06 November 2012

Di Bangka Belitung HIV/AIDS ’Mengarah’ ke ’Yang Tidak Berdosa’



Tanggapan Berita (7/11-2012) – ”Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat sekitar 30 persen dari 566 kasus kasus HIV/AIDS di Babel, telah mengarah pada ibu rumah tangga dan anak yang tidak berdosa.” Ini lead di beritaKasus HIV mulai menyasar ibu dan anak” (ANTARA News, 21/10-2012).

Ada fakta yang justru luput dari pernyataan pada lead berita di atas yaitu suami yang menularkan HIV kepada ibu rumah tangga.

HIV/AIDS pada ibu rumah tangga bukan karena virus tsb. berubah arah, tapi karena perilaku suami mereka yaitu, al. melacur (hubungan seksual dengan perempuan lain, seperti pekerja seks komersial/PSK, selingkuhan, dll.) tanpa kondom.

Selain itu tidak ada kaitan langsung antara yang tidak berdosa dengan penularan HIV karena penularan HIV, al. melalui hubungan seksual, bukan karena sifat hubungan seksual (dosa yaitu zina, melacur, dll.), tapi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom setiap kali sanggama).

Pertanyaannya adalah: Apakah Pemprov Bangka Belitung (Babel) bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa penduduk Babel yang melacur tanpa kondom di Babel atau di luar Babel?

Kalau jawaannya bisa, maka tidak ada risiko penyebaran HIV dengan faktor risiko hubungan seksual.

Tapi, kalau jawabannya tidak bisa, maka Babel menghadapi penyebaran HIV dengan faktor risiko hubungan seksual.

Persoalannya adalah praktek pelacuran di Babel terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu sehingga program penanggulangan, al. pemakaian kondom pada laki-laki,  tidak bisa dijalankan dengan efektif.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Babel, Pari Pusta, mengatakan: "Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan adanya peran serta pemerintah dan masyarakat dalam mensosialisasikan tentang bahaya penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) untuk meredam perkembangan kasus tersebut."

Kalau hanya sosialisasi hal itu sudah dilakukan sejak awal epdiemi. Yang perlu dilakukan adalah langkah konkret yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK.

Dikabarkan bahwa pemerintah juga harus meperhatikan masyarakat yang terjangkit HIV/AIDS tersebut dengan mengupayakan pengobatan secara rutin agar tetap bisa bertahan seperti halnya masyarakat normal lainnya.

Langkah ini merupakan program di hilir. Artinya, Pemprov Babel menunggu dulu ada penduduk yang terdeteksi HIV baru ditangani, al. melalui pengobatan.

Parni berharap masyarakat yang terjangkit HIV itu terutama para ibu rumah tangga dan anak-anak sudah terjangkit agar tetap menjaga kesehatan tubuhnya untuk bisa bertahan.

Pertanyaan untuk Parni: Apa langkah konkret KPA Babel untuk mendeteksi HIV/AIDS pdaa ibu rumah tangga?

Sayang, dalam berita tidak ada penjelasan tentang cara yang konkret dilakukan KPA Babel untuk mendeteksi HV/AIDS pada ibu rumah tangga

Dikabarkan bahwa KPA Babel berharap kepada masyarakat yang terjangkit HIV untuk tidak menyebarluaskan penyakit itu secara sengaja agar tidak menyebar dan meresahkan masyarakat di daerah itu.

Pernyataan KPA Babel ini justru mendorong stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS karena ada kesan mereka berpotensi menyebarkan HIV/AIDS.

Padahal, sebelum tes HIV mereka sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menghentikan penyebaran HIV mulai dari dirinya.

Disebuktan pula oleh Parni: "Terutama yang paling berpotensi menyebarkan virus tersebut adalah hubungan intim tanpa menggunakan alat kontrasepsi."

Tidak semua ‘hubungan intim’, maksudnya hubungan seksual, berisiko terjadi penularan HIV. Risiko penularan HIV melalui ‘hibungan intim’ hanya terjadi pada hubungan seksual yang berisiko, yaitu yang dilakukan dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan.

Pernyataan Parni itu juga menyesatkan karena tidak semua alat kontrasepi (alat untuk mencegah kehamilan atau alat KB) bisa mencegah penularan HIV. Yang bisa mencegah penularan HIV hanya kondom.

Dalam berita ini sama sekali tidak ada pembahasan terkait dengan perilaku suami. Parni sebagai petugas KPA dan wartawan ternyata mengabaikan faktor utama yang mendorong penyebaran HIV yaitu laki-laki dewasa, terkait dengan fakta yang disampaikan dalam berita ini adalah laki-laki desawa atau suami. Berita ini bias gender. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.