27 Oktober 2012

Pengidap HIV/AIDS di Probolinggu Dirujuk ke Malang

Tanggapan Berita (28/10-2012) – “240 Pasien HIV/AIDS Dirujuk ke RSSA Malang”. Ini judul berita di Okezone (1/10-2012).

Judul ini fantastis dan sensasional. Berita tsb. tentang pengidap HIV/AIDS di Kab Probolinggo, Jatim, yang dikabarkan harus dirujuk ke Malang.

Pertama, tidak semua orang yang terdeteksi HIV/AIDS otomatis harus berobat.

Kedua, dikesankan 240 pengidap HIV/AIDS itu harus mendapakan perawatan khusus.

Ketiga, puskesmas dan rumah sakit bisa menangani penyakit-penyakit yang terkait dengan infeksi HIV, seperti diare, jamur, dan TBC.

Dalam berita disebutkan: “Mereka dirujuk karena tidak ada rumah sakit yang memiliki fasilitas pengobatan khusus untuk pasien positif HIV/AIDS di Probolinggo.”

Lagi-lagi pernyataan ini mengesankan orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS harus menjalani penanganan khusus. Pernyataan ini tidak pas karena puskesmas dan rumah sakit mempunyai fasilitas pengobatan untuk orang-orang yang terdeteksi HIV/AIDS. Penanganan yang intensif dibutuhkan untuk pasien-pasien dengan semua jenis penyakit pada tahap tertentu.

Disebutkan lagi: “Untuk gelombang pertama diberangkatkan hari ini sebanyak 10 pasien. Mereka akan menjalani pemeriksaan dan pengobatan secara rutin.”

Pernyataan ini pun tidak akurat karena tidak semua orang yang sudah terdeteksi HIV/AIDS otomatis harus ‘menjalani pemeriksaan dan pengobatan secara rutin’.

Pemberian obat antiretroviral (ARV) kepada orang-orang yang mengidap HIV/AIDS pun tidak otomatis ketika mereka terdeteksi mengidap HIV/AIDS karena harus menjalani tes CD4 dulu. Jika CD4 sudah di bawah 350 baru diberikan obat ARV.

Menurut Badrut Taman, Manager Kasus Penanganan HIV/AIDS LSM Prolink Community, Kabupaten Probolinggo: "Mayoritas dari mereka tertular dari orangtuanya dan juga dari jarum suntik."

Jika disimak pernyataan Badrut di atas tentulah sebagian besar dari 240 pengidap HIV/AIDS di Probolinggo itu bayi atau anak-anak.

Pertanyaan untuk Badrut yang tidak ditanya oleh wartawan adalah: Apakah orang tua, terutama ayah, bayi dan anak-anak tsb. sudah menjalani tes HIV?

Kalau jawabannya TIDAK, maka penyebaran HIV/AIDS melalui ayah bayi atau anak-anak yang terdeteksi HIV/AIDS itu akan terus terjadi, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Celaknya, dalam berita tidak dijelaskan apa penyakit, disebut sebagai infeksi oportunistik, 240 orang yang terdeteksi HIV/AIDS tsb. sehingga mereka harus dirujuk ke Malang.

Karena tidak ada informasi tentang penyakit 240 orang yang mengidap HIV/AIDS sampai mereka dirujuk ke Malang mengesanan orang-orang yang tertular HIV harus mendapatkan perawatan khusus. Ini yang mendorong stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.