17 September 2012

Mau Mengakhiri Hidup karena Hasil Tes HIV Meragukan



Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, fax, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan melalui: surat ke LSM ”InfoKespro”, PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, e-mail aidsindonesia@gmail.com dan SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: Pada awal bulan Maret 2011 saya pertama kali  berhubungan intim dengan pekerja seks komersial (PSK) tampa mengunakan kondom. Ketika itu di bagian kelamin saya ada luka bekas garukan. Esok harinya gigi saya yang berlubang sakit dan membusuk. Gigi saya saya cabut dan sakitnya hilang. Seminggu kemudian saya demam disertai sakit tenggorokan selama dua minggu dan diare selam enam hari. Kemudian sembuh. Tapi, setelah diare sembuh timbul kemerah-merahan dibagian kiri kanan lidah di bagian dalam sampai sekarang belum sembuh. 

Pada bulan Maret 2012, setahun setelah saya melakukan hubungan intim itu, saya melakukan te HIV dua kali di dua rumah sakit berbeda. Hasil tes negatif (nonreaktif). 

Tes HIV di rumah sakit pertama (rumah sakit swasta) dilukan dengan rapid test dan ELISA.

Saya juga melakukan medical check up hasilnya normal hanya didiagnosa terdapat lemak jahat di dalam tubuh saya. dan sampai sekarang saya tidak pernah melakuan hubungan bandan dengan siapa pun. Tapi, sekarang sering terkena bisul berulang-ulang dan pernah timbul bisul di bagian kelamin saya.

Saya sangat takut jika nanti saya melakukan tes HIV hasilnya jadi positif sedangkan saya tidak pernah melakukan tindakan berisiko lagi. Apalagi akhir tahun ini saya akan menikah. Sering terlintas di pikiran saya untuk mengakhiri hidup karena ini akan menjadi aib bagi keluarga saya. Saya menyesal telah melakukan perbuatan itu.

Yang ingin saya tanya: (1) Apakah saya sudah terinfeksi HIV? (2) Mungkinkankah dua rumah sakit tersebut melakukan kesalahan dalam tes HIV? (3) Apakah ada orang yang terinfeksi HIV masa jendelanya lebih dari setahun baru terdeteksi? (4) Apa yang harus saya lakukan agar saya benar-benar yakin tidak tertular HIV? (5) Apakah di kota saya (?) ada tempat tes HIV yang benar-benar hasil tesnya bisa dipecaya? (6) Apakah saya bisa ngobrol melalui telepon?
Mr ”Q” di sebuah kota di P Sumatera (via e-mail,8/9-2012)


Jawab: Mr ”Q”, tenang. Tidak usah panik. Biar pun tertular HIV itu bukan akhir dari segalanya. Anda tidak perlu berpikir pendek untuk mengakhiri hidup hanya karena takut terdeteks HIV/AIDS. Penularan HIV tidak hanya dari hubungan seksual pada zina atau melacur. Di dalam ikatan pernikahan yang sah pun bisa terjadi penularan HIV jika salah satu mengidap HIV/AIDS dan suami tidak memakai kondoms setiap kali sanggama.

Jika hubungan seksual yang pertama Anda lakukan yaitu di bulan Maret 2011 dengan PSK maka ada risiko. Tapi, risiko tertular HIV melalui hubungan seskual, di dalam dan di luar nikah, tanpa kondom dengan yang mengidap HIV/AIDS probabilitasnya (kemungkinan) hanya ada satu kali. Persoalannya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang ke berapa terjadi penularan. Bisa saja pada hubungan seksual yang pertama, kesepuluh, kelima puluh, ke sembilan puluh, bahkan bisa saja yang keseratus. Artinya, setiap hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK berisiko tertular HIV.

Anda ’salah langkah’ yaitu melalukan tes dengan inisiatif sendiri ke rumah sakit yang tidak mempunyai konselor. Standar prosedur operasi tes HIV yang baku harus ada konseling (bimbingan) sebelum dan sesudah tes HIV. Artinya, apa pun hasil tes tetap ada bimbingan. Kalau hasil tes HIV negatif, maka konselor akan membimbing agar tidak melakukan perilaku berisiko. Kalau hasil tes positif maka Anda akan dibimbing untuk menjalani hidup dengan status mengidap HIV. Mulai dari pendampingan dan pengobatan akan diberikan secara gratis.

Pemerintah sudah mengatur tes HIV di beberapa institusi, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, dan LSM berupa rekomendasi karena institusi tsb. mempunyai konselor yang sudah menjalani pelatihan khusus. Institusi tsb. juga akan menjalankan tes HIV sesuai dengan standar baku, al. konseling, kerahasiaan, dll.

Rapid test memang bukan untuk diagnosis, tapi hanya untuk keperluan survailans, misalnya, untuk darah donor. Sedangkan ELISA harus dilakukan dengan tiga kali tapi dengan reagen dan teknik tes yang berbeda. Soalnya, standar tes HIV untuk diagnosis diharuskan ada tes konfirmasi. Artinya, hasil tes pertama harus dikonfirmasi dengan tes lain. Yang lazim adalah tes pertama dengan ELISA kemudian tes konfirmasi dengan Western blot. WHO merekomendasi tes ELISA bisa dipakai konfirmasi yaitu dengan tiga kali tapi dengan reagen dan teknik yang berbeda.

Hasil tes yaitu reaktif dan nonreaktif tidak bisa diputuskan sebagai positif dan negatif karena harus ada diagnosis dokter. Al. dikaitkan dengan riwayat perilaku seksual yang menjalani tes. Kalau ybs. tidak pernah melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV, maka hasil tes itu akan disimpulkan oleh dokter bukan oleh konselor, pegawai atau karyawan laboratorium.

Gejala-gejala yang Anda alami memang ada kaitannya dengan infeksi HIV, tapi seperti pengakuan Anda perilaku berisiko hanya sekali Anda lakukan. Maka, Anda harus jujur pada diri sendiri karena kalau hanya satu kali tentulah risko tertular rendah sehingga tidak akan menimbulkan gejala yang terkait dengan infeksi HIV/AIDS.

Usaha Anda untuk memastikan bahwa di tubuh Anda tidak ada HIV karena akan menikah merupakan langkah yang arif. Ini penting karena untuk melindungi istri dan anak-anak Anda kelak. Tidak usah takut. Laki-laki pengidap HIV dan istri tidak mengidap HIV bisa mempunyai anak yang bebas HIV melalui proses bayi tabung atau program obat antiretroviral (ARV) dengan bantuan dokter. Bahkan, satu pasangan suami istri yang mengidap HIV pun tetap ada kemungkinan mempunyai anak yang bebas HIV asalkan ditangani oleh dokter.


(1) Untuk mengetahui apakah Anda sudah tertular HIV atau belum hanya bisa dilakukan melalui tes HIV. Untuk itu sudah dikirimkan nama dan nomor kontak konselor di kota Anda. Silakan hubungi. Semua gratis.

(2) Kita tidak bisa mengatakan salah satu tidak karena dua rumah sakit yang Anda sebutkan tidak termasuk dalam jaringan tes HIV yang dirujuk oleh Kemenkes RI. Maka, pertanyaannya adalah: Apakah dua rumah sakit itu menerapkan standar prosedur operasi tes HIV yang baku?

(3) Masa jendela yaitu rentang waktu metabolisme tubuh memproduksi antibody HIV berlangsung sampai tiga bulan sejak tertular. Tes HIV dengan rapid test dan ELISA mencari antibody, bukan virus. Tes yang mencari virus tanpa ada masa jendela adalah tes PCR (Polymerase Chain Reaction).

(4) dan (5) Ya, Anda sebaiknya tes ke klinik VCT yang sudah direkomenasi oleh Kemenkes RI. Kami sudah kirim nama dan nomor kontak konselor di kota Anda. Silakan hubungi.

(8) Silakan. Nomor kontak sudah dikirim via e-mail.

Kita berharap Anda benar-benar jujur pada diri sendiri. Artinya, seperti yang Anda katakan Anda hanya sekali melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK. Setelah itu tidak pernah lagi. Soalnya, kalau Anda tidak jujur, maka Anda sendiri yang menanggung rugi. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Discalaimer. Tulisan ini bersifat umum yang dimaksudkan sebagai informasi tentang HIV/AIDS pada tataran realitas sosial. Terkait dengan aspek medis tentang HIV/AIDS silakan menghubungi Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), rumah sakit umum daerah, puskesmas, atau Klinik VCT di rumah sakit atau poliklinik di tempat Anda.

6 komentar:

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.