07 Juni 2017

AIDS: Pengobatan Terlambat Nyawa Melayang

 

Oleh: Syaiful W. Harahap

Sejak obat antiretroviral (ARV) menjadi pengobatan bagi Odha (Orang dengan HIV/AIDS) kematian Odha bisa ditekan dan angka harapan hidup bertambah 10 tahun. Maka, kuncinya adalah pada penemuan dini orang-orang yang tertular HIV.

Celakanya, di banyak negara justru banyak pengidap HIV/AIDS yang terlembat menjalani terapi dengan obat ARV. Hasil studi CDC Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menunjukkan 1 dari 3 Odha di 10 negara (Haiti, Vietnam, Nigeria, Namibia, Swaziland, Zimbabwe, Mozambique, Tanzania, Uganda dan Zambia) justru terlambat menjalani pengobatan HIV/AIDS dengan ARV (VOA Indonesia, 7/6-2017).

Program Ambisius

Terapi ARV (ART) tidak hanya sebatar menurunkan risiko kematian dan komplikasi penyakit, tapi juga untuk menurunkan risiko penularan HIV. Ini terjadi karena terapi ARV menghambat replikasi virus (HIV) di dalam darah. Ketika HIV masuk ke dalam tubuh virus itu akan mengembangbiakkan diri di sel-sel darah putih manusia. Sel-sel darah putih mereka jadikan ‘pabik’ sehingga setelah terjadi replikasi sel darah putih tsb. rusak. Selanjutnya virus yang baru diproduksi akan melakukan hal yang sama. Replikasi virus bisa mencapai angka miliran per hari sehingga jumlah sel darah putih yang rusak pun jumlahnya sama dengan jumlah virus baru.

Itulah yang menyebabkan masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV, yang ditandai dengan penyakit-penyakit infeksi oportunistik, seperti jamur, diare, TB, dll. yang akan menjadi penyebab kematian pada Odha.

Untuk itulah diperlukan langkah-langkah konkret sebagai program untuk mendeteksi orang-orang yang tertular HIV lebih awal. Penemuan-penemuan kasus baru dibarengi dengan penanganan yang komprehensif, mulai dari pendampingan, tes-tes terkait dengan HIV, dll. sampai pada tahap Odha harus meminum obat ARV ketika hasil tes CD4 menunjukkan angka 350.

Penanganan dan perawatan dini akan menyelematkan nyawa Odha karena dengan terapi ARV replikasi virus (HIV) bisa dihambat sehingga bisa terjadi hasil tes HIV tidak mendeteksi virus (non-reakif). Tapi, bukan berarti virus hilang dari darah hanya saja virus tidak menggandakan diri dan ‘bersembunyi di kelenjar’ sehingga tidak terdeteksi melalui tes HIV.

UNAIDS (The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS), badan PBB yang khusus menangani AIDS, melancarkan program yang dinilai banyak kalangan terlalu ambisius yaitu target 90-90-90 dalam menanggulangi epidemi HIV. Sebelum tahun 2020 diproyeksikan 90 persen Odha akan mengetahui status HIV mereka, 90 persen akan menerima terapi ARV, dan 90 persen mendapat perawatan untuk mengatasi penyebaran virus. Ini menyumbang terhadap penurunan risiko penularan HIV.

Studi lain  yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine (2016), menemukan perawatan Odha mengurangi risiko penularan HIV ke pasangan seksual (penularan horizontal) sampai 96 persen. Risiko penularan perempuan hamil ke bayi yang dikandungnya (penularan vertikal) dapat ditekan jika si ibu menjalani terapi ARV.

Di Indonesia

Odha yang berusia muda memiliki angka harapan hidup yang lebih panjang selama 10 tahun di negara-negara Uni Eropa dan AS jika mereka menjalani terapi ARV (VOA Indonesia, 11/5-2017). Sebuah studi yang dilaporkan The Lancet menunjukkan banyak Odha yang berahap hidup lama seperti orang-orang yang tidak mengidap HIV/AIDS. Maka, terapi ARV merupakan jawaban terhadap harapan Odha tsb.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Banyak kasus baru justru terdeteksi secara pasif yaitu ketika mereka sakit dan berobat ke puskesmas atau rumah sakit dengan keluhan penyakit-penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS. Petugas medis akan meminta pasien-pasien dengan indikasi infeksi oportunistik untuk menjalani tes HIV.

Tidak ada mekanisme yang konkret untuk mendeteksi HIV/AIDS di masyarakat. Yang ada hanya anjuran tes HIV kepada ibu-ibu yang sedang hamil, sementara suami tidak menjalani tes HIV. Itu artinya suami-suami penular HIV ke istri akan jadi mata rantai penularan HIV di masyarakat tertuama melalui hubungan seksual (seks vaginal dan seks anal) tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Selain itu penemuan kasus baru diperoleh dari penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bergantian karena mereka wajib tes HIV ketika hendak mejalani terapi di pusat-pusat layanan narkoba. Belakangan penemuan kasus pada penyalahguna narkoba jauh berkurang karena narkoba yang dipakai beralih ke sabu-sabu yang dihirup sehingga tidak memakai jarum suntik.

Sudah saatnya Indonesia membuat program yang konkret untuk mendeteksi kasus-kasus HIV/AIDS baru di masyarakat tanpa melawan hukum dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 8/2-2017, menunjukkan jumlah kasus HIV/AIDS dari tahun 1987 – 31 Desember 2016 mencapai 319.103 yang terdiri atas 232.323 HIV dan 86.780 AIDS. Yang meminum obat ARV sampai Desember 2016 tercatat 77.748.

Tanpa program yang konkret dan sistematis penemuan kasus baru akan terhambat sehingga penyebaran HIV secara horizontal terus bertambah. Kondisi tsb. akan jadi pemicu ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *

Ilustrasi: Obat AIDS (Sumber: id.pinterest.com)

29 Mei 2017

AIDS di Papua Bukan Genosida

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

“HIV dan Aids bagian dari genoside di republik ini, dengan fakta-fakta yang ada karena apa yang dilakukan tidak sesuai dengan konteks.” Ini pernyataan Pendeta Yoram Yogobi, aktivis dan pegiat HIV dan AIDS di Wamena dalam berita “HIV/AIDS Banyak Bunuh Manusia Papua di Republik Indonesia” (suarapapua.com, 17/5-2017).

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 8/2-2017 menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Papua sampai 31 Desember 2016 mencapai 38.123 yang terdiri atas 24.725 HIV dan 13.398 AIDS. Jumlah ini menempatkan Papua pada peringkat ketiga secara nasional di bahwa DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Penyakit yang bisa dijadikan genosida (KBBI: pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras) adalah penyakit yang menular yang mematikan dengan cepat melalui media yang langsung berhubungan dengan manusia, seperti air dan udara. Maka, pernyataan pendeta tadi tidak benar.

PSK Langsung

Seseorang yang tertular HIV secara statistik baru masuk ke masa AIDS (ditandai dengan penyakit-penyakit yang disebut infeksi oportunistik) antara 5-15 tahun. Risiko kematian ada pada masa AIDS karena infeksi oportunistik. Tingkat kematian pengidap HIV/AIDS turut drastis sejak ada obat antiretroviral (ARV) yang menghambat lalu perkembangbiakan virus (HIV) di dalam darah.

Penularan HIV terjadi antar manusia secara tersembunyi al. melalui hubungan seksual, terutama seks vaginal dan seks anal, dengan pengidap HIV/AIDS dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, di dalam dan di luar nikah.

Persoalan besar adalah secara fisik tidak bisa dikenal apakah seseorang mengidap HIV/AIDS atau tidak. Maka, melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan seseorang yang tidak diketahui status HIV-nya adalah perilaku berisiko tinggi tertular HIV. Perilaku berisiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual, yaitu:

(1) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tidak memakai kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah,   

(2) Perempuan yang melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah,  dan

(3) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tidak memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, misalnya pekerja seks komersial (PSK) langsung dan PSK tidak langsung, yaitu:

(a)    PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(b)   PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

Andaikan PSK langsung yang datang ke Papua mengidap HIV/AIDS tidak semerta terjadi penyebaran HIV kalau tidak ada laki-laki Papua yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tsb. Bisa juga terjadi laki-laki Papua tertular HIV di luar Papua dan jadi mata rantai penularan HIV ketika kembali ke daerahya.

Disebutkan oleh Pdt. Yoram bahwa HIV dan Aids telah merambah ke kampung-kampung hingga ke pelosok-pelosok, ....

Proteksi Diri

HIV sebagai virus tidak bisa merambah karena virus ini tidak ada di alam. HIV ada di dalam darah orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Mereka inilah yang jadi mata rantai penularan HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Yang jadi masalah besar banyak pengidap HIV/AIDS tidak menyadari bahwa dia tertular HIV karena tidak ada tanda-tanda, ciri-ciri, atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka. Tapi, biar pun tidak ada tanda-tanda mereka bisa menularkan HIV, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Amos Wetipo, Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah Laapago, mengatakan bahwa orang bilang karena HIV dan Aids orang Papua banyak yang meninggal. Banyak data kasus HIV dan Aids, tetapi tak ada tindakan pemerintah.

Dari 3 perilaku seksual yang berisiko tinggi terular HIV hanya satu ‘pintu’ yang bisa dikerjakan oleh pemerintah, yaitu perilaku No 3 terhadap PSK langsung. Dalam kaitan ini pemerintah bisa melakukan langkah-langkah penanggulangan, berupa intervensi, secara langsung jika praktek PSK langsung dilokalisir. Melalui regulasi diatur agar laki-laki selalu memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung. Tapi, intervensi tsb. tidak bisa dilakukan karena pratek PSK langsung (baca: lokalisasi pelacuran) justru banyak yang ditutup sehingga praktek jual-beli seks PSK langsung itu pun tidak bisa diintervensi.

Pada perilaku No 1 dan No 2 serta No 3 dengan PSK tidak langsung pemerintah tidak bisa melakukan intervensi karena transaksi perilaku itu terjadi antar individu di sembarang waktu dan sembarang tempat.

Pdt Yoram meminta setiap orang terutama orang Papua untuk sadar dan memproteksi diri serta keluarga dan masyarakat di lingkungan sejak dini.

Anjuran Pdt Yoram ini jadi kunci penanggulangan HIV/AIDS di Papua karena setiap orang, khususnya laki-laki dewasa Papua, secara faktual bisa melindungi diri agar tidak tertular HIV/AIDS.

Langkah konkret yang bisa dilakukan adalah setiap laki-laki dewasa tidak melakukan perilaku berisiko No 1 dan No 3. Begitu juga dengan perempuan dewasa tidak melakukan perilaku berisko No 2.

Yang jadi masalah adalah ada praktek transaksi seks terkait dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung. Langkah konkret yang bisa dilakukan laki-laki dewasa Papua untuk melindungi diri adalah selalu pakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung atau PSK tidak langsung. * [kompasiana.com/infokespro] *

Foto Ilustrasi (Sumber: antarafoto.com)

20 Mei 2017

4 PSK Tretes Idap HIV/AIDS: Yang “Mengerikan” Laki-laki yang Tularkan HIV dan yang Tertular HIV



Oleh: Syaiful W. HARAHAP

“Awas, Jangan ‘Jajan’ Sembarangan di Tretes, Pasuruan, Empat Wanita Derita Penyakit Mengerikan” Ini judul berita di suryamalang.tribunnews.com (17/5-2017). Judul ini menunjukkan tingkat pemahaman sebagian wartawan dan redaktur terkait dengan HIV/AIDS sebagai fakta medis. Tretes adalah tempat rekreasi berhawa sejuk yang terkenal terletak di lereng Gunung Welirang di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Pertama, tidak ada tanda-tanda, ciri-ciri atau gejala-gejala penyakit (yang mengerikan) pada fisik orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Bahkan, sampai pada masa AIDS pun (secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV) tidak otomatis ada gejala penyakit, disebut infeksi oportunistik, yang mengerikan pada fisik Odha (Orang dengan HIV/AIDS). Kalaupun kemudian ada infeksi oportunistik itu adalah penyakit yang umum, seperti diare, TB, dll. Bukan khas penyakit AIDS.

Kedua, dengan temuan 4 PSK idap HIV/AIDS berarti ada 4 laki-laki, bisa saja penduduk Tretes, yang idap HIV/AIDS juga yaitu yang menularkan HIV ke PSK. Dalam kehidupan sehari-hari laki-laki tsb. bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, lajang, duda, pelajar, dll. Dengan status HIV-positif di masyarakat mereka jadi mata rantai penular HIV, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Ketiga, bisa jadi sudah ratusan bahkan bisa ribuan laki-laki yang lakukan seks tanpa kondom dengan 4 PSK pengidap HIV/AIDS. Ketika HIV terdeteksi pada PSK itu artinya mereka sudah tertular HIV minimal 3 bulan. Bisa jadi mereka sudah tertular HIV jauh sebelum tertangkap Satpol PP. Dalam kehidupan sehari-hari laki-laki tsb. bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, lajang, duda, pelajar, dll. Dengan status HIV-positif di masyarakat mereka jadi mata rantai penular HIV, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Keempat, peringatan yang sampaikan suryamalang.tribunnews.com itu terlambat sudah karena sudah banyak laki-laki yang ‘jajan’ tanpa pakai kondom ke 4 PSK pengidap HIV/AIDS itu. Yang perlu diingatkan adalah laki-laki yang pernah lakukan seks tanpa kondom dengan PSK di Tretes sebelum razia. Mereka dianjurkan lakukan tes HIV di Klinik-klinik VCT yang tersebar di puskesmas dan rumah sakit umum daerah.

Namun, perlu diingatkan bahwa tes HIV dengan reagent ELISA hasilnya akurat jika dilakukan setelah tiga bulan lebih seks yang terakhir tanpa kondom dengan PSK atau perempuan lain.

Kelima, ada lima media yang memberitakan temuan PSK pengidap HIV/AIDS di Tretes, yaitu: (1) detikNews: Empat PSK Tretes Kembali Ditemukan Positif HIV/AIDS; (2) sindonews.com: 4 PSK Tretes Positif Mengidap HIV/AIDS; (3) beritajatim.com: Razia di Tretes, 4 PSK Dinyatakan HIV/AIDS; (4) sigap88.com: 12 PSK TRETES Diamankan,4 PSK Dinyatakan Positif HIV; dan (5) suryamalang.tribunnews.com: Awas, Jangan ‘Jajan’ Sembarangan di Tretes, Pasuruan, Empat Wanita Derita Penyakit Mengerikan. Celakanya, tak satupun dari lima media ini yang menggambarkan realitas sosial terkait dengan penemuan 4 PSK pengidap HIV/AIDS di Tretes itu.

Salah satu sudut Tretes di lereng G Welirang (Sumber: kaskus.co.id)

Realitas sosial yang dimaksud adalah kaitan temuan 4 PSK pengidap HIV/AIDS tsb. dengan penyebaran HIV di masyarakat (Lihat Gambar). Laki-laki yang menularkan HIV ke PSK dan laki-laki yang kemudian tertular HIV dari PSK akan jadi mata rantai penular HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu hamil menjadi bukti ada laki-laki pengidap HIV yaitu yang tularkan HIV ke PSK di Tretes dan laki-laki yang tertular HIV dari PSK Tretes. Peraturan Daerah (Perda) tentang penanggulangan AIDS Kabupaten Pasuruan pun tidak memberikan langkah-langkah yang konkret dalam menanggulangi (penyebaran) HIV/AIDS (Perda AIDS Kab Pasuruan).

Terkait dengan pelacuran selalu saja ada penolakan dan penyangkalan tentang daerah asal PSK. Seperti yang disampaikan oleh Kasatpol PP Kabupaten Pasuruan, Yudha Tri Widya Sasongko ini: "Para PSK ini berasal dari luar Pasuruan, yaitu seperti Probolinggo, Malang, Surabaya, Lumajang, Cilacap, dan Bandung." (beritajatim.com). Secara sosiologis praktek PSK berpindah-pindah al. dengan bantuan germo atau mucikari agar tetap jadi ‘barang baru’ di tempat praktek baru.

Yang perlu diingat yang jadi soal besar bukan asal-usul PSK karena biar pun PSK-nya dari planet lain yang jelas PSK pengidap HIV/AIDS sudah menularkan HIV ke laki-laki yang lakukan seks tanpa kondom. * [kompasiana.com/infokespro] *

15 Mei 2017

Razia Satpol PP Pasuruan: PSK Pengidap HIV/AIDS Tertangkap, Laki-laki Penular dan yang Tertular Lolos

                               PSK yang ditangkap Satpol PP Pasurusan (Sumber: detikNews)

Penyebaran virus HIV/AIDS di kalangan pekerja seks komesial (PSK) yang beroperasi di sejumlah tempat di Kabupaten Pasuruan mengkhawatirkan. Setiap razia yang dilakukan aparat penegak Perda, selalu ditemukan PSK yang positif mengidap virus mematikan tersebut.” Ini lead dalam berita “Penyebaran HIV/AIDS Mengkhawatirkan, Satpol PP Pasuruan (Jatim-pen.) Gencar Razia.” (detikNews, 13/5-2017).

Pertama, ketika razia dilakukan sudah terjadi hubungan seksual antara laki-laki dengan PSK yang bisa saja juga terjadi penularan IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus Hapatitis B, klamidia, virus kanker serviks, jengger ayam, dll.) atau HIV/AIDS. Bisa juga terjadi dua-duanya sekaligus. Maka, yang diperlukan bukan razia tapi mencegah agar tidak terjadi penularan IMS atau HIV/AIDS antara laki-laki dan PSK atau sebaliknya.

Kedua, yang perlu diperhatikan adalah bahwa PSK yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS bisa saja tertular dari laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tsb. Itu artinya ada laki-laki yang lakukan seks dengan PSK sebagai pengidap HIV/AIDS. Di masyarakat laki-laki ini jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS tanpa mereka sadari karena sebelum masa AIDS (secara statistik antatra 5-15 tahun sejak tertular HIV) tidak ada ciri-ciri, tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang sudah tertular HIV. Yang beristri menularkan HIV ke istrinya, ke perempuan lain atau ke PSK.

Ketiga, ketika Satpol PP Pasuruan menemukan PSK yang mengidap HIV/AIDS itu artinya PSK itu sudah tertular HIV menimal tiga bulan karena tes HIV dengan reagent ELISA akurat jika tertular lebih dari tiga bulan. Nah, apakah Satpol PP memikirkan selama belum terjaring razia berapa jumlah laki-laki yang pernah seks dengan PSK pengidap HIV/AIDS tsb.?

Agaknya, Satpol PP hanya memikirkan bisa menangkap PSK melalui razia moral sesuai amanat Perda sehingga tidak ada langkah-langkah yang konkret terkait dengan upaya memutus penyebaran HIV/AIDS melalui laki-laki penulara HIV ke PSK dan yang tertular HIV dari PSK.

Apa pun yang dilakukan terhadap PSK-PSK yang terjaring razia Satpol PP Pasuruan itu penyebaran HIV/AIDS di Pasuran tetap dan akan terus terjadi karena sudah banyak laki-laki yang seks tanpa kondom dengan PSK-PSK yang terjaring razia dengan status HIV-positif.

Mari kita hitung jumlah laki-laki yang berisiko tertular HIV melalui seorang PSK: 1 malam x 3 laki-laki x 20 hari x 3 bulan = 180 laki-laki. Andaikan 10 persen saja yang tertular itu artinya ada 18 laki-laki yang jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Pasuruan.

Indikator terjadi penyebaran HIV/AIDS dengan mata rantai laki-laki adalah kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu hamil. Ini bukti bahwa ibu-ibu itu tertular HIV dari pasangannya, dalam hal ini suami. Jika ibu-ibu yang tertular HIV tidak terdeteksi pada masa kehamilan, maka ada risiko penularan pada bayi yang dikandungnya (vertikal). Bisa ketika di kandungan, saat persalinan atau ketika menyusui dengan air susu ibu (ASI),

Segencar apa pun razia hasilnya tidak berarti banyak dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS karena sudah ada laki-laki yang tertular yang jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Lagi pula yang (bisa) dirazia Satpol PP hanya PSK yang kasat mata, disebut PSK langsung, seperti yang mengkal di berbagai tempat. Sedangkan PSK yang tidak kasat mata, disebut PSK tidak langsung, tentu saja tidak bisa dirazia karena mereka memakai kurir, ponsel dan media sosial sebagai ajang transaksi seks. Kegiatan seks pun dilakukan di tempat-tempat yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pelacuran, seperti hotel berbintang, apartemen, dll.

Dalam penanggulangan HIV/AIDS yang diperlukan adalah program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa yaitu melakukan intervensi terhadap laki-laki untuk memakai kondom setiap kali lakukan seks dengan PSK. * [kompasiana.com/infokespro] *

09 Mei 2017

Penanggulangan AIDS dengan Tes HIV Calon Pengantin Pria Bak Menggantang Asap

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

“Pekanbaru Tinggi Kasus HIV/AIDS, Dewan Minta Calon Pengantin Dites” Ini judul berita di  halloriau.com (8/5-2017).  Dengan temuan kasus HIV/AIDS pada Januari 2017 sebanyak 16 HIV dan 8 AIDS, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, H Marlis Kasim, meminta agar KUA memasukkan tes HIV sebagai syarat untuk perkawinan. Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Pekanbaru dilaporkan 448 pada tahun 2016 (antarasumsel.com, 9/5-2017).

Rupanya, Marlis khawatir karena diketahui juga ibu rumah tangga pun menjadi korban HIV/AIDS. Tapi, Marlis tidak memahami bahwa seorang ibu rumah tangga atau istri tertular HIV dari suami bukan karena suaminya sudah mengidap HIV/AIDS sebelum menikah karena bisa saja suami tertular HIV/AIDS justru setelah menikah.

Yang perlu diingat adalah tes HIV bukan vaksin. Artinya, biar pun seorang laki-laki sebagai calon mempelai tidak mengidap HIV/AIDS ketika dinikahkan itu tidak jaminan bahwa suami itu selamanya akan bebas HIV/AIDS.

Jika calon suami terdeteksi mengidap HIV/AIDS, apakah rencana pernikahan dibatalkan? Ini juga jadi soal besar karena menghalangi hak seseorang untuk berkeluarga.

Teknologi kedokteran bisa mencegah penularan HIV dari suami ke istri yaitu dengan memakai kondom setiap kali sanggama. Untuk mendapat keturunan atau anak yang tidak tertular HIV juga bisa dilakukan dengan teknologi kedokteran. Tidak perlu ke luar negeri karena di Indonesia sudah banyak pasangan pengidap HIV/AIDS yang mempunyai anak yang bebas HIV/AIDS.

Bisa saja setelah menikah si suami melakukan hubungan seksual yang berisiko tertular HIV, seperti:

(a) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah.

(b) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, misalnya pekerja seks komersial (PSK) atau waria. PSK sendiri dikenal dua tipe yaitu:

-PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

-PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

(c) Bisa jadi ada suami yang biseksual. Selain dengan istri suami juga melakukan seks dengan laki-laki yang dikenal sebagai LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki).

Lagi pula berapa pasangan, sih, yang menikah setiap hari di Kota Pekanbaru?

Coba bandingkan dengan laki-laki yang melakukan perilaku (a) dan (b). Memang, di Kota Pekanbaru tidak ada lokasi atau lokalisasi pelacuran, tapi itu tidak jaminan di Kota Pekanbaru tidak ada PSK yang melayani hubungan seksual dengan laki-laki, termasuk laki-laki yang beristri.

Persoalan lain adalah masa jendela yaitu tertular di bawah tiga bulan. Bisa saja ketika tes HIV menjelang pernikahan calon suami baru tertular HIV. Tes HIV dengan ELISA akurata kalau virus (HIV) sudah tiga bulan lebih ada di dalam darah. Tes HIV pada masa jendela bisa menghasilkan negatif palsu (virus sudah ada di darah tapi tidak terdeteksi) atau positif palsu (virus tidak ada di darah tapi hasil tes reaktif).

Di sisi lain si suami kelak pakai surat keterangan HIV-negatif melalui tes ketika akan menikah jika istrinya terdeteksi mengidap HIV/AIDS dengan menuduh istrinya selingkuh Kasus seperti ini sudah sering terjadi. Suami menuduh istri yang selingkuh ketika istrinya terdeteksi HIV/AIDS melalui tes HIV waktu istrinya hamil.

Jangan pula lupa, calon pengantin wanita pun bisa saja tertular HIV biar pun masih perawan. Misalnya, transfusi darah, seks anal, seks oral atau jarum suntik pada penyalah guna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya).

Kalau penaggulangan HIV/AIDS di Kota Pekanbaru hanya dengan tes HIV terhadap calon pengantin, maka insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi yaitu melalui perilaku berisiko (a) dan (b).

Yang bisa diintervensi hanya perilaku berisiko (b) itu pun kalau praktek pelacuran dilokalisir. Laki-laki diharuskan memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Dengan kondisi sekarang dengan praktek pelacuran yang terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu maka tidak bisa ditanggulangi dengan cara yang realistis. Itu artinya penyebaran HIV di Kota Pekanbaru akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *

Ilustrasi (Sumber: dpbh.nv.gov)

06 Mei 2017

Bertobat Setelah Seks dengan PSK Tidak Menghilangkan Virus

                                Ilustrasi (Sumber:  www.chinadaily.com.cn)

Tanya Jawab AIDS No 1/Mei 2017

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: kompasiana.com/infokespro danAIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977.  Pengasuh.

*****

Tanya: Tanggal 29 Januari 2017 saya khilaf melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) tanpa pengaman. Karena baru pertama kali melakukan sex intercourse hubungan seksual berlangsung singkat. Penis saya pun tidak masuk begitu dalam ke vagina.  Itu yang pertama kali dan saya berjanji itu yang terakhir. 1. Apakah saya berisiko tertular HIV? 2. Kalau ya, berapa besar kemungkinannya? 3. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya, setelah bertobat. Perlukah saya tes HIV?

Via SMS,30/1-2017

Jawab: Yang perlu diingat kalau virus (HIV) sudah masuk ke dalam tubuh, maka HIV akan terus menggandakan diri (replikasi) dengan jumlah miliaran copy yang berlansung seumur hidup. HIV menggandakan diri di sel darah putih sehingga ketika terjadi proses penggandaan sel darah putih rusak. Virus-virus hasil replikasi pun menggandakan diri di sel-sel darah putih sehingga setiap hari banyak sel darah putih yang rusak. Pada suatu kondisi sistem pertahanan tubuh lemah karena banyak sel darah putih yang rusak. Kondisi ini disebut AIDS. Pada tahap ini mulai dari infeksi oportunistik, seperti jamur di mulut, diare, dll.

Maka, jika dikaitkan dengan infeksi HIV tidak ada lagi gunanya penyesalan dan pertobatan. Yang diperlukan adalah layanan medis agar bisa dipantau kondisi kekebalan tubuh. Pada tahap tertentu, dikenal dengan kondisi CD4 di bawah 350, dianjurkan minum obata antiretroriviral (ARV) dan obat lain jika ada penyakit lain.

(1) Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman (kondom-pen.) dengan seorang PSK berisiko karena tidak diketahui status HIV PSK tsb. Kalau PSK itu tidak mengidap HIV/AIDS Saudara selamat pada hubungan seksual yang Saudara sebut pertama kali itu. Persoalannya status HIV seseorang tidak bisa diketahui dari fisik karena tidak ada ciri-ciri atau tanda-tanda yang khas AIDS pada tubuh orang-orang yang mengidap HIV/AIDS.

Kalau ada PSK yang sesumbar dengan mengatakan tiap bulan periksa kesehatan secara rutin bukan jaminan bebas HIV/AIDS karena banyak faktor. Pertama, pada rentang waktu setelah periksa kesehatan dan akan periksa kesehatan, sebut saja satu bulan, bisa saja PSK itu tertular HIV karena melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti. Kedua, jika pada pemeriksaan kesehatan ada tes HIV bisa saja hasilnya negatif palsu karena tes HIV dengan ELISA bisa akurat jika tertular HIV lebih dari tiga bulan.

(2) Probabilitas tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan yang mengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali terjadi penularan. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang ke berapa terjadi penularan HIV. Bisa yang pertama, kedua, kesembilan, kedua puluh, ketujuh puluh, bahkan yang keseratus. Soal singkat atau lama hubungan seksual tetap saja risiko sama karena terjadi gesekan penis dengan vagina dan cairan vagina.

Di Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Jakarta, sebuah lembaga yang menangani HIV/AIDS, seorang mahasiswa terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Pengakuan mahasiswa itu dia baru 10 kali melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK di Kalijodo [ini sudah dibongkar oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)].

(3) Daripada Saudara uring-uringan silakan konsultasi ke konselor di Klinik VCT di rumah sakit umum di daerah Saudara. Kalau ada kesulitan, silakan kontak kami. * [kompasiana.com/infokespro] *


28 April 2017

Ironis: Kondom Ditolak, Vaksin AIDS Ditunggu-tunggu ....

                               Ilustrasi (Sumber: 3Jamaica)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

AIDS: Obat dan Vaksin Akan Membuat (Perilaku) sebagian Orang Seperti Binatang.” Ini judul tulisan di kompasiana.com/infokespro (30/11-2-11) yang ditanggapai secara beragam. Tanggapan berupa caci-maki, hujatan, dll. pun tertuju kepada saya sebagai penulis. Ini tentu saja perkiraan karena selama ini biar pun tidak ada vaksin dan obat, tapi orang tidak takut melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tertular HIV. Sayang, tulisan ini tidak bisa lagi dibaca.

Selama ini di banyak negara, termasuk Indonesia, ada penolakan yang sangat kuat terhadap (sosialisasi) kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual (seks vaginal, seks anal dan seks oral) di dalam dan di luar nikah. Padahal, berbagai penelitian dan studi menunjukkan kondom adalah satu-satunya alat untuk mencegah penularan HIV ketika terjadi hubungan seksual.

Seks Yes, Kondom No

Belakangan muncul pula informasi tentang sirkumsisi (sunat) pada laki-laki yang dikatakan bisa juga mencegah penularan HIV. Pendapat ini pertama kali muncul di Afrika ketika ada dilakukan penelitian terhadap mayat-mayat yang mati karena penyakit yang terkait HIV/AIDS. Hasilnya, lebih banyak laki-laki yang tidak disunat. Tapi, yang tidak muncul dari penelitian ini adalah perilaku seksual orang-orang yang mati tadi semasa hidupnya. Bisa saja karena aturan-aturan tertentu sehingga ada perbedaan perilaku seksual antara yang disunat dan tidak disunat.

Yang benar bukan mencegah penularan HIV, tapi menurunkan risiko tertular HIV ketika terjadi hubungan seksual karena bagian kepala penis mengeras pada penis yang disunat. Tapi, bagian batang penis tetap berisiko menjadi pintu masuk HIV jika terjadi perlukaan selama hubungan seksual karena bersentuhan dengan dinding vagina dan cairan vagina.

Di Papua, misalnya, ada pendeta yang menolak kondom dengan jargon “Seks Yes, Kondom No”. Maka, pemerintah di sana pun menjadikan sunat sebagai prioritas utama dalam penanggulangan HIV/AIDS. Tentu saja ini berdampak buruk karena laki-laki yang disunat merasa aman melakukan hubungan seksual yang berisiko tertular HIV karena menganggap sunat sebagai ‘kondom alam’.

Pakar-pakar kesehatan, terutama yang terkait dengan HIV/AIDS, terus-menerus memutar otak untuk mencari vaksin HIV (yaitu virus yang menurunkan sistem kekebalan tubuh yang akan berakhir pada kondisi AIDS jika tidak ditangani secara medis). Ada yang sudah mulai uji coba.

                                Sumber: http://kmpa.fkunud.com/mengenal-tipe-grup-dan-subtipe-hiv/

Tentu bukan hal yang mudah menemukan vaksin HIV karena sub-type HIV banyak sehingga kalau pun cocok untuk sub-type A belum tentu cocok untuk sub-type lain.

PSK

Yang tidak masuk akal adalah kondom ditolak tapi sunat dipakai sebagai alat mencegah penularan HIV dan vaksin HIV ditunggu-tunggu. Maka, bisa jadi kelak akan terjadi dialog ini:

Seseorang: “Dok, suntikin vaksin HIV, dong, gue mau ngeseks, nih!”

Disebut-sebut kondom melegalisasi zina, mendorong orang berzina, mengajak orang melacur, dst. Padahal, dengan sunat yang dianggap kondom alam juga sama saja dengan kondom, dampaknya jauh lebih lebih parah karena sunat bukan vaksin [Sunat Vs Kondom: Sunat Juga (Bisa) Mendorong Zina dan Pelacuran].

Dengan imunitas HIV di dalam tubuh tentulah tidak ada lagi hambatan bagi yang suka melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti, seperti dengan pekerja seks komersial (PSK), selingkuhan, dll. PSK sendiri diketahui ada dua tipe, yaitu:

(1) PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2) PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

Maka, sunat bukan menurunkan kasus HIV  tapi meningkatkan jumlah insiden infeksi HIV baru karena kian banyak orang kelak yang tidak lagi memakai kondom. Sedangkan vaksin menurunkan insiden infeksi HIV baru tapi tidak membawa cara hidup baru dalam penyaluaran dorongan seksual. *[kompasiana.com/infokespro] *


*Catatan: yang benar adalah vaksin HIV, tapi banyak orang yang tidak memahami berbagai aspek tentang HIV/AIDS sehingga mereka lebih mengenal AIDS sehingga judul pakai AIDS agar cepat dikenali ....

23 April 2017

Ganti-ganti Pasangan Seks, Apakah Otomatis Tertular HIV/AIDS?


Tanya Jawab AIDS No 1/April 2017

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: https://www.kompasiana.com/infokespro dan AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Teman saya, perempuan, punya 2 pacar, dia sering lakukan seks tanpa kondom secara bergantian dengan dua pacarnya itu. Selain itu dia pun pernah seks dengan teman laki-lakinya. Juga pernah sekali seks dengan tetangganya.  Apakah dia sudah positif terkena HIV/AIDS?

“N”, Pontianak, via SMS (13/1-2017)

Jawab: Penularan HIV melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah,  kondisi laki-laki tidak memakai kondom dengan seseorang yang mengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui dengan pasti pada hubungan seksual yang ke berapa terjadi penularan HIV. Bisa yang pertama, kedua, ketiga, kesembilan, kesembilan belas, kelima puluh, bahkan pada hubungan seksual yang ke-100.

Di Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Jakarta seorang anak muda yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mengaku baru 10 kali melakukan hubungan seksual dengan PSK di Kalijodo, sekarang tidak ada lagi karena sudah dihancurkan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan dijadikan sebagai tempat berbagai kegiatan warga, seperti olah raga, jalan-jalan, dll.

Maka, hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan pasangan yang berganti-ganti yang tidak diketahui status HIV-nya adalah kegiatan yang sangat berisiko tertular HIV karena bisa saja salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS.

Nah, terkait dengan temanmu itu jelas dia sangat berisiko karena melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Tidak ada jaminan bahwa semua laki-laki itu tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan perempuan, waria atau laki-laki lain selain dengan temanm itu.

Memang, tidak otomatis tertular. Tapi, lebih baik minta temanmu segara menghentikan kegiatannya dan tunggu tiga bulan. Setelah itu ajak dia melakukan tes HIV di Klinik VCT di rumah sakit umum di tempat kalian tinggal. Jika ada kesulitan, jangan segan mengontak kami. * [kompasiana.com/infokespro] *


Ilustrasi (Sumber: Health Aim) 

02 April 2017

Jawa Timur: Penutupan Lokasi Pelacuran Terbanyak, Tapi Laporan Kasus HIV Pun Banyak Pula

Salah satu sudur Gang Dolly sebelum ditutup (Sumber: Tribun Jateng - Tribunnews.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP


Ada salah kaprah di Indonesia terkait dengan epidemi HIV/AIDS. Sejak awal kasus HIV/AIDS terdeteksi di Indonesia (1987) selalu saja ada suara-suara dengan nada sumbang yang menyebutkan lokalisasi atau tempat pelacuran terbuka sebagai sumber HIV/AIDS.

Ketika reformasi bergulir pemerintah daerah pun banyak yang menutup lokalisasi pelacuran yang di era Orde Baru dijadikan sebagai resos yaitu tempat rehabilitasi dan resosialisasi pekerja seks komersial (PSK) dengan membekali berbagai macam keterampilan, seperti jahit-menjahit dan tara rias (salon). Bahkan, tidak sedikit daerah yang menguatkan penutupan tempat pelacuran terbuka dengan peraturan daerah (Perda).

Tutup Lokalisasi

Lalu, muncullah orasi moral yang membentuk opini publik bahwa dengan menutup pelacuran maka penyebaran HIV/AIDS pun dikendalikan. Itulah sebabnya ada judul berita salah satu media massa cetak di Bandung, Jawa Barat, yang membuat judul sesuai dengan jalan pikiran redaktur karena bertentangan dengan kutipan wawancara wartawan yang juga dimuat dalam berita tsb.

Judul berita “Kalau Saritem (tempat pelacuran terbuka di Kota ‘Kembang’Bandung-pen.) Terlambat Ditutup AIDS Akan Menyebar” sedangkan dalam tubuh berita ada kutipan dari wawancara dengan seorang dokter yang mengatakan jika Saritem ditutup maka penyebaran AIDS idak terkendali.

Salah satu tempat pelacuran yang dikenal di Indonesia, bahkan di banyak pelabuhan kapal laut di duni, yang juga disebut-sebut sebagai tempat pelacuran terbesar di Asia Tenggara adalah ‘Dolly’ di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Maka, seiring dengan euforia reformasi Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, pun dengan resmi menutup kegiatan pelacuran terbuka di ‘Dolly’. “BBC Indonesia” melaporkan (19/6-2014): Pemerintah kota Surabaya tetap menggelar deklarasi penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak di tengah protes warga dan para pekerja seks komersial (PSK), pada Rabu malam (18/6-2014).

Soal tempat pelacuran Mensos Khofifah Indar Parawansa juga tak kalah keras suaranya dengan menjadikan  Jatim sebagai model: "Saat ini lokalisasi terbanyak pertama adalah Jabar yakni 11 titik‎. Dulu Jatim terbanyak, yakni 47 titik, tapi sekarang sudah tutup semua. Dan itu patut dicontoh," kata Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, , Kamis (2/6/2016). (news.metrotvnews.com, 3/6-2016).



Dari pernyataan Mensos Kofifah itu jelas bahwa di Jatim semua tempat pelacuran terbuka sudah ditutup. Lalu, apakah insiden infeksi HIV lantas berhenti?

Itulah yang jadi masalah besar karena dalam laporan triwulanan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 8 Februari 2017 menyebutkan dari 10 daerah yang melaporkan kasus infeksi HIV terbanyak priode Oktober-Desember 2016 adalah Provinsi Jatim pada peringkat pertama yaitu sebanyak 2.450 di atas Jawa Barat (1.864) dan Jakarta (1.617). Triwulan pertama (Januari-Maret 2016)  Jatim melaporkan 1.136 kasus HIV pada peringkat kedua di bawah Jakarta (1.164). Triwulan kedua (April-Juni 2016) Jatim melaporkan 1.523 kasus HIV pada peringkat pertama di atas Jakarta (1.391). Pada triwulan ketiga (Juli-September 2016) Jatim melaporkan 1.404 kasus HIV pada peringkat kedua dibawah Jakarta (1.847). Laporan jumlah kasus HIV priode 1987 sd. 31 Desember 2016 Jatim ada di peringkat kedua dengan 31.429 kasus di bawah Jakarta (45.355). Sedangkan kasus AIDS Jatim ada di peringkat pertama pada kurun waktu 1987 sd. 31 Desember 2016 dengan 16.911 kasus.

Berdasarkan  jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS dari tahun 1987-31 Desember 2016 Jatim ada di uturan kedua dengan 48.340 kasus di bawah DKI Jakarta (54.003) serta di atas Papua (38.123) dan Jawa Barat (28.396).

Kegiatan Seksual Berisiko

Infeksi HIV bisa terdeteksi pada seseorang yang pernah atau sering melakukan kegiatan seksual berisiko, seperti melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan pasangan yang berganti-ganti, atau melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan seseorang yang sering ganti-ganti pasangan, misalnya, PSK dan gigolo. Celakanya, bertolak dari anggapan yang sudah memasyarakat bahwa risiko itu hanya ada di lokalisasi pelacuran terbuka. Itulah sebabnya ada saja orang-orang yang tertular HIV melalui kegiatan berisiko karena pasangannya bukan PSK karena dilakukan dengan yang bukan PSK dan di luar lokalisasi pelacuran.

HIV terdeksi melalui tes HIV (darah) dengan reagent ELISA akurat setelah terjadi penularan HIV, dalam hal ini setelah melakukan kegiatan seksual berisiko. Itu artinya kasus HIV yang dilaporkan Jawa Timur bisa jadi merupakan infeksi HIV baru setelah tempat pelacuran terbuka ditutup. Soalnya, di Jawa Timur pelacuran terjadi secara online dan di beberapa tempat yang bukan lokalisasi pelacuran.

Dari aspek kesehatan masyarakat melokalisir pelacuran merupakan salah satu bentuk untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, virus kanker serviks, klamidia, dll.) dan HIV/AIDS dari masyarakat ke PSK dan sebaliknya. Langkah ini dikenal sebagai intervensi dengan cara memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Tapi, ketika praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat, sembarang waktu dan dengan berbagai modus intervensi pun tidak bisa dilakukan. Itu artinya kita menyimpan ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *