiatan keagamaan. Karena menurutnya, kegiatan keagaaman terbukti menjadi salah satu penangkal ampuh untuk menghindari godaan dan cobaan dilingkungan pergaulan.

Apa alat ukur, takar dan timbang untuk menentukan tingkat keagamaan seorang remaja yang bisa menjadi ”penangkal ampuh untuk menghindari godaan dan cobaan dilingkungan pergaulan”?

Yang diperlukan setiap orang, remaja atau dewasa, adalah komitmen pada dirinya untuk menjaga diri sendiri agar tidak tertular dan menularkan HIV.

Ini juga pernytaan Sondakh: “Saya juga mengharapkan para guru dan orang tua kiranya pola pembinaan, arahan dan bimbingan kerohanian terus disampaikan dihati anak-anaknya.”

Lalu, bagaimana dengan orang tua yang perilakunya berisiko tertular HIV, misalnya, menjadi pelanggan pekerja seks?

Apakah mereka harus menjadi munafik di depan anak-anaknya?

Bayangkan jika seorang suami mencerahami anak-anaknya sedangkan istrinya mengidap HIV/AIDS yang ditularkannya. HIV/AIDS itu sendiri didapatkannya dari perilakunya, al. melacur tanpa kondom.

Lagi-lagi penanggulangan HIV/AIDS hanya dilakukan di ranah yang absurd dengan jargon-jargon retorika moral. Ini tidak akan menghambat penyebaran HIV/AIDS di Kota Bitung yang kelak akan bermuara pada ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.