27 November 2012

“ABAT” (Aku Bangga Aku Tahu) yang Tidak Memberikan Cara Pencegahan yang Eksplisit


Media Watch (28/11-2012) - Apakah Pengidap HIV Bisa Dibedakan dengan Orang Normal?

Ada lagi pernyataan: ”Setiap pengidap HIV positif bisa terlihat persis sama dengan orang sehat dan normal dalam jangka waktu
yang panjang bahkan bisa sampai 10 tahun.”

Itu salah satu pernyataan dalam brosur ”Aku Bangga Aku Tahu” (ABAT) yang diproduksi oleh Pusat Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, 2011.

Pernyataan itu mengesankan pengidap HIV orang tidak sehat dan tidak normal. Ini mendorong masyarakat memberikan stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap orang-orang yang mengidap atau menderita HIV/AIDS.

Lagi pula, apa, sih, yang dimaksud ”ABAT’ orang normal terkait dengan HIV/AIDS?

Lalu ada pula jargon moral ’seks bebas’. Tapi, sama sekali tidak ada penjeladsan tentang apa yang dimaksud dengan ’seks bebas’ dalam brosur ”ABAT”.

Disebutkan dalam brosur: ”Seks bebas adalah peringkat pertama penyebaran HIV di kota-kota besar di Indonesia. 51.3% penyebaran HIV di Indonesia terjadi akibat seks bebas, dan jumlahnya terus meningkat.”

Kalau ’seks bebas’ yang dimaksud dalam ”ABAT” adalah zina atau melacur, maka: Apakah semua penularan HIV/AIDS dengan faktor risiko hubungan seksual terjadi karena zina dan melacur?

Wah, ini merupakan penghinaan terhadap ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya, bayi yang tertular HIV dari ibunya, dan orang-orang yang tertular HIV dari transfusi darah.

Lagi-lagi brosur ini hanya menyuburkan mitos. Penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (zina, melacur, dll.), tapi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom ketika sanggama). Ini fakta. Tapi, dalam brosur ”ABAT” fakta ini tidak ada.

Ini lagi pernyataan dalam ”ABAT”: ”Penularan HIV lewat seks bebas mungkin telah diketahui secara umum, ....”

Kalau ’seks bebas’ diartikan zina atau melacur, maka tidak ada kaitan langsung antara ’seks bebas’ dengan penularan HIV. Pernyataan tsb. menyesatkan.

Disebutkan lagi: ” .... semua orang mungkin merasa sudah tahu dan pernah mendengar tentang penyebaran dan penularan HIV yang sering diberitakan terjadi pada kelompok tertentu… ”

Lagi-lagi mendorong stigma terhadap kelompok tertentu yang dimaksud dalam brosur ini. Kalau yang dimaksud kelompok tertentu itu adalah pekerja seks komersial (PSK) dan waria, maka lagi-lagi ada fakta yang digelapkan, yaitu: yang menularkan HIV kepada PSK justru laki-laki, meminjam istilah ”ABAT”, normal dan sehat. Dalam kehidupan sehari-hari 'laki-laki normal dan sehat' itu bisa jadi seorang suami. Maka, tidaklah mengherakan kalau kemudian banyak ibu rumah tangga (baca: istri) yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Mereka, al. tertular HIV dari suaminya dalam ikatan pernikahan yang sah.

Ada lagi pernyataan: ”Yahh intinya hidup baik, normal dan berpendidikan dan pastinya jauh dari kemungkinan tertular HIV.”

Apa ukuran, takaran dan timbangan ”hidup baik, normal dan berpendidikan” yang bisa jauh dari kemungkinan tertular HIV?

Siapa yang berhak mengukur, menakar dan menimbang timbangan ”hidup baik, normal dan berpendidikan” yang bisa menjauhkan remaja dari kemungkinan tertular HIV?

Yang jelas risiko tertular HIV melalui hubungan seksual terjadi karena dilakukan tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK dan waria serta pelaku kawin-cerai.

Disebutkan bahwa: ”HIV menyebar pada cairan tubuh manusia, dan hanya ada tiga cairan tubuh yang rawan membawa HIV yaitu darah, ASI, dan cairan kelamin.”

Apa yang dimaksud dengan cairan kelamin?

Secara harfiah cairan kelamin adalah cairan yang keluar dari alat kelamin, al. air kencing. Nah, konsentrasi HIV dalam air kencing tidak cukup untuk ditularkan.

Susah amat, sih, mengatakan air mani dan cairan vagina?

Informasi dalam ”ABAT” ini kian tidak komprehensif. Lihat saja pernyataan ini: Di seluruh dunia termasuk di Indonesia saat ini, cairan kelamin adalah media penyebab penyebaran HIV terbesar akibat perilaku seks bebas, ....”

Tidak ada disebutkan secara eksplisit cara yang konkret yang bisa dilakukan remaja untuk mencegah penularan HIV. Remaja diajak memahami informasi, dengan harapan mereka akan otomatis mengetahui cara-cara pencegahan. Anggapan ini keliru besar karena tidak semudah itu remaja bisa mengetahui cara-cara yang konkret untuk mencegah HIV. Apalagi, informasi yang ada dalam ”ABAT” juga tidak akurat.

Persoalan utama yang dihadapi remaja adalah menyalurkan hasrat dorongan seksual. Remaja sudah ada pada tahap yang ’matang’ secara seksual setelah mereka ’mimpi basah’ (remaja putra yang mengeluarkan air mani ketika tidur yang menandakan fungsi reproduksinya sudah mulai jalan) dan menstruasi pada remaja putri.

Kalau saja yang merancang brosur ”ABAT” mau berbagi dengan remaja justru akan lebih arif dan bijaksana, yaitu menjelaskan langkah-langkah konkret yang dilakukan ketika mereka remaja dalam menyalurkan dorongan hasrat seksual sehingga tidak berisiko tertular HIV/AIDS.

Pemakaian bahasa dalam ”ABAT” ada yang tidak mengacu kepada EYD (Ejaaan Yang Disempurnakan). Lihat saja pemakaian awalan dan kata depan yang tidak tepat, seperti pada kata diantara. Di di sini kata depan bukan awalan.

Kalau hanya mengandalkan ”ABAT” remaja tidak akan mengetahui cara yang konkret untuk menyalurkan dorongan seksual tanpa berhadapan dengan risiko tertular HIV/AIDS. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

4 komentar:

  1. Riki B. Muh. Lahia (Aids Support Center Sulawesi Tengah)16 Februari 2014 11.29

    Setuju Bung Syaiful, bahkan mgkin keputusan penetapan program mlalui kegiatan promosi dengan media ABAT justru tidak mengikutsertakan para remaja atau mendengar suara-suara remaja... Sangat Tidak Partisipatif!!!

    BalasHapus
  2. Artikelnya menarik... yang seperti ini yang harus disebarkan...
    Ijin share yahhh...

    BalasHapus
  3. Leaflet ini sdh direvisi dlm cetakan tahun selanjutnya. seks bebas menjadi seks berisiko

    BalasHapus
  4. Leaflet ini sdh direvisi dlm cetakan tahun selanjutnya. seks bebas menjadi seks berisiko

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.