28 November 2012

Di Kab Simalungun dan Kota Pematangsiantar, Sumut, Penanggulangan HIV/AIDS di Hilir


Tanggapan Berita (29/11-2012) - ”Dan pertama, yang menjadi entri poin dalam kampanye nasional adalah hilangkan stigma dan diskriminasi, dalam hal ini korban HIV dan AIDS.” Ini penyataan Misran Lubis, Direktur Eksternal Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan, pada workshop ”Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS” di Pematangsiantar, Sumut (Workshop HIV/AIDS, Hilangkan Stigma Negatif, www.kabarindonesia.com, 26/11-2012).

Stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS) terjadi di hilir. Artinya, orang tertular HIV dulu kemudian terdeteksi baru terjadi stigma dan diskriminasi.

Yang diperlukan adalah penanggulangan di hulu. Artinya, menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK).

Disebutkan: Sebelum workshop dibuka secara resmi, peserta melihat pemutaran cuplikan singkat tentang kondisi masyarakat Papua yang banyak terkena HIV dan AIDS.

Dikhawatirkan tidak ada penjelasan yang komprehensif tentang: (a) mengapa banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi di Papua?, (b) bagaimana kasus-kasus HIV/AIDS di Papua terdeteksi?, dan (c) apa faktor risiko penyebaran HIV/AIDS di Papua?

Jika jawaban dari tiga pertanyaan tsb. tidak disampaikan sebagai penjeladan tentang film itu, maka peserta akan mendapat informasi yang menyesatkan tentang HIV/AIDS di Papua.

Disebutkan oleh Rasjidin Harahap, KPA Simalungun, data korban yang terkena HIV dan AIDS tiap tahunnya semakin bertambah. Sampai bulan Juli 2012 di Kabupaten Simalungun terdeteksi 104 kasus, di Kota Pematang Siantar berjumlah 134.

Agaknya, Rasjidin lupa kalau pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga angka laporan kasus HIV/AIDS tidak akan pernah turun atau berkurang biar pun pengidap HIV/AIDS banyak yang meninggal.

Disebutkan pula bahwa yang terpenting diwujudkan adalah ada peningkatan pemahaman bersama dalam upaya menyelamatkan perempuan dan anak dari HIV.

Pertanyaannya: Apa langkah atau program yang konkret di Kab Simalungun dan Kota Pematangsiantar untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak dari risiko tertular HIV?

Tentu saja tidak ada karena semua hanya jargon-jargon moral yang menjadi retorika belaka.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kelak di Kab Simalungun dan Kota Pematangsiantar kian banyak penduduk yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.