18 Oktober 2012

Penduduk Kab Kepulauan Meranti, Riau, Tes HIV ke Pekanbaru



Tanggapan Berita (19/10-2012) – “Angka penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kepulauan Meranti (Prov Riau-pen.) dalam sepuluh tahun terahir terus meningkat. Dari 300 sampel darah yang diambil, 3 sampel diantaranya positif tertular virus HIV.  Kemudian dari data kiriman pihak RSUD Tanjung Balai Karimun, 1 warga Meranti lainnya juga dinyatakan positif menderita AIDS. “ Ini lead di berita “Penderita HIV/AIDS Terus Meningkat” (www.haluankepri.com, 24/9-2012).

Pernyataan pada lead berita ini menunjukkan pemahan wartawan yang menulis berita tsb. terkait dengan HIV/AIDS tidak komprehensif.

Pertama, angka laporan kasus  HIV/AIDS akan terus bertambah karena pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya. Maka, biar pun banyak pengidap HIV/AIDS meninggal angka laporan tidak akan pernah turun.

Kedua, tidak dijelaskan dari kalangan mana saja 300 sampel darah itu diambil dan kapan sampel darah itu diambil. Hasil tes HIV atau survailans tes HIV erat kaitannya dengan waktu. Artinya, hasil tes terhadap 300 sampel tsb. hanya berlaku saat sampel darah diambil karena setelah sampel darah diambil bisa saja ybs. tertular HIV/AIDS karena melakukan perilaku berisiko.

Ketiga, tidak ada yang positif menderita AIDS karena yang dites adalah (virus) HIV, sedangkan AIDS adalah kondisi pada diri seseorang yang sudah tertular  HIV antara 5 – 15 tahun. Yang benar adalah salah satu kasus terdeteksi HIV pada masa AIDS.

Di bagian lain ada lagi pernyataan: “Dari data, kasus serangan HIV di Meranti dari tahun 2007 sampai tahun 2012 ditemukan ada 21 kasus. Kemudian untuk kasus AIDS, mulai terdeteksi di Meranti pada tahun 2004. “

Pernyataan di atas menunjukkan ketidaktahuan terhadap perbedaan antara HIV dan AIDS. Semua kasus HIV/AIDS bermula dari deteksi HIV. Ada yang terdeteksi HIV pada masa AIDS. Ini terjadi karena ybs. sudah tertular HIV antara 5 – 15 tahun sebelum terdeteksi.

Terkait dengan kasus HIV/AIDS di Meranti, Kepala Dinas Kesehatan Kab Kepulauan Meranti, dr  Irwan Suandi, melalui Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan KabKepulauan Meranti, dr.Riasari, mengatakan: "Masyarakat Meranti tidak perlu cemas. Ketiga penderita yang sudah dinyatakan positif HIV tersebut, terus dipantau. Ketiga penderita juga rutin melakukan pengobatan di RSUD Pekanbaru.”

Pernyataan dr Riasari ini mengesankan orang-orang yang mengidap HIV/AIDS akan menularkan HIV kepada orang lain. Ini tidak benar karena orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS melalui tes HIV sesuai dengan standar baku sudah berjanji tidak akan menularkan HIV kepada orang lain.

Yang perlu diperhatikan adalah: Apakah di Meranti ada pratek pelacuran?

Kalau jawabannya ADA, maka yang perlu dilakukan adalah menanggulangi penyebaran HIV dari laki-laki dewasa lokal ke pekerja seks komersial (PSK) dan dari PSK ke laki-laki dewasa lokal melalui hubungan seksual.

Untuk itu diperlukan program yang konkret. Celakanya, Perda AIDS Prov Riau sama sekali tidak memberikan cara-cara penanggulangan HIV/AIDS yang konkret (Lihat: Perda AIDS Provinsi Riau - http://www.aidsindonesia.com/2012/10/perda-aids-provinsi-riau.html).

Disebutkan lagi: “Kasus serangan virus HIV/AIDS di Kabupaten Kepulauan Meranti, urai dr. Riasari, memang menunjukan adanya peningkatan kasus. Kasus serangan HIV mulai ditemukan pada 2007 lalu.”

Sebagai virus HIV tidak menyerang, tapi menular melalui cara-cara yang sangat khas, al. (a) melalui hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dari yang mengidap HIV/AIDS kepada pasangannya; (b) melalui transfusi darah yang mengandung HIV/AIDS; (c) melalui jarum suntik yang mengandung darah yang mengandung HIV/AIDS, dan (d) melalui air susi ibu (ASI) yang mengandung HIV/AIDS.

Dikabarkan bahwa “Saat ini RSUD Selatpanjang belum memiliki VCT (klinik tempat tes HIV gratis secara sukarela dengan bimbingan-pen.) sehingga belum bisa menangani kasus HIV/AIDS. Makanya para penderita HIV/AIDS ini dirujuk di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru,  RSUD Tanjung Balai Karimun dan Batam. ….”

Ongkos speed boat dari Selatpanjang, ibu kota Kep Meranti, ke Pekanbaru Rp 120.000 – Rp 135.000 sekali jalan. Maka, pengidap HIV/AIDS di Meranti harus mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah hanya  untuk konsultasi, mengambil obat antiretroviral (ARV) dan tes HIV.

Kondisi tsb. tentulah menyulitkan bahwa penduduk yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS dan keterbatasan untuk mendeteksi kasus HIV/AIDS baru.

Wakil Bupati Kepulauan Meranti Drs H Masrul Kasmy, MSi, mengatakan bawah penularan HIV/AIDS terjadi karena melanggar kehidupan norma-norma agama. Sepanjang masih berpegang teguh pada kehidupan yang agamais, tidak akan terserang virus mematikan ini.

Pernyataan wakil bupati di atas menunjukkan pemahaman yang tidak akurat terhadap HIV/AIDS.

Pertama, tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV/AIDS dan ‘melanggar kehidupan norma-norma agama’. Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom.

Kedua, tidak ada kaitan antara penularan HIV dengan ‘berpegang teguh pada kehidupan yang agamais’ karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom.

Ketiga, HIV bukan virus mematikan karena kematian pada orang-orang yang sudah mengidap HIV/AIDS terjadi karena penyakit lain, disebut infeksi oportunistik, seperti diare dan TBC.

Disebutkan pula “Apalagi proses penularannya juga sangat spesifik, melalui hubungan seksual bebas ….”

Kalau ‘seksual bebas’ diartikan sebagai zina atau melacur, maka tidak ada kaitan antara ‘seksual bebas’ dengan penularan HIV karena penularan HIV dalam ikatan pernikahan yang sah juga bisa terjadi.

Lagi-lagi wakil bupati mengatakan: “ …. langkah yang paling aman, jauhi seks bebas ….”

Langkah yang paling aman mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungn seksual adalah jangan melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan orang yang sudah mengidap HIV/AIDS.

Selama Pemkab Kep Meranti tidak mempunyai program yang konkret untuk menanggulangi HIV/AIDS, maka selama itu pujla penyebaran HIV akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

1 komentar:

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.