24 Agustus 2016

Pria Ini Ingin Agar Tidak Kena HIV/AIDS Setelah Ngeseks dengan PSK

Tanya Jawab AIDS No 2/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) E-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual tidak memakai kondom dengan pekerja seks komersial (PSK), saya tidak mengetahui dengan pasti apakah PSK itu mengidap HIV/AIDS atau tidak. Saya hanya melakukan sekali itu saja. Itu pun hanya 15 - 20 menit. Beberapa jam setelah kejadian itu badan saya terasa dingin. Serasa akan demam. Nafsu makan tidak ada. (1) Berapa besar kemungkinan saya tertular HIV/AIDS? (2) Bagaimana mengatasi agar saya tidak terkena HIV/AIDS?

Via SMS (29/7-2016)

Jawab: (1) Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual dengan tidak memakai kondom tidak bisa diperkirakan atau dihitung. Yang jelas hubungan seksual yang Saudara lakukan berisko karena:  Saudara tidak memakai kondom, dan Saudara melakukannya dengan perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yaitu seorang PSK yang melayani hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti.

Persoalannya ada pada PSK itu. Kalau PSK tsb. tidak mengidap HIV/AIDS tidak ada risiko penularan HIV kepada Saudara. Tapi, yang perlu diingat adalah kita tidak bisa mengetahui status HIV seseorang dari penampilan fisik karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Maka, kondisi yang Saudara alami setelah melakukan hubungan seksual bisa saja karena faktor lain.

Yang perlu Saudara ketahui adalah probabilitas atau kemungkinan tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali risiko terjadi penularan HIV. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual ke berapa terjadi penularan HIV/AIDS. Bisa yang pertama, kedua, ketujuh, kedua puluh, ketujuh puluh, bahkan pada hubungan seksual yang ke-100.

Selain itu tidak pula bisa diketahui lama atau waktu hubungan seksual baru bisa terjadi penularan HIV/AIDS. Tidak ada penelitian tentang lama atau waktu hubungan seksual (seks vaginal dan seks anal) agar terjadi penularan HIV. Begitu juga dengan kondisi hubungan seksual dengan mengeluarkan air mani di luar vagina atau di luar anus juga tidak jaminan tidak terjadi penularan HIV kalau dilakukan dengan pengidap HIV/AIDS.

(2) Jika sesorang sudah tertular HIV/AIDS, maka tidak ada cara atau obat yang bisa mengeluarkan HIV/AIDS dari dalam tubuh. Obat AIDS yang ada sekarang, obat antriretroviral (ARV) hanya bisa menahan laju replikasi atau penggandaan virus di dalam darah.

Agar tidak tertular HIV/AIDS yang bisa dilakukan adalah, al. (1) Laki-laki menghindari hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS, (2) Laki-laki tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, dan (3) Laki-laki tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK.


Untuk mengatasi rasa was-was, sebaiknya Saudara konseling ke Klinik VCT di puskesmas atau rumah sakit umum di tempat Saudara bermukim. Jika ada kesulitan, silakan kondom kami. *** [Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.highschoolgh.com) 

22 Agustus 2016

Anak Muda Ini Pengen Segera Tes HIV Karena Mau Menikah

Tanya Jawab AIDS No 1/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax (021) 22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya mau konseling karena hati saya benar-benar tidak bisa tenang. Beberapa hari yang lalu saya melakukan tindakan berisiko tanpa pengaman dengan PSK (pekerja seks komersial-peng.). Sebelum kejadian ini tahun-tahun sebelumnya pernah juga saya lakukan hal yang sama, tapi bua bulan yang lalu saya medical check up dengan hasil yang baik. (1) Apakah melalui medical check up seseorang yang sudah tertular HIV/AIDS bisa terdeteksi? Saya benar-benar galau. Mohon bantuan dan bimbingan karena saya ingin segera tes HIV karena saya segera akan menikah. (2) Mohon rekomendasi tempat tes HIV dengan biaya yang terjangkau. (3) Apakah tes HIV lebih baik segera dilakukan dan 3, 6 dan 9 bulan ke depan saya tes HIV lagi?

Mr ‘X’, di Kota “J”, via SMS (22/8-2016)

Jawab: (1) Tes HIV hanya dilakukan atas permintaan sehingga pada medical check up tidak otomatis ada tes HIV. Permintaan bisa dilakukan oleh seseorang atau oleh sebuah perusahaan, badan, lembaga, institusi, dll. Tapi, jika diminta oleh   perusahaan, badan, lembaga, institusi, dll. harus sepengetahuan karyawan atau pegawai.

Nah, kalau Saudara medical check up berdasarkan rekomendasi tempat Saudara bekerja, silakan ditanya apakah termasuk tes HIV. Celakanya, sering terjadi perusahaan tidak memberitahu karyawan bahwa dalam medical check up ada tes HIV. Ini merupakan perbuatan yang melawan hukum, apalagi kemudian karyawan di-PHK dengan alasan mengidap HIV/AIDS perusahaan tsb. sudah melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan yaitu tidak boleh memecat atau mem-PHK karyawan dan pegawai karena mengidap HIV/AIDS.

Tapi, perusahan dll. punya kebijakan sendiri yang disepakati sehingga bisa saja mereka melakukan pemecatan atau PHK terhadap karyawan atau pegawai yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Tentu saja proses pemecatan tidak disebutkan karena HIV/AIDS, tapi alasan-alasan lain yang terkait dengan perilaku.

(2) dan (3) Alasan Saudara ingin cepat tes HIV karena mau menikah sangat masuk akal. Persoalannya adalah tes HIV dengan reagen ELISA bisa akurat kalau virus (HIV) sudah membentuk antibody HIV di dalam darah yaitu tiga bulan setelah perbuatan berisiko. Jika tes pada masa jendela, tertular di bawah tiga bulan, hasilnya bisa negatif palsu (HIV ada di dalam darah tapi tidak terdeteksi oleh ELISA atau nonreaktif) atau positif palsu (HIV tidak ada di dalam darah tapi hasil tes dengan ELISA reaktif).

Untuk mengatasi kegalauan Saudara, silakan konsultasi ke tempat-tempat tes HIV yang direkomendasikan oleh pemerintah. Alamat klinik yang dimaksud sudah dikirim melalui SMS ke nomor Saudara. Jika ada kesulitan, silakan kontak kami. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.hivandhepatitis.com).

21 Agustus 2016

AIDS di Kota Blitar Ditanggulangi (Hanya) dengan Sosialisasi

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

“Saat ini prostitusi sudah ditutup, tingginya angka HIV/AIDS  ini sungguh mengejutkan. Kami menduga,  penyebaran HIV/Aids itu sekarang bersumber dari café, tempat karaoke dan rumah kost yang seringkali digunakan sebagai tempat mesum dan pesta narkoba. Kami mengimbau Dinkes untuk turun memberikan sosialiasi di tempat-tempat itu.” Ini pernyataan anggota Komisi I DPRD Kota Blitar, M.Nuhan Eko Wahyudi dalam berita “Dewan Imbau Dinkes Sosialisasi HIV/AIDS Ke Café, Kost dan Karaoke” (jatimtimes.com, 18/8-2016).

Data di Dinkes Kota Blitar menunjukkan sampai pertengahan Agustus 2016 sudah ada 92 penderita HIV-AIDS yang terdeteksi. Angka ini tidak menggambarkan jumlah warga yang mengidap HIV/AIDS karena ada yang tidak terdeteksi. Hal ini terjadi karena warga yang mengidap HIV/AIDS tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka dan tidak ada pula keluhan kesehatan yang terkait langsung dengan AIDS.

Pernyataan anggota DPRD Kota Blitar itu menunjukkan anggota DPRD itu terkungkung mitos (anggapan yang salah) yang selama ini menjadi salah satu faktor yang menyulitkan penanggulangan HIV/AIDS, yaitu sumber HIV/AIDS adalah prostitusi, dalam hal ini lokalisasi pelacuran.

Fakta: HIV/AIDS di lokalisasi pelacuran yang terdeteksi pada pekerja seks komersial (PSK) dibawa atau ditularkan oleh laki-laki ‘hidung belang’ yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa memakai kondom.

Laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, atau lajang yang seterusnya menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Bagi laki-laki yang mempunyai istri, maka ada risiko menularkan HIV ke istrinya. Jika istrinya tertular, itu artinya anak yang dikandung istrinya berisiko pula tertular HIV dari ibunya selama di kandungan atau ketika persalinan atau sewaktu menyusu ke ibunya.

Selanjutnya ada pula laki-laki yang tertular HIV dari PSK karena melakukan hubungan seksual dengan tidak memakai kondom. Laki-laki ini pun dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, atau lajang yang seterusnya menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Fakta inilah yang tidak diketahui oleh anggota Komisi I DPRD Kota Blitar tadi sehingga mengaitkan lokalisasi pelacuran dengan penyebaran HIV/AIDS.

Disebutkan pula oleh Nuhan: “Kami menduga,  penyebaran HIV/Aids itu sekarang bersumber dari café, tempat karaoke dan rumah kost yang seringkali digunakan sebagai tempat mesum dan pesta narkoba ....”

Ini juga persis sama dengan lokalisasi pelacuran. HIV/AIDS tidak serta-merta hadir atau ada di café, tempat karaoke dan rumah kost. Perempuan-perempuan di café, tempat karaoke dan rumah kost yang melayani transaksi seksual tertular HIV dari laki-laki yang mereka ladeni melakukan hubungan seksual tanpa kondom.

Di sisi lain anggota DPRD Blitar ini mengakui bahwa di café, tempat karaoke dan rumah kost terjadi praktek pelacuran. Lalu, untuk apa menutup lokalisasi pelacuran kalau kemudian pelacuran itu pindah ke café, tempat karaoke dan rumah kost?

Ya, bisa jadi untuk pencitraan: Di Kota Blitar, Jawa Timur, tidak ada pelacuran! Benar. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran. Sedangkan praktek pelacuran, ya, tetap ada. Buktinya, seperti yang disebutkan anggota DPRD itu yaitu café, tempat karaoke dan rumah kost.

Katakanlah di Kota Blitar tidak ada lagi café, tempat karaoke dan rumah kost yang menerima transaksi seksual, apakah Pemkot Blita bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa warga Kota Blitar yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan PSK di luar Kota Blitar atau di luar negeri?

Tentu saja tidak bisa. Maka, laki-laki dewasa warga Kota Blitar yang tertular HIV di luar kota atau di luar negeri kalau pulang ke Kota Blitar jadi mata rantai penyebaran HIV.

Langkah konkret yang bisa menurunkan insiden infeksi HIV di Kota Blitar adalah dengan melakukan intervensi terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan perempuan di café, tempat karaoke dan rumah kost, yaitu memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual.

Tanpa langkah konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual, akan jadi ‘bom waktu’ untuk ‘ledakan AIDS’ di Kota Blitar. Untuk mencegah hal ini semua terpulang kepada Pemkot Blitar: pilih sosialisasi atau intervensi. ***  

Ilustrasi (Sumber: www.dnaindia.com)

20 Agustus 2016

Penyebaran HIV/AIDS pada Prostitusi Berkedok Penyewaan Jasa Pramugari, Artis, SPG dan Model

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

Karena informasi HIV/AIDS di awal-awal epidemi selalu dibalut dengan norma, moral dan agama muncullah mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Akibatnya, banyak orang yang tidak menyadari perilaku seksualnya berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS.

Salah satu mitos yang berkebang pesat adalah HIV/AIDS hanya menular melalui pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran.

Maka, laki-laki yang tidak ngeseks dengan PSK di lokalisasi pelacuran tidak menyadari perilakunya tsb. berisko tertular HIV karena cewek-cewek atau perempuan yang bekerja seperti PSK tetap saja risikonya sama dengan PSK yang melayani laki-laki di lokasi atau lokalisasi pelacuran.

Itulah salah satu faktor yang mendorong praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak langsung yaitu cewek atau perempuan yang melakukan praktek PSK di luar lokasi dan lokalisasi pelacuran, seperti yang ada di judul berita ini “Prostitusi Berkedok Penyaluran Jasa SPG dan Model Terbongkar” (kompas.com, 20/8-2016).

Perilaku seksual yang berisiko tertular HIV/AIDS adalah:

(1) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti.

(2) Perempuan yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti.

(3) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan sebagai PSK langsung (PSK yang kasat mata yaitu PSK yang beroperasi di lokasi atau lokalisasi pelacuran).

(4) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan sebagai PSK tidak langsung [PSK yang tidak kasat mata yaitu perempuan yang beroperasi sebagai PSK, seperti cewek panggilan, cewek pemijat plus-plus, cewek kafe, cewek disko, cewek yang disamarkan sebagai SPG (sales promotion girl) , cewek yang disamarkan sebagai model, cewek yang disamarkan sebagai artis, ibu-ibu, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.].

Terkait dengan berita di kompas.com itu yang terjadi adalah poin nomor (4). Cewek-cewek yang disebut sebagai pramugari, model, SPG, dan artis adalah perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV karena mereka melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang menjadi pasangan kencan mereka mengidap HIV/AIDS sehingga cewek-cewek itu pun berisiko tertular HIV/AIDS.

Soalnya, orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisiknya karena tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka sampai belasan tahun sebelum mencapai masa AIDS.

Biar pun tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang mengidap HIV/AIDS, mereka bisa menularkan HIV/AIDS al. melalui hubungan seksual, terutama seks vaginal dan seks anal, tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Cewek-cewek PSK tidak langsung itu sering mengaku memeriksakan kesehatan  secara rutin tiap bulan, maklum mereka punya banyak uang sehingga bisa saja ada “dokter pribadi”, itu tidak jaminan karena:

(a) Pemeriksaan kesehatan rutin dan medical check up tidak otomatis termasuk tes HIV,

(b) Tes HIV dengan reagen ELISA hanya akurat jika tertular HIV sudah lebih tiga bulan,

(c) Hasil tes HIV di bawah tiga bulan (masa jendela) dengan reagen ELISA bisa menghasilkan negatif palsu (HIV ada di darah tapi tidak terdeteksi) atau positif palsu (HIV tidak ada di darah tapi tes reaktif), dan

(d) Hasil tes HIV hanya berlaku sampai pengambilan darah waktu tes HIV karena setelah itu bisa saja ybs. melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko tertular HIV.

Dalam berita disebutkan: “Kepada anggota yang menyamar, AN sempat menawarkan seorang pramugari berinisial V dengan harga Rp 7 juta untuk sekali kencan.”

Alangkah sialnya kalau dengan uang Rp 7 juta pada hubungan seksual juga terjadi penularan HIV/AIDS. Yang jadi korban berikutnya adalah istri dan akan berakhir pada bayi yang akan dilahirkan istri.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian banyak ibu rumah tangga yang hanya melakukan hubungan seksual dengan suami tertular HIV/AIDS. Catatan Kemenkes RI sampai tanggal 1 Desember 2015 jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mencapai 9.096.

Angka tsb. (9.096) tidak menggambarkan jumlah kasus yang ril pada ibu rumah tangga karena kasus itu terdeteksi al. pada pemeriksaan ibu hamil dan persalinan di sarana kesehatan yang sudah menjalankan program konseling kepada ibu hamil.

Tidak semua fasilitas kesehatan yang menjalankan program konseling HIV/AIDS bagi ibu-ibu hamil, sehingga jumlah ril ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS tidak diketahui. Belakangan ini ibu-ibu terdeteksi mengidap HIV/AIDS ketika bayi mereka sakit dengan penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS.

Ketika bayi mereka dites HIV dan hasilnya positif, maka ibu dan ayah anak itu pun menjalani tes HIV. Celakanya, banyak suami yang menolak menjalani tes HIV sehingga mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: prostitutionrecovery.org) 

08 Agustus 2016

Mengapa Ibu Rumah Tangga di Lhokseumawe, Aceh, Rentan Tertular HIV/AIDS?

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Rentan Tertular HIV/AIDS Ibu Hamil Diharuskan Tes Darah.” Ini judul berita di www.goaceh.co (4/8-2016). Judul berita ini mengesankan ibu-ibu hamil itu rentan tertular HIV/AIDS karena perilaku (seksual) mereka. Padahal, mereka rentan tertular HIV/AIDS karena, seperti dikatakan oleh Kepala Bidang  Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Lhokseumawe, Aceh, Herliza: “ .... kalangan ibu rumah tangga lebih banyak tertular disebabkan faktor suami yang sering ganti pasangan serta menggunakan narkoba.”

Maka, judul berita itu tidak tepat karena menyudutkan ibu-ibu rumah tangga. Judul yang pas dan objektif adalah: “Rentan Tertular HIV/AIDS dari Suami, Ibu Hamil Diharuskan Tes Darah”.

Tapi, satu hal yang perlu diingat adalah tes HIV pada ibu-ibu hamil itu adalah langkah penanggulangan di hilir. Artinya, mereka dibiarkan oleh Pemkot Lhokseumawe ditulari HIV oleh suami.

Lagi pula ibu hamil yang menjalani tes HIV kan hanya yang periksa kehamilan di puskesmas dan rumah sakit umum. Kalau ke bidan atau dokter pribadi serta rumah sakit swasta tentu tidak ada kontrol. Itu artinya ada risiko bayi-bayi yang lahir dengan HIV/AIDS.

Yang perlu dilakukan oleh Pemkot Lhokseumawe adalah menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa. Mereka ini berisiko tertular HIV karena perilaku seksual yang berisiko yaitu:

(1) Melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti, dan

(2) Melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) langsung dan PSK tidak langsung.

PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu yang ada di tempat terbuka, seperti lokasi, lokalisasi atau tempat-tempat pelacuran dan transaksi seks, sedangkan PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak bisa dikenali karena mereka tidak beroperasi secara terbuka, seperti cewek kafe, cewek disko, cewek pemijat, ABG, ayam kampus, ibu-ibu, dll.

Pada poin (1) jelas tidak bisa ditangani karena hubungan seksual terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Sedangkan poin (2) hanya bisa dilukan terhadap PSK langsung dengan catatan praktek mereka dilokalisir.

Tentu saja intervensi tidak bisa dilakukan terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung karena tidak ada tempat pelacuran yang terbuka

Disebutkan oleh Herliza: “Berdasarkan hasil pendataan oleh pihak kita, ditemukan puluhan ibu rumah tangga yang tertular virus HIV/AIDS dan ada yang sudah meninggal. Secara umum mereka tertular akibat faktor suami.”  

Itu membuktikan suami-suami yang menlarkan HIV ke istri melakukan perilaku seksual yang berisiko yaitu poin (1) atau poin (2) atau dua-duanya.

Dikatakan lagi oleh Herliza: “Penyakit HIV/AIDS itu lebih bagus terdeteksi secara dini, sehingga bisa dilakukan berbagai tindakan medis untuk memperlambat perkembangbiakan virus tersebut. Maka bagi kalangan ibu hamil harus melakukan pemeriksaan, agar bisa diketahui postif atau tidak.”

Biar pun bisa ditangani, tapi kan sudah tertular HIV. Yang perlu dilakukan adalah program yang bisa mengurangi risiko tertular HIV bukan menjalani tes HIV karena dibiarkan tertular dan meminum obata untuk memperlambat perkembangbiakan virus.

Tanpa program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, maka penyebaran HIV/AIDS di masyarakat akan terus terjadi terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Kasus-kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi jadi ‘bom waktu’ yang kelak sampai pada ‘ledakan AIDS’. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.pinterest.com) 

06 Agustus 2016

Dalang Sosialiasi AIDS: Yang Mendesak Turunkan Insiden Infeksi HIV Baru Bukan Sosialiasi Bahaya AIDS (Lagi)

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

“Tugas dalang kini bertambah. Pemkab meminta para dalang untuk menyosialisasikan bahaya penyakit HIV/AIDS.” Ini ada di berita “Dalang di Kabupaten Kebumen Diminta Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS” (Radar Banyumas, 5/8-2016).

Sosialisasi bahaya HIV/AIDS sudah dilakukan jauh-jauh hari sejak kasus HIV/AIDS terdeteksi (1981). Tapi, tetap saja banyak orang yang tidak mengindahkan sosialisasi karena mitos (anggapan yang salah) yang membalut HIV/AIDS sehingga fakta tentang HIV/AIDS pun ‘terkubur’.

Misalnya, penularan HIV selalu dikait-kaitkan dengan (pelanggaran) norma, moral dan agama. Padahal, sebagai virus HIV menular melalui cara-cara yang tidak terkait langsung dengan norma, moral dan agama. Lihat saja penularan HIV melalui transfusi darah dan jarum suntik. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pelanggaran norma, moral dan agama. Begitu juga dengan penularan HIV di dalam ikatan pernikahan yang sah sama sekali tidak terkait dengan pelanggaran norma, moral dan agama.

Akibat dari informasi HIV/AIDS yang dibalut dengan nomor, moral dan agama itu banyak orang yang kemudian lalai karena mereka merasa tidak melakukan pelanggaran moral, seperti kawin-cerai dan kawin kontrak. Padahal, dua hal ini merupakan perilaku yang berisiko tertular HIV karena hubungan seksual dilakukan dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan.

Informasi HIV/AIDS lain yang juga dibalut dengan norma, moral dan agama adalah mengait-ngaitkan penularan HIV dengan lokasi atau kokalisasi pelacuran dan pekerja seks komerisal (PSK). Maka, lokasi dan lokalisasi pelacuran pun ditutup di semua daerah.

Tapi, apa yang terjadi kemudian?

Penyebaran IMS (infeksi menular seksual atau yang lebih dikenal sebagai ‘penyakit kelamin’, seperti raja singa/sifilis, kencing nanah/GO, virus hepatitis B, klamidia, herpes genitalis, dll.) dan HIV/AIDS pun tidak terkendali karena praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Ketika PSK dilokalisir bisa dilakukan intervensi berupa memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Dampak lain adalah banyak laki-laki yang merasa tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena mereka tidak melakukan hubungan seksual dengan PSK di lakasi atau lokalisasi pelacuran. Mereka melakukan hubungan seksual dengan cewek kafe, cewek pemijat, anak sekolah, ayam kampus, dll. Ini dikenal sebagai PSK tidak langsung. Tapi, yang perlu diingat adalah perilaku seksual PSK langsung (PKS yang kasat mata yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran)  dan PSK tidak langsng terkait dengan HIV/AIDS sama saja yaitu berisiko tertular HIV.

Pertanyannya adalah dengan kondisi yang ada: Apa yang akan dilakukan dalang sebagai sosialisasi bahaya HIV/AIDS?

Tentu saja tidak ada karena yang diperlukan bukan sosialisasi bahaya HIV/AIDS, tapi langkah nyata yaitu menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung.

Di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi adalah 551 dengan 187 kematian. Angka ini tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di Kab Kebumen karena banyak orang yang mengidap HIV/AIDS tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Orang-orang inilah yang akan jadi mata rantai menyebarkan HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Mungkin Pemkab Kebumen akan menepuk dada dengan mengatakan: Di wilayah kami tidak ada pelacuran.

Pernyataan itu benar kalau yang dimaksud adalah pelacuran yang dilokalisir, tapi praktek pelacuran tentu saja terjadi setiap saat di sembarang tempat di wilayah Kabupaten Kebumen. Itu artinya perilaku berisiko yaitu laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa kondom tetap terjadi di wilayah Kabupaten Kebumen yang pada gilirannya akan menambah jumlah laki-laki dewasa yang tertular HIV dan akan berakhir pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi yang mereka lahirkan kelak.

Selain itu apakah Pemkab Kebumen bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa penduduk Kebumen yang melakukan perilaku berisko di luar wilayah Kebumen atau di luar negeri?

Tentu saja tidak bisa. Ini juga akan menambah jumlah laki-laki dewasa penduduk Kebumen yang tertular HIV yang akan berimbas pada jumlah ibu rumah tangga dan bayi yang lahir dengan HIV/AIDS.

Maka, yang perlu dilakukan Pemkab Kebumen adalah menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa. Celakanya, hal ini tidak bisa dilakukan karena praktek pelacuran tidak dilokalisir dan tidak ada pula mekanisme yang bisa mencegah laki-laki dewasa penduduk Kebumen agar tidak melakukan perilaku berisiko di luar Kebumen dan di luar negeri.

Itu artinya sosialisasi dalang tentang bahaya HIV/AIDS ibarat ‘menggantang asap’. *** 

Ilustrasi (Sumber: solopos.com)

03 Agustus 2016

Program Pencegahan HIV/AIDS Kota Cirebon “Membiarkan” Suami Tularkan HIV ke Istri

Oleh: SYAIFUL W  HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Laki-laki dewasa ada yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

PSK sendiri dikenal dua macam, yaitu: (1) PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti di lokasi atau lokalisasi pelacuran dan di jalanan, dan (2) PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak bisa dikenali, seperti cewek pemijat, cewek kafe, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.

Laki-laki yang tertular HIV akan menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal di masyarakat, al. kepada istrinya, selingkuhan, sampai PSK. Kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga menjadi bukti bahwa mereka tertular HIV dari suami.

Celakanya, lima program pencegahan penularan HIV/AIDS yang dijalankan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, Jawa Barat, justru mengabaikan potensi laki-laki dewasa sebagai penyebar HIV. Dalam berita “KPA Cirebon Siapkan 5 Program Pencegahan Penularan HIV-AIDS” (republika.co.id, 29/7-2016) disebutkan lima program itu adalah: (1) Kalangan remaja, (2) Ibu hamil, (3) Calon pengantin, (4) Ibu ke anak, dan (5) Pengguna narkoba suntik.


Dengan lima program tsb., maka (Gambar 1):

Pertama, laki-laki yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV diabaikan. Maka, insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa pun akan terus terjadi yang pada gilirannya akan menambah jumlah ibu hamil yang tertular HIV. Di terminal akhir akan menambah bayi yang berisiko lahir dengan HIV/AIDS.

Laki-laki dewasa yang perilaku seksualnya berisiko melakukan hubungan seksual berisiko sebelum program dijalankan dan selama program dijalankan karena tidak ada intervensi terhadap mereka. Pada waktu yang bersamaan ada risiko mereka menularkan HIV ke istri atau pasangan seks lain serta PSK.

Kedua, KPA Kota Cirebon membiarkan ibu-ibu rumah tangga ditulari HIV oleh suami mereka karena tidak ada program yang menjangkau suami-suami untuk menjalankan seks yang aman (Gambar 2). Yang perlu dilakukan KPA Kota Cirebon adalah menjalankan intervensi yaitu mewajibkan laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK selalu memakai kondom.


Atau KPA Kota Cirebon membusungkan dada dengan mengatakan: Di Kota Cirebon tidak ada perzinaan (baca: praktek pelacuran)!

Di satu sisi kita percaya kalau tolok ukurnya lokalisasi pelacuran. Memang di Kota Cirebon tidak ada pelacuran yang dilokalisir.

Tapi, apakah KPA Kota Cirebon bisa menjamin di Kota Cirebon tidak ada hubungan seksual yang berisiko antara laki-laki dan perempuan dengan imbalan uang?

Tentu saja tidak bisa. Itu artinya di Kota Cirebon ada praktek pelacuran. Di Kota Cirebon dan sekitarnya memang tidak ada ’pelacuran’ karena di sana disebut ”esek-esek”. Ini eufemisme terhadap praktek pelacuran sehingga laki-laki pun tidak rikuhya menjawab kalau ditanya: Pulang dari mana? Karena jawabannya bukan dari pelacuran atau berzina, tapi pulang dari ”esek-esek” (Praktek ‘Esek-esek’ di Kab Cirebon, Jabar).

Penanggulangan pada ibu hamil (program nomor 2) yaitu tes HIV adalah program di hilir. Artinya, KPA Kota Cirebon membiarkan ibu-ibu rumah tangga (baca: istri) ditulari suaminya, setelah hamil baru dilakukan tes HIV (Gambar 3).


Bagi laki-laki dewasa yang beristri ada dua pilihan, yaitu: (a) tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual berisiko, tapi memakai kondom ketika sanggama dengan istri sehingga proses reproduksi terhenti, atau (b) memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual berisiko sehingga tidak perlu memakai kondom ketika sanggama dengan istri dan proses reproduksi bisa berjalan alamiah.

KPA Cirebon hanya menyelematkan bayi agar tidak tertular HIV dari ibunya, sementara ibu-ibu dibiarkan tertular HIV karena tidak ada program yang melindungi istri-istri dari risiko ditulari oleh suaminya.

Pelajar SMA dan SMK yang tertular HIV merupakan terminal terakhir karena mereka tidak mempunyai pasangan yang tetap (baca: istri) sehingga penyebaran HIV berhenti pada mereka. Persentase pelajar puitra dengan perilaku seks berisiko sangat kecil jika dibandingkan dengan laki-laki dewasa.

Sedangkan laki-laki dewasa yang mengidap HIV/AIDS akan jadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal ke istrinya, pasangan seks yang lain serta PSK. Celakanya, program KPA Kota Cirebon justru tidak menyasar laki-laki dewasa sehingga penyebaran HIV di Kota Cirebon akan terus bertambah, al. bisa dilihat dari jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.          

Peraturan daerah (Perda) Kota Cirebon No 1 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS juga tidak menawarkan cara-cara penanggulangan yang konkret (Perda AIDS Kota Cirebon, Jawa Barat).

Lima program pencegahan yang akan dilakukan KPA Kota Cirebon tidak akan menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, pada gilirannya jumlah ibu rumah tangga yang tertular HIV pun bertambah. Di ujung jumlah bayi yang berisiko lahir dengan HIV pun banyak pula.

Maka, tanpa program pencegahan yang konkret di hulu insiden infeksi HIV baru di Kota Cirebon akan terus terjadi yang akan jadi ’bom waktu’ menuju ’ledakan AIDS’. ***

Ilustrasi (Sumber: www.lifemartini.com) 

28 Juli 2016

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Biak Sangat Tinggi

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP-AIDS Watch Indonesia

“Sebanyak 451 orang dari 1.670 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Biak Numfor, Papua, tewas akibat penyakit menular mematikan tersebut.” Ini lead pada berita “Ratusan Warga Biak Meninggal karena HIV/AIDS.” (news.okezone.com, 27/7-2016).

Ada beberapa hal yang tidak akurat dalam pernyataan di lead berita itu, yaitu:

Pertama, kematian 451 dari 1.670 penderita HIV/AIDS di Biak bukan karena HIV atau AIDS, tapi karena penyakit-penyakit yang muncul pada masa AIDS yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TBC, dll. Masa AIDS pada orang-orang yang tertular HIV yang secara statistik terjadi antara 5-15 tahun sejak tertular HIV.

Kedua, HIV/AIDS bukan penyakit menular. HIV adalah virus, sedangkan AIDS ada masa pada pengidap HIV yang terjadi antara 5-15 sejak tertular HIV. Maka, yang menular bukan penyakit HIV/AIDS, tapi virus yaitu HIV.

Ketiga, HIV/AIDS bukan penyakit yg mematikan karena penyebab kematian pada pengidap HIV/AIDS adalah penyakit-penyakit lain,  disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TB, dll.

Sebaliknya, lead berita itu menunjukkan tingkat kematian yang sangat besar di kalangan pengidap HIV/AIDS di Biak yaitu 28,73 persen. Ini bisa terjadi al. karena penduduk yang tetular HIV tidak terdeteksi sebelum masa AIDS.

Mereka terdeteksi pada masa AIDS dengan infeksi oportunistik (penyakit-penyakit yang muncul di masa AIDS karena sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga sangat mudah kena penyakit) yang sudah pada tahap lanjut yang membutuhkan pengobatan bahkan perawatan intensif.

Penduduk yang tertular HIV tidak terdeteksi al. krn penjangkauan yang lemah sehingga penduduk yang tertular HIV baru terdeteksi ketika mereka sakit dan berobat ke rumah sakit. Inilah yang disebut sebagai penanggulangan pasif yaitu menunggu orang-orang yang tertular HIV berobat ke rumah sakit atau puskesmas sehingga bisa terdeteksi karena meereka datang dengan penyakit-penyakit yang terkait langsung dengan infeksi HIV/AIDS.

Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Biak, Selfi Rumbiak, mengatakan: "Jajaran Pemkab Biak beserta KPA telah berkomitmen menangani penyakit HIV/AIDS dengan mencanangkan Biak bangkit melawan HIV/AIDS."

Apa yang dijalankan untuk mendukung “Biak bangkit melawan HIV/AIDS?

Dalam penanggulangan, seperti yang disebutkan oleh Tenaga Operasional Lapangan KPA Biak, Basri: Salah satu program yang intens dilakukan KPA setiap waktu gencar menyosialisasikan tentang bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat di berbagai kelompok warga.
Pertanyaan untuk Basri: Berapa lama yang dibutuhkan agar seseorang memahami bahaya HIV/AIDS sehingga dia tidak melakukan perilaku berisiko, al. melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK)?

Seintens apa pun sosialisasi bahaya HIV/AIDS dilakukan tidaklah mudah mengubah perilaku seksual seseorang. Soalnya, penyebab paling dominan kasus HIV/AIDS di Biak terjadi karena hubungan seksual yang prosentasenya mencapai 80 persen. Itu artinya banyak laki-laki dewasa di Biak yang perilaku seksualnya berisiko yaitu sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK.

Maka, yang harus dilakukan KPA Biak bukan sekedar sosialiasi bahaya HIV/AIDS, tapi program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK. Yang mendesak adalah melakukan intervensi terhadap laki-laki dewasa berupa memaksa mereka memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Celakanya, Pemkab Biak akan menepuk dada: Di wilayah kami tidak ada pelacuran!

Ya, itu benar jika yang dimaksud adalah pelacuran yang dilokalisir dengan regulasi. Tapi, praktek pelacuran dengan berbagai cara tetap saja ada di Biak. Bisa dalam bentuk panti pijat plus-plus, kafe, salon plus-plus, cewek panggilan, dll.

Justru penanggulangan HIV/AIDS tidak bisa dilakukan karena kegiatan pelacuran tidak dilokalisir sehingga tersebar secara luas di sembarang tempat dan terjadi sembarang waktu. Akibatnya, tidak bisa dilakukan intervensi.

Itu artinya insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK akan terus terjadi. Laki-laki yang tetular akan menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah secara horizontal. Yang beristri akan menularkan HIV ke istrinya atau perempuan lain yang jadi pasangan seksnya. Kalau istrinya tertular, maka kelak ada pula risiko penularan secara vertikal ke bayi yang dikandungnya.

Maka, tanpa program penanggulangan yang konkret penyebaran HIV di masyarakat jadi ’bom waktu’ yang kelak akan jadi pemicu 'ledakan AIDS' di Biak Numfor. Pilihan ada di tangan Pemkab Biak Numfor: tidak menjalankan program yang konkret atau menunggu ‘ledakan AIDS’. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi: Kampanye AIDS di Biak (Sumber: papua2.kemenag.go.id)

24 Juli 2016

Anak Muda Ini Takut Kena AIDS Setelah Ngeseks Tanpa Kondom dengan Sesama Jenis

Tanya Jawab AIDS No 2/Juli 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com), kompasiana.com/infokespro, dan baranews.co. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

                                                                         *****
Tanya: Saya melakukan hubungan seksual sesama jenis tanpa memakai kondom. Saya tidak pernah ganti-ganti pasangan. Apakah saya bisa terkena HIV/AIDS?

“B” via SMS (47-2016)

Jawab: Ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

(1) Apa yang Anda maksud dengan tidak pernah ganti-ganti pasangan? Kalau yang Anda maksud adalah tidak pernah mempunyai pasangan seksual selain dengan yang sekarang, maka persoalannya adalah: Apakah Anda bisa menjamin bahwa pasangan Anda tsb. tidak punya pasangan lain?

Kalau Anda tidak bisa jamin, itu artinya ada risiko karena pasangan Anda adalah seseorang yang perilakunya berisiko tertular HIV/AIDS sehingga Anda pun berisiko pula tertular HIV/AIDS.

(2) Apakah hubungan seksual ini yang pertama Anda lakukan? Kalau jawabannya YA, maka persaoalan ada pada pasangan Anda, yaitu: Apakah hubungan seksual dengan Anda yang pertama dia lakukan? Kalau jawabannya TIDAK, lagi-lagi ada risiko penularan HIV/AIDS terhadap Anda dari pasangan Anda.

Risiko penularan HIV/AIDS melalui seks anal tanpa kondom lebih besar daripada melalui seks vaginal. Jika khawatir, silakan konseling ke Klinik VCT di rumah sakit umum (RSU) atau ke Puskesmas di daerah Anda. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Repro: www.spreadshirt.com)

21 Juli 2016

Cowok Ini Takut Kena AIDS Setelah Ngeseks Tak Pakai Kondom dengan PSK

Tanya Jawab AIDS No 1/Juli 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya baru pertama kali seks bebas dengan PSK (pekerja seks komersial) dan saya tidak memakai kondom. Saya sangat takut terkena penyakit AIDS. (1) Bagaimana caranya saya mengetahui apakah sudah terkena penyakit AIDS atau tidak? (2) Berapa persen saya kemungkinan terkena penyakit AIDS? (3) Di mana saya bisa melakukan pengecekan?

“As”, via SMS (22/7-2016)

Jawab: (1) dan (2) Risiko Saudara tertular HIV (bukan penyakit AIDS) sangat tergantung kepada status PSK yang melakukan hubungan seksual dengan Saudara, yaitu: Apakah PSK itu mengidap HIV/AIDS?  Kalau PSK itu tidak mengidap HIV/AIDS tentu Saudara tidak akan tertular HIV. Persoalannya adalah PSK itu adalah orang yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV karena dia sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom. Pemakaian kondom pada laki-laki yang ngeseks dengan PSK tidak ada kontrol karena praktek pelacuran tidak dilokalisir sehingga kemungkinan besar laki-laki banyak yang tidak mau pakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK. Selain itu tidak pula bisa dikenali orang-orang yang mengidap HIV/AIDS dari fisik mereka.

Risiko tertular HIVmelalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan pengidap HIV dalam kondisi laki-laki tidak pakai kondom adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali risiko tertular HIV. Masalahnuya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan. Maka, itu artinya setiap hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pengidap HIV/AIDS ada risiko tertular. Bisa pada hubungan seksual yang pertama, kedua, kelima, kedua puluh, kelima puluh tujuh, kesembilan puluh, atau yang ke-100.

(3) Pengedekan yang Saudara maksud adalah tes HIV. Agar tes HIV sesuai dengan standar prosedur operasi yang baku dan sesuai anjuran WHO, silakan ke Klinik VCT di rumah-rumah sakit umum daerah atau pemerintah serta di Puskesmas di daerah Saudara.

Kalau ada kesulitan, silakan kontak kami. ***

Ilustrasi (Sumber: www.humanillneses.com)

18 Juli 2016

Di Jawa Barat Ibu Rumah Tangga Lebih Banyak Mengidap HIV/AIDS Dibanding PSK .... Kok, Bisa?



Oleh; SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

Ada ironi yang berkembang dari tahun ke tahun sejak epidemi HIV/AIDS dilaporkan di Indoensia (sejak 1987). Celakanya, ironi itu juga mendorong mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS sehingga kasus insiden infeksi HIV baru terus-menerus terjadi di Indonesia.

Di awal epidemi pernyataan resmi pemerintah menyebutkan HIV/AIDS adalah penyakit orang bule  dan penyakit homoseksual. Dekade berikutnya disebutkan pula HIV/AIDS berkecamuk di lokalisasi pelacuran yang melibatkan pekerja seks komersial (PSK). Selanjutnya yang jadi ‘kambing hitam’ adalah PSK yang dipojokkan sebagai penyebar HIV.

Setelah itu pernyataan kemudian menyebutkan HIV/AIDS di Indonesia terkonsentrasi pada PSK. Celakanya, pernyataan ini hanya berdasarkan survailans tes HIV (tes HIV secara anomim tanpa tes konfirmasi) pada kalangan PSK di lokalisasi pelacuran tanpa ada survailans tes HIV pada kalangan atau kelompok lain sebagai pembanding.

Belakangan yang mencuat ke permukaan adalah HIV/AIDS sudah masuk ke keluarga yaitu kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga.

Yang jadi pertanyaan besar dari perjalanan pernyataan di atas adalah:

Pertama, yang membawa HIV/AIDS ke lokalisasi pelacuran justru laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari ada yang sebagai suami, pacar, selingkuhan, duda atau lajang. Fakta ini digelapkan sehingga sasaran tembak hanya kepada lokalisasi pelacuran.

Kedua, yang menularkan HIV kepada PSK justru laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari ada yang sebagai suami, pacar, selingkuhan, duda atau lajang. Fakta ini juga digelapkan sehingga sasaran tembak hanya kepada PSK.

Ketiga, PSK juga adalah bagian dari masyarakat yang hidup dalam keluarga. Ada yang bersuami dan mempunyai anak, mereka juga hidup dalam keluarga dengan ayah dan ibu atau dengan mertua.

Maka, pernyataan di berita ini pun memakai landasan pemikiran seperti di atas: Kasus HIV/AIDS di Jawa Barat (Jabar) semakin menakutkan. Pengidapnya kini tidak hanya dialami oleh wanita pekerja seks komersial (PSK), melainkan sudah merambah ke rumah tangga. Bahkan jumlahnya pun melebihi dari pengidap HIV/AIDS dari golongan PSK (Ibu Rumah Tangga Pengidap HIV/AIDS Lebih Banyak Ketimbang PSK, jawapos.com, 15/7-2016).

Pernyataan dalam berita itu menggambarkan pola pikir seperti alur yang disebarluaskan media massa selama ini. Padahal, kalau berpijak pada realitas, maka tidak ada yang aneh, menakutkan, dll. Soalnya, 1 PSK meladeni 3-5 laki-laki setiap malam (Lihat Gambar 1).

Laporan Kemenkes (2012): Laki-laki dewasa pelanggan PSK langsung di Indonesia ada 6,7 juta, 2,2 juta di antaranya adalah suami. Itu artinya ada 2,2 juta istri yang berisiko terular HIV dari suami. Suami-suami yang tertular HIV akan menularkan HIV ke istri, sedangkan PSK yang sudah tertular HIV jumlahnya akan tetap sama biar pun terular HIV lagi dari laki-laki pelanggannya [Lihat: Dibanding PSK, Ibu RumahTangga Lebih Banyak yang (Berisiko) Tertular HIV/AIDS].

Disebutkan dalam berita “Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jabar, sebanyak 812 orang ibu rumah tangga (IRT) mengidap HIV/AIDS. Sementara PSK yang terkena HIV/AIDS hanya 366 orang.”

Nah, kalau 366 PSK yang mengidap HIV/AIDS itu melayani 3-5 laki-laki itu artinya setiap malam ada 1.098 – 1.830 laki-laki yang berisiko tertular HIV, di ujung ada 1.098 – 1.830 istri yang  berisiko tertular HIV dari suami, dan pada terminal terakhir ada 1.098 – 1.830 bayi yang berisiko pula tertular HIV yang dilahirkan istri-istri yang terular HIV dari suami.

Disebutkan oleh Ketua Harian Komisi Penanggulangan (KPA) AIDS Jabar, Iwa Karniwa: Oleh karena itu, menurutnya perlu upaya serius untuk menanggulanginya. Apabila tidak berbuat sama sekali, maka akan terjadi kehilangan generasi masa depan.

Persoalannya, adalah dalam semua peraturan daerah (Perda) penanggulangan AIDS yang ada di Jawa Barat sama sekali tidak ada pasal yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK. Memang, di Jawa Barat tidak ada lokalisasi pelacuran, tapi pratek pelacuran tetap saja terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Yang diperlukan adalah pasal yang konkret untuk memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK. Tapi, ini hanya bisa dilakukan jika PSK dilokalisir. Celakanya, di Jawa Barat PSK tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dilakukan intervensi untuk memaksa laki-laki pakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK.

Ada juga ‘agen’ penyebar HIV/AIDS yaitu perempuan Jawa Barat yang bekerja sebagai PSK langsung dan PSK tidak langsung di Jawa Barat atau di luar Jawa Barat. Mereka menularkan HIV ke pasangannya (suami atau pacar) atau laki-laki yang menjadi pelanggan mereka ketika pulang kampung dan mudik Lebaran (Lihat: Wahai Perantau BerperilakuBerisiko, Ketika Mudik Janganlah Sebarkan HIV/AIDS di Kampung Halamanmu).

Penyebaran HIV/AIDS kian runyam di Jawa Barat karena selain PSK lansung (PSK yang kasat mata, seperti di lokasi pelacuran dan di jalanan), ada pula PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek pemijat, cewek kafe, cewek diskotek, ABG, anak sekolah, ayam kampus, ibu-ibu, cewek gratifikasi seks, dll.). PSK tidak langsung ini tidak bisa diintervensi karena mereka ‘praktek’ berdasarkan perjanjikan dengan kurir, telepon, SMS, media sosial, dll.

Selama tidak ada intervensi terhadap PSK langsung di Jawa Barat untuk memaksa laki-laki pakai kondom setiap kali ngeseks, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi yang pada gilirannya HIV/AIDS tersebar luas di masyarakat pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi yang mereka lahirkan. Kondisi ini merupakan ‘bom waktu’ untuk menuju ke ‘ledakan AIDS’. ***

30 Juni 2016

Wahai Perantau Berperilaku Berisiko, Ketika Mudik Janganlah Sebarkan HIV/AIDS di Kampung Halamanmu


Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP

Sebagaimana tradisi yang sudah mengakar, maka pada Lebaran semua perantau akan pulang kampung (mudik). Di antara perantau itu ada pekerja seks komersial (PSK) langsung, PSK tidak langsung, cewek kafe, cewek pemijat, cewek penghibur, dll., serta laki-laki dengan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yang juga ikut mudik.

Perantau yang perilakunya berisiko tertular HIV/AIDS bukan omong-kosong karena mobilitas PSK yang sangat tinggi dan industri seks terselubung yang marak di banyak kota besar, terutama kota yang berkembang karena industri. Lagi pula, ada lima kota yang menjadi tujuan laki-laki melakukan ‘wisata seks’ dunia, yaitu: Puncak, Jabar (dari Timur Tengah dan Afrika Utara), Cilegon, Banten, dan Cikarang, Jabar (dari Korea), Singkawang, Kalbar (Taiwan), dan Batam, Kepri (Singapua dan Malaysia).

Maka, tidaklah mengherankan kalau di Batam ada PSK dari berbagai daerah di Indosia. Bahkan, tahun 2005, misalnya,  ribuan perempuan asal Indramayu, Jabar jadi PSK (6.300 Wanita Indramayu Jadi PSK di Pulau Batam. Mereka Merasa Menjadi Pahlawan Ekonomi Keluarga (Harian “Pikiran Rakyat”, 11/11-2005).

Di Papua pun PSK berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi. Di daerah lain pun sama saja. Mereka ini sangat rentan tertular HIV/AIDS karena kegiatan pelacura di banyak daerah tidak lagi dikontrol melalui regulasi sehingga tingkat risiko tertular HIV sangat tinggi.

Bisa saja ada di antara mereka yang tertular HIV/AIDS di rantau karena perilaku mereka, yaitu:

(1) Perantau laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di dalam dan di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti,  

(2) Perantau laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti PSK langsung, PSK tidak langsung atau cewek kafe, cewek pemijat, cewek penghibur, dll.,

(3) Perantau perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, di dalam nikah (kawin kontrak, nikah siri, dll.) dan di luar nikah (selingkuh, PIL, dll.), atau

(4) Perantau perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) yang mengalami perlakuan kekerasan seksual atau bujuk-rayu majikan untuk melakukan hubungan seksual dengan kondisi majikan tidak memakai kondom.

Karena perempuan perantau itu tidak menyadari bahwa mereka mengidap HIV/AIDS, maka ada risiko penularan HIV ke suami mereka di kampung. Risiko penularan terjadi karena suami mereka tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual suami-istri.

Ada juga persoalan yang dihadapi oleh istri-istri yang ditinggalkan suami karena pergi merantau mencari pekerjaan. Kalau suami mereka sering melakukan hubungan seksual yang berisiko di rantau ada kemungkinan suami-suami itu tertular HIV/AIDS di rantau. Karena suami-suami itu tidak menyadari dirinya mengidap HIV/AIDS, maka ketika melakukan hubungan seksual dengan istri mereka tidak memakai kondom. Itu artinya ada risiko suami menularkan HIV/AIDS ke istri.

Ketika kelak istri yang tertular HIV/AIDS dari suami hamil, maka ada pula risiko istri tsb. menularkan HIV ke janin yang dikandungnya. Dianjurkan agar ibu-ibu yang hamil mau mengikuti konseling HIV/AIDS di puskesmas atau rumah sakit. Konseling dan tes HIV di puskesmas bagi ibu-ibu yang hamil gratis

Kalau ada ibu-ibu yang hamil terdeteksi mengidap HIV/AIDS, pemerintah akan melakukan langkah-langkah pencegaha yang dikenal sebagai pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya dengan bantuan dokter. Obat yang diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah penularan ke bayi yang di dalam kandungan gratis.

Bagi suami yang istrinya terdeteksi mengidap HIV/AIDS ketika sedang hamil diminta agar mengikuti konseling dan tes HIV di puskesmas. Ini sangat penting agar suami-suami itu tidak menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat. Selain itu suami-suami yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS pun akan ditangani oleh dokter agar tetap bisa bekerja seperti biasanya karena dengan penanganan dokter akibat HIV/AIDS bisa dikendalikan.



Di sisi lain persoalan juga dihadapi oleh istri-istri yang pergi merantau untuk bekerja. Berbagai studi menunjukkan banyak suami yang tidak setia sehingga mereka melakukan hubungan seksual berisiko ketika istri merantau. Ada yang jadi pelanggan PSK. Ada pula yang kawin-cerai. Ini bisa terjadi karena mereka secara rutin menerima uang kiriman dari istri yang seharusnya untuk keperluan anak-anak mereka, tapi oleh suami dipakai untuk kawin lagi, selingkuh atau ngeseks dengan PSK.

Terkait dengan kasus di atas, suami-suami yang tidak setia ketika ditinggal istri yang merantau cari kerja dianjurkan agar menjalani konseling dan tes HIV di puskesmas. Jika belum sempat, dianjurkan agar suami-suami yang tidak setia itu memakai kondom ketika sanggama dengan istri yang baru pulang dari rantau.

Yang paling dikhawatirkan adalah kalau ada PSK langsung dan PSK tidak langsung yang mengidap HIV/AIDS  justru 'buka lapak' d kampung halamannya atau pindah ke kota lain. Itu artinya terjadi penyebaran HIV secara massal di masyarakat, yaitu: PSK menularkan HIV ke pelanggan, dan pelanggan menularkan HIV ke istri, pacar, selingkuhan atau PSK lain.

Sudah saatnya kita jujur pada diri sendiri agar tidak mencelakai orang lain, terutama istri dan anak-anak yang akah dilahirkan istri. Untuk itu bagi yang pergi merantau dan pernah melakukan perilaku berisiko di rantau dengan berbagaialasan segeralah ke puskesmas untuk konseling dan tes HIV. *** [kompasiana.com] ***