07 November 2019

AIDS di Karawang Memojokkan Remaja Abaikan Laki-laki Heteroseksual Dewasa

Ilustrasi (Sumber: nytimes.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Gaya hidup hedon yang dilakoni remaja di Kabupaten Karawang, berbanding lurus dengan penyakit HIV/AIDS. Setiap tahun, pelajar yang mengidap penyakit mematikan itu terus meningkat. Ini lead dalam berita "15 Remaja HIV. 15 Remaja HIV" (radarkarawang.id, 31/10-2019).
Lead berita ini jelas ngawur bin ngaco karena tidak akurat.
Pertama, apa yang dimaksud dengan hedon? Hedon tidak ada dalam bahasa baku bahasan Indonesia.Yang dikenal adalah hedonism (KBBI: pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup). Kalau wartawan atau redaktur mengatikan hedon adalah hedonisme, maka tidak ada kaitan antara penularan HIV/AIDS dan hedonism. Penularan HIV/AIDS  melalui hubungan seksual tidak ada kaitannya dengan hedonism. HIV/AIDS menular melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual), jika salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom (kondisi hubungan seksual).
Kedua, disebut 'penyakit HIV/AIDS'. Ini tidak akurat karena HIV/AIDS bukan penyakit. HIV adalah virus, sedangkan AIDS adalah kondisi orang-orang yang mengidap HIV yang secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular jika tidak meminum obat antiretroviral (ARV) sesuai dengan resep dokter.
Ketiga, pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif yaitu kasus lama ditambah kasus baru. Maka, jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan akan terus naik atau meningkat biar pun banyak pengidapnya yang meninggal.
Keempat, berita ini tida objektif karena tidak ada perbandingannya dengan perilaku seksual dan kasus HIV/AIDS pada laki-laki dewasa heteroseksual. Kasus-kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga terkait erat dengan perilaku seksual suami mereka, dalam hal ini laki-laki dewasa heteroseksual.
Maka, pernyataan Staf KPA Karawang, Yana Aryana, yang mengatakan bahwa selama lima tahun terakhir jumlah pengidap HIV AIDS di Karawang semakin meningkat tidak memperhatikan cara pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Sudah jelas akan terus meningkat karena kumulatif. Akan lain halnya kalau yang disebut adalah kasus HIV/AIDS yang baru.
Disebutkan dalam berita " .... sejak tahun 1992 di Karawang sudah tercatat 1153 ...." Yang perlu diingat ini hanya kasus yang terdeteksi, karena ada kasus yang tidak terdeteksi. Epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi, dalam hal ini 1.153, adalah yang terdeteksi yang digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ka atas permukaan air laut. Sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.
Dok Pribadi
Dok Pribadi
Dalam berita sama sekali tidak ada informasi yang akurat tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Dengan menonjolkan remaja berita ini terkesan sensasional, padahal dalam epidemi HIV yang persoalan besar adalah infeksi HIV pada laki-laki dewasa heteroseksual. Soalnya, mereka mempunyai istri sehingga ada risiko penularan ke istri (horizontal). Jika istri mereka tertular, maka ada pula risiko penularan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya (vertikal) terutama saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).
Sedangkan remaja tidak mempunyai istri. Hal ini sama dengan laki-laki gay (homoseksual) karena gay juga tidak punya istri.
Salama Pemkab Karawang tidak mempunyai program yang konkret untuk menurunkan, sekali lagi hanya bisa menurunkan, insiden infeksi HIV pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK), maka penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi di Karawang yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. * - Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5dc4ba24097f36382c36f872/aids-di-karawang-memojokkan-remaja-abaikan-laki-laki-heteroseksual-dewasa

04 November 2019

Penyangkalan Akan Dorong Penyebaran HIV/AIDS di Aceh

Ilustrasi (Sumber: timesofindia.indiatimes.com)
Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Imam Murahman di Meulaboh, mengatakan tingginya sebaran penyakit HIV/AIDS di Aceh dikarenakan seks menyimpang seperti homoseksual. Ini ada di lead berita "Perilaku Seks Menyimpang Cara Penyebaran HIV/AIDS di Aceh" di indozone.id, 10/9-2019.
Pernyataan di lead berita itu tidak akurat, karena:
Pertama, risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubunga seksual (di luar nikah, seks menyimpang, zina, melacur, selingkuh, homoseksual, dll.), tapi karena kondisi pada saat terjadi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom).
Kedua, disebutkan " .... tingginya sebaran penyakit HIV/AIDS di Aceh dikarenakan seks menyimpang seperti homoseksual." Infeksi HIV/AIDS pada kalangan homoseksual, khususnya gay, merupakan terminal terakhir karena mereka tidak mempunyai istri. Kalau pun ada sebaran HIV/AIDS itu hanya terjadi di komunitas gay.
Ketiga, disebutkan " .... penyakit HIV/AIDS ...." Ini tidak akurat karena HIV/AIDS bukan penyakit. HIV adalah virus sedangkan AIDS adalah kondisi pada seseorang yang tertular HIV secara statistik terjadi antara 5 -- 15 tahun setelah tertular.
Dengan mengatakan " .... tingginya sebaran penyakit HIV/AIDS di Aceh dikarenakan seks menyimpang seperti homoseksual" maka yang jadi pertanyaan besar adalah: mengapa 20 persen dari jumlah kumulatif HIV/AIDS di Aceh terdeteksi pada ibu rumah tangga?
Ini ada dalam berita "Astaga! 840 warga Aceh terjangkit HIV/AIDS" (elshinta.com, 10/9-2019): Menurutnya (Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Imam Murahman-pen.), sebagian besar pengidap penyakit menular yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut terdiri dari kalangan wiraswasta sebanyak 40 persen, dan 20 persen kalangan ibu rumah tangga.
Dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27/8-2019, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Aceh 1.168 yang terdiri atas 642 HIV dan  526 AIDS. Tapi, dalam berita indozone.id, 10/9-2019 dan elshinta.com, 10/9-2019 disebutkan jumlah kasus HIV/AIDS di Aceh 840.
Terlepas dari perbedaan angka yang perlu diingat adalah jumlah yang terdeteksi tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.
Dok Pribadi
Dok Pribadi
Maka, kasus-kasus HIV/AIDS pada warga Aceh yang tidak terdeteksi akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Ada lagi pernyataan ini: "Kasus penularan HIV/AIDS di Provinsi Aceh didominasi oleh prilaku sex bebas, terutama mereka yang berhubungan seks sesama jenis seperti kalangan gay," kata Imam Murahman.
Dengan fakta 20 persen kasus HIV/AIDS di Aceh terdeteksi pada ibu rumah tangga, maka pernyataan di atas tidak objektif karena gay tidak mempunyai istri. Lalu, siapa yang menularkan HIV/AIDS kepada ibu-ibu rumah tangga itu?
Yang paling masuk akal ibu-ibu rumah tangga itu tertular HIV/AIDS dari suami. Jika tetap mengabaikan perilaku seksual laki-laki dewasa, dalam hal ini suami, yang berisiko tertular HIV/AIDS itu artinya penyangkalan. Salah satu faktor yang mendorong penyebaran HIV/AIDS adalah penyangkalan. * Sumber - https://www.kompasiana.com/infokespro/5dc0b5bf097f362532489c22/penyangkalan-akan-dorong-penyebaran-hiv-aids-di-aceh

02 November 2019

PSK Online di Kota Tasikmalaya Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: pngmart.com)

“Kami sedang melakukan pendampingan dan sekarang mereka akan diperiksa dulu kesehatannya, lalu tes HIV/AIDS yang bekerjasama dengan pihak Dinas Kesehatan (Dinkes).” Ini pernyataan Kepala Seksi (Kasi) PPA P2TP2A Bidang Pemberdayaaan dan Perlindungan Anak Dinas PPKBP3A Kota Tasik, Teti Rositawati, dalam berita “Para PSK Online yang Digerebek Polres Kota Tasik Dites HIV/AIDS” di radartasikmalaya.com, 31/10-2019.

Ini menunjukkan prostitusi online, dalam berita disebut ‘PSK Online’ (PSK – pekerja seks komersial), sudah menyebar di Nusantara. Ini hal yang masuk akal karena sekarang tidak ada lagi lokalisasi pelacuran dan kepemilikan telepon pintar juga sudah merata sampai ke daerah sehingga ada perangkat untuk mengakses media sosial (medsos).

Langkah yang dilakukan yaitu tes HIV terhadap empat cewek PSK online seperti yang disampaikan dalam berita lebih kepada sensasi karena tidak ada langkah konkret dari hasil tes HIV itu kelak.

Terkait dengan penangkapan empat PSK online di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, tsb. yang jadi masalah besar adalah:

(1) Laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK online tsb, bisa jadi mrk suami, bahkan ada yg istrinya lebih dari satu, dan

(2) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK online yang mengidap HIV/AIDS berisiko tertular HIV/AIDS, bisa jadi meraka adalah suami, bahkan ada yang istrinya lebih dari satu.

Masalah lain adalah banyak laki-laki ‘hidung belang’ yang menganggap mereka tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena PSK online bukan PSK yang mangkal di lokalisasi pelacuran. Soalnya, selama ini ada informasi yang ngawur yaitu menyebutkan penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual dengan PSK di lokalisasi pelacuran.


Padahal, dalam prakteknya PSK dikenal dua jenis, yaitu:

(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dll.

Dalam prakteknya PSK online sebagai PSK tidak langsung sama saja dengan PSK langsung karena mereka juga melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa jadi salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehinga PSK online berisiko tertular HIV/AIDS.

Berita tsb. sama sekali tidak memberikan informasi yang akurat tentang risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual dengan PSK online. Padahal, yang diharapkan dari penangkapan empat PSK online di Kota Tasikmalaya itu adalah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa empat PSK online itu sama saja dengan PSK langsung.

Itu artinya laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan salah dari dari empat PSK online tsb. berisiko tertular HIV/AIDS. Jika hasil tes HIV terhadap empat PSK online tsb. hasilnya positif, maka laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan PSK online yang ditangkap itu berisiko tinggi tertular HIV/AIDS jika hubungan seksual dilakukan tanpa memakai kondom.

Salah satu indikator penyebaran HIV/AIDS di kalangan laki-laki adalah penemuan kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga. Program yang menganjurkan ibu-ibu hamil tes HIV merupakan upaya untuk memutus mata rantai penularan HIV dari ibu-ke-anak yang dikandungnya.

Dari 500 kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya sampai Januari 2019 ternyata 38 persen terdeteksi pada ibu rumah tangga. Ini angka yang tidak kecil (liputan6.com, 16/1-2019).

Tapi, yang perlu dilakukan adalah suami dari ibu hamil yang terdeteksi HIV juga harus menjalani tes HIV. Dengan tes HIV suami-suami itu akan dikonseling agar tidak menyebarkan HIV ke perempuan lain. Celakanya, tidak semua suami mau menjalani tes HIV ketika istrinya terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Maka, yang terjadi adalah penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, yang dilakukan oleh suami-suami ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Penyebaran ini kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’ di Kota Tasikmalaya. * [Sumber: 

Pemerintah Kurang Manfaatkan Media Cegah HIV/AIDS

Media Relation Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Banten Syaiful W Harahap ( / )

TANGERANG | Kamis, 15 Desember 2011 | 19:09 - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Banten menilai bahwa Pemerintah daerah kurang memanfaatkan peran media masa dalam program penanggulangan HIV/AIDS. Padahal peran media sangat penting untuk mensosialisasikan informasi yang benar tentang kejadian kasus HIV/AIDS kepada masyarakat.

“Banyak masyarakat yang belum paham terkait bahaya HIV/AIDS karena kuranya informasi, ini lah yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus. Seharusnya, yang paling utama pemerintah daerah merangkul media dulu untuk sosialisasi, baru membagikan kondom,” ungkap Media Relation Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Banten Syaiful W Harahap, saat sosialisasi HIV di kantor KPA Kabupaten Tangerang, Kamis (15/12/2011).

Menurutnya, sosialisasi lewat media masa lebih efektif karena dapat menjangkau seluruh elemen masyarakat. “Kan tidak mungkin pihak pemerintah menjangkau seluruh masyarakat, apa lagi ditempat prostitusi. Lebih baik menggunakan media,” papar Syaiful.

Selain itu, Syaiful menilai kurangnya pelatihan terhadap wartawan tentang materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) HIV/AIDS, juga menjadi penyebab ketidak pahaman masyarakat. “Selama ini materi KIE banyak yang tidak akurat karena yang disampaikan hanya mitos atau anggapan yang salah tentang HIV/AIDS seperti mengait-ngaitkan penularan virus tersebut dengan norma, moral dan agama. Padahal HIV/AIDS itu fakta medis,” tuturnya.

Untuk itu, kata Syaiful, Pemerintah daerah diharapkan memanfaatkan peran media masa sebaik mungkin, serta memberikan pelatihan kepada wartawan sehingga informasi penanggulangan dan pencegahan dapat tersampaikan dengan benar.(RAZ) - Sumber: http://tangerangnews.com/kota-tangerang/read/6049/www.tirtabenteng.com


Perkici Kie Raha: Lokakarya Penguatan Kapasitas Penulisan Berita tentang HIV/AIDS




Lokakarya Penguatan Kapasitas Penulisan Berita tentang HIV/AIDS bagi Wartawan di Maluku Utara oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Maluku Utara



Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Maluku Utara selasa kemarin kembali mengadakan Lokakarya Penguatan Kapasitas Penulisan Berita tentang HIV/AIDS bagi Wartawan di Maluku Utara, yang menghadirkan fasilitator Syaiful W Harahap (Penerbit dan Pemred Situs Online “AIDS Watch Indonesia”). Lokakarya ini dilaksanakan pada tanggal 08-09 November 2016 di Hotel Safirna Transito, kelurahan Kota Baru, Ternate Tengah yang melibatkan peserta dari perwakilan wartawan media cetak, RRI, Radio swasta dan pers kampus yang secara keseluruhan berjumlah 25 orang peserta. 

Hari pertama kegiatan dibuka oleh Dr. Idhar Sidi Umar M.Kes dari (Kepala Dinas Kesehatan provinsi Maluku Utara dan wakul ketua satu KPA Malut) yang dilanjutkan dengan Info dasar dan situasi Epidemi HIV/AIDS di provinsi Maluku Utara. Wartawan juga diajak untuk lebih memahami tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) dan bagaimana keterkaitannya dengan HIV/AIDS, yang dalam kesempatan ini dibawakan oleh Dr. Wirda Albar (Penanggung jawab klinik Juwita Puskesmas Siko). Selanjutnya wartawan di bekali kembali tentang UU Pers, kode etik, unsur layak berita, dan lainnya serta menganalisis berita HIV/AIDS yang dipresentasikan lewat diskusi kelompok. 

Hari kedua kegiatan, rekan-rekan wartawan dipertemukan langsung dengan sepasang suami istri pengidap HIV/AIDS untuk dapat berbagi informasi tentang kesehariaan mereka sebagai orang dengan HIV/AIDS (Odha). Juga pada kesemapatan itu, rekan-rekan wartawan mendapat kesempatan untuk mewawancarai waria, saat itu hadirkan dua orang untuk dapat berbagi cerita dengan teman-teman wartawan. Selanjutnya wartawan diberikan pemahaman bagaimana mencari isu AIDS yang layak diliput serta kemudian menulis berita AIDS dengan pola “Jurnalisme Harapan”.

Pada sesi terakhir lokakarya ini, para wartawan dari masing-masing delegasi lembaga pers diminta menuliskan RTL dan kegiatan ini yang kedepannya akan dikawal baik bersama KPA Malut dalam penyebaran informasi tentang HIV/AIDS di Maluku Utara. Sebelum lokakarya ini ditutup oleh Runi Abdulatif (sekertaris KPA Malut), para wartawan membentuk “Komunitas Jurnalis Peduli AIDS Maluku Utara” (Kupas Malut) sebagai wadah bagi wartawan untuk memberikan informasi lebih tentang bahaya HIV/AIDS sehingga masyarakat dapat menjaga diri untuk tidak tertular HIV/AIDS.


By. Inggrith Pusung                      

Peran media cetak dan elektronik dalam penanggulangan HIV/AIDS

Workshop media cetak dan elektronik yang diselenggarakan KPA Kab. Tangerang pada Rabu 27 Mei 2015 bertempat di Restoran Warung Sunda Jl. Raya Serpong, KM. 8 No. 88 Serpong Tangerang-Banten

Peran media cetak, elektronik, maupun media online dalam menyampaikan informasi di masyarakat tidak dapat dipungkiri memiliki dampak yang besar. Tidak terbatas hanya itu saja, media juga memiliki peran dan fungsi dalam mempengaruhi opini dan pola pikir masyarakat khususnya dalam menyampaikan informasi yang akurat dan terpercaya kebenarannya.
Workshop media cetak dan elektronik yang diselenggarakan KPA Kab. Tangerang pada Rabu 27 Mei 2015 bertempat di Restoran Warung Sunda Jl. Raya Serpong, KM. 8 No. 88 Serpong Tangerang-Banten. Kegiatan yang dihadiri oleh 18 perwakilan media cetak dan elektronik lokal dan nasional ini bertujuan untuk menjalin kemitraan serta meningkatkan tingkat kepedulian para awak media dalam upaya penanggulangan HIV AIDS.
Dalam kesempatan tersebut Efi Indarti, S.KM, M.Kes., selaku sekretaris KPA Kab. Tangerang menyampaikan bahwa, “Upaya penanggulangan dan pengendalian HIV AIDS bisa didukung oleh peran media cetak, elektronik, maupun media sosial untuk menyebarluaskan informasi yang terbaik dalam upaya ini”.
Diawali dengan pemaparan materi I mengenai Pengetahuan Dasar HIV AIDS yang dibawakan oleh dr. Dewi Maria Yuliani, M.Kes., dari P2P Dinkes Kab. Tangerang. “Peran media sekarang ini memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat, segala sesuatu yang diberitakan oleh media dapat mempengaruhi cara berpikir masyarakat, banyak mitos mengenai HIV AIDS yang berkembang di masyarakat, disinilah kita akan mengupas seperti apa dan bagaimanakah HIV AIDS itu”, ujar dr. Dewi mengawali sesi pertama. Sesi ini berlangsung interaktif, diwarnai dengan berbagai pertanyaan dari awak media. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan kompilasi data terkini HIV AIDS di wilayah Kabupaten Tangerang.

Kegiatan workshop dilanjutkan kembali setelah makan siang dengan materi II mengenai Penulisan yang tepat dalam isu HIV dan AIDS, dan mengangkat isu yang tepat seperti pelayanan, kemandirian program, pemberdayaan, stigma dan diskriminasi. Materi ini dibawakan oleh Syaiful W. Harahap, wartawan senior nasional sekaligus pemerhati permasalahan HIV AIDS di Indonesia.
“Masalah HIV AIDS ini tidak dapat semata-mata diselesaikan oleh instansi saja ditinjau dari epidemi. Penyebaran informasi harus dilakukan besar-besaran oleh media masa, baik cetak, elektronik, media sosial, dan bahkan oleh blogger, dengan harapan pimpinan dinas, Instansi terkait dan swasta di Provinsi maupun Kabupaten/Kota merangkul awak media untuk bisa lebih memasyarakatkan bagaimana cara-cara penanggulangan HIV”, ujar Syaiful W. Harahap.
Para awak media yang menghadiri acara ini terlihat sangat antusias dan aktif dengan berbagai pertanyaan yang terlontar dalam nuansa interaktif yang bersahaja. “Dengan adanya pertemuan ini saya dan teman-teman wartawan menjadi mengetahui lebih banyak mengenai HIV AIDS, dengan kegiatan ini lebih mudah bagi kita untuk menyampaikan kepada masyarakat informasi HIV AIDS”, tutur Hendra, ketua Pokja Wartawan Kabupaten Tangerang.
Menutup kegiatan ini, sekretaris KPA Kab. Tangerang mengajak para awak media untuk aktif terlibat dalam upaya penanggulangan HIV AIDS. “Ayo tolonglah kami yang di pemerintahan daerah, tidak hanya KPA untuk menyelesaikan permasalahan ini. Perpanjangan tangan wartawan yang bisa lebih untuk menyebarluaskan informasi dan pemahaman ini baik kepada masyarakat maupun terhadap kebijakan pemerintah”, himbau Efi Indarti, S.KM., M.Kes. [J.A/A.K] - http://www.kpakabtangerang.or.id/2015/06/03/peran-media-cetak-dan-elektronik-dalam-penanggulangan-hiv-aids/

Tertular dari Suami, Kisah Perjuangan Seorang Ibu Melawan HIV/AIDS



Jangan malu tes HIV/AIDS ke VCT

Masdalena Napitupulu

Medan, IDN Times - 24 Juni 2019  - Sadar dengan perilaku beresiko dan kebiasaan suami yang menggunakan jarum suntik bergantian, membuat A tergerak untuk memeriksakan dirinya ke Voluntary Counselling and Testing (VCT) sejak 2007. Kemudian, pada 2008, A dinyatakan positif terjangkit HIV/AIDS (ODHA).
A bercerita, kala itu ia memiliki anak berusia 1 tahun 4 bulan dan sedang menyusui. Setelah ia mengetahui dirinya dalam keadaan positif HIV/AIDS, ia memberhentikan untuk memberi ASI kepada anaknya.
Sejak dinyatakan positif HIV/AIDS, A memilih berpisah dengan suaminya. Sejak itu pula, ia merawat dan membesarkan anaknya secara mandiri.
Seperti apa perjuangnya? Merawat anak secara mandiri hingga aktif pendampingan ODHA. Berikut cerita A yang bisa dijadikan inspirasi!
1. Saat mengetahui ia positif HIV/AIDS, A tak merasa minder dan takut. Ia berani open status untuk sekitarnya

Dalam acara pelatihan media dan Civil Society Organization (CSO). "Pemberitaan Media yang Positif Bagi ODHA" yang diselenggarakan Indonesia Aids Coallition (IAC), A menyampaikan ia tak merasa takut, minder dan cemas saat mengetahui ia terjangkit HIV/AIDS. Bahkan ia juga berani open status untuk sekitarnya.
"Tak perlu minder, karena kita juga sama, bisa melakukan kerja yang sama, bedanya darah saya terjangkit virus darah kalian tidak, hanya itu saja" katanya.

2. Aktif tergabung dengan salah satu LSM yang fokus pada HIV/AIDS dan miliki pengetahuan dan pemahaman yang baik



Tentu saja, kata A, ia menjadi salah satu orang yang beruntung karena sebelumnya ia sudah aktif tergabung dengan salah satu LSM yang fokus pada HIV/AIDS.Pengetahuan dan pemahaman yang baik itulah yang menggerakkannya untuk tes HIV/AIDS secara suka rela.
“Walau sebenarnya ada penolakan sedikit dalam diri saya. Saya sempat down. Tapi buat apa malah akan merugikan saya. Apalagi ada anak saya yang harus dibesarkan. Ini juga yang membuat saya bangkit lagi,” ujar A.

3. Dengan kondisi HIV/AIDS, A aktif melakukan pendampingan ODHA


Dengan kondisi seperti ini juga, ia merasa bersyukur bisa lebih bermanfaat dengan orang yang memiliki perilaku berisiko terinveksi HIV/AIDS. Bergabung dengan teman-teman untuk lebih bermanfaat dengan melakukan pendampingan ODHA.

Saat ini A juga aktif kampanye dan sosialisasi HIV/AIDS, hingga melakukan advokasi kebijakan dan membangun jaringan dengan komunitas dan lembaga-lembaga lainnya.

“Timbul rasa dan keinginan agar perempuan dan keluarga lain sadar untuk memeriksakan diri tes HIV/AIDS agar dengan mudah proses penanganannya,” ujar A.

4. Jadi untuk menghapus stigma, ODHA itu harus menjadi role model, harus memberikan contoh baik kepada masyarakat

Ia juga menyampaikan, tantangan yang sering dialaminya saat melakukan pendampingan ODHA adalah stigma negatif masyaratkat tentang HIV/AIDS.
Menurut A, stigma ini telah membuat ODHA mendapatkan perlakuan diskriminasi.
“Stigma ini ada dua yaitu internal dari dalam diri dan ekternal dari tingkah laku kita sendiri. Jadi untuk menghapus stigma, ODHA itu harus menjadi role model, harus memberikan contoh baik kepada masyarakat," jelasnya.

5. Untuk menjalani hidup yang sehat, A rutin minum ARV

Untuk menjalani hidup yang sehat, A rutin minum ARV. Karena menurutnya ARV menjadi sesuatu kebutuhan untuk keberlangsungan hidupnya.
"Bahkan anakku sudah tahu di jam-jam tertentu, ia mengingatkan aku untuk minum obat," katanya.

6. Empat hal yang berisiko menularkan HIV/AIDS


Dalam pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, Syaiful W Harahap pemerhati berita HIV/AIDS juga menjelaskan perilaku yang berisiko menularkan HIV/AIDS.
"Pertama dari cairan darah, seperti transfusi darah. Kedua air mani, Ketiga cairan vagina dan keempat adalah Air Susu Ibu (ASI). Keempat hal tersebut berisiko menularkan HIV/AIDS," sebut Syaiful.
Oleh karenanya penting untuk media memahami perilaku mana yang dapat menyebarkan HIV/AIDS. Penyebaran HIV AIDS melalui cairan darah memiliki rasio yang lebih tinggi yakni 99:100. Penyebaran melalui hubungan badan suami istri memiliki rasio yang lebih kecil yakni 1:1000.
"Meski rasio penyebaran dari hubungan seks lebih rendah, jangan pula kita kebebasan bertukar pasangan kesana kesini. Tetap gunakan alat pengaman (kondom) ujar Syaiful.

7. Dua opsi yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan HIV/AIDS


Syaiful mengatakan, ada dua opsi yang dapat dilakukan pemerintah guna mencegah penularan virus tersebut yakni melakukan cek kepada setiap masyarakat yang berobat ke rumah sakit dan memberikan konseling terhadap ibu hamil.
"ARV adalah kombinasi dari beberapa obat antiretroval yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan HIV menyebar ke dalam tubuh. Namun ada harga yang dikeluarkan untuk memerolehnya," ujar Syaiful.
Saat ini harga ARV untuk lini pertama berada di kisaran Rp 300-Rp 350 ribu per bulan. Lini kedua dalam kisaran Rp 1 juta -Rp 2,4 Juta per bulan. Sementara, jika pengidap HIV/AIDS yang parah bisa mengonsumsi Lini Ketiga, senilai Rp 37 Juta per tahun. [Sumber: https://sumut.idntimes.com/news/sumut/masdalena-napitupulu-1/tertular-dari-suami-kisah-perjuangan-seorang-ibu-melawan-hivaids]

Homoseksual dan Biseksual Bisa Berisiko Merontokan Ekonomi

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Oleh: John Doddy Hidayat

Garut News (Jum’at, 22/12 – 2017) Orientasi seksual berupa homoseksual dan biseksual selain dapat merontokan kondisi ekonomi keluarga berisiko terinsfeksi HIV/AIDS, juga bakal banyak menyedot anggaran negara dalam proses pengadaan obat Antiretroviral (ARV), yang ternyata hanya bisa menekan laju perkembangbiakan HIV di dalam darah.
Lantaran kedua orientasi seksual tersebut, sangat berisiko terinsfeksi HIV/AIDS. Menyusul homoseksual (Gay ; Laki-laki ke laki-laki, dan perempuan ke perempuan yang banyak di antaranya memiliki faktor resiko akibat penggunaan jarum suntik/penasun).
Kemudian biseksual (laki-laki ke perempuan dan laki-laki ke laki-laki, serta perempuan ke laki-laki dan perempuan ke perempuan).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).















Sedangkan harga Obat ARV, pada Lini pertama Rp300.000 – Rp350.000 per bulan, disusul Lini kedua Rp1 juta – Rp1,2 juta per bulan, serta Lini ketiga 3.000 dollar AS (Rp 37,97 juta) per tahun.
Maka jika seorang ayah tertular HIV, kemudian sampai masa AIDS dan mengidap penyakit terkait HIV/AIDS: maka dampak yang dialami yaitu besarnya pengeluaran biaya pengobatan, serta perawatan.
Malahan pada kondisi kepala keluarga itu tidak bisa bekerja, dipastikan menjadikan istri beserta anak-anak dengan beratnya beban ekonomi keluarga, harus pula sekaligus mengurus ayah.
Karena itu pula, berpola hidup sehat termasuk tidak berperilaku yang berisiko terinsfeksi HIV/AIDS, merupakan upaya pencegahan lebih baik daripada pengobatan.
Orientasi seksual lainnya, di antaranya Parafilia, Infantofilia, Paedofilia, Necrofilia, Bestialis, dan Fethihisme.
********
Sumber : Intisari presentasi Syaiful W. Harahap dari AIDS Watch Indonesia pada pertemuan peningkatan kapasitas jurnalis dalam program “Pencegahan dan Penanggulangan HIV” (P2HIV) di Karang Setra Bandung, Kamis (21/12-2017).

Pemkab Garut Perlu Membuat Regulasi Konseling HIV/AIDS

Syaiful W. Harahap



Garut News ( Kamis, 21/12 – 2017 ) Pemkab Garut perlu segera membuat regulasi berupa Perda maupun Peraturan Bupati setempat, yang mewajibkan perempuan hamil, dan suami atau pasangannya menjalani konseling HIV/AIDS.
Kemudian mewajibkan mereka melanjutkan menjalani tes HIV jika hasil konseling mengarah ke perilaku berisko tertular HIV, pada pelayanan kesehatan milik pemerintah.
Demikian antara lain ‘disarankan’ Syaiful W. Harahap dari AIDS Watch Indonesia pada pertemuan peningkatan kapasitas jurnalis dalam program “Pencegahan dan Penanggulangan HIV” (P2HIV) di Karang Setra Bandung, Kamis (21/12-2017).
Sedangkan terkait dengan Penanggulangan HIV/AIDS Melalui Hubungan Seksual ada tiga opsi (pilihan), yaitu: Pertama ;  Tidak melakukan hubungan seksual berisiko, antara lain tidak ngeseks dengan PSK, Kedua ; Melakukan hubungan seksual berisiko, antara lain melacur, dengan memakai kondom
Serta Ketiga ; Melakukan hubungan seksual berisiko, antara lain melacur, tanpa kondom, tetapi sanggama dengan istri pakai kondom, imbuh dia.
Berdasar analisa situasi HIV/AIDS, dan IMS di Jawa Barat yang bersumber dari Dinas Kesehatan provinsi tersebut, di antaranya menunjukan sejak 1989 hingga September 2017 terdapat 30.770 kasus HIV, dan 8.925 kasus AIDS.
Sedangkan selama Januari hingga September 2017, dari 1.973 anak tes HIV. Ada 78 anak di antaranya terinsfeksi HIV positif sehingga positif rate nya 0,03 persen.
Upaya konkrit penanggulangannya agar angka kasus itu tidak semakin bertambah, di antaranya mewajibkan perempuan hamil, dan suami atau pasangannya menjalani konseling HIV/AIDS.
Kemudian mewajibkan mereka melanjutkan menjalani tes HIV jika hasil konseling mengarah ke perilaku berisko tertular HIV, pada pelayanan kesehatan milik pemerintah.
********
Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

''Jurnalisme Harapan'' dalam Peliputan dan Penulisan Berita HIV/AIDS


Pemateri, Syaiful W Harahap (tengah) diwawancarai oleh Kanaya wartawati Radio "SMS" FM Sukabumi dan Herman Lengam RRI Manokwari, Papua Barat (Foto: Baranews.co-Alfan Manah).

Oleh Alfan Manah-Baranews.co | Rabu, 04 November 2015 - 15:19 WIB | 932 Views

masih banyak pemberitaan di berbagai media massa dan media online di Indonesia yang turut menstigma dan menyampaikan informasi yang menyimpang soal HIV/AIDS
MAKASSAR, Baranews.co - “Wartawan diharapkan dapat menulis berita yang lebih obyektif tentang HIV/AIDS dan mengedepankan pemberitaan yang bersifat mendidik dan melahirkan harapan. Jangan sampai pemberitaan yang dibuat oleh teman-teman wartawan justru menyesatkan, turut menstigma, dan melahirkan mitos yang salah tentang HIV AIDS.”

Demikian disampaikan Syaiful W. Harahap, Komite Media Pernas AIDS V Makassar yang juga Wapemred portal berita “baranews.co” dalam sesi pelatihan media pada Pernas (Pertemuan Nasional) AIDS di Makassar (26/10-2015) di hadapan 22 wartawan dari seluruh wilayah Indonesia yang mendapatkan penghargaan selaku penerima beasiswa media ke Pernas AIDS V di Makassar 25-29 Oktober 2015.

Menurut penulis buku “Pers Meliput AIDS” yang diterbitkan pada tahun 2000 ini, masih banyak pemberitaan di berbagai media massa dan media online di Indonesia yang turut menstigma dan menyampaikan informasi yang menyimpang soal HIV/AIDS.

Karena itu, Syaiful memandang pelatihan tentang “Jurnalisme Harapan Dalam Meliput Isu HIV/AIDS” sebagai sebuah keharusan sekalipun kaidah jurnalistik sudah memberikan batasan sejauh mana suatu fakta boleh dijadikan informasi oleh media.

Ambil misal, seorang wartawan mengangkat fakta personal seorang pengidap HIV/AIDS. Yang harus dijadikan dasar pertimbangan adalah sejauh mana fakta personal tersebut bisa dijadikan informasi publik. Dari aspek etis, apakah yang bersangkutan setuju dan memiliki kerelaan untuk dipublikasikan.

“Demikian pun halnya pemilihan kata dalam penulisan HIV AIDS agar tidak turut menstigma para penderita HIV AIDS  atau pun kelompok berisiko tinggi lainnya seperti gay, laki-laki biseksual dan waria,” ungkapnya.

Syaiful kemudian mengangkat sejumlah fakta pemberitaan media. Menurutnya, ada sejumlah media yang menghasilkan pemberitaan yang tidak obyektif dalam arti penggambaran epidemi HIV/AIDS yang tidak menyeluruh, sehingga tidak dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahayanya. 

Dirinya menemukan pada kasus tertentu, media tidak mengulas sifat epidemi HIV/AIDS yang serupa dengan fenomena gunung es dengan jelas kepada pembaca, malah yang ditonjolkan angka pengidap HIV/AIDS yang rendah, sehingga ada kemungkinan, pembaca menangkap bahwa HIV/AIDS itu tidak perlu terlalu dikuatirkan.

Menurut Syaiful, menahan informasi yang menyeluruh soal HIV/AIDS, bukanlah dosa dunia jurnalistik yang paling berat, namun ketika dunia jurnalistik turut meremehkan kemungkinan penyebaran epidemi HIV AIDS, pers ikut menanamkan rasa aman yang semu pada masyarakat yang mengakibatkan sikap acuh tak acuh terhadap penanggulangan penularan HIV.

Menutup pernyataannya, Syaiful tetap meyakini bahwa media maa ssmemiliki peran yang sangat strategis dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS secara menyeluruh dan komprehensif di Indonesia. Karenanya melahirkan “Jurnalisme Harapan” adalah sebuah keniscayaan. *

Ubah Stigma Terhadap Orang dengan HIV/AIDS Jadi Tanggung Jawab Bersama

Peserta Diskusi Pemberitaan Media yang Positif Bagi ODHA, Medan, Sabtu (22/6/2019). 


TRIBUN-MEDAN.com, 22 Juni 2019 - Sejak dilaporkan pertama kali adanya Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) oleh Depkes RI pada tahun 1987 di Indonesia, berbagai kampanye terhadap HIV/Aids masih menjadi pekerjaan rumah kita semua. Pasalnya, hingga kini stigma negatif maupun pencegahan terhadap Odha tak juga bisa dibendung.

ODHA masih dianggap sebagai momok yang menakutkan bagi lapisan masyarakat yang tak mengenali HIV/Aids. Padahal jika dikaji mana yang lebih penting, dalih kemanusiaan adalah yang harus diutamakan.

Aktivis HIV/Aids Syaiful W Harahap yang memimpin diskusi bertema 'Pemberitaan Media yang Positif Bagi ODHA mengatakan kepada sejumlah komunitas peduli HIV/Aids sebaiknya tak perlu lagi mengungkit perihal moral manusia yang terinfeksi HIV/Aids, akan tetapi bagaimana membimbing (konseling) terinfeksi dan membangun stigma yang positif.

"Jangan lagi diungkit soal dari mana ia tertular, tapi bagaimana membangun motivasi hidupnya dan membangun stigma di kalangan masyarakat, soal ODHA jangan lagi dikaitkan ke agama. Kita sekarang cerita soal medis," ujar Syaiful.

Dikatakan Syaiful, faktor risiko terinfeksi HIV/AIDS selama ini digadang-gadang bersumber dari aktivitas seksual homogen, atau akrab disapa Lesbian Gay Bisexsual dan Transgender (LGBT), Padahal kenyataannya penularan HIV/Aids justru banyak terjadi oleh orang-orang berorientasi heterogen (normal).

Dari data yang dimiliki Kemenkes RI Triwulan I/2019, Faktor risiko manusia terinfeksi HIV/Aids terbanyak adalah di kalangan heterogen sebanyak 81.198 Kasus dengan persentase 70,24 Persen, Diikuti Injecting Drug User (IDU), pengguna narkotika berbasis jarum suntik sebanyak 9.624, persentase 8,33 persen. Sementara di kalangan Homogen (LGBT) 7.853 Kasus dengan persentase 6,79 persen.

"Artinya kan begini, penyebab seseorang terinfeksi HIV/Aids bukan karena orientasi seksnya yang berisiko, tetapi ke perilakunya itu sendiri. Paling banyak terinfeksi HIV/Aids justru suami-suami ibu rumah tangga dibanding gay dengan gay," sambung Syaiful dalam diskusi yang berlangsung di IBIS Style Hotel, Sabtu (22/6/2019) pagi.

Syaiful menguraikan penyebab suami terifeksi HIV/Aids diindikasikan berasal dari perilaku seks suami yang berganti-ganti pasangan tanpa alat pengaman (kondom). Barangkal dikatakan Syaiful, suami tersebut melakukan hubungan seks dengan PSK, yang notabene berganti-ganti pasangan juga.

Maka dari itu Syaiful menganjurkan, ada dua opsi yang wajib dilakukan untuk mencegah penularan HIV/Aids kepada Istri dan anak-anak. Memakai kondom saat berhubungan badan dengan istri, atau memakai kondom saat berhubungan badan dengan PSK.

"Udah cuma itu saja. Kalau suami sadar gak mau main PSK lagi syukur Alhamdulillah, Kalau pun gak mau terpaksa kedua cara tadi jalan keluarnya. Kita bukan bermaksud menyetujui, tapi siapa yang bisa menjaga seorang laki-laki di ruang publik," cetusnya.

Sebagai seorang aktivis yang puluhan tahun menggeluti bidang HIV/Aids, Lelaki berambut putih itu sontak membandingkan pengendalian HIV/Aids yang ada di Indonesia dan Thailand.

"Di Thailand, lokalisasi ada dan diawasi pemerintah. Calo wanitanya diwajibkan menjaga kesehatan PSK dengan kondom, sementara di Indonesia berbeda, PSK yang ditangkap kalau ada masalah, bukan Calo (Germo)-nya. Ini kesulitannya," tambah Syaiful.

Kesulitannya, lantaran lokalisasi ditolak di Indonesia, sehingga pengendalian HIV/Aids sontak tak terkontrol, sebab para PSK menyebar kemana-mana. Syaiful juga berpesan terhadap para komunitas untuk tidak menggunakan bahasa-bahasa yang memperparah stigma terhadap ODHA.

"Tolong lagi jangan membahas dari mana dia (ODHA) terinfeksi. Lakukan saja konseling. Jangan lagi gunakan kata Seks Menyimpang karena yang benar adalah seks berisiko. Jangan gunakan lagi penderita HIV/Aids, kata menderita akan menyebabkan mereka terkucilkan. Jangan anggap narkoba berbahaya, yang berbahaya adalah penyalahgunaannya," ujar Syaiful.

Ia pun meminta agar pemerintah memiliki konsentrasi terhadap HIV/Aids, khususnya Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang saat ini bertengger di posisi ketujuh dengan manusia terinveksi HIV/Aids terbanyak di Indonesia. Sebaiknya pemerintah memiliki Perda yang mengatur dan membina ODHA. (cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Liston Damanik

[Sumber  https://medan.tribunnews.com/2019/06/22/ubah-stigma-terhadap-orang-dengan-hivaids-jadi-tanggung-jawab-bersama]