16 Oktober 2017

Pemahaman yang Tidak Akurat Terhadap HIV/AIDS

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]

Salah satu faktor yang menghambat upaya penanggulangan epidemi HIV/AIDS adalah pemahaman yang tidak akurat di semua lapisan masyarakat terhadap HIV/AIDS. Hal ini membuat masyarakat tidak mengetahui cara-cara penularan dan pencegahan yang masuk akal. Selama materi KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) tentang HIV/AIDS dibalut dengan norma, moral, dan agama maka masyarakat hanya menangkap mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS.

Dalam berita “1.033 Penderita HIV/AIDS Di Sumut, 80 Orang Meninggal” di Harian “WASPADA” edisi 9 Oktober 2007, misalnya, disebutkan “ …. 616 HIV dan 417 positif terjangkit AIDS.” Informasi ini tidak akurat karena yang positif adalah (tertular) HIV bukan AIDS. AIDS sendiri bukan penyakit tapi suatu kondisi ketika sistem kekebalan seseorang yang tertular HIV sudah rapuh yang ditandai dengan berbagai penyakit yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TB, ruam, dll. Karena AIDS bukan penyakit maka AIDS pun tidak menular. Yang menular adalah HIV karena HIV adalah virus yang tergolong sebagai retrovirus yaitu virus yang bisa menggandakan diri di sel-sel darah putih manusia.

Jika seseorang didiagnosis secara medis sudah AIDS maka dia sudah tertular HIV antara 5 atau 10 tahun sebelumnya. Hal inilah yang membuat persoalan HIV ruwet karena pada rentang waktu antara 5 – 10 tahun sebelum terdeteksi terjadi penularan HIV tanpa disadari karena pada kurun waktu itu tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisiki orang-orang yang sudah tertular HIV. Bayangkan ada 417 orang yang sudah terdeteksi AIDS. Sebelum mereka mengetahui dirinya AIDS (antara 5 sampai 10 tahun sebelumnya) maka selama itu pulalah mereka menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari melalui: (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah, (c) cangkok organ tubuh, (d) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan alat-alat keseharan, dan (e) air susu ibu/ASI melalui proses menyusui.

Fakta lain yang sering luput dari perhatian adalah terkait dengan Odha (Orang dengan HIV/AIDS) yang meninggal dunia. Sebelum mereka meninggal dunia mereka pun sudah menularkan HIV kepada orang lain lagi-lagi tanpa mereka sadari. Bagi yang beristri maka dia menularkan HIV kepada istrinya atau perempuan lain yang menjadi pasangan seksnya. Yang tidak beristri menularkan HIV kepada pacarnya atau pekerja seks. Maka, yang menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal adalah laki-laki bukan pekerja seks karena yang menularkan HIV kepada pekerja seks adalah laki-laki. Kemudian kalau ada pekerja seks yang tertular HIV maka laki-laki yang mengencaninya pun berisiko pula tertular HIV.

Belakangan ini kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi di kalangan remaja. Tapi, tidak ada penjelasan yang komprehensif mengapa hal itu terjadi. Akibatnya, muncul stigma (cap buruk) terhadap remaja terutama karena kasus HIV/AIDS di kalangan remaja terdeteksi pada penyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) melalui jarum suntik yang dipakai bersama-sama dengan bergiliran.

Kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi di kalangan remaja pada pengguna narkoba suntik karena mereka diwajibkan menjalani tes HIV ketika hendak masuk pusat rehabilitasi narkoba. Fakta inilah yang tidak muncul sehingga memberikan gambaran buruk terhadap remaja. Sebaliknya, remaja dan orang dewasa yang tertular melalui hubungan seks tidak bisa ‘dijaring’ karena tidak ada mekanisme yang ‘memaksa’ mereka untuk menjalani tes HIV.

Di bagian lain disebutkan Sekdaprovsu Drs H Muhyan Tambuse mengungkapkan, perlu pencerdasan kepada masyarakat agar dapat memahami seluk beluk penularan HIV/AIDS serta ikut dalam mencegah meluasnya penyakit yang mematikan ini. Persoalannya adalah selama ini materi KIE tentang HIV/AIDS tidak akurat karena dibalut dengan norma, moral, dan agama.

Misalnya, penularan HIV dikait-kaitkan dengan zina, pelacuran, ‘seks bebas’, ‘jajan’, selingkuh, seks menyimpang, dan homoseksual. Padahal, penularan HIV melalui hubungan seks (bisa) terjadi di dalam atau di luar nikah kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak selalu memakai kondom setiap kali sanggama. Sebaliknya, kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun hubungan seks dilakukan dengan cara zina, pelacuran, ‘seks bebas’, ‘jajan’, selingkuh, seks menyimpang, dan homoseksual.

Karena mitos itu pulalah muncul berbagai gerakan yang menolak (lokalisasi) pelacuran. Yang terkait langsung dengan penularan HIV bukan (lokalisasi) pelacuran, tapi hubungan seks yang berisiko tinggi tertular HIV yaitu melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks. Orang-orang yang berperilaku berisiko itulah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV antara penduduk. Semua terjadi tanpa disadari.

Maka, salah satu cara menanggulangi epidemi HIV/AIDS adalah dengan memutus mata rantai penyebaran HIV. Mata rantai dapat diputus jika orang-orang yang sudah tertular HIV terdeteksi. Mereka inilah kemudian yang diajak untuk menghentikan penularan HIV mulai dari dirinya sendiri. Bagi laki-laki dianjurkan agar selalu memakai kondom jika sanggama. Sedangkan bagi perempuan yang terdeteksi HIV-positif dianjurkan agar memeriksakan diri jika hamil karena penularan HIV dari ibu ke bayi yang dikandungnya bisa dicegah.

Untuk itulah diperlukan materi KIE yang akurat yaitu yang mengedepanakn fakta medis tentang HIV/AIDS. Melalui penyuluhan yang gencar diharapkan orang-orang yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV mau menjalani tes HIV secara sukarela. ***.

Surat Terbuka untuk Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Depkes

Bagian III AIDS Tidak Menyerang

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Sumber: Newsletter “HindarAIDS” Nomor 58, 4 Desember 2000]

"AIDS menyerang laki-laki dan wanita pada masa penting dalam hidupnya..." Itulah salah satu pernyataan dalam buku Pedoman Penyuluhan AIDS Menurut Agama Islam yang diterbitkan Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan (Cetakan III 1996/1997) di halaman 28. Sebagai virus, HIV hanya bisa hidup di dalam larutan darah, sperma, cairan vagina dan ASI. Maka, tidak ada kesempatan bagi HIV untuk keluar dari darah, sperma, cairan vagina dan ASI karena di luar larutan dancairan tersebut HIV akan mati.

Maka, pernyataan itu pun tidak masuk akal karena HIV menular jika terjadi kontak darah, sperma dan cairan vagina antara seseorang yang sudah HIV-positif dengan orang lain. HIV bukan jasad renik seperti tentara yang menyerang (musuh). Pernyataan itu kian tidak sejalan dengan nalar karena disebutkan HIV menyerang laki-laki dan wanita pada masa penting dalam hidupnya. HIV tidak bisa membeda-bedakan usia, agama, status sosial dan lain-lain.

Kalau saja pernyataan itu dilengkapi dengan penjelasan yang masuk akal tentulah akan lebih bermanfaat sehingga tujuan penulisan buku itu pun dapat tercapai. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Pernyataan itu tidak akurat dan dapat membuat orang-orang yang sudah tidak berada pada masa penting dalam hidupnya sebagai penunjang ekonomi negara dan keluarga, seperti orang-orang yang sudah pensiun, akan lengah. Hal initerjadi karena mereka merasa tidak akan "diserang" HIV sesuai dengan pernyataan tadi.

Padahal, alasan yang logis tentang kasus infeksi HIV pada rentang waktu masa produktif terjadi karena pada saat itu kegiatan seks sedang berada pada puncaknya. Biar pun probabilitas penularan HIV melalui hubungan heteroseks rendah, tetapi karena setiap orang melakukan hubungan seks yang berkali-kali maka kemungkinan tertular pun meningkat (Membaca Probabilitas Penularan HIV Melalui Hubungan SeksualHindarAIDS No. 16, 1 Maret 1999). 

Biar pun penularan melalui transfusi darah jauh lebih efektif daripada melalui hubungan seks, tetapi karena lebih banyak yang melakukan hubungan seks daripada yang menerima transfusi darah maka angka infeksi HIV melalui faktor risiko hubungan seks pun jauh lebih tinggi daripada transfusi darah. Misalnya, pada kurun waktu enam bulan ada 100 yang menerima transfusi. Jika rata-rata mereka menerima transfusi pada kurun waktu tadi dua kali tetapi pada waktu yang sama mereka melakukan hubungan seks puluhan kali.

Risiko tertular melalui transfusi pun kian kecil karena darah yang akan ditransfusikan sudah menjalani uji saring (skrining) HIV. Sebaliknya, jika hubungan seks dilakukan tanpa menerapkan seks aman dengan pasangan yang berganti-ganti, baik di dalam maupun di luar nikah, maka risiko tertular pun meningkat. Fakta ini yang sering luput dari bahan-bahan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) seperti buku yang kita bahasini.

Apa pun jenis penyakit dapat mematikan jika tidak diobati. Sayang, pada halaman 28 hanya AIDS yang disebut sebagai penyakit yang menuju awal kematian. Ini merupakan stigma dan dapat memicu kebencian yang bersifat provokasi terhadap Odha. Kebencian kian memuncak karena pada bagian lain disebutkan " a. penderita AIDS dipandang sebagai seseorang yang menyandang senjata yang mematikan." Masya Allah. Ini 'kan sudah menghakimi Odha.

Pernyataan itu pun sangat naif karena banyak penyakit yang justru tidak dapat kita hindari karena penularannya tidak dapat dicegah secara aktif oleh diri sendiri. Misalnya, jika ada penderita TB aktif di ruangan tertutup atau kendaraan umum tentulah risiko tertular basil TB sangat tinggi. Penularan hampir tidak bisa dicegah karena tidak mungkinseseorang menahan napas selama ada basil berterbangan di udara yang dihirup. Berbeda dengan HIV. Biar pun di sekeliling kita ada Odha tetapi kalau tidak melakukan perilaku-perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV tetap tidak akan terjadi penularan HIV.

Pengalaman dr. Zubairi Djoerban, DSPD, pakar AIDS di Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Jakarta, menunjukkan tanggung jawab Odha yang sangat tinggi. Odha wanita di Sanggar YPI selalu memberitahu status HIV mereka kepada lelaki yang mendekati mereka jika pertemanan mereka sudah mendekati persahabatan yang sudah bernuansa cinta. Jadi, amatlah tidak etis membuat pernyataan "Menyebarkan penyakit AIDS yang dideritanya, dapat dianalogikan dengan seseorang yang melakukan usaha pembunuhan." (halaman 28).

Maka, bertolak dari pernyataan di atas karena semua penyakit juga (bisa) mematikan, tentu saja pengidap TB dan penyakit-penyakit menular lainnya yang menularkan basil dapat dikategorikan sebagai usaha pembunuhan. Soalnya, dalam kaitan dengan penularan HIV setiap orang dapat melindungi dirinya secara aktif. Berbeda dengan penyakit yangmenular melalui media udara seseorang tidak bisa melindungi dirinya secara aktif. Selain karena tidak bisa menghentikan diri untuk tidak menghirup udara seseorang pun tidak mengetahui apakah di ruangan ada yang mengidap TB aktif. Mana yang lebih mungkin dapat dikategorikan sebagai usaha pembunuhan? Lagi-lagi buku ini (hanya) membuat stigma terhadap Odha. (Bersambung). 

Informasi AIDS yang Menyesatkan

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]

Pernyataan Program Manager KPA Jawa Barat, Farihin Ma'shum, dalam berita “1.130 Orang Positif HIV/AIDS, WHO: 1 Penderita Munculkan 100 Penderita” di Harian “Radar Cirebon” edisi 1 November 2007 menyesatkan.

Pertama, tidak ada penelitian WHO yang menetapkan “apabila ditemukan satu orang penderita HIV maka kemungkinan di lingkungan itu ada 100 orang penderita yang tidak diketahui”. Ini hanya estimasi untuk keperluan epidemiologis. Misalnya, untuk merancang kebijakan, penyediaan sarana dan prasarana kesehatan, dll. Bayangka, seorang bayi di satu desa tertular HIV dari transfusi darah. Lalu, apakah akan ada 100 penduduk di desa itu yang sudah tertular HIV? Lagi pula kalau hal itu benar sudah habis penduduk dunia karena sudah tercatat 40.000.000 kasus HIV/AIDS. Jika dikalikan dengan seratus maka sudah ada 4.000.000.000 (baca empat miliar) penduduk dunia yang sudah tertular HIV.

Kedua, tidak jelas dari mana angka 1.130 kasus di Kabupaten Cirebon. Kalau angka ini benar tentulah rumah sakit sudah penuh karena ada kemungkinan ada di antaranya yang sudah mencapai masa AIDS. Kemungkinan besar angka ini dari survailans tes sehingga bukan merupakan kasus nyata HIV/AIDS.

Ketiga, tidak ada kaitan langsung antara pelacur dengan penularan HIV karena di negara yang tidak ada pelacuran pun tetap ada kasus HIV/AIDS. Di Arab Saudi, misalnya, yang tidak ada hiburan dan pelacuran sudah dilaporkan lebih dari 10.000 kasus HIV/AIDS. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ya, bisa saja penduduk Arab Saudi tertular di luar negeri. Begitu pula dengan Cirebon biar pun di Cirebon tidak ada pelacuran bisa saja penduduk Cirebon melacur di luar daerah atau luar negeri.

Keempat, pernyataan “apabila estimasi pelanggan itu terinvensi virus HIV/AIDS maka akan menular kepada keluarga dan bisa juga kepada lingkungan, karena hasil penelitian WHO” menyesatkan karena HIV tidak menular melalui pergaulan seosial sehari-hari, air dan udara. Ini akan menimbulkan kepanikan dan mendorong stigmatisasi dan diskriminasi terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS).

Kelima, penggunaan istilah ‘seks bebas’ ngawur karena tidak jelas maksudnya. Kalau ‘seks bebas’ dimaksudkan sebagai zina atau melacur maka lagi-lagi tidak ada kaitan langsung antara zina dan melacur dengan penularan HIV. Penularan HIV melalui hubungan seks bisa terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali sanggama. Maka, pernyataan Koordinator Lapangan KPA Kabupaten Cirebon, Sohib Muslim, yang mengatakan ‘ … HIV/AIDS menular melalui hubungan seks bebas ….’ juga ngawur dan menyesatkan. Biar pun ‘seks bebas’, zina, melacur, jajan, selingkuh, waria, anal dan oral seks, serta homoseksual kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV melalui hubungan seks.

Karena epidemi HIV/AIDS sudah ada di masyarakat diharapkan para pakar, terutama yang terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS, dan tokoh lebih berhati-hati menyampaikan informasi seputar HIV/AIDS. Jika salah maka akibatnya masyarakat akan lengah dan penularan HIV pun akan menjadi ‘bom waktu’ ledakan AIDS. ***

Perda AIDS yang Sia-sia

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]

“Jangan coba-coba dalam berhubungan badan tanpa memakai kondom. Bila ketahuan, ancaman denda sudah menunggu sampai Rp 50 juta.” Itulah lead berita “Rapat Pansus HIV/AIDS Alot , Tak Pakai Kondom Diancam Denda Rp 50 Juta” di Harian “Bali Post” edisi 23 Februari 2008.

Kalau pernyataan itu dibaca selintas maka ada pertanyaan besar: Apa hak Pemkab Badung memaksa pasangan suami istri agar memakai kondom jika melakukan hubungan seks? Rupanya, kewajiban memakai kondom dalam berita itu terkait dengan penanggulangan epidemi HIV.

Tapi, lagi-lagi hal itu menunjukkan kepanikan Pemkab Badung, dan daerah-daerah lain di Indonesia, dalam menghadapi epidemi HIV. Soalnya, selama ini Indonesia menampik ‘kehadiran’ HIV/AIDS di Indonesia dengan alasan bangsa ini adalah bangsa yang berbudaya, beragama dan ber-Pancasila. Penyangkalan itu terjadi karena selama ini HIV/AIDS dikait-kaitkan dengan norma, moral dan agama. Padahal, HIV/AIDS adalah fakta medis sehingga cara-cara pencegahannya pun dapat dilakukan dengan teknologi kedokteran.

Sudah banyak kabupaten, kota, dan provinsi di Indonesia yang menelurkan Perda Penanggulangan HIV/AIDS, mulai dari Papua sampai Riau. Hasilnya? Nol besar.

Mengapa? Ya, karena perda-perda itu sarat dengan moral. Penanggulangan HIV/AIDS hanya mengedepankan moral yang sama sekali tidak ada kaitannya secara langsung dengan penularan HIV. Misalnya, dalam perda disebutkan mencegahan HIV adalah dengan “meningkatkan iman dan taqwa” (Perda AIDS Riau). Bagaimana mengukur iman dan taqwa yang bisa mencegah HIV?

Begitu pula dengan Perda Prov. Bali No. 3 Tahun 2006 tentang Penanggulangan HIV/AIDS tetap saja mengedepankan moral. Pasal 20 ayat 1 a menyebutkan ” Masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berperanserta dalam kegiatan penanggulangan HIV/AIDS dengan cara meningkatkan ketahanan keluarga untuk mencegah penularan HIV/AIDS.” Apa yang dimaksud dengan ketahanan keluarga? Ini jargon moral. Lalu, bagaimana mengukur ketahanan keluarga yang bisa mencegah penularan HIV? Lagi pula penularan HIV melalui transfusi darah sama sekali tidak ada kaitannya dengan ketahanan keluarga.

Dalam berita juga disebutkan “Orang yang memiliki risiko menderita HIV/AIDS .… “ Ini tidak benar karena yang berisiko adalah perilaku orang per orang yang tidak terkait dengan suku, ras, agama, jabatan, status sosial, dll. Seorang pelacur pun bisa tidak berisiko kalau dia hanya mau meladeni laki-laki yang memakai kondom ketika berhubungan seks. Sebaliknya, ‘orang baik-baik’ bisa berisiko ketika melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan.

Biar pun ada ancaman kurungan dan denda puluhan bahkan ratusan juta rupiah bagi orang yang tidak mau memakai kondom pada hubungan seks yang berisiko sama sekali tidak ada manfaatnya dalam menanggulangi penularan HIV. Soalnya, bisa saja penduduk Badung melakukan hubungan seks berisiko di luar kabupaten, di luar provinsi bahkan di luar negeri sehingga perda itu tidak mengikat. Kalau ada penduduk Badung yang tertular di luar Badung maka mereka pun akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di Badung. Yang beristri akan menularkan kepada istrinya atau perempuan lain yang menjadi pasangan seksnya atau kepada pekerja seks. Yang tidak beristri akan menularkan HIV kepada pasangan seksnya atua kepada pekerja seks.

Yang perlu dilakukan adalah menggencarkan penyuluhan HIV/AIDS dengan materi KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) yang akurat yaitu mengedepankan HIV/AIDS sebagai fakta medis sehingga masyarakat memahami HIV/AIDS dengan benar sehingga setiap orang memahami cara-cara pencegahan yang realistis. ***

Menyikapi Peringkat Kedua AIDS di Jawa Barat

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]

Dalam laporan Ditjen PPM&PL, Depkes RI, tanggal 14 April 2008 tentang statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia pada priode Januari-Maret 2008 dilaporkan 160 kasus AIDS (baru) di Jawa Barat. Dengan tambahan ini maka kasus AIDS di Jawa Barat mencapai 1.835 pada peringkat 2 secara nasional dari 33 provinsi. Beberapa faktor yang memicu penyebaran HIV di Jawa Barat sering luput dari perhatian.

Jika epidemi HIV di Jabar tidak ditangani secara komprehensif maka hal itu merupakan ’bom waktu’ yang kelak akan menjadi ledakan AIDS. Selama ini penanganan HIV/AIDS tidak menyentuh akar permasalahan karena selama ini yang dituding sebagai penyebar HIV adalah pekerja seks komersial (PSK). Maka, Satpol PP pun merazia PSK di ’lokalisasi’, jalanan, losmen, dan hotel melati. Sayang Satpol PP menutup mata terhadap PSK di hotel berbintang.

Selama ini ada anggapan bahwa yang menjadi sumber penularan HIV adalah PSK. Padahal, yang menularkan HIV kepada PSK adalah laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai suami, ayah, pacar, lajang, duda, jejaka, remaja yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, mahasiswa, pelajar, pengusaha, pejabat, pedagang, sopir, kondektur, pencopet, perampok, dll. Laki-laki yang menularkan HIV kepada pekerja seks itulah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV antar penduduk bukan pekerja seks.
\
Biar pun lokalisasi pelacuran dibumihanguskan dan pelacur jalanan ditangkapi sama sekali tidak ada dampaknya secara langsung terhadap upaya penurunan kasus infeksi HIV baru di kalangan dewasa karena ’praktek pelacuran’ (baca: hubungan seks di dalam atau di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan) tetap terjadi di mana saja dan kapan saja. Praktek pelacuran bisa terjadi di rumah, tempat kos, hotel berbintang, taman, hutan, dll. merupakan kegiatan yang berisiko tinggi tertular HIV karena terjadi hubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti. Ada kemungkinan salah satu dari pasangan itu HIV-positif sehingga ada risiko penularan HIV.

Berita “6.300 Wanita Indramayu Jadi PSK di Pulau Batam” (Pikiran Rakyat, 5/11-2005), misalnya, sama sekali tidak dikaitkan dengan epidemi HIV. Padahal, kalau saja fakta itu dibawa ke realitas sosial maka akan lain maknanya. Andaikan 10 persen dari mereka tertular HIV maka ada 630 wanita Indramayu yang menjadi PSK di Batam sudah menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal ketika mereka kembali ke kampong halamannya. Bagi yang bersuami akan menularkan HIV kepada suaminya dalam ikatan pernikahan yang sah. Yang lain bisa juga melanjutkan pekerjaannya di daerahnya atau di daerah lain jika dia pindah ‘praktek’.

Persoalannya adalah penularan HIV terjadi secara diam-diam tanpa disadari karena orang-orang (laki-laki dan perempuan) yang sudah tertular HIV tidak merasakan ada gangguan kesehatan dan tidak pula ada tanda, gejala, dan ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik mereka. Gejala baru muncul setelah masa AIDS yaitu pada kurun waktu antara 5-10 tahun setelah tertular. Pada rentang waktu ini terjadi penularan yang tidak disadari. Pada masa inilah terjadi penularan melalui: (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan cangkok organ tubuh, (c) air susu ibu melalui proses menyusui. Orang-orang yang tertular pun tidak menyadari dirinya (baru) tertular HIV.

Penularan HIV melalui hubungan seks bisa terjadi di dalam atau di luar nikah kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seks. Sebaliknya, kalau satu pasangan dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun hubungan seks dilakukan di luar nikah, zina, melacur, jajan, selingkuh, ‘seks menyimpang’, ‘seks bebas’, dan homoseksual.

HIV adalah virus yang tergolong sebagai retrovirus yaitu virus yang bisa mengembangbiakkan diri di dalam sel-sel darah putih manusia. Dalam jumlah yang dapat ditularkan HIV terdapat dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV karena tidak ada limfosit), cairan vagina (perempuan), dan air susu ibu (perempuan).

Penularan HIV melalui darah bisa terjadi melalui transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, alat-alat kesehatan, dan cangkok organ tubuh. Penularan HIV melalui ASI bisa terjadi melalui proses menyusui.

Mata rantai penyebaran HIV di Jabar khususnya dan di Indonesia umumnya didorong pula oleh penduduk lokal yang melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV, seperti menjadi PSK, di daerahnya, luar daerahnya atau di luar negeri.

Perilaku berisiko tinggi tertular HIV adalah: (a) laki-laki atau perempuan yang sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti, dan (b) laki-laki atau perempuan yang sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks.

Untuk memutus mata rantai penyebaran HIV perlu ditingkatkan upaya untuk mendorong agar orang-orang yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV mau menjalani tes HIV sukarela. Mereka itu adalah penduduk yang pernah melakukan perilaku berisiko tinggi tertular HIV yaitu (a) laki-laki atau perempuan yang sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti, dan (b) laki-laki atau perempuan yang sering melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks.

Makin banyak kasus HIV/AIDS yang terdeteksi maka kian banyak pula mata rantai penyebaran HIV yang dapat diputuskan. ***

HIV/AIDS Ditularkan Laki-laki kepada PSK

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Pemerhati berita HIV/AIDS di media massa melalui LSM (media watch) “InfoKespro” Jakarta]

Berita “Empat PSK Positif HIV, Biasa Mangkal di Klubuk dan Tunggorono” di Harian “Radar Mojokerto” edisi 8/5-2008 menggelitik untuk ditanggapi karena dalam berita itu tidak tergambar realitas sosial terkait dengan penyebaran HIV yaitu laki-laki sebagai mata rantai penyebaran HIV.

Empat PSK yang terdeteksi HIV-positif itu merupakan hasil survailans tes HIV sehingga belum bisa dinyatakan positif sebelum ada hasil tes konfirmasi. Hasil tes HIV empat PSK itu bisa positif palsu (dalam contoh darah sebenarnya tidak ada HIV). Sebaliknya, PSK yang terdeteksi HIV-negatif bisa saja hasil tes itu negatif palsu (dalam contoh darah sudah ada HIV tapi tidak terdeteksi karena ada kemungkinan ketika darah diambil pada masa jendela yaitu tertular HIV di bawah tiga bulan).

Standar prosedur tes HIV yang baku menyaratkan sebelum dan sesudah tes HIV harus ada konseling (bimbingan). Konseling prates yaitu penjelasan tentang HIV/AIDS agar yang akan menjalani tes HIV memahami HIV/AIDS. Yang akan menjalani tes pun harus memberikan persetujuan (informed concent). Sedangkan post test yaitu upaya untuk membimbing yang terdeteksi positif dan negatif terkait dengan masa depan mereka.

Materi KIE

Jika tes survailans yang dilakukan oleh Dinkes Jombang terhadap PSK itu tidak didahului dengan konseling prates dan tidak pula ada persetujuan dari PSK maka hal itu sudah melanggar asas tes HIV serta merupakan perbuatan yang melawan hukum dan pelanggaran berat terhadap HAM. Pada tes HIV ada lagi asas anonimitas yaitu pada contoh darah tidak ada tanda atau kode yang bisa menunjukkan pemilik darah. Tapi, dalam berita itu disebutkan “ …. pihaknya akan tetap aktif menggali mendampingi penderita.” Ini menunjukkan pemilik darah diketahui. Jika ini yang terjadi maka hal itu merupakan pelanggaran terhadap asas tes HIV.

Selama ini materi KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) tentang HIV/AIDS selalu dikait-kaitkan dengan norma, moral, dan agama maka yang muncul hanya mitos (angapan yang salah). Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, melacur, jajan, selingkuh, seks pranikah, ‘seks menyimpang’, ‘seks bebas’, waria, dan homoseksual. Penularan HIV melalui hubungan seks di dalam atau di luar nikah (bisa) terjadi kalau salah satu ata kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seks. Kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun hubungan seks tanpa kondom dilakukan dengan zina, melacur, jajan, selingkuh, seks pranikah, ‘seks menyimpang’, ‘seks bebas’, waria, dan homoseksual.

Terkait dengan fakta ada empat PSK yang terdeteksi HIV-positif maka ada dua kemungkinan.

Pertama, PSK itu tertular HIV dari laki-laki bisa penduduk lokal maupun pendatang. Laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, duda, lajang, pacar gelap, selingkuhan, atau remaja yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, wartawan, pelajar, mahasiswa, petani, nelayan, sopir, perampok, dll. Mereka inilah yang merupakan mata rantai penyebaran HIV. Mereka tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik mereka sebelum masa AIDS (antara 5-10 tahun setelah tertular HIV).

Kedua, PSK itu sudah tertular HIV ketika ’buka praktek’ di Jombang. Laki-laki yang melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan PSK tadi berisiko tertular HIV. Laki-laki inilah yang kemudian menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk.
Perilaku Berisiko

Selama ini selalu saja ada penyangkalan terhadap kasus HIV/AIDS dan pelacuran. Dalam berita disebutkan ” .... keduanya bukan warga Jombang, melainkan pendatang dari Malang dan Jawa Tengah.” Dalam dunia pelacuran PSK dari daerah X akan ’praktek’ di daerah Y. Dalam kaitan ini yang menjadi pelanggan PSK yang terdeteksi HIV-positif tentulah lebih banyak laki-laki tempatan (lokal). Laki-laki lokal inilah kemudian yang menjadi mata rantai penyebaran HIV.

Pemahaman terhadap epidemi HIV/AIDS di banyak kalangan tetap saja dangkal. Dalam berita disebutkan ” .... diperlukan penggalian pencarian sejak dini, dengan mendatangi tempat dan komunitas yang berpotensi menyebarkan virus.” Tidak ada tempat dan komunitas yang menyebarkan virus karena HIV tidak menular melalui air, udara dan pergaulan sosial sehari-hari. Biar pun hiburan malam dan lokalisasi pelacuran dibasmi hal itu tidak bisa menghentikan penyebaran HIV karena tanpa disadari HIV berada dalam darah orang per orang yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV. Di negara-negara yang secara de jure dan de facto tidak ada (lokalisasi) pelacuran, seperti di Arab Saudi, tetap saja ada kasus HIV/AIDS. Data terakhir menunjukkan sudah dilaporkan lebih dari 10.000 kasus HIV/AIDS di negara itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ya, karena bisa saja penduduk Arab Saudi tertular HIV di luar negaranya karena melakukan perilaku berisiko.

Perilaku berisiko adalah (a) melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari mereka HIV-positif, (b) melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan karena ada kemungkinan salah satu pasangan mereka HIV-positif, (c) menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV, (d) memakai jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo dan ala-alat kesehatan secara bersama-sama dengan bergiliran.

Penanggulagan HIV dimulai dengan menganjurkan agar orang-orang yang perilakunya berisiko mau menjalani tes HIV. Semakin banyak orang yang terdeteksi HIV-positif maka kian banyak pula mata rantai penyebaran HIV yang diputus. ***

14 Oktober 2017

Cewek Ini Tanya Bahaya Pacaran dengan Dua Cowok


                                          Ilustrasi (Sumber: d.pinterest.com)

Tanya Jawab AIDS No 2/Oktober 2017

Oleh: Syaiful W. HARAHAPAIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang cewek yang pacaran selama enam tahun dengan Si A. Selama pacaran kami melakukan hubungan seksual. Sekarang saya pacaran dengan Si B dan melakukan hubungan seksual. Si B ini juga pernah pacaran dengan cewek lain dan mereka melakukan hubungan seksual.  A dan B tidak pernah pakai kondom ketika berhubungan seksual dengan saya dan sperma tidak dikeluarkan di dalam vagina. Pertanyaan saya: (1) Apakah berbahaya melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan dua cowok? (2) Apa bedanya mengeluarkan sperma di dalam vagina dan di luar vagina?

Via SMS (15/5-2017)

Jawab: (1) Bukan berbahaya, tapi berisiko tertular IMS (infeksi menular seksual, seperti sifilis, GO, virus hepatitis B, klamidia dll.) serta HIV/AIDS atau kedua-duanya sekaligus jika salah satu atau kedua cowok itu mengidap IMS atau HIV/AIDS atau kedua-duanya sekaligus.

Persoalan besar adalah:

(a) Apakah Sdri bisa menjami kedua cowok itu tidak mengidap IMS atau HIV/AIDS?

(b) Apakah Sdri bisa menjamin bahwa kedua cowok itu tidak pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti?

(c) Apakah Sdri bisa menjamin kedua cowok itu tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain?

(d) Apakah Sdri bisa menjamin kedua cowok itu tidak pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK) langsung atau PSK tidak langsung?

-PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

--PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

Kalau Sdri bisa menjamin empat hal di atas, maka tidak ada risiko penularan IMS atau HIV/AIDS. Tapi, kalau Sdri tidak menjamin perilaku seksual kedua cowok itu maka ada risiko tertular HIV/AIDS karena bisa saja salah satu atau kedua cowok itu mengidap HIV/AIDS.

(2) Dalam jumlah yang bisa ditularkan HIV terdapat dalam semen (cairan yang keluar dari penis ketika penis ereksi) dan air mani. Tidak ada HIV di dalam sperma. Tidak bisa hanya mengeluarkan sperma di dalam atau di luar vagina karena sperma ada di dalam cairan air mani.


Risiko penularan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi jika perempuan mengidap HIV/AIDS karena di dalam cairan vagina ada virus (HIV) yang bisa ditularkan. Penularan terjadi melalui penis selama hubungan seksual terjadi. Sedangkan risiko penularan HIV melalui hubungan seksual melalui laki-laki bisa terjadi kalau laki-laki mengidap HIV/AIDS sehingga air mani yang keluar di dalam vagina yang mengandung HIV bisa menularkan HIV ke perempuan. * [kompasiana.com/infokespro] *

13 Oktober 2017

Penanggulangan Epidemi HIV/AIDS di Hilir

Oleh: Syaiful W Harahap
[Sumber: Harian ”Swara Kita”, Manado, 12 Mei 2008]

"HIV/AIDS, Sejumlah Rumah Sakit Krisis Ketersediaan Obat." Itulah judul berita di sebuah harian Ibu Kota (12/4-2008). Takta ini menunjukkan ada gelombang baru yang meng-hadang upaya penanggu-langan epidemi HIV di Tanah Air. Sekarang pemerintah pusat dan daerah dengan dukungan dana dana dari donor cen-derung mengutamakan peng-obatan terhadap Odha. Terapi adalah penang-gula-ngan di hilir, sedangkan pence-gahan merupakan penanggulangan di hulu.

Walaupun tidak menyembuhkan tapi kehadiran obat anti-retroviral (ARV) membawa berkah bagi orang-orang yang tertular HIV yang telah mencapai masa AIDS (Odha-Orang dengan HIV/AIDS). Obat ini berguna untuk menekan perkembangan HIV di dalam darah sehingga kerusakan sel-sel darah putih dapat ditekan. Selain dapat meningkatkan kualitas hidup para Odha obat ini pun secara tidak langsung menekan penularan karena jumlah virus kian sedikit.

Pada awalnya harga obat ini Rp 8 juta untuk konsusmi satu bulan. Belakangan berkat regulasi pajak harga turun hingga Rp 800.000. Sekarang obat ini gratis karena ada dana hibah dari donor luar negeri. Masalah yang lebih besar akan muncul ketika tidak ada lagi donor. Jika dana untuk pengadaan ARV dialokasikan dari APBN atau APBD tentulah akan menimbulkan persoalan baru karena anggaran kesehatan yang terbatas. Dana yang besar juga diperlukan untuk menanggulangi epidemi penyakit menular, seperti TB, flu burung, malaria, demam berdarah, dll.

Krisis ketersediaan obat ARV ini meningkatkan resistensi terha-dap ARV karena pemakaian obat terputus dan Odha pun tidak bisa lagi memakai obat sesuai dengan anjuran. Jika terjadi resistensi terhadap ARV maka obat pun harus diganti. Ini berdampak pula pada harga obat.

MENGUSUNG MITOS

Jika pemerintah pusat dan daerah tetap memaksakan anggaran khusus untuk sektor HIV/AIDS maka dikhawatirkan akan menim-bulkan gejolak karena mengesankan pemerintah hanya memper-hatikan HIV/AIDS. Apalagi penyakit ini selalu dibenturkan dengan norma, moral, dan agama sehingga ada anggapan penularan penyakit ini erat kaitannya dengan perilaku (yang tidak baik).

Anggapan di atas memang salah tapi tetap saja berkembang karena tidak ada upaya untuk memupusnya. Belakangan ini ada gejala baru yaitu perlombaan membuat peraturan daerah (perda) tentang penanggulangan AIDS. Perda AIDS sudah ada di beberapa daerah al. provinsi (Bali, Jawa Timur, dan Riau), kabupaten (Merauke, Puncak Jaya, Nabire) dan kota (Jayapura, Sorong, Palembang). Upaya penanggulangan HIV/AIDS yang ditawarkan perda-perda itu tetap saja mengusung mitos.

Perda AIDS Prov. Riau, misalnya, menyebutkan cara mencegah penularan HIV dengan “meningkatkan iman dan taqwa”. Bagai-mana menakar kadar iman dan taqwa yang bisa mencegah penula-ran HIV? Bagaimana pula iman dan taqwa mencegah penularan HIV melalui transfusi darah? Hal ini juga akan menyuburkan stigma dan diskriminasi karena ada anggapan orang-orang yang tertular HIV karena tidak beriman dan tidak bertaqwa. Di perda lain disebutkan untuk mencegah penularan HIV adalah jangan melakukan seks menyimpang, jangan melakukan hubungan seks dengan yang bukan istri.

Dengan 11.141 kasus AIDS, diperkirakan sebagian besar sudah memakai obat ARV, diperlukan banyak obat. Angka ini akan terus bertambah karena ada 6.066 kasus HIV yang kelak akan mencapai masa AIDS. Kalangan ahli memperkirakan kasus HIV/AIDS di Indonesia antara 90.000-130.000. Kalau diambil rata-rata maka ada 110.000 penduduk Indonesia yang akan memerlukan obat ARV dan perawatan serta pengobatan di rumah sakit.

Angka di atas akan terus bertambah karena banyak orang yang tidak menyadari perilakunya berisiko tinggi tertular HIV. Mata rantai penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk dilakukan oleh laki-laki dan perempuan: (a) yang sering atau pernah melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari pasangan itu HIV-positif, (b) yang sering atau pernah melakukan hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks, karena ada kemungkinan salah satu dari pekerja seks itu HIV-positif.

PENULARAN DIAM-DIAM

Dengan kasus AIDS yang dilaporkan saja yaitu 11.141 dana untuk membeli ARV setiap bulan mencapai Rp 8.912.800.000 dengan catatan harga Rp 800.000. Jika kasus pada angka 110.000 maka dana yang diperlukan mencapai Rp 88 miliar per bulan. Angka itu belum termasuk biaya pengobatan (obat, dokter, dan rumah sakit) untuk penyakit-penyakit infeksi oportunistik yang muncul pada masa AIDS. Bagi yang mampu tidak ada masalah, namun bagi yang tidak mampu tentulah akan menjadi beban. Kalau kemudian pemerintah mengatasinya dengan asuransi kesehatan untuk rakyat miskin maka dana yang diperkukan untuk mengobati Odha pun akan membengkak pula.

HIV/AIDS merupakan epidemi yang harus ditanggulangi karena terkait dengan kesehatan masyarakat maka semua Odha mem-peroleh ARV gratis. Untuk jangka panjang perlu dipikirkan untuk menerapkan subsidi silang karena jika tidak ada lagi dana hibah dari donor tentulah pemerintah akan kelabakan menyediakan biaya untuk pembelian obat ARV.

Pemberian ARV merupakan upaya penanggulangan di sek-tor hilir. Karena penularan HIV terjadi secara diam-diam tanpa disada-ri maka kasus penularan HIV akan terus bertambah. Ini terjadi karena banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik. Akibatnya, mereka pun menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari. Antara lain melalui hubungan seks tanpa kodom di dalam dan di luar nikah, serta melalui jarum suntik yang dipakai bergantian pada pe-nyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya). Ada pula yang menularkan HIV kepada pekerja seks. Pekerja seks yang tertular kemudian menularkan HIV kepada laki-laki yang datang mengencaninya tanpa memakai kondom.

Banyak kasus HIV/AIDS di Indonesia terdeteksi sudah pada masa AIDS. Ini menunjukkan sebelum terdeteksi mereka sudah menularkan HIV kepada orang lain yaitu pada kurun waktu antara 5-10 sejak mereka tertular HIV. Inilah mata rantai penyebaran HIV yang merupakan sektor hilir pada epidemi HIV. Tapi, hal ini tidak menjadi perhatian utama dalam penanggulangan HIV/AIDS saat ini. Penduduk yang sudah tertular HIV tapi tidak terdeteksi akan menjadi mata rantai penyebaran HIV. Kalau di sektor hilir tidak ada upaya yang konkret untuk mencegah penularan HIV maka kasus AIDS akan terus bertambah. Ini artinya beban pemerintah untuk menyediakan obat ARV gratis pun akan melon-jak pula. Pengeluaran masyarakat untuk berobat, khususnya keluarga Odha, pun meningkat pula karena pada masa AIDS Odha akan memerlukan pengobatan dan perawatan di rumah sakit. Kelak kalau dana hibah dari donor asing tidak ada lagi maka APBN dan APBD pun akan digerogoti untuk membeli atau menyubsidi ARV dan memberikan dana bantuan pengobatan bagi pasien Odha yang miskin.

Akankah kita menunggu kondisi itu atau sejak hari ini kita menyingsingkan lengan baju menyebarluaskan informasi yang akurat tentang HIV/AIDS agar masyarakat bisa melindingi diri secara aktif agar tidak tertular HIV. Pilihan ada di tangan kita. (Penulis adalah Pemerhati Masalah HIV/AIDS dan Direktur Eksekutif LSM media watch ”InfoKespro” Jakarta). *

Menyikapi Kasus AIDS pada Pejabat di Papua

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Sumber: Newsletter “
infoAIDS” edisi No 6/Oktober 2006]

Berita seputar HIV/AIDS di kalangan pejabat di Papua seakan menyentak banyak kalangan.Tapi, kasus itu hanyalah puncak dari ‘fenomena gunung es’ karena banyak orang di masyarakat yang sudah tertular HIV tapi tidak terdeteksi. Mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk.

Dengan kasus kumulatif HIV/AIDS 1.759 di Papua dan Irjabar yang terdiri atas 920 HIV+ dan 839 AIDS serta 192 kamatian menunjukkan epidemi HIV di Papua sudah menjadi masalah besar. Memang, sebelum mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV) seseorang yang sudah tertular HIV tidak ada mengalami persoalan terkait dengan kesehatan karena tidak ada tanda, gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisiknya.

Biar pun tidak ada tanda, gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS pada diri seseorang yang sudah tertular HIV dia sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain tanpa disadarinya melalui: (a) hubungan seks di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum tattoo, jarum akpunktur, alat-alat kesehatan dan cangkok organ tubuh, (d) dari seorang ibu yang HIV-positif ke anak yang dikandungnya terutama pada saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu/ASI (HIV bukan penyakit turunan tapi penyakit menular sehingga bisa dicegah).

Suami Penular


Angka kematian 192 merupakan ‘petaka’ karena sebelum meninggal mereka menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari. Yang laki-laki akan menularkan HIV kepada istrinya dan istrinya pun kelak akan menularkan HIV kepada anak yang dikandungnya. Bisa pula laki-laki yang beristri menularkan ke orang lain, seperti pacar atau istri gelap serta pekerja seks. Sedangkan yang tidak beristri akan menularkan HIV kepada pacarnya atau pekerja seks.

Karena tidak ada tanda, gejala atau ciri yang khas AIDS itulah yang menyebabkan banyak orang yang menularkan HIV tanpa disadarinya. Hal ini terjadi karena selama ini yang tumbuh subur di masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah) yaitu HIV menular melalui pelacuran dan gay. Padahal, banyak laki-laki yang melakukan hubungan seks bukan dengan pelacur, tapi dengan ‘cewek’ di luar lokalisasi baik di Papua maupun di luar Papua atau di luar negeri sehingga mereka tidak menyadari bahwa hal itu juga berisiko tinggi tertular HIV. Soalnya, perilaku ‘cewek’ itu berisiko tinggi tertular HIV karena sering berganti-ganti pasangan. Ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang mengencani ‘cewek’tadi HIV-positif sehingga ‘cewek’ itu tertular HIV.

Kalau ada ‘cewek’ di lokalisasi atau di luar lokalisasi yang HIV-positif maka laki-laki yang mengencaninya pun akan tertular HIV. Penularan terjadi tanpa disadari dan laki-laki yang tertular pun tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Laki-laki inilah yang kemudian menjadi mata rantai penyebaran HIV. Bagi yang beristri akan menularkan HIV kepada istrinya. Hal ini terbukti seperti yang disampaikan oleh Ketua KPAD Prov. Papua, drh Constant Karma (
Cenderwasih Pos, 9/6-2006) “ …. ibu rumah tangga lebih banyak yang terinfeksi HIV/AIDS ketimbang pekerja seks.”

Dari mana ibu-ibu rumah tangga itu tertular HIV? Kemungkinan besar tentulah dari suami mereka. Hal ini terjadi karena suami mereka tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda, gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisiknya.

Seseorang berisiko tinggi tertular HIV kalau dia pernah (1) melakukan hubungan seks penetrasi yakni penis masuk ke vagina (heteroseks), seks oral dan seks anal di dalam atau di luar nikah serta homoseks tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti, (2) melakukan hubungan seks penetrasi, seks oral dan seks anal di dalam atau di luar nikah serta homoseks tanpa kondom dengan seseorang yang suka berganti-ganti pasangan (seperti dengan pekerja seks perempuan atau waria), (3) menerima transfusi darah yang tidak diskrining, dan (4) memakai jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo dan alat-alat kesehatan secara bersama-sama dengan bergiliran.

Tes Sukarela

Setelah mencapai masa AIDS mulailah muncul persoalan (besar). Jika yang tertular suami maka dia tidak bisa bekerja lagi. Kalau dia dirawat di rumah sakit maka istri dan anak-anak akan bergantian mengurusnya. Akibatnya, istri tidak bisa bekerja dan sekolah anak-anak pun terganggu.

Tapi, selama ini kasus HIV/AIDS di Indonesia selalu ditampik. Bahkan, di awal epidemi HIV (1980-an) banyak pejabat dan tokoh masyarakat yang sesumbar bahwa Indonesia tidak akan ‘diserang AIDS’ karena bangsa Indonesia berbudaya dan beragama. Ada anggapan (yang keliru) bahwa moral dan agama bisa melindungi diri dari risiko tertular HIV. Ini mitos (anggapan yang salah) karena sama sekali tidak ada kaitan antara agama dan moral dengan penularan HIV.

Kalau moral dan agama (dalam hal ini agama yang diakui) bisa membendung HIV tentulah orang-orang yang tidak beragama akan tertular HIV. Apakah ini benar? Ternyata tidak. Di masyarakat yang kita sebut ‘tidak beragama’ hanya karena mereka tidak menganut agama yang resmi ternyata tidak semua penduduknya tertular HIV. Sebaliknya, di negara-negara yang menjadikan agama sebagai dasar negara pun, seperti Arab Saudi, tetap saja banyak kasus HIV/AIDS. Di Arab Saudi, misalnya, sampai awal tahun ini dilaporkan 9.000-an kasus HIV/AIDS. Bahkan, 85 anak-anak dirawat di rumah sakit karena penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS.

Pengaitan moral dan agama ke masalah HIV/AIDS akhirnya menyesatkan banyak orang. Untuk itulah sudah saatnya meningkatkan penyuluhan dengan materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) yang akurat dengan mengedepankan fakta medis bukan moral dan agama.

Sasarannya adalah penduduk (laki-laki dan perempuan) yang pernah melakukan perilaku berisiko agar mau menjalani tes HIV secara sukarela. Kian banyak penduduk yang terdeteksi HIV-positif maka semakin banyak pula mata rantai penyebaran HIV yang diputus. Inilah salah satu upaya untuk menekan laju penyebaran HIV. *

Menyikapi Berita Kematian Penderita AIDS di Sukabumi

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Sumber: Newsletter “infoAIDS” edisi No 7/November 2006]

Berita “Di Kota Sukabumi 21 Orang Penderita AIDS Meninggal” (Harian “GALAMEDIA”, Bandung, 15 Juni 2006) membuktikan bahwa pandemi HIV sudah ada di masyarakat Sukabumi. Sayang, wartawan hanya menyampiakan data tidak ‘membawa’ fakta itu ke realitas sosial.

Satu hal yang perlu dicermati adalah kasus yang dilaporkan tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es (iceberg phenomenon). Kasus yang terdeteksi hanya sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya ada di masyarakat (Sukabumi). Hal ini terjadi karena banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda, gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik sebelum mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV). Namun, ybs. sudah bisa menularkan HIV secara diam-diam tanpa disadarinya melalui (a) hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah, (b) transfusi darah, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, alat-alat keseahtan dan cangkok organ tubuh, (d) dari seorang ibu yang HIV-positif kepada anak yang dikandungnya teruatama pada saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu/ASI (HIV bukan penyakit turunan tapi penyakit menular sehingga bisa dicegah).

Kondisi di ataslah yang membuat epidemi HIV kian runyam karena banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Sebaliknya, orang-orang yang sudah terdeteksi HIV-positif justru mengurangi penyebaran HIV karena mulai dari mereka mata rantai penyebaran HIV diputuskan. Bagi Odha (Orang yang Hidup dengan HIV/AIDS) yang beristri maka dia dibujuk agar selalu memakai kondom kalau sanggama dengan istrinya. Yang tidak beristri juga dibujuk agar tidak melakukan hubungan seks dengan orang lain tanpa kondom.

Bercermin Thailand

Semakin banyak kasus HIV/AIDS yang terdeteksi maka kian banyak pula mata rantai penyebaran HIV yang dapat diputuskan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak kalangan yang ‘bak kebakaran jenggot’ kalau di daerahnya terdeteksi kasus HIV/AIDS.

Banyak yang memilih ‘menyembunyikan’ kasus HIV/AIDS agar daerahnya dinilai ‘bersih’. Padahal, langkah ini jelas mencelakakan karena epidemi HIV akan menjadi ‘bom waktu’ ledakan AIDS.

Kalau sudah terjadi ledakan AIDS maka malapetaka yang akan datang karena penduduk yang sudah mencapai masa AIDS membutuhkan biaya yang besar untuk pengobatan penyakit yang muncul, disebut infeksi oportunistik. Mereka pun sudah ada yang harus dirawat di rumah sakit sehingga mereka tidak bisa bekerja. Kalau dirawat di rumah sakit maka istri dan anak-anaknya akan bergantian mengurusnya. Selain biaya rumah sakit diperlukan pula biaya transport. Sekolah anak-anak juga akan terganggu.

Kita (sudah) terlambat menangani epidemi HIV. Tahun 2001 Direktur Eksekutif UNAIDS, Dr. Peter Piot, sudah mengingatkan Indonesia tentang percepatan peningkatan kasus HIV/AIDS. Pemerintah hanya berpangku tangan. Hal yang sama terjadi di Thailand. Dua dekade yang lalu kalangan ahli sudah mengingatkan Negeri Gajah Putih itu tentang HIV/AIDS. Tapi, petinggi negeri itu menampik dengan mengatakan bahwa mereka adalah bangsa yang beragama dan berbudaya. Tapi, apa yang terjadi kemudian? Tahun 2000 dana yang dibutuhkan untuk menanggulangi HIV/AIDS hampir dua kali lipat dari devisa yang diperoleh negara itu dari pariwisata. Diperkirakan hampir 1 juta penduduk Thailand tertular HIV.

Apakah mengikuti jejak Thailand?

Kita bisa berhitung sekarang. Seandainya 21 penderita yang meninggal itu semua laki-laki dan sudah beristri maka mereka sudah menulari 21 perempuan. Kalau 21 perempuan ini hamil maka ada risiko 15-30 persen dari bayi yang mereka lahirkan tertular HIV. Kalau ada di antara mereka yang juga melakukan hubungan seks dengan perempuan lain, seperti selingkuhan, simpanan atau pekerja seks maka perempuan lain itu pun berisiko pula tertular HIV. Kegiatan ini berlangsung antara 5 – 10 tahun.

Memutus Mata Rantai

Kalau ada di antara 21 penduduk yang meninggal itu pengguna narkoba suntikan maka selama 5 - 10 tahun dia menyuntikkan narkoba secara bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian dengan teman-temannya. Andaikan mereka menyuntik setiap hari dengan kelompok 5 orang maka ada kemungkinan 4 temannya terular karena tingkat kemungkinan (probabilitas) penularan HIV melalui jarum suntik sangat tinggi yaitu sekitar 90 persen setiap kali suntikan. Jika empat temannya tadi juga menyuntik dengan temannya di kelompok lain maka teman-temannya pun berisiko pula tertular HIV. Mereka inilah yang akan menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal baik di kalangan sesama pengguna narkoba maupun kepada pekerja seks, istri atau pacar mereka.

Sudah saatnya digencarkan penyuluhan tentang HIV/AIDS melalui materi KIE (komunikasi, informasi, edukasi) yang akurat dengan mengedepankan HIV/AIDS sebagai fakta medis (dapat diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran). Karena HIV/AIDS merupakan fakta medis maka pencegahannya pun dapat dilakukan dengan cara-cara yang realistis yaitu menghindari perilaku berisiko tinggi.

Untuk mencegah penyebaran HIV secara horizontal perlu diputus mata rantainya dengan menganjurkan kepada orang-orang yang pernah melakukan perilaku berisiko agar menjalani tes HIV sukarela. Tes dengan standar prosedur operasi yang baku: konseling (bimbangan) sebelum dan sesudah tes, pernyataan kesediaan serta kerahasiaan (yang berhak mengetahui hasil tes hanya ybs., konselor dan dokter yang menanganinya).

Bagi yang terdeteksi HIV-positif dianjurkan agar tidak menulari orang lain. Kalau sudah beristri maka dianjurkan agar selalu memakai kondom jika berhubungan seks. Selain itu orang-orang yang terdeteksi HIV-positif pun dapat ditangani secara medis dengan memberikan obat antiretroviral (obat untuk menghambat perkembangan HIV di dalam darah) sehingga mereka tetap bisa hidup produktif. *

Menanggulangi AIDS dengan Mitos

Oleh: Syaiful W. Harahap
[Sumber: Newsletter “infoAIDS” edisi No. 8/Desember 2006]

Kasus HIV/AIDS secara nasional terus meroket menuju puncak epidemi. Ketika banyak negara ‘kalang-kabut’ menghadapi kasus AIDS pemimpin kita justru menampik kemungkinan AIDS ‘masuk’ ke Indonesia. Tapi, apa yang terjadi dua dekade kemudian? Kasus HIV/AIDS terus bertambah dengan pasti. Secara nasional sampai 30 September 2006 dilaporkan 11.604 kasus HIV/AIDS. Kalangan ahli memperkirakan kasus HIV/AIDS di Indonesia berkisar dari 90.000 sampai 130.000. Daerah pun berlomba-lomba meneluarkan peraturan daerah (perda) penanggulangan AIDS, tapi, lagi-lagi dengan moral.

Kalau saja peringatan Dr. Peter Piot, Direktur Eksekutif UNAIDS (badan PBB yang khusus menangani AIDS), pada Kongres Internasional AIDS Asia Pasifik VI (Melbourne, Australia, Oktober 2001) yang menyebutkan bahwa kasus HIV/AIDS di Indonesia, terutama penularan melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba (injecting drug user/IDU) sudah mengkhawatirkan ditanggapi dengan ikhlas mungkin penyebaran HIV melalui IDU dapat ditekan. Faktor risiko (modus penularan) HIV melalui IDU di Indonesia mencapai 50,31 persen. Bandingkan dengan penularan melalui hubungan seks (heteroseksual) yang mencapai 40,30 persen.

Tapi, lagi-lagi pemerintah tidak bergeming. Bahkan, pernyataan pejabat dan pakar tentang HIV/AIDS di media massa nasional pun tetap mengumbar mitos (anggapan yang salah). Bahkan, banyak pejabat daerah yang membusungkan dada karena tidak ada laporan kasus HIV/AIDS di daerahnya atau karena daerahnya tidak tercantum dalam ‘daftar kasus AIDS berdasarkan provinsi’.

Kasus HIV/AIDS tidak seperti demam berdarah, diare, atau flu burung karena seseorang yang tertular HIV tidak menunjukkan gejala, tanda, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisiknya sebelum mencapai masa AIDS (secara statistic antara 5 – 10 tahun setelah tertular). Namun, pada rentang waktu itu penularan bisa terjadi tanpa disadari. Penularan terjadi melalui cara-cara yang sangat khas yaitu (a) hubungan seks di dalam dan di luar nikah serta homoseks tanpa kondom, (b) transfusi darah, (c) jarum suntik, dan (d) air susu ibu (ASI).

Kasus Bertambah

Akibatnya, banyak kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi. Kasus HIV/AIDS tidak pula bisa dideteksi dengan kasat mata. Kasus HIV/AIDS hanya bisa dideteksi melalui tes HIV dengan menggunakan darah. Itulah sebabnya epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Artinya, kasus yang terdeteksi hanya sebagian kecil dari kasus yang ada. Tapi, tidak ada perbandingan yang ril antara kasus yang terdeteksi dengan kasus yang tidak terdeteksi.

Belakangan ini pertambahan kasus HIV/AIDS di semua daerah meningkat dengan tajam. Inilah yang membuat banyak daerah kelabakan bak kebakaran jenggot. Padahal, penemuan kasus yang besar itu terjadi karena ada kegiatan tes HIV yang gencar melalui klinik-klinik VCT (voluntary counseling and testing) yaitu klinik yang menyediakan sarana untuk tes HIV sesuai dengan standar prosedur operasi tes HIV yang didanai oleh Global Fund.

Tapi, banyak daerah yang tidak memahami hal itu dan melihatnya sebagai persoalan besar. Maka, ramai-ramailah daerah merancang peraturan daerah (perda) penanggulangan AIDS. Sampai sekarang sudah ada tujuh daerah (kota, kabupaten, dan provinsi) yang menelurkan Perda yaitu 1 Kabupaten Nabire (2003), 2 Kabupaten Merauke (2003), 3 Provinsi Jawa Timur (2004), 4 Kabupaten Puncak Jaya (2005), 5 Provinsi Bali (2006), 6 Provinsi Riau (2006), dan 7 Kota Sorong (2006).

Hasilnya? Nol besar. Buktinya, kasus HIV/AIDS di daerah-daerah yang sudah menelurkan Perda itu tetap meroket. Bahkan, di Papua yang menelurkan empat Perda kasus HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga lebih banyak daripada di kalangan pekerja seks.

Mengapa hal itu terjadi? Ya, karena penularan HIV secara horizontal antara penduduk terjadi tanpa disadari. Hal ini terjadi karena banyak orang yang tidak (mau) menyadari dirinya sudah tertular HIV. Selama ini materi KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) tentang HIV/AIDS dibalut dengan moral dan agama sehingga yang muncul hanya mitos. Misalnya, penularan HIV dikait-kaitkan dengan zina, pelacuran, ‘seks bebas’, selingkuh, jajan, waria, dan homoseks.

Padahal, penularan HIV melalui hubungan seks di dalam atau di luar nikah serta homoseks bisa terjadi kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali hubungan seks. Sebaliknya, kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak akan terjadi penularan HIV biar pun hubungan seks dilakukan dengan zina, melacur, ‘seks bebas’, jajan, selingkuh atau homoseks.

Perda Mitos

Ternyata dalam Perda pun yang ditonjolkan sebagai upaya penanggulangan dan pencegahan justru mitos. Tidak ada cara-cara yang realistis ditawarkan sebagai upaya pencegahan dalam Perda. Dalam Perda Kab Puncak Jaya No 14/2005, misalnya, disebutkan pada Pasal 5 ayat 1 “Pencegahan HIV/AIDS dan IMS dilakukan melalui cara (a) Tidak melakukan hubungan seksual secara menyimpang dan berganti-ganti pasangan seks.” Ini jelas moral karena tidak ada kaitan langsung antara seks yang menyimpang dengan penularan HIV.

Pada Perda Prov Jawa Timur No. 5/2004 disebutkan pada pasal 3 ayat 3 c “Melaksanakan penanggulangan penyakit menular seksual (PMS) secara terpadu dan berkala di tempat-tempat perilaku beresiko tinggi, termasuk didalamnya keharusan penggunaan kondom 100%”. Nah, ini juga mitos. Tidak ada kaitan langsung penularan HIV dengan “tempat-tempat perilaku beresiko tinggi”. Lagi pula ini eufemisme. Sebut saja tempat pelacuran, lokasi atau lokalisasi pelacuran!

Perda Prov Bali No 3/2006 juga sarat moral. Pasal 9 disebutkan “Setiap orang yang melakukan hubungan seksual berisiko wajib melakukan upaya pencegahan”. Mengapa tidak memakai kalimat yang denotative? Pasal ini akan lebih bermakna kalau berbunyi “Setiap orang, laki-laki atau perempuan, yang melakukan hubungan seks di dalam atau di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan wajib memakai kondom.”

Perda Prov Riau No. 4/2006 juga mengedepankan moral dalam mencegah HIV/AIDS. Pasal 5 disebutkan cara-cara mencegah HIV yaitu (a) Meningkatkan Iman dan Taqwa, (b) Tidak melakukan hubungan seksual diluar perkawinan yang sah. (c) Setia pada pasangan tetap dan atau tidak melakukan seks bebas. Tiga cara ini jelas salah nalar karena tidak ada kaitannya secara langsung dengan penularan HIV. Bahkan, Perda ini menyuburkan stigma (cap buruk) kepada orang yang tertular HIV karena dikategorikan sebagai orang yang ‘tidak beriman dan tidak bertaqwa’.

Kalau penanggulangan HIV/AIDS tetap mengusung mitos maka epidemi HIV akan menjadi ‘bom waktu’ ledakan AIDS di masa yang akan datang. Maka, apakah kita akan tetap mengedepankan moral dan agama dalam penanggulangan AIDS di negari yang agamis ini dan berbudaya tinggi ini? *