02 September 2012

Seorang Bocah Siswa SD di Aceh Utara Terdeteksi Mengidap HIV/AIDS


Tanggapan Berita. Dikabarkan Wakil Bupati Aceh Utara, Muhammad Jamil, mengaku prihatin setelah membaca berita tentang bocah SD tertular AIDS di salah satu kecamatan pedalaman di Aceh Utara. Wakil Bupati berjanji akan membantu meringankan beban bocah tersebut ….” (Wabup Aceh Utara Prihatin Siswa SD Idap AIDS, beritasore.com, 31/8-2012).

Jika dikaitkan dengan upaya penanggulangan HIV/AIDS yang perlu diperhatikan oleh Muhammad Jamil bukan membantu bocah itu, tapi menjalankan program penanggulangan HIV/AIDS yang konkret. Sayang, dalam berita tidak ada penjelasan tentang langkah-langkah konkret Pemkab Aceh Utara dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS.

Muhammad Jamil dikabarkan mengatakan pihaknya akan gencar mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS dan narkoba ke sekolah-sekolah dan ke berbagai instansi pemerintah lainnya.

Yang perlu disampaikan bukan bahaya HIV/AIDS, tapi cara-cara pencegahan yang konkret.

Tidak pula ada penjelasan apa langkah Pemkab Aceh Utara jika kelak bocah itu mengalami masalah di sekolah kalau identitasnya tersebar. Soalnya, di beberapa daerah terjadi penolakan oleh pihak sekolah terhadap anak-anak dengan HIV/AIDS...

Berita ini sama sekali tidak membawa fakta ini, bocah pengidap HIV/AIDS, ke ranah realitas sosial terkait dengan penyebaran HIV.

HIV/AIDS pada bocah itu tentu saja tidak ‘turun dari langit’ atau ‘ditiup makhluk halus’, tapi HIV pada bocah itu ditularkan ibunya. Sedangkan ibu bocah itu tertular HIV dari suaminya.

Maka, yang perlu dipersoalkan adalah di Aceh Utara ada suami yang menularkan HIV kepada istrinya. Dalam berita tidak ada penjelasan mengapa dan bagaimana bocah itu tertular HIV.

Dalam berita juga tidak dijelaskan apakah kedua orang tua bocah itu sudah menjalani tes HIV. Soalnya, kalau ayah bocah itu tidak menjalani tes HIV, maka bisa jadi dia akan menularkan HIV yang diidapnya kepada orang lain, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Menurut Muhammad Jamil, untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS dalam sosialisasinya akan disuguhkan ceramah agama yang disampaikan para mubaligh. Diharapkan dengan sosialisasi itu nantinya dua persoalan itu lambat laun dapat diatasi.

Tidak ada kaitan langsung antara agama dan penularan HIV karena tidak semua (cara) penularan HIV terkait dengan moral.

Penularan HIV melalui hubungan seksual, misalnya, bisa terjadi di dalam ikatan pernikahan yang sah jika salah satu dari pasangan itu mengidap HIV/AIDS dan suami tidak memakai kondom setiap kali sanggama.

Informasi yang menyesatkan tersebar luas di Aceh berupa penyangkalan dengan mengatakan HIV/AIDS di Aceh dibawa orang luar pasca tsunami. Padahal, kasus HIV/AIDS tidak banyak terdeteksi sebelum tsunami karena kegiatan terkait HIV/AIDS tidak ada (Lihat: Merunut “Perjalanan” HIV/AIDS di Aceh - http://www.aidsindonesia.com/2012/09/menrunut-perjalanan-hivaids-di-aceh.html).


Pertanyaannya adalah: Apakah Pemkab Aceh Utara bisa menjami tidak ada laki-laki dewasa penduduk Aceh Utara yang melacur tanpa kondom di Aceh atau di luar Aceh?

Kalau jawabannya bisa, maka tidak ada penyebaran HIV/AIDS dengan faktor risiko hubungan seksual di Aceh Utara. Kemungkinan penularan terjadi dengan faktor risiko lain, seperti transfusi darah, jarum suntik pada penyalahguna narkobat, dll.

Tapi, kalau jawabannya tidak bisa, maka Pemkab Aceh Utara akan menghadapi penyebaran HIV/AIDS yang kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.