23 Maret 2017

Apakah PSK yang Rutin Periksa Kesehatan ke Puskesmas Bebas AIDS?



Tanya Jawab AIDS No 3/Maret 2017

Oleh: Syaiful W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) pertama kali tanpa pakai kondom. PSK itu HIV-negatif karena tiap bulan periksa ke Puskesmas. Hari-hari berikutnya saya lakukan lagi dengan PSK itu tapi pakai kondom.  Lima hari dari seks yang terakhir saya flu, apakah ini gejala-gejala tertular HIV/AIDS?

Via SMS (26/8-2016)


Jawab: Pertama, status HIV seseorang hanya bisa diketahui melalui tes HIV yang sesuai dengan standar prosedur operasi yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Sedunia (WHO). Misalnya, setiap tes HIV harus dikonfirmasi. Artinya, apa pun hasil tes HIV pertama dengan reagent ELISA harus dites ulang dengan reagent lain. WHO merekomendasi tes konfirmasi bisa dengan ELISA tiga kali dengan reagent dan teknik yang berbeda.

Kedua, risiko tertular HIV melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom adalah 1:100. Dalam 100 kali hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan pengidap HIV/AIDS dengan kondisi suami atau laki-laki tidak pakai kondom setiap kali hubungan seksual ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan. Persoalannya adalah: tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan. Bisa yang pertama, kedua, kedua puluh, bahkan yang keseratus.

Ketiga, biar pun PSK itu tiap bulan cek kesehatan ke Puskesmas itu tidak jaminan bebas HIV/AIDS karena tes HIV hanya berlaku sampai darah diambil untuk dites karena setelah tes bisa saja ybs. melakukan kegiatan yang berisiko sehingga terjadi penularan HIV/AIDS,

Keempat, tidak ada gejala-gejala, tanda-tanda atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan seseorang yang tertular HIV sebelum masa AIDS (secara statistik masa AIDS terjadi pada renang waktu antara 5-15 tahun setelah tertular HIV).

Kelima, karena Saudara sudah melakukan kegiatan seks yang berisiko tertular HIV sebaiknya segera ke Klinik VCT (tempat tes HIVsecara sukarela dengan konseling sebelum dan sesudah tes HIV) di rumah sakit umum atau puskesmas di tempat domisili Saudara. Ini akan lebih baik agar Saudara tidak was-wasa, tapi tes hanya bisa akurat jika dilakukan minimal tiga bulan setelah kegiatan seksual yang berisiko tertular HIV. * [kompasiana.com/infokespro] *

12 Maret 2017

Risiko Seks Oral dengan Pasangan ‘yang Sehat’


Ilustrasi (Sumber: DHgate.com)

Tanya Jawab AIDS No 2/Maret 2017

Oleh: Syaiful W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.


*****

Tanya: Kalau melakukan oral dengan pasangan yang sehat, apakah berbahaya walaupun yang mengoral sedang sariawan?

Via SMS (20/8-2016)

Jawab: Yang jadi persoalan apa yang Saudara maksud dengan sehat? Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, disebut IMS yaitu infeksi menular seksual, ada dengan gejala tapi ada tanpa gejala. Seperti kencing nanah (GO) dan raja singa (sifilis) ada gejala di alat kelamin. Tapi, infeksi virus hepatitis B dan HIV/AIDS sama sekali tidak ada infeksi di alat kelamin dan tidak ada pula gejala yang khas pada fisik orang-orang yang tertular virus hepatitis B dan HIV/AIDS dalam jangka waktu yang pendek.

Tampaknya Saudara bertanya terkait dengan HIV/AIDS. Penularan HIV/AIDS melalui seks oral ada risiko tapi sejauh ini belum ada kasus yang dilaporkan. Sedangkan infeksi di rongga mulut dan tenggorokan bisa terjadi kalau yang dioral mengidap GO atau sifilis atau keduanya sekaligus.

Yang perlu Saudara perhatikan adalah orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tetap saja sehat karena tidak ada gejala yang khas dan tidak ada pula keluhan kesehatan yang khusus. Maka, sehat yang Saudara maksud tidak bisa dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS.

Untuk mengetahui apakah seseorang mengidapo HIV/AIDS atau tidak hanya bisa diketahui melalui tes HIV bukan melalui pemeriksaan kesehatan secara umum. Jadi, Saudara tidak bisa mengatakan ‘pasangan yang sehat’ terkait dengan HIV/AIDS jika ybs. belum menjalani tes HIV. *

09 Maret 2017

Masih Adakah Risiko Tetular HIV/AIDS Kalau Air Mani Keluar di Luar Vagina?

                                                   Ilustrasi (Sumber: newera.com.na)

Tanya Jawab AIDS No 1/Maret 2017

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya baru pertama kali melakukan hubungan seksual. Saya lakukan dengan pekerja seks komersial (PSK). Saya tidak pakai kondom.  Tapi, sperma saya kasi di  luar. PSK itu sendiri tiap bulan periksa kesehatan di Puskesmas. Apakah saya bisa kena HIV/AIDS?

Via SMS (14/8-2016)

Jawab: Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan HIV. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual keberapa terjadi penularan. Maka, setiap hubungan seksual berisiko, di dalam dan di luar nikah, yaitu tidak memakai kondom yang dilakukan dengan pengidap HIV/AIDS atau seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, ada risiko penularan HIV.

Sebagai virus yang bisa ditularkan HIV terdapat al. dalam air mani bukan dalam sperma serta cairan vagina. Nah, ketika terjadi hubungan seksual penis yang tidak memakai kondom gesekan dengan vagina dan bersentuhan dengan cairan vagina. Kalau PSK itu mengidap HIV/AIDS maka ada risiko penularan HIV ketika terjadi hubungan seksual. Itu artinya tidak ada kaitannya dengan mengeluarkan air mani di luar vagina karena sebelumnya penis sudah bergesek dengan vagina dan cairan vagina.

Untuk mengetahui apakah seseorang tertular HIV atau tidak melalui tes HIV baru bisa diketahui setelah tiga bulan sejak tertular. Itu artinya biar pun PSK itu tiap bulan cek kesehatan ke Puskesmas itu tidak jaminan dia bebas HIV/AIDS. Bisa saja setelah tes HIV dengan hasil negatif dia tertular HIV. * 

24 Februari 2017

Penanggulangan AIDS di Indonesia ‘Bak Pemadam Kebakaran’


Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Banyak peraturan terkait (penanggulangan) HIV/AIDS, tapi tidak menyentuh akar persoalan yaitu menurukan insiden infeksi HIV baru, khususnya pada laki-laki dewasa, melalui hubungan seksual dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan yaitu pekerja seks komersial (PSK).

Bahkan, dalam 90-an peraturan daerah (Perda) provinsi, kabupaten dan kota juga tidak ada cara-cara yang konkret untuk menjalankan program di atas. Celakanya, semua perda itu dibalut dengan moral dan agama sehingga yang muncul hanya mitos. Misalnya, disebutkan mencegah penularan HIV/AIDS adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang bukan pasangan, tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, dll.

Larangan itu jelas mitos (anggapan yang salah) karena penularan HIV melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi (saat terjadi) hubungan seksual (salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak pakai kondom) bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, melacur, dll.).

Maka, di dalam ikatan pernikahan yang sah secara agama dan negara pun bisa terjadi penularan HIV kalau suami mengidap HIV/AIDS dan tidak pakai kondom ketika sanggama. Buktinya, sudah banyak ibu rumah tangga (baca: istri yang sah) terdeteksi mengidap HIV/AIDS, padahal mereka tidak pernah sanggama dengan laki-laki lain.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 20 November 2016 menyebutkan sampai tanggal 30 September 2016 kasus kumulatif  HIV/AIDS di Indonesia tercatat 302.004 yang terdiri atas 219.036 HIV dan 82.968 AIDS dengan 10.132 kematian. Secara global kasus HIV/AIDS di akhir tahun 2015 mencapai 36,7 juta dengan 1,1 juta kematian. Dengan kondisi seperti ini Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara di Asia yang pertambahan kasus HIV-nya tercepat.

“Keberadaan Peraturan Presiden Nomor 124 Tahun 2016 dipersoalkan sejumlah pihak. Dalam regulasi itu, Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Nasional ditempatkan di Kementerian Kesehatan sehingga dikhawatirkan bisa menghambat koordinasi lintas kementerian.” Ini lead pada berita “HIV DAN AIDS, Perpres No 124/2016 Dipersoalkan” (Harian KOMPAS, 23/2-2017).

Persoalan yang hakiki bukan soal regulasi tsb., tapi sejauh mana program penanggulangan HIV/AIDS selama ini di Indonesia?

Semua program hanya berkutat di hilir, yaitu: tes HIV terhadap ibu hamil, tes HIV terhadap orang-orang berperilaku berisiko tertular HIV, tes HIV bagi kominitas kelompok kunci, tes HIV terhadap penylahaguna narkoba yang akan menjalani rehabiliasi, dan pasien yang berobat ke rumah sakit dengan gejala-gejala terkait AIDS. Ibarat kata program-progtam ini ‘bak pemadam kebakaran’ yaitu menangggulagi di hilr.

Dalam berita disebutkan: “Jika pengendalian HIV-AIDS hanya dilakukan Kemenkes, programnya terfokus di populasi kunci. Padahal, di Papua, misalnya, HIV masuk dalam populasi umum. Tren serupa di provinsi lain terjadi pada ibu hamil dan anak.” Ini jelas asimsi karena program kerja pemangku Perpres No 124/2016 belum bekerja. Perpres memberi waktu sampai 31 Desember 2017.

Selama ini ada kesan yang buruk yang menggiring opini publik bahwa populasi kunci, PSK dan waria bukan bagian dari masyarakat. Apakah populasi kunci bukan populasi umum? Apakah PSK dan waria bukan anggota keluarga?

PSK dan waria adalah bagian dari keluarga di masyarakat. Maka, tidak perlulah menyebut-nyebut populasi kunci, populasi khusus, dll. karena semua bagian dari masyarakat yang hidup dalam tatanan sosial.

Hal lain yang sering dipersoalan adalah stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS). Diposisikan bahwa penanggulangan HIV/AIDS terhalang karena stigma dan diskriminasi.

Anggapan itu sempit dan tidak objektif karena stigma dan diskriminasi terjadi di hilir yaitu terhadap orang-orang yang (sudah) tertular HIV/AIDS. Lalu, penanggulangan apa yang terganggu?

Yang jelas pemerintah tidak bisa melakukan program yang konkret dalam menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK karena:

Pertama, program tsb. merupakan kegiatan berupa intervensi terhadap laki-laki untuk memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK. Hal ini tidak bisa dilakukan karena kondom ‘dilarang’ dipromosikan di Indonesia. Banyak kalangan, bahkan pakar dan tokoh, yang menyerang promosi kondom. Bahkan, ada ketua organisasi keagamaan yang menyebut Menkes Nafsiah Mboi sebagai ‘menteri cabul’ karena mendukung promosi kondom untuk pencegahan HIV/AIDS (Lihat Gambar 1).

Dokumen pribadi

Kedua, intervensi tsb. hanya bisa dilakukan jika PSK dilokalisir (Lihat Gambar 2). Sejak reformasi semua daerah berlomba-lomba menutup tempat pelacuran. Bahkan, sekarang Mensos Kofifah Indar Parawansa jadi motor penggeran penutupan tempat-tempat pelacuran tanpa memikirkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat terkait dengan penyebaran ‘penyakit kelamin’ (IMS-infeksi menular seksual yaitu kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, virus kanker serviks, jengger ayam, dll.) dan HIV/AIDS.

Soalnya, dengan membubarkan dan menutup lokasi pelacuran maka praktek pelacuran dan transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu sehingga tidak bisa lagi dikontrol melalui regulasi.

Selama promosi kondom dan melokalisir praktek pelacaran ditolak, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru tidak bisa diturunkan yang pada gilirannya laki-laki yang tertular HIV jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakata yang kelak bermuara pada ‘ledakan ADIS’. ***

08 Februari 2017

HPN 2017: Menggugat Kepedulian Pers Nasional terhadap Penanggulangan HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: abtassociates.com)


Kamis, 9 Februari 2017, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini kegiatan dipusatkan di Kota Ambon, Maluku, yang dihadri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seiring dengan perjalanan panjang pers nasional yang juga berperan dalam kemerdekaan, patut juga dipertanyakan peran akrif pers nasional dalam ‘perang’ melawan penyebaran HIV/AIDS karena catatan menunjukkan peran pers nasional dalam penanggulangan HIV/AIDS sangat rendah sekali.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 20 November 2016 menyebutkan sampai tanggal 30 September 2016 kasus kumulatif  HIV/AIDS di Indonesia tercatat 302.004 yang terdiri atas 219.036 HIV dan 82.968 AIDS dengan 10.132 kematian. Secara global kasus HIV/AIDS di akhir tahun 2015 mencapai 36,7 juta dengan 1,1 juta kematian. Dengan kondisi seperti ini Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara di Asia yang pertambahan kasus HIV-nya tercepat.

Pelacuran dan Kondom

Jika dikaitkan dengan epidemi HIV, maka angka-angka itu tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Angka yang dilaporkan atau terdeteksi (digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut) yaitu 302.004 hanya sebagian kecil dari kasus yang ada (digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut). Estimasi dan proyeksi HIV/AIDS yang diterbitkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI,  jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia ada pada angka 608.667 (Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2011-2016, Jakarta, 2014).

Artinya, sejumlah penduduk, terutama laki-laki dewasa, yang mengidap HIV/AIDS di masyarakat tidak terdeteksi karena mereka tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas AIDS dan tidak ada pula keluhan kesehatan terkait AIDS. Orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi jadi mata rantai penularan HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Angka itu diperoleh dari tes terhadap pasien-pasien penyakit terkait HIV/AIDS di rumah sakit, tes HIV terhadap ibu hamil, tes wajib bagi penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bersama-sama, tes sukarela, dll. Belakangan ini ‘pencarian’ kasus HIV/AIDS bersifat pasif yaitu menunggu orang berobat ke rumah sakit jika ada gejala terkait AIDS kemudian dianjurkan tes HIV.

Celakanya, pemerintah sama sekali tidak bisa menjalankan program yang konkret yaitu pemakaian kondom untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, terutama melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) langsung. Program tidak bisa dijalankan karena kecaman dan penolakan yang sangat kuat dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat. Soalnya, program itu hanya bisa dijalankan jika praktek pelacuran yang melibatkan PSK langsung dilokalisir dan kondom tidak ditolak.

Dari 17 ‘pintu masuk’ HIV ke masyarakat yang paling potensial adalah melalui laki-laki yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV yakni sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung. Dengan menjalankan program penanggulangan di hulu yaitu pada laki-laki berisiko tinggi akan menurunkan penyebaran HIV di masyarakat.

Di awal tahun 1990-an ahli-ahli epidemilogi internasional sudah mengingatkan Thailand bahwa HIV/AIDS akan menjadi persoalan besar di Negeri Gajah Putih itu jika tidak dilakukan langkah-langkah penanggulangan yang konkret. Sayang, pemerintah di sana menampiknya al. dengan alasan negara itu didiami oleh penduduk yang berbudaya dan beragama.

Tapi, apa yang terjadi satu dekade kemudian? Kasus HIV/AIDS di sana mendekati angka 1.000.000. Biaya untuk penanggulangan HIV/AIDS secara langsung dan tidak langsung pada tahun 2000 saja menghabiskan dana 2,2 miliar dolar AS ini setara dengan 2/3 dana yang diperoleh dari sektor pariwisata.

Pemerintah Thailand pun langsung bergegas merancang program yang komprehensif untuk menanggulangi AIDS. Maklum, lorong-lorong di rumah sakit penuh sesak karena tempat tidur tidak cukup menampung pasien dengan penyakit terkait AIDS. Thailand menjalankan lima program dengan skala nasional secara simultan.

Mr Condom

Program di urutan pertama adalah meningkatan peran media massa sebagai media pembalajaran masyarakat tentang cara-cara melindungi diri agar tidak tertular HIV/AIDS. Bersamaan dengan itu diluncurkan pula program berupa sosialisasi kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual di uturan kelima (Integration of AIDS into National Development Planning, The Case of Thailand, Thamarak Karnpisit, UNAIDS, December 2000).

Memang, enolakan terhadap sosialisasi kondom juga terjadi di banyak negara. Di Thailand, misalnya, program ‘wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki yang melacur dengan PSK di lokalisasi pelacuran dan rumah bordir juga dikecam. Tapi, berkat dukungan media massa program itu berjalan lancar dan berbuah manis dengan salah satu indikator yaitu penemuan kasus HIV/AIDS yang terus menurun drastis di kalangan calon taruna militer ketika tes kesehatan. Pengagas program kondom ini adalah Mechai Viravaidya yang dikenal sebagai Mr. Condom di Thailand dngan semboyan “made Thailand a better place for life and love”. Mechai pun menerima hadiah “Magsaysay” tahun 1994.

Pemberitaan yang objektif dan konsisten pun mendorong banyak kalangan menyingsingkan lengan baju membantu pemerintah menanggulangi HIV/AIDS. Pasien yang tidak bisa ditampung rumah sakit langsung dibawa oleh bhiksu ke vihara. Itu gambaran ril betapa media massa berperan besar dalam memasyarakatkan penanggulangan HIV/AIDS. Tapi, itu ‘kan di Thailand.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Sejak awal epidemi HIV/AIDS yaitu di tahun 1981 pemberitaan media massa nasional berkutat pada mitos (anggapan yang salah). Mulai dari soal penyakit orang asing, penyakit bule, penyakit pelacur, penyakit perilaku menyimpang, penyakit kutukan, dst. (Syaiful W. Harahap, Pers Meliput AIDS, PT Sinar Harapan-The Ford Foundation, Jakarta, 2000). Celakanya, sampai sekarang pun tetap saja ada berita yang mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan mitos.

ilus-hpn-589b954a20afbdd50d90affe.jpg
Berita tentang HIV/AIDS pun sporadis. Jika ada perayaan seperti Hari AIDS Sedunia pada tanggal 1 Desember berita AIDS pun ramai, tapi dua hari kemudian dst sepi. Paling-paling ada berita jika ada keterangan dari dinas kesehatan (Dinkes) atau KPA (Komisi Penanggulangan AIDS). Berbeda dengan Thailand yang melancarkan sosialisasi HIV/AIDS melalui media massa secara simultan dan berkesinambungan.

Yang lebih menyedihkan adalah ada berita yang justru tidak memberikan pencerahan tentang langkah penanggulangan AIDS, malahan mendukung pengecam yang menolak lokalisasi dan kondom. Ini terjadi karena ada wartawan yang memakai moralitas dirinya sendiri ketika menulis berita. Banyak berita yang justru berseberangan dengan upaya-upaya penanggulangan HIV/AIDS yang konkret, al. dengan cara mewawancarai pihak-pihak yang berbicara melalut lidahnya dengan moral ketika membicarakan AIDS yang merupakan fakta medis (bisa diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran).

Tidak Berkompeten

Berita pun lebih banyak yang menakut-nakuti daripada meningkatkan kesadaran untuk melindungi diri, misalnya menyebutkan: “penyakit AIDS yang tidak ada obatnya” (padahal ada obat AIDS), “AIDS penyakit mematikan”  (padahal belum ada satu kasus pun kematian karena AIDS). Jurnalisme horor seperti ini dikenal di awal epidemi 30-an tahun yang lalu, sehingga tidak pas lagi dipakai saat ini.

Banyak kalangan, bahkan menteri kesehatan, yang menyampaikan statement berupa mitos, tapi wartawan dengan ringan tangan menulisnya dan media pun menyebarlaskan mitos tsb. Misalnya, ada menteri kesehatan yang mengatakan “AIDS tidak mungkin masuk Indonesia karena masyarakatnya berbudaya dan beragama”, ada lagi pernyataan yang menyebutkan “AIDS penyakit bule”. “AIDS penyakit homoseks”, dll. 

Kalau saja wartawan sedikit memutar otak tentulah bisa menulis berita yang komprehensif dengan perspektif kesehatan dengan narasumber yang kompeten agar berita AIDS tidak sekedar mitos. Celakanya, ada saja wartawan yang justru mewawancarai narasumber yang tidak berkompeten dalam bidang HIV/AIDS, seperti pemuka agama dan dokter yang membalut lidahnya dengan moral.

Untuk itulah penulis mengembangkan ‘jurnalisme harapan’ yaitu memberikan pencerahan kepada yang mengidap HIV/AIDS bahwa kehidupan mereka tetap akan berlanjut dengan obat antiretroviral (ARV) serta pola hidup yang baik. Bagi yang sering melakukan perilaku berisiko segera menjalani tes HIV agar tidak mencekalai orang lain, sedangkan bagi yang lain dianjurkan menghindari perilaku berisiko.

Sebagian besar berita HIV/AIDS ditulis wartawan dengan sudut pandang moral dan agama sehingga pesan yang diterima pembaca pun hanya seputar mitos. Dalam banyak berita HIV/AIDS selalu dikaitkan dengan ‘seks bebas’, seks menyimpang, di luar nikah, bukan dengan pasangan resmi/sah, seks pranikah, pelacuran, dll. Tentu saja ini tidak akurat karena penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas, seks menyimpang, dll.), tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom.

Selain itu dalam banyak berita HIV/AIDS tidak disebutkan cara-cara penularan dan pencegahan ang realistis. Pemakaian kata yang tidak baku dalam berita juga membuat informasi tentang HIV/AIDS tidak jelas. Misalnya, kondom disebut sebagai ‘pengaman’. Ini jelas tidak baku karena ‘pengaman’ tidak otomatis pengertiannya adalah kondom.

Selama media massa, media online dan media sosial di Indonesia tetap membalut informasi HIV/AIDS dengan moral, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru dan penyebaran di masyarakat terus terjadi secara terselubung karena terjadi tanpa disadari oleh orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Pada akhirnya epidemi HIV terselubung ini jadi ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

04 Februari 2017

AIDS: Temuan Kasus Baru Tidak Menggambarkan Jumlah Infeksi Baru



Belakangan ini ada cara berpikir yang tidak akurat yaitu mengesankan bahwa jumlah kasus baru yang terdeteksi menunjukkan keberhasilan penanggulangan yakni kasus penularan baru berkurang. Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI (20/11-2016), menyebutkan sampai tanggal 30 September 2016 kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia tercatat 302.004 yang teridiri atas 219036 HIV dan 82.968 AIDS dengan 10.132 kematian. Secara global kasus HIV/AIDS di akhir tahun 2015 mencapai 36,7 juta dengan 1,1 juta kematian.

Tentu saja pola pikir itu perlu dibawa ke realitas sosial di social settings terkait dengan epidemi HIV/AIDS.

Penyalahguna Narkoba

Kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi ada pada tahap infeksi HIV yaitu belum ada gejala-gejala terkait AIDS. Kondisi ini secara statistik bisa terjadi sejak tertular sampai beberapa tahun kemudian. Kasus HIV baru sering terdeteksi pada ibu-ibu yang hamil karena ada program yang menganjurkan perempuan yang sedang hamil menjalani tes HIV secara sukarela. Kasus baru infeksi HIV juga terdeteksi ketika ada yang menjalani tes untuk berbagai keperluan atau anjuran dari konselor serta aktivis LSM yang bergerak di bidang AIDS. Sedangkan temuan lain adalah pada pengidap HIV/AIDS yang sudah masuk masa AIDS, secara statistik terjadi antara 5-15 tahun sejak tertular HIV, karena ada gejala dan keluhan kesehatan terkait AIDS.

Pertama, mengapa penemuan kasus baru berkurang atau turun?

Kedua, bagaimana mekanisme penemuan kasus baru sebelumnya?

Ketiga, bagaimana mekanisme penemuam kasus baru sekarang ketika disebutkan kasus baru yang terdeteksi berkurang?

Jawaban terhadap tiga pertanyaan ini akan menunjukkan apakah cara berpikir bahwa penemuan kasus baru yang turun merupakan bukti bahwa kasus penularan baru juga berkurang.

Terkait dengan pertanyaan pertama ada beberapa kemungkinan penyebabnya, al.: di tahun 1990-an banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bergantian karena mereka diwajibkan tes HIV sebelum menjalani rehabilitasi. Belakangan penanganan narkoba yang dijalankan pemeirntah melalui BNN (Badan Narkotika Nasional) kian bagus sehingga penyalahguna baru semakian berkurang. Tentu saja ini membuat jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada penyalahguna narkoba kian sedikit.

Jumlah penemuan kasus baru yang kian bekurang juga bisa terjadi karena selama ini ketika ada ‘sedekah’ berupa hibah dari donor-donor internasional banyak kegiatan penjangkauan sampai ke masyarakat. Tapi, sejak Pemerintahan di masa Presiden SBY masuk ke G-20 atau negara maju, maka Indonesia dilarang menerima ‘sedekah’ sehingga banyak kegiatan penjangkuau yang berhenti.

Maka, penemuan kasus baru pun tidak lagi aktif atau jemput bola, tapi sudah pada kondisi pasif. Yang terjadi hanya menunggu ada yang ingin tes HIV atau pasien yang berobat ke rumah sakit. Tenaga medis dianjurkan aktif dengan mengamati pasien dengan penyakit yang terkait AIDS untuk selanjutnya dianjurkan tes HIV.

Sama juga halnya dengan jumlah kasus yang sedikit. Banyak kepala daerah yang menepuk dada karena di daerahnya jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan sedikit. Ini menyesatkan karena bisa saja kasus yang terdeteksi sedikit karena mekanisme pendeteksian kasus HIV/AIDS hanya pasif.

Bisa juga terjadi fasilitas tes HIV tidak ada di daerah tsb., atau hanya ada di ibukota provinsi atau ibu kota kabupaten. Tentu ini jadi faktor penghalang. Kondisinya kian runyam karena di daerah itu tidak ada LSM yang bergerak aktif dalam penyuluhan dan penjangkuan HIV/AIDS sampai ke masyarakat dan populasi kunci.

Ada daerah yang bangga karena kasus HIV/AIDS yang terdeteksi sedikit. Penguasa daerah itu pun menganggap hal itu sebagai hasil dari sistem pemerintah yang khusus. Padahal, ketika banyak daerah sudah menjalankan survailans tes HIV terhadap berbagai komunitas di daerah itu sampai tahun 2004 hanya sekali dilakukan survailans tes HIV yang terbatas. Setelah tahun itu pun fasilitas tes HIV juga sangat terbatas. Akibatnya, ada warga dari daerah itu yang tes HIV dan mengambil obat di luar daerah tsb.

17 Pintu Masuk AIDS

Ada pula daerah yang menganggap dengan memenjarakan pekerja seks komersial (PSK) yang terdeteksi mengidap IMS (infeksi menular seksual, seperti sifilis, kencing nanah, dll.) otomatis penularan baru HIV/AIDS berkurang. Tentu ini menyesatkan karena:

(a) bisa saja yang menularkan IMS ke PSK itu adalah laki-laki dewasa penduduk setempat sehingga laki-laki ini jadi mata rantai penularan IMS di masyarakat,

(b) sebelum PSK itu ditangkap dia sudah melayani puluhan bahkan ratusan laki-laki dewasa penduduk setempat yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, dan

(c) bisa saja ada PSK yang dipenjarakan itu sekaligus juga mengidap HIV/AIDS sehingga laki-laki dewasa yang pernah ata sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tsb. tertular IMS sekaligus HIV/AIDS.

Laki-laki pada kasus (b) dan (c) juga akan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Semua terjadi tanpa disadari karena pada batas tertentu tidak ada gejala dan keluhan kesehatan yang khas infeksi HIV/AIDS.

Berbangga kasus HIV/AIDS sedikit boleh-boleh saja asalkan bisa mencegah penularan HIV melalui 17 pintu masuk, al.:

(1) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah,  dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan perempuan yang berganti-ganti,  

(2) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada perempuan dewasa yang melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, dengan laki-laki yang berganti-ganti,

(3) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti PSK.

Kalau jawabannya TIDAK, maka jumlah kasus yang sedikit tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di masyarakata karena penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Angka yang dilaporkan digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan angka atau kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunug es di bawah permukaan laut.

Jadi, tidak ada kaitan langsung antara penurunan jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi dengan jumlah kasus infeksi HIV baru. Kasus-kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi jadi ‘bom waktu’ yang kelak akan terjadi ‘ledakan AIDS’. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

Ilustrasi (Sumber: www.cdi.it) 

07 Januari 2017

BERITA UTAMA Perda Perlu Direvisi, Penderita HIV/AIDS Di Maluku Terus Meningkat

Peraturan Daerah (Perda) Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia secara umum masih bersifat umum. Belum ada regulasi yang lebih spesifik mengatur guna menekan angka infeksi HIV AIDS di masyarakat. Bahkan sebagian besar Perda yang disusun berdasarkan hasil studi banding dan copy paste untuk pembentukannya di daerah.


Penegasan ini disampaikan aktifis LSM infokespro yang juga wartawan senior Syaiful W. Harahap, dalam lokakarya penguatan kapasitas wartawan penulisan berita HIV AIDS di 15 provinsi yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), yang dipusatkan di Pomelotel Jakarta, 13-15 Juni pekan lalu.
Menurutnya, angka yang terinfeksi HIV AIDS meningkat salah satunya karena praktek pelacuran dalam berbagai bentuk yang tidak akan bisa dihapuskan, karena ada permintaan dan ada pula pasokan. Oleh sebab itu, yang perlu dilakukan adalah mengurangi dampak buruk dengan cara menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual berisiko yaitu dengan memakai kondom.

06 Januari 2017

Belum Ada Perda Pencegahan HIV/AIDS di Indonesia

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

Selasa, 7 Juni 2011 11:29 WIB

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Dari 47 Perda tentang HIV & AIDS di Indonesia, tidak ada satu pasal pun dalam perda-perda tersebut yang memberikan cara pencegahan dan penanggulangan HIV& AIDS yang konkret.

Termasuk dalam hal ini di 5 Kab/ Kota di Jabar yang telah memiliki Perda HIV & AIDS, yaitu di Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Indramayu, Kota Tasikmalaya, Kota Bekasi, dan Kota Cirebon. Demikian diungkapkan Syaiful Harahap, aktivis dari LSM InfoKespro, dalam rilis yang diterima Tribun, Selas (7/6/2011). 

Menurutnya, Perda HIV dan AIDS di Jawa Barat nantinya disusun dengan memperhatikan fakta medis, bukan semata-mata fakta moral. Sehingga, pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS dapat dilakukan dengan efektif.

Jawa Barat sendiri telah memiliki Peraturan Gubernur No.78/2011 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS dan Rencana Strategis Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi Jawa Barat 2009-2013. (*)

Editor: Harismanto
Sumber: Tribun Jabar

05 Januari 2017

Jumlah Kasus Kumulatif HIV/AIDS Sudah Tembus Angka 300.000


Selama penanggulangan HIV/AIDS dibenturkan dengan moral dan agama, maka selama itu pula insiden penularan (infeksi) baru HIV akan terus terjadi karena pemerintah tidak bisa menjalankan program yang konkret.

* Rehabilitasi bukan untuk PSK
tapi untuk laki-laki
yang gemar melacur ...
Perkiraan ahli epidemilogi kasus HIV/AIDS di Indonesia sekitar 600.000. Yang sudah terdeteksi berdasarkan laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 20/11-2016 sampai 30 September 2016 sebanyak 302.004. Itu artinya ratusan ribu pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi  jadi mata rantai penularan HIV di masyarakat tanpa mereka sadari, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Sanksi Germo

Ketika dua dekade yl. pemerintah Thailand bak kebakaran jenggot karena kasus HIV/AIDS di Negeri Gajah Putih itu mendekati angka 1.000.000 dan pasien-pasien dengan penyakit terkait AIDS tidak tertampung lagi di rumah-rumah sakit, pemerintah Thailand pun menjalankan program penanggulangan yang konkret. Yang dilakukan adalah memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) yang dikenal sebagai program ‘wajib kondom 100 persen’.


04 Januari 2017

Brondong Ini Takut Sudah Kena AIDS karena Sering Ngesek Sesama Jenis



Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. 

Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: http://www.kompasiana.com/infokespro dan AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon/Fax (021) 22864594, (2) e-mail: tanyajawabaids@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977.

***
Tanya: Saya seorang remaja cowok umur 16 tahun. Sudah beberapa kali saya melakukan ‘seks sejenis’. Saya sering diare. Saya baca di Internet diare merupakan salah satu ciri orang tertular HIV. (1) Apakah saya sudah tertular HIV? (2) Apakah seks oral juga bisa menularkan HIV? Via SMS (4/1-2017)-Sulsel.

Jawab: (1) Perilakumu memang berisiko karena tingkat kemungkinan terjadi penularan HIV jika salah satu dari pasangan yang melakukan seks anal mengidap HIV/AIDS dengan kondisi yang menganal tidak memakai kondom. Di kalangan laki-laki gay mereka sudah akrab dengan pelicin yang dioles ke penis dan anus agar tidak terjadi iritasi. Tapi, tetap saja ada risiko. Untuk itu hindari seks atau atau pakai kondom lebih aman.

02 Januari 2017

Cowok Ini Khawatir Kena AIDS karena Petting dengan Odha


Oleh: Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia


Tanya Jawab AIDS # 01/Jan 2017

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan di http://www.kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon/Fax (021) 22864594, (2) e-mail: tanyajawabaids@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977.

Tanya: Malam, Bang .... Teman saya, cowok, pacaran dengan cowok pengidap HIV/AIDS (Odha). Keduanya tak kuat tahan nafsu akhirnya sepakat disalurkan melalui petting (jika dikaitkan dengan hubungan seksual, petting semacam pemanasan atau foreplay dengan merangsang pasangan tanpa seks penetrasi). Teman saya bugil sedangkan pasangannya pakai celana. Selesai petting teman saya ‘keluar’. Teman saya sedikit menyesal. (1) Apakah ada risiko bagi teman saya tertular HIV? (2) Apakah teman saya perlu tes HIV? Via SMS (2/1-2017)

Jawab: (1) Tentu saja temanmu tidak berisiko tertular HIV karena yang mengeluarkan air mani dia. Dalam jumlah yang bisa ditularkan HIV al. terdapat dalam air mani atau semen (cairan yang keluar dari penis ketika penis ereksi). Temanmu berisiko tertular HIV kalau pasangannya yang Odha ejakulasi di badan temanmu yaitu terpapar air mani sehingga ada risiko tertular jika di bagian yang terkena air mani ada luka-luka (luka-luka di sini dalam ukuran mikroskopis, misalnya ketika berkumur-kumur setelah sikat gigi itu artinya ada luka tapi tida bisa dilihat dengan mata telanjang.

Tapi, karena pasangannya Odha beritahu temanmu untuk jaga diri agara tidak tertular HIV, misalnya, menjalankan seks yang aman yaitu selalu memakai kondom pada seks anal, seks oral atau petting.

(2) Jika dikaitkan dengan kasus ini temanmu tidak perlu tes HIV. Tapi, apakah dia pernah ngeseks tanpa kondom dengan perempuan atau laki-laki lain? Kalau pernah, maka anjurkanlah temanmu agar tes HIV. 

Hindari perilaku berisiko agar terhindar dari HIV/AIDS. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

Ilustrasi (Sumber: www.thebodypro.com)

25 Desember 2016

Perda AIDS di Indonesia: Mengekor ke Ekor Program Penanggulangan AIDS Thailand

                                          Ilustrasi (Sumber: HIV Dating Sites)
Oleh: Syaiful W Harahap

Tahun Depan Jatim Miliki Perda HIV/AIDS.” Ini adalah judul berita di skalanews.com (22/12-2016). Pernyataan pada judul berita ini benar-benar tidak masuk akal karena Pemprov Jawa Timur (Jatim) sudah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) seperti yang dimaksud di judul berita yaitu Perda No 5/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Timur.

Pernyataan tsb. disampaikan oleh anggota Komisi E DPRD Jatim, dr Benyamin Kristianto. Disebutkan oleh anggota dewan ini bahwa "Perda ini dibuat sebagai bentuk keprihatinan atas peringkat 2 tertinggi di Indonesia. Ini menjadi perhatian serius kami dalam penanggulangan HIV/AIDS di Jatim." Memang, dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2016, berdasarkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS Jawa Timur ada di peringkat kedua secara nasional di bawah DKI Jakarta dengan jumlah kasus 44.006 yang terdiri atas 27.575 HIV dan 16.431 AIDS. Ini menyubang 15,1 persen terhadap kasus nasional dengan jumlah 291.465.

Kondom

Perda AIDS Jatim itu merupakan perda keempat di Indonesia setelah Kab Nabire, Meruke dan Jayapura. Celakanya, Perda No 5/2004 yang ketika itu dibuat oleh banyak daerah sebagai bagian dari ‘perlombaan’ menanggulangi HIV/AIDS yang berkaca ke Thailand dengan menelurkan Perda. Negeri “Gajah Putih” ini berhasil menahan laju insiden infeksi HIV baru berkat program ‘wajib kondom 100 persen’ terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK).