14 Agustus 2012

HIV/AIDS di Kab Sintang, Kalbar, Dicegah dengan Perilaku Hidup Sehat


Tanggapan Berita. “Pemerintah Kabupaten Sintang (Prov Kalimantan Barat-pen.) menemukan setidaknya 18 kasus HIV/AIDS setiap tahun. Dimana dalam rentang 2006 hingga Maret 2012 telah tercatat 102 kasus. Karena itu sebagai upaya pencegahan diharapkan semua kalangan masyarakat menumbuhkan perilaku hidup sehat dan menjauhkan diri dari hubungan bebas.” Ini lead di berita “18 Kasus HIV/AIDS Setiap Tahun” (www.pontianakpost.com, 8/8-2012). 

Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada setiap tahun belum tentu insiden penularan terjadi pada tahun tsb.

Pertama, kalau kasus HIV/AIDS terdeteksi pada masa AIDS, suatu kondisi orang yang sudah tertular HIV, berarti ybs. Sudah tertular HIV antara 5 – 15 tahun sebelumnya.

Kedua, kalau kasus HIV/AIDS terdeteksi belum pada masa AIDS, maka yang bersangkutan minimal sudah tertular tiga bulan sebelumnya.

Ketiga, pernyataan “upaya pencegahan diharapkan semua kalangan masyarakat menumbuhkan perilaku hidup sehat dan menjauhkan diri dari hubungan bebas” tidak akurat karena tidak ada kaitan langsung antara hidup tak sehat dan hubungan bebas dengan penularan HIV.


Penularan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi di dalam nikah (antara suami-istri) dan di luar nikah, seperti zina, melacur, ‘selingkuh’, ‘jajan’, ‘seks bebas’, dll. (sifat hubungan seksual) jika salah satu dar pasangan itu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom (kondisi hubungan seksual).

Mengait-ngaitkan penularan HIV dengan hidup sehat akan mendorong masyarakat memberikan stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap orang-orang yang mengidap HIV/AIDS karena dikesankan mereka tertular karena hidup tidak sehat.

Seorang istri tertular HIV dari suaminya, bagaimana kita bisa mengatakan istri itu tertular HIV karena hidupnya tidak sehat?

Sepasang laki-laki dan perempuan yang tidak mengidap HIV/AIDS tidak ada risiko penularan HIV biar pun hubungan seksual yang mereka lakukan secara zina atau di luar nikah.

Tentang cara menanggulangi dan mencegah HIV/AIDS, inilah pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kab Sintang, Marcus Gatot Budi: “ …. Kita harap perilaku hidup sehat dapat ditumbuhkan untuk mengurangi risiko, agar HIV/AIDS selalu diwaspadai.”

Yang jelas mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual adalah dengan cara tidak melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan yang mengidap HIV/AIDS. Ini fakta.

Persoalannya adalah tidak bisa dikenali orang-orang yang sudah mengidap HIV/AIDS, maka jika melakukan hubungan seksual dengan yang tidak diketahui status HIV-nya, di dalam dan di luar nikah, laki-laki harus memakai kondom.

Disebutkan pula: “Pencegahan itu misalnya mengadakan sosialisasi kepada masyarakat, yang dimasukkan agenda rutin tahunan.”

Pertanyaannya: Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar perilaku seseorang berubah dari berisiko menjadi perilaku tidak berisiko?

Tentu saja tidak ada yang bisa memastikan. Maka, sosialisasi tanpa intervensi tidak akan berguna karena orang-orang tetap melakukan perilaku berisiko.

Disebutkan lagi: “ ….penyebaran HIV/AIDS harus dapat diantisipasi sedini mungkin. Caranya yakni menghindari kehidupan menyimpang yang sangat berisiko tinggi tertular. Antara lain ….. berganti-ganti pasangan.”

Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti bisa terjadi kalau laki-laki tidak memakai kondom.

Apa, sih, yang dimaksud dengan kehidupan menyimpang?

Dari aspek seks semua cara untuk menyalurkan dorongan seksual tidak menyimpang. Lagi pula risiko penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena ‘kehidupan menyimpang’ (sifat hubungan seksual), tapi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom).

Ada lagi pernyataan: “Lantaran, resiko tertular sangat tinggi untuk menimpa kepada siapapun.”

Pernyataan ini tidak akurat karena tidak semua orang berisiko tertular HIV. Yang berisiko tertular HIV, al. melalui hubungan seskual, adalah orang-orang yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK.

Pertanyaannya adalah: Apakah Pemkab Sintang bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa penduduk Sintang yang melacur tanpa kondom di Sintang atau di luar Sintang?

Kalau jawabannya BISA, maka penyebaran HIV/AIDS di Sintang bukan melalui hubungan seksual.

Tapi, kalau jawabannya TIDAK BISA, maka ada persoalan besar yang dihadapi Pemkab Sintang yaitu penyebaran HIV/AIDS dengan faktor risiko (melalui) hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah melalui laki-laki ‘hidung belang’.

Penyebaran HIV yang terus terjadi akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’ di masa yang akan datang. ***[Syaiful W. Harahap/AIDS Watch Indonesia]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.