19 November 2020

12 Suami di Kabupaten Ciamis Tularkan HIV/AIDS kepada Istrinya

 

Ilustrasi: Pita merah tanda peduli HIV/AIDS (Sumber: voaindonesia.com)


Oleh: Syaiful W. HARAHAP

“12 Bayi di Ciamis Terpapar HIV/AIDS dari Ibunya, 9 Meninggal.” Ini judul berita di radartasikmalaya.com, 18/11-2020.

Sepintas judul berita ini biasa saja, tapi kalau dicermati judul ini justru menohok perempuan yaitu ibu dari 12 bayi yang terpapar HIV/AIDS. Ada pesan kuat ibu-ibu itulah yang bersalah. Ini mendorong stigma (cap buruk) yang bisa berujung diskriminasi (perlakuan berbeda) dan pengucilan terhadap ibu-ibu tersebut.

Data Dinas Kesehatan Ciamis, Jawa Barat, menunjukkan dari tahun 2001-2020 jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS sebanyak 562. Dalam kurun tahun 2014- Juni 2020 ada 18 ibu hamil yang terinfeksi HIV/AIDS.

Judul ini sensasional dan tidak menunjukkan realitas sosial terkait dengan epidemi HIV/AIDS. Ibu-ibu itu tertular HIV/AIDS dari suaminya. Ibu-ibu itu pun tidak menyadari kalau mereka sudah tertular HIV/AIDS karena tidak ada gejala-gejala, tanda-tanda atau ciri-ciri yang khas pada fisik dan keluhan kesehatan.

1. Suami Ibu Hamil Tolak Tes HIV

Akibatnya, ketika mereka melahirkan ada risiko penularan kepada bayi yang mereka lahirkan secara vertikal terutama pada saat persalinan dan menyusui dengan air susi ibu (ASI).

Judul yang bisa memberikan gambaran riil kepada masyarakat terkait dengan kasus 12 bayi yang disebut terpapar HIV/AIDS dari ibunya adalah: “12 Suami di Ciamis Tularkan HIV/AIDS ke Istrinya”. Judul ini memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat bahwa persoalan ada pada suami bukan pada istri.

Secara medis risiko penularan HIV/AIDS dari ibu-ke-bayi yang dikandung bisa ditekan sampai nol persen jika infeksi HIV/AIDS pada ibu-ibu itu terdeteksi di awal-awal kehamilan. Celakanya, tidak ada program yang komprehensif untuk mendeteksi HIV/AIDS pada ibu hamil.

Memang, ada anjuran agar ibu hamil menjalani tes HIV. Tapi, bisa saja ada yang menolak atau ibu-ibu yang tidak memeriksakan kehamilan ke fasilitas kesehatan pemerintah sehingga anjuran tes HIV tidak diberlakukan.

Disebutkan dalam berita: Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS Ciamis menggelar promosi bulan tes HIV pada ibu hamil dari 18 November-18 Desember 2020.

Anjuran untuk tes HIV kepada ibu hamil juga tidak mendukung program penanggulangan HIV/AIDS karena banyak suami yang menolak tes HIV ketika hasil tes HIV istrinya positif. Bahkan, ada suami yang justru menyalahkan istrinya dengan mengatakan si isteri selingkuh.

Suami-suami yang menolak tes HIV itu jadi mata ratnai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Maka, langkah yang arif dan bijaksana adalah mewajibkan suami dari ibu hamil jalani tes HIV. Nah, kalau suami positif baru istrinya tes HIV. Ini bisa dibuat dalam peraturan, seperti peraturan daerah (Perda) atau bentuk peraturan lain.

Bupati Ciamis, Dr H Herdiat Sunarya MM, mengajak semua pihak berkolaborasi memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya HIV/AIDS. Itu agar kasus HIV/AIDS tidak terus bertambah.

2. PSK Langsung dan PSK Tidak Langsung

Sosialisasi HIV/AIDS sudah dilakukan sejak awal epidemi tahun 1987, tapi karena informasi HIV/AIDS selalu dibalut dengan norma, moral dan agama yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah). Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan zina, selingkuh, pelacuran, dll.

Padahal, risiko tertular HIV melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (zina, selingkuh, pelacuran, dll.), tapi karena kondisi hubungan seksual (salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan suami atau laki-laki tidak memakai kondom). Ini fakta medis.

Dalam berita sama sekali tidak ada informasi tentang faktor risiko penularan HIV/AIDS di Ciamis. Salah satu pintu masuk HIV/AIDS adalah melalui laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja sek komersial (PSK).

PSK sendiri dikenal ada dua tipe, yaitu:

(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dll.

Pemkab Ciamis boleh-boleh saja menepuk dada dengan mengatakan: Di wilayah Kabupaten Ciamis tidak ada pelacuran!

Secara de jure itu benar karena sejak reformasi ada gerakan massal menutup lokalisasi pelacuran.

Tapi, secara de facto apakah Pemkab Ciamis bisa menjamin tidak ada transaksi seks di Ciamis? Tentu saja tidak bisa karena sekarang lokalisasi pelacuran sudah pindah ke media sosial.

Transaksi seks terjadi dalam berbagai modus melalui media sosial yang melibatkan PSK tidak langsung. Jika tidak ada intervensi terhadap laki-laki agar memakai kondom jika melakukan hubungan seksual dengan PSK, maka insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi.

Laki-laki yang tertular HIV akan jadi mata ratnai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Penyebaran HIV/AIDS di masyarakat bagaikan ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’ di Ciamis. * [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5fb5133a8ede484b7378a803/12-suami-di-kabupaten-ciamis-tularkan-hiv-aids-kepada-istrinya]. ***

15 November 2020

Menyesatkan Kaitkan Miras dengan Pintu Masuk HIV/AIDS

 

Ilustrasi (Sumber: kh.usembassy.gov).

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

“Minum minuman keras itu jelas tidak baik apalagi kalau kita lihat kaitannya dengan penyakit HIV AIDS, dimana seperti kita ketahui pintu masuknya adalah dari miras.” Ini pernyataan Sekjen MUIAnwar Abbas, dalam berita “Sebut Bahaya Miras Jadi Pintu Masuk HIV AIDS, MUI Dukung Penuh Penetapan RUU Minuman Beralkohol” di bogor.pikiran-rakyat.com, 13/11-2020.

Pernyataan ini juga dikutip oleh (13/11-2020): liputan6.com, jurnalpresisi.pikiran-rakyat.com, ayosurabaya.com, batamnews.co.id, news.detik.com, dan islamtoday.id; (12/11-2020): mediaaceh.com, dan aksi.id.

Pernyataan ini, sebut pintu masuk HIV/AIDS, menunjukkan pemahaman terhadap HIV/AIDS sebagai fakta medis adalah nol besar. Tampaknya, media memainkan isu ini sebagai bagian dari sensasi karena media telah kehilangan fungsi yaitu menyebarluaskan unsur pendidikan. Dalam berita-berita yang mengutip pernyataan tsb. tidak ada both side covering yaitu keterangan dari ahli tentang penyebutan “miras sebagai pintu masuk HIV/AIDS”.

Tidak kaitan antara miras, istilah untuk minuman beralkohol yaitu minuman keras, dengan penularan HIV/AIDS. Dalam jumlah yang bisa ditularkan virus (HIV) ada di darah (laki-laki dan perempuan) semen dan air mani bukan sperma (laki-laki), cairan vagina (perempuan) dan air susu ibu/ASI (perempuan).

Penularan HIV/AIDS melalui darah yaitu transfusi darah yang mengandung HIV, pemakaian alat-alat kesehatan yang bisa menyimpan darah (seperti jarum suntik), jarum suntik pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) yang dipakai secara bersama-sama dengan bergantian, dan cangkok organ tubuh.

Penularan HIV/AIDS melalui semen, air mani dan cairan vagina yaitu hubungan seksual penetrasi (seks vaginal, seks anal dan seks oral) tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dari yang mengidap HIV/AIDS ke pasangannya.

Penularan HIV/AIDS melalui ASI yaitu menyusui kepada seorang perempuan yang mengidap HIV/AIDS, seperti bayi dan yang yang lain.

Secara medis hanya tiga hal di atas yang jadi pintu masuk HIV/AIDS sehingga terang-benderang bahwa tidak ada kaitan miras dengan penularan HIV/AIDS.

Mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan miras akan merusak program penanggulangan HIV/AIDS karena jadi hal yang kontra produktif. Padahal, saat ini penyebaran HIV/AIDS di Indonesia merupakan yang tercepat ketiga di Asia setelah China dan India.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI,12 Agustus 2020, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun 1987 sampai 30 Juni 2020 sebanyak 522.304 yang terdiri atas 396.717 HIV dan 125.587 AIDS dengan 17.210 kematian.

Sebagai institusi keagamaan MUI dituntut bisa mendorong umat, khususnya umat Islam, agar tidak melakukan salah satu atau beberapa perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS di bawah ini, yaitu:

(1). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(2). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(3). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti (seperti perselingkuhan, perzinaan, dll.) karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(4). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan laki-laki yang berganti-ganti, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom (seperti perselingkuhan, perzinaan, dll.), karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(5). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan, seperti gigolo, dengan kondisi gigilo tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu dari gigolo itu mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(6). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), karena bisa saja salah satu dari PSK tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

PSK dikenal ada dua jenis, yaitu:

(a). PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti yang mangkal di tempat pelacuran (dulu disebut lokalisasi atau lokres pelacuran) atau mejeng di tempat-tempat umum, dan

(b). PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata. Mereka ini ‘menyamar’ sebagai anak sekolah, mahasiswi, cewek pemijat, cewek pemandu lagu, ibu-ibu, cewek (model dan artis) prostitusi online, dll. Dalam prakteknya mereka ini sama dengan PSK langsung sehingga berisiko tertular HIV/AIDS.

(7). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan waria karena ada waria yang sering ganti-ganti pasangan sehingga bisa jadi waria tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(8). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan waria heteroseksual (waria tidak memakai kondom). Dalam prakteknya waria ada yang heteroseksual sehingga menyalurkan dorongan seksual dengan perempuan. Bisa saja waria tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(9). Laki-laki dewasa biseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis dan sejenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan perempuan dan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu dari laki-laki atau perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(10). Laki-laki dewasa homoseksual yaitu gay (secara seksual tertarik pada sejenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

Hanya dengan langkah-langkah yang konkret penyebaran HIV/AIDS di masyarakat bisa dicegah bukan dengan pernyataan nyeleneh yang menyesatkan, seperti mengaitkan miras dengan pintu masuk HIV/AIDS, karena hal itu justru jadi kontra produktif dalam penanggulangan HIV/AIDS. * [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5fb1cd1f8ede482c6f4ecdb2/menyesatkan-kaitkan-miras-dengan-pintu-masuk-hiv-aids]. ***

14 November 2020

Penanggulangan Stigma HIV/AIDS di Kota Bandung Ada di Hilir

 

Ilustrasi (Foto: vovgiaothong.vn)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Jakarta - "Harapannya yang terlibat dalam kegiatan ini tetap konsisten dengan visi perjuangan menjadikan Kota Bandung unggul tanpa stigma.” Ini pernyataan Wakil Wali Kota Bandung, Jawa Barat, Yana Mulyana, dalam berita “KPA Bandung Gelar Pelatihan PenanggulanganHIV/AIDS” di Tagar, 5 November 2020.

Stigma yang dimaksud Yana adalah cap buruk atau negatif terhadap pengidap HIV/AIDS. Bagi Odha (Orang dengan HIV/AIDS) sebutan untuk pengidap HIV/AIDS stigma jadi masalah besar karena juga mendorong diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap mereka. Misalnya, menghadapi masalah ketika berobat ke fasilitas kesehatan yang berujung pada pengucilan dan perlakuan buruk lain.

Tapi, kalau yang diharapkan Yana dari kegiatan Pelatihan Organisasi Masyarakat Sipil dalam Penanggulangan HIV/AIDS yang diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung di Pangandaran, Jawa Barat, 4 November 2020, adalah penanggulangan epidemi HIV/AIDS di Bandung, maka bukan stigma yang jadi pusat perhatian.

Data Dinas Kesehatan Kota Bandung menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS dari tahun 1991 sampai dengan Juni 2020 sebanyak 5.434. Tapi, perlu diingat bahwa kasus yang terdeteksi, dalam hal ini 5.434, hanyalah sebagian kecil dari kasus HIV/AIDS di masyarakat. Hal ini terjadi karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es: kasus yang terdeteksi (5.434) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Maka, salah satu langkah penanggulangan HIV/AIDS adalah mendeteksi atau menemukan warga yang mengidap HIV/AIDS dengan cara-cara yang tidak melawan hukum dan tidak pula melanggar hak asasi manusia (HAM).

Sedangkan stigma ada di hilir yaitu terjadi pada Odha karena identitas mereka tersebar luas ke masyarakat. Itu artinya stigma terjadi kepada warga yang sudah tertular HIV/AIDS. Padahal, yang diutamakan dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah program berupa intervensi di hulu, antara lain menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual terutama dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan yaitu pekerja seks komersial (PSK).

Pemkot Bandung dan KPA Kota Bandung boleh-boleh saja menepuk dada dengan mengatakan: Di Kota Bandug tidak ada pelacuran!

Secara de jure itu benar karena sejak reformasi ada gerakan yang memakai moral sebagai pijakan untuk menutup lokalisasi pelacuran. Salah satu di antaranya adalah lokalisasi pelacuran Saritem di Kota Bandung yang sudah ditutup sebagai lokres (lokalisasi dan resosialisasi) pelacuran.

Tapi, secara de facto: Apakah Pemkot Bandung dan KPA Kota Bandung bisa menjamin di Kota Bandung tidak ada transaksi seks sebagai bentuk pelacuran?

Tentu saja tidak bisa! Soalnya, transaksi seks terjadi dengan berbagai modus melalui media sosial yang melibatkan PSK langsung dan PSK tidak langsung.

Baca juga: Lokalisasi Pelacurandari Jalanan ke Media Sosial

Dalam realitas sosial sekarang ini PSK dikenal dua tipe, yaitu:

(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dan PSK online.

Tanpa program penanggulangan yang konkret di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK, maka kasus baru HIV/AIDS akan terus bertambah. Laki-laki yang tertular HIV akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Hal ini terjadi karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik warga yang mengidap HIV/AIDS.

Salah satu indikasi yang faktual tentang penyebaran HIV/AIDS di masyarakat oleh laki-laki dewasa, dalam hal ini heteroseksual, adalah kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga. Jika ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS dari suaminya tidak terdeteksi, maka jika mereka hamil ada risiko penularan HIV/AIDS ke bayi yang mereka kandung, terutama pada saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Tanpa program yang konkret di hulu yaitu intervensi terhadap laki-laki dewasa agar mereka selalu memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK, maka insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi. Laki-laki yang tertular HIV/AIDS jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat sebagai ‘bom waktu’ yang kelak bermuta pada ‘ledakan AIDS’ di Kota ‘Kembang’ Bandung. [] (Sumber: https://www.tagar.id/penanggulangan-stigma-hivaids-di-kota-bandung-ada-hilir). *


12 November 2020

HIV/AIDS Bukan Penyakit

 

Ilustrasi (Sumber: nih.gov).

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Penyakit HIV/AIDS bisa ditularkan melalui beberapa cara .... Pernyataan ini ada dalam berita "Gejala dan Fase Penularan HIV/AIDS" di kompas.com, 9/11-2020.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI,12 Agustus 2020, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun 1987 sampai 30 Juni 2020 sebanyak 522.304 yang terdiri atas 396.717 HIV dan 125.587 AIDS dengan 17.210 kematian.

'Hari gini' kok masih saja ada informasi yang keliru tentang HIV/AIDS sebagai fakta medis karena informasi HIV/AIDS sudah banjir di dunia maya.

HIV/AIDS bukan penyakit, karena:

HIV adalah virus yang termasuk golongan retrovirus yaitu virus yang bisa menggandakan diri sendiri,

AIDS adalah kondisi seseorang yang tertular HIV yang terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV jika tidak meminum obat antriretroviral (ARV).

Sebagai terminologi penyebutan AIDS hanyalah istilah yang menunjukkan kondisi tubuh manusia yang sudah terinfeksi HIV. Sebenarnya, AIDS bukan penyakit (disease) tetapi merupakan suatu kumpulan daripada 70 kondisi lebih yang dapat terjadi pada diri seseorang yang sudah terinfeksi HIV (Pers Meliput AIDS, Syaiful W. Harahap, Pustaka Sinar Harapan/Ford Foundation, Jakarta, 2000, hal. 16).

Terkait dengan HIV/AIDS yang bisa ditularkan adalah HIV (Human Immunodeficiency Virus) sebagai virus bukan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) karena AIDS adalah kondisi.

Dalam jumlah yang bisa ditularkan HIV terdapat pada darah (laki-laki dan perempuan), semendan air mani (laki-laki), cairan vagina (perempuan) dan air susu ibu/ASI (perempuan).

Dalam berita disebutkan: Penyakit HIV/AIDS bisa ditularkan melalui beberapa cara, yakni:

  • Melalui hubungan seksual dengan ODHA
  • Penggunaan jarum suntik yang sama dengan ODHA
  • Melalui Air Susu Ibu (ASI) dari seorang ibu yang merupakan ODHA

Risiko penularan melalui donor darah serta transplantasi organ dari ODHA merupakan kewenangan pemerintah, dalam hal ini PMI, yang melakukan diskrining terhdap darah donor.

Sedangkan risiko melalui hubungan seksual persoalannya adalah orang-orang yang sudah tertular HIV tidak bisa dikenali dari fisiknya karena tidak ada gejala-gejala, tanda-tanda atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Artinya tidak bisa dipastikan apakah seseorang mengidap HIV/AIDS atau tidak, dalam berita disebut Odha (penulisan bukan dengan huruf kapital karena Odha bukan akronim tapi kata yang mengacu kepada Orang dengan HIV/AIDS).

Maka, pada epidemi HIV/AIDS yang dikenal adalah perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yaitu:
(1). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(2). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(3). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti (seperti perselingkuhan, perzinaan, dll.) karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(4). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan laki-laki yang berganti-ganti, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom (seperti perselingkuhan, perzinaan, dll.), karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(5). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan, seperti gigolo, dengan kondisi gigilo tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu dari gigolo itu mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(6). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), karena bisa saja salah satu dari PSK tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

PSK dikenal ada dua jenis, yaitu:

(a). PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti yang mangkal di tempat pelacuran (dulu disebut lokalisasi atau lokres pelacuran) atau mejeng di tempat-tempat umum, dan

(b). PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata. Mereka ini 'menyamar' sebagai anak sekolah, mahasiswi, cewek pemijat, cewek pemandu lagu, ibu-ibu, cewek (model dan artis) prostitusi online, dll. Dalam prakteknya mereka ini sama dengan PSK langsung sehingga berisiko tertular HIV/AIDS.

(7). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan waria karena ada waria yang sering ganti-ganti pasangan sehingga bisa jadi waria tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(8). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan waria heteroseksual (waria tidak memakai kondom). Dalam prakteknya waria ada yang heteroseksual sehingga menyalurkan dorongan seksual dengan perempuan. Bisa saja waria tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(9). Laki-laki dewasa biseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis dan sejenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan perempuan dan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu dari laki-laki atau perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(10). Laki-laki dewasa homoseksual yaitu gay (secara seksual tertarik pada sejenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.
 
Disebutkan pula dalam berita tentang gejala penularan HIV/AIDS yang dikutip dari situs World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), yaitu:

Mengalami demam tinggi serta sakit kepala.

  • Pada bagian kulit terdapat ruam.
  • Menderita sakit tenggorokan.
  • Merasa lemah dan cepat lelah.
  • Merasa gatal di seluruh bagian tubuh.

Gejala-gejala di atas hanya bisa dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS jika seseorang melakukan salah satu atau lebih dari 10 perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Kalau tidak pernah melakukan perilaku berisiko, maka gejala-gejala tsb. sama sekali tidak ada kaitanya dengan infeksi HIV/AIDS.

Yang jadi persoalan besar di Indonesia adalah perilaku berisiko laki-laki dewasa yaitu tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung atau dengan PSK tidak langsung. Itu artinya insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa akan terus terjadi yang pada gilirannya akan menyebar ke masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Penyebaran HIV/AIDS yang tidak terkontrol akan jadi 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5fab3b04d541df60d02e1612/hiv-aids-bukan-penyakit?page=all]. *

AIDS di Kabupaten Cirebon: Yang Miris Bukan HIV/AIDS pada Gay, Tapi pada Ibu Rumah Tangga

 

Ilustrasi (Sumber: nichd.nih.gov)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Miris, Kasus HIV/AIDS Kabupaten Cirebon Dominasi Kaum Gay. Ini judul berita di dara.co.id, 2/11-2020. Justu judul berita ini memang miris karena tidak menggambarkan realitas sosial tentang epidemic HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Dilaporkan jumlah kasus HIV/AIDS tahun lalu tedeteksi 297 kasus, sedangkan tahun ini sampai Oktober 2020 terdeteksi 210 kasus. Yang perlu diingat adalah kasus yang terdeteksi tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemic HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es.

Jumlah kasus yang dilaporkan digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut (lihat gambar).

Fenomena gunung es pada epidemi HIV/AIDS (Dok/Syaiful W. Haraha).
Fenomena gunung es pada epidemi HIV/AIDS (Dok/Syaiful W. Haraha).

Dalam berita disebutkan: Nanang [Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Nanang Ruhyana-pen.] mengaku miris karena penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon, 60 persen nya masih didominasi kaum Gay.

Yang jadi persoalan besar pada epidemi HIV/AIDS adalah jika ada ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS karena itu menggambarkan ada dua yang positif yaitu suaminya dan si istri. Lalu ada pula risiko penularan secara vertical dari ibu ke bayi yang dikandungnya terutama pada saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Yang bikin miris seorang suami, dalam hal ini heteroseksual dan bisa juga ada yang biseksual, jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan sekual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Penularan terjadi tanpa disadari karena tidak ada tanda-tanda atau ciri-ciri serta gejala-gejala yang khas HIV/AIDS pada orang-orang yang tertular HIV antara 5-15 tahun sejak tertular HIV.

Sebaliknya, HIV/AIDS pada gay adalah pada posisi terminal terakhir karena hanya ada di komunitas mereka. Penyebaran bisa terjadi hanya melalui laki-laki biseksual (secara seksual tertarik dengan perempuan dan laki-laki) yang punya pasangan gay.

Disebutkan pula: Nanang mengaku miris, karena penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon, 60 persen nya masih didominasi kaum Gay. Justru ini tidak miris karena tadi HIV/AIDS di kalangan gay ada di terminal terakhir karena gay tidak punya istri.

Persoalan besar pada epidemic HIV/AIDS adalah insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK). Di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon seks dengan PSK diplesetkan jadi 'esek-esek' sebagai eufemisme untuk menghaluskan istilah pelacuran, zina, dll.

PSK sendiri dikenal ada dua tipe, yaitu:

(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dll.

Secara empiris yang bisa diintervensi hanya pada PSK langsung yaitu memaksa laki-laki selalu memakai kondom, tapi praktek PSK harus dilokalisir. Celakanya, sejak reformasi ada gerakan massal berbalut moral menutup semua lokalisasi pelacuran.

Sedangkan PSK tidak langsung tidak bisa diintervensi karena transaksi seks terjadi melalui media social sembarang waktu dan sembarang tempat.

Pemkab Cirebon boleh-boleh saja membusungkan dada dengan mengatakan: Di Kabupaten Cirebon tidak ada pelacuran!

Secara de jure benar, tapi secara de facto apakah Pemkab Cirebon bisa mengabaikan transaksi seks yang melibatkan PSK tidak langsung? Tidak Bisa!

Itu artinya insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi pada laki-laki dewasa yang selanjutnya menyebarkan ke masyarakat melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, terutama ke istri yang selanjutnya ada pula risiko penularan ke bayi yang dikandung istrinya.

Jika Pemkab Cirebon tidak melakukan intervensi penanggulangan di hulu yaitu pada transaksi seks dengan PSK, maka penyebaran HIV/AIDS yang terjadi merupakan 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. * [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5fa21986d541df3be81f3402/aids-di-kabupaten-cirebon-yang-miris-bukan-hiv-aids-pada-gay-tapi-pada-ibu-rumah-tangga?page=all#section1]/ *


31 Oktober 2020

AIDS di Kota Sukabumi: Tidak Semua Alat Kontrasepsi Bisa Cegah Penularan HIV/AIDS

 

Ilustrasi (Sumber: timesofindia.indiatimes.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

"Kedua edukasi penggunaan alat kontrasepsi dalam hubungan seks salah satu cara memutus mata rantai." Ini pernyataan Wali Kota Sukabumi sekaligus Ketua KPA Kota Sukabumi, Jawa Barat, Achmad Fahmi, terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS dalam berita "Kasus Baru HIV-AIDS di Sukabumi Tetap Muncul Saat Pandemi" (republika.co.id, 27/10-2020).

Tentu saja pernyataan di atas tidak akurat karena tidak semua alat kotrasepsi (alat untuk mencegah kehamilan) bisa mencegah penularan HIV/AIDS, dalam hal ini melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah. Alat kontrasepsi yang dipakai di Indonesia adalah pil, suntikan, spiral (IUD) dan kondom.

Yang bisa mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, hanya kondom yaitu yang dipakai oleh laki-laki sehingga penis tidak bersentuhan langsung dengan vagina dan cairan vagina.

Dalam berita disebut: Sementara secara akumulatif kasus HIV-AIDS sejak 2000 hingga 2020 sebanyak 1.667. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah kasus yang terdeteksi, dalam hal ini 1.667, tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es.

Fenomena gunung es pada epidemi HIV/ADIS (Dok. Syaiful W. Harahap).
Fenomena gunung es pada epidemi HIV/ADIS (Dok. Syaiful W. Harahap).

Jumlah kasus yang terdeteksi, dalam hal ini 1.667, digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Maka, penanggulangan di hulu hanya bisa menurunkan insiden infeksi HIV baru, sekali lagi hanya bisa menurunkan, pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

PSK sendiri dikenal dua tipe, yaitu:

(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, dan cewek prostitusi online.

Intervensi terhadap laki-laki supaya memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual hany bisa dilakukan pada hubungan seksual dengan dengan PSK langsung dengan syarat praktek PSK langsung dilokalisir. Celakanya, sejak reformasi ada gerakan massal dengan nuansa moral yang menutup semua tempat pelacuran.

Itulah sebabnya sekarang pelacuran pindah ke media sosial yang melibatkan PSK tidak langsung sehingga tidak bisa diintervensi karena transaksi terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Selain itu langkah lain adalah menemukan kasus HIV/AIDS di masyarakat dengan cara-cara yang tidak melawan hokum dan melanggar hak asasi manusia (HAM).

Disebutkan pula: Keempat bagaimana mempermudah akses penderita mendapatkan layanan dalam hal pengobatan HIV-AIDS.

Pengobatan adalah langkah penanggulangan di hilir. Sebelum seorang warga mendapatkan pengobatan dia sudah menularkan HIV/AIDS, misalnya, kalau seorang sumai menularkan ke istri (horizontal) atau pasangan seks lain, seperti selingkuhan, pacar, dll. Yang tidak beristri menularkan ke pasangan seks, seperti pacar atau PSK.

Dengan kondisi seperti sekarang adalah hal yang sulit menekan jumlah kasus baru HIV/AIDS karena tidak ada yang bisa dilakukan di hulu. Itu artinya insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa, melalui hubungan seksual dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung akan terus terjadi sehingga penyebaran HIV/AIDS di masyarakat bagaikan 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5f9d1589d541df10c64e6e12/aids-di-kota-sukabumi-tidak-semua-alat-kontrasepsi-bisa-cegah-penularan-hiv-aids?page=all#section1]. ***

Tanpa Pasal yang Konkret, Perda AIDS Sumatera Utara Kelak Akan Sia-sia

 

Aktivis membentuk pita merah sebagai simbol kampanye dunia melawan AIDS di Rusia, 2010 (Sumber: theconversation.com/Vladimir Konstantinov/Reuters)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) bekerjasama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara (DPRDSU) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terkait Program Penyusunan Naskah Akademik dan Rancangan Peraturan Daerah Inisiatif DPRDSU tentang Penanggulangan HIV/AIDS di Sumatera Utara. Ini lead di berita "UISU dan DPRD Sumut FGD Tentang HIV/AIDS", harianandalas.com, 23/6-2020.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 12 Agustus 2020, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Sumut dari tahun 1987 sampai Juni 2020 mencapai 24.696 yang terdiri atas 20.456 HIV dan 4.240 AIDS. Jumlah ini menempatkan Sumut di peringkat ke-7 nasional dalam jumlah kumulatif HIV/AIDS.

Di Indonesia peraturan daerah (Perda) tentang penanggulangan HIV/AIDS sudah ada 134 yaitu 23 perda provinsi, 85 perda kabupaten dan 28 perda kota. Sedangkan di Sumatera Utara ada 3 perda yaitu dan Kabupaten Serdang Bedagai (2006), Kota Tanjung Balai (2009), dan Kota Medan (2012).

Perda-perda itu hanya copy-paste dan hanya berisi pasal-pasal normatif yang tidak menukik ke akar persoalan. Ini terjadi karena Perda-perda AIDS di Indonesia mengekor ke ekor program penanggulangan HIV/AIDS di Thailand.

Baca juga: Perda AIDS di Indonesia: Mengekor ke Ekor Program Penanggulangan AIDS Thailand

Program penanggulangan HIV/AIDS di Thailand dikenal dengan program 'wajib kondom 100 persen' bagi laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran dan rumah bordil atau cakela.

Secara berkala PSK dites IMS (infeksi menular seksual, seperti sifilis/raja singa, kencing nanah/GO, virus hepatitis B, klamdia, jengger ayam, dll.). Jika ada PSK yang terdeteksi mengidap IMS, maka mucikari atau germo menerima sanksi yang sudah disepakati secara hokum yaitu mulai dari teguran, peringatan sampai pencabutan izin usaha. Hal ini dilakukan karena sudah terbukti germo membiarkan laki-laki seks dengan PSK tanpa memakai kondom.

Nah, di Indonesia Perda menghukum PSK. Ini yang konyol karena 1 PSK dibui ada ratusan PSK yang akan mengisi tempat PSK yang dihukum itu. Germo pun selalu membela pelanggan dengan membiarkan tidak pakai kondom jika PSK meminta laki-laki pakai kondom ketika hubungan seksual.

Baca juga: Perda AIDS Merauke (Hanya) 'Menembak' PSK

Tiga Perda AIDS yang ada di Sumut juga sami mawon atau setali tiga uang. Pasal-pasal tidak menukik ke pencegahan penularan HIV/AIDS secara faktulan karena normatif.

Baca juga: (1) Perda AIDS Kab Serdang Bedagai, Sumut: Penggunaan Kondom 100 Persen Tanpa Pemantauan, (2) Menyibak Perda AIDS Kota Tanjungbalai, Sumut, dan (3) Pasal-pasal Normatif Penanggulangan HIV/AIDS di Perda AIDS Kota Medan

Maka, jika DPRD Sumut menyusun rancangan perda (Raperda) tentang penanggulangan HIV/AIDS ada beberapa poin yang harus diperhatikan, yaitu pintu masuk HIV/AIDS ke masyarakat. Tanpa ada pasal yang bisa menutup pintu masuk ini dengan cara-cara yang realistis, maka penyebaran HIV/AIDS di Sumut akan terus terjadi.

Pintu masuk HIV/AIDS yang harus ditangani dengan pasal-pasal konkret di Perda yaitu:

(1). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(2). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(3). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti (seperti perselingkuhan, perzinaan, dll.) karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(4). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan laki-laki yang berganti-ganti, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom (seperti perselingkuhan, perzinaan, dll.), karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS;

(5). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan, seperti gigolo, dengan kondisi gigilo tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu dari gigolo itu mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

(6). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), karena bisa saja salah satu dari PSK tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

PSK dikenal ada dua jenis, yaitu:

(a). PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti yang mangkal di tempat pelacuran (dulu disebut lokalisasi atau lokres pelacuran) atau mejeng di tempat-tempat umum, dan

(b). PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata. Mereka ini 'menyamar' sebagai anak sekolah, mahasiswi, cewek pemijat, cewek pemandu lagu, ibu-ibu, cewek (model dan artis) prostitusi online, dll. Dalam prakteknya mereka ini sama dengan PSK langsung sehingga berisiko tertular HIV/AIDS.

(7). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan waria karena ada waria yang sering ganti-ganti pasangan sehingga bisa jadi waria tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

Sebuah studi di Surabaya awal tahun 1990-an menunjukkan laki-laki pelanggan waria umumnya laki-laki beristri. Ketika seks dengan waria mereka justru jadi 'perempuan' (dalam bahasa waria ditempong atau di anal) dan waria jadi 'laki-laki' (dalam bahasa waria menempong atau menganal).

(8). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan waria heteroseksual (waria tidak memakai kondom). Dalam prakteknya waria ada yang heteroseksual sehingga menyalurkan dorongan seksual dengan perempuan. Bisa saja waria tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

(9). Laki-laki dewasa biseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis dan sejenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan perempuan dan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu dari laki-laki atau perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

(10). Laki-laki dewasa homoseksual yaitu gay (secara seksual tertarik pada sejenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko terjadi penularan HIV/AIDS.

Dari 10 pintu masuk HIV/AIDS hanya satu yang bisa diintervensi yaitu poin 6 b dengan syarat praktek PSK dilokalisir. Celakanya, sejak reformasi ada gerakan massif dengan latar belakang moral menutup semua tempat pelacuran. Akibatnya, pelacuran pun pindah ke jalanan dan sekarang bermigrasi pula ke media sosial yang dikenal dengan prostitusi online.

Adalah hal yang mustahil melakukan intervensi terhadap prostitusi online agar laki-laki selalu memakai kondom karena transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Lagi pula cewek-cewek prostitusi online tidak kasat maka itu sebabnya mereka disebut PSK tidak langsung.

Jika kelak Perda AIDS Sumut tidak mempunyai program yang konkret untuk menutup pintu masuk HIV/AIDS, maka penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, terjadi tanpa disadari yang jadi 'bom waktu' kelak akan bermuara pada 'ledakan AIDS'. * [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5f9a28d58ede48439212b002/tanpa-pasal-yang-konkret-perda-aids-sumatera-utara-kelak-akan-sia-sia?page=all]. ***