03 April 2021

Informasi Ciri HIV/AIDS yang Menyesatkan dan Bikin Masyarakat Panik

 

Ilustrasi (Sumber: timesofindia.indiatimes.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

17 Ciri HIV/AIDS yang Jarang Disadari, Salah Satunya Sering Sariawan” Ini judul berita di merdeka.com (31 Maret 2021).

Informasi di judul berita itu menyesatkan dan membuat panik masyarakat karena sariawan merupakan penyakit umum yang pernah dialami banyak orang dengan berbagai penyebat.

Apa pun tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri fisik yang bisa dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS tidak otomatis terkait langsung dengan HIV/AIDS karena tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri fisik dan keluhan kesehatan itu juga bisa disebabkan infeksi atau penyakit lain.

Apakah wartawan dan redaktur merdeka.com tidak memikirkan dampak buruk dari judul berita itu?

Baca juga: Menggugat Peran Pers Nasional dalam PenanggulanganAIDS di Indonesia

Orang-orang yang sariawan akan panik jika pernah membaca berita tersebut. Apalagi HIV/AIDS selalu dikait-kaitkan dengan norma, moral dan agama akan lebih membuat panik orang-orang yang mengalami sakit sariawan karena takut mendapat stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda).

Masyarakat kian panik dan cemas lagi membaca judul berita itu karena disebut “17 Ciri HIV/AIDS”. Itu artinya ada 17 tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri fisik serta keluhan kesehatan. Ini tidak main-main karena 17 ciri yang diumbar merdeka.com itu merupakan gejala umum yang bisa saja diderita, bahkan lebih dari satu ciri.

Biarpun tidak ada salah satu atau beberapa tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri fisik serta keluhan kesehatan yang terkait dengan HIV/AIDS pada seseorang itu tidak jaminan yang bersangkutan bebas HIV/AIDS. Soalnya, tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri fisik serta keluhan kesehatan yang terkait dengan HIV/AIDS secara statistik baru muncul antara 5 – 15 tahun setelah terinfeksi HIV/AIDS.

Apalagi dengan adanya obat antiretroviral (ARV) tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri fisik serta keluhan kesehatan bisa tidak pernah muncul karena obat ARV menekan laju penggandaan HIV di darah sehingga daya tahan tubuh tertap terjaga.

Maka, tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri fisik serta keluhan kesehatan yang bisa dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS jika orang-orang yang mengalami tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri fisik serta keluhan kesehatan itu pernah melakukan satu atau beberapa perilaku berisiko tertular HIV/AIDS.

Ilustrasi (Sumber: fiercebiotech.com)

Itu artinya informasi yang disampaikan merdeka.com tidak akurat karena tidak menyebut 17 ciri itu terkait dengan HIV/AIDS jika pernah melakukan satu atau beberapa perilaku berisiko tertular HIV/AIDS.

Perilaku-perilaku berisiko tertular HIV/AIDS, antara lain:

(1)   Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) baik PSK langsung maupun PSK tidak langsung (cewek prostitusi online, dll.),

(2)   Pernah atau sering memakai jarum suntik secara bersama-sama dengan bergantian pada penyalahagunaan narkoba dengan jarum suntik, dan

(3)   Pernah menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV/AIDS.

Jika seseorang mengalami salah satu atau beberapa dari 17 ciri HIV/AIDS yang disebut merdeka.com itu tapi tidak pernah melakukan salah satu atau ketiga perilaku di atas, maka 17 ciri sama sekali tidak terkait dengan HIV/AIDS. Ini fakta medis.

Di lead berita itu disebutkan: HIV atau human immunodeficiency virus, adalah virus yang ditularkan secara seksual yang menyebar melalui paparan cairan tubuh tertentu … Ini juga ada syaratnya yaitu salah satu atau dua-duanya yang melakukan hubungan seksual itu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom. Ini juga fakta medis.

Disebutkan pula: HIV menyerang dan merusak sel kekebalan tubuh …. Ini tidak akurat karena HIV tidak menyerang, tapi menggandakan diri dengan menjadikan sel-sel darah putih sebagai ‘pabrik’ sehingga sel darah putih yang dijadikan pabrik rusak. Virus baru yang terbentuk mencari sel darah putih untuk menggandakan diri. Begitu seterusnya sehingga banyak sel darah putih yang rusak yang pada akhirnya menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Sudah saatnya media yaitu media massa, media online dan media sosial lebih objektf dalam memberitakan HIV/AIDS agar bisa jadi pencerahan bagi masyarakat untuk melindungi diri agar tidak tertular HIV/AIDS [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/606917b7d541df4d32322a04/informasi-ciri-hiv-aids-yang-menyesatkan-dan-bikin-masyarakat-panik]***

02 April 2021

Pandemi Covid-19 Tenggelamkan Isu Epidemi HIV/AIDS Indonesia

 

Ilustrasi (Foto: dw.com/de)

Sepanjang tahun 2020 yang juga merupakan tahun dengan pandemi Covid-19 terdeteksi 50.626 kasus HIV/AIDS baru

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Pandemi virus corona (Covid-19) benar-benar menenggelamkan berita seputar epidemi HIV/AIDS di Indonesia. Padahal, berdasarkan laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 2 Februari 2021 jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS per 31 Desember 2020 mencapai 549.291 yang terdiri atas 419.551 HIV dan 129.740 AIDS. Estimasi kematian 38.000. Angka-angka ini merupakan akumulasi jumlah kasus mulai tahun 1987 sampai 31 Desember 2020.

Sepanjang tahun 2020 yang juga merupakan tahun dengan pandemi Covid-19 terdeteksi 50.626 kasus HIV/AIDS yang terdiri atas 41.987 HIV dan 8.639 AIDS. Sedangkan jumlah bayi usia di bawah 18 bulan yang terdeteksi HIV/AIDS sebanyak 67. Lima daerah yang melaporkan kasus AIDS terbanyak adalah Papua (1.629), Jawa Tengah (1.387), Jawa Barat (836), Bali (830), dan Jawa Timur (495).

Sedangkan estimasi kasus HIV/AIDS diperkirakan sebanyak 640.000. Itu artinya ada 90.709 kasus HIV/AIDS di masyarakat yang tidak terdeteksi. Jumlah yang tidak terdeteks ini (90.709) jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

1. Fenomena Gunung Es pada Epidemi HIV/AIDS

Persoalan epidemi HIV/AIDS kian runyam jika dibandingkan dengan pandemi Covid-19 yaitu tidak ada vaksin untuk HIV/AIDS, sedangkan Covid-19 sudah ada vaksin. Selain itu gejala HIV/AIDS bisa sampai 15 tahun tidak muncul sehingga orang-orang yang mengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS. Sedangkan gejala dan kesakitan infeksi Covid-19 sudah muncul dalam beberapa hari setelah tertular.

Berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di peringkat ke-1 nasional adalah Jawa Timur dengan jumlah 85.615, disusul DKI Jakarta 81.257, Papua 63.499, Jawa Barat 53.779, dan Jawa Tengah 51.964.

Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS per provinsi secara nasional dari tahun 1987 sampai 31 Desember 2020 (Foto: Tagar/Syaiful W Harahap)

Yang perlu diperhatikan adalah jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Maka, daerah-daerah dengan jumlah kasus yang kecil atau sedikit harus waspada karena jumlah yang kecil itu bisa saja karena penjangkauan yang rencah dan fasilitas tes HIV yang tidak banyak.


Jumlah kasus HIV/AIDS yang terus melonjak di Jawa Timur jadi tanda tanya karena lokalisasi pelacuran Dolly dan puluhan lokasi pelacuran sudah ditutup. Hal yang sama juga terjadi di beberapa daerah. Kondisi ini realistis karena transaksi seks tidak bisa lagi diintervensi untuk meminta agar laki-laki selalu memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK).

 

Fenomena gunung es pada epidemi HIV/AIDS (Foto: Tagar/Syaiful W Harahap)

2. Program Penanggulangan HIV/AIDS Mengekor ke Thailand

Soalnya, lokasi dan lokalisasi pelacuran sekarang sudah pindah ke media sosial yang melibatkan PSK tidak langsung. Transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu sehingga tidak terjangkau. PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dan lain-lain.

Baca juga: Lokalisasi Pelacuran dari Jalanan keMedia Sosial

Ketika lokasi dan lokalisasi pelacuran ditutup di seluruh Indonesia, prostitusi online marak yang melibatkan berbagai kalangan mulai dari yang disebut-sebut artis, foto model, mahasiswi dan lain-lain. Karena transaksi seks pada prostitusi online tidak bisa dijangkau, maka kegiatan ini jadi salah satu pintu penyebaran HIV/AIDS di Indonesia.

Baca juga: Prostitusi Online dan Artis PenyebarHIV/AIDS di Indonesia

Estimasi infeksi baru HIV setiap tahun sebanyak 46.000 sehingga diperlukan langkah-langkah yang konkret untuk menurunkan, sekali lagi hanya bisa menurunkan, jumlah insiden infeksi HIV baru terutama pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK.

Persoalan besar yang dihadapi Indonesia dalam menanggulangi epidemi HIV/AIDS adalah mitos, penolakan terhadap kondom, penyangkalan, dan penutupan lokasi dan lokalisasi pelacuran. Mitos terkait HIV/AIDS sudah dipupuk sejak awal epidemi HIV/AIDS di Indonesia, yaitu menyebut AIDS penyakit bule, AIDS penyakit homoseksual, dan lain-lain.

Baca juga: Menelusuri Akar Kasus HIV/AIDS Pertamadi Indonesia

Penolakan terhadap kondom, alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah, terjadi karena sosialisasi HIV/AIDS yang tidak komprehensif. Materi komunikasi, edukasi dan informasi (KIE) menonjolkan kondom di saat masyarakat belum sepenuhnya memahami HIV/AIDS sebagai fakta medis.

Ilustrasi (Foto: irishcentral.com)

Ketika Thailand berhasil menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK melalui program ‘wajib kondom 100 persen’ di awal tahun 1990-an, Indonesia pun ‘mencangkok’ program tersebut. Celakanya, program ‘wajib kondom 100 persen’ di Thailand adalah langkan terakhir dari lima program skala nasional yang dijalankan simultan dengan dukungan media massa.

Itu artinya Indonesia mengekor ke ekor program penanggulangan HIV/AIDS di Thailand. Langkah pertama Thailand adalah menyebarluaskan informasi HIV/AIDS dengan materi KIE yang komprehensif yang didukung oleh media massa. Kondisi ini membuat warga Thailand memahami HIV/AIDS sebagai fakta medis.

3. Penyebaran HIV/AIDS Bagaikan ‘Bom Waktu’

Sedangkan di Indonesia sebagian besar media massa justru menyebarkan informasi HIV/AIDS yang tidak akurat sehingga yang sampai ke masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah). Berita HIV/AIDS pun banyak yang dibalut dengan norma dan moral sehingga menghilangkan fakta medis.

Baca juga: Menyoal Peran Aktif Pers NasionalMenanggulangi AIDS

Misalnya, mengaitkan zina, selingkuh, seks pranikah, seks di luar nikah, pelacuran, dan homoseksual dengan penularan HIV/AIDS. Padahal, berdasarkan fakta medis penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (zina, selingkuh, seks pranikah, seks di luar nikah, pelacuran, dan homoseksual) tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual (salah satu ada keduanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom).

Beberapa media online bulan November 2020 mengutip pernyataan Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, yang mengatakan bahwa minum minuman keras sebagai pintu masuk HIV/AIDS. Pernyataan ini menyesatkan karena tidak ada kaitan antara minum minuman keras atau minuman yang mengandung alkohol dengan infeksi atau penularan HIV/AIDS.  

Baca juga: Benarkah Minum Miras Sebagai Pintu MasukHIV/AIDS

Untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS diperlukan langkah-langkah yang konkret, tapi sejauh ini tidak ada langkah konkret yang dijalankan pemerintah, dalam hal ini Kemenkes, dan pemerintah di daerah mulai dari provinsi, kabupaten dan kota.

Padahal, banyak daerah dan Kemenkes yang sesumbar tahun 2030 Indonesia bebas HIV/AIDS. Tanpa program yang konkret adalah hal yang mustahil Indonesia bebas HIV/AIDS tahun 2030.

Baca juga: Omong Kosong Penularan HIV Baru BisaDihentikan 2030

Soalnya, penanggulangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia hanya mengandalkan peraturan daerah (Perda) yang justru mengekor ke ekor program penanggulangan HIV/AIDS di Thailand. Sudah 143 Perda AIDS yang diterbitkan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia tapi hasilnya nol besar. Ini terjadi karena pasal-pasal di Perda-perda itu hanya normatif yang tidak menukik ke akar persoalan.

Tanpa langkah konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa, melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK, maka penyebaran HIV/AIDS di Indonesia terus terjadi sebagai ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan’ AIDS. [Sumber: https://www.tagar.id/pandemi-covid19-tenggelamkan-isu-epidemi-hivaids-indonesia] ***

21 Februari 2021

Program Penanggulangan HIV/AIDS Sumatera Utara Tak Membumi

 

Ilustrasi (Foto: kathmandupost.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP - 30 Januari 2021

KPAD Sumut mengusulkan agar calon pengantin melakukan tes HIV sebelum menikah sebagai upaya penanggulangan HIV/AIDS

KPAD Usulkan Setiap Calon Pengantin di Sumut Test HIV/AIDS. Ini judul berita di Tagar, 26 Januari 2021. Dalam berita disebutkan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, mengatakan kepada anggota Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Sumut: "Pencegahan itu penting, lewat sosialisasi diberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahayanya HIV/AIDS tersebut."

Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang dilaporkan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 9 November 2020, sampai tanggal 30 September 2020, sebanyak 537.730 yang terdiri atas 409.857 HIV dan 127.873 AIDS. Sedangkan di Sumatera Utara (Sumut) jumlah kasus 25.400 yang terdiri atas 21.160 HIV dan 4.240 AIDS. Jumlah ini menempatkan Sumut pada peringkat ke-7 nasional.

Pertama, sosialisasi terkait dengan HIV/AIDS sudah dilakukan sejak awal epidemi yang di Indonesia diakui pemerintah mulai April 1987;

Kedua, persoalan besar pada sosialisasi HIV/AIDS di Indonesia adalah materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) dibumbui dengan norma, moral dan agama sehingga fakta medis HIV/AIDS tenggelam sedangkan yang sampai ke masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah);

Ketiga, sosialisasi tidak semerta bisa menyadarkan orang per orang untuk tidak melakukan perilaku berisiko sehingga ada celah yang jadi risiko tertular HIV/AIDS sebelum seseorang menyadari perilaku berisiko;

Keempat, kondom diabaikan sebagai alat mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan alasan moral dan agama;

Kelima, praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu sehingga tidak bisa dilakukan intervensi agar laki-laki selalu memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK).

Salah satu negara yang berhasil menanggulangi epidemi HIV/AIDS adalah Thailand. Data aidsdatahub.org, misalnya, infeksi baru tahun 2020 diprediksi 5.400. Bandingkan dengan Indonesia dengan kasus baru 46.000.

1. Program Mengekor ke Ekor Program Thailand

Perbedaan jumlah kasus baru itu terjadi karena Thailand melakukan penanggulangan dengan lima program yang konsisten dan serentak dengan skala nasiona. Di urutan paling atas adalah sosialisasi HIV/AIDS melalui media massa, sedangkan langkan kelima adalah program ‘wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki yang melakukan hubungan seksual di tempat pelacuran dan rumah bordil.

Celakanya, program Thailand itu dicangkok oleh Indonesia tapi terbalik sehingga mengekor ke ekor program Thailand. Pemerintah mendorong beberapa daerah menerbitkan Perda penanggulangan HIV/AIDS dengan fokus program ‘wajib kondom 100 persen’. Sudah ada 143 Perda AIDS di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Di Sumut sendiri sudah ada tiga Perda AIDS, yaitu di Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Tanjungbalai dan Kota Medan. Tapi, semua hanya berisi pasal-pasal moral yang justru tidak menukik ke akar masalah terkait dengan risiko penularan HIV/AIDS.

Tentu saja program kondom mendapat hambatan karena penolakan besar-besaran dari berbagai kalangan di Indonesia. Ini terjadi karena sosialisasi tidak berjalan dengan materi KIE yang komprehensif, tapi dengan materi yang dibumbui moral.

Penanggulangan HIV/AIDS di hulu (Dok Pribadi)

Terkait dengan program ‘wajib kondom 100 persen’ Thailand memberikan sanksi kepada germo atau mucikari jika ada PSK yang terdeteksi mengidap IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, klamidia, dan lain-lain). Sedangkan di Indonesia, melalui Perda-perda AIDS, yang dihukum pidana justru PSK.

Baca juga: Omong Kosong Penularan HIV Baru Bisa Dihentikan 2030

Langkah itu jelas ngawur dan tidak ada manfaatnya karena: (a) sebelum dijebloskan ke penjara PSK itu sudah menularkan HIV/AIDS ke pelanggannya, dan (b) posisi PSK yang dibui itu akan digantikan oleh ratusan PSK lain.

2. Dua Tipe PSK

Disebutkan pula dalam berita: Kepada KPAD Sumut, Gubernur Edy berharap dapat membuat rencana kerja yang lebih konkret dalam hal penanggulangan AIDS di Sumut.

Program yang konkret adalah menurunkan, sekali lagi hanya bisa menurunkan, insiden infeksi HIV di hulu yaitu pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK. Persoalan besar di Indonesia adalah praktek pelacuran tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dilakukan intervensi agar laki-laki selalu pakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Kondisinya kian runyam karena PSK sendiri dikenal ada dua tipe, yaitu:

(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dan lain-lain.

Intervensi hanya bisa dilakukan jika praktek PSK dilokalisir (Dok Pribadi)

Pada tipe (1) tidak bisa dilakukan intervensi karena praktek PSK langsung tidak dilokalisir, sedangkan pada tipe (2) adalah hal yang mustahil melakukan intervensi karena transaksi seks dilakukan dengan berbagai modus, seperti media sosial, di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Baca juga: Lokalisasi Pelacuran dari Jalanan ke Media Sosial

Itu artinya insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi di Sumut yang pada gilirannya laki-laki yang tertular HIV jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah.

Ada lagi pernyataan: KPAD juga mengusulkan kepada DPRD wacana agar calon pengantin yang akan menikah dipastikan dahulu tidak terinfeksi HIV/AIDS.

3. Jumlah yang Menikah Setiap Hari

Tes HIV bagi calon pengantin sudah dilakukan di beberapa daerah yang diatur melalui peraturan daerah (Perda). Tapi, tanpa disadari tes HIV bagi pasangan calon pengantin sebagai upaya penanggulangan epidemi HIV/AIDS tidak ada manfaatnya. Sia-sia. Menggantang asap.

Soalnya, tes HIV bukan vaksin. Artinya, biarpun satu pasangan tidak mengidap HIV/AIDS ketika menikah itu tidak jaminan selama dalam perkawinan mereka akan bebas dari HIV/AIDS. Bisa saja setelah menikah salah satu dari pasangan itu tertular HIV.

Risiko tertular HIV setelah tes HIV (Dok Pribadi)

Misalnya, suami tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan, dengan asumsi suami heteroseksual, yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, dalam hal ini PSK.

Hasil tes HIV sebelum menikah juga akan jadi bumerang [KBBI: perkataan (perbuatan, ulah, peraturan, dsb) yang dapat merugikan atau mencelakakan diri sendiri] bagi pasangan tersebut, terutama bagi istri. Misalnya, setelah menikah terdeteksi anak atau istri mengidap HIV/AIDS.

Maka, suami pun menuding istrinya: Kau selingkuh!

Hal itu terjadi karena suami sudah memegang ’surat bebas AIDS’ berdasarkan tes HIV sebelum menikah. Maka, suami pun berpegang teguh pada hasil tes HIV tersebut dan menyalahkan istrinya.

Lagi pula berapa orang yang menikah setiap hari. Bandingkan dengan jumlah laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual yang tidak aman setiap hari, seperti dengan PSK tidak langsung.

Maka, kunci utama penanggulangan HIV/AIDS di Sumut khususnya dan di Indonesia umumnya adalah dengan intervensi terhadap laki-laki agar selalu memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK (langsung dan tidak langsung). [Sumber: https://www.tagar.id/program-penanggulangan-hivaids-sumatera-utara-tak-membumi] ***

Keluhan Kesehatan Tidak Otomatis Terkait dengan HIV/AIDS


Ilustrasi: Nyala lilin pada Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2013 yang diselenggarakan oleh The LGBTQ Center of Long Beach di Long Beach, California, AS (Foto: dailynews.com)


Oleh: Syaiful W. HARAHAP - 5 Desember 2020

Berita seputar HIV/AIDS pada Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2020, diramaikan dengan informasi terkait gejala HIV/AIDS yang bisa membuat kepanikan masyarakat

Jakarta - “Kenali Gejala HIV/AIDS Sejak Dini.” Ini judul berita di Tagar, 2 Desember 2020. Banyak berita di media massa dan media online, bahkan posting-an di media sosial yang menyebutkan ‘gejala awal’ atau ‘gejala-gejala HIV/AIDS’. Karena tidak dipaparkan berdasarkan faktor risiko penularan HIV/AIDS, maka penyebutan gejala-gejala HIV/AIDS itu bisa membuat masyarakat panik, padahal gejala-gejala itu tidak otomatis terkait dengan infeksi HIV/AIDS.

Ini beberapa judul berita pada Hari AIDS Sedunia (HAS) tanggal 1 Desember 2020: Gejala Awal, Pencegahan dan Ciri-ciri Pengidap HIV dan AIDS, Kenali Tanda-tanda HIV AIDS, Inilah gejala dan tahapan dari tahun ke tahun infeksi HIV menjadi AIDS, Mendeteksi Gejala HIV & AIDS Sesuai Dengan Stadiumnya, Waspada, Ini Gejala Awal HIV yang Harus Anda Kenali!, dan lain-lain.

Secara medis tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri khas HIV/AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan karena tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri tersebut juga bisa terjadi karena infeksi penyakit lain.

1. Warga Pengidap HIV/AIDS yang Tidak Terdeteksi

Karena tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas HIV/AIDS jadi salah satu faktor yang membuat banyak orang tidak menyadari kalau dia sudah tertular HIV/AIDS. Akibatnya, orang-orang yang tidak menyadari dia mengidap HIV/AIDS akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual di dalam nikah (seperti kawin-cerai, beristri lebih dari satu) dan di luar nikah (zina, selingkuh, melacur, dll.).

Laporan terakhir Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P), Kemenkes RI, tanggal 9 November 2020, menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun 1987 sampai 30 September 2020 sebanyak 537.730 yang terdiri atas 409.857 HIV dan 127.873 AIDS.

Sedangkan estimasi jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia 640.000 (aidsdatahub.org). Itu artinya ada 102.270 warga yang mengidap HIV/AIDS (Odha-Orang dengan HIV/AIDS) tapi tidak terdeteksi. Mereka inilah yang jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Ini terjadi karena tidak ada tanda-tanda atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik warga yang mengidap HIV/AIDS.

Warga yang berjumlah 102.270 adalah pengidap HIV/AIDS, tapi karena tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas HIV/AIDS mereka pun tidak menyadari kalau mereka mengidap HIV/AIDS.

Celakanya, pemerintah tidak mempunyai program yang realitis untuk menemukan 102.270 pengidap HIV/AIDS yang belum terdeteksi. Itu artinya mereka jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat tanpa mereka sadari.

2. Perilaku-perlaku Berisiko Tinggi Tertular HIV/AIDS

Kalau tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang disebut-sebut terkait dengan HIV/AIDS, maka tidak semerta menunjukkan orang tersebut tertular atau mengidap HIV/AIDS. Soalnya, tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri tersebut bisa dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS jika orang tersebut pernah atau sering melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, yaitu:

(1) Laki-laki dan perempuan dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan HIV/AIDS;

(2) Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan orang-orang yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) karena ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan HIV/AIDS;

Yang perlu diperhatikan adalah PSK ada dua tipe, yaitu:

(a). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan, dan

(b), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dll.

(3) Pernah atau sering memakai jarum suntik pada penyalahgunaan narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) secara bersama-sama dengan bergiliran;

(4) Pernah atau sering menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV.

Biarpun ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang disebut-sebut terkait dengan HIV/AIDS ada pada diri seseorang tapi dia tidak pernah melakukan salah satu atau lebih perilaku berisiko di atas, maka tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang disebut-sebut terkait dengan HIV/AIDS sama sekali tidak ada kaitannya dengan infeksi HIV/AIDS pada orang tersebut.

Sebaliknya, biar pun tidak tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang disebut-sebut terkait dengan HIV/AIDS pada diri seseorang, tapi dia pernah atau sering melakukan salah satu atau beberapa perilaku berisiko di atas itu artinya orang tersebut berisiko tertular HIV/AIDS. Langkah terbaik adalah menjalani tes HIV secara sukarela di sarana kesehatan pemerintah. [Sumber: https://www.tagar.id/keluhan-kesehatan-tidak-otomatis-terkait-dengan-hivaids] **

AIDS di Sumut Tanpa Program Penanggulangan yang Konkret

 

Ilustrasi (Sumber: firstpost.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP - 29 Desember 2020

"Pemprov Sumut akan menyurati kabupaten dan kota agar ikut melakukan sosialisasi informasi HIV/AIDS dan kepada masyarakat yang terjangkit. Dia (Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah --pen.) berharap segera melaporkan diri untuk didata dinas terkait." Ini ada dalam berita "200 Bayi di Kota Medan Terinfeksi HIV/AIDS", kompas.com, 23/12-2020.

Informasi dan sosialisasi HIV/AIDS sudah berjalan 33 tahun di Indonesia sejak kasus HIV/AIDS pertama terdeteksi di Bali (1987) diakui pemerintah. Celakanya, pemahaman tentang HIV/AIDS sebagai fakta medis sangat rendah. Hal ini terjadi antara lain karena materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) HIV/AIDS dibalut dan dibumbui dengan norma, moral dan agama sehingga fakta medis hilang yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah).

Baca juga: Menyoal (Kapan) 'Kasus AIDS Pertama' di Indonesia

Seperti pada pernyataan Wakil Gubernur Sumut itu yang menyebut 'sosialisasi informasi HIV/AIDS dan kepada masyarakat yang terjangkit'.

Pertama, penularan HIV/AIDS tidak terjadi kepada komunitas atau kelompok serta masyarakat tapi para individu yaitu orang per orang terkait langsung dengan perilaku seksual, dan

Kedua, sosialisasi bukan kepada orang yang terjangkit HIV/AIDS karena mereka sudah menerima penjelasan sebelum dan sesudah tes HIV.

Ada lagi pernyataan 'Dia (Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah --pen.) berharap segera melaporkan diri untuk didata dinas terkait'. Ini juga menunjukkan pemahaman terhadap HIV/AIDS yang sangat rendah karena orang-orang yang terdeteksi HIV/AIDS melalui tes HIV di klinik-klinik, Puskesmas dan rumah sakit yang menerapkan asas VCT (tes HIV sukarela dengan konseling) sudah otomatis terdata di dinas kesehatan dan KPA.

Yang jadi masalah besar pada epidemi HIV/AIDS adalah orang-orang yang sudah tertular HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi. Warga yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi terjadi karena tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Tapi, mereka bisa menularkan HIV/AIDS. Mereka inilah yang jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Dok Pribadi
Dok Pribadi

Epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Celakanya, pemerintah tidak mempunyai program yang komprehensif untuk mendeteksi warga yang mengidap HIV/AIDS di masyarakat. Akibatnya, penyebaran HIV/AIDS terus terjadi tanpa disadari oleh warga yang menularkan dan yang tertular.

Disebutkan pula oleh Wakil Gubernur Sumut ".... Penting kita lakukan adalah bagaimana orang yang terjangkit mau melaporkan diri, supaya bisa didata. Diberi informasi dan pengobatan." Orang-orang yang jalani tes HIV sukarela di Klinik VCT otomatis sudah terdata dan ditangani pada pasca tes HIV.

Wakil Ketua KPAD Sumut Ikrimah Hamidy sebut: "Infeksi paling banyak persentasenya adalah kalangan milenial, anak sekolah hingga mahasiswa. Perlu dilakukan sosialisasi kepada kaum milenial mulai anak sekolah dan guru-guru."

Adalah hal yang realistis kasus HIV/AIDS terbanyak pada kalanan milenial karena pada usia tersebut dorongan seksual tinggi sedangkan informasi tentang cara mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual tidak akurat.

Baca juga: AIDS pada Usia Produktif di Yogyakarta bukan Ironis tapi Realistis

Misalnya, disebut jangan lakukan seks bebas, jangan zina, jangan seks sebelum menikah, dll. Ini mitos karena tidak ada kaitan langsung antara sifat hubungan seksual dengan penularan HIV/AIDS.

Dok Pribadi
Dok Pribadi

Risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual) bisa terjadi jika salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual (kondisi hubungan seksual).

Disebutkan pula: ada usul rancangan peraturan daerah (Ranperda) penanggulangan HIV/AIDS kepada DPRD Sumut. Salah satu poinnya adalah tentang tes HIV/AIDS untuk calon pengantin. Tujuannya, apabila ada calon pengantin yang terinfeksi bisa segera ditangani dan diambil tindakan. Hal ini dinilai bisa mengurangi kasus penularan dari orangtua kepada bayinya.

Baca juga: Tes HIV sebelum Menikah (yang) Akan Sia-sia

Tes HIV bukan vaksin. Biar pun hasil tes HIV sebelum menikah negatif itu tidak bisa jadi jaminan selamanya akan negatif HIV karena bisa saja tertular HIV setelah menikah. Risiko tertular HIV setelah menikah tetap ada jika ada di antara pasangan tsb. yang melakukan perilaku-perilaku tinggi tertular HIV/AIDS.

Dok Pribadi
Dok Pribadi

Tes HIV sebelum menikah bisa juga jadi bumerang bagi istri karena jika kelak istri terdeteksi mengidap HIV/AIDS suami akan menuduh istrinya yang selingkuh karena dia punya surat HIV negatif melalui tes HIV sebelum menikah.

Tanpa langkah-langkah yang konkret di hulu yaitu untuk mencegah insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK), maka penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi di Kota Medan khususnya dan di Sumut umumnya.

Penyebaran HIV/AIDS di masyarakat bagaikan 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. *** [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5feafa37d541df19050cf9a2/aids-di-sumut-tanpa-program-penanggulangan-yang-konkret?page=all#section1] ***

Potret Buruk Pengetahuan HIV/AIDS di Yogyakarta dan Belu

 

Ilustrasi (Sumber: NIAID - www.hiv.gov)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP23 Desember 2020

Survei KAP (Knowledge, Attitude, Practice), pengetahuan tentang HIV/AIDSm, di Yogyakarta dan Belu, NTT, yang diselenggarakan oleh lembaga CD Bethesda YAKKUM Yogyakarta, disebut-sebut mayoritas dari 482 responden yang diwawancari secara mendalam, memiliki pengetahuan cukup baik mengenai HIV/AIDS. Hasil survei tsb. dipaparkan oleh Hamdan Farchan, peneliti dari CD Bethesda Yogyakarta dalam berita "Setia pada Pasangan Dipercaya Ampuh Cegah Penularan HIV" (voaindonesia.com, 14/12-2020).

Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia terus terjadi tanpa terkendali, al. karena praktek transaksi seks tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dilakukan intervensi pemakaian kondom. Sekarang lokalisasi pelacuran sudah pindah ke media sosial. Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 9 November 2020, menunjukkan jumlah kumulatif HIV/AIDS di Indonesia dari tahun 1987 sd 30 September 2020 sebanyak 537.730 yang terdiri atas 409.857 HIV dan 127.873 AIDS.

Apakah hasil survei itu memang mencerminkan pengetahuan yang baik tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS sesuai dengan fakta medis?

Lihat saja hasil survei di Kota Yogyakarta ini: "Rutin tes HIV, tidak narkoba, tahu cara penularan, tidak melakukan seks bebas, tidak berperilaku beresiko, setia pada pasangan. ...." Ini hasil survei terhadap responden di Kota Yogyakarta agar tidak tertular HIV/AIDS.

Sedangkan di Belu, " .... kenapa tidak akan tertular, karena setia pada pasangan, belum memiliki pasangan, dan tidak seks bebas. Rata-rata setia kepada pasangan menjadi jawaban. ...."

Jika berbicara soal HIV/AIDS saya selalu ingat kepada Dr Rosalia Sciortino, ketika itu bekerja di Kantor The Ford Foundation Jakarta, yang mengatakan informasi tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS cukup dibicarakan dalam 10 menit. Tapi, karena HIV/AIDS dikait-kaitkan dengan norma, moral dan agama, apalagi karena kasus awal diidentifikasi pada kalangan laki-laki gay di Amerika Serikat, pembicaraan tentang HIV/AIDS jadi melebar dengan banyak mitos.

Baca juga: Menyoal (Kapan) 'Kasus AIDS Pertama' di Indonesia

Hasil survei di Kota Yogyakarta dan Belu ini jelas informasi HIV/AIDS bias karena tidak lagi berdasarkan fakta medis (bisa diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran).

Seperti pernyataan 'rutin tes HIV'. Astaga, untuk apa tes HIV rutin?

Itu artinya responden pada survei itu melakukan perilaku-perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS secara rutin.

Dok Pribadi
Dok Pribadi

Lagi pula tes HIV ada di hilir yaitu setelah tertular HIV melalui perilaku-perilaku berisiko tertular HIV/AIDS, seperti: (1) sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti, (2) sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan seseorang yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), (3) menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV, dan (4) sering memakai jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya).

Melihat hasil survei di Kota Yogyakarta dan Beli, ini juga bisa mewakili Indonesia, pantas saja insiden infeksi baru HIV/AIDS terus terjadi .... Itu artinya sosialisasi HIV/AIDS selama 33 tahun hasilnya big nothing alias nol besar krn al. materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) HIV/AIDS dibalut dan dibumbui dng norma, moral dan agama sehingga yg sampai ke masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah).

Terkait dengan 'seks bebas' yang disuarakan responden di Kota Yogyakarta dan Belu juga merupakan mitos. Kalau 'seks bebas' dimaksud sebagai hubungan seksual di luar nikah, seperti seks dengan PSK, juga merupakan mitos karena tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV/AIDS dan 'seks bebas'. Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bisa terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu atau kedua pasangan itu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom setiap melakukan hubungan seksual.

Dok Pribadi
Dok Pribadi

Begitu juga dengan jargon 'setia pada pasangan' yang disuarakan responden di Kota Yogyakarta dan Belu juga merupakan mitos. Sebelum saling setia bisa saja salah satu atau keduanya pernah setia dengan pasangan lain. Lagi pula kalau salah satu mengidap HIV/AIDS kesetiaan tidak bisa mencegah penularan HIV/AIDS. Ini juga bukti pemahaman HIV/AIDS hanya sebatas mitos yang jadi orasi moral banyak kalangan yang justru menyesatkan.

Thailand yang berhasil mengendalikan insiden infeksi HIV baru menempatkan media di urutan pertama untuk menyebarluaskan informasi HIV/AIDS dari lima progam yang dijalankan Thailand dengan skala nasional. Celakanya, di Indonesia sebagian besar media massa (koran, majalah, radio dan televisi), media online tidak mendukung penanggulangan HIV/AIDS dengan berita-berita yang berempati. Kondisnya kian runyam karena media sosial hadir dengan balutan agama yang merusak tatanan penanggulangan HIV/AIDS.

Baca juga: Menggugat Peran Pers Nasional dalam Penanggulangan AIDS di Indonesia

Hasil survei juga menyebutkan: Dari 75 ODHA (orang dengan HIV&AIDS) di Kota Yogyakarta, sebanyak 41 persen menyatakan bisa tertular virus itu karena seks bebas dan ganti-ganti pasangan. Ini menunjukkan pemahanan yang salah tentang cara-cara penularan HIV/AIDS.

Pengetahuan Odha di Beli ini lebih akurat: Sementara itu dari 21 ODHA di Kabupaten Belu, 22 persen menyatakan seseorang tertular HIV karena berhubungan seks dengan yang sudah terinfeksi HIV, 33 persen karena pergaulan bebas, dan 22 persen karena berhubungan seks tanpa kondom.

Tapi, jadi kacau juga karena disebutkan karena pergaulan bebas. Ini terjadi karena termakan orasi moral banyak kalangan yang selalu mengaitkan HIV/AIDS dengan seks bebas dan pergaulan bebas.

Jika hasil survei di Kota Yogyakarta dan Kabupate Belu ini bisa menggambarkan kondisi nasional, maka insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi di Indonesia. Pada gilirannya akan terjadi penyebaran HIV/AIDS di masyarakat secara terselubung, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, sebagai 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. *** [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5fe293f68ede485800348e62/potret-buruk-pengetahuan-hiv-aids-di-yogyakarta-dan-belu?page=all#section1] ***

Pria Ini Takut, Cemas, dan Risau Setelah Berhubungan Seks Tanpa Kondom dengan PSK

 

Ilustrasi (Sumber: startswithme.org.uk)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP22 Desember 2020 

Tanya-Jawab AIDS No 1/Desember 2020

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui WhatsApp dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (2) WA: 0811974977. Pengasuh.

     *****

Tanya: Saya melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK). Ini yang pertama kalinya bagi saya berhubungan seksual dengan PSK. Saya tidak memakai kondom. Tapi, saya tidak keluar air mani. Pertanyaaan: (1) Apakah saya bisa tertular HIV melalui hubungan seksual tersebut? (2) Apakah perlu saya minum obat antibiotik agar tidak terkena (tertular HIV-peng.). Jujur saya takut, cemas dan risau ....

Via WA, 20.12-2020

Jawab: Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, dalam hal ini PSK, merupakan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Hal ini terjadi karena PSK melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti sehingga berisiko tinggi tertular HIV/AIDS.

(1). Ada risiko tertular HIV/AIDS karena tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual karena penis bersentuhan dengan cairan vagina dan permukaan vagina. Risiko tertular jika PSK itu mengidap HIV/AIDS. Persoalannya adalah tidak bisa diketahui dari fisik apakah PSK tersebut mengidap HIV/AIDS atau tidak. Yang jelas PSK adalah orang dengan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Itu artinya Saudara juga ada pada posisi berisik tertular HIV/AIDS karena tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual.

(2). Obat antibiotik bukan vaksin HIV. Lagi pula kalau HIV sudah masuk ke tubuh tidak bisa lagi dikeluarkan. Virus itu (HIV) akan terus ada di dalam tubuh dan menggandakan diri karena HIV adalah jenis retrovirus yaitu virus yang bisa menggandakan diri di sel-sel darah putih manusia.

Belum ada obat yang bisa mematikan HIV di dalam tubuh. Belum ada vaksin HIV. Yang ada adalah obat antiretroviral (ARV) yaitu obat untuk menekan laju HIV menggandakan diri di dalam tubuh orang-orang yang tertular HIV. Status HIV seseorang hanya bisa diketahui melalui tes HIV.

Untuk menghilangkan ketakutan dan kecemasan Saudara, tiga bulan ke depan silakan tes HIV secara sukarela di tempat-tempat tes HIV yang dirujuh pemerintah, seperti di Puskesmas dan rumah sakit pemerintah. Tapi, dengan syarat Saudara tidak melakukan hubungan seksual tanpa kondom sampai waktu tes HIV.

Selain perlu diingat juga (hasil) tes HIV bukan vaksin. Biar pun hasil tes HIV negatif itu tidak jaminan karena bisa saja Saudara tertular HIV setelah tes jika melakukan hubungan seksual yang berisiko, menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV, dan memakai jarum suntik secara bergiliran dan bergantian pada penyalahgunaan narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya). *** [ Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5fe16052d541df3c1e22b4d4/pria-ini-takut-cemas-dan-risau-setelah-seks-tanpa-kondom-dengan-psk] ***

dokpri
dokpri