05 Oktober 2012

Denpasar Rancang Pidanakan Penular HIV


Foto: Lokakarya HIV dan Media (KPA Prov Bali - MRO KPA Prov BaliHCPI/AusAID), Depasar 22-23 September 2012.

Natanews, Denpasar, Komisi XVII DPRD Kota Denpasar kini masih menggodok draf  Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) HIV/AIDS. Jika ranperda ini disetujui dewan, maka mereka yang terbukti sengaja menularkan virus HIV kepada orang lain di Kota Denpasar bakal dipidanakan.

Ada beberapa poin yang mengundang sorotan, yakni pada sub materi mengenai pasangan pasutri sebelum menikah yang dapat melakukan tes di VCT (klinik HIV) dan mempidanakan pelaku yang sengaja menyebarkan virus. Namun dua sub materi tersebut dinilai kurang tepat karena tidak bisa menyelesaikan persoalan, yakni kian merebaknya kasus HIV/AIDS di Denpasar.

Menurut Ketua LSM Info Kesehatan Reproduksi (Kespro) Syaiful W Harahap, anjuran tes HIV bagi calon pasangan pengantin tidak banyak berdampak jika berkaitan sebagai program penanggulangan meningkatnya kasus HIV.

"Tidak bisa menjamin, pemeriksaan sebelum atau setelah menikah salah satu pasangan atau pun keduanya tidak tertular virus HIV," katanya saat menjadi pembicara dalam Lokakarya HIV dan Media yang digelar Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali di Sanur, Minggu (23/9).



Langkah itu tidak akan efektif, sebab boleh saja saat periksa calon pengantin itu hasilnya negatif dari virus. Lantas, setelahnya bagaimana?. Justru dengan hasil negative itulah setelahnya tidak bisa terdeteksi penyebaran virus ke orang-orang berikutnya.

Syaiful menyoroti materi draf ranperda HIV terkait mempidanakan pelaku yang sengaja menyebarkan/menularkan virus tersebut ke orang lain. Menurutnya, pemidanaan bagi penyebar HIV juga tidak efektif. Pasalnya hukuman paling berat dalam sebuah perda adalah maksimal 6 bulan. "Setelah itu bebas, dan dia bisa menyebarkan lagi. Maka, sanksi itu tidak akan efektif juga," tegasnya lagi.

Lebih lanjut Syaiful mengungkapkan, dari aturan perda di Indonesia tentang masalah itu, ada 55 perda mengenai HIV/AIDS yang sudah dibacanya. Diketahui 53 di antaranya semua "copy paste", yang diadopsi dari Tailand. Rata-rata perdanya hanya normatif saja."Kalau mau mengadopsi Thailand tirulah yang relevan, misalnya mewajibkan perempuan hamil untuk mengikuti tes guna menyelamatkan sang anak," ujarnya.

Artinya, lanjut dia, jika perempuan hamil ini tahu terinfeksi, maka anaknya bisa diselamatkan. Demikian juga, laki-laki yang menularkan suami misalnya bisa terdeteksi maka hal itu bisa dipotong jaringan penularan virus ke orang berikutnya.

Hal utama dalam perda sebagai langkah pencegahan adalah membuat lokalisasi. Perlu dilakukan pemetaan lokalisasi dengan pendataan yang pasti. Jadi, setiap germo diberikan izin usaha, sehingga legal. Untuk mendapat izin usaha ini, setiap germo diwajikan agar pekerja seksualnya rutin dites HIV dan IMS. Juga mewajibkan setiap tamu, pelanggan menggunakan kondom. "Kalau terbukti terinfeksi, langsung izin usaha itu dicabut," tegasnya.
(007)

[Sumber: http://www.natanews.com/957/denpasar-rancang-pidanakan-penular-hiv/]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.