24 Mei 2018

Laki-laki Ini Seks dengan 3 PSK, Dia Takut Istri dan Anak-anaknya Tertular HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: pozziepinoy.blogspot.co.id)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


Tanya Jawab AIDS No1./Mei 2018
Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. 
Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: "AIDS Watch Indonesia" (https://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap,melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.
*****
Tanya: Saya laki-laki umur 25 tahun. Setahun terakhir ini saya berhubungan seksual tanpa pengaman dengan tiga orang pekerja seks komersial (PSK) dalam jangka waktu yang cukup lama. Pertama pada bulan Maret 2017. Kedua dengan perempuan yang berbeda di bulan Juli 2017. Ketiga juga dengan perempuan yang berbeda Februari 2018.
Saya takut terkena virus itu karena di depan rumah saya ada pasangan suami-istri yang meninggal karena terkena virus itu. Selama tiga bulan ini saya tidak mengelami gejala demam, pilek atau bintik di data dan punggung. Saya mau periksa ke puskesmas atau rumah sakit saya malu dan takut bayarannya mahal. Saya tidak ingin istri dan anak-anak saya tertular HIV. Saya baca di Google ada obat yang bisa menghambat virus biar tidak ditularkan. Apakah saya bisa terkena penyakit HIV?
Tn "X" dari Kota J di P Jawa via WA (24/5-2018)
Jawab: Perilaku seksual saudara berisiko tertular HIV karena melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan tiga PSK. Karena bisa saja salah satu atau ketiga-tiganya mengiap HIV/AIDS. Tidak bisa diketahui apakah tiga PSK itu mengidap HIV/AIDS atau tidak dengan melihat fisik karena tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri di fisik dan keluhan kesehatan yang khas AIDS.
PSK adalah orang yang berisiko tinggi tertular HIV karena melayani hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti tanpa kondom. Biar pun ada PSK yang mengatakan cek kesehatan rutin itu tidak ada artinya karena mereka tidak melakukan tes HIV hanya tes IMS  (infeksi menular seksual yang lebih dikenal sebagai 'penyakit kelamin'), yaitu kencing nanah (GO), raja singa (sifilis), herpes genitalis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, virus kanker serviks, dll.)
Lagi pula biar pun biar pun seorang PSK menjalani tes, misalnya pada tanggal 24 Mei 2018 pukul 12.00 dengan hasil negatif bukan jaminan selamanya PSK itu tidak tertular HIV. Bisa saja malam harinya PSK itu melayani hubunga seksual dengan laki-laki pengidap HIV sehingga PSK itu berisiko tertular HIV.
Saudara melakukan tiga kali hubungan seksual tanpa kondom dengan 3 PSK itu, apakah Saudara sudah menikah?
Kalau jawabannya YA, maka kalau Saudara tertular HIV ada risiko Saudara menularkan HIV ke istri. Kalau istri Saudara tertular HIV maka ada pula risiko penularan kepada bayi yang dikandungnya.
Penularan HIV dari seseorang yang tertular HIV tidak perlu menunggu sekian jam atau sekian hari karena begitu virus (HIV) masuk ke aliran darah maka akan langsung terjadi penggandaan atau replikasi HIV di sel-sel darah putih dengan hasil virus HIV baru berjumlah miliaran setiap hari. Itu artinya sejak tertular sudah bisa menularkan HIV al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Sebaiknya Saudara segara jalani konseling tes HIV ke Klinik VCT (tempat tes HIV sukarela dengan konseling) di Puskesmas atau RSUD di tempat tinggal Saudara. Soal biaya tes HIV bervariasi antar daerah. Yang saya tahu di Jawa Barat tes HIV gratis.
Obat yang bisa menghambat penularan HIV adalah obat antiretroviral (ARV). Bukan sebagai vaksin, tapi obat ARV menurunkan jumlah replikasi HIV di darah sehingga kalau tes HIV hasilnya bisa nonreaktif tapi tidak berarti virus (HIV) tidak ada. Tidak terdeteksi. Dalam kondisi inilah hubungan seksual tidak terjadi penularan. Yang jelas harus ditangani dokter.
Obat ARV tidak otomatis diberikan kepada setiap orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS karena ada atuarannya yaitu hasil tes CD4 di bawah 350.
Daripada Saudara bolak-balik mencari di Internet dengan bantuan "Mbak Google" lebih baik Saudara segera ke Klinik VCT terdekat. Kalau malu pakai nama samaran, kumis dan jenggot palsu. * [kompasiana.com/infokespro] *

Bukan Seks Menyimpang, Ini Penyebab Tingginya HIV/AIDS di Papua

Ilustrasi (Sumber: youthstopaids.org)

Oleh: Syaiful W HARAHAP

"Namun di sisi lain, perilaku seks menyimpang dari masyarakat menjadi pemicu utama meningkatnya penyebaran virus mematikan ini." Ini ada dalam berita "Kasus HIV/AIDS di Papua Tembus 35 Ribu"  (pasificpos.com, 23/5-2018).
Epidemi HIV/AIDS di Indonesia yang diakui pemerintah sudah ada sejak April 1987 berdasarkan kasus kematian turis Belanda, seorang gay, yang meninggal karena penyakit terkait AIDS di RS Sanglah Denpasar, Bali (Baca juga: Kapan, Sih, Awal Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia?).
Penyangkalan
Pemerintah waktu itu pun menjadikan kematian gay ini sebagai materi sosialisasi AIDS dengan menyebutnya sebagi penyakit akibat 'perilaku menyimpang', penyakit bule, penyakit homoseksual, penyakit orang asing, dll. Inilah mitos (anggapan yang salah). 
Penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena orientasi seksual (homoseksual, heteroseksual, biseksual) dan sifat hubungan seksual (di luar nikah), tapi karena kondisi hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah jika salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak pakai kondom.
Biar pun informasi HIV/AIDS yang objektif sudah banjir, tapi tetap saja banyak kalangan yang tetap memakai 'kaca mata kuda' sehingga cara berpikirnya tentang HIV/AIDS tidak berubah. Media massa nasional pun banyak yang tetap berpijak pada informasi yang dibalut dengan moral itu sehingga terjadi  'misleading' (menyesatkan).
Terkait dengan HIV/AIDS di Papua tidak jelas apa yang disebut sebagai 'perilaku seks menyimpang dari masyarakat'. Risiko laki-laki tertular HIV/AIDS yang potensial melalui hubungan seksual adalah sering melakukan hubungan seksual dengan kondisi tidak memakai kondom dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan yaitu pekerja seks komersial (PSK).
Kalau yang dimaksud 'perilaku seks menyimpang dari masyarakat' adalah hubungan seksual dengan PSK, maka persoalan bukan karena menyimpang tapi karena laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.
Celakanya, ada kecenderungan di Papua yang menyangkal perilaku seksual sebagian orang dengan menyalahkan PSK dan menyebutnya sebagai genosida. Inilah pangkal epidemi HIV karena tidak melihat kesalahan pada diri sendiri tapi menyalangkah orang atau pihak lain (Baca juga: AIDS di Papua: Penyangkalan Terhadap Perilaku Seksual Laki-laki Papua dan AIDS di Papua Bukan Genosida).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg. Aloysius Giyai, M.Kes, mengatakan: Ya, ada peningkatan, karena masyarakat semakin menyadari dengan sendirinya datang untuk melakukan tes VCT untuk mendeteksi risikonya terhadap HIV.
Yang meningkat atau bertambah adalah jumlah warga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS berdasarkan hasil tes HIV di klinik-klinik VCT (tempat tes HIV sukarela dengan konseling) di puskesmas dan rumah sakit pemerintah. Sedangkan kasus baru tidak bisa dideteksi karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada orang-orang yang tertular HIV sebelum masa AIDS (secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV).
Tes HIV di klinik VCT terjadi di hilir. Artinya warga yang terdeteksi sudah tertular HIV. Biar pun mereka diberikan obat antiretroviral (ARV) yang bisa menekan risiko menularkan HIV itu terjadi pada orang-orang yang sudah tertular HIV.
Perda AIDS
Persoalan besar adalah insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa, melalui hubungan seksual dengan PSK dengan kondisi tidak memakai kondom. Celakanya, Pemprov Papua menjalankan program sunat pada laki-laki sebagai upaya menanggulangi HIV/AIDS [Baca juga: Penanggulangan AIDS di Papua dengan "Kondom Alam"dan AIDS di Papua: Sunat (Bisa) Menjerumuskan karena Dianggap Kondom (Alam)].
Sunat bukan mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual, tapi menurunkan risiko karena sebagaian penis (kepala penis) mengeras sehingga sulit 'ditembus' HIV. Tapi, batang penis yang luas permukaannya lebih besar menjadi pintu masuk bagi HIV melalui luka-luka mikroskopis ketika terjadi hubungan seksual tanpa kondom.
Beberapa tahun yang lalu ada pula kegaduhan yang menyesatkan yaitu menyebut buah merah bisa menyembuhkan AIDS. Setiap kali pelatihan di Papua penulis selalu ditodong dengan umpatan bahwa Jakarta (baca: pemerintan) tidak peduli dengan AIDS di Papua karena tidak mengembangkan buah merah untuk obat AIDS. 
Pada awalnya penulis kelabakan menjawab pertanyaan itu. Tapi, ketika pelatihan bersama Zulazmi Mamdy, MPH, FKM UI, ke Papua baru penulis dapat jawaban yang tepat: "Pak Syaiful, kalau buah merah bisa mengobati AIDS tentu tidak ada penduduk Papua yang mengidap AIDS." (Baca juga: Apakah Buah Merah Bisa Menyembuhkan HIV/AIDS?).
Soal jumlah kasus HIV/AIDS yang banyak terdeteksi secara epidemilogis justru lebih baik daripada tidak banyak kasus HIV/AIDS yang terdeteksi. Setiap kasus HIV/AIDS yang terdeteksi berati satu mata rantai penyebaran HIV diputus dan warga yang terdeteksi ditangani secara medis. Jika tes CD4 sudah di bawah 350 diberikan obat ARV sehingga kondisi pengidap HIV/AIDS tetap biasa dan risiko menularkan HIV bisa ditekan.
Sebaliknya, daerah-daerah dengan kasus HIV/AIDS yang sedikit terdeteksi belum tentu kasus HIV/AIDS di masyarakat tidak banyak karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Jumlah kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.
Peraturan daerah (Perda) penanggulangan AIDS pertama di Indonesia diterbitkan di Nabire, Papua (Perda Kab Nabire No 18/2003, tanggal 31 Januari 2003). Sekarang hampir semua daerah, termasuk provinsi, punya Perda AIDS. Tapi, karena perda-perda itu dibalut dengan moral, maka tidak menukik ke akar persoalan (Baca juga: Perda AIDS di Indonesia: Mengekor ke Ekor Program Penanggulangan AIDS Thailand).
Yang diperlukan di Papua adalah penanggulangan di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi (penularan) HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK. Ini bisa dilakukan dengan intervensi yang memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK. Ini bisa efektif kalau praktek PSK dilokalisir. * [kompasiana.com/infokesprohttps://www.kompasiana.com/infokespro/5b061ee7caf7db215c66c892/aids-di-papua-hari-gini-masih-saja-berkutat-pada-mitos] *

Sosialisasi HIV/AIDS kepada Pelajar SMA di Minahasa dengan Moralitas Dewasa

sumber: Sains Kompas

Oleh: Syaiful W HARAHAP

"Karena Minahasa sudah dalam zona merah, mejadi tanggung jawab kita semua baik sebagai pemerintah maupun sebagai generasi muda untuk menghindari narkoba dan seks bebas." Ini dikatakan oleh Pj Bupati Minahasa Royke H Mewoh pada acara Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS dan Narkoba di depan siswa-siswi SMA se Minahasa, Sulut (manado.tribunnews.com, 22/5-2018).
Kasus kumulaitif HIV/AIDS di Kabupaten Minahasa dari tahun 1997-2017 sebanyak 308 yang terdiri atas 74 HIV dan 234 AIDS (manado.tribunnews.com, 24/2-2018).
Apa yang dimaksud Mewoh tentang Minahasa sebagai 'zona merah'? Apakah jumlah kasus atau perilaku seksual warga sehingga tertular dan menularkan HIV/AIDS?
Dari jumlah kasus angka yang terdeteksi memang tidak menggambarkan jumlah warga Minahasa yang mengidap HIV/AIDS karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Jumlah kasus yang terdeteksi (308) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.
Ilustrasi (Sumber: diysolarpanelsv.com)
Ilustrasi (Sumber: diysolarpanelsv.com)
Yang jadi masalah besar adalah mendeteksi kasus HIV/AIDS yang ada di masyarakat. Soalnya, warga pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi tidak menyadari dirnya mengidap HIV/AIDS karena tidak ada gejala-gejala atau keluhan kesehatan yang khas AIDS. Tapi, mereka bisa menularkan HIV ke orang lain, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Adakah langkah konkret Pemkab Minahasa untuk mendeteksi pengidap HIV/AIDS yang belum terdeteksi di masyarakat?
Kalau tidak ada, itu artinya penyebaran HIV/AIDS di masyarakat akan terus terjadi. Kasus-kasus HIV/AIDS yang kelak terdeteksi pada ibu hamil dan bayi jadi bukti terjadi penyebaran HIV di masyarakat melalui warga pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi.
Yang potensial menyebarkan HIV/AIDS di masyarakat melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah adalah laki-laki dewasa yang sering melakukan perilaku berisiko tertular HIV. Sosialisasi pencegahan justru dilakukan kepada siswa-siswi SMA.
Pada usia siswa-siswi SMA dorongan hasrat seksual sangat kuat. Pesan Mewoh kepada siswa-siswi itu agar menjahui 'seks bebas'. Kalau yang dimaksud Mewoh 'seks bebas' adalah hubungan seksual di luar nikah, maka hal ini juga dilakukan oleh kalangan dewasa melalui berbagai modus. Misalnya, dengan pekerja seks komersial (PSK), perselingkuhan, 'kumpul kebo', dll.
Kalau hanya dengan jargon 'jauhi seks bebas' itu sama saja dengan menggarami laut. Menggantang asap. Survei Kemenkes RI tahun 2012 menunjukkan ada 6,7 juta laki-laki di Indonesia yang jadi pelanggan 230.000 PSK. Celakanya, 4,9 juta di antaranya punya istri (antarabali.com, 9/4-2013).
Jika fakta ini ditarik ke Minahasa, apakah di Minahasa ada transaksi seks yang melibatkan PSK?
Jawaban sudah bisa ditebak: Tidak ada! Ini karena di Minahasa dan daerah lain di Indonesia tidak ada lagi lokalisasi pelacuran yang diregulasi. Tapi, transaksi seks yang melibatkan PSK tentu saja ada dengan berbagai modus yang tidak kasat mata. Yang perlu diperhatikan adalah ada dua tipe PSK, yaitu:
(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.
(2). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dll.
Perilaku warga yang berisiko tertular HIV, al.:
(a). Sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS, dan
(b). Sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pasangan yang sering berganti-ganti, seperti PSK langsung dan PSK tidak langsung, karena bisa saja salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS.
Jika Pemkab Minahasa ingin agar siswa-siswi SMA terhindar dari HIV/AIDS, maka yang perlu disampaikan adalan bagaimana cara remaja mengendalikan dorongan seks mereka di masa-masa libido yang kuat. Bukan hanya sekedar jargon dengan kaca mata orang dewasa yang justru tidak bisa mengendalikan dorangan seksualnya. Buktinya, jutaan laki-laki dewasa beristri jadi pelanggan setia PSK [Baca juga: Membicarakan Remaja dengan Kaca Mata (Moralitas) Dewasa].
Tidak ada subsitusi penyaluran dorongan seksual. Kalau disebut olahraga itu tidak tepat karena dengan berolahraga justru sehat sehingga dorongan seks lebih kuat lagi. Lagi pula, apa bisa ketika di tengah malam buta seorang remaja terangsang lalu ganti pakaian dengan pakaian olahraga langsung pergi ke lapangan bola atau jogging?
Maka, yang dibutuhkan remaja dalam hal ini siswa-siswi SMA peserta sosialisasi itu adalah jalan keluar yang ril bagaimana cara mereka menyalurkan dorongan seksual agar tidak tertular HIV/AIDS. * [kompasiana.com/infokespro] *

Di Bulukumba, Sulsel, PSK Pengidap HIV/AIDS Tetap Layani Laki-laki

Ilustrasi (Sumber: elizabethtayloraidsfoundation.org)

Oleh: Syaiful W HARAHAP

"Meskipun mengetahui dirinya positif HIV, mereka tetap beraktivitas dan tidak menggunakan alat kontrasepsi." Ini pernyataan Pengelola Program Penangulangan HIV-AIDS Bulukumba, Harni, seperti diberitakan oleh makassar.tribunnews.com (Segini Jumlah Penderita HIV-AIDS di Bulukumba, 23/5-2018).
Laporan menyebutkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Kabupaten Bulukumba, Prov Sulsel, dari tahun 2006 -- 2018 tercatat 231. Angka ini hanya yang terdeteksi, sedangkan warga pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi bisa jauh lebih banyak karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es.
Angka yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang munul ke atas permukaan air laut, sedangkan warga pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan es di bawah permukaan air laut.
Dari jumlah itu penularan terbanyak melalui hubungan seksual. Maka, ada kaitan langsung antara PSK pengidap HIV/AIDS dan kasus HIV/AIDS pada penduduk. Seperti disebutkan ada PSK yang sudah mengetahui dirinya mengidap HIV/AIDS tapi tetap melayani hubungan seksual dengan laki-laki.
Tapi, perlu diingat apakah ketika tiba di Bulukumba132 PSK tsb. menjalani tes HIV?
Kalau tidak, maka bisa saja yang menularkan HIV ke PSK justru laki-laki warga Bulukumba. Kalau ini yang terjadi itu artinya jika laki-laki yang menularkan HIV ke PSK mempunyai istri maka istrinya berisiko tertular HIV. Jumlah perempuan yang berisiko tertular HIV akan bertambah banyak kalau laki-laki tsb. mempunyai istri lebih dari satu dan punya pasangan seks lain pula.
Pemkab Bulukumba sudah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) No 5 Tahun 2008 tentang Penanggulangan HIV/AIDS yang disahkan tanggal 23/6-2008. Dengan kondisi penyebaran HIV/AIDS seperti sekarang ini menunjukkan Perda itu tidak bekerja (Baca juga: Menguji Peran Perda AIDS Bulukumba, Sulawesi Selatan).
Letak Bulukumba di Sulsel (Sumber: sultansinindonesieblog.wordpress.com)
Letak Bulukumba di Sulsel (Sumber: sultansinindonesieblog.wordpress.com)
Ada kesalahan dalam penyebutan 'alat kontrasepsi' pada pernyataan Harni. Alat kontrasepsi dipakai untuk mencegah kehamilan, seperti pil antihamil, IUD, kondom, dan suntikan. Tapi, yang bisa dipakai untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual hanya kondom. Maka, bukan 'alat kontrasepsi', tapi kondom.
Harni juga mengatakan bahwa PSK di Bulukumba melayani 2 laki-laki setiap malam. Di akhir pekan bisa sampai 5 laki-laki. Data ini tidak dikembangkan oleh wartawan yang menulis berita.
Padahal, ada persoalan besar di balik data itu. Setiap malam ada 264 laki-laki (132 PSK x 2 laki-laki) yang berisiko tertular HIV. Di akhir pekan jumlahnya 660. Angka-angka ini besar.
Persoalan besar yang dihadapi Pemkab Bulukumba, dalam hal ini Dinas Kesehatan dan KPA, adalah transaksi seks PSK itu tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dijangkau untuk menjalankan program penanggulangan HIV/AIDS, al. dengan memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali 'membeli seks' kepada PSK.
Jika Pemkab tidak segera melakukan intervensi, maka insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK akan terus terjadi. Laki-laki yang tertular HIVakan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyakarat (horizontal), terutama kepada istrinya dan pasangan seksual lain. Jika istrinya tertular ada pula risiko penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya (vertikal).
Untuk itulah diharapkan Pemkab Bulukumba membuat regulasi yang memaksa suami-suami yang istrinya hamil untuk menjalani konseling tes HIV.
Jika hasil konseling menunjukkan perilaku seksual suami berisiko tertular HIV, maka dirujuk agar menjalani tes HIV. Kalau hasil tes positif, istri menjalani tes HIV pula. Kalau hasilnya positif, maka ibu hamil tsb. wajib mengikuti program pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.
Inilah langkah yang konkret untuk mendeteksi HIV di masyarakat dan menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir agar tidak lahir dengan HIV/AIDS. * [kompasiana.com/infokespro] *

22 Mei 2018

Laki-laki Heteroseksual Justru Penyebar HIV/AIDS yang Potensial di Bandung Barat

Ilustrasi (Sumber: canstockphoto.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

"Fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat-pen,) mengalami tren peningkatan, hingga kini terdapat ribuan komunitas. Penduduk berusia produktif pun banyak yang terjangkit virus HIV/AIDS, karena terkena penularan melalui hubungan LGBT." Ini lead pada berita "Memprihatinkan, Tren LGBT di Bandung Barat Meningkat" (pikiran-rakyat.com, 21/5-2018).
Berdasarkan data KPA Bandung Barat sampai Desember 2017 tercatat 280 kasus HIV/AIDS di Bandung Barat. Dari jumlah tersebut, 14 persen di antaranya merupakan kalangan ibu rumah tangga.
Pernyataan " .... hingga kini terdapat ribuan komunitas ...." tidak masuk akal. Soalnya, komunitas adalah kumpulan orang-orang yang jumlahnya banyak berdasarkan kriteria, minat, hobi, dll.
Lagi pula ada pertanyaan besar terkait dengan publikasi instansi dan institusi terkait HIV/AIDS belakangan ini yaitu: data tentang LGBT tsb. apakah berasal dari sumber primer (yang bersangkutan), sumber sekunder (dari teman, kenalan, dll.) atau sumber-sumber tidak langsung (isu, rumor, kata-katanya, dll.).
Soalnya, secara fisikyang bisa dikenali dalam konteks LGBT hanya waria (transgender). Sedangkan lesbian, gay dan bisekual (laki-laki dan perempuan) tidak bisa dikenali dari fisik mereka. Nah, bagaimana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Bandung Barat bisa mengenali warga dengan orientasi seksual lesbian, gay dan biseksual?
Disebutkan pula "Penduduk berusia produktif pun banyak yang terjangkit virus HIV/AIDS, karena terkena penularan melalui hubungan LGBT." Apakah ini fakta atau asumsi?
Soalnya, bagaimana mungkin ada 'penduduk berusia produktif' tertular HIV/AIDS melalui hubungan dengan lesbian? Lesbian adalah orientasi seksual pada perempuan yang hanya tertarik secara seksual dengan perempuan. Tidak ada seks penetrasi pada lesbian sehingga tidak ada risiko penularan HIV.
Apakah semua laki-laki berusia produktif pengiap HIV/AIDS di Bandung Barat hanya melakukan hubungan seksual dengan gay, biseksual dan transgender?
Dikatakan oleh Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) KBB, Lili Koesmadi Antoro: " .... fenomena LGBT berpotensi meningkatkan jumlah penderita HIV/AIDS, karena penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual LGBT."
Dalam epidemi HIV/AIDS yang potensial menyebarkan HIV/AIDS adalah laki-laki heteroseksual karena mereka punya pasangan tetap yaitu istri. Bahkan, ada yang beristri lebih dari satu dan ada pula yang mempunyai pasangan seks lain, bahkan melakukan hubungan seksual juga dengan pekerja seks komersial (PSK).
Kalau Lili menampik di Bandung Barat tidak ada PSK hanya karena tidak ada lokalisasi pelacuran tidak tepat karena tanpa lokalisasi pelacuran pun tetap saja ada transaksi seks yang melibatkan PSK tidak langsung. Mereka ini menyaru sebagai pemijat di panti pijat plus-plus, cewek di diskotik, kafe, pub, disebut sebagai anak sekolah dan mahsiswi. Transaksi dilakukan dengan beragam modus sampai memakai media sosial.
Perilaku suami yang berisiko tertular HIV, yaitu:
(a) sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS, dan
(b) sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK langsung dan PSK tidak langsung, karena ada kemungkinan salah satu dari PSK tsb. mengidap HIV/AIDS
Perilaku (a) jelas tidak bisa diintervensi (memaksa laki-laki pakai kondom). Sedangkan pada perilaku (b) intervensi hanya bisa dilakukan jika praktek PSK langsung dilokalisir.
Berita ini dan keterangan Lili mengabaikan perilaku seksual berisiko laki-laki heteroseksual, padahal berdasarkan data kasus HIV/AIDS di Bandung Barat ada 14 persen ibu rumah tangga yang terdeteksi tertular HIV/AIDS.
Isu LGBT menjadi bagian sensasi dari berita ini, tapi mengabaikan fakta penyebaran HIV/AIDS yang dilakukan oleh laki-laki heteroseksual, dalam kasus di Bandung Barat sebagai suami, di masyarakat. * [kompasiana.com/infokespro] *

21 Mei 2018

Ibu Rumah Tangga Pengidap HIV/AIDS Terbanyak di Kabupaten Bandung Barat

Ilustrasi (Sumber: ibtimes.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


“Mayoritas penderita HIV/AIDS itu adalah ibu rumah tangga yang tertular karena suami-suaminya sering 'jajan' di luar.” Ini pernyataan dalam berita “Ibu-Ibu Tertular HIV karena Suami Sering 'Jajan' di Luar” di republika.co.id (21/5-2018) tentang kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Pertanyaannya adalah: Dengan siapa suami-suami itu ‘jajan’ (baca: melakukan hubungan seksual tanpa kondom)? Tidak dijelaskan.

Kalau disebutkan dengan pekerja seks komersial (PSK) juga tidak karena di Bandung Barat jelas secara de jure tidak ada lokalisasi pelacuran.

Kalau begitu dengan siapa?

Ada kemungkinan dengan cewek-cewek penghibur yang juga bisa dibayar untuk melakukan hubungan seksual. Mereka itu dikenal sebagai PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek di panti pijat plus-plus, cewek kafe, cewek pub, anak sekolah, mahasiswi, dll.

Transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu dengan berbagai modus, bahkan melalui media sosial.

Jika suami-suami itu ‘jajan’ dengan PSK tidak langsung, maka tidak ada program penanggulangan yang bisa dijalankan. Itu artinya jumlah ibu rumah tangga yang (akan) tertular HIV/AIDS akan terus bertambah karena suami-suami yang ‘jajan’ tidak memakai kondom.

Kalau hanya mengandalkan sosialisasi itu sama saja dengan ‘menggantang asap’. Sia-sia. Soalnya, mengubah perilaku tidak semudah membalik telapak tangan. Dari mulai sosialisasi sampai menyadari perilaku membutuhkan waktu dan pada rentang waktu itu mereka sudah melakukan perilaku berisiko tertular HIV.

Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual bukan karena ‘jajan’ (sifat hubungan seksual), tapi karena cewek yang jadi pasangan seks suami-suami itu mengidap HIV/AIDS dan suami-suami itu tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual (kondisi hubungan seksua).

Perilaku suami yang berisiko tertular HIV, yaitu:

(a) sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti karena ada kemungkinan salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS, dan

(b) sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK langsung dan PSK tidak langsung, karena ada kemungkinan salah satu dari PSK tsb. mengidap HIV/AIDS

Perilaku (a) jelas tidak bisa diintervensi (memaksa laki-laki pakai kondom). Sedangkan pada perilaku (b) intervensi hanya bisa dilakukan jika praktek PSK langsung dilokalisir.

Ada pula pernyataan: Kemudian, sebanyak 10 persen didominasi oleh pelaku yang berasal dari kalangan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Belum ada kasus HIV/AIDS terdeteksi pada perempuan dengan faktor risiko atau cara penularan melalui hubungan seksual lesbian. Hubungan seksual pada lesbian tidak ada penetrasi.
Dikatakan oleh Kepala KPA Bandung Barat, Lili Koemadi Antoro: .... berdasarkan pengakuan komunitas LGBT di Bandung Barat, total komunitas tersebut mencapai 2.000 kelompok.

Ini benar-benar fantastis. Soalnya, pada LGBT yang kasat mata hanya waria. Sedangkan lesbian, gay dan biseksual tidak bisa dikenali dari fisik mereka. Kalau disebut pengakuan, pertanyaannya: apakah dari sumber primer (yang bersangkutan), sumber sekunder (teman) atau sumber-sumber lain yang hanya mendengar kabar burung.

Lagi pula yang jadi persoalan pada LGBT hanya biseksual karena laki-laki ini jika beristri akan jadi jembatan penularan HIV dari komunitas gay, waria dan biseksual ke masyarakat, dalam hal ini istri atau pasangan seks lain.

Apa yang dilakukan Pemkab Bandung Barat untuk menanggulangi insiden infeksi HIV baru dan penyebaran HIV?

Menurut Lili, dengan cara melakukan sosialisasi ke tiap desa serta membentuk desa peduli AIDS. Sudah ada 22 desa dari 165 desa yang membentuk ‘desa peduli AIDS’.

Ini jelas tidak menyentuh akar persoalan, seperti suami-suami yang suka ‘jajan’. Kalau hanya dengan sosialisasi mustahil bisa mencegah suami-suami ‘jajan’.

Karena intervensi tidak bisa dilakukan terhadap pelaku transaski seks yang melibatkan PSK tidak langsung, maka yang bisa dilakukan Pemkab Bandung Barat adalah membuat regulasi yang memaksa suami-suami yang istrinya hamil untuk menjalani konseling tes HIV.

Jika hasil konseling menunjukkan perilaku seksual suami berisiko tertular HIV, maka dirujuk agar menjalani tes HIV. Kalau hasil tes positif, istri menjalani tes HIV pula. Kalau hasilnya positif, maka ibu hamil tsb. wajib mengikuti program pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Ini langkah yang konkret untuk mendeteksi HIV di masyarakat dan menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir agar tidak lahir dengan HIV/AIDS. * [kompasiana.com/infokespro] *

400 Pengidap HIV/AIDS di Kota Manado “Lost Control”, Jadi Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: istockphoto.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


Anggota Komisi A DPRD Manado, Sulutk Roy Maramis, meminta instansi teknis rutin melakukan sosialisasi untuk kegiatan pencegahan HIV AIDS di sekolah-sekolah maupun masyarakat. “Agar masyarakat tahu bahaya HIV/AIDS. Dengan begitu akan menekan peningkatan penyakit HIV AIDS di masyarakat.” Ini ada dalam berita “400 Penderita Lost Control. 800 Warga Manado Terjangkit HIV/AIDS” (manadopostonline.com, 30/4-2018).

Masyarakat tahu bahaya HIV/AIDS, tapi masyarakat tidak mengetahui cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS yang konkret. Ini terjadi karena informasi HIV/AIDS yang disampaikan dalam ceramah, diskusi dan berita hanya sebatas mitos (anggapan yang salah) karena dibalut dengan norma, moral dan agama.

HIV/AIDS adalah fakta medis sehingga cara-cara penularan dan pencegahannya diketahui dengan pasti. Tapi, karena jadi mitos penularan dan pencegahan HIV/AIDS pun hanya sebatas jargon-jargon moral. Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV dengan zina, ‘seks bebas’, dll. Ini menyesatkan karena penularan HIV melalui hubungan seksual (bisa) terjadi di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual) jika salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan suami atau laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual.

Maka, yang perlu disampaikan adalah cara-cara mencegah penularan HIV bukan bahaya HIV/AIDS. Yang perlu diingat informasi harus akurat sebagai fakta medis bukan sebagai mitos.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Manado, dr Robby Mottoh, mengatakan: dari 800 yang terjangkit HIV/AIDS, sebanyak 200-an sudah meninggal dunia dan 200-an orang sedang menjalani pengobatan rutin di Dinas Kesehatan.

Dengan jumlah kematian 200 itu artinya tingkat kematian pada pengidap HIV/AIDS di Kota Manado sangat tinggi yaitu 25 persen. Sayang, dalam berita tidak ada penjelasan tentang penyakit penyebab kematian 200 pengidap HIV/AIDS tsb.

Terkait dengan kematian 200 pengidap HIV/AIDS itu ada fakta yang dilupakan yaitu ada kemungkinan sebelum meninggal mereka sudah menularkan HIV ke pasangan seksualnya.

Apakah pasangan 200 pengidap HIV/AIDS yang meninggal itu sudah menjalani tes HIV?

Kalau jawabannya tidak, maka jika pasangan 200 pengidap HIV/AIDS itu tertular HIV itu artinya ada 200 warga Kota Manado yang jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS. Mereka menyebarkan HIV/AIDS tanpa mereka sadari karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan.

Penyebaran HIV/AIDS di Kota Manado kian runyam karena disebutkan ada 400 pengidap HIV/AIDS yang ‘lost control’. Itu artnya 400 pengidap HIV/AIDS ini jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Disebutkan: “ .... 200-an orang sedang menjalani pengobatan rutin di Dinas Kesehatan.” Pernyataan ini tidak akurat karena ada kesan pengidap HIV/AIDS sakit. Tidak semua pengidap HIV/AIDS menjalani pengobatan rutin. Yang terjadi adalah pengidap HIV/AIDS dengan CD4 di bawah 350 meminum obat antiretroviral (ARV) yang diperoleh gratis dari Dinkes. Obat ARV bukan menyembuhkan HIV/AIDS tapi menghambat replikasi HIV di dalam darah sehingga pengidap HIV/AIDS tetap hidup sehat.

Untuk menghindari HIV AIDS, dia (Mottoh-pen.) mengimbau setia kepada pasangan atau tidak melakukan seks bebas.

Setia kepada pasangan tidak objektif karena bisa saja sebelum berpasangan masing-masing sudah pernah pula melakukan hubungan seksual dengan pasangan lain, misalnya pada pasangan yang sering kawin-cerai (Baca juga: Guru Agama Ini Kebingungan Anak Keduanya Lahir dengan AIDS).

Artinya, kalau salah satu dari pasangan itu mengidap HIV/AIDS biar pun mereka saling setia tetap saja ada risiko penularan HIV kalau suami tidak pakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual.

Sedangkan seks bebas adalah istilah yang ngawur karena tidak jelas artinya. Lagi pula biar pun seks bebas kalau keduanya tidak mengidap HIV/AIDS tidak ada risiko penularan HIV (Baca juga: ‘Seks Bebas’Jargon Moral yang Menyesatkan dan Menyudutkan Remaja).

Untuk mendeteksi pengidap HIV/AIDS di masyarakat Pemkot Manado perlu membuat regulasi yang mewajibkan suami perempuan yang hamil menjalani konseling HIV/AIDS. Jika hasil konseling menunjukkan perilaku seksualnya berisiko tertular HIV maka dirujuk untuk tes HIV. Selanjutnya jika hasil tes HIV istri positif, maka istri yang hamil wajib mengikuti program pencegahan penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya. * [kompasiana.com/infokespro] *

18 Mei 2018

AIDS Kota Samarinda, Lokalisasi Pelacuran Ditutup Kasus AIDS Terus Bertambah

Ilustrasi (Sumber: dreamstime.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


“ADUH GIMANA NIH..!! Pengidap HIV/AIDS Terus Meningkat.” Ini judul berita di kaltim.prokal.co (6/5-2018) terkait dengan kasus HIV//AIDS di Kota Samarinda, Kaltim. Dilaporkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Samarinda sampai Agustus 2017 sebanyak 1.662.

Pemkot Samarinda sendiri sudah menelurkan Peraturan Daerah (Perda) No 3 Tahun 2009 tanggal 3 Juni 2009 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Samarinda, tapi Perda ini tidak bisa bekerja karena hanya sarat dengan muatan moral (Baca juga: Menguji Peran Perda AIDS Kota Samarinda dalamMenanggulangi AIDS).

Pertama, pelaporan HIV/AIDS di Indonesia adalah dengan cara kumulatif. Kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga angka yang menunjukkan jumlah kasus tidak akan pernah berkurang atau turun biar pun pengidap HIV/AIDS banyak yang meninggal dunia.

Bukan Virus Mematikan

Kedua, tahun 1990-2000 Thailand mencatat kasus yang mendekati angka 1 juta. Tapi, dengan lima program berskala nasional yang dijalankan simultan kasus baru terus turun. Pada tahun 2016 kasus HIV/AIDS di Thailand 450.000 dengan kasus baru 6.400 per tahun. Bandingkan dengan Indonesia dengan kasus 620.000, setiap tahun bertambah 48.000 sebagai kasus baru (aidsdatahub.org). Penurunan kasus baru di Thailand terjadi melalui program ‘wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK). Ini bisa dilakukan karena praktek PSK dilokalisir dan di rumah-rumah bordil yang diawasi pemerintah.

Ketiga, di urutan pertama program penanggulangan HIV/AIDS di Thailand adalah sosialiasi informasi HIV/AIDS yang melibatkan media massa. Celakanya, di Indonesia media massa tidak terlibat secara langsung. Berita HIV/AIDS sporadis kalau ada kegiatan saja.

Keempat, materi berita HIV/AIDS di Thailand objektif sehingga taktual dan akurat dan bisa jadi pegangan penduduk. Sedangkan di Indonesia berita HIV/AIDS banyak yang dibumbui dengan norma, moral dan agama sehingga fakta medis HIV/AIDS hilang. Yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah) sehingga tidak bisa jadi pegangan penduduk. Banyak media massa yang mengedepankan sensasi (Baca juga: Syaiful W Harahap, Pers Meliput AIDS, Penerbit Sinar Harapan/The Ford Foundation, Jakarta, 2000).

Kelima, seperti berita ini. Sama sekali tidak ada informasi yang akurat tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Masyarakat yang membaca berita ini sama sekali tidak memperoleh informasi yang akurat sebagai pegangan untuk melindungi diri agar tidak tertular HIV/AIDS.

Bahkan lead berita ini tidak benar. Disebutkan “Virus mematikan human immunodeficiency virus (HIV) kian masif di Kota Tepian (Kota Samarinda, Kaltim-pen.).” Sampai hari ini tidak ada laporan kematian karena virus HIV. Kematian pengidap HIV/AIDS, disebut Odha (Orang dengan HIV/AIDS), bukan karena HIV atau AIDS tapi karena penyakit-penyakit yang muncul pada masa AIDS (secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV), seperti diare, TB, dll.

Disebutkan dalam berita ‘Bahkan tujuh orang meninggal dunia.’ Celakanya, tidak disebutkan penyakit penyebab kematian tujuh pengidap HIV/AIDS ini sehingga terkesan kematian mereka karena HIV/AIDS.

Pengelola Program dan Monitoring Evaluasi, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Samarinda, Muhammad Basuki, pun memberikan informasi yang ngawur dengan menebut ‘seks bebas’. Ini istilah yang sarat dengan moral yang merupakan terjemahan bebas dari ‘free sex’. Dalam kamus-kamus Bahasa Inggris tidak ada entry ‘free sex’. Istilah ini berkembang di tahun 1970-an yang mengacu ke kalangan hippies yang dipopulerkan dengan muatan moral sebagai sindiran.

Dalam berita disebutkan: “Penyebabnya, ada dua faktor yang mendominasi. Yakni, penggunaan jarum suntik dan seks bebas. Kedua faktor tersebut lebih besar karena seks bebas atau gonta-ganti pasangan.”

Perilaku Berisiko

Dua faktor yang disebut tidak akurat.

‘Penggunaan jarum suntik’ tidak jelas. Terkait dengan risiko penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik terjadi pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) yang memakai jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran. Ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS sehingga darah yang mengandung HIV masuk ke pompa jarum suntik melalui jarum. Selanjutnya yang memakai jarum suntik tadi berisiko tertular HIV.

Disebutkan ‘seks bebas’ atau ‘gonta-ganti pasangan’. Ini jelas ngawur.

Apa yang dimaksud dengan ‘seks bebas’? Tidak ada penjelasan. Maka, berita ini sama sekali tidak mencerahkan.

Disebutkan pula: Menurut data KPA, penderita terbesar yakni pelanggan yang menggunakan jasa seks yang mencapai 70 persen.

Pernyataan ini pun tidak jelas. Apa yang dimaksud dengan ‘pelanggan yang menggunakan jasa seks yang mencapai 70 persen’?

Yang jelas HIV/AIDS masuk ke Kota Samarinda al. adalah melalui perilaku seks yang berisiko, yaitu:

(1) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom di dalam ikatan pernikahan yang sah dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu di antara perempuan tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(2) Perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di dalam ikatan pernikahan yang sah dengan laki-laki yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, karena bisa saja salah satu di antara laki-laki tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(3) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah dengan perempuan yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, seperti perselingkuhan, WIL, dll. karena bisa saja salah satu di antara prempuan tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

(4) Perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah dengan laki-laki yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, , seperti perselingkuhan, PIL, dll. karena bisa saja salah satu di antara laki-laki tsb. juga punya pasangan seks yang lain dengan perilaku seksual yang berisiko.

PSK Tidak Langsung

(5) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, seperti PSK dan waria. PSK dikenal ada dua tipe, yaitu:

(a) PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(b) PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat plus-plus, ‘artis’, cewek spg, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, ibu-ibu rumah tangga, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

Dalam keterangan Muhammad tidak dijelaskan kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi dengan faktor risiko seks sebagai bentuk perilaku yang mana.

Di Kota Samarinda tiga lokalisasi pelacuran (Bayur, Solong dan Loa Hui) sudah ditutup. Dengan menutup lokalisasi pelacuran ini tidak akan menghentikan transaksi seks dalam bentuk pelacuran yang terjdi di sembarang tempat dan sembarang waktu dengan berbagai macam modus.

Maka, kemungkinan besar perilaku seks berisiko yang dilakukan warga, khususnya laki-laki dewasa, yang terdeteksi mengidap adalah perilaku nomor 5 (b). PSK langsung juga akhirnya menyaru sebagai PSK tidak langsung karena transaksi seks tidak dilokalisir Tentu saja Dinkes Kota Samarinda dan KPA Kota Samarinda tidak bisa melakukan intervensi karena transaksi seks tidak terjadi di tempat yang dilokalisir.

Itu artinya insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa di Kota Tepian akan terus terjadi yang kemudian menularkan ke istri atau pasangan seks lain yang akan berakhir pada bayi yang dilahirkan istri-istri mereka kelak. (Catatan: pemakaian kata AIDS bukan HIV atau HIV/AIDS adalah untuk memudahkan masyarakat menangkap isu). * [kompasiana.com/infokespro] *