02 April 2018

Raperda AIDS Jawa Timur Mengusung Mitos

Ilustrasi (Sumber: indianexpress.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


"Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur (Jatim) Hartoyo mengatakan, pihaknya menggagas pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) HIV/AIDS karena di Indonesia yang terbesar penderita HIV berada di Jatim." Ini lead berita "Jatim Fokus pada Penanganan HIV/AIDS" (rilis.id, 23/3-2018).

Pertama, Jawa Timur sudah mempunyai Perda AIDS yaitu Perda No 5 Tahun 2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Timur. Memang, perda ini tidak jalan, seperti juga puluhan perda di tingkat provinsi, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia karena tidak ada pasal yang konkret untuk mencegah penularan HIV baru (Baca juga: Menyibak KiprahPerda AIDS Jatim).

Perilaku Berisiko

Kedua, dari jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS per 31 Maret 2017 (Kemenkes baru mengeluarkan data HIV/AIDS sampai tanggal 31 Maret 2017 berdasarkan Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 24 Mei 2017) Jatim ada di peringkat kedua secara nasional dengan jumlah 50.057 yang terdiri atas 33.043 HIV dan 17.014 AIDS.

Ketiga, jika berdasarkan jumlah kasus AIDS (pengidap HIV/AIDS yang sudah masuk masa AIDS al. ditandai dengan infeksi oportunistik, secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV), Jatim ada di peringkat pertama dengan jumlah kasus 17.014.

Di Jawa Timur sendiri ada 7 daerah, kabupaten dan kota, yang sudah menerbitkan Perda Penanggulangan HIV/AIDS. Tapi, semua hanya 'macam kertas' karena pasal-pasal penanggulangan dan pencegahan tidak menukik ke akar persoalan.

Lagi pula, perda-perda AIDS di Indonesia mengekor ke ekor program penanggulangan HIV/AIDS di Thailand sehingga tidak berguna (Baca juga: Perda AIDS diIndonesia: Mengekor ke Ekor Program Penanggulangan AIDS Thailand).

Maka, kalau Raperda AIDS Jatim hanya berbicara di tataran moral dan agama maka hasilnya tetap saja dengan perda yang sudah ada. Sinyalemen ini tidak mengada-ada karena dalam berita disebutkan bahwa Hartoyo mengatakan, Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), HIV/AIDS menjadi salah satu poin yang dibahas yakni mewajibkan pemeriksaan intensif bagi orang asing atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang dari luar negeri untuk menjalani pemeriksaan AIDS.

Astaga. Ini benar-benar tidak masuk akal karena kembali ke 'abad purba' penanggulangan HIV/AIDS yaitu mitos (anggapan yang salah) tentang pengidap HIV/AIDS. Ketika kasus HIV/AIDS pertama diakui pemerintah pada seorang wisatawan Belanda, seorang laki-laki gay, di RS Sanglah, Denpasar, Bali (1987), pemerintah pun menjadikan kasus ini sebagai 'tonggak' informasi HIV/AIDS yaitu: AIDS adalah penyakit homoseksual, dan AIDS adalah penyakit bule (orang asing, orang Barat).

Disebutkan "mewajibkan pemeriksaan intensif bagi orang asing". Ini perbuatan yang melawan hukum dan pelanggaran terhadap HAM karena orang asing tidak otomatis sebagai pengidap HIV/AIDS. Tidak semua orang asing perilaku seksnya berisiko tertular HIV.
Hasil tes HIV bisa positif palsu (HIV tidak ada dalam darah tapi hasil tes reaktif) atau negatif palsu (HIV ada dalam darah tapi hasil tes nonreaktif). Bayangkan kalau ‘orang asing’ itu banyak yang hasil tes HIV-nya negatif palsu. Apa tidak berabe? Karena disebut negatif mereka melakukan perilaku berisiko dengan warga Jatim padahal mereka mengidap HIV/AIDS.

Begitu juga dengan "mewajibkan pemeriksaan intensif bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang dari luar negeri". Tidak semua TKI melakukan perilaku berisiko tertular HIV selama bekerja di luar negeri. Sebaliknya, warga Jatim yang melawat ke luar negeri untuk berbagai keperluan bisa saja melakukan perilaku berisiko di luar negeri, misalnya, melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan atau laki-laki selama di luar negeri.

Kalau konteksnya luar negeri, maka bukan hanya TKI tapi semua warga Jatim yang baru pulang dari luar negeri diwajibkan tes HIV agar tidak diskriminatif, melawan hukum dan melanggar HAM.

Di bagian lain Hartoyo mengatakan: "Penyelesaian Perda tersebut, ditargetkan selama dua bulan. Ini mengingat, arus tenaga kerja asing yang masuk ke Jatim semakin meningkat." Ini benar-benar tidak masuk akal karena HIV tidak bisa ditularkan melalui kegiatan sehari-hari, secara sosial dan di tempat kerja.

Pernyataan Hartoyo ini bisa diartikan bahwa warga Jatim akan melakukan perilaku seksual yang berisiko dengan tenaga kerja asing sehingga perlu diantisipasi dengan 'pemeriksaan intensif' terhadap tenaga kerja asing.

Apakah ini langkah yang arif dan bijaksana?

Tidak! Adalah hal yang mustahil melakukan tes HIV terhadap semua pekerja asing setiap saat karena hasil tes HIV hanya berlaku sampai pengambilan contoh darah untuk dites. Setelah tes HIV, biar pun hasilnya negatif, bisa saja terjadi penularan HIV kalau ybs. melakukan perilaku berisiko tertular HIV.

Mengusung Mitos

Itu artinya tes HIV bari pekerja asing tidak ada manfaatnya karena bak 'menggantang asap' yang buang-buang tenaga dan dana. Soalnya, risiko tertular HIV terjadi kapan saja sehingga tes HIV harus dilakukan juga setiap saat.

Jatim merupakan satu daerah yang getol menutup lokalisasi pelacuran.  Menurut Soekarwo (Gubernur Jatim-pen.), di Jawa Timur terdapat 47 lokalisasi yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Itu sebabnya dia mengatakan Balong Cangkring merupakan lokalisasi prostitusi terakhir yang ditutup. (nasional.tempo.co, 22/5-2016). Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, pun menutup lokalisasi pelacuran terkenal di Kota Surabaya, Dolly, 19/6-2014.

Kalau penutupan lokasi dan lokalisasi pelacuran itu terkait dengan HIV/AIDS tentu saja penyebaran HIV/AIDS di Kota Surabaya khususnya dan Jatim umumnya bisa dikendalikan. Tapi, fakta menunjukkan Maret 2018 terdeteksi 80 bayi yang lahir di RS Dr Soetomo, Surabaya, mengidap HIV/AIDS.

Kemungkinan pertama ibu bayi-bayi itu mengidap HIV karena tertular dari suami. Sedangkan suami mereka tertular HIV karena melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK). PSK sendiri dikenal ada dua macam, yaitu:

(a). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(b). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dll.

Persoalan baru muncul karena praktek PSK langsung tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dijalankan program penanggulangan berupa intervensi agar laki-laki memakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK.

Sedangkan dengan PSK tidak langsung tidak bisa dijangkau karena transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu melalui komunikasi ponsel dan media sosial.
Maka, Raperda AIDS yang diusulkan DPRD Jatim itu hanya mengusung mitos dan bekerja di hilir. Yang diperlukan adalah langkah penanggulangan di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui pemakaian kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung.

Lagi-lagi rancangan perda yang tidak menyentuh akar persoalan penanggulangan HIV/AIDS. Maka, sudah bisa dipastikan insiden infeksi HIV baru di Jatim akan terus terjadi yang pada gilirannya terjadi penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Ini akan bermuara pada 'ledakan AIDS'. * [kompasiana.com/infokespro] *

AIDS pada LSL Tidak Perlu Dirisaukan

Ilustrasi (Sumber: indianexpress.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


*4,9 juta laki-laki beristri di Indonesia jadi pelanggan tetap PSK

Entah apa yang mendorong banyak pihak, terutama Dinas-dinas Kesehatan (Dinkes) dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), aktivis dan LSM di banyak daerah yang terkait langsung dengan HIV/AIDS belakangan ini selalu mengatakan bahwa kasus HIV/AIDS terbanyak pada LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki).

Bahkan, mereka sampai pada kesimpulan bahwa pola penyebaran HIV sekarang sudah bergeser ke LSL. Yang anek bin ajaib dan sama sekali tidak masuk akal sehar adalah mengapa kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada LSL justru bikin heboh?

Judul-judul berita pun sensasional dan bombastis yang hanya mengumbar opini dengan data yang centang-perenang dan penafsiran yang kacau-balau (Baca juga: AIDS di KotaBogor, yang Berkeliaran Sebarkan AIDS bukan Gay, tapi Laki-laki Heteroseksual  dan Menyoal TrenPenularan HIV/AIDS di Kabupaten Bogor).

Soalnya, kalau benar penyebaran HIV/AIDS sekarang beralih ke LSL, maka tidak ada yang perlu dirisaukan lagi karena HIV/AIDS pada LSL ada di terminal terakhi karena mereka tidak punya istri. HIVAIDS 'berkecamuk' di komunitas LSL yang tidak bersentuhan langsung dengan populasi umum. Hanya sebagian kecil dari LSL itu yaitu kalangan biseksual yang jadi mata rantai penyebaran HIV sebagai jembatan dari komunitas LSL ke masyarakat, dalam hal ini pasangan seks biseksual seperti istri, pacar atau selingkuhan.

HIV/AIDS pada LSL, khususnya gay, ada di terminal terkahir epidemi HIV karena gay tidak punya perempuan sebagai istri sehingga kalau pun ada penularan hanya terjadi di komunitas gay.

Sedangkan HIV/AIDS pada waria terjadi karena ada laki-laki heteroseksual yang menularkan HIV, selanjutnya ada pula laki-laki heteroseksual pelanggan waria yang tertular HIV melalui seks anal yang tidak memakai kondom.

Kerja keras kalangan-kalangan tadi membuat hati lega karena bayi-bayi yang akan lahir terbebas dari risiko dengan HIV/AIDS. Ini terjadi karena pola penyebaran HIV tidak lagi pada kalangan heteroseksual melalui laki-laki ke istri yang akan berakhir pada anak yang dikandung istri.

Dan, pernyataan itu pun menambah kisruh epidemi HIV karena yang jadi perhatian hanya kalangan LSL. Yang lebih tidak masuk akal banyak pula yang menyebut penyebaran HIV bergeser LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender). Sampai detik ini belum ada kasus HIV/AIDS yang dilaporkan dengan faktor risiko lesbian. Pada lesbian (perempuan yang secara seksual tertarik kepada perempuan) tidak terjadi seks penetrasi sehingga risiko tidak ada penularan melalui aktivitas seks.

Benar-benar membingungkan mengapa kalangan-kalangan tadi terus-menerus menyerang LSL, bahkan mereka menyebut LGBT, sebagai tempat pergeseran penyebaran HIV. Ini yang tidak masuk akal kalau penanggulangan HIV/AIDS berpijak pada HIV/AIDS sebagai fakta medis.

Soalnya, survei Kemenkes RI sampai akhir tahun 2012 ada 6,7 juta laki-laki di Indonesia yang menjadi pelanggan 230.000 pekerja seks komersial (PSK), Dari 6,7 juta laki-laki itu 4,9 juta di antaranya beristri (antarabali.com, 9/4-2013), 

Agaknya, penggiat terkait dengan HIV/AIDS tadi melupakan data ini. Atau mereka menganggap tidak ada lagi praktek pelacuran karena semua lokalisasi pelacuran sudah dibumihanguskan.

Perosalannya adalah: Apakah benar tidak ada lagi laki-laki beristri yang melakukan perilaku berisiko, al. melakukan hubungan seksual tanpa memaka kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK)?

Jawaban dari pertanyaan ini akan muncul ketika tes HIV diberlakukan terhadap perempuan-perempuan hamil dan suaminya.

Kalau kasus-kasus baru HIV terus terdeteksi pada ibu hamil dan bayi yang dilahirkan ibu yang tidak menjalani tes HIV, maka pernyataan kalangan-kalangan yang mengklaim bahwa penyebaran HIV sudah bergeser ke LSL adalah khayalan semata yang didorong oleh pemikiran homofobia. * [kompasiana.com/infokespro] *

20 Maret 2018

AIDS di Batam, 500 PSK Akan Jalani Tes HIV


Oleh: Syaiful W HARAHAP


“Dinkes Batam akan Tes HIV/AIDS 500 Ibu Hamil dan 500 WPS.” Ini judul berita di metrobatam.com (7/3-2018).

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Batam dari tahun 1992-Juni 2017 mencapai 8.101 yang terdiri atas 5.303 HIV dan 2.100 AIDS dengan 698 kematian (batampos.co.id, 4/12-2017).

Dalam epidemi HIV/AIDS tes HIV adalah langkah penanggulangan di hilir yaitu dilakukan setelah warga tertular HIV. Langkah Dinkes Batam, Kep Riau, ini hanya terbatas untuk menyelamatkan bayi dari risiko tertular HIV dari ibu yang mengandungnya.

Dalam berita disebutkan wanita pekerja seksual (WPS). Ini terminologi yang menyesatkan karena tidak ada perempuan pekerja seks komersial (PSK) yang menjajakan diri dengan menawarkan tubuhnya. Yang mencari-cari PSK untuk layanan seks justru laki-laki, sebagian di antaranya beristri (Baca juga: Pemakaian Katadalam Materi KIE AIDS yang Merendahkan Harkat dan Martabat Manusia).

Yang perlu diingat adalah tes HIV terhadap PSK adalah survailans tes HIV karena tidak dilakukan tes konfirmasi. Survailans tes HIV adalah cara untuk mengetahui prevalensi (perbandingan antara yang HIV-positif dan HIV-negatif pada kalangan tertentu pada kurun waktu tertentu pula).

Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Koesmarjadi, mengatakan tes ini dilakukan sebagai bentuk deteksi dini. Namun, deteksi terhadap warga yang sudah mengidap HIV/AIDS. Yang diperlukan adalah program yang menurunkan insiden infeksi HIV baru, khususnya pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Disebutkan di Batam ada 500 PSK. Kalau setiap malam seorang PSK melayani seks berisiko, laki-laki tidak memakai kondom, dengan 3-5 laki-laki maka setiap malam ada 1.500 – 2.500 laki-laki yang melakukan seks berisiko tertular HIV. Sebagian dari mereka ini adalah laki-laki beristri (Baca juga: Batam bisa Jadi ”Pintu Masuk” Epidemi HIV/AIDS Nasional).

Yang perlu dipertanyakan adalah: Apakah suami-suami ibu hamil itu juga menjalani tes HIV?
Tes HIV kepada ibu hamil menunjukkan perempuan selalu dijadikan korban dan suami yang tidak menjalani tes HIV akan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Disebutkan: Tahun lalu, sedikitnya 624 WPS menjalani tes HIV/AIDS. Dan dari pemeriksaan tersebut tiga di antaranya positif HIV (Baca juga: Kepulauan Riau Menjadi Kawasan Transit HIV/AIDS?)

Tes HIV yang dilakukan terhadap PSK bisa menghasilkan negatif palsu (HIV sudah ada di dalam tubuh tapi tidak terdeteksi) atau positif palsu (HIV tidak ada di dalam tubuh tapi tes reaktif). Ini bisa terjadi kalau saat darah PSK diambil untuk dites berada pada masa jendela yaitu tertular HIV di bawah tiga bulan ketika dilakukan tes HIV.

Perlu juga diperhatikan 500 PSK yang akan dites HIV itu adalah PSK langsung yang bisa dikenali. Selain PSK langsung ada PSK tidak langsung yang melakukan transaksi seks melalui ponsel dan media sosial sehingga tidak terdeteksi.

Hasil tes HIV terhadap PSK yang mendeteksi 3 PSK mengidap HIV/AIDS tidak berarti PSK 621 PSK lain otomatis tidak mengidap HIV/AIDS. Selain itu hasil tes HIV hanya berlaku sampai darah diambil, setelah itu tidak ada jaminan PSK tsb. tidak mengidap HIV/AIDS karena mereka akan melayani laki-laki yang berganti-ganti setelah tes HIV.

Maka, selama Pemkot Batam tidak menjalankan program yang konkret yaitu intervensi terhadap laki-laki agar memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK. Laki-laki yang tertular HIV dari PSK akan jadi mata rantai menyebarkan HIV di masyarakat terutama melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah.

Penularan HIV terjadi secara diam-diam sebagai ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *

Cewek Ini Seks dengan 9 Laki-laki yang Berbeda, Apakah Ada Risiko AIDS?




Ilustrasi (Sumber: istockphoto.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP

Tanya Jawab AIDS No 4/Marei 2018

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: kompasiana.com/infokespro danAIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Teman saya, seorang perempuan berumur 17 tahun, pernah berbuat seks dengan 9 orang yang berbeda. (1) Apakah itu sudah kena HIV? (2) Penyakit HIV itu sakitnya apa menyerang semua bagian tubuh? (3) Kalau mau tes HIV di mana?

Via WA (15/1-2018), dari Jawa Tengah

Jawab: (1) Perilaku teman itu jelas termasuk perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV karena bisa saja ada di antara 9 laki-laki itu ada yang mengidap HIV/AIDS sehingga temanmu berisiko tertular HIV. Apakah ada di antara laki-laki yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dilihat dari fisik mereka karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang mengidap HIV/AIDS.

(2) HIV/AIDS bukan penyakit. HIV adalah virus yang menular dari orang yang mengidap HIV/AIDS malalui: (a) hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, (b) transfusi darah yang tidak diskirining, (c) air susu ibu (ASI) pada proses menyusui. Sedangkan AIDS adalah kondisi orang-orang yang tertular HIV setelah 5 – 15 tahun kemudian yang ditandai dengan mudah kena penyakit, disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TB, dll.

HIV menggandakan diri di sel darah putih manusia yang jumlahnya mencapai miliaran copy setiap hari. Sel-sel darah putih yang dipakai HIV menggandakan diri rusak sehingga menurunkan sistem kekebalan tubuh dengan risiko mudah kena penyakit. Yang bisa mematikan pengidap HIV/AIDS adalah penyakit-penyakit yang masuk pada masa AIDS bukan karena HIV atau AIDS.

(3) Silakan ke Klinik VCT di Puskesmas atau Rumah Sakit Umum Daerah di tempatmu. Setiap daerah berbeda. Ada yang gratis. Kalau bayar juga sekitar 270.000 rupiah. Hasil tes HIV akan menentukan langkah kehidupan selanjutnya yang akan dibimbing oleh dokter dan tenaga medis serta konselor. * [kompasiana.com/infokespro] *

Menyoal Tren Penularan HIV/AIDS di Kabupaten Bogor

Ilustrasi (Sumber: huffingtonpost.ca)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


“Tren penularan HIV/AIDS di Kabupaten Bogor kini lebih disebabkan oleh hubungan sesama jenis atau akrab disebut LGBT.” Ini ada di lead  berita “Tren Penularan HIV/Aids Bergeser ke LGBT” di inilahkoran.com, 7/3-2018.

Ini disebutkan terjadi di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Seperti disebutkan dalam berita dari tahun 2003-2017 kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Bogor yang mempunyai semboyan “Bumi Tegar Beriman” itu mencapai 1.511.

Pernyataan di lead berita ini benar-benar salah nalar. Ada beberapa hal yang ngawur pada lead berita ini, yaitu:

Pertama, penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena hubungan sesama jenis tapi karena salah satu atau kedua-dua pasangan tsb. mengidap HIV/AIDS dan laki-laki, pada hubungan seksual homoseksual yang menganal, tidak memakai kondom.

Kedua, pernyataan ‘hubungan sesama jenis atau akrab disebut LGBT’ jelas ngawur bin ngaco karena biseksual dan transgender melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis.

Biseksual adalah laki-laki dan perempuan yang secara seksual tertarik ke lawan jenis dan sesama jenis. Sedangkan waria ada yang homoseksual dan ada pula yang heteroseksual (menikah dengan perempuan dan punya anak).

Yang jadi pertanyaan besar adalah identifikasi gay, biseksual dan waria melalui penjangkauan. Ada sumber primer yaitu yang bersangkutan, tapi ada juga sumber sekunder melalui orang lain yang mengtahui seseorang gay, biseksual atau waria. Yang celaka adalah kalau sumber tidak langsung yaitu ‘kata orang’, dll.

Dikatakan oleh Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M), Dinkes Kabupaten Bogor, dr Intan Widayati:Trennya sekarang lebih ke LGBT dengan usia produktif dan ibu rumah tangga. Bukan Wanita Tuna Susila (WTS).

Yang menularkan HIV ke ibu rumah tangga siapa? Ya, mereka adalah laki-laki heteroseksual yang jadi suami ibu-ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Sangata jelas yang banyak terpapar adalah ibu rumah tangga karena 1 PSK melayani 3-5 laki-laki setiap malam. Kalau ada 100 PSK yang mengidap HIV/AIDS jumlah itu tidak akan bertambah, tapi jumlah ibu rumah tangga yang berisiko tertular HIV terus bertambah seiring dengan jumlah suami-suami yang ngeseks tanpa kondom dengan PSK.

Coba kita bandingkan jumlah gay, biseksual, waria dan laki-laki heteroseksual yang berisiko tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Gay ada dalam komunitas tersendiri. Biseksual punya istri sehingga jadi jembatan penyebaran HIV dari komunitas LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki) ke masyarakat, dalam hal ini istri dan pasangan seks lain.

Waria berkencan dengan laki-laki heteroseksual yang beristri sehingga laki-laki beristri jadi jembatan penyebaran HIV dari masyarakat ke komunitas waria dan sebaliknya.

Yang paling banyak adalah laki-laki heteroseksual yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK. Seorang PSK rata-rata melayani 3-5 laki-laki setiap malam. Nah, tinggal dikalikan dengan jumlah PSK yang beroperasi di Kab Bogor sudah kelihatan jumlah laki-laki yang berisiko tertular HIV. Ini hanya dari PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata. Sedangkan PSK tidak langsung tidak bisa dilacak karena transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu serta memakai sarana telekomunikasi, seperti ponsel dan media sosial.

Dengan fakta di atas apakah benar penularan HIV bergeser?

Kalangan gay, biseksual dan waria ada program penjangkauan. Sedangkan laki-laki heteroseksual yang melakukan transaksi seks dengan PSK tidak langsung tidak ada penjangkauan. Penjangkauan ke PSK langsung pun tentu sangat terbatas karena mereka tidak dilokalisir.

Dikatakan lagi oleh dr Intan:  "Tahun 2018 ini, kita genjot seluruh puskesmas melakukan tes HIV/AIDS. Karena tidak bisa dipungkiri jika masih banyak masyarakat malu untuk memeriksakan HIV. ....”

Tes HIV adalah penanggulangan di hilir. Artinya, Dinkes Kab Bogor membiarkan warga tertular HIV dulu baru tes HIV. Yang diperlukan adalah penanggulangan di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK.

Tidak semua orang berisiko tertular HIV, maka yang dianjurkan tes HIV secara sukarela bukan masyarakat tapi orang-orang yang sering melakukan perilaku berisiko, al. sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan PSK di wilayah Kab Bogor, di luar wilaya Kab Bogor atau di luar negeri.

Pernyataan Ketua DPC Gerakan Anti Narkoba (Granat) Kabupaten Bogor, Prastyo, ini juga menunjukkan pengetahuan tentang cara-cara penularan HIV yang tidak akurat: Penyebaran HIV/AIDS tidak bisa dilepaskan dari penggunaan narkoba.  peredaran narkoba di Kabupaten Bogor sangat memprihatinka karena semakin banyak pelajar terjerembab dalam dunia narkoba.

Risiko penularan HIV melalui narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) hanya bisa terjadi kalau narkoba dipakai dengan cara disuntikkan dan dilakukan secara bersama-sama dengan pemakaian jarum suntik yang bergantian dengan bergiliran.

Selama Pemkab Bogor, dalam hal ini Dinkes Kab Bogor, tidak menjalankan program penanggulagan di hulu insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi yang selanjutnya terjadi penyebaran HIV di masyarakat yang merupakan ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS.’. * [kompasiana.com/infokespro] *

11 Maret 2018

Pemuda Ini Was-was Kena HIV Setelah Seks Pertama Kali dengan PSK

Ilustrasi (Sumber: theconversation.co)

Oleh: Syaiful W HARAHAP - AIDS Watch Indonesia


Tanya Jawab AIDS No3./Marei 2018


Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: kompasiana.com/infokespro dan “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya baru pertama melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) dengan kondisi saya tidak memakai kondom. Setelah 2 hari melakukan hubungan seksual itu badan saya mejadi lemas dan cepat mengantuk, (1) Apakah itu gejala HIV? (2) Dimana kita bisa memdapatkan obat profilaksis? (3). Kalau baru 8 hari dari perilaku berisiko apakah penularan HIV bisa dicegah? (4) Gejala paling awal bisanya butuh berapa bulan pasca seks berisiko? (5) Katanya beresiko HIV 1:100, jadi masih mungkin nggak tertular kan? (6). Apakah kemungkinan tertular pada saya besar?

Via WA (15/10-2017)

Jawab: (1) Tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas pada fisik dan keluhan kesehatan yang khas terkait HIV/AIDS pada seseorang yang tertular HIV. Silakan ke dokter karena banyak penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom. Misalnya, kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamdia, virus kanker serviks, dll.

(2) Profilaksis hanya untuk pencegahan darurat yang dipakai oleh tenaga medis jika tertusuk jarum suntik yang dipakai pasien dan terpapar darah pasien.

(3) Begitu HIV masuk dalam tubuh virus ini akan langsung menggandakan diri di sel darah putih dengan jumlah miliaran copy setiap hari. Maka, begitu tertular HIV tidak ada lagi cara-cara medis yang bisa mematikan atau mengeluarkan virus dari darah.

(4) Lihat jawaban nomor 1. Kalau pun kelak ada gejala itu terjadi di masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV. Gejala juga tidak khas AIDS hanya karena ybs. diketahui mengidap HIV/AIDS maka penyakit tersebut dikaitkan dengan HIV/AIDS yang disebut infeksi oportunistik.

(5) Bukan ‘katanya’, tapi teori yang dipublikasina oleh WHO (Badan Kesehatan Sedunia PBB). Yang perlu diingat adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan. Bisa yan pertama, kedua, kelima, ketiga puluh, kesembilan puluh sembilan atau yang keseratus. Artinya, setiap hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS selalu ada risiko penularan pada setiap hubungan seksual.

Kalau status HIV pasangan tidak diketahui, maka setiap hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, selalu ada risiko penularan HIV.

(6) Risiko tertular HIV melalui perilaku berisiko bukan besar kecil, tapi selalu ada risiko jika hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dilakukan tanpa kondom pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, selalu ada risiko penularan HIV. * [kompasiana.com/infokespro] *


08 Maret 2018

AIDS di Aceh, Sebatas Penyangkalan dan Cari Kambing Hitam

Ilustrasi (Sumber: verywell.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP


"Selama ini kasus tersebut sering dan banyak ditemui di pesisir Timur dan Utara Aceh yang notabene berdekatan dengan Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut)." Ini pernyataan Kasie Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Aceh, Iman Murahman (jawapos.com, 6/3-2018),

Estimasi kasus kumulatif HIV/AIDS di Provinsi Aceh sebanyak 1.300, sedangkan kasus yang sudah terdeteksi pada kurun waktu tahun 2004-2017 berjumlah 632. Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 24 Mei 2017, menyebutkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Aceh sampai tanggal 31 Maret 2017 adalah 684 yang terdiri atas 346 HIV dan 338 AIDS. Dengan jumlah ini Aceh ada para peringkat ke-31 secara nasional dalam jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS.

Penyangkalan

Itu artinya banyak kasus yang belum terdeksi di masyarakat sehingga potensial sebagai mata rantai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Pernyataan Iman di atas merupakan salah satu bentuk penyangkalan dan mencari kambing hitam. Apa kaitan langsung antara Kota Medan dengan kasus HIV/AIDS di Aceh? (Baca juga: AIDS di Papua: Penyangkalan TerhadapPerilaku Seksual Laki-laki Papua dan AIDS di ‘Kota Hujan’ Bogor: Penyangkalandengan ’Kambing Hitam’ Penduduk Luar Kota).

Sama juga halnya dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa indisen penularan HIV/AIDS di Aceh terjadi pasca tsunami. Ini jelas menyesatkan (Baca juga: Menyesatkan, Informasi Tentang Insiden HIV/AIDS di AcehTerjadi Pasca Tsunami).

Sebagai virus HIV ada di dalam darah pengidap HIV/AIDS sehingga tidak mungkin menular melalui pergaulan sosial sehari-hari. Biar pun berdekatan, bagaimana HIV yang ada dalam tubuh warga Kota Medan yang mengidap HIV/AIDS berpindah ke warga Aceh?

Tentu saja perpindahan virus (HIV) terjadi al. melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi tanpa memakai kondom dengan pengidap HIV/AIDS. Yang jadi persoalan besar adalah orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisiknya.

Maka, perpindahan HIV dari warga Kota Medan yang mengidap HIV/AIDS ke warga Aceh terjadi melalui hubungan seksual berisiko. Itu artinya ada warga Aceh, khususnya laki-laki dewasa, yang perilaku seksualnya berisiko.

Di bagian lain Iman mengatakan: “Sudah bergeser (kasus HIV/AIDS-pen.). Pergeserannya karena Banda Aceh sebagai salah satu kota besar di Aceh. Banyak orang-orang dari luar masuk ke Banda Aceh. Sehingga di sini menjadi pusat pertemuan banyak orang.”

Lagi-lagi terjadi penyangkalan terkait dengan perilaku seksual berisiko dan menjadikan pendatang sebagai kambing hitam.

Biar pun banyak orang-orang dari luar masuk ke Banda Aceh sehingga Kota Banda Aceh jadi pusat pertemuan banyak orang tidak akan pernah terjadi penularan HIV melalui pergaulan sehari-hari biar pun pendatang banyak yang mengidap HIV/AIDS.

Virus (HIV) yang ada di dalam tubuh pendatang yang berkumpul di Kota Banda Aceh tidak akan bisa berpindah ke warga Aceh jika tidak ada kontak fisik berupa hubungan seksual penetrasi (vaginal, oral dan anal) di dalam dan di luar nikah (Baca juga: Siapa yang Bawa HIV/AIDS ke Aceh?).

Dengan status daerah syariah secara de jure tentulah tidak ada pelacuran, tapi apakah ada jaminan di Aceh tidak ada transaksi seks? Atau apakah ada jaminan tidak ada laki-laki dewasa warga Aceh yang melakukan perilaku berisiko di Aceh, di luar Aceh atau di luar negeri?

Perilaku Seksual

Maka, semua terpulang kepada perilaku orang per orang karena perilaku seksual yang berisiko tertular HIV bisa terjadi pada hubungan seksual di dalam dan di luar nikah. Maka, pernyataan Iman yang menyebutkan: “Hindari berhubungan bebas atau seks bebas. Jagalah anak-anak kita, karena banyak komunitas-komunitas terindikasi penyakit ini. Mudah-mudah kita dapat menjaga anak-anak kita terhadap pergaulan-pergaulan bebas” tidak akurat.

Tidak ada komunitas yang terindikasi langsung dengan HIV/AIDS karena yang membuat ada risiko bukan komunitas tapi perilaku (seksual dan penyalahguna narkoba) orang per orang di komunitas tsb. Risiko penularan HIV melalui penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) bisa terjadi kalau narkoba disuntikkan dan jarum suntik dipakai bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian.

Penularan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas, pergaulan bebas, zina, melacur, selingkun, dll.), tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom).



Jika ditelurusi ke belakang ternyata sebelum tahun 2004 kegiatan terkait HIV/AIDS hanya sekali dilakukan dan satu kasus HIV/AIDS terdeteksi. Tapi, setelah tahun 2004 kegiatan penjangkauan mulai aktif dan fasilitas untuk konseling dan tes HIV diperbanyak mulailah kasus baru terdeteksi satu demi satu (Lihat gambar).

Disebutan Dinkes Aceh menjalankan program tes HIV terhadap ibu-ibu hamil. Ini adalah langkah di hilir karena membiarkan warga tertular HIV. Selain itu yang patut dipertanyakan adalah apakah suami ibu-ibu hamil tsb. menjalan tes HIV?

Kalau tidak itu artinya suami-suami ibu hamil yang terdeteksi HIV akan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Yang diperlukan adalah program di hulu yaitu menurunkan jumlah infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, terutama melalui hubungan seksual dengan perempuan yang bergani-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Tanpa langkah yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di Aceh akan terus terjadi dengan kondisi senyap yang kelak muncul sebagai ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *