03 September 2012

Kab Bangka, Prov Bangka Belitung: HIV/AIDS Ditanggulangi di Hilir


Tanggapan Berita – ”Kasus HIV/Aids di Kabupaten Bangka mengalami peningkatan. Artinya kasus yang terlaporkan itu meningkat karena makin aktifnya program Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangka untuk memberikan penyuluhan, sosialisasi maupun pelayanan yang terkait HIV/Aids.” Ini dikatakan oleh Pengelola Program HIV/Aids Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Sopianto (Dinkes Bangka Catat 26 Orang Terjangkit HIV/Aids, www.radarbangka.co.id, 31/8-2012)

Langkah Dinkes Kab Bangka yaitu penyuluhan, sosialisasi maupun pelayanan merupakan upaya penanggulangan di hilir. Artinya, Dinkes Bangka menunggu penduduk tertular HIV/AIDS dahulu baru ditangani.

Yang diperlukan adalah penanggulangan di hulu, yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran.

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Bangka mencapai 60. Yang disebutkan Sopianto sebagai keberhasilan Dinkes Bangka adalah kasus HIV/AIDS baru yang terdeteksi di klinik VCT RSUD Sungailiat yaitu 26 HIV positif, dan dua kasus AIDS. Pengidap HIV/AIDS yang sudah masuk masa AIDS itu dikabarkan dirawat. Ini artinya, dua pengidap HIV/AIDS itu sudah tertular HIV antara 5 – 15 tahun sebelumnya.

Masih menurut Sopianto: "Jika kita lihat penderita mengalami peningkatan setiap tahunnya karena jumlah ini akses baru yang terlaporkan. Semakin baik proses data kita maka banyak kasus yang terlaporkan."

Karena pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif yaitu kasus lama ditambah kasus baru sehingga angka kasus yang dilaporkan akan terus bertambah. Kasus HIV/AIDS yang dilaporkan merupakan kasus yang (baru) terdeteksi. Ini artinya orang sudah tertular HIV/AIDS.

Disebutkan bahwa di klinik VCT RSUD Sungailiat ada kelompok kerja HIV/Aids yang didukung oleh Dinkes untuk bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat mulai dari konseling sampai kepada pengobatan, termasuk perawatan di rumah sakit.

Konseling, pengobatan dan perawatan merupakan langkah di hilir. Artinya, ada dulu penduduk yang tertular HIV baru bisa dilakukan konseling, pengobatan dan perawatan.
           
Menurut Sopianto: "Semua orang berisiko, pemakaian alat cukur, alat-alat facial salon, jarum suntik dan melalui tranfusi darah juga bisa. Kita tidak pernah tahu tinggal bagaimana agar orang tidak tertular."

Pernyataan Sopianto ini menyesatkan karena tidak akurat karena tidak semua orang berisiko tertular HIV.

Seseorang berisiko tertular HIV, al. jika perilaku seksnya berisiko yaitu sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Belum ada kasus penularan dengan faktor pisau cukur dan alat facial yang dilaporkan.

Kasus yang banyak dilaporkan adalah penularan HIV melalui hubungan seksual tanpa kodom dengan orientasi seks heteroseksual, misalnya, pelacuran.

Berita ini sama sekali tidak memberikan gambaran yang ril tentang penyebaran HIV/AIDS di Kab Bangka karena tidak menggambarkan perilaku sebagian laki-laki yang terlibat dalam praktek pelacuran.

Dinkes Bangka boleh saja menepuk dada dengan mengatakan di wilayahnya tidak ada pelacuran karena tidak ada lokalisasi pelacuran yang dibina oleh dinas sosial.

Ya, boleh-boleh saja menepuk dada, tapi apakah Sopianto bisa menjamin di Kab Bangka tidak ada praktek pelacuran?

Kalau Sopianto bisa menjamin di daerahnya tidak ada pelacuran, maka penyebaran HIV di Kab Bangka bukan karena hubungan seksual, tapi faktor risiko lain.

Tapi, kalau Sopianto tidak bisa menjamin maka praktek pelacuran akan menjadi terminal penyebaran HIV yaitu dari laki-laki ke PSK dan sebaliknya dari PSK yang mengidap HIV/AIDS ke laki-laki yang mengencani PSK tanpa kondom.

Kalau Pemkab Bangka tetap mengabaikan praktek pelacuran di wilayahnya, maka penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi yang kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.