26 Agustus 2015

Tiba di Surabaya 69 PSK Asal Jatim yang Dipulangkan dari Lokalisasi Pelacuran di Papua

Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

"Kita periksa untuk memastikan mereka bebas dari virus HIV. Hasilnya kami laporkan ke pemerintah daerah setempat." Ini pernyataan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jatim, Hizbul Wathon, tentang 69 pekerja seks komersial (PSK) yang terakhir ‘bekerja’ di lokalisasi pelacuran Tanjung ‘Turki’ Elmo, di tepi Danau Sentani, Kab Jayapura, Papua, yang dipulangkan ke daerah asal, al. ke Jawa Timur (“Pejabat Jatim Sambut 69 PSK yang Dipulangkan dari Jayapura” di kompas.com, 26/8-2015).

Langkah Pemprov Jatim itu benar, tapi ada yang luput yaitu masa jendela pada 69 PSK yang dipulangkan tsb. Jika ada di antara 69 PSK itu tertular di bawah tiga bulan ketika tiba di Kota Surabaya tanggal 26/8/2015, itu artinya hasil HIV terhadap mereka bisa positif palsu (HIV tidak ada di daerah tapi hasil tes reaktif) atau negatif palsu (HIV ada di darah tapi tidak terdeteksi oleh reagen sehingga hasil tes HIV reaktif).

Karena prevalensi HIV/AIDS di Papua sangat tinggi, maka risiko 69 PSK tsb. tertular HIV sangat besar sehingga hasil tes HIV sangat penting karena terkait dengan kegiatan PSK tsb. di daerah asalnya.

Maka, PSK dengan hasil tes negatif palsu akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di daerah asalnya atau daerah lain jika kelak ybs. kembali ke ‘habitat’-nya sebagai PSK. Itu artinya penyebaran HIV/AIDS di Jatim didorong oleh PSK dengan hasil tes negatif palsu.

Dilaporkan PSK yang dipulangkan dari Papua berasal dari sejumlah daerah di Jatim, seperti Surabaya, Gresik, Malang, Jombang, Madiun, dan Ponorogo.

PSK yang dipulangkan dilaporkan menerima modal usaha masing-masing lebih dari Rp 5 juta dari Pemkab Jayapura dan Kemensos. Persoalannya adalah: Apakah dengan uang Rp 5 juta mereka bisa menjalani kehidupan?

Soalnya, di era Orba ada program resosialisasi dan rehabilitas PSK dengan memberikan keterampilan dan modal kerja. Tapi, apa yang terjadi? Sebagian besar tetap memilih jadi PSK daripada membuka usaha jahit-menjahit atau salon kecantikan. Ini terjadi karena, menurut Prof Dr Hotman M Siahaan, sosiolog di Unair, Surabaya, program tsb. merupakan program top-down sehingga tidak menyentuh akar persoalan [Lihat: Menyingkap (Kegagalan) Resosialisasi danRehabilitasi Pelacur(an)].

Di sini lain apa yang akan dilakukan Pemprov Jatim jika ada di antara PSK tsb. yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Sayang, dalam berita tidak disebutkan langkah-langkah Pemprov Jatim menghadapi situasi ini.

Biar pun Pemprov Jatim sudah menutup semua lokaliasi pelacuran, itu tidak jaminan di Jatim tidak ada lagi praktek pelacuran. Maka, penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seksual berisiko yaitu hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tetap mejadi ancaman terbesar epidemi HIV/AIDS bagi Jatim yang sampai akhir tahun lalu sudah melaporkan 28.225 kasus HIV/AIDS. ***

Foto: PSK asal Jatim yang dipulangkan dari Jayapura (Repro: KOMPAS.com/Achmad Faizal)

21 Agustus 2015

PSK di Papua Dipulangkan, Penyebaran HIV/AIDS pun Bisa Menjangkau Skala Nasional


Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

* Laki-laki di sekitar lokalisasi yang tertular HIV/AIDS jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS

“Mensos lepas pemulangan 191 mantan PSK di Jayapura.” Ini judul berita di merdeka.com (21/8-2015). Pekerja seks komersal (PSK) itu selama ini ‘praktek’ di lokalisasi pelacuran Tanjung ‘Turki’ Elmo, Distrik Sentani Timur, Kab Jayapura, Papua.

Dengan langkah yang diambil Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, ini dikesankan begitu mudahnya menghapus praktek pelacuran. Cukup dengan menutup lokalisasidan memulangkan PSK yang ‘praktek’ di lokalisasi tsb. semua bentuk praktek pelacuran akan sirna dengan sendirinya.

Tapi, itu hanya utopia karena tidak satu pun negara di muka bumi ini yang bisa menghapus praktek pelacuran secara de facto (faktual). Secara de jure (hukum formal) bisa dilakukan dengan peraturan. Itulah sebabnya banyak negara yang meregulasi pelacuran, al. dengan melokalisir praktek pelacuran, sebagai bagian dari pemenuhan hak biologis warga negaranya.

Terkait dengan penutupan lokalisasi pelacuran Tanjung ‘Turki’ Elmo (turki adalah sebutan turnan kiri yaitu lokalisasi pelacuran tsb. ada di sebelah kiri jalan ke arah luar kota, dalam hal ini Jayapura-Sentani, dan turun ke bibir Danau Sentani), ada beberapa pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu:

Pertama, dengan menutup ‘Turki’, apakah ada jaminan tidak akan ada lagi praktek pelacuran di Kab Jayapura dan Kota Jayapura?

Tentu saja tidak ada jaminan karena praktek pelacuran bisa saja terjadi di rumah, tempat kos, penginapan, losmen, hotel melati dan hotel berbintang.



Kedua, sebelum 191 PSK tsb. dipulangkan ke daerah asalnya sudah ada ratusan bahkan ribuan laki-laki dewasa penduduk Kab Jayapura dan Kota Jayapura yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK di ‘Turki’ (Gambar II). Itu artinya ratusan sampai ribuan penduduk lokal yang berisiko tertular IMS (infeksi menular seksual, seperti raja singa/sifilis, kencing nanah/GO, virus hepatitis B, klamidia, dll.) atau HIV/AIDS ata dua-duanya sekaligus. Ini bisa terjadi karena ada kemungkinan ada di antara laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus sehingga ada PSK yang tertular IMS atau HIV/AIDS.

Laki-laki yang tertular IMS atau HIV/AIDS di ‘Turki’ akan menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat secara horizontal, al. kepada istri, pacar dan pasangan seks lain. Pada gilirannya kalau istri tertular HIV, maka ada pula risiko penularan HIV secara vertikal dari ibu-ke-bayi yang dikandungnya. Jika ada ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS setelah ‘Turki’ ditutup, itu artinya suami mereka tertular HIV/AIDS, al. di ‘Turki’.

Program pencegahan HIV/AIDS melalui hubungan seksual di Papua mengutamakan sunat, maka kemungkinan besar ada laki-laki yang tidak memakai kondom karena mengangga sunat sudah merupakan ‘kondom alam’. Ini yang membuat celaka karena sunat bukan mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual berisiko, tapi menurunkan risiko karena ada bagian penis yang ‘kebal’ yaitu kepala penis. Tapi, luas permukaan batang penis yang tidak ‘kebal’ justru lebih besar sehingga risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual berisiko yang mengandalkan sunat sangat tinggi.

Bisa juga terjadi Pemkab Jayapura, Pemkot Jayapura dan Pemprov Papua menepuk dada merasa aman karena PSK sudah dipulangkan. Tapi, mereka lupa kalau ada ratusan bahkan ribuan laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan PSK tsb.

Ketiga, jika PSK yang dipulangkan itu ada yang mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus, maka mereka akan menyebarkan IMS dan HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus kepada pasangan mereka di daerah asal, seperti suami dan pacar (Gambar I).
                                    
Kalau PSK yang dipulangkan itu ada yang kembali ke ‘habitat’-nya sebagai PSK di daerah asal atau di luar daerah asal, maka itu artinya penyebaran HIV/AIDS pun bisa menjangkau skala nasional.

Jika PSK yang dipulangkan tsb. diketahui status IMS dan HIV/AIDS, maka mereka bisa didampingi kelompok dukungan sebaya (KDS) di daerah asalnya sehingga mata rantai penyebaran HIV/AIDS bisa diputus.

Keempat, apakah Pemkab Jayapura, Pemkot Jayapura dan Pemprov Papua sudah melakukan antisipasi terkait dengan penyebaran IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus melalui laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK yang dipulangkan itu?

Jika tidak ada antisipasi itu artinya laki-laki yang tertular HIV/AIDS di ‘Turki’ akan menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal, al. melalui hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam dan di luar nikah di masyarakat.

Maka, persoalan penyebaran HIV/AIDS tidaklah semudah menutup lokalisasi. Justru dengan menutup lokalisasi pelacuran intervensi untuk memutus mata rantai penyebaran IMS dan HIV/AIDS dari masyarakat (laki-laki ‘hidung belang’) ke PSK dan sebaliknya tidak bisa dijalankan secara efektif. Soalnya, praktek pelacuran terjadi di sembarang dan sembarang waktu tempat sehingga tidak bisa dijangkau.

Lagi pula selama ada permintaan akan PSK, maka selama itu pula akan ada PSK yang akan menggantikan PSK yang dipulangkan tsb. Maka, itu artinya lebih baik Kemensor membalik paradigma berpikir: mengajak laki-laki agar tidak ada lagi yang melacur dengan membeli seks. ***

16 Agustus 2015

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Bitung, Sulawesi Utara, Bukan Karena HIV/AIDS


* Disebutkan HIV bisa disembuhkan. Ini menyesatkan ....

Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia
 
“Waspada HIV/AIDS untuk warga Kota Bitung. Tercatat sudah puluhan nyawa yang melayang akibat penyakit tersebut seperti yang utarakan Komisi penanggulangan AIDS (KPA) selang 10 tahun sudah banyak korban.” Ini lead pada berita “Sekitar 30 Warga Bitung Meninggal Dunia Akibat HIV/AIDS” di tribunmanado.com (16/8-2015).
 
Pernyataan ‘puluhan nyawa yang melayang akibat penyakit tersebut (HIV/AIDS-pen.)’ tidak akurat karena kematian pada Odha (Orang dengan HIV/AIDS) bukan karena HIV atau AIDS tapi karena penyakit-penyakit lain yang muncul pada masa AIDS (secara statistik antara 5 – 15 tahun setelah tertular HIV) yang disebut sebagai infeksi oportunistik, seperti diare, TBC, dll.
 
Salah satu faktor yang membuat HIV/AIDS jadi masalah besar adalah tidak ada tanda-tanda, ciri-ciri atau gejala-gejala yang khas AIDS pada orang-orang yang sudah tertular HIV/AIDS. Maka, tanpa mereka sadari para pengidap HIV/AIDS tsb., disebut Odha (Orang dengan HIV/AIDS), menularkan HIV kepada orang lain. Misalnya, melalui hubungan seksual pada suami-istri atau pada praktek pelacuran dan ganti-ganti pasangan.

Terkait dengan kematian Odha yang disebut pada selang waktu tahun 2006 sampai 2015, maka itu artinya Odha yang meninggal tertular pada rentang waktu antara tahun 1991 dan 2010 karena kematian Odha terjadi pada masa AIDS yang secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV.

Maka, epidemi HIV di Kota Bitung sudah terjadi sejak tahun 1991. Itu artinya penularan HIV antar penduduk, terutama melalui hubungan seksual antara suami dan istri,  sudah terjadi. Hal ini dapat dilihat dari kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga.

Disebutkan dalam berita "Kalau baru HIV masih bisa disembuhkan. Makanya jangan malu atau resah, jalani saja pengobatan dengan penuh kesabaran," tutur Dumingan. Pernyataan ini menyesatkan karena semua virus yang masuk ke dalam tubuh manusia tidak bisa dihilangkan sehingga virus itu ada dalam tubuh sampai mati.

Sekali HIV masuk ke dalam tubuh, maka HIV akan terus menggandakan diri antara 10 miliar sampai 1 triliun per hari. Virus tsb. menggandakan diri di sel-sel darah putih manusia sehingga sel-sel darah putih yang dijadikan virus sebagai ‘pabrik’ rusak. Itu artinya sistem pertahanan tubuh kian lemah karena banyak sel darah putih yang rusak karena dijadikan ‘pabrik’ oleh HIV ketika menggandakan diri.

Disebutkan pula dalam berita “Banyak penderita HIV yang berhasil disembuhkan mereka kini sudah kembali hidup normal dan diterima masyarakat sekitar.”

Tidak jelas ini pernyataan siapa, tapi yang jelas ini menyesatkan karena pengidap HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan.

Sangat disayangkan berita yang bersumber dari sekretaris KPA Bitung, Ir James Rompas, ini tidak memberikan pencerahan kepada masyarakat, justru sebaliknya menyesatkan. ***

15 Agustus 2015

Menghindarkan Remaja dari Risiko Tertular HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

“Remaja Ungguli Penularan HIV/AIDS.” Ini judul berita di portal news.merahputih.com (15/8-2015). Pemakaian kata ‘unggul’ dalam kaitan jumlah tidak tepat. Dalam KBBI disebutkan unggul adalah 1 a lebih tinggi (pandai, baik, cakap, kuat, awet, dsb) dp yg lain-lain; utama (terbaik, terutama):jenis ikan bibit --; pemain-pemain kita masih lebih -- dp lawan; 2 v menang: pembalap-pembalap Indonesia -- di Malaysia;

Penularan HIV/AIDS bukan perlombaan sehingga tidak ada yang (lebih) unggul. Penularan HIV/AIDS adalah insiden atau kejadian yang terjadi, al. melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, antara yang mengidap HIV/AIDS dengan yang mengidap dan tidak mengidap HIV/AIDS dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom selama terjadi hubungan seksual.

Maka, yang terjadi adalah jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi lebih banyak pada remaja. Tapi, kondisi ini pun tidak semerta menunjukkan perilaku remaja yang berisiko karena kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada remaja di kalangan penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bergantian. Soalnya, remaja penyalahguna narkoba wajib tes HIV jika hendak menjalani rehabilitasi.

Sedangan kalangan dewasa yang tertular HIV/AIDS melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba dan hubungan seksual yang berisiko tidak diwajibkan mnjalani tes HIV. Akibatnya, banyak ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS karena mereka tertular dari suami. Nah, fakta ini tidak dipahami oleh narasumber dan wartawan terkait dengan berita ini.

Disebutkan “Penyebaran HIV/AIDS tersebar luas lewat hubungan seks bebas dan penggunaan narkoba, khususnya dengan menggunakan jarum suntik. Tingginya penderita HIV/AIDS di kalangan remaja dikarenakan, rasa penasaran yang tinggi di kalangan remaja tanpa dibarengi dengan pengetahuan seks yang baik.”

‘Seks bebas’ adalah istilah yang rancu karena tidak jelas maksudnya. Kalau ‘seks bebas’ diartikan sebagai zina, al. melacur, maka tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV/AIDS dan ‘seks bebas’. Soalnya, penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena SIFAT HUBUNGAN SEKSUAL (zina, melacur, seks bebas, selingkun, dll.), tapi karena KONDISI HUBUNGAN SEKSUAL (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak pakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual).

Info yang tidak akurat itulah, seks bebas, yang membuat banyak orang tidak memahami cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS, khususnya melalui hubungan seksual yang benar.

Ini pernyataan staf Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, Jakarta Timur, Denny Fauzi, di PKBI, Jakarta Timur: "Karena saat mereka tumbuh dewasa secara psikologis, fisik dan juga sosialnya berubah sehingga rasa ingin tahu mereka juga begitu besar. Tapi, mereka kurang informasi pengetahuan seks yang baik."

Apakah orang dewasa, terutama yang sudah beristri, tidak lagi mempunyai ‘rasa ingin tahu’ terkait dengan narkoba dan seks?

Fakta menunjukkan banyak ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS dari suami. Ini menunjukkan suami mereka juga melakukan seks berisiko dengan perempuan, waria, atau laki-laki.

Ada pula keterangan: Edutainment Yayasan AIDS Indonesia menyebutkan, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi di Indonesia sekitar 32.782 orang (per September 2014). 

Pertanyaannya adalah: Mengapa kasus HIV/AIDS banyak tercatat di Jakarta?

Kalau saja Denny lebih arif tentulah penjelasan kepada wartawan akan lebih komprehensif karena tidak semua kasus HIV/AIDS yang tercatat di Jakarta itu adalah warga DKI Jakarta. Ini fakta.

Pertama, di awal epidemi fasilitas tes HIV hanya ada di Jakarta, dalam hal ini di Pokdisus AIDS, FKUI-RSCM Jakarta sehingga banyak orang dari luar Jakarta yang melakukan tes HIV di Jakarta. Nama mereka pun tercatat pada daftar jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi di Jakarta.

Kedua, di Jakarta ada beberapa lembaga, seperti LSM, yang mempunyai fasilitas tes HIV dan pendampingan serta sanggar. Kasus-kasus yang terdeteksi pada LSM itu pun masuk dalam daftar kasus Jakarta padahal mereka bukan penduduk DKI Jakarta.

Ketiga, pasien rujukan dari daerah pun ada juga yang terdeteks mengidap HIV/AIDS. Mereka ini juga tercatat dalam daftar kasus HIV/AIDS Jakarta.

Di bagian lain disebutkan pula: Denny menambahkan, penularan HIV/AIDS pada usia remaja juga diakibatkan karena gaya hidup mereka yang terlalu bebas dan tidak adanya perhatian khusus dari orangtua. Oleh sebab itu, orang tua harus lebih memperhatikan anaknya ketika memasuki usia remaja. 

Penularan HIV/AIDS tidak ada kaitannya dnegan ‘gaya hidup yang terlalu bebas’ karena HIV/AIDS hanya menular melalui cara-cara yang sangat spesifik bukan melalui pergualan sosial, termasuk yang bebas sekali pun. Remaja berisiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual karena mereka tidak menerapkan ‘seks aman’ yaitu mereka tidak memakai kondom ketika ngeseks dengan pekerja seks komersial (PSK) langsug (PSK yang kasat mata yang ada di lokalisasi pelacuran atau jalanan) serta PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek pub, cewek karaoke, cewek pemijat, cewek kafe, anak sekolah, ayam kampus, dll.).

Untuk menurunkan insiden infeksi HIV/AIDS baru pada remaja adalah dengan memberikan penjelasan yang konkret, yaitu memakai kondom jika melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung, PSK tidak langsung atau dengan cewek teman sebaya yang sering ganti-ganti pasangan.

Jika informasi yang diberikan tidak akurat, maka itu artinya menjerumuskan remaja ke lembah kehancuran yaitu tertular IMS atau HIV/AIDS atau kedua-duanya sekaligus. ***

19 Juli 2015

Program UEP dan KUBE Kemensos Bak Mengulang Kegagalan Program Resos PSK



Oleh Syaiful W. Harahap-AIDS Watch Indonesia

Jumlah Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan Wanita Tuna Susila (WTS) semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, Kementerian Sosial pun memperhatikan mereka dengan meluncurkan program terbaru.” Ini lead pada advertorial Kemensos “Kementerian Sosial Berdayakan TKW dan WTS” (tribunnews.com, 15/7-2015).

Jika disimak pernyataan di atas, terkait dengan WTS (terminologi ini tidak objektif karena bias gender dan hanya menyalahkan perempuan dengan mengabaikan moralitas laki-laki ‘hidung belang’ sebagai pembeli seks, dianjurkan memakai terminologi pekerja seks atau pekerja seks komersial/PSK), yang menjadi persoalan besar adalah permintaan yang tinggi dari laki-laki terhadap perempuan untuk dijadikan pasangan kecan menyalurkan dorongan hasrat seksual.

Kalau persoalannya ada pada laki-laki, disebut  laki-laki ‘hidung belang’, mengapa yang jadi sasaan tembak perempuan (dalam hal ini PSK)?

Praktek pelacuran, baik terbuka (PSK langsung yaitu kasat mata, seperti di lokalisasi pelacuran dan jalanan) maupun tertutup (PSK tidak langsung yaitu tidak kasat mata, seperti cewek bispak, cewek biyar, anak sekolah, ABG, ayam kampus, cewek pemijat, cewek pub, cewek kafe, cewek gratifikasi seks, dll.) ada karena permintaan pasar (baca: laki-laki ‘hidung belang’).

Salah satu bukti bahwa laki-laki ‘hidung belang’ kian banyak dalam beberapa tahun terakhir ini adalah jumlah isteri yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS juga terus bertambah. Mereka terdeteksi ketika memeriksa kehamilan atau ketika hendak melahirkan. Tahun 2010 diperkirakan ada 40.000 ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya (VOA Indonesia, 27/11-2010). Di Kota Batang, Jateng, misalnya, disebutkan oleh Mensos Khofifah Indar Parawansa ada 564 ibu ruma tangga yang memakai jilbab terdeteksi mengidap HIV/AIDS (Harian TERBIT, 9/6-2015).

Jika ditilik dari epidemi HIV/AIDS biar pun Kemensos ‘memerdekakan’ PSK (perlu diingat bahwa hanya PSK langsung sedangkan PSK tidak langsung tidak bisa dijangkau oleh Kemensos) penyebaran HIV/AIDS tidak akan berhenti karena: (1) Laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, dan (2) Ratusan bahkan ribuan bisa juga puluhan ribu laki-laki ‘hidung belang’ yang tertular HIV dari PSK juga  mata rantai penyebaran HIV di masyarakat al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Persoalan lain adalah dengan menarik PSK langsung mengikuti program pemberdayaan Kemensos tidak ototmatis menghentikan pasokan PSK karena permintaan pasar yang besar dan terus bertambah seiring dengan peningkatan pendapatan dan praktek-praktek korupsi.

Lagi pula apakah dengan program UEP (Usaha Ekonomi Produktif) dan KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang menyediakan dana Rp 3 juta dan Rp 20 juta menarik untuk PSK? Tentu saja tidak menarik karena melalui praktek pelacuran mereka lebih mudah mendapatkan uang dan tidak perlu kerja keras. Selain itu menjadi PSK adalah pilihan bagi sebagian dari mereka bukan karena kemiskinan semata.

Maka, Kemensos perlu membalik paradigma berpikir karena kunci penanggulangan pelacuran bukan pada PSK tapi ada pada laki-laki ‘hidung belang’. Tentu tidak mudah mengajak laki-laki ‘hidung belang’ agar tidak melacur (lagi). Apalagi dengan PSK tidak langsung adalah hal yang mustahil mencegah praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak lansung ini.

Paling tidak Kemensos diharapkan melakukan intervensi kepada perempuan yang berisiko memilih pelacuran sebagai pekerjaan. Cara-cara yang dilakukan oleh perekrut (calo) PSK bisa menjadi pintu masuk bagi Kemensos untuk memulai intervensi. Itu artinya program UEP dan KUBE bukan diberikan kepada PSK yang sudah menjalani pekerjaan tsb., tapi kepada perempuan-perempuan yang menjadi sasaran tembak calo-calo yang mencari calon PSK di desa-desa.

Kalau program UEP dan KUBE hanya diberikan kepada PSK yang praktek, maka pasokan PSK baru akan terus terjadi seiring dengan permintaan pasar. Selain itu PSK yang menjadi peserta UEP dan KUBE juga ada yang gagal dan kembali ke habitatnya di dunia pelacuran.

Progam resosialisasi dan rehabilitasi (resos) PSK yang dijalakan Departemen Sosial di era Orba jelas ‘gatot’ (gagal total) karena banyak faktor, al. program tsb. adalah top-down [Menyingkap (Kegagalan) Resosialisasi dan Rehabilitasi Pelacur(an)]. Program ini juga melatih PSK dan memberikan modal usaha, tapi tetap saja tidak berhasil.

Apakah program UEP dan KUBE akan senasib dengan dengan program resos versi Orba? Kita tunggu saja. *** 

17 Juli 2015

Khawatir Kena AIDS Karena Terbiasa Mengisap Puting Susu

Tanya Jawab AIDS No 2/Juli 2015

Oleh: Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Dulu saya pernah ML (making love yaitu hubungan seksual) ketika masih bersekolah. Sekarang umur saya 23 tahun. Sampai umur ini saya tidak mengalami demam dan diare panjang. Sejak itu saya tidak pernah ML lagi, tapi hanya mengisap puting dan ciuman. Beberapa waktu yl. saya kena jamur di bibir. Kata dokter karena infeksi  di pencernaan. Tapi, saya khawatir karena saya baca di Internet jamur terkait dengan HIV/AIDS. Biar pun jamur sembuh, tapi saya kehilangan semangat hidup. Jujur saya sangat menyesal dengan apa yang sudah pernah saya perbuat. Biar pun sampai saat ini tidak ada gejala-gejala mayor dan minor terkait HIV/AIDS, tapi jujur saya sangat khawatir dan semangat hidup saya pun hilang. (1) Apa yang harus saya perbuat?

Mr “X” (via SMS 21/4-2015)

Jawab: (1) Memang probabilitas tertular HIV melalui hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seskual dengan pengidap HIV/AIDS ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan. Persoalannya adlah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan. Bisa yang pertama, kedua, ketujuh, ketiga puluh, bahkan yang keseratus.

Nah, masalah besar yang Anda hadapi adalah Anda tidak mengetahui status pasangan Anda. Kalau dia HIV-negatif, maka Anda aman. Tapi, kalau dia mengidap HIV/AIDS maka Anda berisiko tertular HIV.

Jamur tidak otomatis gejala terkait HIV/AIDS, apalagi jamur yang Anda derita bisa sembuh.

Kebiasaan Anda mengisap puting juga bisa berisiko tertular HIV karena di air susi ibu (ASI) ada HIV yang bisa ditularkan. Maka, kalau perempuan yang Anda isap putingnya mengidap HIV/AIDS ada risiko penularan HIV.

Ciuman pun akan berisiko jika lawan ciuman mengidap HIV/AIDS ketika dia mengidap sariawan karena ada infeksi di rongga mulut.

Jika virus (HIV) sudah masuk ke dalam tubuh, maka tidak ada lagi artinya penyesalan karena semua jenis virus yang masuk ke tubuh tidak bisa dimatikan di dalam tubuh. Jika Anda terus was-was silakan tes HIV ke Klinik VCT di RSU di kota Anda. *** 

Ilustrasi (Repro: family.fimela.com)

15 Juli 2015

Mudik (PSK + Laki-laki Hidung Belang) Mendorong Penyebaran HIV/AIDS dengan Skala Nasional



* Pemerintah daerah ‘pemasok’ PSK dianjurkan kerja sama dengan pemerintah daerah tempat PSK beroperasi ....

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS WatchIndonesia

Realitas sosial menunjukkan pekerja seks komersial (PSK), baik PSK langsung (PSK yang kasat mata, al. di lokasi atau lokalisasi pelacuran dan di jalanan) dan PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, anak sekolah, ayam kampus, cewek panggilan, cewek gratifikasi seks, dll.) akan ‘bekerja’ di luar daerah asalnya.

Ketika ada hari libur panjang, seperti Lebaran dan Natalan, PSK langsung dan PSK tidak langsung serta laki-laki ‘hibung belang’ pun ramai-ramai pula pulang kampung. Beberapa daerah yang menjadi ‘tujuan praktek pelacuran’ secara massal al. Sumut, Riau, Kepulauan Riau, Kalbara, Kalsel, Kalteng, Kaltim, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sultara, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Daerah ‘Tujuan Praktek Pelacuran’

Laporan Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, tanggal 12 Februari 2015 menyebutkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS mulai dari tahun 1987 sampai 31 Desember 2014 adalah 225.928 yang terdiri atas 160.138 HIV dan 65.790 AIDS dengan 11.801 kematian. Angka yang dilaporkan ini tidak menggarkan realitas kasus di masyarakat karena penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang dilaporkan (225.928) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan es di bawah permukaan air laut.

Jika di antara mereka yang mudik itu ada yang mengidap HIV/AIDS, maka ada beberapa ‘pintu masuk’ penyebaran HIV/AIDS di kampung halaman mereka, al.

(1) PSK langsung dan PSK tidak langsung yang bersuami akan menularkan HIV/AIDS ke suaminya. Selanjutnya, ketika PSK tsb. kembali ke tempat kerjanya atau ke tempat kerja baru, maka ada di antara suami-suami itu yang menularkan HIV ke pasangan selingkuh atau istri lain serta ke PSK di kampung itu.

(2) PSK langsung dan PSK tidak langsung yang tidak bersuami tapi punya pasangan, seperti pacar, akan menularkan HIV/AIDS ke pasangan atau pacarnya. Selanjutnya, ketika PSK tsb. kembali ke tempat kerjanya atau ke tempat kerja baru, maka ada di antara pacar itu yang menularkan HIV ke pasangan perempuan lain atau ke PSK di kampung itu.

(3) PSK langsung dan PSK tidak langsung ada yang buka ‘praktek’ di kampung halamannya sehingga laki-laki yang ngeseks dengan mereka tanpa memakai kondom berisiko tertular HIV/AIDS jika di antara PSK yang ‘praktek’ itu ada yang mengidap HIV/AIDS.

(4) Laki-laki ‘hidung belang’ yang mengidap HIV/AIDS karena sering ngeseks tanpa memakai kondom dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung di seluruh Nusantara dan di luar negeri akan menularkan HIV ke istrinya atau ke perempuan lain juga ke PSK di kampung halamannya.

Dari empat ‘pintu masuk’ di atas hanya sedikit yang bisa dilakukan upaya penanganan yaitu menurunkan risiko penyebaran HIV/AIDS di kampung halaman PSK dan laki-laki ‘hidung belang’ yaitu intervensi terhadap PSK langsung. Ini pun hanya bisa dilakukan jika ada kerja sama antara daerah-daerah asal PSK langsung dengan pemerintah di daerah-daerah ‘tujuan praktek pelacuran’.

Pendampingan Daerah Asal

Namun, hal itu juga sangat kecil kemungkinannya karena di banyak daerah ‘tujuan praktek pelacuran’ PSK langsung tidak dilokalisir dengan regulasi. Artinya, di beberapa tempat di daerah ‘tujuan praktek pelacuran’ hanya ada tempat atau lokasi pelacuran yang dibiarkan dengan pengawasan setengah hati dan bermuka munafik dengan balutan moral.

Kalau pemerintah di daerah ‘tujuan praktek pelacuran’ melokalisir pelacuran dengan regulasi, maka pemerintah daerah ‘pemasok’ PSK langsung menjalankan kerja sama melakukan survailans tes IMS secara rutin (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, herpes genitalis, jengger ayam, dll.). Selanjutnya jika ada kasus IMS terdeteksi, maka dilanjutkan dengan survailans tes HIV.

Kalau dalam survailans tes HIV ada contoh darah yang reaktif, maka dilanjutkan dengan tes HIV melalui konseling sebelum dan sesudah tes HIV. Inilah yang menjadi ranah kerja sama yiatu PSK langsung yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS didampingi oleh konselor bisa dari daerah asal PSK atau konselor di daerah ‘tujuan praktek pelacuran’.

Pendampingan ini dimaksudkan sebagai salah satu langkah intervensi untuk memastikan PSK langsung tsb. tidak akan menjadi mata rantai penyebaran jika kelak ybs. pulang kampung dengan berbagai alasan.

Jika pemerintah daerah yang menjadi ‘pemasok’ PSK langsung tidak menjalan kerja sama dengan pemeintah di daerah-daerah ‘tujuan praktek pelacuran’, maka PSK langsung yang berasal daerai daerah ‘pemasok’ akan menjadi mata rantai penyebaran IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Maka, selesai mudik PSK langsung kembali ke ‘tujuan praktek pelacuran’ semula atau yang baru dengan meninggalkan HIV/AIDS pada suami atau laki-laki lain di kampung halamannya dan suami atau laki-laki lain di kampung halamannya yang tertular HIV pun menjadi mata rantai baru penyebaran IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Maka, kasus HIV/AIDS pun terus bertambah ibarat ‘deret ukur’ yang al. bisa dilihat dari kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga. Ini kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. *** 

13 Juli 2015

Cari Obat Cegah HIV Setelah Ngeseks dengan PSK

Oleh Syaiful W. Harahap-AIDSWatch Indonesia

Tanya Jawab AIDS No 1 /Juli 2015

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Saya, pemuda 24 tahun, pernah ML (making love yaitu hubungan seksual) dengan pekerja seks komersial (PSK) tanpa memakai kondom. Saya takut tertular HIV/AIDS. (1) Apakah saya bisa ditolong dengan pengobatan dokter agar tidak tertular HIV/AIDS? Saya baca di Internet ada obat yang diminum agar tidak tertular HIV sebelum 72 jam. (2) Di mana saya bisa membeli obat itu? Tolong saya, Mas, walaupun biaya pengobatannya besar. Sungguh saya sangat menyesal.

A (via SMS, 14/4-2015)

Jawab: Pertama, PSK adalah orang yang berisiko tinggi tertular HIV karena dia melakukan hubungan seksual, kebanyakan dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja ada di antara laki-laki tsb. yang mengidap HIV/AIDS sehingga PSK tsb. berisiko tertular HIV.

Kedua, persoalannya adalah seseorang yang sudah tertular HIV tidak bisa dikenali dari ciri-ciri fisik. Sehingga ngeseks dengan PSK tanpa memakai kondom adalah perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV.

Ketiga, kalau PSK tsb. mengidap HIV/AIDS, maka risiko Anda adalah 1:100. Artinya, dari 100 kali hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan yang mengidap HIV/AIDS ada 1 kali kemungkinan tertular. Masalahnya, tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang ke berapa terjadi penularan. Bisa yang pertama, kedua, keeam, kesebelas, kedua puluh, kelima puluh, kesembilan puluh, bahkan bisa pada hubungan seksual yang ke-100.

(1) Jika virus (HIV) sudah masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seksual Anda dengan PSK tsb., maka HIV akan terus ada di dalam darah Anda sepanjang hidup. Tidak ada obat yang bisa mencegah penularan HIV, apalagi HIV sudah di dalam darah maka HIV akan langsung menggandakan diri karena HIV adalah virus yang tergolong retrovirus yaitu virus yang menggandakan diri. HIV menggandakan diri di sel darah putih manusia. Sel ini dikenal sebagai benteng untuk sistem kekebalan tubuh. HIV menggandakan diri antara 10 miliar sampai 1 triliun per hari di dalam darah. Virus-virus yang baru kemudian menggandakan diri lagi. Begitu seterusnya sampai pada tahap imunitas rendah sehingga mudah kena panyakit. Ini dikenal sebagai masa AIDS yang secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV. Dan, penyakit-penyakit itulah kemudian, disebut infeksi oportunistik, yang menyebabkan kematian, al. diare dan TB.

(2) Tentang obat tsb. apakah bisa mencegah HIV setelah HIV masuk ke dalam tubuh dan di mana dijual, maaf, bukan ranah kami. Maka, silakan ditanya ke dokter atau ke Klinik VCT di rumah-rumah sakit pemerintah. ***

21 Juni 2015

Sepenggal Kenangan dengan Chris “Babe” Green “Bergelut” dengan HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap AIDS WatchIndonesia

Saya ingat betul perkenalan saya pertama kali dengan Babe, panggilan akrab Chris W. Green, aktivis HIV/AIDS sejak awal 1990-an di Jakarta, adalah di bulan puasa (1998). Waktu itu Bu Lia, Dr Rosalia Sciortino di Kantor Ford Foundation Jakarta, mengadakan diskusi tentang kondom. Malam ini, 21/6-2015, pkl 21.00 saya baca status Danel Marguari, Yayasan Spiritia Jakarta, yang mengatakan bahwa Babe akan disemayamkan di RS St Carolus, Jakarta Pusat, sampai tanggal 23/6-2015 selanjutnya akan dikremasi. Babe pergi untuk selama-lamanya sekitar pukul 15.30, 21/6-2015, di RS Siloam, Tangerang, Banten.

Ketika itu Babe menunjukkan newsletter “WartaAIDS” yang berisi informasi tentang HIV/AIDS. Sebagai wartawan yang bergelut di isu HIV/AIDS, ketika itu bekerja di Tabloid ‘MUTIARA’ Jakarta, saya tertarik membantu Babe. Usul saya kemudian yaitu menuliskan berita dan ulasan terkait AIDS dengan kasus Indonesia diterima Babe.

Saya pun bekerja di rumahnya di bilangan Pondok Gede, ini sudah masuk Bekasi, tapi di pinggiran Jakarta Timur. Di sana kami mengelola beberapa newsletter yang menyebarluaskan informasi HIV/AIDS dan Narkoba. Ada “WartaAIDS” dan “HindarAIDS” yang didanai oleh Ford Foundation dengan dukungan Bu Lia.

“Saya heran, Bang, koq Abang tidak kaget.” Itulah kira-kira tanggapan Babe terhadap reaksi saya ketika dia menceritakan orientasi seksnya. Waktu itu saya hanya tertawa kecil mendengar cerita Babe tentang “siapa” dia. Babe mengatakan bahwa dia tidak mau saya mengetahui informasi tentang dia dari orang lain. Hal yang sama juga dia lakukan dengan yang lain.

Bagi saya orientasi seks dan semua hal yang terkait dengan patologi sosial adalah hal biasa karena alm Damang (ayah) dulu di akhir tahun 1960-an sampai tahun 1970-an memberikan pekerjaan kepada seorang waria dan menyediakan rumah kepada seorang pekerja seks. Ayah saya memang jadi sasaran fitnah dan caci maki. Hal yang saya alami setiap hari. Banyak cerita yang saya dengar, waktu itu saya di SD dan ketika di SMP cerita-cerita itu tidak mengganggu saya lagi.

Toleransi saya dengan Babe berlanjut. Babe menyediakan sajadah di salah satu kamar di rumahnya. “Silakan, Abang salat,” kata Babe sambil menunjukkan kamar dan sajadah yang dia sediakan. Saya sendiri sebenarnya lebih memilih salat di musola di perumahan itu, tapi karena Babe sudah menyediakan sarana maka saya pun memakainya.

Juga di bulan puasa, “Abang bikin ulasan tentang cara berpuasa bagi Odha,” pinta Babe. Saya pun mencari bahan-bahan di buku-buku fiqih dan wawancara dengan ahli. Ulasan kami dimuat di “WartaAIDS”.

Setiap hari kami diskusi soal berita yang akan dimuat di newsletter karena sumber berita itu dari luar negeri. Artinya, kami mencari informasi yang ‘nyambung’ dengan kasus di Indonesia.

Karena Babe tahu persis kalau hari Senin dan Kamis saya sering puasa, maka jika tiba waktu sarapan dan makan siang Babe selalu minta maaaf, “Bang, maaf, ya kam sarapan dulu.” Bagi saya hal itu sangat berharga karena Babe menghargai yang saya lakukan dan sama sekali kami tidak pernah terlibat pembicaraan tentang SARA (suku, agama, ras dan antar golongan). 

Saya sendiri sejak kecil sudah diperkenalkan alm. Damang dengan beragama kehidupan, al. teman di kantornya, pemilik kantin yang selalu menyediakan bumbu pecal, dan hampir tiap malam saya dibawa menonton di bioskop. Tapi, kalau ada adegan ciuman dia pun menyuruh saya menunduk. Tapi, setelah SMP saya nonton sendiri karena salah satu karyawan di bioskop itu Uda (Oom) saya sehingga bisa masuk biar pun belum berumur 17 tahun. Waktu itu umur sangat ketat karena harus menunjukkan KTP kalau mau nonton dengan batas usia 17 tahun ke atas.

Permintaan untuk berlanggaan dan tanggapan yang kami terima menunjukkan betapa informasi HIV/AIDS belum menjangkau banyak orang. Untunglah Ford Foundation juga mendanai ongkos kirim sehingga newsletter itu kami kirim kepada siapa saja yang minta berlangganan.

“Oon duduk di atas,” kata tukang becak di mulut jalan perumahan tempat Babe. Waktu itu banjir besar melanda Jabodetabek. Air sebatas pinggang orang dewasa. Saya sampai ke rumah Babe. Astaga, rumah Babe bagaikan kapal pecah karena jadi tempat menampung penduduk yang kebanjiran. Yang saya lihat hanya rumah Babe ada ‘pengungsi’.

Kami sering ‘berdebat’ soal terjemahan karena Babe orang Inggris asli sehingga makna kata lebih pas dia terjemahkan. Pada akhirnya hasil terjemahan yang kami hasilkan benar-benar berbatu Indonesia dan kata-katanya pun baku. Misalnya, tema Hari AIDS Sedunia (HAS) tahun 1999: Listen, Learn, Live. Banyak versi tapi tidak baku. Kami sepakat terjemahannya adalah: Dengar, Simak, Tegar. Ini kami cari padanan kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Simak dan tegar itu bermakna luas berbeda dengan terjemahan harfiah, misalnya, belajar dan hidup.

Ketika Bu Lia diganti oleh Dr Meiwita Budhiharsana konsentrasi saya beralih ke kesehatan reproduksi, tapi kontak dengan Babe terus berlanjut. Terutama menyangkut berita HIV/AIDS di media massa nasional, Babe selalu minta tanggapan saya dan saya pun selalu mengirimkan tanggapan dalam bentuk tulisan atau Surat Pembaca ke media cetak yang memuat berita yang kami diskusikan.

Tahun 2008 Babe meminta saya menjadi narasumber dan instruktur workshop “Berhubungan dengan Media dan Cara Penulisan Berita HIV/AIDS untuk peer group jaringan Odha Yayasan Spirita” di Kota Jambi, Jambi.

Tahun 2000 saya dan Babe jadi Anggota Panel Seleksi Proposal ‘Masri Singarimbun Research Award’ Tahap IV “Penyalahgunaan Narkoba” yang diselenggarakan Pusat Penelitian Kependudukan-Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta. Kami terbang ke Yogyakarta. Selesai kegiatan di Bulaksumur, kami berpisah karena ada kegiatan masing-masing. Tawaran untuk menginap kami tolak karena kami memilih jalan sendiri. “Saya mau ke rumah saudara, Bang,” kata Babe sambil memanggil becak. Babe menjalin hubungan keluarga dengan sebuah keluarga di Yogyakarta.

Setiap kali bertemu kami selalu terlibat dalam diskusi tentang HIV/AIDS, termasuk masalah-masalah yang terkait dengan orientasi seks. Beberapa kali kami kecewa membaca berita yang tidak objektif tentang HIV/AIDS dan seks. Belakangan saya kabari Babe bahwa saya mengurangi frekuensi mengirim tanggapan ke media cetak karena saya khawatir akan ada nada sumbang terhadap saya.

Di ICAAP Bali, 2009, kami ngobrol panjang-lebar di bawah pohon kelapa sambil menunggu angkutan wira-wiri yang disediakan panitia. Lagi-lagi Babe mengangkat bahu ketika saya tanya apa yang menarik dari kongres itu untuk dibagi ke masyarakat.

Saya lupa kapan persisnya pertemuan saya terakhir dengan Babe. Itu tidak jadi masalah karena kami satu cakupan dalam upaya menyebarluaskan informasi HIV/AIDS yang realistis. Saya akan terus melanjutkan niat kami agar tidak ada lagi informasi HIV/AIDS yang simpang-siur dan menyesatkan.

Selamat jalan, Babe. Semoga Dia memberimu ampunan di alam sana. ***

Ilustrasi (Repro: www.youtube.com)