30 Juli 2014

Indonesia Termasuk Negara Yang Tertinggal Dalam “Perang” Melawan AIDS


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia


Jakarta, aidsindonesia.com (30/7-2014) - “Indonesia termasuk negara yang dianggap tertinggal dalam kemajuan melawan HIV.” Ini ada di dalam siaran pers (press release) UNAIDS: UNAIDS report shows that 19 million of the 35 million people living with HIV today do not know that they have the virus (17/7-2014).


Kesimpulan yang dilansir UNAIDS tsb. menunjukkan bukti konkret terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.

Sejak awal epidemi, ditandai dengan keputusan pemerintah tentang kasus HIV/AIDS pertama yaitu pada laki-laki gay WN Belanda yang meninggl di RS Sanglah, Dempasar, Bali, pada tahun 1987 dengan indikasi penyakit terkait HIV/AIDS.

Mitos AIDS

Sebelum pemerintah menetapkan kasus ini sebagi kasus pertama di Indonesia, sudah ada beberapa kasus yang mengarah ke HIV/AIDS, tapi pemerintah menolak mengakuinya karena ketika itu dan sampai sekarang pun pemerintah selalu mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan ‘penyimpangan seksual’, khususnya homoseksual, luar negeri, dan bule.

Maka, kloplah sudah “definisi” AIDS yang disebut pemerintah dengan kasus WN Balanda tsb. sehingga pemerintah pun sambil nemepuk dada mengumumkan  bahwa kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia adalah kasus karena penyimpangan seksual, laki-laki gay, homoseksual, bule dan luar negeri.

Itulah sebabnya kampanye penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia hanya mengedepankan aspek-aspek moral yang hanya sebatas retorika.

Tahun berjalan kasus terus terdeteksi. Celakanya lagi-lagi pemerintah menepuk dada karena jumlah kasus yang terdeteksi sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dan kalau dibandingkan dengan jumlah kasus di negara lain.

Dalam bahasa lain yang dikumandangkan pemerintah dalam menangulangi HIV/AIDS hanya sebatas mitos (anggapan yang salah), al. (diolah dari berbagai brosur, bahan ceramah, buku, dll. oleh penulis):

1. HIV/AIDS adalah penyakit bule (maka banyak orang yang tidak merasa berisiko karena dia bukan bule dan tidak kontak dengan bule).

2. HIV/ADIS menular melalui zina atau di luar nikah (maka muncul wacana melakukan nikah mut’ah di pelacuran, di hotel tertentu juga dilakukan nikah mut’ah sebelum transaksi seks).

3. HIV/AIDS menular pada hubungan seksual sebelum nikah (maka orang-orang yang sudah menikah merasa aman dengan melakukan hubungan seksual berisiko).

4. HIV/AIDS menular melalui ‘penyimpangan seks’ (maka orang-orang yang tidak merasa dirinya melakukan hubungan seksual yang menyimpang yaitu homoseksual merasa aman melakukan hubungan seksual yang berisiko).

5. HIV/AIDS menular di lokalisasi pelacuran (maka pemerintah pun menutup lokalisasi pelacuran, tapi tidak bisa mengontrol pelacuran di berbagai tempat).

6. HIV/AIDS menular melalui hubungan seksual yang tidak sehat (jargon moral yang tidak akurat karena semua hubungan seksual adalah sehat).

7. HIV/AIDS menular karena tidak ada ketahanan keluarga (maka orang-orang yang merasa diri dan keluarganya mempunyai ketahanan merasa aman melakukan hubungan seksual bersiko).

Laki-laki Pembeli Seks

Mitos itulah yang membuat penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia runyam karena banyak orang yang tidak menyadari dirinya berisiko tertular HIV al. karena tidak terkati dengan 7 hal di atas.

Sampai tahun 2006 jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia di bawah 10.000 dengan jumlah penduduk 180 juta jiwa. Sedangkan sampai 31 Maret 2014 jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS mencapai 188.273 yang terdiri atas 134,042 HIV dan 54,231 AIDS dengan 9,615 kematian (spiritia.or.id).      

Di bagian lain siaran pers UNAIDS itu disebutkan pula bahwa “Indonesia bersama lima negara lain (Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Nigeria, Rusia, dan Sudan Selatan) menghadapi tiga ancaman, yaitu (a) beban HIV yang berat, (b) cakupan pengobatan yang rendah, dan (c) tingkat penurunan infeksi HIV yang sangat rendah.”

Untuk (a) tidak terasa berat karena sampai sekarang pemerintah menyediakan obat antiretroviral (ARV) gratis. Padahal, harga obat ini Rp 360.000 per paket/bulan. Untuk pengobatan lain yang muncul terkait dengan infeksi HIV ditanggung pemerintah melalui program kartu miskin. Tentu akan lain kondisinya kalau kelak pemerintah tidak lagi menyediakan obat ARV gratis karena akan banyak pengidap HIV/AIDS yang tidak bisa membeli obat ARV yang akhirnya berdampak pada tingkat  kematian yang tinggi pada pengidap HIV/AIDS.

Sedangkan untuk (b) juga tidak jadi masalah berat bagi pemerintah karena banyak orang yang mengdap HIV/AIDS tidak terdeteksi sehingga mereka tidak membutuhkan obat ARV. Bahkan, kematian mereka pun tidak pula terdeteksi terkait dengan HIV/AIDS karena meninggal di luar rumah sakit.

Yang jadi masalah besar adalah (c) karena erat kaitannya dengan penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Insiden infeksi HIV baru terus terjadi karena hubungan seksual berisiko al. dilakukan oleh laki-laki, sebagian besar beristri, dengan pekerja seks komersial (PSK) tanpa kondom. Jumlah laki-laki yang gemar ngeseks tanpa kondom dengan PSK mencapai 10 persen dari populasi laki-laki dengan rentang usaia 15-65 tahun. Jumlahnya mencapai 6,7 juta (tempo.co, 25/4-2014).

Di sisi lain tes HIV terhadap 100.926 perempuan hamil pada tahun 2013 menghasilkan 3.135 dari mereka tertular HIV. Sayang, hanya 1.544 yang mau menjalani program pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya. Akibatnya, ada 106 anak yang dilahirkan dengan HIV/AIDS (tempo.co, 25/4-2014).

Gambaran tentang risiko penyebaran HIV dari suami ke istri yang berakhir pada anak silakan simak di 2,2 Juta Laki-laki ‘Pembeli Seks’ ke PSK Mempunyai Istri - http://edukasi.kompasiana.com/2013/03/02/22-juta-laki-laki-pembeli-seks-ke-psk-mempunyai-istri-539465.html.

Yang bisa dilakukan pemerintan hanyalah menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki pada hubungan seksual dengan PSK. Ini hanya bisa dilakukan jika pelacuran atau PSK dilokalisir yaitu melaukan intervensi terhadap laki-laki berupa pemaksaan agar mereka memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Celakanya, pelacuran di Indonesia tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dijangkau untuk menjalankan program kondom. Itu artinya insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi yang kelak akan bermuara pada “ledakan AIDS”. ***

29 Juli 2014

UNAIDS Report: 19 Million of the 35 Million People Living With HIV

They do not know that they have the virus

In sub-Saharan Africa, nearly 90% of people who know their HIV-positive status are on treatment- ending the AIDS epidemic by 2030 will require smart scale-up to close the gap 

Geneva, aidsindonesia.com (16/7-2014) - new report by UNAIDS shows that 19 million of the 35 million people living with HIV globally do not know their HIV-positive status.  

“Whether you live or die should not depend on access to an HIV test,” said Michel Sidibé, Executive Director of UNAIDS. “Smarter scale-up is needed to close the gap between people who know their HIV status and people who don’t, people who can get services and people who can’t and people who are protected and people who are punished.”

The UNAIDS Gap report shows that as people find out their HIV-positive status they will seek life-saving treatment. In sub-Saharan Africa, almost 90% of people who tested positive for HIV went on to access antiretroviral therapy (ART). Research shows that in sub-Saharan Africa, 76% of people on ART have achieved viral suppression, whereby they are unlikely to transmit the virus to their sexual partners. New data analysis demonstrates that for every 10% increase in treatment coverage there is a 1% decline in the percentage of new infections among people living with HIV.

The report highlights that efforts to increase access to ART are working. In 2013, an additional 2.3 million people gained access to the life-saving medicines. This brings the global number of people accessing ART to nearly 13 million by the end of 2013. Based on past scale-up, UNAIDS projects that as of July 2014 as many as 13 950 296 people were accessing ART.

“If we accelerate all HIV scale-up by 2020, we will be on track to end the epidemic by 2030,” said Mr Sidibé. “If not, we risk significantly increasing the time it would take—adding a decade, if not more.” 

By ending the epidemic by 2030, the world would avert 18 million new HIV infections and 11.2 million AIDS-related deaths between 2013 and 2030.

Ending the AIDS epidemic

The report reveals that just 15 countries (Brazil, Cameroon, China, India, Indonesia, Kenya, Mozambique, Nigeria, Russian Federation, South Africa, Uganda, United Republic of Tanzania, USA, Zambia, Zimbabwe) account for more than 75% of the 2.1 million new HIV infections that occurred in 2013. In every region of the world the report finds that there are three or four countries that bear the burden of the epidemic. In sub-Saharan Africa, just three countries—Nigeria, South Africa and Uganda—account for 48% of all new HIV infections.

However, the report also shows that entire countries are being left behind—for example, six nations—Central African Republic, Democratic Republic of the Congo, Indonesia, Nigeria, Russian Federation and South Sudan—are facing the triple threat of high HIV burden, low treatment coverage and no or little decline in new HIV infections.

In the first report of its kind, the UNAIDS Gap report emphasizes the importance of location and population through an in-depth regional analysis of HIV epidemics and through analysis of 12 populations at higher risk of HIV. It analyses the reasons for the widening gap between people gaining access to HIV prevention, treatment, care and support, and people being left behind. It shows how focusing on populations that are underserved and at higher risk of HIV will be key to ending the AIDS epidemic.

HIV prevalence is estimated to be 28 times higher among people who inject drugs, 12 times higher among sex workers, 19 times higher among gay men and other men who have sex with men and up to 49 times higher among transgender women than among the rest of the adult population. In sub-Saharan Africa, adolescent girls and young women account for one in four new HIV infections. The report looks at why certain populations are not accessing HIV services and outlines the urgent need to address their specific needs.

“There will be no ending AIDS without putting people first, without ensuring that people living with and affected by the epidemic are part of a new movement,” said Mr Sidibé. “Without a people-centred approach, we will not go far in the post-2015 era.”

The report shows that it is both essential and possible to go deeper than a country-wide approach. Because countries and regions have multiple and varying epidemics, the report outlines that having country targets and sound policies in place creates space to address complex micro-epidemics with tailored, bite-sized solutions that will help reach people faster with better HIV services. It notes that cities and communities will play an increasingly major role in effective scale-up.

However, the report also shows that a lack of data on people most affected by HIV, coupled with widespread stigma and discrimination, punitive legal environments, barriers to civil society engagement and lack of investment in tailored programmes are holding back results. It confirms that countries that ignore discrimination and condone inequalities will not reach their full potential, and face serious public health and financial consequences of inaction. The report emphasizes the need for equal access to quality HIV services as both a human rights and public health imperative.

Hope and gaps

UNAIDS is reporting the lowest levels of new HIV infections this century, at 2.1 million [1.9 million–2.4 million]. In the last three years alone new HIV infections have fallen by 13%.
It is estimated that 35 million people were living with HIV in the world at the end of 2013. AIDS-related deaths are at their lowest since the peak in 2005, having declined by 35%. Tuberculosis continues to be the leading cause of death among people living with HIV.

New HIV infections among children have fallen by 58% since 2001 and dropped below 200 000 for the first time in the 21 most affected countries in Africa.

The highest number of people living with HIV was in sub-Saharan Africa—24.7 million [23.5 million–26.1 million] people. Asia and the Pacific had the next largest population of people living with HIV, at an estimated 4.8 million [4.1 million–5.5 million] people.

The percentage of people living with HIV who were receiving treatment was found to be highest in western Europe and North America, at 51% [39–60%], and in Latin America, at 45% [33–51%]. However, coverage was lowest in the Middle East and North Africa, at just 11% [8–16%].

New HIV infections declined most in the Caribbean—by 40% since 2005; however, new HIV infections have risen by 8% in western Europe and North America, by 7% in the Middle East and North Africa and by 5% in eastern Europe and central Asia since 2005.

AIDS-related deaths were seen to be rising steeply in the Middle East and North Africa, by 66%. The only other region where AIDS-related deaths are increasing is eastern Europe and central Asia, where AIDS-related deaths rose by 5% between 2005 and 2013.

The report outlines that to close the gap between people who are reached with HIV services and people who are not will require research and innovation combined with protective laws that promote freedom and equality for all people. It will also require increased commitment from the global community and countries most affected to the remarkable returns on investment that have been witnessed over the last 10 years to continue so that the end of the AIDS epidemic can be achieved by 2030.  (press release, UNAIDS).

28 Juli 2014

Terkait Penangan Pengungsi Hingga HIV/AIDS, Pimpinan Katolik Kritisi Pemkab Karo

Kabanjahe, aidsindonesia.com (27/7-2014) -Tanggung jawab Pemkab Karo dalam penanganan pengungsi yang sampai saat ini masih terpencar-pencar di berbagai  lokasi terutama dalam mewujudkan relokasi tiga desa yang sudah lama dijanjikan cukup berat. Termasuk dalam perbaikan ribuan hektare areal pertanian warga di luar tiga desa yang direlokasi cukup mendesak dibenahi dan penanganan HIV/AIDS yang merupakan daerah terbesar penyebarannya di Sumut dibandingkan dengan jumlah penduduknya setelah Medan dan Deli Serdang.

Keuskupan Agung Medan (KAM) melalui Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Yayasan Caritas, yang sejak awal erupsi sampai sekarang terus memberi perhatian sosial dan bantuan berkisar Rp5 miliar lebih kepada seluruh pengungsi; kurang sempurna bila tidak didukung Pemkab Karo. HIV/AIDS terus berkembang, demam berdarah merajalela melebihi 100 orang di Desa Batukarang. Penanganan ini diharapkan dapat diprioritaskan dan pihak gereja dan pimpinan Katolik mendukung dan siap bekerjasama dengan Pemkab Karo .

Demikian dikatakan Vikep Pastor Ignatius Simbolon OFMCap sebagai perwakilan Uskup Agung Medan, Mgr Anicetus B Sinaga OFMCap di Tanah Karo didampingi sejumlah pastor dan tokoh masyarakat dalam pertemuan dengan Plt Bupati Karo Terkelin Brahmana SH, Kamis (24/7) di aula kantor Bupati Karo.

“HIV/AIDS yang terus berkembang di Tanah Karo perlu diteliti, apa penyebabnya atau apa ada muatan politisnya. Kalau jujur kita mencermati, kegiatan berupa ceramah, KKR atau pun imbauan  yang dilakukan selama ini tidak menyentuh. Sebab itu, tim Litbang Pemkab Karo perlu dibentuk untuk penanganan setiap permasalahan dengan segera . Staf ahli bupati Karo kesannya tidak kredibel karena latar belakang ilmunya kontradiktif dengan tugas sebagai pemberi solusi dan penggagas”, lanjut Pastor Moses E Situmorang, OFMCap, Pastor Paroki Berastagi menambahkan.

Plt Bupati Karo Terkelin Brahmana terkait masukan dan harapan disampaikan para pastor yang bertugas melayani di seluruh wilayah Tanah Karo mengapresiasi dengan harapan siap dikritisi dan ditegur.

“Ini masukan yang sangat berharga bagi saya. Ini awal kepemimpinan saya. Kritisilah saya, tegur dan beri masukan agar ke depan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Karo dapat kita wujudkan bersama. 

Saya siap berkoordinasi dan komunikasi. Kalau sifatnya konstruktif, silakan. Saya welcome” , ujar Terkelin.

Pada kesempatan itu, Pastor Rudi Sitanggang, Pr, dari Kabanjahe,  Pastor Liberius Sihombing dari Tiganderket, Pastor Ivo Siregar mewakili Direktur JPIC Kapusin Medan, Pastor Bernard Sijabat, Pr dan pastor lainnya juga memberikan masukan terutama dalam penanganan kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup dan penanganan pengungsi Sinabung. Dalam pertemuan itu, Plt bupati didampingi Asisten I, Drs Terkelin Purba, Msi. Sedangkan dari tokoh masyarakat hadir, Rapat Romanus Purba, SH, mantan Ketua DPRD Karo, Harmonis Bukit, Sarjana Purba, Agustin Pandia dan lainnya. (BR2/c/SIB)..

HIV/AIDS Tewaskan 14.446 Orang Indonesia

Melbourne, aidsindonesia.com (27/7-3024) - Indonesia tidak memiliki dokumentasi mengenai HIV/AIDS hingga 2000 dan epidemi ini telah tumbuh dengan cepat selama sepuluh tahun terakhir.

The Global Burden of Disease Study 2013 mencatat, angka kematian karena HIV/AIDS di Indonesia meningkat sebesar 87,5 persen per tahun selama kurun waktu tersebut - angka pertumbuhan tertinggi di dunia.

Tahun 2013, sebanyak 14.446 orang Indonesia--hampir 70 persen adalah pria--meninggal karena HIV/AIDS. Antara tahun 2000 dan 2013, kasus-kasus baru meningkat setiap tahunnya sebesar 28,1 persen.

Tahun lalu, tercatat 45.159 kasus baru. Namun demikian, angka kasus baru yang muncul dan angka kematian karena HIVAIDS di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan angka rata-rata global.

Kemajuan dalam penanganan malaria memperlihatkan hasil yang menjanjikan, dengan angka penurunan per tahun sebesar 5,2 persen untuk kematian antara tahun 2000 dan 2013, dibandingkan dengan penurunan angka kematian global yang hanya mencatat 3,1 persen.
Tuberkulosa (TB) masih memperlihatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan angka rata-rata global.

“Studi terbaru yang bersifat massal ini, yang kami hadirkan di saat-saat usainya era MDGs, mendokumentasikan kemajuan yang sangat pesat dalam hal penanganan HIV dan Malaria, khususnya, tetapi juga memperlihatkan berbagai hal yang masih perlu kita lakukan,” ungkap Dr. Alan Lopez, Melbourne Laurate Profesor, Selasa (22/7/2014).

Co-founder dari Studi Global Burden of Disease (GBD) ini menyatakan, masalah kesehatan dan kematian di negara-negara miskin, dan ketiganya harus mendapat perhatian khusus dari semua dukungan dan upaya penanganan kesehatan secara global.

"Tanpa hal itu, kita semua akan menghadapi resiko terjadi stagnasi, bahkan lebih buruk lagi, akan terjadi perubahan dari hasil yang telah dicapai saat ini," katanya.(Adhitya Nugraha K/tribun/rimanews.com).

25 Juli 2014

Kondom Netralkan HIV, Kabar Gembira Membawa Malapetaka

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Jakarta, aidsindonesia.com (26/7-2014) - “Kabar gembira, kondom ini bisa menetralkan virus HIV!” Ini judul berita di merdeka.com (25/7-2014).

Sepintas ada harapan besar dalam penanggulangan HIV/AIDS, tapi di sisi lain hal itu justru membawa bencana dan melapetaka bagi umat manusia.

Lho, koq, bisa?

Sekarang saja ketika belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS dan tidak ada vaksin yang bisa menghalau HIV, banyak orang yang melakukan perilaku berisiko tertular HIV, al.: (1) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual, seks vaginal dan dan seks anal, di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti, dan (2) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual, seks vaginal dan dan seks anal, di dalam dan di luar nikah dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Vaksin HIV bisa saja membawa gaya hidup baru bagi sebagian orang (Lihat: AIDS: Obat dan Vaksin Akan Membuat (Perilaku) sebagian Orang Seperti Binatang - http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/30/aids-obat-dan-vaksin-akan-membuat-perilaku-sebagian-orang-seperti-binatang-417550.html).

Dikabarkan bahwa kondom tsb., diproduksi di Australia, mengembangkan gel (KBBI: larutan koloid setengah padat, terbentuk dari zat polimer yang tidak larut dalam air, misal larutan pati dalam air yg menyerupai lem) yaitu Vivagel yang mengandung dendrimers nano atau molekul kecil yang akan menempel pada virus dan mencegahnya masuk di dalam tubuh manusia.

Terkait dengan gel tsb. ada beberapa hal yang justru bertolak belakang dengan fakta, al.:

(1) Kondom yang dipakai laki-laki ketika melakukan hubungan seksual, seks vaginal dan seks anal, menampung air mani ketika terjadi ejakulasi sehingga (virus) HIV yang ada di air mani tidak bisa masuk ke tubuh laki-laki melalui batang panis. Maka, tanpa gel pun kondom sudah mencegah penularan HIV dari air mani ke pasangan seksual.

(2) Kondom berfungsi melindungi penis agar tidak ‘terendam’ pada cairan vagina sehingga (virus) HIV yang ada di cairan vagina tidak mencari jalan masuk di penis ketika terjadi hubungan seksual.

Maka, yang diperlukan bukan gel di dalam kondom, tapi kualitas kondom yang baik agar tidak rusak ketika dipakai pada hubungan seksual. Memang, kondom yang terbuat dari karet getah sudah melalui uji mutu dengan bukti berbagai standar, al. standar ISO.

Dalam berita disebutkan “Sudah banyak penemuan medis yang berusaha untuk mengalahkan salah satu virus yang paling ditakuti yaitu virus HIV. Mulai dari obat hingga terapi.”

Pernyataan di atas menyesatkan karena sampai sekarang yang ada baru obat antiretroviral (ARV) yang berguna untuk menahan laju perkembangan atau penggandaan (virus) HIV di dalam darah. Sedangkan untuk mengalahkan virus, misalnya vaksin, belum ada.

HIV bukan virus yang paling ditakuti karena bisa dicegah dengan cara-cara yang realistis.

Tanpa vaksin pun seseorang bisa melindungi diri agar tidak tertular HIV, terutama melalui transfusi darah dan hubungan seksual.

Jika transfusi darah selalu memakai darah yang sudah diskirining HIV oleh instansi yang berwewenang.

Jika melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan yang tidak diketahui status HIV-nya, maka laki-laki memakai kondom dan perempuan memaksa laki-laki memakai kondom.

Jika melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, seks vaginal dan seks anal, bagi laki-laki pakailah kondom.

Jika melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar, seks vaginal dan seks anal, nikah bagi perempuan paksalah laki-laki memakai kondom.

Jika melakukan hubungan seksual dengan yang sering ganti-ganti pasangan, maka laki-laki pakailah kondom dan perempuan memaksa laki-laki pakai kondom.

Yang jadi persoalan besar adalah perempuan, terutama istri, yang tidak mempunyai posisi tawar yang kuat terhadap suaminya untuk mengetahui perilaku suami di luar rumah. Dalam kondisi ini diharapkan pemerintah bisa membuat regulasi yang bisa melindungi perempuan, terutama istri, dari risiko ditulari HIV oleh suami atau pasangan.

Dengan cara-cara yang realistis seseorang bisa melindungi dirinya agar tidak tertular dan menularkan HIV. ***

24 Juli 2014

Ajakan Mengetahui Status HIV versi “KOMPAS TV” Menyesatkan


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

Jakarta, aidsindonesia.com (25/7-2014) - "Ayo, ita cek status HIV." Inilah ajakan seorang cewek kepada teman-temannya di Iklan Layanan Masyarakat (ILM) di ”KOMPAS TV”. Ajakan ini menyesatkan karena dikesankan semua orang harus menjalani tes HIV untuk mengetahui status HIV.

Ketika informasi tentang HIV/AIDS yang akurat sudah banjir, tapi tetap saja ada yang tidak memahami fenomena HIV/AIDS secara komprehensif. (Pembuat) ILM itu salah satu di antaranya.

Perilaku Berisiko

Entah apa tujuan ILM tsb. karena yang menjadi persoalan besar bukanlah penanggulangan di hilir, al. tes HIV, tapi penanggulangan di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru. Ini pun hanya bisa dilakukan pada laki-laki yang melacur dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran.

Kalau tujuan iklan tsb. untuk mencari kasus HIV yang ada di masyarakat terkait dengan fenomena gung es juga tidak tepat karena tidak semua penduduk berisiko tertular HIV.

“Gunung es” adalah fenomena epidemi HIV/AIDS yaitu kasus yang terdeteksi atau kasus yang dilaporkan (digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut) tidak menggambarkan kasus ril di masyarakat (digambarkan bongkahan es yang ada di bawah permukaan air laut).

Kasus yang tiak terdeteksi itu merupakan dark number yang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Langkah konkret untuk mencari kasus pada dark number bukanlah mengajak atau menganjurkan semua orang mengetahui status HIV-nya dengan menjalani tes HIV.

Soalnya, tidak semua orang berada pada posisi yang berisiko tertular HIV.

Seseorang berisiko tertular HIV al. karena pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti PSK.

Maka, tentu saja tidak semua orang pernah atau sering melakukan hal di atas.

Maka, anjuran dan ajakan untuk mengetahui status HIV secara massal merupakan cara-cara yang tidak etis karena sudah menyamaratakan perilaku semua orang sebagai perilaku yang berisiko tertular HIV.

Salah satu langkah yang bisa “mencari” angka pada kasus dark number adalah melalui tes HIV yang diwajibkan bagi: (a) perempuan hamil, dan (b) pasien yang berboat dengan jaminan kesehatan di rumah sakit pemerintah.

Dua hal itu tidak melanggar hak asisasi manusia (HAM) karena ada pilihan. Langkah (a) sudah dijalankan di beberapa negara, al. Malaysia. Sedangkan cara (b) dijalnakan di Amerika Serikat.

Turunkan Insiden HIV Baru

Selama ini ada kesan kalau sudah tes HIV, terutama dengan hasil negatif, dianggap sebagai “vaksin”. Kesan ini yang harus dibongkar karena salah kaprah.

Biar pun hasil tes HIV pada satu saat negatif itu tidak jaminan selamanya negatif karena bisa saja setelah tes ybs. melakukan kegiatan yang berisiko tertular HIV. Itulah sebabnya tes HIV sebelum menikah pun tidak ada manfaatnya (Lihat: Tes HIV sebelum Menikah Bisa Jadi Bumerang - http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/21/tes-hiv-sebelum-menikah-bisa-jadi-bumerang-585282.html).

Kemenkes RI melaporkan jumlah kasus yang dilaporkan dari April 1987 sampai Maret 2014 per 17 Juli 2014 sebanyak 188.273 yang terdiri ats 134.042 HIV dan 54.231 AIDS dengan 9.615 kematian (spiritia.or.id).

Jumlah tsb. merupakan persoalan besar bagi Indonesia karena terkait dengan penyebaran HIV dan biaya pembelian obat antiretroviral (ARV).

Yang bisa dilakukan secara realistis dalam penanggulangan HIV/AIDS dengan langkah-langkah yang konkret hanya menurunkan insiden ifneksi HIV baru pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK di lokalisasi pelacuran yaitu program “wajib kondom 100 persen”.

Tentu saja program itu tidak bisa jalan di Indonesia dengan efektif karena pelacuran di Indonesia tidak dilokalisir sehingga terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Jika pemerintah tidak menjalankan program penanggulangan yang konkret, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi.


Pada gilirannya kasus-kasus baru itu pun menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakt yang kelak akan bermuara pada “ledakan AIDS”. ***

21 Juli 2014

Cewek Takut Kena AIDS Karena Ngeseks Dengan Dua Laki-laki

Tanya Jawab AIDS No 1/Juli 2014

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail:  aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya:  (1) Apakah bisa dokter yang memeriksa HIV dalam darah kita mengetahui bahwa orang ini pernah melakukan hubungan seksual meskipun hasilnya negatif dan tidak berisiko tapi memang benar pernah melakukan hubungan seksual? (2) Dua minggu lalu saya tes HIV di rumah sakit, hasilnya nonreaktif, apakah ini bisa dipercaya? (3) Saya melakukan hubungan seksual dengan mantan saya setahun yang lalu. Setelah putus saya menikah dengan laki-laki lain. Tiga bulan kemudian putus lagi dan menikah dengan laki-laki lain lagi. Dua laki-laki ini belum pernah melakukan hubungan seksual dengan perempuan sebelum dengan saya. Mereka tidak pernah pakai narkoba suntik. Apakah saya berisiko tertular HIV? Saya sangat takut.
Nn “ZZ” via SMS (19/7-2014)

Jawab: (1) Sebelum menjalani tes HIV ada konseling yaitu semacam wawancara dengan konselor terkait dengan alasan dan tujuan melakukan tes HIV. Nah, dari konseling ‘kan akan ketahuan faktor risiko yaitu cara penularan HIV yang dialami. Jika tidak pernah menerima transfusi darah yang tidak disaring HIV, juga tidak pernah memakai jarum suntik bergantian pada penyalahgunaan narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya), maka tentulah faktor risikonya hubungan seksual. Bisa jadi seks vaginal atau seks anal. Kalau seorang perempuan menjalani tes HIV dengan faktor risiko hubungan seksual, maka hanya ada dua kemungkinan: seks vaginal atau seks anal. Seks oral sangat kecil kemungkinan terjadi penularan HIV. Nah, jika ternyata faktor risiko seks vaginal tentulah sudah bisa dipastikan perempuan tadi sudah melakukan hubungan seksual.

(2) Tes HIV dengan reagen ELISA hasilnya akurat jika dilakukan tiga bulan setelah hubungan seksual tanpa kondom terkahir dengan pasangan yang berganti-gantai atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pelaku kawin-cerai dan pekerja seks komersial (PSK). Tes HIV bisa akurat jika tes pertama dikonfirmasi dengan tes lain. WHO menganjurkan jika tes pertama dengan ELISA maka konfirmasi dilakukan dengan reagen ELISA sebanyak tiga kali dengan reagen dan teknik yang berbeda dengan tes pertama. Apakah langkah ini dilakukan ketika Anda tes HIV? Kalau standar ini tidak dilakukan dan Anda pada masa jendela (melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti di bawah tiga bulan), maka hasil tes tidak akurat.

(3) Bagaimana Anda membuktikan bahwa dua laki-laki terakhir tidak pernah melakukan hubungan seksual, vaginal dan anal, dengan perempuan atau laki-laki lain? Kalau hanya berdasarkan pengakuan tentu tidak akurat. Maka, Anda berisiko karena tidak bisa dibuktikan bahwa dua laki-laki itu tidak pernah melakukan perilaku berisiko sebelum ngeseks dengan Anda.

Suami Anda sendiri pun, apakah bisa Anda buktikan sebelum menikah dan selama menikah dia tidak pernah ngeseks dengan perempuan lain atau laki-laki? Kalau tidak bisa Anda buktikan, maka hubungan seksual Anda dengan suami pun ada risiko penularan HIV.


Untuk mengusir ketakutan Anda sebaiknya menjalani tes HIV di klinik VCT di rumah sakit umum di daerah Anda. Tapi, ingat hasil tes akurat jika dilakukan minimal tiga bulan setelah ngeseks terakhir tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan dua laki-laki itu atau laki-laki lain. *** [Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia] ***

20 Juli 2014

Lokalisasi Pelacuran Bukan Sumber Kemunculan HIV/AIDS


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Data dari dinkes, angka kasus HIV/AIDS di beberapa kawasan di Surabaya seperti Benowo, Krembangan, Pabean Cantikan, Sawahan dan Wonokromo cukup tinggi. Sebelumnya, di kawasan tersebut berdiri lokalisasi atau karena berdekatan dengan lokalisasi.” (Penyebaran HIV/AIDS di Surabaya Banyak Terdampak dari Lokalisasi, detikNews, 17/7-2014).

Ada beberapa hal yang jadi pertanyaan yang sangat mendasar dari pernyataan di atas, yaitu:

Pertama, pada siapa-siapa saja kasus HIV/AIDS tsb. terdeteksi? Ini penting karena akan menunjukkan fakta sebagai realitas sosial karena kalau kasus yang dimaksud cukup tinggi terdeteksi pada pekerja seks komersial (PSK) tentulah hal yang masuk akal karena PSK merupakan orang-orang dengan perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Ini terjadi karena mereka melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti tanpa kondom.

Kedua, bagaimana cara yang dilakukan Dinkes Kota Surabaya untuk menemukan kasus-kasus HIV/AIDS tsb.? Jika kasus yang disebut cukup tinggi tsb. diperoleh dengan cara survailans tes terhadap PSK, maka itu bukan merupakan kasus faktual karena survilans bukan untuk menemukan kasus HIV/AIDS.

Ketiga, mengapa tidak ada angka pembanding pada daerah di luar lokalisasi? Ini juga bisa memberikan gambaran terkait dengan penyebaran HIV/AIDS.

Yang jadi persoalan besar bukan kasus HIV/AIDS yang cukup tinggi pada PSK, tapi banyak laki-laki dewasa, dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, yang menjadi mata rantai penyebaran HIV, yaitu (a) laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK, dan (b) laki-laki yang tertular HIV dari PSK.

Maka, pernyataan ”Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya meneliti beberapa kawasan yang sebelumnya difungsikan sebagai lokalisasi, menjadi sumber kemunculan penyakit HIV/AIDS” menunjukkan pemahanan yang sangat dangkal terhadap epidemi HIV/AIDS secara faktual.

HIV/AIDS tidak muncul dengan sendirinya, tapi merupakan penyakit yang ditularkan yaitu (virus) HIV.

Laki-laki dewasa yang mengidap HIV/AIDS menularkan HIV kepada PSK karena laki-laki tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK. Laki-laki ini menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah kepada istri, pacar, pasangan seks lain dan PSK.

Lalu banyak pula laki-laki dewasa yang tertular HIV dari PSK karena karena laki-laki ini tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK. Laki-laki ini menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah kepada istri, pacar, pasangan seks lain dan PSK.

Ada lagi pernyataan Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Kota Surabaya, dr Mira Novia: "Kasus HIV/AIDS banyak ditemukan di kawasan tersebut (eks lokalisasi) karena dampak dari keberadaan lokalisasi. Selain itu, di kawasan terdapat hot spot seperti tempat hiburan.”

Ada fakta yang digelapkan dari pernyataan dr Mira yaitu tentang laki-laki yang membawa HIV/AIDS ke lokalisasi pelacuran dan laki-laki yang membawa HIV/AIDS dari lokalisasi pelacuran.

HIV/AIDS yang terdeteksi pada PSK justru ditularkan oleh laki-laki yang jadi sebagai pelanggan PSK, tapi bisa juga dari laki-laki yang menjadi ”suami” atau ”pacar” PSK. Di beberapa lokalisasi ”suami” atau ”pacar” PSK mereka sebut kiwir-kiwir.

Disebutkan pula oleh dr Mira bahwa sumber kemunculan penyakit di lokalisasi membuat angka penderita HIV/AIDS di Surabaya tinggi.

Kasus HIV/AIDS berdasarkan data Dinkes Kota Surbaya pada periode Januari sampai Mei 2014 ditemukan 281 kasus baru dengan rincian 171 HIV dan 110 AIDS. Ini menambah jumlah kasus HIV/AIDS karena pada tahun 2013 terdeteksi  754 kasus dengan rincian 501 HIV dan 253 AIDS. Sedangkan di tahun 2012 ditemukan 752 kasus dengan rincian 418 HIV dan 300 AIDS. Itu artinya di Kota Surabaya terdeteksi 1.753 kasus HIV/AIDS yang terdiri atas 1.090 HIV dan 663 AIDS.

Lagi-lagi tidak ada penjelasan pada siapa kasus ini terdeteksi. Kalau semua kasus itu terdeteksi pada PSK, maka itu artinya ada puluhan ribu bahkan ratusan ribu laki-laki yang berisiko tertular HIV jika mereka tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Tentang PSK yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS disebutkan bahwa ”Mereka kebanyakan berasal dari luar kota seperti Bandung, Indramayu, Malang dan Jember."

Persoalannya adalah laki-laki yang menjadi pelanggan PSK asal luar Kota Surabaya itu sebagian besar adalah penduduk Kota Surabaya.

Maka, pertanyaannya adalah: Apa langkah konkret yang selama ini dijalankan Pemkot Surabaya untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK?

Tentu saja tidak ada. Bahkan, dalam Perda AIDS Kota Surabaya pun sama sekali tidak ada pasal yang mengatur penanggulangan HIV/AIDS di lokalisasi pelacuran (Lihat: Perda AIDS Kota Surabaya - http://www.aidsindonesia.com/2013/07/perda-aids-kota-surabaya.html).

Celakanya, biar pun dalam perda tsb. tidak ada disebutkan lokasi atau lokalisasi pelacuran, tapi dalam perda itu justru diakui ada kegiatan pelacuran (Lihat: Dolly Ditutup, Dalam Perda AIDS Kota Surabaya Justru Ada (Praktek) Pelacuran - http://www.aidsindonesia.com/2014/06/dolly-ditutup-dalam-perda-aids-kota.html).

Fakta ini menunjukkan bahwa perilaku berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS di Kota Surabaya tetap ada biar pun semua tempat pelacuran yang kasat mata ditutup. Soalnya, pelacuran terjadi di sembarang rempat dan sembarang waktu. Bahkan, awal bulan ini Polda Jatim membongkar kasus pelacuran yang melibatkan cewek panggilan dengan tarif jutaan rupiah dengan tempat transaksi seks di hotel berbintang lima (Lihat: Pasca Penutupan “Dolly”, Kasus HIV/AIDS (Akan) Banyak Terdeteksi pada Pegawai, Aparat dan Pengusaha - http://www.aidsindonesia.com/2014/07/pasca-penutupan-dolly-kasus-hivaids.html).

Disebutkan pula bahwa ”Pihaknya berharap dengan alih fungsi lokalisasi yang dilakukan Pemkot Surabaya, jumlah penderita HIV/AIDS bisa terus menurun.” Ini tentu saja tentu saja tidak realistis karena perilaku berisiko al. melalui praktek pelacuran tetap terjadi.

Bahkan, dengan kondisi pelacuran tidak dilokalisir upaya untuk melakukan intervensi berupa sosialisasi pemakaian kondom pada laki-laki ’hidung belang’ tidak bisa dilakukan. Akibatnya, risiko penularan HIV pada praktek pelacuran terus terjadi sehingga penyebaran HIV/AIDS pun terus terjadi yang pada akhirnya akan mendorong ”ledakan AIDS”. ***

19 Juli 2014

Pasca Penutupan “Dolly”, Kasus HIV/AIDS (Akan) Banyak Terdeteksi pada Pegawai, Aparat dan Pengusaha

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Koq bisa?

Itulah realitas sosial, khususnya di Surabaya, karena biaya untuk melacur yang sangat besar. Polda Jatim, misalnya, menangkap tiga germo (KBBI: induk semang bagi perempuan pelacur; muncikari) yang mempekerjakan cewek-cewek panggilan yang tinggal di apartemen mewah dengan tarif Rp 5 juta.

Tiga germo yang ditangkap polisi itu adalah pria yang tinggal di Surabaya, mereka adalah Gery, 29 tahun, asal NTT, Indro dan Halim keduanya asal Jakarta (tribunNews.com, 18/7-2014).

Cewek-cewek panggilan yang datang dengan menyetir sendiri mobil mewah mereka hanya mau “berlaga” di hotel bintang lima. Nah, itu artinya sekali “tembak” membutuhkan uang minimal Rp 7,5 juta.

Nah, siapa yang punya uang sebesar itu? Tentu saja hanya pegawai, aparat dan pengusaha dengan penghasilan besar dan mempunyai sumber dana yang tidak terbatas hanya pada gaji atau upah bulanan.

Selain yang punya uang, yang bisa “mencicipi” cewek-cewek kelas atas itu adalah mereka yang dapat “durian runtuh” yaitu pegawai, aparat dan pengusaha sebagai imbalan atau pelicin untuk menggolkan sesuatu sebagai cewek gratifikasi seks.

Sedangkan kalangan menengah ke bawah tidak mempunyai “peraduan” yang terjangkau lagi karena tempat pelacuran dengan tarif Rp 50.000 - Rp 250.000 sudah tidak ada lagi setelah “Dolly” dan tempat pelacuran lain ditutup oleh Pemkot Surabaya.

Kalangan berkantong tipis akan bergerilya mencari pelacur yang sesuai dengan koceknya di berbagai tempat. Dan, itu tidak sulit karena ada saja tempat yang menyediakan pelacur kelas bawah dengan perantaraan tukang becak, tukang ojek, sopir taksi, karyawan penginapan dan losme, dll.

Cewek-cewek panggilan tsb. adalah perempuan yang perilakunya berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV/AIDS karena mereka melayani laki-laki yang berganti-ganti untuk melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tsb. tidak memakai kondom.

Dalam kondisi lain cewek-cewek panggilan itu menjadi cewek gratifikasi seks yang diumpankan kepada pegawai, aparat dan pengusaha. Jika ini terjadi maka laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan cewek gratifikasi seks berisiko tinggi tertular HIV jika tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual.

Dalam bahasa lain cewek-cewek panggilan dan cewek-cewek gratifikasi seks adalah pekerja seks komersial (PSK) tidak langsung yaitu PSK yang melakukan praktek pelacuran yang tidak kasatmata. Mereka adalah pelacur yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang karena mereka “main” di hotel berbintang, bahkan ada yang hanya mau di hotel bintang lima.

Celakanya, tidak ada sosialisasi pemakaian kondom pada laki-laki ketika melakukan hubungan seksual dengan cewek panggilan dan cewek gratifikasi seks. Mereka tidak bisa diintervensi karena tidak tinggal di tempat setelah melayani laki-laki “berlayar”. Mereka hanya datang setelah ada “deal” melalui germo, lalu keluar kamar hotel setelah laki-laki “berlabuh” di peraduan.

Begitu juga dengan pelacuran yang tidak dilokalisir akan menjadi ‘sentral’ penyebaran HIV yaitu dari laki-laki ke PSK dan dari PSK ke laki-laki karena intervensi sosialisasi kondom pun tidak bisa dilakukan terhadap pelacur yang tidak dilokalisir.

Celakanya, ada mitos (anggapan yang salah) bahwa penyebaran HIV/AIDS hanya terjadi pada pelacuran di lokasi atau lokalisasi pelacuran. Ini yang menyesatkan tapi sudah menjadi acuan laki-laki ‘hidung belang’. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Pelacuran yang dilokalisir bisa diintervensi untuk sosialisasi kondom, sehingga insiden infeksi HIV baru bisa diturunkan.

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Surabaya sampai Mei bulan 2014 dilaporkan 1.035 yang terdiri atas 672 HIV dan 363 AIDS (news.detik.com, 17/7-2014). Angka ini tentulah tidak bisa dianggap sepele karena angka ini pun bukan jumlah penduduk yang mengidap HIV/AIDS karena banyak penduduk Kota Surabaya yang tidak terdeteksi mengidap HIV/AIDS yang dikenal sebagai dark number.

Maka, biar pun “Dolly” dkk. ditutup penyebaran HIV/AIDS di Kota Surubaya akan terus terjadi, al. dengan mata rantai penduduk yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi, serta laki-laki yang ngeseks tanpa kondom dengan cewek-cewek panggilan kelas atas dan dengan cewek gratifikasi seks.

Pada gilirannya HIV/AIDS akan menyebar ke istri dan terakhir HIV akan berlabuh di tubuh anak-anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang mengidap HIV/AIDS karena tertular dari suaminya.

Dengan kondisi di atas, itu artinya Pemkot Surabaya tinggal menunggu waktu saja untuk “panen AIDS”. ***

18 Juli 2014

Pesawat Malaysia Airlines #MH17 Angkut Peserta Konferensi AIDS d Melbourne


Jakarta, aidsindonesia.com (18/7-2014) - Pemerintah Australia, Jumat (18/7/2014), membenarkan informasi beberapa penumpang di pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan MH17 yang jatuh adalah peserta konferensi AIDS Internasional di Melbourne, Australia, 20-25 Juli 2014. 

Dilansir dari Reuters, penyelenggaraan konferensi AIDS tersebut rencananya digelar selama seminggu dengan beberapa peserta dari Belanda. Salah satu pembicara yang dijadwalkan hadir pada konferensi ke-20 ini adalah mantan Presiden AS Bill Clinton.

"Sejumlah orang yang berada di pesawat dalam penerbangan untuk konferensi AIDS internasional," kata Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop membenarkan kabar tersebut. 

Bishop menegaskan, setidaknya 27 warga Australia, termasuk di antara 298 penumpang pesawat Boeing yang dianggap pesawat jet teraman tersebut.

Pesawat Malaysia Airlines MH17 dari Amsterdam dengan Kuala Lumpur memang terhubung dengan penerbangan di Perth, Australia Barat.

Sementara itu, Direktur UNAIDS, lembaga PBB yang menangani masalah HIV/AIDS, Michael Sidibe, melalui akun Twitter-nya, mengucapkan belasungkawa terhadap keluarga penumpang yang akan menghadiri konferensi tersebut.

"Saat ini waktu yang sangat sedih dan sensitif. IAS dengan keluarga internasional kami mengirimkan belasungkawa kepada orang terkasih dari mereka yang hilang pada tragedi ini," kata Michael Sidibe di Melbourne.

Pemerintah Ukraina sebelumnya menuduh "teroris" yang berjuang untuk menyatukan Ukraina timur dengan Rusia telah menembak jatuh Boeing dengan nomor seri 777-200 tersebut. Namun, para pemberontak menolak bertanggung jawab.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengatakan, jika jatuhnya sebuah pesawat Malaysia di wilayah Ukraina timur adalah tindakan yang disengaja, itu adalah kejahatan yang tak termaafkan dan pelakunya harus segera dibawa ke pengadilan.(Akhmad Dani/kompas.com)

16 Juli 2014

Enam Balita Di Luwu Raya Terjangkit HIV / AIDS

Palopo, aidsindonesia.com (14/7-2014) - Sebanyak 94 warga Luwu Raya dan Tana Toraja yang terjangkit penyakit HIV / AIDS selama delapan tahun terakhir ini atau sejak tahun 2006 hingga juni tahun 2014.

Pengelola program KPA, Y. D. Yoshita, mengatakan dari 94 warga Luwu Raya dan Toraja yang terjangkit HIV/AIDS, enam diantaranya yang masih berusia tiga tahun yang terdiri dari dua orang warga Palopo, dua orang dari Kabupaten Luwu, satu orang dari Tana Toraja dan satu orang dari Kabupaten Luwu Utara, senin (14/07).

Ia menambahkan rata – rata para balita yang terkena penyakit HIV/AIDS disebabkan karena terinveksi dari ibunya.
  
“Ibu Rumah Tangga (IRT) yang terkena penyakit HIV / AIDS rata – rata ditularkan oleh suaminya yang pekerjaanya seperti pelaut dan sopir mobil sehingga ikut terinveksi kepada anaknya setelah dilahirkan” ungkap Yoshita. (Sudirman/tribunNews.com).