21 November 2012

Bagi-bagi Kondom Gratis di Kab Bulukumba, Sulawesi Selatan


Tanggapan Berita (22/11-2012) - ” ....  kegiatan bagi-bagi kondom gratis itu bertujuan mengantisipasi penyebaran dan penularan HIV/AIDS dan memberikan perlindungan kepada para pekerja kafe.” Ini pernyataan Sekretaris KPA Bulukumba, Prov Sulawesi Selatan (Sulsel), Syahruddin Melba dalam berita ”Kondom Gratis bagi Pelayan Kafe di Bira” di www.fajar.co.id (15/11-2012).

Dari pernyataan di atas dikesankan bahwa di kafe terjadi transaksi seks berupa praktek pelacuran. Untuk itu diperlukan langkah konkret berupa intervensi melalui regulasi agar laki-laki memakai kondom jika melakukan hubungan seksual dengan pekerja kafe.

Dengan membagi-bagikan kondom kepada pekerja kafe (perempuan) tidak ada manfaatnya karena posisi tawar pekerja kafe, termasuk pekerja seks komersial (PSK), sangat rendah untuk memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual.

Maka, dalam kaitan itulah diperlukan regulasi berupa peraturan yang mewajibkan laki-laki memakai kondom jika melakukan hubungan seksual dengan pekerja kafe.

Pemkab Bulukumba sendiri sudah menerbitkan peraturan daerah (perda) penanggulangan HIV/AIDS yaitu Perda No 5 Tahun 2008 tentang Penanggulangan HIV/AIDS yang disahkan tanggal 23 Juni 2008. Perda ini ada di urutan ke-30 dari 64 perda sejenis di Indonesia dan yang pertama di Sulsel sebelum Kab Luwu Timur (No 7 Tahun 2009) dan Prov Sulsel (No 4 Tahun 2010).

Tapi, karena perda-perda yang ada di Indonesia hanya copy-paste dan dirancang dengan pijakan moral, maka pasal-pasal dalam perda pun hanya bersifat normatif sehingga tidak menyentuh akar persoalan terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS (Lihat: Perda AIDS Kabupaten Bulukumba - http://www.aidsindonesia.com/2012/11/perda-aids-kabupaten-bulukumba.html).

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Bulukumba dikabarkan mencpai 106.

Disebutkan pula bahwa pembagian kondom bukan berarti menghalalkan free seks, melainkan hanya untuk mencegah penularan penyakit tersebut.

Kalau free sex diartikan sebagai zina atau melacur, maka tidak ada kaitan langsung antara zina dan melacur dengan penularan HIV. Lagi pula yang menularkan HIV/AIDS kepada pekerja kafe dan PSK adalah laki-laki dewasa yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami. Mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Kalau hanya membagi-bagikan kondom ke kafe sebagai langkah menanggulangi HIV/AIDS maka langkah itu tidak akan ada manfaatnya karena tidak ada jaminan semua laki-laki akan memakai kondom jika sanggama dengan pekerja kafe.

Maka, penyebaran HIV/AIDS di Bulukumba akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.