24 November 2012

30 Persen Pelaut di Bali Berperilaku Berisiko Tertular HIV/AIDS


Tanggapan Berita (25/11-2012) – “Pekerja di sektor transportasi laut di Indonesia, berada di urutan kelima kalangan yang sangat berisiko terkena HIV.”  (30 Persen Pelaut di Bali Rentan Terkena HIV-AIDS, www.beritasatu.com,  22/11- 2012).

Mengapa pekerja sektor transportasi laut berisiko tertular HIV?

Dikabarkan Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Cabang Bali menilai, sekitar 30 persen pelaut yang menjadi anak buah kapal di Pelabuhan Benoa Denpasar, memiliki gaya hidup berisiko sehingga rentan terserang virus HIV-AIDS.

Pertanyaan berikutnya: Apa gaya hidp berisiko sehingga mereka rentan tertular HIV?

Agaknya, gaya hidup yang dimaksud dapat dibaca dari penjelasan Ketua KPI Cabang Bali, I Dewa Nyoman Budiasa, yang mengatakan ini: "Informasi dan edukasi itu kami berikan guna mengurangi penyebaran serta memperbaiki gaya hidup rekan pelaut yang berisiko tersebut. Salah satunya adalah memberikan informasi supaya melakukan hubungan seksual menggunakan kondom."

Persoalannya kemudian adalah: Di mana mereka melakukan hubungan seksual?

Sayang, dalam berita tidak dijelaskan kapan dan di mana pelaut-pelaut itu melakukan hubungan seksual yang berisiko tertular HIV.

Soalnya, kalau hanya sebatas informasi dan edukasi tidak akan banyak manfaatnya karena hal itu sudah dilakukan sejak awal epidemi HIV di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya.

Maka, yang diperlukan adalah langkah konkret berupa regulasi di lokalisasi pelacuran berupa kewajiban memakai kondom bagi laki-laki ketika melacur.

Celakanya, di sekitar pelabuhan di Bali tidak ada lokalisasi pelacuran sehingga program kondom tidak bisa dijalankan secara efektif. Program wajib kondom hanya bisa efektif, seperti yang dilakukan Thailand, jika pelacuran dilokalisir dan germo diberikan izin usaha sebagai pintu masuk untuk menerapkan sanksi hukum.

Disebutkan oleh Budiasa: "Berdasarkan hasil penilaian yang kami lakukan kepada ribuan pelaut yang bekerja dan hidup di sekitar Pelabuhan Benoa, diperoleh kisaran 30 persen memiliki gaya hidup berisiko."  Data menunjukkan jumlah pelaut yang berada dan melakukan aktivitas di pelabuhan di wilayah ibu kota Provinsi Bali itu ada sebanyak 22.000.  

Maka, paling tidak ada 6.600 pelaut yang berisiko tertular HIV. Angka ini tentulah tidak bisa dianggap remeh karena kalau mereka tertular HIV maka mereka akan menjadi mata rantai penyebaran HIV. Yang beristri akan menularkan HIV kepada istrinya, jika istrinya tertular maka ada risiko penularan kepada bayi yang dikandungnya kelak. Kalau mereka mempunyai istri lebih dari satu dan pasangan lain maka jumlah perempuan yang tertular HIV bertambah banyak.

Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga menunjukkan suami mereka melacur tanpa kondom. Jika program penanggulangan tidak konkret, terutama untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru, maka penyebaran HIV/AIDS akan terus terjad. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.