20 April 2015

Pasangan Pengidap HIV/AIDS Ingin Anak yang Bebas AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Tanya Jawab AIDS No 1/April 2015

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Saya ingin bertanya beberapa hal, mohon kiranya dijawab pertanyaan-pertanyaan ini.

1. Selama menikah pasangan tsb. melakukan aktivitas seks meski cairan sperma tidak pernah masuk ke dalam vagina (karena istri sempat curiga suaminya berisiko AIDS dan istri tsb. juga tidak ingin hamil): Apakah hal tsb. di atas dapat menularkan AIDS? (Catatan: Sang istri pernah berpikir untuk mencoba tes HIV/AIDS, tapi niatnya urung dilakukan mengingat masih hal seperti ini masih tabu di kota tempat tinggal mereka).

2. Adakah obat-obatan herbal untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS?

3. Apa jenis tes yang akurat untuk mengetahui seseorang terinfeksi HIV/AIDS?

4. Bisakah penderita HIV/AIDS sembuh dan memiliki keturunan yang negatif HIV/AIDS?

Nn “Xz”, Jawa Tengah, via e-mail, 8/2-2015

Jawab: 1. HIV ada di cairan sperma atau air mani dan semen (cairan yang keluar ketika penis ereksi). Sebelum terjadi ejakulasi cairan semen sudah keluar dari penis. Kalau suami mengidap HIV/AIDS, maka ada risiko istri tertular HIV melalui semen yang sudah keluar ketika terjadi hubungan seksual vaginal. Ini terjadi jika suami tidak memakai kondom.  Kalau istri atau perempuan yang mengidap HIV/AIDS, maka gesekan penis dengan vagina menjadi pintu masuk HIV/AIDS dan dari cairan vagina ke penis.

2. Kita pakai akal sehat saja. Kalau pengobatan alternatif dan herbal bisa menyembuhkan (segala) macam penyakit tentulah rumah sakit sudah tutup dan dokter pun jadi pengangguran. Jangankan HIV, semua virus, seperti flu, tidak bisa dimatikan di dalam tubuh. Maka, jika HIV sudah masuk ke dalam tubuh virus itu akan ada di badan sepanjang hidup.

3. Tes HIV dilakukan setelah masa jendela yaitu setelah tiga bulan tertular (dalam hal ini hubungan seksual berisiko terakhir, yaitu hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berbanti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan). Standar prosedur operasi tes HIV yang baku adalah hasil tes pertama, misalnya dengan reagent ELISA, dikonfirmasi dengan tes lain, al. Western blot. Tapi, WHO (Badan Kesehatan Sedunia-PBB) merekomendasikan metode konfirmasi, terutama di kawasan dengan prevalensi HIV yang tinggi, yaitu tes pertama dengan ELISA sedangkan tes konfirmasi dengan ELISA tapi memakai reagent dan teknik yang berbeda.

Nah, jika mau tes HIV pastikan laboratorium itu melakukan standar tes HIV, yaitu: konseling sebelum dan sesudah tes, serta tes konfirmasi.

4. Lihat jawaban nomor 2 di atas. Pengidap HIV/AIDS dapat melahirkan anak yang tidak tertular HIV. Kalau suami yang mengidap HIV/AIDS, bisa dilakukan melalui proses bayi tabung. Kalau keduanya mengidap HIV/AIDS atau salah satu yang mengidap HIV/AIDS bisa juga mendapatkan anak yang tidak mengidap HIV/AIDS melalui pendampingan dokter. Hubungan seksual dilakukan ketika virus (HIV) sedang ‘tidur’ karena meminum obat antiretroviral (ARV). Tapi, ini hanya bisa dilakukan dengan penanganan dokter. ***


17 April 2015

60 Tahun KAA: 85 Persen Kasus HIV/AIDS Global Ada di Asia dan Afrika


* Besok (19/4-2015) pembukaan acara Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika, tapi kasus HIV/AIDS di Asia dan Afrika diabaikan ....

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

Tentu saja tidak ada satu pun peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung di Kota Bandung 60 tahun yang lalu membayangkan kawasan Asia Afrika kelak akan jadi ‘neraka’ karena penyebaran penyakit. Soalnya, kasus (terkait) AIDS pertama dipublikasikan di Amerika Serikat pada tahun 1981, sedangkan HIV sebagai virus yang menyebabkan AIDS baru diakui Badan Kesehatan Sedunia (WHO) pada tahun 1986.

Tapi, setelah 60 tahun konferensi itu sejarah mencacat bahwa kasus HIV/AIDS paling banyak terdeteksi di kawasan Asia Afrika.  

Tanggal 19-24 April 2015 berlangsung peringatan 60 tahun KAA yang diselenggarakan di Jakarta dan Bandung. Celakanya, agenda KAA hanya penuh dengan nuansa politik. Pergolakan, perang saudara, perebutan kekuasaan, pemberontakan, pertikaian paham agama, perkosaan, pembunuhan, dll. justru terjadi di kawasan Asia dan Afrika.

Abaikan AIDS

Dengan jumlah kasus HIV/AIDS di Asia dan Afrikayang mencapai 29.500.000 atau 84.29 persen dari kasus global serta estimasi infeksi baru yang mencapai 1.500.000 atau 71.43 persen dari estimasi global, pertanyaan yang sangat mendasar adalah: Apakah pembicaraan politik lebih penting daripada membahas upaya-upaya penanggulangan HIV/AIDS?

Dampak epidemi HIV/AIDS pun akan berimbas ke sektor ekonomi, politik dan keamanan, tapi hal ini diabaikan dengan memakai ‘baju moral’ yang mengesankan perilaku di kawasan AA tidak seperti di Eropa Barat dan Amerika. Padahal, tidak semua perilaku berisiko tertular HIV/AIDS ada kaitannya secara langsung dengan moral.

Tampaknya, para pemimpin di kawasan Asia dan Afrika akan tetap memilih pembicaraan politik karena hanya beberapa negara di kawasan ini yang sudah menerima HIV/AIDS sebagai fakta medis. Selebihnya, mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan norma, moral dan agama sehingga negara-negara tsb. tidak menjalankan program pencegahan yang realistis.

Epidemi HIV/AIDS sendiri menggerogoti perekonomian karena banyak hal yang terpapar, misalnya, tenaga kerja di berbagai sektor berkurang karena banyak penduduk usia produktif yang meninggal karena penyakit terkait AIDS. Penghasilan keluarga yang berkurang bahkan bisa tidak ada ketika suami mengidap HIV/AIDS karena dia tidak bisa lagi bekerja secara efektif. Bahkan, pada suatu saat akan berhenti atau diberhentikan.

Kebutuhan uang pada keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang mengidap HIV/AIDS pun bertambah al. untuk biaya pengobatan, bisa tes darah, ongkos ke rumah sakit, beli obat-obatan, dll. Bagi keluarga yang tidak didukung oleh asuransi tentulah kondisi ini akan memberatkan.

Di salah satu negara di Asia, misalnya, ada sebuah wilayah yang terkenal dengan cewek-ceweknya yang cantik-cantik yang banyak menjadi pekerja seks komersial (PSK) di kota. Ketika mereka bekerja sebagai PSK mereka mengirim uang ke kampung. Keluarga di kampung memakai uang untuk membeli tanah dan binatang ternak. Tapi, ketika ada di antara mereka yang mengidap HIV/AIDS dan tidak bisa lagi bekerja sebagai PSK, maka semua yang dibeli habis untuk biaya hidup dan pengobatan.

Pengalaman Thailand menghadapi epidemi HIV/AIDS bisa jadi pelajaran bersama. Di awal tahun 1990-an kalangan ahli mengingatkan bahwa Thailand harus menjalankan program penanggulangan yang komprehensif, tapi negara itu anggap remeh karena meraka merasa sebagai bangsa yang berbudaya dan bergama. Kondisi ini sekarang terjadi di banyak negara, seperti Indonesia yang selama ini juga selalu mengedepankan norma, moral dan agama dalam menanggulangi HIV/AIDS. Maka, tidaklah mengherankan kalau sampai 31 Desember 2014 sudah terdeteksi 225.928 kasus HIV/AIDS yang terdiri atas 160.138 HIV dan 65.790 AIDS dengan 11.801 kematian.

Tapi, apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian di Thailand?

Sampai awal tahun 2000-an dana yang dikeluarkan negara untuk penanggulangan HIV/AIDS secara langsung dan tidak langsung mencapai 8,7 miliar dolar AS. Di tahun 2000 saja diperlukan dana 2,2 miliar dolar AS. Devisa yang diperoleh negara itu dari pariwisata hanya cukup dua pertiga dari dana yang dibutuhkan. Nah, kondisi ini akan terjadi di negara lain. Indonesia, misalnya, dana penanggulangan HIV/AIDS akan menggerogoti APBN dan APBD.

Debat Kondom

Pasien-pasien dengan penyakit terkait AIDS tidak tertampung di tempat tidur rumah sakit. Thailand beruntung karena vihara menampung pasien-pasien AIDS tadi. Pertanyaannya: Apakah gereja dan masjid kelak mau menampung pengidap HIV/AIDS yang tidak tertampung di rumah sakit? 

Dengan kasus yang mendekati 1.000.000 pemerintah Thailand pun menjalankan lima program dengan skala nasional secara simultan. Salah satu adalah program “wajib kondom 100 persen” bagi laki-laki yang ngeseks dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran. Program ini menurunkan insiden infeksi HIV baru dengan indikator kasus HIV pada calon taruna angkatan bersenjata.

Isu lain yang menjadi masalah besar adalah harga obat karena ada hak paten obat-obatan terkait dengan HIV/AIDS. Bagi pengidap HIV/AIDS obat antiretroviral (ARV) adalah ‘penyambung nyawa’ karena mereka meminum obat ARV sepanjang hidupnya tanpa ada kemungkinan sembuh.

Begitu pula dengan reagent untuk tes HIV yang juga tidak murah. Di Indonesia, misalnya, tes HIV berkisar Rp 290.000. Kalau saja negara-negara AA menjadikan HIV/AIDS sebagai salah satu tema atau isu yang dibahas tentulah sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup puluhan juta penduduk AA yang terpapar HIV/AIDS. Misalnya, menggalang kerja sama untuk membangun pabrik obat ARV dan reagent untuk tes HIV sehingga tidak lagi tergantung kepada negara produsen obat dan reagent. 

Masalah lain yang tidak kalah peliknya yang menjadi salah satu faktor penghambat dalam penanggulangan epidemi HIV/AIDS adalah: (a) Stigmatitasi (pemberian cap buruk atau negatif) terhadap orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS dan identitasnya diketahui masyarakat dengan kaca mata norma, moral, agama dan hukum. Padahal, tidak semua orang yang tertular HIV/AIDS terkait dengan norma, moral, agama dan hukum, seperti istri yang tertular dari sumai, anak yang tertular dari ibu di kandungan, orang-orang yang tertular melalui transfusi darah, dll., dan (b) Diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS dan identitasnya diketahui masyarakat. Padahal, tidak ada risiko penularan HIV/AIDS melalui pergaulan sosial sehari-hari.

Selain itu mobilitas penduduk AA pun mendorong penyebaran HIV/AIDS pula. Banyak negara di kawasan Asia dan Afrika yang tidak memberikan izin untuk hiburan malam dan industri terkait seks. Tapi, kasus HIV/AIDS di negara-negara itu ternyat juga banyak. Hal itu terjadi karena ada laki-laki dari negara-negara itu yang mencari seks ke negara lain, baik di AA maupun di luar AA.

Di beberapa negara kemiskinan mendorong pelacuran dan perdagangan manusia. Selain untuk ‘perbudakan’ perdagangan manusia juga terkait dengan pelacuran. Kondisi ini menjadi salah satu aspek yang menjadi pemicu penyebaran HIV/AIDS. Pola utama penularan HIV/AIDS di kawasan AA adalah melalui hubungan seksual dalam industri seks sehingga diperlukan langkah bersama yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru di kalangan laki-laki pembeli seks.

Kasus di atas tentulah layak jadi topik pembicaraan di KAA karena menyangkut nasib perempuan dan anak-anak. Singapura, misalnya, meminta laki-laki beristri menjalani tes HIV sukarela jika kembali dari daerah Riau da Kepulauan Riau. Tentu saja hal ini masuk akal karena di dua daerah itu PSK datang dari berbagai daerah bahkan dari negara lain. Kondisinya kian runyam karena pelacuran di Riau dan Kepulauan Riau tidak diregulasi sehingga tidak ada intervensi yang mengharuskan laki-laki pakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK.

Sebuah laporan menunjukkan sejak awal tahun 1990-an penemuan kasus baru di beberapa wilayah sudah mulai menunjukkan grafik yang mendatar, seperti di Amerika, Oseania, Eropa Barat dan Afrika. Sebaliknya di kawasan Asia Pasifik kasus baru HIV/AIDS justru meroket.

Kalau di Amerika, Eropa Barat dan Oseania kasus baru mulai mendatar karena di negara-negara di kawasan itu sudah dijalankan cara-cara pencegahan HIV/AIDS yang konkret, terutama melalui hubungan seksual, terutama pada laki-laki dewasa yaitu memakai kondom pada hubungan seksual yang berisiko: (1) Hubungan seksual di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti, dan (2) Hubungan seksual dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, al. PSK.

Celakanya, di kawasan Asia Pasifik perdebatan soal kondom sudah masuk ke ramah ‘debat kusir’ yang tidak berkesudahan. Kondom dikait-kaitkan dengan moral yaitu dikatakan sebagai legalisasi perzinaan. Padahal, pezina-pezina yang ngeseks dengan PSK tidak akan pernah mau memakai kondom dengan 1001 macam alasan.

Itulah sebabnya banyak kasus HIV/AIDS pada perempuan, khususnya ibu rumah tangga, yang sama sekali tidak melakukan perilaku beisiko tertular HIV/AIDS.

Sedangkan di Afrika penemuan kasus baru mendatar karena penularan lebih banyak terjadi pada bayi. Ini terjadi karena orang-orang dewasa banyak yang mengidap HIV/AIDS sehingga kasus baru pada kalangan dewasa tidak sebanyak di awal-awal epidemi.

Kerja sama dalam sektor penanggulangan HIV/AIDS, memproduksi obat dan reagent serta saling dukung menjadi kerangka kerja sama yang jauh lebih penting bagi negara-negara di Asia dan Afrika daripada hanya sekedar ‘mengaum’ di hingar-bingar globalisasi yang akan tetap dimenangkan oleh negara-negara Barat. ***

14 April 2015

Pelacuran dan "Esek-esek" via Media Sosial Pindah ke Ranjang di Rumah (Kos), AIDS pun Menyebar Tak Terkendali

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

Media Sosial Jadi Lahan Baru Bisnis Esek-esek.” Ini judul berita di inet.detik.com (13/4-2015). Memang, di Facebook dan Twitter tinggal klik ‘bispak’ (cewek bisa pakai), ‘bisyar’ (cewek habis pakai bayar), ‘cewek kampus’, ‘ayam kampus’, dll. sudah muncul gambar-gambar cewek dengan berbagai pos dan berbagai gaya mulai dari yang hanya memakai Bra dan CD sampai yang bugil.

Penutupan lokasi dan lokalisasi pelacuran, di era Orba disebut resos yaitu rehabilitasi dan resosialisasi pekerja seks komersial (PSK) melalui regulasi, di era reformasi meninabobokkan masyarakat karena dikesankan hal itu menghapus atau memupus praktek perzinaan, dalam hal ini pelacuran. Maka, gubernur, bupati dan walikota pun menepuk dada: Di daerah saya tidak ada pelacuran.

Jenis Layanan

Ya, secara de jure itu benar. Tapi, secara de facto praktek pelacuran justru merajelala dalam berbagai bentuk dan dengan modus yang beragam pula.

Lihat saja kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin, 26 tahun, alias Tata alias Mpie di salah satu rumah kos di Tebet, Jakarta Selatan, membuktikan praktek pelacuran melalui jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, Ponsel, dll. Korban disebut-sebut sebagai ‘cewek bispak’ melalui jaringan media sosial. Sebelumnya juga pelacuran online ramai setelah seorang mahasiswi pergurutan tinggi agama di Bandung, Jawa Barat, terbongkar kedoknya sebagai ‘ayam kampus’.

Mulai Jumat sore sampai hari Minggu losmen dan hotel-hotel melati selalu penuh. “Tidak bisa pesan, Pak. Mau nginap langsung saja datang,” kata seorang karyawan hotel melati di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. Rupanya, kalau di-booking itu artinya kamar jadi hak selama 24 jam. Padahal, banyak tamu yang hanya “nginap” dua atau tiga jam. Jadi, kalau di-booking mereka rugi karena dalam 24 jam sudah bisa 5-7 pemesan yang ngamar.

Yang tidak masuk akal adalah tidak sedikit tamu yang datang ke hotel melati itu dengan membawa cewek yang memakai pakaian berpenutup kepala. Kalau mereka suami-istri tentulah hal yang naif harus ngamar di hotel melati karena di kamar kos juga tidak masalah kalau sudah ada surat nikah.

Tentu saja kalau seorang laki-laki membawa cewek ke losmen, hotel melati atau hotel berbintang serta apartemen itu bisa jadi indikator bahwa bisa jadi dia pernah atau sering ganti-ganti pasangan. Begitu juga dengan cewek yang mau dibawa ke ngamar bisa jadi juga pernah atau sering ganti-ganti pasangan.

Itu artinya perilaku mereka berisiko tertular dan menularkan IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Celakanya, di hotel itu sama sekali tidak ada penjangkauan untuk memberikan informasi tentang risiko tertular IMS (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyait yang ditularkan melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah dari pengidap IMS ke pasangan seksnya jika laki-laki atau suami tidak memakai kondom, seperti sifilis, GO, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, dll.) atau HIV/AIDS. Bisa juga dua-duanya sekaligus jika pasangan seks mengidap IMS dan HIV/AIDS.

Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia kian runyam karena praktek pelacuran terjadi melalui media sosial yaitu cewek ‘dipesan’ melalui jaringan media sosial.

Ada juga yang menawarkan diri dengan berbagai persyaratan,tarif, waktu, kondisi dan layanan yang disediakan: bayar DP (uang muka) ke rekening, ada pula yang cash di tempat tidur sebelum ‘bertempur’. Layanan yang diberikan selain seks vaginal ada juga servis BJ (blow job yaitu seks oral), CIF (cum in face atau crot di wajah), CIM (cum in mouth atau crot di dalam rongga mulut), dan servis lain seperti tertera di status media sosial. Juga dijelaskan langkah-langkah yang harus dilalui ‘pemesan’ agar bisa sampai ke peraduan.

Memang, ada juga yang memberikan syrat harus pakai kondom, tapi tidak ada jaminan karena bisa saja laki-laki menolak memakai kondom atau transaksi dibatalkan. Tentu saja cewek ‘bispak’, ‘bisyar’ atau ‘ayam kampus’ tidak punya pilihan lain selain melayani laki-laki yang tidak memakai kondom.

PSK Tidak Langsung

Itu artinya risiko penyebaran HIV/AIDS terbuka luas. Laporan Dijen PP & PL, Kemenkes RI per tanggal 12 Februari 2015 menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS mencapai 225.928 yang terdiri atas 160.138 HIV dan 65.790 AIDS dengan 11.801 kematian. Kasus ini tersebar dari Aceh sampai Papua. Artinya tidak ada daerah yang bebas HIV/AIDS.

Kondisi penyebaran HIV/AIDS kian runyam karena sama sekali tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas HIV/AIDS pada orang-orang yang tertular HIV. Itu artinya banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV/AIDS sehingga mereka pun tidak menerapkan seks (yang) aman, al. laki-laki memakai kondom, ketika melakukan hubungan seksual di dalam dan di luar nikah.

Persoalan lain yang muncul dari cewek ‘bispak’, ‘bisyar’, ‘ayam kampus’, dll. adalah ketika mereka mengalami kejanggalan di vagina, misalnya, ada cairan yang berbau atau tidak berbau mereka minum jamu atau membeli obat di pedagang obat atau membeli obat antibiotik. Kondisi itu menunjukkan mereka tertular IMS. Celakanya, pada perempuan IMS nyaris tanpa gejala seperti pada laki-laki yang akan terasa sakit ketika buang air kecil. Ini yang menjadi masalah besar karena setiap penyakit IMS berbeda obatnya. Pengobatan oleh dokter dilakukan melalui diagnosis setelah ada hasil laboratorium cairan vagina.

Praktek pelacuran yang melibatkan cewek-cewek melalui media sosial menjadi jembatan penyebaran IMS dan HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus yaitu dari laki-laki ke cewek-cewek itu dan dari cewek-cewek itu ke laki-laki yang ngeseks dengan mereka. Kalau laki-laki yang menularkan IMS atau HIV/AIDS ke cewek-cewek itu atau yang tertular IMS dan HIV/AIDS dari cewek-cewek itu mempunyai istri, maka ada risiko penularan IMS dan HIV/AIDS ke istri mereka. Pada akhirnya kalau istri mereka tertular IMS dan HIV/AIDS ada pula risiko penularan kepada bayi yang dikandung istri (vertikal).

Ada laporan yang menyebutkan jumlah laki-laki yang menjadi pelanggan PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata seperti di lokasi pelacuran atau yang di jalanan jumlahnya 6,7 juta. Dari jumlah ini 2,2 juta beristri.

Nah, dengan terbukanya media sosial sebagai saluran pelacuran maka jumlah laki-laki yang berisiko kian banyak karena pelacur yang dipesan melalui media sosial ini adalah PSK tidak langsung.

Jumlah PSK tidak langsung tidak bisa dimonitor karena tidak terpusat di satu tempat. Mereka pun bekerja sendiri-sendiri, sebagian ada yang dikendalikan germo, sehingga PSK tidak langsung tidak bisa diintervensi untuk sosialisasi risiko tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Itu artinya penyebaran IMS dan HIV/AIDS melalui PSK tidak langsung menjadi penyumbang terbesar dalam epidemi HIV/AIDS yang pada gilirannya akan menjadi pemicu “ledakan AIDS” di Tanah Air. *** 

Ilustrasi (Repro: merdeka.com)

10 April 2015

Tes HIV Hanya pada Ibu Hamil Membuat Suami Sebagai Penyebar HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Komitmen YHI Papua Terhadap Program KIA yang Terintegrasi HIV-AIDS. Setiap Ibu yang Periksa Kehamilannya Wajib Test VCT” Ini judul berita di Harian “Cenderawasih Pos”, Jayapura, Papua (9/4-2015).

Ada beberapa hal yang bisa ditanggapi dari judul berita tsb, yaitu:

Pertama, “Test VCT”. Ini rancu bin ngaco karena VCT (voluntary counseling and test) adalah sistem atau cara dalam tes HIV yakni tes HIV sukarela dengan konseling sebelum dan sesudah tes HIV. Yang benar adalah tes HIV melalui VCT.

Kedua, di judul disebut “wajib test VCT”. Lho, ini bagaimana? Koq bisa? Sistemnya sukarela tapi tesnya wajib.

Ketiga, langkah tes HIV terhadap ibu hamil menunjukkan patriarki yang bias gender karena ibu hamil itu jika terdeteksi mengidap HIV/AIDS adalah korban (dari suaminya).

Keempat, tes HIV terhadap ibu hamil adalah langkah di hilir. Artinya, YHI Papua membiarkan ibu-ibu di Papua tertular HIV dahulu, lalu kalau sudah hamil baru menjalani tes HIV. Ini merupakan pembiaran yang merupakan perbuatan melawan hukum dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM).

Di bagian lain dalam berita tsb. disebutkan “ .... yayasan ini mendorong ibu hamil (bumil) untuk memahami secara dini serta melakukan pemeriksaan Voluntary Counseling Test ....”

Dalam program pencegahan penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya langkah pertama adalah tes HIV terhadap ibu-ibu hamil. Yang perlu dijelaskan ke perempuan, dalam hal ini ibu rumah tangga atau istri, adalah program tsb. yaitu program pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya. Nah, program itu dilakukan dengan tes HIV kepada ibu hamil. Jika ibu hamil positif mengidap HIV/AIDS, maka program pencegahan pun dijalankan.

Dalam berita soal ibu hamil yang ‘wajib test VCT’ sama sekali tidak dikaitkan dengan suami. Padahal, jika seorang ibu rumah tangga terdeteksi mengidap HIV/AIDS melalui tes waktu hamil itu membuktikan suaminya mengidap HIV/AIDS.

Lalu, apa langkah YHI untuk meminta suami ibu-ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mau menjalani tes HIV?

Pengalaman di beberapa daerah menunjukkan suami ibu-ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS menolak untuk menjalani tes HIV.

Maka, kalau hal itu yang terjadi suami yang mengidap HIV/AIDS itu menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Bisa kepada istrinya yang lain kalau istrinya lebih dari satu, bisa juga ke selingkuhannya, pacarnya atau PSK. Bahkan bisa jadi ke waria atau sesama lelaki. Itu artinya penyebaran HIV/AIDS terus terjadi.

Dalam kaitan itulah diperlukan konseling pasangan. Ibu atau perempuan yang hamil diwajibkan membawa suami atau pasangannya untuk menjalani konseling. Jika suami atau pasangan ternyata perilaku seksnya berisiko tertular HIV/AIDS, maka pasangan itu harus menjalani tes HIV.

Tentu akan ada suara-suara sumbang, “Itu melanggar HAM.”

Nah, kita pakai kiat Amerisa Serikat (AS). Dalam satu wawancara dengan Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM (K), pakar hematologi dan pejuang AIDS, Prof Beri mengatakan bahwa di AS semua orang yang berobat, semua penyakit, ke rumah sakit pemerintah wajib tes HIV.

Mengapa hal itu tidak diprotes warga AS yang dikenal sebagai negara demokrasi?

Ya, HAM dilanggar jika tidak ada pilihan. Nah, kalau tidak mau tes HIV jangan berobat ke rumah sakit pemerintah.

Maka, wajib konseling pasangan itu pun diperuntukkan bagi yang periksa kehamilan ke sarana kesehatan pemerintah. Kalau tidak mau konseling pasangan, silakan periksan kehamilan ke sarana kesehatan nonpemerintah.

Hanya dengan mewajibkan konseling pasangan yang dilanjutkan dengan tes HIV pasangan salah satu mata rantai penyebaran HIV bisa diputus. Kalau hanya istrinya yang menjalani tes HIV, maka penyebaran HIV/AIDS terus terjadi melalui suami ibu yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Dalam kerangka yang lebih komprehensif diperlukan intervensi melalui regulasi yang memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK). Regulasi ini hanya efektif jika pelacuran dilokalisir dengan regulasi sehingga ada celah menerapkan sanksi hukum.

Tanpa intervensi terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK, maka insiden penularan HIV baru akan terus terjadi. Pada gilirannya ibu-ibu rumah tangga pun kian banyak pula yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Jika tidak ditangani anak-anak yang mereka lahirkan pun akan tertular HIV/AIDS. Kalau ini yang terjadi tinggal menunggu waktu saja untuk sebuah “ledakan AIDS”. *** 

08 April 2015

Terpecahkan, Teka-teki Penyebaran HIV dalam Tubuh!


Ilustrasi Human Immunodeficiency Virus (HIV)  (Repro: tribunnews.com/Fine Art America)

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang CD4 sel T manusia, menurunkan kekebalan tubuh, memicu Acute Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Namun demikian, pola penyebaran virus itu masih teka-teki.

Berusaha memecahkan teka-teki itu, pakar HIV sekaligus keamanan jaringan University College London, Changwang Zhang, mengembangkan simulasi. Modelnya terinspirasi dari virus Conficker menginfeksi jaringan militer dan polisi Eropa pertama kali tahun 2008.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa penyebaran HIV di dalam tubuh mirip dengan pola penyebaran Conficker. "Keduanya memakai mekanisme hibrida, bertahan dalam waktu lama, dan sulit dihilangkan," kata Zhang.

Untuk masuk ke sebuah jaringan, Conficker memilki dua jalur, yaitu antar komputer secara langsung dan lewat internet. HIV juga punya dua jalur, yaitu lewat darah dan langsung antar-sel.

"Model yang kami kembangkan menjelaskan ciri-ciri penting untuk memprediksi proses infeksi," kata Zhang seperti dikutip Daily Mail, Selasa (7/4/2015). Zhang menambahkan, model itu akan membantu memerangi dua virus komputer dan biologis itu.

Untuk mengonformasi pemodelan, Zhang meneliti 17 pasien HIV positif di London. Hasilnya, model penyebaran secara hibrida paling pas untuk menjelaskan kondisi pada pasien tersebut.

Terkait HIV, karena diketahui menyebar secara hibrida, maka penyebaran antar-sel secara langsung tak bisa diremehkan. Malah, pola penyebaran itulah yang kemungkinan berperan lebih besar mempercept perkembangan HIV ke AIDS.

Benny Chain, ilmuwan University College London yang turut serta meneliti mengatakan, "Jumlah HIV dalam aliran darah selalu lebih rendah dan model kami menunjukkan bahwa HIV dalam darah saja tak akan mampu menyebabkan AIDS."

"Kemungkinan besar HIV bersembunyi di tempat yang punya populasi sel T tinggi, seperti saluran pencernaan, dan kemudian menggunakan mekanisme antar-sel untuk menyebar secara efisien," imbuhnya.

Adanya HIV yang bersembunyi dalam tempat kaya sel T itu menunjukkan perlunya penggunaan ARV segera. Sebab, bagaimana bila begitu terinfeksi HIV langsung bersembunyi di tempat tersebut?

"Model kami memberi petunjuk bahwa memblokir penyebaran antar-sel akan mencegah perkembangan HIV menjadi AIDS, menggarisbawahi perlunya cara perawatan baru," jelas Chain. Ke depan, Chan dan Zhang berencana mempelajari langsung penyebaran virus serupa HIV pada hewan. (tribunlampung/kompas.com).

07 April 2015

Menggalang Partisipasi Masyarakat Memupus Stigma dan Diskriminasi Terhadap Odha

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) akan mengadakan kegiatan “Hugging Run”  yang bertema “Keluarga adalah Rumah Terbaik untuk ODHA” dengan tagline “One  Hug One Life” di Parkir Timur Senayan, Jakarta, tanggal 30-31 Mei 2015.

Acara tsb. digalang oleh PKBI karena banyak Orang dengan HIV/AIDS  (Odha) yang  masih mengalami stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda). Perlakuan tsb. tidak hanya oleh masyarakat, tapi juga kerap dilakukan oleh keluarga Odha itu sendiri.

Laporan Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, tanggal 12 Februari 2015, tentang Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan IV Tahun 2014: Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS Tahun 1987-Desember 2014 sebanyak 225.928 yg terdiri atas HIV 160.138 dan AIDS 65.790 dengan 11.801 kematian. Sekitar 71,9 % kasus HIV/AIDS terdeteksi pada rentang usia antara 25-49 tahun.

Stigma dan diskriminasi yang dihadapi Odha hingga saat ini sudah layak menjadi perhatian kita semua. Bahkan, unit terkecil, yaitu keluarga, masih saja ada yang melakukan stigma dan diskriminasi terhadap anggota keluarganya yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Kondisi ini akan memerparah kondisi psikologis Odha. Padahal, mereka menggantungka harapan kepada keluarga agar menerima mereka dengan perhatian dan dukungan.

Lagi pula tidak ada kaitan langsung antara norma, moral, agama dan hukum dengan penularan HIV/AIDS karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual, misalnya, bisa terjadi di dalam dan di luar nikah. Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi (saat terjadi) hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom ketika hubungan seksual di dalam dan di luar pernikahan yag sah (sifat hubungan seksual).

Maka, tidak ada alasan untuk melakukan stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS karena tidak semua orang yang tertular HIV terkait dengan pelanggatan norma, moral, agama dan hukum. Linat saja ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya melalui hubungan seksual yang sah dan halal di dalam ikatan pernikahan yang sah.

Pengalaman Randi, bukan nama sebearnya, seorang Odha di Jakarta ini memberikan gambaran stigma dan diskriminasi yang mereka hadapi. “Ketika di malam hari dalam suasana yang sangat tenang bersama mama dan kakakku, aku memberitahukan  hasil tes HIV yang ternyata hasilnya positif kepada mereka. Alhasil mamaku sangat kecewa dan sempat marah kepadaku, apalagi kakakku langsung menarik anaknya untuk menjauh dariku.”

Hal yang saja juga dialami oleh Erna, juga bukan nama sebenarnya, yang juga seorang Odha. Ini pengalaman Erna di lingkungan keluarganya. “Ketika keluarga mengetahui status HIV saya, mama hanya melarang saya untuk memegang keponakan saya yang masih kecil karena kasihan kalau tertular.” Bagi Erna sikap seperti itu wajar, “Karena mama belum paham dengan HIV,” ujar cewek ini.

Terkait dengan acara yang akan dilangsungkan, menurut Inang Winarso, Direktur Eksekutif PKBI,  pada acara Media Gathering bulanan PKBI di Jakarta (6/4-2015): “Event ini merupakan rangkaian kegiatan terkati dengan peringatan ‘Hari Keluarga Nasional’ 29 Juni 2015.”

Acara tsb. diramaikan dengan kegiatan olah raga dasosialisasi n informasi HIV/AIDS yang akan dilaksanakan secara serentak di 3 (tiga) kota yaitu Bandung, Denpasar, dan Jakarta selama 2 (dua) hari yakni pada tanggal 30 – 31 Mei 2015. “Kita berharap dengan kegiatan ini rekan-rekan media bisa memberikan informasi HIV/AIDS yang komprehensif agar saudara-saudara kita yang terinfeksi HIV tidak mengalami stigma dan diskrimasni,” kata Lola Lamanda, Business Development Manager “Limaplus Komunika”, yang akan menjalakan acara “Hugging Run”  ini.

Ajakan Lola merupakan harapan Inang: “Diharapkan dengan bentuk kegiatan seperti ini masyarakat dapat lebih paham isu HIV/AIDS dan terutama bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga HIV+ tidak lagi melakukan stigma dan diskriminasi karena pada prinsipnya keluarga adalah rumah terbaik bagi Odha.”

Salah satu kegiatan tanggal 31 Mei 2015 adalah Hugging Run 5K yang akan dikemas dengan kegiatan olah raga (futsal dan basket). Tim futsal Odha akan berhadapan dengan artis-artis ibu kota.

Sedangkan sosialisasi HIV/AIDS dilakukan al. melalui talk show, diskusi, Tes HIV Bersama,  dan Bazar.

Acara lain yang tidak kalah pentingnya adalah Malang Renungan AIDS Nasional (MRAN) 2015 yang merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk mengenang suami, istri, anak, keponakan, cucu, pacar, suami, istri, teman, sahabat, dll. yang sudah berpulang karena penyakit terkait AIDS. Dengan mengenang mereka masyarakat diharapkan bisa memetik hikmah agar tidak lagi ada yang melakukan perilaku yang berisik tertular HIV/AIDS.

Acara dua hari itu akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk Odha dan keluarganya serta dimeriahkan oleh artis-artis ibu kota.

PKBI adalah sebuah organisasi gerakan yang didirikan pada tahun 1957 yang berkantor pusat di Jakarta. PKBI memelopori gerakan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Hingga saat ini PKBI memiliki kantor daerah di 27 provinsi di Indonesia dan terus memperjuangkan hak warga negara agar hak kesehatan terpenuhi secara menyeluruh termasuk kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi. *

Foto: Repro: moneyaware.co.uk

03 April 2015

Dua PSK di Kab Madiun Idap AIDS, Laki-laki Pelanggan PSK Berisiko Tertular HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

“Sebanyak 29 pekerja seks komersial dan satu mucikari dijaring dari warung remang-remang dalam razia yang dilakukan Polres Madiun (Jatim-pen).” Ini lead pada berita: “Terjaring di warung remang-remang. Polisi jaring 29 PSK, dua di antaranya positif HIV/AIDS” di lensaindonesia.com (2/4-2015).

Kalau wartawan yang menulis berita ini memahami epidemi HIV/AIDS, maka berita tidak hanya sekedar menceritakan penangkapan tsb.

Yang jadi persoalan besar adalah ada dua pekerja seks komersial (PSK) yang terjaring pada razia itu sebagai pengidap HIV/AIDS. Itu artinya ada masalah besar di wilayah Kabupaten  Madiun khususnya dan di Jatim umumnya.

Pertama, ada dua laki-laki dewasa yang mengidap HIV/AIDS yaitu yang menularkan HIV kepada dua PSK tsb. Laki-laki ini bisa penduduk Madiun atau dari luar Madiun. Dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa saja sebagai suami sehingga ada risiko menularkan HIV/AIDS ke istri atau pasangan mereka, bisa juga ke PSK lain. Itu artinya ada dua laki-laki di Madiun yang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Kedua, ada puluhan, ratusan bahkan ribuan laki-laki yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yaitu yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan dua PSK tsb. Dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa saja sebagai suami sehingga ada risiko menularkan HIV/AIDS ke istri atau pasangan mereka, bisa juga ke PSK lain. Jika istri mereka tertular, maka ada pula risiko penularan secara horizontal dari ibu-ke-bayi yang dikandungnya. Itu artinya ada ratusan bahkan ribuan laki-laki dewasa di Madiun yang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Ketiga, hasil tes HIV yang reaktif baru bisa terjadi jika dua PSK itu tertular minimal setelah tiga bulan. Maka, dalam tiga bulan ada 360 (2 PSK x 3 laki-laki/malam x 20 hari/bulan x 3 bulan) laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan mereka yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Jika dua PSK itu sudah tertular HIV lebih dari tiga bulan ketika menjalani tes HIV, maka jumlah laki-laki yang berisiko tertular HIV/AIDS pun tambah banyak.

Maka, persoalan ada pada masyarakat Kab Madiun bukan pada dua PSK pengidap HIV/AIDS tsb.

Masalahnya kemudian adalah Pemkab Madiun tidak mempunyai program yang konkret untuk mendeteksi laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK dan laki-laki yang tertular HIV/AIDS dari PSK.

Itu artinya penyebaran HIV/AIDS secara horizontal terus terjadi yang kelak akan sampai pada “ledakan AIDS”. ***

01 April 2015

Nonton Blue Film, Pemuda Ini Terbawa Nafsu Lakukan Seks Anal dengan Sesama Jenis

Tanya Jawab AIDS No 1/April 2015

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Dua hari yang lalu saya ML (hubungan seksual, dalam hal ini seks anal) dengan sesama pria. Kami terbawa nafsu saat nonton blue film. Kami berdua baru itu pertama kali ML. Kami tidak pakai kondom. ML berlangsung tiga menit. (1) Bagaimana tanggapan Anda tentang risiko kami tertular HIV? Ampuni aku Tuhan. Aku menyesal sekali. (2) Menurut Anda, apakah Tuhan mau memberi pengampunan bagi pendosa seperti aku ini? Aku jera melakukan ini. GBU.

Tn “T”, Sumut, via SMS (8/3-2015)

Jawab: (1) Risiko menularkan dan tertular HIV melalui seks anal terjadi karena kondisi hubungan seksual yaitu: (a) Salah satu mengidap HIV/AIDS, dan (b) Yang menganal (yang melakukan penetrasi) tidak memakai kondom.

Terkait dengan kondisi (a) tentu tidak bisa dilihat dari fisik karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada orang yang mengidap HIV/AIDS. Kepastian seseorang mengidap HIV/AIDS atau tidak hanya bisa diketahui melalui tes HIV. Tentulah tes HIV tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba ketika hendak ML.

Maka, persoalannya adalah apakah Anda atau pasangan Anda pernah ML (seks anal atau seks vaginal) sebelumnya?

Kalau pernah, apalagi dengan pasangan yang tidak diketahui status HIV-nya atau dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering ganti-ganti pasangan, itu artinya seks anal yang kalian lakukan berisiko karena ada kemungkinan salah satu dari kalian mengidap HIV/AIDS.

Kalau tidak pernah, maka tidak ada risiko tertular HIV melalui seks anal yang kalian lakukan. 

(2) Maaf, itu di luar kegiatan kami. Silakan tanya agamawan sesuai dengan agama Anda. *** 

29 Maret 2015

Penanggulangan AIDS di Bandungan, Kab Semarang, Jateng, dengan Tes HIV terhadap PSK

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

"Ini warning kepada pelanggan karena dengan modus (kos di hotel) ini tidak dapat terdeteksi siapa PSK yang positif HIV." Ini pernyataan pegiat HIV Aids dari PKBI Jawa Tengah, Andreas Bambang Santoso, dalam berita “PSK Kos di Hotel, Aktivis Sulit Pantau HIV/AIDS” (kompas.com, 29 Maret 2015).

Jika langkah penanggulangan dilakukan berpijak pada pernyataan pegiat di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi persoalan besar yang pada akhirnya tidak berguna, yaitu:

Pertama, ketika tes HIV dilakukan terhadap PSK, maka ada dua kemungkinan hasil tes negatif palsu (HIV ada di dalam darah tapi tes nonreaktif). Ini terjadi karena darah PSK itu diambil pada masa jendela yaitu PSK tsb. tertular HIV di bawah tiga bulan. Nah, kalau ini yang terjadi maka penyebaran HIV/AIDS akan banyak karena PSK yang terdeteksi HIV negatif palsu akan melayani puluhan bahkan ratusan laki-laki melakukan hubungan seksual tanpa kondom.

Kedua, sebelum PSK menjalani tes sudah banyak laki-laki yang berisiko tertular HIV/AIDS yaitu laki-laki yang melukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK yang sudah tertular HIV tapi belum terdeteksi. Laki-laki ini menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakt secara horizonal al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Ketiga, ada laki-laki yang menularkan HIV ke PSK. Laki-laki ini juga menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakt secara horizonal al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Yang menjadi persoalan besar bukan PSK, yang mengidap atau tidak mengidap HIV/AIDS, tapi: (a) Laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK, dan (b) Laki-laki yang tertular HIV dari PSK.

Yang perlu dijalankan oleh para pegiat AIDS bukan melakukan tes HIV kepada PSK, tapi merancang regulasi yang dijadikan peraturan untuk mendeteksi kasus HIV/AIDS di masyarakat yaitu konseling dan tes HIV pasangan yaitu jika ada perempuan hamil maka pasangan atau suaminya wajib mendampingi istri menjalani konseling HIV/AIDS. Jika ada indikasi pasangan atau suami dengan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS, maka istri dan pasangan wajib menjalani tes HIV.

Sedangkan untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS bukan dengan cara melakukan tes HIV terhadap PSK, tapi melakukan intervensi dalam bentuk regulasi yang memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Disebutkan bahwa: “ .... satu bulan terakhir di kota wisata Bandungan, Kab Semarang, Jateng, para pekerja seks komersial (PSK) meninggalkan rumah-rumah kos menuju hotel, yang sebagian besar merupakan kelas melati.”

Ada pernyataan “Kondisi itu dikeluhkan masyarakat, tetapi juga para aktivis HIV/AIDS. Sebab para PSK yang indekos di hotel tidak bisa dijangkau oleh akses layanan tes infeksi menular seksual (IMS) dan HIV.”

Tidak jelas mengapa masyarakat mengeluh ketika PSK pindah dari tempat kos ke hotel-hotel melati. Kalau alasan mereka karena ekonomi itu masuk akal. Tapi, kalau terkait dengan pernyataan pegiat AIDS itu tentulah ironis. Praktek pelacuran di rumah-rumah kos jauh lebih buruk daripada PSK itu melacur di hotel-hotel melati. Tapi, mengapa masyarakat mengeluh?

Tes IMS dan tes HIV terhadap PSK itu tidak ada manfaatnya karena sebelum mereka menjalani tes sudah puluhan bahkan ratusan laki-laki yang tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus. ***

25 Maret 2015

Suami (yang) Menularkan HIV ke Istri

Oleh Syaiful W Harahap – AIDS Watch Indonesia

HIV Menyebar ke Rumah Tangga. Pemerintah Diminta Meningkatkan Perlindungan.” Ini judul berita di Harian KOMPAS, 16/3-2015, halaman 13. Judul ini lagi-lagi menyudutkan perempuan, dalam hal ini ibu rumah tangga, karena dikesankan ibu-ibu rumah tangga tidak bisa melindungi diri.

Laporan kasus kumulatif HIV/AIDS yang dieluarkan Kemenkes menunjukkan sampai bulan September 2014 ada 6.539 ibu rumah tangga yang mengidap AIDS dari 206.084 kasus HIV/AIDS secara nasional. Di Yayasan Pelita Ilmu (YPI) di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, misalnya, ada 140-an anak-anak dengan HIV/AIDS yang yatim dengan ibu yang juga mengidap HIV/AIDS. Ibu-ibu ini tertular dari suaminya, sebagian besar penyalahguna narkoba.

Kalau saja judul berita itu “Banyak Suami yang Membawa HIV ke Rumah” atau “Banyak Suami yang Menularkan HIV ke Istri”, maka hal itu menggambarkan fakta karena ibu-ibu rumah tangga (baca: istri) tidak mempunyai posisi tawar yang kuat terkait dengan upaya melindungi dirinya dari risiko tertular HIV dari suami.

Pola Penularan ke Istri

Adalah hal yang mustahil seorang istri meminta kepada suaminya agar memakai kondom jika si istri curiga atau khawatir terkait denga perilaku suaminya. Apalagi suami memakai dalil-dalil agama, maka posisi tawar istri pun sangat lemah untuk mengingatkan suaminya terkait dengan risiko penularan HIV.

Yang bisa melindungi istri agar tidak tertular HIV adalah sumai bukan pemerintah karena negara tidak bisa mengawasi perilaku suami-suami. Lagi pula, risiko seorang suami tertular HIV tidak hanya melalui perilaku seks berisiko tapi juga bisa melalui pasangan pada praktek kawin-cerai atau beristri lebih dari satu jika ada di antara istri ada yang sudah pernah menikah.

Dalam berita sama sekali tidak dijelaskan mengapa dan bagaimana HIV menyebar ke ibu-ibu rumah tangga. Seolah-olah ada “makhluk” yang menyebarkan HIV ke ibu-ibu rumah tangga.

Inang Winarso, Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesi (PKBI) mengatakan dalam berita mengatakan: "Secara teoretis, pemerintah tahu pola penularan yang menjangkau kelompok dengan perilaku berisiko rendah, tetapi kurang antisipasi."

Tampaknya, Inang juga berkelit. Mengapa Inang tidak menyebutkan secara eksplisit mengapa dan bagaimana HIV menular ke ibu-ibu rumah tangga? Apakah cara-cara ini merupakan gerakan yang memoralisasi cara-cara penularan HIV?

Seorang istri tertular HIV dari suaminya karena suaminya tertular HIV dari pasangan seks lain, bisa istri yang lain, selingkuhan, pekerja seks komersial (PSK) yaitu: (1) PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti PSK di lokasi atau lokalisasi pelacuran, di jalanan, dan tempat lain, atau (2) PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek pemijat di panti pijat plus-plus, karyawati salon kecantikan di salon plus-plus, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, cewek kafe remang-remang, ABG, ‘cewek kampus’, ‘ayam kampus’, ibu-ibu, cewek panggilan, cewek gratifikasi seks, dll.

Bisa juga suami tertular HIV dari hubungan seksual sejenis melalui seks anal karena orientasi seks suami biseksual. Risiko juga terjadi melalui hubungan seksual (seks anal) dengan waria. Risiko suami tertular HIV kian tinggi karena suami (heteroseks) biasanya justru dianal oleh waria atau disebut ditempong sedangkan waria menempong (studi sebuah lembaga dampingan LGBT di Surabaya, Jawa Timur). Kondisi tsb. menjadikan suami sebagai jembatan penyebaran HIV dari kalangan waria ke istri.

Di sisi lai banyak kalangan di Indonesia yang menepuk dada ketika mengatakan: Tidak ada pelacuran di Indonesia!

Secara de jure itu benar karena lokalisasi pelacuran yang di era Orde Baru dimaksudkan sebagai tempat resosialisasi PSK sudah dibumihanguskan. Tapi, secara de facto pelacuran dalam berbagai bentuk terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Celakanya, Satpol PP dan Polisi hanya berani merazia penginapan, losmen dan hotel melati. Padahal, praktek pelacuran juga ada di hotel berbintang dan apartemen mewah.

Wajib Kondom

Tidak mungkin menghapuskan praktek pelacuran. Buktinya, ketika Walikota Surbaya, Ir Tri Rismaharini, MT, menutup Dolly praktek pelacuran terjadi melalui online, seperti media sosial dan ponsel. Beberapa kali polisi di Surabya membongkar jaringan pelacuran online.

Begitu juga dengan menghentikan penyebaran HIV. Adalah hal yang mustahil menghentikan penyebaran HIV karena banyak orang yang mengidap HIV/AIDS tidak menyadarinya sehingga mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Yang bisa dilakukan, dan sudah terbukti di Thailand, adalah menurunkan insiden penularan HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK dengan program “wajib kondom 100 persen”. Setelah program ini dijalan dengan skala nasional jumlah calon taruna militer yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS terus berkurang. Cuma, program ini hanya bisa dilakukan jika pelacuran dilokalisir. Celakanya, di Indonesia tidak ada lagi pelacuran yang dilokalisir dengan regulasi resmi.

Yang dijalankan pemerintah saat ini adalah penanggulangan di hilir yaitu melakukan tes HIV terhadap penyalahguna narkoba dan pasien-pasien dengan indikasi medis atau gejala-gejala terkait infeksi HIV/AIDS. Sedangkan tes HIV terhadap ibu-ibu hamil hanya ditawarkan, seperti dikatakan oleh Kepala Seksi Standardisasi Subdirektorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual, Kemenkes, Endang Budi Hastuti.

Program lain yang bisa dijalankan untuk mendeteksi penduduk yang mengidap HIV/AIDS dan mencegah penularan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya adalah mewajibkan pasangan konseling HIV/AIDS ketika istrinya hamil yang dilanjutkan tes HIV jika perilaku seks suami berisiko tertular HIV. Yang terjadi sekarang banyak suami yang menolak tes HIV ketika istrinya terdeteksi mengidap HIV/AIDS, bahkan ada yang marah-marah dengan menuding istrinya yang selingkuh.

Kunci penanggulangan HIV/AIDS pada ibu rumah tangga ada pada suami, tapi Inang sendiri justru tidak menyebutkan langkah konkret yang bisa dijalankan pemerintah.

Yang membuat runyam adalah mitos (anggapan yang salah) yang selama ini berkembang di masyarakat yaitu HIV/AIDS hanya “berkecamuk” di lokalisasi pelacuran. Maka, pemerintah pun menutup semua lokalisasi pelacuran. Laki-laki ‘hidung belang’ pun merasa dirinya tidak berisiko tertular HIV karena mereka melakukan hubungan seksual bukan dengan PSK dan tidak pula di lokalisasi pelacuran.

Selama masih ada suami yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan yaitu PSK langsung dan PSK tidak langsung, maka selama itu pula penyebaran HIV ke istri akan terus terjadi. ***