15 September 2014

Jika (Calon) Istri Menyembunyikan Status HIV/AIDS Yang ‘’Disandangnya’’ Kepada (Calon) Suaminya


Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

“Perempuan positif HIV rentan mengalami kekerasan karena dianggap memiliki posisi tawar yang rendah. Atas dasar itu, pemerintah seharusnya mewajibkan tes HIV pada pasangan yang ingin menikah agar kekerasan tersebut dapat dicegah.” Ini lead pada berita “Cegah Kekerasan, Pemerintah Seharusnya Wajibkan Tes HIV Sebelum Menikah” (detikHealth, 5/9-2014).

Sayang, lead berita ini tidak dalam tanda petik sebagai kutipa sehingga ada kemungkinan lead ringkasan tsb. berpijak pada pernyataan Melly Windi Lianti, Program Manager Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI).

Yang menjadi pertanyaan dari lead berita tsb. adalah: Apakah status HIV istri diketahui setelah mereka menikah?

Konseling Pranikah

Kalau jawabannya YA, maka pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah suaminya juga menjalani tes HIV? Kalau jawabannya TIDAK, maka yang menjadi persoalan bukan tes sebelum menikah.

Jika status HIV istri diketahui suami sebelum merka menikah, maka tidak ada alasan bagi suami untuk melakukan kekerasan.

Persoalannya adalah: Apakah dilakukan konseling yang komprehensif ketika mereka akan menikah?

Dari beberapa kasus yang ditangani oleh sebuah institusi terkait dengan pernikahan yang melibatkan Odha (Orang dengan HIV/AIDS) menunjukkan tidak ada masalah yang timbul setelah mereka menikah. Bisa salah satu Odha, ada juga yang dua-duanya Odha. Ini terjadi karena ada konseling yang komprehensif sejak mereka menyatakan tertarik satu sama lain.

Ini pernyataan Melly: “Kamu kan positif HIV, siapa lagi yang mau sama kamu?”

Perkataan seperti itu, menurut Melly, menyudutkan perempuan, sehingga mereka akan menerima saja kekerasan yang dilakukan setelah menikah. Ini terjadi karena suami tidak tahu kondisi HIV istrinya sebelumnya.

Kondisi itu menunjukkan tidak ada konseling yang komprehensif karena si calon istri sendiri justru menyembunyikan status HIV-nya.

Cara yang dilakukan istri justru bertolak belakang dengan program penanggulangan HIV/AIDS dengan motto: Menghentikan penularan HIV mulai dari diri sendiri. Ini merupakan kontra produktif terhadap penanggulangan HIV/AIDS.

Ada pula pernyataan: “Hal itu lumrah terjadi karena pada dasarnya suami merasa takut tertular HIV oleh istrinya.”

Pernyataan ini tidak adil dan tidak akurat karena fakta menunjukkan justru istri yang banyak tertular HIV dari suami.

Lagi pula, apakah istri tidak takut tertular HIV dari suaminya?

Fakta menunjukkan banyak suami yang tidak mau menjalani tes HIV ketika istrinya terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Suami justru menuduh istrinya yang selingkuh. Bahkan, penelitian di Jakarta Utara menunjukkan ada suami yang  memukul istrinya karena terdeteksi mengidap IMS (infeksi menular seksual) karena suami menuduh istri yang selingkuh.

Pernyataan IPPI itu benar-benar tidak masuk akal. Yang membuat pertanyaan perempuan yaitu Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), tapi justru menohok perempuan dengan menempatkan perempuan sebagai pelengkap-penderita. Itu artinya IPPI tidak mempunyai sikap empati terhadap kaumnya.

Suami Tertular HIV

Menurut Melly, jika tes HIV menjadi kewajiban untuk dilakukan sebelum menikah, rasa kaget, shock atau takut yang muncul dapat berkurang sehingga kekerasan yang terjadi juga dapat dicegah.

Pernyataan Melly lagi-lagi tidak bernalar.

Pertama, apa yang akan terjadi kalau ternyata yang positif HIV adalah calon suami?

Apakah pernikahan dilanjutkan dan apakah ada jaminan suami tidak akan menularkan HIV ke istri?

Kedua, apa yang akan terjadi kalau status HIV istri terdeteksi setelah menikah?

Bagaimana jika suami menuduh istrinya yang selingkuh dan suami sendiri tidak mau menjalani tes HIV?

Ketiga, apakah ada jaminan istri tidak mengalami kekerasan jika istri terdeteksi mengidap HIV setelah menikah?

Maka, tes HIV sebelum menikah adalah pekerjaan yang sia-sia. Menggantang asap! (Lihat: TesHIV Sebelum Menikah Bisa Jadi Bumerang).


Selain itu perlu pula diperhatikan masa jendela ketika calon pengantin menjalani tes HIV karena jika tes HIV pada masa jendela hasil tes bisa HIV negatif palsu (HIV ada di dalam darah tapi hasil tes nonreaktif) atau HIT positif palsu (HIV tidak ada di dalam darah tapi hasil tes reaktif).

Soalnya, tes HIV bukan vaksin. Artinya, biar pun satu pasangan HIV-negatif ketika tes HIV sebelum menikah itu bukan jaminan suami terutama tidak akan tertular HIV lagi selama pernikahan (Lihat gambar).

Bisa saja suami tertular HIV al. jika:

(a) pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS, atau

(b) pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), karena ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang dilayani PSK tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga PSK tsb. berisiko tertular HIV/AIDS.

Disebutkan oleh Melly: “ .... Kalau dijadikan mandatory (maksudnya tes HIV-pen.), tentunya penularan akan berkurang karena pasangan dapat mengambil langkah-langkah perencanaan terlebih dahulu.”

Bagaimana kalau salah satu pasangan tsb., terutama suami, tertular HIV setelah menikah?

Jika yang terdeteksi duluan istri, maka ada kemunginan suami akan menuduh istrinya yang melakukan perilaku berisiko, al. disebutkan selingkuh.

Maka, tes HIV yang diwajibkan sebelum menikah tidak ada gunanya. Bahkan, status HIV suami sebelum menikah bisa jadi senjata untuk menyudutkan istrinya jika terdeteksi mengidap HIV/AIDS dengan mengatakan bahwa istrinya yang selingkuh.

Menteri Kesehatan, dr Nafsiah Mboi, SpA, MPH, mengatakan, jumlah perempuan yang terinfeksi HIV dari tahun ke tahun terus bertambah. Kalau di tTahun 2012 terdeteksi 9.318 perempuan yang terinfeksi HIV, di tahun 2013 jumlahnya mencapai 12.279. Tahun ini sampai Juni 2014 terdeteksi 6.528 kasus HIV baru perempuan sehingga jumlah perempuan yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mencapai 18.807 (tribunnews.com, 9/9-2014).

Itu artinya wajib tes HIV sebelum menikah lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. ***

09 September 2014

Tanpa Intervensi Penyebaran HIV/AIDS Kepada Ibu Rumah Tangga Akan Terus Terjadi


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

“ .... para wanita PSK lebih menyadari akan bahaya tertular virus HIV. Mereka pun melakukan pencegahan dengan menggunakan kondom saat berhubungan seks.” Ini pernyataan Program Manager Ikatan Perempuan Positif Indonesia, Melly Windi Lianti dalam berita “Ini Yang Membuat Ibu Rumahtangga Lebih Rentan Ketularan AIDS Ketimbang PSK” (tribunnews.com9/9-2014).

Melly menyampaikan pernyataan tsb. terkait dengan pendapat dia bahwa ibu rumah tangga ternyata lebih rentan terjangkit HIV dibanding pekerja seks komersial (PSK). Kasus yang terjadi pada mereka adalah karena tertular HIV dari suaminya.

Ada beberapa fakta yang terkait dengan soal tsb., tapi tidak muncul ke permukaan dan cenderung digelapkan.

Pertama, biar pun PSK menydari risiko tertular HIV tapi tidak semua PSK mempunyai posisi tawar yang kuat untuk memaksa laki-laki memakai kondom ketika berhubungan seksual.

Kedua, biar pun ada PSK yang hanya melayani laki-laki yang memakai kondom tapi mereka justru melayani pasangannya sebagai pacar, suami, dll. tanpa memakai kondom.

Ketiga, yang memakai kondom bukan PSK tapi laki-laki yang membeli seks kepada PSK tsb.

Persoalan yang sangat mendasar mengapa disebut jumlah ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS lebih banyak daripada PSK.

Seorang PSK rata-rata melayani 3 laki-laki setiap malam. Ada kemungkinan di antara laki-laki itu ada suami. Itu artinya satu malam saja ada 3 suami yang berisiko tertular HIV dan kalau mereka terular dari PSK maka mereka pun menularkan HIV ke istrinya. Bisa juga ke perempuan lain dalam bentuk hubungan pacar gelap, simpanan, teman ‘kumpul kebo’, dll.

Dari gambar jelas ditunjukkan bahwa 1 PSK melayani 3 laki-laki. Maka, biar pun ada 3 laki-laki yang mengidap HIV/AIDS mereka hanya menularkan ke satu PSK. Sebaliknya, 1 PSK yang mengidap HIV/AIDS menularkan HIV ke 3 laki-laki. Ini satu PSK dan satu malam. Kalau 1.000 PSK dan 1 bulan tentulah ada 60.000 laki-laki yang berisiko tertular HIV/AIDS setiap bulan (1.000 PSK x 3 laki-laki/malam x 20 hari/bulan).

Fakta di atas menunjukkan jumlah ibu rumah tangga atau istri yang berisiko tertular HIV akan lebih banyak daripada PSK.

Maka, tidak pada tempatnya mengatakan bahwa ibu rumah tangga lebih banyak tertular HIV daripada PSK karena PSK sudah aware (meminjam istilah Melly).

Fakta lain tentang jumlah pengidap HIV pada ibu rumah tangga dan PSK adalah ada kebijakan untuk melakukan tes HIV terhadap ibu hamil. Sedangkan survailans tes HIV terhadap PSK jarang sekali dilakukan. Kondisi ini membuat jumlah ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV akan lebih banyak daripada PSK.

Disebutkan lagi oleh Melly: "Fenomenanya kini lebih banyak pada ibu rumah tangga karena mereka merasa tidak punya risiko HIV. .... ,"  

Dalam berita disisipkan data ini: Data terakhir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) disebutkan jumlah ibu runah tangga yang mengidap HIV/AIDS 6.230, sedangkan jumlah PSK pengidap HIV/AIDS 2.021 (1987-2013).

Pertanyaan untuk data di atas: (a) Berapa jumlah ibu rumah tangga yang menjalani tes HIV, (b) Berapa jumlah PSK yang menjalani tes HIV?, (c) Bagaimana tes HIV dijalankan terhadap ibu rumah tangga?, dan (d) Bagaimana pula tes HIV dijalankan terhadap PSK?

Ada di antara ibu-ibu rumah tangga yang memahami risiko tertular HIV karena mereka juga tahu persis perilaku seksual suami di luar rumah. Persoalannya adalah tidak ada dalil atau hukum yang bisa membela istri yang meminta suami pakai kondom ketika sanggama kalau si suami berperilaku berisiko.

Bahkan, pemahaman agama yang sangat dogmatis menempatkan istri sebagai sub-ordinat dari suami sehingga istri tidak punya posisi tawar untuk bertanya kepada suami tentang perilaku seksualnya di luar rumah. Nah, bertanya pun tidak punya hak apalagi meminta suami pakai kondom.

Pada kondisi-kondisi tertentu suami diposisikan punya hak untuk ‘memukul’ istri yang dianggap melawan.

Disebtukan lagi: “Para ibu rumah tangga ini umumnya terlambat mengetahui telah tertular HIV karena tidak melakukan pemeriksaan sebelumnya.”

Di Indonesia tidak ada program yang sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil. Yang ada hanya kebijakan-kebijakan lokal yang menganjurkan ibu hamil untuk konseling dan seterusnya tes HIV.

Maka, yang diperlukan adalah langkah konkret dari negara, dalam hal ini pemerintah, yaitu intervensi melalui regulasi yang ketat dan pemantauan yang konkret.

Intervensi yang bisa menurunkan insiden infeksi HIV pada laki-laki dewasa adalah program ‘wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Persoalannya adalah program itu hanya efektif  jika pelacuran dilokalisir. Celakanya, pelacuran di Indonesia tidak ada yang dilokalisir berdasarkan regulasi.

Kondisi itu membuat insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa akan terus terjadi yang akan berujung pada ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dan terakhir pada anak-anak yang mereka lahirkan dengan HIV/AIDS. ***

31 Agustus 2014

Mahasiswa Ini Mimpi Dihantui HIV/AIDS Setelah Ngeseks dengan “Ayam Kampus”

Tanya Jawab AIDS No 7/Agustus 2014

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: Dua bulan yang lalu saya baru saja melakukan tindakan berisiko yaitu melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan “ayam kampus (mahasiswi). Itu hubungan seksual yang pertama kali saya lakukan.

Sekarang saya demam dan tidak enak badan. Saya takut ketularan HIV. Saya takut kalau tertular HIV saya tidak punya harapan lagi. Saya menyesal karena waktu itu si cewek ngerayu saya biar tidak pakai kondom. Waktu itu nafsu menutupi akal sehat saya padahal saya tahu itu berisiko dan berbahaya.

Saya takut dan sering mimpi buruk dihantui HIV. Sampai saya menangis saking takutnya. Saya benar-benar takut.

“X” mahasiswa PTN di sebuah kota di P Jawa, via Inbox Facebook (30/8-2014)

Jawab: Pertama, probabilitas penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan yang mengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kemungkinan terjadi penularan. Persoalannya adalah tidak bisa dipastikan pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan HIV. Bisa yang pertama, kedua, ketujuh, kedua puluh, ketujuh puluh, bahkan yang keseratus. Itu artinya setiap hubungan seksual tanpa kondom, al. dilakukan dng pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering ganti-ganti pasangan selalu ada risiko tertular HIV.

Kedua, “ayam kampus” tsb. adalah perempuan yang berisiko karena dia melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa jadi salah satu laki-laki yang pernah ngesek dengan “ayam kampus” mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko “ayam kampus” tsb. tertular HIV.

Dua hal di atas yang menjadi persoalan bagimu karena terkait dengan risiko tertular HIV.

Ketiga, tidak ada gejalan-gejala yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Tapi, jika demam pada orang yang tidak mengidap HIV/AIDS sembuh sepekan, misalnya, maka pada orang yang mengidap HIV/AIDS  demam yang sama bisa lebih lama baru sembuh.

Keempat, seseorang terdeteksi mengidap HIV/AIDS bukan akhir dari segalanya karena HIV/AIDS tidak mematikan. Yang menyebabkan kematian pada pengidap HIV/AIDS adalah penyakit-penyakit yang muncul di masa AIDS (setelah tertular antara 5-15 tahun), seperti diare, TB, dll.

Kelima, ada obat antiretroviral (ARV) yang menahan laju perkembangbiakan virus di dalam darah. Obat ARV tidak otomatis diminum orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS karena ada ketentuan medis. Obat ini gratis.

Keenam, untuk mengatasi ketakutanmu silakan konseling dengan konselor yang akan saya kirimkan nama dan nomornya melalui inbox di Facebook.

Kalau untuk tes HIV perlu menunggu karena harus lebih dari tiga bulan dari ngeseks berisiko yang terakhir. ***


30 Agustus 2014

Berperilaku Menyimpang, Suami istri di Penajam, Kaltim, Terinfeksi HIV

Penajam Paser Utara, aidsindonesia.com, (30/8-2014) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menemukan sepasang suami istri dari Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, yang terinfeksi HIV. Pengelola Program HIV/AIDS Dinkes Kabupaten Penajam Paser Utara, Ponco Waluyo, mengatakan temuan pasutri terinfeksi HIV itu berawal dari pemeriksaan terhadap seorang ibu rumah tangga di Rumah Sakit Kanujoso Djatowibowo (RSKD) Balikpapan.

"Ternyata, ibu itu positif terinfeksi HIV, lalu kami melakukan pemeriksaan terhadap suami dan kedua anaknya dan hasilnya suaminya juga positif terinfeksi HIV, tetapi kedua anaknya tidak terinfeksi HIV," kata Ponco Waluyo seperti dikutip dari Antara, Sabtu (30/8).

Ponco Waluyo mengaku belum bisa memastikan penyebab terinfeksinya sang suami, namun pengakuannya memang saat masih muda berperilaku menyimpang. Ia diduga melakukan seks bebas atau narkoba.

"Tapi, hal itu baru sebatas dugaan karena yang bersangkutan hanya memberikan keterangan pada kami bahwa perilakunya pernah menyimpang dan tidak menjelaskan secara rinci," ujarnya.

Sang istri, lanjut dia, sebelumnya sudah dirawat di RSKD Balikpapan, namun setelah keadaan sudah membaik akhirnya diperbolehkan pulang.

"Suaminya tidak sempat dirawat karena kondisinya tidak parah serta tidak ada gejala lain yang menyertai dan tetap bisa bekerja sehingga kami hanya melakukan perawatan jalan," ujarnya.

Saat ini, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Penajam Paser Utara menjadi 23 orang dan semuanya dalam kondisi baik karena setiap bulan Dinas Kesehatan selalu mengontrol kondisi para ODHA dan memberikan obat.

"ODHA tersebut adalah laki-laki sebanyak 11 orang dan perempuan 12 orang. Penderita paling banyak di Kecamatan Penajam ada 13 orang, di Sepaku empat orang, tiga penderita di Kecamatan Babulu serta di Kecamatan Waru ada tiga orang," ungkap Pnco Waluyo. (merdeka.com).

26 Agustus 2014

Penderita HIV di Pekanbaru Kebanyakan Kaum Ibu

Pekanbaru, baranews.co Ibu rumah tangga ternyata menjadi kelompok yang paling rentan terserang HIV AIDS. Bahkan, dari ratusan pengidap penyakit mematikan itu di Kota Pekanbaru, kebanyakannya adalah ibu rumah tangga.

Fakta ini tentu saja menimbulkan perhatian serius dari sejumlah pihak. Karena, sebagai ibu rumah tangga yang kebanyakan aktivitasnya di dalam keluarga, semestinya bukan menjadi orang yang rentan terjangkit HIV AIDS.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Pekanbaru, Helda S Munir kepada Tribun, Senin (16/6/2014), dari data yang mereka miliki, pengidap HIV di Pekanbaru sudah mencapai 558 orang. Sementara pengidap AIDS sebanyak 571 orang. "Dari data yang masuk ini terbesar adalah dari kelompok ibu rumah tangga. Artinya mereka yang tidak bekerja di luar rumah," tuturnya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Karena kalau mereka jadi Orang dengan HIV AIDS (ODHA), maka akan beresiko terhadap anak-anaknya.

Ditanya bagaimana para ibu rumah tangga itu bisa tertular, Helda menjelaskan bahwa bisa jadi ketika tranfusi darah. Atau malah ditularkan oleh suami mereka. Hanya saja, kaum pria kebanyakan enggan memeriksakan kesehatannya. Sementara, kaum ibu mengetahui terkena HIV AIDS ketika memeriksakan kesehatan diri.

Dilanjutkannya, kecenderungan, masih sedikit laki-laki yang melakukan tes kesehatan. Karena itu, dengan kesadaran akan bahaya HIV AIDS, para laki-laki harus memiliki kemauan sendiri untuk diperiksa. Menurut Helda, kelompok yang rentan terjangkit virus ini adalah yang berusia 15-49 tahun.

Karena itu, kemarin Diskes bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pekanbaru untuk mensosialisasikan bahayanya penyakit itu ke Pegawai Negeri Sipil (PNS). Diharap, lewat sosialisasi ini PNS mengerti apa itu HIV dan AIDS. Lalu tahu bagaimana memperlakukan ODHA dan gencar menginformasikan ke masyarakat sekitar terkait bahaya-bahayanya.

Hal senada disampaikan Master trainers Kementerian Kesehatan, dr Evalina yang juga narasumber dalam kegiatan ini. Menurutnya, orang yang terjangkit HIV biasanya tidak serta merta mau mengakui kondisi dirinya. Karena dampak sosialnya banyak.

Oleh karena itu, semua yang terjangkit HIV AIDS haruslah ditopang orang disekitarnya. Karena tak semuanya pengidap penyakit itu diakibatkan perilaku mereka. Tapi bisa jadi dari faktor lain.

Di masyarakat, ada beberapa hal juga yang perlu didobrak. Misalnya, masih ada kaum ibu yang ingin memeriksakan diri ke Puskesmas harus izin suami. Padahal hal itu jelas bisa menjadi kendala dalam menekan angka penderita HIV AIDS.

Ketua Harian KPA yang juga Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi SSi menjelaskan, tugas KPA diantaranya mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan angota KPAK Pekanbaru, mengadakan kerjasama regional dalam rangka penanggulangan HIV AIDS, menyebarluaskan informasi mengenai HIV dan AIDS kepada aparat serta masyarakat.


Hanya saja, untuk menekan angka HIV AIDS, terkadang mengalami hambatan. Diantaranya, masih ada anggapan tabu membicarakan HIV AIDS di kalangan masyarakat. Padahal, seharusnya mereka jangan tabu membicarakan ini. "Dari pada belajar sendiri sebaiknya. (Laporan wartawan Tribunpekanbaru.com/Hendra Efivanias/tribunnews.com/bh).

Lebih dari 80 Orang di Tanjung Jabung Barat, Jambi, Mengidap HIV/AIDS

Kuala Tungkal, baranews.co (5/7-2014) - Praktik prostitusi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) masih menjadi masalah serius harus ditekan oleh seluruh pihak. Terutama selama Ramadan semua pihak harus mengantisipasi praktik tersebut, jangan sampai kesucian Ramadan dinodai.

"Hal ini bisa dilakukan dengan razia ke lokasi-lokasi yang selama ini diketahui sebagai sarang praktik prostitusi," kata Ketua GP Ansor Tanjab Barat, Suhery Abdullah kepada Tribun Jambi (Tribunnews.com Network), Jumat (4/7/2014).
Sangat disayangkan komitmen bersama yang pernah dibuat oleh berbagai instansi beberapa waktu lalu, sejauh ini seolah jalan di tempat, alias tanpa realisasi signifikan.

"Dulu waktu hangat-hangat berita masalah prostitusi pelajar, semua instansi bikin komitmen untuk memberantas, baik pemerintah maupun penegak hukum. Tapi sekarang faktanya tidak ada, sekarang malah diam," singgung Hery.

Sebagai pimpinan organisasi yang aktif melakukan advokasi pencegahan HIV/AIDS, Hery mengaku praktik ini masih sangat marak.

Kekhawatiran atas efek negatif yang muncul pun menyeruak. Menurutnya dari data terakhir didapat, lebih dari 80 orang warga Tanjabbar terserang HIV/AIDS, beberapa di antaranya meninggal dunia. Kalau tidak ada penekanan, bukan tak mungkin virus mematikan ini tersebar semakin luas.

"80 orang lebih itu yang berhasil didata, berapa banyak yang takut ikut VCT sehingga tak terdata, artinya bisa jadi sekarang pengidap HIV di Tanjabbar lebih dari 80 orang," terang dia.

Selain harus intens melakukan penekanan secara taktis, secara strategis, Pemkab menurutnya harus mulai memberdayakan kiai di kampung-kampung, untuk aktif melakukan pendidikan moral kepada anak-anak. Karena di sanalah langkah awal untuk menciptakan karakter bermoral bagi anak-anak.

"Sekarang praktik ini sudah menyebar ke kalangan pelajar. Dan kita ketahui di pendidikan umum, hanya berapa persen menaungi masalah pendidikan moral, tidak signifikan. Karena itu penting untuk memberdayakan kiai di lingkungan warga," paparnya.

Himpunan Alumni Pesantren (HIMAP), menurutnya bisa digunakan untuk memulai lagi budaya pendidikan madrasah di tengah-tengah masyarakat.


"Sekarang pendidikan madrasah atau pengajian dalam wadah Remaja Islam Masjid (Risma) kan redup, karena kurang disentuh oleh pemerintah. Nah sekarang dalam kondisi yang emergency pemerintah harus cepat turun tangan," Hery Abdullah. (zha/tribunnews.com)

Indonesia Sumbang Empat Persen Infeksi Baru HIV di Dunia

Jakarta, aidsindonesia.com (19/7-2014) - The Joint United Nation Program onHIV/AIDS (UNAIDS) mencatat Indonesia masih mempunyai rapor merah dalam penanggulangan AIDS.

Badan PBB yang bertanggung jawab mengurusi program penanggulangan AIDS ini baru saja mendapat laporan “GAP Report”. Isinya terkait kemajuan program penanggulangan AIDS secara global.

Dalam lembar faktanya, mereka menyoroti keprihatinan terhadap Indonesia. Kasus infeksi baru telah meningkat sebesar 47 persen sejak tahun 2005.

Dilihat dari proporsi angka infeksi baru, Indonesia masuk peringkat 8 besar dunia dengan angka infeksi baru HIV terbesar dengan menyumbang empat persen angka infeksi baru HIV di dunia.

Bahkan, data ini berlawanan dengan data yang menyebutkan negara-negara seperti India, Cambodia, Thailand dan Myanmar telah berhasil menurunkan angka infeksi baru.


Salah satu penyebab dari masih tingginya angka kematian terkait AIDS di Indonesia ini adalah karena masih rendahnya cakupan terapi obat ARV bagi ODHA (Orang dengan HIV).

Laporan ini mencatat bahwa cakupan pengobatan ARV pada ODHA baru sebesar 8 persen dari total orang yang terinfeksi HIV.

Di aspek hak asasi manusia, Indonesia bersama beberapa negara masih disoroti karena mencatat bahwa praktik sterilisasi paksa pada perempuan dengan HIV masih terjadi.

Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) mengatakan bahwa pekerjaan rumah belum selesai.

"Meski beberapa data laporan UNAIDS itu masih perlu disesuaikan dengan konteks Indonesia, misalnya apakah angka infeksi baru yang meningkat disebabkan oleh epidemic yang memang meluas atau keberhasilan dari program case finding," ujar Aditya Wardhana, dalam pernyataannya, Sabtu (19/7/2014).

Namun ini adalah peringatan keras agar seluruh rakyat Indonesia meningkatkan upaya dalam program penanggulangan AIDS.

"Persoalan ini hanya bisa diselesaikan jika komitment politik ditingkatkan, alokasi pendanaan yang dibutuhkan dipenuhi, kepemimpinan diperkuat serta upaya dari masing-masing propinsi dan kabupaten kota perlu di lipat duakan. Serta yang tidak kalah penting adalah pemerintah harus menggandeng komunitas terdampak AIDS sebagai inti dari program. Bekerja bersama ODHA dan bukan sekedar bekerja untuk ODHA," katanya.

Organisasi IAC sendiri berharap bahwa pemerintahan yang baru nanti meningkatkan komitmentnya terhadap program penanggulangan AIDS.

Dalam sambutannya, Michel Sidibe, Direktur Eksekutif UNAIDS, mengatakan "kita bisa akhiri epidemic AIDS ini di tahun 2030 jika kita benar-benar bekerja keras."
Untuk Indonesia sendiri, tahun-tahun mendatang menjadi sebuah tantangan besar. Di saat laporan GAP ini menunjukan bahwa Indonesia perlu perhatian serius namun tampaknya pemerintah masih berjalan santai.

Salah satu bukti dari santainya pemerintah Indonesia adalah masih tingginya tingkat ketergantungan pada bantuan luar negeri bagi program AIDS serta masih tingginya kebergantungan pada obat Impor dan bahkan beberapa adalah obat-obatan paten.


“Satu peluang emas bagi kita dalam memutus tingginya kebergantungan pada dana bantuan luar negeri adalah dengan mengakomodir pengobatan ODHA yang mencakup ARV serta tes-tes laboratorium penunjang dalam JKN. Dengan semua digratiskan, besar harapan angka cakupan pengobatan bisa diperluas," tutur Aditya. (tribunnews.com).

HIV/AIDS Tewaskan 14.446 Orang Indonesia

Jakarta, aidsindonesia.com (23/7-2014) - Indonesia tidak memiliki dokumentasi mengenai HIV/AIDS hingga 2000 dan epidemi ini telah tumbuh dengan cepat selama sepuluh tahun terakhir.

The Global Burden of Disease Study 2013 mencatat, angka kematian karena HIV/AIDS di Indonesia meningkat sebesar 87,5 persen per tahun selama kurun waktu tersebut - angka pertumbuhan tertinggi di dunia.
Tahun 2013, sebanyak 14.446 orang Indonesia--hampir 70 persen adalah pria--meninggal karena HIV/AIDS. Antara tahun 2000 dan 2013, kasus-kasus baru meningkat setiap tahunnya sebesar 28,1 persen.

Tahun lalu, tercatat 45.159 kasus baru. Namun demikian, angka kasus baru yang muncul dan angka kematian karena HIVAIDS di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan angka rata-rata global.

Kemajuan dalam penanganan malaria memperlihatkan hasil yang menjanjikan, dengan angka penurunan per tahun sebesar 5,2 persen untuk kematian antara tahun 2000 dan 2013, dibandingkan dengan penurunan angka kematian global yang hanya mencatat 3,1 persen.

Tuberkulosa (TB) masih memperlihatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan angka rata-rata global.

“Studi terbaru yang bersifat massal ini, yang kami hadirkan di saat-saat usainya era MDGs, mendokumentasikan kemajuan yang sangat pesat dalam hal penanganan HIV dan Malaria, khususnya, tetapi juga memperlihatkan berbagai hal yang masih perlu kita lakukan,” ungkap Dr. Alan Lopez, Melbourne Laurate Profesor, Selasa (22/7/2014).

Co-founder dari Studi Global Burden of Disease (GBD) ini menyatakan, masalah kesehatan dan kematian di negara-negara miskin, dan ketiganya harus mendapat perhatian khusus dari semua dukungan dan upaya penanganan kesehatan secara global.


"Tanpa hal itu, kita semua akan menghadapi resiko terjadi stagnasi, bahkan lebih buruk lagi, akan terjadi perubahan dari hasil yang telah dicapai saat ini," katanya. (tribunnews.com).

25 Agustus 2014

80 PSK Dikembalikan ke Rumahnya Gara-gara Mengidap HIV/AIDS

Kendalaidsindonesia.com (26/8-2014) - Hingga Agustus 2014, sebanyak 15 penderita AIDS di Kabupaten Kendal Jawa Tengah meninggal dunia. Mereka kebanyakan perempuan.

Kepala Bidang Pelayanan, Pemeriksaan dan Pengobatan Dinas Kesehatan Kendal (DKK), Siswanto, Senin (25/8/2014) mengatakan, tiap tahun penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kendal terus meningkat. Untuk tahun 2014 ini, sudah ada tambahan 55 penderita dan 15 di antaranya meninggal dunia.

"Kalau total penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kendal, menurut data ada 396 penderita. 258 orang terkena HIV dan 138 mengidap AIDS," katanya.

Siswanto menjelaskan, penyebab HIV/ AIDS adalah seks bebas dan narkoba suntik. Untuk itu pihaknya terus melakukan pantauan di tempat-tempat lokalisasi yang ada di Kabupaten Kendal, di antaranya adalah Gambirlangu (GBL) Kaliwungu Kendal dan Alas Karet (Alaska) Sukorejo Kendal.

"Selama ini, kami telah memulangkan 80 Pekerja Seks Komersial (PSK) ke daerahnya karena menderita HIV/AIDS. Ini setelah dilakukan pendekatan dan pengertian kepada PSK tersebut," ujarnya.

Menurut dia, memulangkan PSK ke daerah asal memakan waktu yang cukup lama. Selain memberi pengertian kepada PSK tersebut, juga menyerahkan si penderita kepada Puskesmas setempat. Ini dilakukan supaya kesehatan penderita terpantau.

"Kami selalu menekankan kepada para PSK, supaya mau melakukan tes kesehatan dan VCT, setiap bulannya. Sehingga kesehatannya bisa terpantau," ujarnya.
  
Sementara itu, aktivis Aids dari LSM Graha Mitra, Yoyok, mengatakan keluar masuknya PSK ke lokalisasi dan malasnya mereka melakukan tes kesehatan dan VCT, membuat penyakit HIV/AIDS terus meningkat. Pihaknya bersama teman-teman dan pengurus Lokalisasi GBL dan Alaska, sudah sering meminta kepada para PSK, agar rutin memeriksakan diri dan tes VCT.

"Tes kesehatan dilakukan oleh dinas kesehatan setiap bulan sekali dan VCT setiap tiga bulan sekali," tambah Yoyok.

Yoyok menjelaskan, banyak tamu lokalisasi GBL dan Alaska yang tidak mau menggunakan kondom saat melakukan hubungan intim. Padahal mereka sudah diminta oleh para PSK. Sehingga rentan terkena penyakit.

"Keterangan dari PSK, pelanggannya tidak mau menggunakan kondom, ketika ia minta. Alasannya, mengurangi kenikmatan," kata Yoyok. (tribunnews.com).

Mahasiswi Berhenti Kuliah Karena Dihantui HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia 

Tanya Jawab AIDS No 6/Agustus 2014

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: Beberapa waktu yang lalu saya melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan seorang laki-laki. Belakangan, saya khawatir sudah tertular HIV/AIDS karena saya tidak bisa memastikan perilaku laki-laki tsb. Saya pun tidak bisa melanjutkan kuliah karena terus-menerus dihantui ketakutan tertular HIV. Saya benar-benar jatuh. Apa yang harus saya lakukan?

Nn ‘X’, Jabar (via telepon, 24/8-2014)

Jawab: Melakukan hubungan seksua dengan seseorang yang tidak bisa diketahui perilaku seks orang tsb. merupakan kegiatan yang berisiko tinggi tertular HIV. Apalagi, laki-laki tsb. tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan Anda. Soalnya, bisa saja orang tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan HIV.

Memang, probabilitas (kemungkinan) tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan yang mengidap HIV/AIDS dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom setiap kali hubungan seksual adalah 1:100.

Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali terjadi penularan HIV/AIDS. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan HIV/AIDS. Bisa pada hubungan seksual yang pertama, kedua, ketujuh, kelima puluh, kesembilan puluh sembilan atau yang keseratus.

Maka, setiap hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan orang yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom ada risiko penularan HIV karena bisa saja salah satu dari pasangan tsb. mengidap HIV/AIDS.

Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, kian besar jika salah satu pasangan adalah orang yang sering melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang bergani-ganti, seperti pekerja seks komersial (PSK), gigolo, dan pelaku kawin-cerai.

Untuk itulah Anda lebih baik menjalani tes HIV. Tapi, ingat sebaiknya dilakukan di Klinik VCT yang ditetapkan pemerintah, al. di rumah sakit pemerintah, dan minimal tiga bulan setelah hubungan seksual terakhir dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang tidak bisa diketahui perilaku seksualnya.

Karena Anda ada di kota kecamatan, sebaiknya tes HIV ke Klinik VCT di rumah sakit ibu kota kabupaten agar wajah dan identitas Anda tidak dikenali pengunjung. Bisa juga ke Pokdisus AIDS di RSCM Jakarta, atau tempat lain. Silakan kabari jika sudah siap tes HIV dan di mana Anda akan tes. ***

19 Agustus 2014

Di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Suami “Dibiarkan” Menularkan HIV/AIDS ke Istrinya


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

“Wakil Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi menegaskan saat ini pihaknya tengah gencar memperkuat program warga peduli AIDS (WPA). Dengan kelompok warga ini maka akan memudahkan untuk mendeteksi penyebaran virus.” Ini pernyataan dalam berita “4 Ibu Rumah Tangga Positif HIV/AIDS, 1 Orang Hamil” di sindonews.com, 11/8-2014.

Tidak jelas apa yang dimaksud dengan “memudahkan untuk mendeteksi penyebaran virus” dalam pernyataan wakil wali kota itu.

Pertama, penyebaran virus (HIV) tidak kasat mata. Penularan HIV/AIDS hanya melalui cara-cara yang khas yang tidak bisa dilihat secara langsung dan tidak terjadi melalui air, udara dan pergaulan sosial.

Kedua, orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisiknya, sehingga tidak bisa diketahui siapa yang menularkan HIV/AIDS.

Ketiga, orang-orang yang tertular HIV/AIDS pun tidak bisa dikenali dari fisiknya, terutama sebelum masuk masa AIDS (antara 5-15 tahun).

Pertanyaan untuk Pak Wakil Wali Kota: Bagaimana cara WPA mengenali orang-orang yang menyebarkan HIV/AIDS?

Lagi pula kalau pun WPA mencari-cari warga yang mengidap HIV/AIDS, itu artinya sudah terjadi penyebaran HIV.

Kasus kumulatif  HIV/AIDS di Kota Sukambumi sejak tahun 2002 sampai bulan Agustus 2014 tercatat 784. Kasus terakhir terdeteksi pada empat ibu rumah tangga, salah satu di antaranya sedang hamil.

Kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga itu membuktikan bahwa suami mereka melakukan perilaku berisiko, al. melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK).

Yang perlu dilakukan Pemkot Sukabumi bukan menggerakkan WPA “untuk mengetahui tingkat penyebaran virus”, tapi melakukan program yang konkret berupa intervensi terhadap laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Program tsb. adalah memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK. Program ini hanya bisa dijalankan dengan efektif jika pelacuran dilokalisir. Sedangkan di Kota Sukabumi pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu sehingga tidak bisa diintervensi.

Dalam gambar bisa dilihat bahwa intervensi hanya bisa dilakukan terhadap laki-laki pada hubungan seksual dengan PSK langsung yaitu PSK yang ada dilokalisasi. Sedangkan PSK langsung di luar lokalisasi dan PSK tidak langsung (seperti cewek kafe, cewek diskotek, cewek pub, ABG, cewek gratifikasi seks, dll.) tidak bisa dijalankan intervensi.

Intervensi lain adalah sosialiasi agar suami-suami yang melacur tanpa kondom memakai kondom ketika sanggama dengan istrinya.

Langkah terkakhir adalah intervensi terhadap ibu-ibu hamil berupa program pencegahan penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Tapi, program ini hanya pasif karena tidak ada program yang bisa mendeteksi ibu-ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS secara sistematis.

Jika Pemkot Sukabumi tidak melakukan intervensi terhadap laki-laki yang melacur, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru terus terjadi sehinga penyebaran HIV/AIDS pun terus pula terjadi di masyarakat.

Penyebaran HIV/AIDS di Kota Sukabumi kian runyam karena dikabarkan ada “arisan gigolo” (Lihat: “Arisan Gigolo” di Sukabumi, Jawa Barat: Mendorong Penyebaran HIV/AIDSdi Masyarakat).

Penyebaran HIV/AIDS akan berimbas pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi yang kelak sampai pada muara yaitu “ledakan AIDS”. ***