31 Agustus 2014

Mahasiswa Ini Mimpi Dihantui HIV/AIDS Setelah Ngeseks dengan “Ayam Kampus”

Tanya Jawab AIDS No 7/Agustus 2014

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: Dua bulan yang lalu saya baru saja melakukan tindakan berisiko yaitu melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan “ayam kampus (mahasiswi). Itu hubungan seksual yang pertama kali saya lakukan.

Sekarang saya demam dan tidak enak badan. Saya takut ketularan HIV. Saya takut kalau tertular HIV saya tidak punya harapan lagi. Saya menyesal karena waktu itu si cewek ngerayu saya biar tidak pakai kondom. Waktu itu nafsu menutupi akal sehat saya padahal saya tahu itu berisiko dan berbahaya.

Saya takut dan sering mimpi buruk dihantui HIV. Sampai saya menangis saking takutnya. Saya benar-benar takut.

“X” mahasiswa PTN di sebuah kota di P Jawa, via Inbox Facebook (30/8-2014)

Jawab: Pertama, probabilitas penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan yang mengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kemungkinan terjadi penularan. Persoalannya adalah tidak bisa dipastikan pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan HIV. Bisa yang pertama, kedua, ketujuh, kedua puluh, ketujuh puluh, bahkan yang keseratus. Itu artinya setiap hubungan seksual tanpa kondom, al. dilakukan dng pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering ganti-ganti pasangan selalu ada risiko tertular HIV.

Kedua, “ayam kampus” tsb. adalah perempuan yang berisiko karena dia melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa jadi salah satu laki-laki yang pernah ngesek dengan “ayam kampus” mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko “ayam kampus” tsb. tertular HIV.

Dua hal di atas yang menjadi persoalan bagimu karena terkait dengan risiko tertular HIV.

Ketiga, tidak ada gejalan-gejala yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Tapi, jika demam pada orang yang tidak mengidap HIV/AIDS sembuh sepekan, misalnya, maka pada orang yang mengidap HIV/AIDS  demam yang sama bisa lebih lama baru sembuh.

Keempat, seseorang terdeteksi mengidap HIV/AIDS bukan akhir dari segalanya karena HIV/AIDS tidak mematikan. Yang menyebabkan kematian pada pengidap HIV/AIDS adalah penyakit-penyakit yang muncul di masa AIDS (setelah tertular antara 5-15 tahun), seperti diare, TB, dll.

Kelima, ada obat antiretroviral (ARV) yang menahan laju perkembangbiakan virus di dalam darah. Obat ARV tidak otomatis diminum orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS karena ada ketentuan medis. Obat ini gratis.

Keenam, untuk mengatasi ketakutanmu silakan konseling dengan konselor yang akan saya kirimkan nama dan nomornya melalui inbox di Facebook.

Kalau untuk tes HIV perlu menunggu karena harus lebih dari tiga bulan dari ngeseks berisiko yang terakhir. ***


30 Agustus 2014

Berperilaku Menyimpang, Suami istri di Penajam, Kaltim, Terinfeksi HIV

Penajam Paser Utara, aidsindonesia.com, (30/8-2014) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menemukan sepasang suami istri dari Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, yang terinfeksi HIV. Pengelola Program HIV/AIDS Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara, Ponco Waluyo, mengatakan temuan pasutri terinfeksi HIV itu berawal dari pemeriksaan terhadap seorang ibu rumah tangga di Rumah Sakit Kanujoso Djatowibowo (RSKD) Balikpapan.

"Ternyata, ibu itu positif terinfeksi HIV, lalu kami melakukan pemeriksaan terhadap suami dan kedua anaknya dan hasilnya suaminya juga positif terinfeksi HIV, tetapi kedua anaknya tidak terinfeksi HIV," kata Ponco Waluyo seperti dikutip dari Antara, Sabtu (30/8).

Ponco Waluyo mengaku belum bisa memastikan penyebab terinfeksinya sang suami, namun pengakuannya memang saat masih muda berperilaku menyimpang. Ia diduga melakukan seks bebas atau narkoba.

"Tapi, hal itu baru sebatas dugaan karena yang bersangkutan hanya memberikan keterangan pada kami bahwa perilakunya pernah menyimpang dan tidak menjelaskan secara rinci," ujarnya.

Sang istri, lanjut dia, sebelumnya sudah dirawat di RSKD Balikpapan, namun setelah keadaan sudah membaik akhirnya diperbolehkan pulang.

"Suaminya tidak sempat dirawat karena kondisinya tidak parah serta tidak ada gejala lain yang menyertai dan tetap bisa bekerja sehingga kami hanya melakukan perawatan jalan," ujarnya.

Saat ini, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Penajam Paser Utara menjadi 23 orang dan semuanya dalam kondisi baik karena setiap bulan Dinas Kesehatan selalu mengontrol kondisi para ODHA dan memberikan obat.

"ODHA tersebut adalah laki-laki sebanyak 11 orang dan perempuan 12 orang. Penderita paling banyak di Kecamatan Penajam ada 13 orang, di Sepaku empat orang, tiga penderita di Kecamatan Babulu serta di Kecamatan Waru ada tiga orang," ungkap Pnco Waluyo. (merdeka.com).

26 Agustus 2014

Penderita HIV di Pekanbaru Kebanyakan Kaum Ibu

Pekanbaru, baranews.co Ibu rumah tangga ternyata menjadi kelompok yang paling rentan terserang HIV AIDS. Bahkan, dari ratusan pengidap penyakit mematikan itu di Kota Pekanbaru, kebanyakannya adalah ibu rumah tangga.

Fakta ini tentu saja menimbulkan perhatian serius dari sejumlah pihak. Karena, sebagai ibu rumah tangga yang kebanyakan aktivitasnya di dalam keluarga, semestinya bukan menjadi orang yang rentan terjangkit HIV AIDS.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Pekanbaru, Helda S Munir kepada Tribun, Senin (16/6/2014), dari data yang mereka miliki, pengidap HIV di Pekanbaru sudah mencapai 558 orang. Sementara pengidap AIDS sebanyak 571 orang. "Dari data yang masuk ini terbesar adalah dari kelompok ibu rumah tangga. Artinya mereka yang tidak bekerja di luar rumah," tuturnya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Karena kalau mereka jadi Orang dengan HIV AIDS (ODHA), maka akan beresiko terhadap anak-anaknya.

Ditanya bagaimana para ibu rumah tangga itu bisa tertular, Helda menjelaskan bahwa bisa jadi ketika tranfusi darah. Atau malah ditularkan oleh suami mereka. Hanya saja, kaum pria kebanyakan enggan memeriksakan kesehatannya. Sementara, kaum ibu mengetahui terkena HIV AIDS ketika memeriksakan kesehatan diri.

Dilanjutkannya, kecenderungan, masih sedikit laki-laki yang melakukan tes kesehatan. Karena itu, dengan kesadaran akan bahaya HIV AIDS, para laki-laki harus memiliki kemauan sendiri untuk diperiksa. Menurut Helda, kelompok yang rentan terjangkit virus ini adalah yang berusia 15-49 tahun.

Karena itu, kemarin Diskes bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pekanbaru untuk mensosialisasikan bahayanya penyakit itu ke Pegawai Negeri Sipil (PNS). Diharap, lewat sosialisasi ini PNS mengerti apa itu HIV dan AIDS. Lalu tahu bagaimana memperlakukan ODHA dan gencar menginformasikan ke masyarakat sekitar terkait bahaya-bahayanya.

Hal senada disampaikan Master trainers Kementerian Kesehatan, dr Evalina yang juga narasumber dalam kegiatan ini. Menurutnya, orang yang terjangkit HIV biasanya tidak serta merta mau mengakui kondisi dirinya. Karena dampak sosialnya banyak.

Oleh karena itu, semua yang terjangkit HIV AIDS haruslah ditopang orang disekitarnya. Karena tak semuanya pengidap penyakit itu diakibatkan perilaku mereka. Tapi bisa jadi dari faktor lain.

Di masyarakat, ada beberapa hal juga yang perlu didobrak. Misalnya, masih ada kaum ibu yang ingin memeriksakan diri ke Puskesmas harus izin suami. Padahal hal itu jelas bisa menjadi kendala dalam menekan angka penderita HIV AIDS.

Ketua Harian KPA yang juga Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi SSi menjelaskan, tugas KPA diantaranya mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan angota KPAK Pekanbaru, mengadakan kerjasama regional dalam rangka penanggulangan HIV AIDS, menyebarluaskan informasi mengenai HIV dan AIDS kepada aparat serta masyarakat.


Hanya saja, untuk menekan angka HIV AIDS, terkadang mengalami hambatan. Diantaranya, masih ada anggapan tabu membicarakan HIV AIDS di kalangan masyarakat. Padahal, seharusnya mereka jangan tabu membicarakan ini. "Dari pada belajar sendiri sebaiknya. (Laporan wartawan Tribunpekanbaru.com/Hendra Efivanias/tribunnews.com/bh).

Lebih dari 80 Orang di Tanjung Jabung Barat, Jambi, Mengidap HIV/AIDS

Kuala Tungkal, baranews.co (5/7-2014) - Praktik prostitusi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) masih menjadi masalah serius harus ditekan oleh seluruh pihak. Terutama selama Ramadan semua pihak harus mengantisipasi praktik tersebut, jangan sampai kesucian Ramadan dinodai.

"Hal ini bisa dilakukan dengan razia ke lokasi-lokasi yang selama ini diketahui sebagai sarang praktik prostitusi," kata Ketua GP Ansor Tanjab Barat, Suhery Abdullah kepada Tribun Jambi (Tribunnews.com Network), Jumat (4/7/2014).
Sangat disayangkan komitmen bersama yang pernah dibuat oleh berbagai instansi beberapa waktu lalu, sejauh ini seolah jalan di tempat, alias tanpa realisasi signifikan.

"Dulu waktu hangat-hangat berita masalah prostitusi pelajar, semua instansi bikin komitmen untuk memberantas, baik pemerintah maupun penegak hukum. Tapi sekarang faktanya tidak ada, sekarang malah diam," singgung Hery.

Sebagai pimpinan organisasi yang aktif melakukan advokasi pencegahan HIV/AIDS, Hery mengaku praktik ini masih sangat marak.

Kekhawatiran atas efek negatif yang muncul pun menyeruak. Menurutnya dari data terakhir didapat, lebih dari 80 orang warga Tanjabbar terserang HIV/AIDS, beberapa di antaranya meninggal dunia. Kalau tidak ada penekanan, bukan tak mungkin virus mematikan ini tersebar semakin luas.

"80 orang lebih itu yang berhasil didata, berapa banyak yang takut ikut VCT sehingga tak terdata, artinya bisa jadi sekarang pengidap HIV di Tanjabbar lebih dari 80 orang," terang dia.

Selain harus intens melakukan penekanan secara taktis, secara strategis, Pemkab menurutnya harus mulai memberdayakan kiai di kampung-kampung, untuk aktif melakukan pendidikan moral kepada anak-anak. Karena di sanalah langkah awal untuk menciptakan karakter bermoral bagi anak-anak.

"Sekarang praktik ini sudah menyebar ke kalangan pelajar. Dan kita ketahui di pendidikan umum, hanya berapa persen menaungi masalah pendidikan moral, tidak signifikan. Karena itu penting untuk memberdayakan kiai di lingkungan warga," paparnya.

Himpunan Alumni Pesantren (HIMAP), menurutnya bisa digunakan untuk memulai lagi budaya pendidikan madrasah di tengah-tengah masyarakat.


"Sekarang pendidikan madrasah atau pengajian dalam wadah Remaja Islam Masjid (Risma) kan redup, karena kurang disentuh oleh pemerintah. Nah sekarang dalam kondisi yang emergency pemerintah harus cepat turun tangan," Hery Abdullah. (zha/tribunnews.com)

Indonesia Sumbang Empat Persen Infeksi Baru HIV di Dunia

Jakarta, aidsindonesia.com (19/7-2014) - The Joint United Nation Program onHIV/AIDS (UNAIDS) mencatat Indonesia masih mempunyai rapor merah dalam penanggulangan AIDS.

Badan PBB yang bertanggung jawab mengurusi program penanggulangan AIDS ini baru saja mendapat laporan “GAP Report”. Isinya terkait kemajuan program penanggulangan AIDS secara global.

Dalam lembar faktanya, mereka menyoroti keprihatinan terhadap Indonesia. Kasus infeksi baru telah meningkat sebesar 47 persen sejak tahun 2005.

Dilihat dari proporsi angka infeksi baru, Indonesia masuk peringkat 8 besar dunia dengan angka infeksi baru HIV terbesar dengan menyumbang empat persen angka infeksi baru HIV di dunia.

Bahkan, data ini berlawanan dengan data yang menyebutkan negara-negara seperti India, Cambodia, Thailand dan Myanmar telah berhasil menurunkan angka infeksi baru.


Salah satu penyebab dari masih tingginya angka kematian terkait AIDS di Indonesia ini adalah karena masih rendahnya cakupan terapi obat ARV bagi ODHA (Orang dengan HIV).

Laporan ini mencatat bahwa cakupan pengobatan ARV pada ODHA baru sebesar 8 persen dari total orang yang terinfeksi HIV.

Di aspek hak asasi manusia, Indonesia bersama beberapa negara masih disoroti karena mencatat bahwa praktik sterilisasi paksa pada perempuan dengan HIV masih terjadi.

Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) mengatakan bahwa pekerjaan rumah belum selesai.

"Meski beberapa data laporan UNAIDS itu masih perlu disesuaikan dengan konteks Indonesia, misalnya apakah angka infeksi baru yang meningkat disebabkan oleh epidemic yang memang meluas atau keberhasilan dari program case finding," ujar Aditya Wardhana, dalam pernyataannya, Sabtu (19/7/2014).

Namun ini adalah peringatan keras agar seluruh rakyat Indonesia meningkatkan upaya dalam program penanggulangan AIDS.

"Persoalan ini hanya bisa diselesaikan jika komitment politik ditingkatkan, alokasi pendanaan yang dibutuhkan dipenuhi, kepemimpinan diperkuat serta upaya dari masing-masing propinsi dan kabupaten kota perlu di lipat duakan. Serta yang tidak kalah penting adalah pemerintah harus menggandeng komunitas terdampak AIDS sebagai inti dari program. Bekerja bersama ODHA dan bukan sekedar bekerja untuk ODHA," katanya.

Organisasi IAC sendiri berharap bahwa pemerintahan yang baru nanti meningkatkan komitmentnya terhadap program penanggulangan AIDS.

Dalam sambutannya, Michel Sidibe, Direktur Eksekutif UNAIDS, mengatakan "kita bisa akhiri epidemic AIDS ini di tahun 2030 jika kita benar-benar bekerja keras."
Untuk Indonesia sendiri, tahun-tahun mendatang menjadi sebuah tantangan besar. Di saat laporan GAP ini menunjukan bahwa Indonesia perlu perhatian serius namun tampaknya pemerintah masih berjalan santai.

Salah satu bukti dari santainya pemerintah Indonesia adalah masih tingginya tingkat ketergantungan pada bantuan luar negeri bagi program AIDS serta masih tingginya kebergantungan pada obat Impor dan bahkan beberapa adalah obat-obatan paten.


“Satu peluang emas bagi kita dalam memutus tingginya kebergantungan pada dana bantuan luar negeri adalah dengan mengakomodir pengobatan ODHA yang mencakup ARV serta tes-tes laboratorium penunjang dalam JKN. Dengan semua digratiskan, besar harapan angka cakupan pengobatan bisa diperluas," tutur Aditya. (tribunnews.com).

HIV/AIDS Tewaskan 14.446 Orang Indonesia

Jakarta, aidsindonesia.com (23/7-2014) - Indonesia tidak memiliki dokumentasi mengenai HIV/AIDS hingga 2000 dan epidemi ini telah tumbuh dengan cepat selama sepuluh tahun terakhir.

The Global Burden of Disease Study 2013 mencatat, angka kematian karena HIV/AIDS di Indonesia meningkat sebesar 87,5 persen per tahun selama kurun waktu tersebut - angka pertumbuhan tertinggi di dunia.
Tahun 2013, sebanyak 14.446 orang Indonesia--hampir 70 persen adalah pria--meninggal karena HIV/AIDS. Antara tahun 2000 dan 2013, kasus-kasus baru meningkat setiap tahunnya sebesar 28,1 persen.

Tahun lalu, tercatat 45.159 kasus baru. Namun demikian, angka kasus baru yang muncul dan angka kematian karena HIVAIDS di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan angka rata-rata global.

Kemajuan dalam penanganan malaria memperlihatkan hasil yang menjanjikan, dengan angka penurunan per tahun sebesar 5,2 persen untuk kematian antara tahun 2000 dan 2013, dibandingkan dengan penurunan angka kematian global yang hanya mencatat 3,1 persen.

Tuberkulosa (TB) masih memperlihatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan angka rata-rata global.

“Studi terbaru yang bersifat massal ini, yang kami hadirkan di saat-saat usainya era MDGs, mendokumentasikan kemajuan yang sangat pesat dalam hal penanganan HIV dan Malaria, khususnya, tetapi juga memperlihatkan berbagai hal yang masih perlu kita lakukan,” ungkap Dr. Alan Lopez, Melbourne Laurate Profesor, Selasa (22/7/2014).

Co-founder dari Studi Global Burden of Disease (GBD) ini menyatakan, masalah kesehatan dan kematian di negara-negara miskin, dan ketiganya harus mendapat perhatian khusus dari semua dukungan dan upaya penanganan kesehatan secara global.


"Tanpa hal itu, kita semua akan menghadapi resiko terjadi stagnasi, bahkan lebih buruk lagi, akan terjadi perubahan dari hasil yang telah dicapai saat ini," katanya. (tribunnews.com).

25 Agustus 2014

80 PSK Dikembalikan ke Rumahnya Gara-gara Mengidap HIV/AIDS

Kendalaidsindonesia.com (26/8-2014) - Hingga Agustus 2014, sebanyak 15 penderita AIDS di Kabupaten Kendal Jawa Tengah meninggal dunia. Mereka kebanyakan perempuan.

Kepala Bidang Pelayanan, Pemeriksaan dan Pengobatan Dinas Kesehatan Kendal (DKK), Siswanto, Senin (25/8/2014) mengatakan, tiap tahun penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kendal terus meningkat. Untuk tahun 2014 ini, sudah ada tambahan 55 penderita dan 15 di antaranya meninggal dunia.

"Kalau total penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kendal, menurut data ada 396 penderita. 258 orang terkena HIV dan 138 mengidap AIDS," katanya.

Siswanto menjelaskan, penyebab HIV/ AIDS adalah seks bebas dan narkoba suntik. Untuk itu pihaknya terus melakukan pantauan di tempat-tempat lokalisasi yang ada di Kabupaten Kendal, di antaranya adalah Gambirlangu (GBL) Kaliwungu Kendal dan Alas Karet (Alaska) Sukorejo Kendal.

"Selama ini, kami telah memulangkan 80 Pekerja Seks Komersial (PSK) ke daerahnya karena menderita HIV/AIDS. Ini setelah dilakukan pendekatan dan pengertian kepada PSK tersebut," ujarnya.

Menurut dia, memulangkan PSK ke daerah asal memakan waktu yang cukup lama. Selain memberi pengertian kepada PSK tersebut, juga menyerahkan si penderita kepada Puskesmas setempat. Ini dilakukan supaya kesehatan penderita terpantau.

"Kami selalu menekankan kepada para PSK, supaya mau melakukan tes kesehatan dan VCT, setiap bulannya. Sehingga kesehatannya bisa terpantau," ujarnya.
  
Sementara itu, aktivis Aids dari LSM Graha Mitra, Yoyok, mengatakan keluar masuknya PSK ke lokalisasi dan malasnya mereka melakukan tes kesehatan dan VCT, membuat penyakit HIV/AIDS terus meningkat. Pihaknya bersama teman-teman dan pengurus Lokalisasi GBL dan Alaska, sudah sering meminta kepada para PSK, agar rutin memeriksakan diri dan tes VCT.

"Tes kesehatan dilakukan oleh dinas kesehatan setiap bulan sekali dan VCT setiap tiga bulan sekali," tambah Yoyok.

Yoyok menjelaskan, banyak tamu lokalisasi GBL dan Alaska yang tidak mau menggunakan kondom saat melakukan hubungan intim. Padahal mereka sudah diminta oleh para PSK. Sehingga rentan terkena penyakit.

"Keterangan dari PSK, pelanggannya tidak mau menggunakan kondom, ketika ia minta. Alasannya, mengurangi kenikmatan," kata Yoyok. (tribunnews.com).

Mahasiswi Berhenti Kuliah Karena Dihantui HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia 

Tanya Jawab AIDS No 6/Agustus 2014

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: Beberapa waktu yang lalu saya melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan seorang laki-laki. Belakangan, saya khawatir sudah tertular HIV/AIDS karena saya tidak bisa memastikan perilaku laki-laki tsb. Saya pun tidak bisa melanjutkan kuliah karena terus-menerus dihantui ketakutan tertular HIV. Saya benar-benar jatuh. Apa yang harus saya lakukan?

Nn ‘X’, Jabar (via telepon, 24/8-2014)

Jawab: Melakukan hubungan seksua dengan seseorang yang tidak bisa diketahui perilaku seks orang tsb. merupakan kegiatan yang berisiko tinggi tertular HIV. Apalagi, laki-laki tsb. tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan Anda. Soalnya, bisa saja orang tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan HIV.

Memang, probabilitas (kemungkinan) tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan yang mengidap HIV/AIDS dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom setiap kali hubungan seksual adalah 1:100.

Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali terjadi penularan HIV/AIDS. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan HIV/AIDS. Bisa pada hubungan seksual yang pertama, kedua, ketujuh, kelima puluh, kesembilan puluh sembilan atau yang keseratus.

Maka, setiap hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan orang yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom ada risiko penularan HIV karena bisa saja salah satu dari pasangan tsb. mengidap HIV/AIDS.

Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, kian besar jika salah satu pasangan adalah orang yang sering melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang bergani-ganti, seperti pekerja seks komersial (PSK), gigolo, dan pelaku kawin-cerai.

Untuk itulah Anda lebih baik menjalani tes HIV. Tapi, ingat sebaiknya dilakukan di Klinik VCT yang ditetapkan pemerintah, al. di rumah sakit pemerintah, dan minimal tiga bulan setelah hubungan seksual terakhir dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang tidak bisa diketahui perilaku seksualnya.

Karena Anda ada di kota kecamatan, sebaiknya tes HIV ke Klinik VCT di rumah sakit ibu kota kabupaten agar wajah dan identitas Anda tidak dikenali pengunjung. Bisa juga ke Pokdisus AIDS di RSCM Jakarta, atau tempat lain. Silakan kabari jika sudah siap tes HIV dan di mana Anda akan tes. ***

19 Agustus 2014

Di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Suami “Dibiarkan” Menularkan HIV/AIDS ke Istrinya


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

“Wakil Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi menegaskan saat ini pihaknya tengah gencar memperkuat program warga peduli AIDS (WPA). Dengan kelompok warga ini maka akan memudahkan untuk mendeteksi penyebaran virus.” Ini pernyataan dalam berita “4 Ibu Rumah Tangga Positif HIV/AIDS, 1 Orang Hamil” di sindonews.com, 11/8-2014.

Tidak jelas apa yang dimaksud dengan “memudahkan untuk mendeteksi penyebaran virus” dalam pernyataan wakil wali kota itu.

Pertama, penyebaran virus (HIV) tidak kasat mata. Penularan HIV/AIDS hanya melalui cara-cara yang khas yang tidak bisa dilihat secara langsung dan tidak terjadi melalui air, udara dan pergaulan sosial.

Kedua, orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisiknya, sehingga tidak bisa diketahui siapa yang menularkan HIV/AIDS.

Ketiga, orang-orang yang tertular HIV/AIDS pun tidak bisa dikenali dari fisiknya, terutama sebelum masuk masa AIDS (antara 5-15 tahun).

Pertanyaan untuk Pak Wakil Wali Kota: Bagaimana cara WPA mengenali orang-orang yang menyebarkan HIV/AIDS?

Lagi pula kalau pun WPA mencari-cari warga yang mengidap HIV/AIDS, itu artinya sudah terjadi penyebaran HIV.

Kasus kumulatif  HIV/AIDS di Kota Sukambumi sejak tahun 2002 sampai bulan Agustus 2014 tercatat 784. Kasus terakhir terdeteksi pada empat ibu rumah tangga, salah satu di antaranya sedang hamil.

Kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga itu membuktikan bahwa suami mereka melakukan perilaku berisiko, al. melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK).

Yang perlu dilakukan Pemkot Sukabumi bukan menggerakkan WPA “untuk mengetahui tingkat penyebaran virus”, tapi melakukan program yang konkret berupa intervensi terhadap laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Program tsb. adalah memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK. Program ini hanya bisa dijalankan dengan efektif jika pelacuran dilokalisir. Sedangkan di Kota Sukabumi pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu sehingga tidak bisa diintervensi.

Dalam gambar bisa dilihat bahwa intervensi hanya bisa dilakukan terhadap laki-laki pada hubungan seksual dengan PSK langsung yaitu PSK yang ada dilokalisasi. Sedangkan PSK langsung di luar lokalisasi dan PSK tidak langsung (seperti cewek kafe, cewek diskotek, cewek pub, ABG, cewek gratifikasi seks, dll.) tidak bisa dijalankan intervensi.

Intervensi lain adalah sosialiasi agar suami-suami yang melacur tanpa kondom memakai kondom ketika sanggama dengan istrinya.

Langkah terkakhir adalah intervensi terhadap ibu-ibu hamil berupa program pencegahan penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Tapi, program ini hanya pasif karena tidak ada program yang bisa mendeteksi ibu-ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS secara sistematis.

Jika Pemkot Sukabumi tidak melakukan intervensi terhadap laki-laki yang melacur, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru terus terjadi sehinga penyebaran HIV/AIDS pun terus pula terjadi di masyarakat.

Penyebaran HIV/AIDS di Kota Sukabumi kian runyam karena dikabarkan ada “arisan gigolo” (Lihat: “Arisan Gigolo” di Sukabumi, Jawa Barat: Mendorong Penyebaran HIV/AIDSdi Masyarakat).

Penyebaran HIV/AIDS akan berimbas pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi yang kelak sampai pada muara yaitu “ledakan AIDS”. ***

Pemuda “Jajan” Kena GO Takut Juga Kena AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Tanya Jawab AIDS No 5/Agustus 2014

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: Saya seorang pemuda yang pernah “jajan” pada umur 19 tahun. Itu pertama kali saya melakukan hubungan seksual. Ketika itu saya terkena GO. Setelah berobat sembuh. Saya takut kena HIV dari perempuan yang menularkan GO kepada saya. Sekarang saya pilek. Mudah lelah.  Apakah itu gejala HIV/AIDS?

Via SMS (16/8-2014)

Jawab: Tidak ada gejala-gejala yang khas HIV/AIDS pada orang-orang yang tertular HIV/AIDS. Gejala bisa terkait dengan HIV/AIDS terjadi pada masa AIDS yaitu setelah 5-15 tahun tertular HIV. Tapi, gejala itu juga terkait HIV/AIDS kalau ybs. pernah atau sering melakukan perilaku berisko, al. (a) melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau (b) melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Terkait dengan Anda ada risiko tertular HIV karena penularan GO persis sama dengan penularan HIV/AIDS. Jika perempuan yang menularkan GO kepada Anda juga mengidap HIV/AIDS, maka ada juga risiko penularan HIV sekaligus.

Untuk menghilangkan keragu-raguan, sebaiknya Anda menjalani tes HIV. Tapi, hasil tes HIV akan akurat jika tes dilakukan minimal tiga bulan setelah perilaku berisiko terakhir.

Hasil tes HIV akan menjadi titik awal kehidupan Anda karena berdasarkan hasil tes itulah perjalanan hidup Anda berawal.

Silakan tes di Klinik VCT di rumah sakit pemerintah di kota Anda. ***


17 Agustus 2014

Kasus HIV/AIDS Merambat ke Dalam Kampus

Kota Ternate, aidsindonesia.com (12/8-2014) - Dinas Kesehatan Kota Ternate, Maluku Utara (Malut) menyebutkan penderita HIV/AIDS di kota Ternate, hampir mencapai 200 orang, dua di antaranya adalah mahasiswa dan satu pelajar SMA terinveksi penyakit tersebut.

"Ini juga kita temukan penderita dari kalangan mahasiswa dan pelajar SMA, jadi ada dua mahasiswa dan satu pelajar SMA di Kota Ternate," kata Kepala Dinas Kesehatan kota Ternate, Nurbaity Radjabesi, Selasa (12/8).

Ia menyatakan, berdasarkan data yang dimiliki Dinkes, jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di kota Ternate sebanyak 190 orang di bulan Juni. Data yang terkumpul sekarang sampai Juni ini 190 orang.

Angka ini kata dia, berdasarkan hasil pemeriksaan sejak tahun 2007, tapi yang sudah meninggal itu 40 orang," tambahnya. Menurut Nurbaity, temuan baru penderita HIV/AIDS ini, disebabkan, kegiatan rutin petugas Dinkes dalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang memiliki potensi.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan petugas, kata Nurbaity, menemukan jumlah penderita terbanyak adalah dari kalangan ibu rumah tangga.

"Peningkatan kasus ini sudah berada pada ibu rumah tangga, namun kita terkendala dengan undang-undang HAM, karena kita tidak bisa memaksa orang untuk diperiksa," katanya.

Menurut Nurbaity, dari hasil ini, harusnya Dinkes bisa menemukan penderita lainnya dari pasangan penderita, hanya saja, dia mengaku mengalami kendala, sebab mereka tidak bersedia untuk diperiksa.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan Dinkes dalam kurun waktu 4 bulan terakhir, pihaknya menemukan sedikitnya 20 penderita baru untuk jangka waktu Maret hingga Juni, dari bulan Maret sampai Juni itu, kita temukan 20 penderita baru, ini banyak sekali," katanya.

Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan yang dilakukan petugas, pihaknya menemukan tambahkan, penderita HIV/AIDS di kota Ternate, menyebar pada beberapa kelurahan.

"Di kota Ternate ini, kurang lebih ada sekitar 13 kelurahan itu, ada penderita HIV/AIDS dan dari 13 kelurahan tersebut, jumlah penderita HIV/AIDS menyebar pada beberapa kecamatan, itu tersebar di kecamatan Ternate Tengah, Selatan dan Utara, bahkan di pulau juga ada penderita," ia menjelaskan.

Untuk mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS, pihaknya saat ini gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan baik di tingkat kelurahan maupun sekolah-sekolah yang ada di Ternate.

"Kita juga membentuk kader-kader di sekolah, untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini, agar tak ada lagi terjadinya peningkatan penderita HIV/AIDS di Kota Ternate," katanya. 
(Zahroni/ant/http://www.harianterbit.com/).

10 Agustus 2014

RS Khusus HIV/AIDS di Papua Mendorong Diskriminasi dan Stigma Terhadap Pengidap HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Pemerintah Provinsi Papua berencana membangun rumah sakit khusus untuk menangani dan merawat warga yang positif terinfeksi HIV/AIDS. Ini lead pada berita  “Pemprov Papua Akan Bangun RS Khusus HIV/AIDS Pada 2015” (beritasatu.com, 4/8-2014).

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Prov Papua sampai 31 Maret 2014 tercatat 25.059 yang terdiri atas 14,943 HIV dan 10,116 AIDS (Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 28 Mei 2014/www.spiritia.or.id). Jumlah ini menempatkan Prov Papua sebagai peringkat pertama dengan jumlah kasus AIDS terbanyak di Indonesia.

Ada beberapa hal yang luput dari perhatian terkait dengan rencana Pemprov Papua itu.

Pertama, penyakit yang diidap oleh pengidap HIV/AIDS bukan penyakit khusus, sehingga tidak diperlukan penanganan bahkan rumah sakit khusus. Orang-orang yang mengidap HIV/AIDS pada masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun, mulai mudah tertular penyakit, disebut infeksi oportunistik, seperti jamur, diare, TB, dll. Penyakit-penyakit ini tidak memerlukan penanganan khusus.

Kedua, disebutkan rumah sakit tsb. untuk “merawat warga yang positif terinfeksi HIV/AIDS”. Ini tidak pas karena tidak semua orang yang mengidap HIV/AIDS ototmatis akan dirawat. Apalagi sekarang sudah ada obat antiretroviral (ARV) yang bisa menahan laju perkembangan HIV di dalam darah sehingga kondisi kesehatan pengidap HIV/AIDS tetap terjaga.

Ketiga, rumah sakit khusus AIDS justru akan membuat diskriminasi (perlauan berbeda) karena dikesankan pengidap HIV/AIDS harus mendapatkan perawatan dan dirawat di rumah sakit khusus.

Keempat, rumah sakit khusus AIDS juga akan mendorong stigma (cap buruk) terhadap pengidap HIV/AIDS karena dikesankan mereka berbeda dengan penduduk yang mengidap penyakit yang sama.

Kepala Dinas Kesehatan Prov Papua, drg Aloysius Giyai, mengatakan, selama ini penanganan warga yang positif terinfeksi HIV/AIDS di rumah sakit umum terkesan masih diskriminatif. Harus ada rumah sakit khusus buat mereka (warga yang sudah positif HIV/AIDS, red.).

Yang jadi persoalan bukan karena rumah sakit, tapi karena perilaku pegawai, karyawan, perawat, dokter, dll. di rumah sakit yang membedakan pengidap HIV/AIDS dan yang tidak diketahui status HIV-nya.

Apakah kelak di rumah sakit khusus AIDS ada jaminan perlakuan pegawai, karyawan, perawat, dokter, dll. terhadap pengidap HIV/AIDS tidak ada lagi stigma dan diskriminasi?

Tentu saja tidak ada karena kesalahan bukan pada rumah sakit tapi tanggapan dan perilaku orang-orang yang bersentuhan dengan pengidap HIV/ADIS di rumah sakit.

Walikota Jayapura pernah sesumbar bahwa tahun 2015 Kota Jayapura “bebas AIDS” (Lihat: Mustahil, Tahun 2015 Kota Jayapura Ditargetkan Bebas HIV/AIDS - http://www.aidsindonesia.com/2012/10/mimpi-tahun-2015-kota-jayapura_8.html).

Nah, untuk apa lagi bangun rumah sakit AIDS kalau kota itu sudah bebas AIDS?

Pembangunan rumah sakit AIDS itu adalah langkah di hilir. Artinya, Pemprov Papua membiarkan penduduk tertular HIV baru kemudian dirawat di rumah sakit tsb. Ini terjadi kalau Pemprov Papua tidak mempunyai program yang konkret di hulu.

Salah satu mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Prov Papua adalah laki-laki dewasa, bisa lajang, duda atau beristri, yang tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK) baik di lokasi atau lokalisasi pelacuran maupun di luar lokasi pelacuran, seperti di losmen, hotel, dll.

Di setiap kota dan kabupaten di Prov Papua ada tempat pelacuran. Celakanya, program berupa intervensi ke pelacuran yaitu memaksa laki-laki memakai kondom. Yang terjadi justru jerat hukum kepada PSK yang melayani laki-laki tanpa kondom.

Biar pun PSK itu ditangkap sudah ada risiko penularan HIV dari PSK ke laki-laki yang tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual.

Maka, selama program penanggulangan HIV/AIDS di hulu tidak konkret, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru terus terjadi sehingga penyebaran HIV di masyarakat pun terus terjadi. Kndisi ini akah berakhir pada “ledakan AIDS”, al. ditandai dengan kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi. ***