27 Januari 2015

Cewek Ini Takut Sudah Kena AIDS Karena Pernah Seks Oral dengan Mantan Pacar yang Idap AIDS

Tanya Jawab AIDS No 3/Januari 2015

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Mantan pacar saya mengatakan bahwa dia sudah tes HIV dan hasilnya positif. Kami hanya pernah sekali tanpa sengaja melakukan seks oral. Kata dia tidak ada risiko karena dia tertular dari narkoba. Dia orang baik-baik dan tidak pernah begituan. (1) Apakah saya harus tes HIV?

Nn “Z”, Kota “S”, Jawa Tengah, via telepon (28/1-2015)

Jawab: (1) Seks oral terutama fellatio (penis masuk ke dalam mulut) termasuk perilaku berisiko tertular HIV karena jika terjai ejakulasi atau orgasme di dalam rongga mulut, maka air mani pun tumpuh di rongga mulut. Dalam air mani ada HIV dengan jumlah yang bisa ditularkan. Jika ada infeksi di rongga mulut maka itu jalan masuk bagi HIV. Infeksi tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Contohnya ketika berkumur-kumur selesai sikat gigi kalau di gusi atau rongga mulut ada terasa perih itu artinya ada infeksi.

Seks oral sengaja atau tidak sengaja merupakan salah satu pintu masuk HIV. Terutama bagi perempuan karena air mani yang tumpah di rongga mulut. Dalam kasus Anda laki-laki yang Anda oral mengidap HIV/AIDS. Itu artinya air mani yang keluar di rongga mulut Anda mengandung HIV. Tapi, itu risiko soal pasti tertular atau tidak itu urusan YMK.

Tidak bisa dipastikan apakah seorang penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bergantian tertular melalui jarum suntik ketika menyalahgunakan narkoba atau melalui hubungan seksual yang tidak memakai kondom di dalam dan di luar nikah. Bisa saja seorang penyalahguan narkoba sudah pernah ngeseks sebelum memaka narkoba, selama memakai narkoba dan setelah memakai narkoba.

Belakangan muncul anggapan bahwa tertular HIV melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba tidak terkait dengan perilaku yang melawan norma, moral dan agama. Ini hanya pembenaran tapi secara medis sama sama apakah tertular melalui hubungan seksual, jarum suntik narkoba, dll.

Dari mana Anda bisa membuktikan bahwa mantan pacar Anda tidak pernah ngeseks dengan perempuan, waria atau laki-laki?

Tentu saja tidak bisa dibuktikan dengan kasat mata. Mungkin bisa saja denga alat lie detector tapi ditangani oleh ahli.

Yang jelas mantan pacar Anda positif mengidap HIV/AIDS. Tidak juga bisa dipastikan kapan dia tertular. Yang bisa dipastikan adalah minimal dia sudah tertular HIV tiga bulan sebelum dia tes HIV.

Kalau Anda sepakat dengan mantan pacar Anda bahwa tidak mungkin ada penularan HIV terhadap Anda, ya silakan saja. Yakinkan diri bahwa Anda benar-benar tidak tertular karena seks oral tsb.

Tapi, perlu diingat bahwa banyak kasus seperti Anda yang akhirnya membawa kondisi tidak tenang, kebigungan, panik, stres, bahkan ada yang mau bunuh diri. Maka, akan lebih baik Anda menjalani tes HIV agar ada kepastian.

Apa pun hasil tes ada dampaknya terhadap Anda. Jika hasil tes negatif itu artinya Anda harus menghindari perilaku berisiko. Kalau hasil tes positif, maka ada langkah-langkah yang harus Anda lakukan untuk keselamatan diri Anda dan orang lain.

Untuk itulah sebaiknya tes HIV di tempat tes yang sudah ditentukan oleh pemerintah yang dikenal dengan nama Klinik VCT. Klinik ini ada di rumah sakit umum atau di puskesmas. Silakan ke rumah sakit umum di kota Anda. Jika ada kesulitan, jangan ragu-ragu kontak kami. ***



25 Januari 2015

Pemerintah Akan Memberikan “Vaksin” AIDS Kepada Kalangan Homoseksual dan PSK

* Program tsb. bisa mendorong banyak orang untuk ngeseks secara bebas ....

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

“Pemerintah Indonesia akan segera menerapkan metode Pre-exposure prophylaxis (PrEP) dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS. Dalam metode ini, seseorang yang masih HIV-negatif namun memiliki perilaku berisiko tertular, akan diberikan obat antiretroviral (ARV) secara rutin agar tidak tertular dari pasangannya.” Ini ada dalam berita “Cegah Penularan HIV/AIDS, Metode PrEP Sasar Kelompok Homoseksual” di beritasatu.com (22/1-2015).

Langkah pemerintah ini tentu saja merupakan pembiaran bagi kalangan homoseksual untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti karena mereka sudah merasa aman.

Selain itu apakah meminum obat ARV bisa menjadi vaksin agar tidak tertular HIV?

Berapa banyak dan berapa lama minum obat ARV agar bisa jadi vaksin AIDS?

Di tahun 1970-an, bahkan sampai sekarang, di kalangan laki-laki ‘hidung belang’ dikenal obat antibiotik Supertetra yang digembar-gemborkan bisa mencegah penularan sifilis dan GO. “Minum sejam sebelum main, Om.” Inilah nasehat penjual obat tsb. di pinggir jalan atau dekat lokalisasi pelacuran.

PrEP merupakan promosi yang kontraproduktif dengan upaya penanggulangan HIV/AIDS melalui perubahan perilaku berisiko karena banyak orang akan memakai obat ARV sebagai vaksin AIDS.

“Ah, minum obat ARV, ah. Biar aman ngeseks!”

Inikah yang kita harapkan dari program itu? Memang bukan, tapi arah ke sana terbuka lebar dan sangat mungkin dilakukan banyak orang.

Langkah tsb. bukan sekedar isu, tapi sudah merupakan metode yang ada dalam "Strategi Rencana Aksi Nasional 2015-2019 Penanggulangan HIV dan AIDS". Kabarnya tinggal menunggu peraturan yang akan diterbitkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Wenita Indrasari, peneliti di Clinton Health Access Initiative (CHAI),  yang ikut terlibat dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional tsb. mengatakan, “PrEP memang diberikan pada orang-orang yang masih HIV-negatif. Namun implementasinya nanti akan difokuskan pada orang-orang yang memiliki perilaku berisiko.”

Yang menjadi persoalan besar adalah bisa saja terjadi orang-orang yang perilakunya tidak berisiko akan memanfaatkan program tsb. untuk melakukan perilaku berisko. Itu artinya upaya penanggulangan HIV/AIDS melalui kampanye untuk tidak melakukan perilaku berisiko  akan terganjal.

Disebutkan pula bahwa selain gay dan LSL, kelompok waria dan pekerja seks komesial (PSK) juga akan menjadi target utama.

Ya, terbukti sudah. Obat ARV akan dijadikan banyak orang dengan perilaku berisiko sebagai ‘vaksin’ AIDS. Ini justru mendorong perilaku ngeseks dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering ganti-ganti pasangan.

Wenita mengatakan: “ .... Tetapi penggunaan kondom juga akan tetap digenjot.”

Genjotan Wenita itu jelas ngawur dan omong kosong karena untuk apa lagi pakai kondom kalau minum obat ARV sudah bisa mencegah penularan HIV/AIDS. ***


19 Januari 2015

Norma-norma Agama, Pergaulan Bebas, Seks Bebas dan AIDS



Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

“Pergaulan remaja yang melewati norma-norma agama, dan pergaulan yang bebas hingga berujung dengan seks bebas jelas sangat mengkhawatirkan. Apalagi HIV/AIDS mengancam pelaku seks bebas itu.” Ini pernyataan pada lead berita “Duh, Pelajar di Sintang Dominasi Pengidap HIV/AIDS” di tribunnews.com (18/1-2015).

Pernyataan ini tidak bertumpu pada fakta sebagai realitas sosial di social settings karena mengabaikan kebenaran.

Pertama, pergaulan yang melewati norma-norma agama tidak hanya pada remaja karena orang-orang tua pun, bahkan tokoh agama dan pejabat, ada yang melakukan perilaku yang melewati norma-norma agama.

Kedua, tidak ada kaitan langsung antara pergaulan bebas sampai seks bebas dengan penularan HIV/AIDS karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas), tapi karena kondisi hubungan seksual (salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali hubungan seksual).

Lead berita itu ditulis dengan memakai moralitas diri pribadi wartawan atau redaktur yang menulis lead tsb. Padahal, berita dalam kaidah jurnalistik harus bertumpu pada fakta bukan sebagai opini dengan balutan moral.

Pemahaman terhadap HIV/AIDS pada diri wartawan yang menulis berita ini sangat rendah sehingga memprihatinkan sebagai pemberi informasi karena berita yang ditulis tidak akan bisa berperan sebagai agen perubahan (agent of change) perilaku. Soalnya, dalam HIV/AIDS yang perlu “diperbaiki” adalah perilaku karena perilakulah yang menentukan seseorang berisiko atau tidak berisiko tertular HIV/AIDS.

Lihat saja pernyataan ini: “Dari Data Pelaksana Program Penanggulangan HIV/AIDS RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang, Kalbar, angka HIV/AIDS dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.”

Cara pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif yaitu kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga angka laporan akan terus ‘mengalami peningkatan’. Angka laporan kasus HIV/AIDS tidak akan pernah berkurang atau turun biar pun semua pengidap HIV/AIDS mati.

Disebutan bahwa kasus HIV/AIDS  banyak terdeteksi di kalangan pelajar SMA yaitu 104 yang terdeteksi dari tahun 2006 sampai 2014.

Sayang, dalam berita tidak dijelaskan faktor risiko (cara penularan HIV/AIDS) pada kalangan pelajar SMA tsb.

Ada kemungkinan pelajar SMA yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS adalah di kalangan penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya). Maka, amatlh wajar banyak terdeteksi kasus HIV/AIDS karena penyalahguna narkoba wajib tes HIV ketika hendak menjalani rehabilitasi.

Disebutkan pula bahwa "Polisi sudah melakukan tindakan preventif, melakukan pembinaan bersama orangtua yang berpengaruh terhadap perkembangan remaja tersebut, seperti guru, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, " terang AKBP Veris Septiansyah.

Ketika remaja melanggar norma agama dianggap salah dan dilakukalah pembinaan seperti yang disebutkan Veris itu. Padahal, fakta menunjukkan banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi pada ibu rumah tangga. Ini membuktikan kalangan dewasa, dalam hal ini suami, justru melakukan perbuatan yang melanggar norma agama, al. melacur dengan pekerja seks komersial (PSK) sehingga mereka berisiko tertular HIV/AIDS.

Lalu, mengapa tidak ada pembinaan terhadap orang-orang tua?

Jika remaja tertular HIV/AIDS hal itu sudah bagaikan terminal terakhir karena remaja-remaja itu tidak mempunyai istri sehingga mereka tidak menularkan HIV ke orang lain. Berbeda dengan orang-orang tua yang beristri. Kalau mereka tertular maka ada pula resiko penularan kepada istri yang selanjutnya istri bisa menularkan HIV ke janin yang dikandungnya.

Selama pelacuran tidak dilokalisir, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru terjadi karena tidak ada program intervensi melalui regulasi ke pelacuran yaitu kewajiban memakai kondom bagi laki-laki yang melacur dengan PSK.

Maka, selama tidak ada program yang konkret dan sistematis untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi di Sintang yang kelak akan bermuara pada “ledakan AIDS”. ***

18 Januari 2015

Siswi Kelas 3 SMA Ini Khwatir Sudah Kena AIDS Karena "ML" Sejak Kelas 2 SMP

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

Tanya Jawab AIDS No 2/Januari 2015

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang cewek berumur 18 tahun. Sekarang saya duduk di kelas 3 SMA. Ketika kelas 2 SMP saya melakukan hubungan seksual tanpa kondom. Kelas 1 SMA saya melakukannya lagi dengan laki-laki yang berbeda. Juga tanpa kondom. Di kelas 3 SMA sekarang saya juga melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain, tapi dia pakai kondom. Saya takut sekali sudah tertular HIV/AIDS karena sekarang saya sesak napas dan batuk berdahak. Memang, sejak TK saya sering batuk-batuk. (1) Apakah besar kemungkinannya saya sudah tertular HIV?
Nn “Xz”, Yk, via SMS 6/1-2015

Jawab: (1) Perilakumu disebut perilaku yang berisiko tertular HIV/AIDS karena melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berbeda-beda dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom.

Memang, risiko tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan yang mengiap HIV/AIDS adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan. Persoalannya adalah tidak bisa diketahi dengan pasti pada hubungan seksual yang keberapa terjad penularan HIV. Bisa saja pada hubungan seksual yang pertama, kedua, kelima, ketujuh puluh, bahkan yang keseratus.

Maka, setiap hubungan seksual dengan orang yang tidak diketahui status HIV-nya, apakah dia mengidap atau tidak mengidap, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom di dalam dan di luar nikah ada risiko penularan HIV.

Yang jadi persoalan adalah laki-laki yang melakukan hubungan seksual denganmu ketika di kelas 2 SMP dan kelas 1 SMA tidak diketahui status HIV mereka. Apakah mereka mengidap HIV/AIDS atau tidak. Kalau mereka tidak mengidap HIV/AIDS tentu tidak ada risiko. Lagi pula tidak bisa dipastikan bahwa mereka tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan perempuan lain.

Batuk-batuk dan sesak napas bukan merupakan ciri khas HIV/AIDS. Tapi, pada orang yang mengidap HIV/AIDS batuk-batuk dan sesak napas akan lebih lama sembuh daripada orang yang tidak mengidap HIV/AIDS.

Yang jelas dari perilakumu ada risiko tertular HIV/AIDS. Maka, sebaiknya segeralah tes HIV dengan catatan rentang waktu sejak hubungan seksual di kelas 3 SMA dengan tes HIV minimal tiga bulan.

Silakan ke Klinik VCT di rumah sakit umum di kotamu. Jika khawatir dikenal orang, maka kau bisa menyamar dengan memberikan identitas palsu. Juga bisa datang dengan rambut palsu, dll. ***


15 Januari 2015

105 Bayi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Mengidap HIV/AIDS



Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

”Penularan HIV/AIDS meluas di NTT. Namun, pemerintah setempat, terutama tingkat kabupaten, belum memberi perhatian serius dalam upaya penanggulangan virus itu,” kata Ketua Komisi Penanggulangan AIDS NTT, Husen Pancratius, dalam berita “Epidemi HIV. Penularan di NTT hingga Populasi Umum” (KOMPAS, 15/1-2015).

Husen benar. Bukan hanya di NTT, tapi di seluruh daerah di Nusantara terjadi hal yang sama. Tidak ada program yang sistematis dan konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS.

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di NTT sampai akhir tahun 2014 dilaporkan 3.014. Dari jumlah ini 105 bayi.

Penanggulangan yang realistis hanya menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran. PSK di sini disebut sebagai PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata dan ‘praktek’ di lokalisasi pelacuran.

Intervensi yang dijalankan adalah program yang memajibkan atau memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK (Lihat gambar). Maka, pelacuran harus dilokalisir dengan regulasi sehingga germo atau mucikari membuka usaha dengan izin. Inilah yang bisa menjerat germo dengan sanksi hukum  jika terjadi pelanggaran terhadap regulasi.

Perilaku Berisiko

Regulasi yang dijalankan adalah germo mencacat nama-nama PSK yang praktek di “warung”-nya, PSK hanya boleh melayani laki-laki yang memakai kondom.

Secara berkala dilakukan tes IMS (infeksi menula seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, dll.) terhadap PSK. Jika ada PSK yang terdeteksi mengidap IMS itu artinya PSK tsb. melayani laki-laki yang tidak memakai kondom.

Germo diberikan sanksi sesuai dengan regulasi, misalnya, teguran, denda sampai kurungan.

Hanya dengan cara ini jumlah insiden infeksi HIV baru pada laki-laki bisa diturunkan yang kelak berdampak pada jumlah ibu rumah tangga yang tertular HIV kian berkurang.

Celakanya, tidak ada lpelacuran di NTT dan daerah lain yang dilokalisir dengna regulasi. Maka, program penanggulangan pun tidak akan efektif jika pelacuran tidak dilokalisir.

Selain melalui pelacuran dengan PSK langsung, insiden infeksi HIV baru pun akan terjadi pada laki-laki yang melakukan hubungn seksual dengan PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek panggilan, ABG, ayam kampus, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, cewek pemijat, cewek spa, cewek gratifikasi seks, dll.) dan waria.

Hubungan seksual antara laki-laki dewasa dengan PSK tidak langsung dan waria terjadi sembarang waktu dan sembarang tempat sehingga tidak bisa diintervensi. Itu artinya insiden infeksi HIV baru terus terjadi.

Dalam berita disebutkan “ .... jumlah orang dengan HIV lebih banyak dari yang teridentifikasi. Itu karena masyarakat enggan menjalani tes HIV.” Tidak semua orang harus tes HIV karena tidak semua orang berperilaku yang berisiko tertular HIV.

Yang dianjurkan tes HIV adalah orang-orang dengan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS, yaitu:

(1) Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang berganti-ganti, seperti kawin-cerai (dalam nikah), suka sama suka, perselingkuhan, dll. (di luar nikah) di wilayah NTT atau di luar wilayah NTT,

(2) Perempuan dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, seperti kawin-cerai (dalam nikah), suka sama suka, perselingkuhan, dll. (di luar nikah) di wilayah NTT atau di luar wilayah NTT,

(3 Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK langsung dan PSK tidak langsung serta waria di wilayah NTT atau di luar wilayah NTT.

Yang jadi persoalan besar banyak orang yang sudah termakan mitos (anggapan yang salah) karena sejak awal epidemi HIV/AIDS di Indonesia (1987) pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta banyak kalangan lain selalu mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan zina, pelacuran, homoseksual, penyimpangan seksual, dll.

Akibatnya, banyak orang yang merasa tidak melakukan hal di atas karena mereka tidak melacur dan tidak pula homoseksual. Mereka melakukan hubungan seksual suka sama suka, dalam bentuk perselingkuhan, bukan dengan PSK, tidak pula di tempat pelacuran sehingga mereka menganggap tidak akan tertular HIV/AIDS.

Mitos itulah yang harus dihapurkan dari pikiran masyarakat dan mereka diarahkan kepada tiga hal di atas yang merupakan “pintu masuk” HIV/AIDS.

Perda AIDS NTT

Lagi pula tes HIV adalah upaya penanggulangan di hilir. Artinya, ditunggu dulu ada penduduk yang tertular HIV baru kemudian dilakukan tes HIV.  Segencar apapun tes HIV dilakukan kalau di hulu tidak ada program yang konkret untuk menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru, maka kasus-kasus baru HIV/AIDS akan terus terjadi, terutama pada laki-laki dewasa yang perilakunya berisiko yang melakukan salah satu atau lebih dari tiga perilaku di atas.

Intervensi lain yang bisa dilakukan Pemprov NTT adalah intervensi terhadap perempuan hamil yaitu dengan regulasi, bisa dalam bentuk peraturan daerah (Perda), yang mewajibkan perempuan hamil dan pasangannya menjalani konseling HIV/AIDS dan selanjutnya tes HIV. Sayangnya, dalam Perda AIDS Prov NTT sama sekali tidak ada program penanggulangan yang konkret dan sistematis. Hal yang sama juga berlaku pada perda-perda AIDS yang diterbitkan di: Kab Timor Tengah Selatan (TTS) dan KabBelu.

Disebutkan bahwa pemerhati masalah HIV/AIDS NTT, Yos G Lema, mengingatkan, upaya penanggulangan HIV/AIDS di NTT butuh perhatian serius pemerintah setempat.

Celakanya, Yos tidak menyebutkan perhatian macam apa yang diperlukan agar penanggulangan HIV/AIDS berjalan dengan efektif.

Disebutkan lagi bahwa Yos juga mengakui penyebaran HIV/AIDS di NTT masuk kategori membahayakan. Alasannya, HIV/AIDS telah menjangkiti ibu rumah tangga, anak-anak, petani dan kaum muda yang belum menikah.

Kondisi di atas terjadi karena tidak ada intervensi terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung. Laki-laki yang beristri akan menularkan HIV secara horizontal ke istri atau pasangannya, selanjutnya jika istri tertular maka ada pula risiko penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandung secara vertikal.

Yos pun megatakan: ”Penyebaran virus HIV merata mengikuti industri hiburan dan seks yang sampai pelosok, seperti praktik pijat tradisional plus dan warung remang-remang.”

Persoalan bukan pada industri hiburan dan seks, tapi pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja di industri hiburan seks. Selama kegiatan pelacuran tidak dilokalisir, maka selama itu pula praktek pelacuran menyebar di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Ada pula pernyataan: “Instansi terkait diharapkan giat melaksanakan sosialisasi penggunaan kondom kepada populasi berisiko tertular HIV dan memberi informasi bahaya HIV di sekolah.”

Yang jadi persoalan besar dalam penyebaran HIV/AIDS adalah mata rantai penyebar. Mereka bukan anak-anak sekolah, tapi laki-laki dewasa. Maka, yang diperlukan bukan pemberian informasi tapi langkah-langkah yang konkret, al. intertenvsi berupa program kondom pada pelacuran.

Jika Pemprov NTT dan pemerintah kabupaten dan kota di NTT tidak menjalankan program penanggulanganyang konkret dan sistematis, maka penyebaran HIV/AIDS di NTT akan terus terjadi yang kelak bermuara pada “ledakan AIDS”. ***

14 Januari 2015

Di Kota Bandung, Jawa Barat, Suami “Dibiarkan” Menularkan HIV/AIDS ke Istrinya



Oleh Syaiful W. HarahapAIDSWatch Indonesia

“Partisipasi yang telah dijalankan oleh Frisian Flag Indonesia bekerja sama dengan KPA Kota Bandung sejak 2009 adalah berupaya menurunkan tingkat risiko penularan HIV dan AIDS dari ibu ke anak, yaitu dengan terlibat secara langsung dalam penyediaan akses pelayanan pencegahan HIV dan AIDS atau yang lebih dikenal dengan Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT).” Ini ada dalam berita “Seriusnya Pemkot Bandung Tangani HIV dan AIDS” di liputan6.com (13/1-2015).

Mencegah penularan HIV/AIDS dari-ibu-ke-anak adalah program di hilir. Artinya, Pemkot Bandung dan Pemprov Jawa Barat membiarkan ibu-ibu rumah tangga tertular HIV/AIDS dari suami mereka. Selanjutnya setelah ibu-ibu yang tertular HIV/AIDS itu hamil barulah progam PMTCT dijalankan.

PSK Langsung

Janin yang mereka kandung terhindar dari HIV/AIDS, tapi ibu mereka justru sebagai pengidap HIV/AIDS.

Langkah Pemkot Bandung tsb. merupakan program yang tidak objektif karena hanya memikirkan upaya pencegahan tehadap anak-anak yang akan dilahirkan, sementar ibu-ibu rumah tangga dibiarkan ditulari suami mereka dengan HIV/AIDS.

Sampai 1 Desember 2014 kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Bandung mencapai 3.267 yang terdiri atas 1.626 HIV dan 1.641 AIDS (jabar.tribunnews.com, 1/12-2014). Ini merupakan bagian dari jumlah kasus kumulatif di Jawa Barat sampai 30 September 2014 sebanyak 17.698 yang terdiri atas 13.507 HIV dan 4.191 AIDS (Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 17 Oktober 2014). Jumlah ini menempatkan Jawa Barat pada peringkat ke-empat secara nasional.

Yang menjadi persoalan besar adalah Pemkot Bandung tidak mempunyai program yang konkret dan sistematis untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa. Risiko laki-laki dewasa tertular HIV/AIDS al. melalui hubungan seksual yang tidak memakai kondom, yaitu:

(1) Yang dilakukan dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah di Kota Bandung atau di luar Kota Bandung,

(2) Yang dilakukan dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) langsung yaitu PSK yang kasat mata di tempat, lokasi atau lokalisasi pelacuran dan yang ada di jalanan di Kota Bandung atau di luar Kota Bandung,

(3) Yang dilakukan dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek panggilan, ABG, ayam kampus, cewek kafe, cewek pub, cewek diskotek, cewek pemijat, cewek spa, cewek gratifikasi seks, dll. di Kota Bandung atau di luar Kota Bandung,

(4) Yang dilakukan dengan waria. Dalam prakteknya laki-laki beristri umumnya jadi “perempuan” (yang ditempong atau yang dianal) ketika melakukan seks anal dengan waria. Waria menjadi “laki-laki” (yang menempong atau yang menganal). Kondisi ini meningkatkan risiko tertular HIV/AIDS bagi laki-laki beristri yang ditempong oleh waria di Kota Bandung atau di luar Kota Bandung.

Untuk nomor (1), (3) dan (4) tidak bisa dilakukan intervensi karena hubungan seksual yang mereka lakukan terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Yang bisa diintervensi hanya nomor (2), tapi dengan syarat pelacuran dilokalisir yaitu memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK. Celakanya, Pemkot Bandung justru menutup lokalisasi pelacuran “Saritem”.

Dalam pandangan pemerintah, dalam hal ini Pemkot Bandung, dengan menutup “Saritem” pelacuran pun tidak ada lagi. Tentu saja ini hanya utopia atau mimpi di siang bolong karena praktek pelacuran akan terus terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Suami Tidak Tes HIV

Pemkot Bandung, pemuka agama dan pemuka masyarakat di Kota Bandung boleh-boleh saja menepuk dada: Di Kota Bandung tidak ada pelacuran!

Itu benar adanya, tapi yang dimaksud adalah tidak ada lokalisasi pelacuran yang diregulasi. Sedangkan praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak langsung terjadi di berbagai tempat mulai dari penginapan, losmen, hotel melati sampai hotel berbintang serta apartemen mewah sepanjang hari dan malam hari.

Jika Pemkot Bandung tidak melakukan intervensi terhadap laki-laki yang ngeseks dengan PSK yaitu program yang memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK, maka insiden infeksi HIV/AIDS pada laki-laki dewasa akan terus terjadi.

Akibatnya, ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS dari suami pun akan terus bertambah yang pada gilirannya akan bermuara pada jumlah bayi yang lahir dengan HIV/AIDS.

Kalau Pemkot Bandung tidak menjalankan program yang sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga yang hamil, maka kelak akan banyak anak-anak yang lahir dengan HIV/AIDS. Ini terjadi karena tidak semua ibu hamil terjaring. Yang terjaring juta sangat kecil jumlahnya yaitu yang berobat ke sarana kesehatan pemerintah, seperti Posyandu, Puskesmas dan rumah sakit umum.

Selain itu banyak pula ibu-ibu hamil yang tedeteksi di ujung kehamilan sehingga program pencegahan dari-ibu-ke-bayi tidak efektif lagi.

Disebutkan dalam berita bahwa “Tidak banyak yang tahu kalau kota Bandung masuk kategori pemerintah yang memberikan anggaran cukup besar untuk penanggulangan masalah HIV AIDS, .... “

Yang diperlukan bukan biaya yang besar, tapi program yang konkret dan sistematis serta terukur hasilnya.

Jika Pemkot Bandung bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama bisa menjamin tidak akan ada lagi laki-laki dewasa penduduk Kota Bandung yang melakukan perilaku nomor (1), (2), (3) dan (4) di atas, maka penyebaran HIV/AIDS di Kota Bandung bisa dikendalikan.

Tapi, ada persoalan lain lagi yaitu orang-orang yang sudah mengidap HIV/AIDS, tapi tidak terdeteksi menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Persoalan lain yang dihadapi Pemkot Bandung adalah suami ibu-ibu yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS tidak menjalani tes HIV karena mereka menolak untuk dites. Akibatnya, suami ibu-ibu yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS itu pun jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Pada saatnya akumulasi dari penyebaran HIV/AIDS akan membuat Pemkot Bandang “panen AIDS”. ***

13 Januari 2015

Pemberian Obat ARV pada Ibu Hamil adalah Penanggulangan HIV/AIDS di Hilir


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

"Saat ibu yang hamil didiagnosis HIV harus langsung minum Antiretroviral (ARV), jangan ditunda-tunda lagi. Semakin dini usia kandungan saat terdiagnosis, semakin baik” Ini dikatakan oleh aktivis HIV/AIDS di Yayasan Spiritia, Chris Green dalam berita “Cegah Janin Tertular HIV, Butuh Intervensi Pengobatan Sesegera Mungkin” (beritasatu.com, 12/1-2015).

Babe, panggilan akrab Chris Green, benar. Tapi, yang diharapkan adalah jangan sampai ada lagi, paling tidak berkurang, perempuan, bisa istri atau pasasangan, yang tertular HIV/AIDS dari suami.

Pemberian obat ARV kepada perempuan hamil adalah langkah di hilir. Itu artinya pemerintah membiarkan banyak perempuan tertular HIV dari suaminya.

Laki-laki, al. suami, yang menularkan HIV/AIDS kepada istrinya terutama tertular dari pekerja seks komersial (PSK) ketika mereka melakukan hubungan seksual dengan kondisi PSK mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tsb. tidak memakai kondom.

Intervensi pemerintah untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, al. suami, bisa dilakukan secara konkret yaitu memaksa laki-laki yang ngeseks dengan PSK memakai kondom. Tapi, ini hanya bisa dilakukan jika pelacuran dilokalisir dengan regulasi. Itu artinya intervensi bisa dilakukan terhadap laki-laki yang ngeseks dengan PSK langsung (PSK yang kasat mata, seperti di lokasi atau lokalisasi pelacuran, di jalanan, dll.) dengan syarat pelacuran dilokalisir.

Adalah hal yang mustahul melokalisir pelacuran di negeri ini karena sejak awal reformasi terjadi gerakan masif menutup tempat-tempat pelacuran. Akibatnya,  praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu yang tidak terjangkau untuk melakukan sosialisasi seks aman yaitu selalu memakai kondom jika ngeseks dengan PSK.

Celakanya, laki-laki juga banyak yang ngeseks dengan PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek panggilan, ABG, ayam kampus, cewek kafe, cewek pub, cewek pemijat, cewek gratifikasi seks, dll. Intervensi tidak bisa dilakukan terhadap laki-laki yang ngeseks dengan PSK tidak langsung karena praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak langsung terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Anjuran Babe itu pun tidak menyeluruh karena pemerintah tidak mempunyai regulasi yang sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil. Yang ada hanya anjuran dan itu pun terhadap perempuan hamil yang memeriksakan kehamilan atau berobat ke sarana kesehatan pemerintah, seperti Posyandu, bidan desa, puskesmas dan rumah sakit.

Sedangkan perempuan hamil yang tidak memeriksakan diri ke sarana kesehatan pemerintah lolos dari pendeteksian HIV/AIDS.

Yang lebih celaka lagi adalah pemerintah pun tidak mempunyai regulasi yang sistematis untuk memaksa laki-laki atau suami perempuan yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS untuk menjalani tes HIV. Bahkan, pada banyak kasus suami dari istri yang terdeteksi HIV/AIDS menolak untuk menjalani tes HIV.

Maka, laki-laki atau suami yang menularkan HIV kepada perempuan hamil menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Sudah saatnya pemerintah membuat regulasi yang konkret dan sistematis untuk:

(1) Mewajibkan laki-laki memakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK dan

(2) Mewajibkan perempuan hamil dan pasangannya menjalani konseling HIV/AIDS yang selanjutnya menjalani tes HIV/AIDS.

Tanpa regulasi untuk menjalankan dua program di atas, maka insiden infeksi HIV pada ibu rumah tangga yang selanjut pada bayi yang mereka lahirkan akan terus terjadi. Ini akan mendorong “ledakan AIDS”. ***

11 Januari 2015

Di Sulawesi Utara 70 Suami Menularkan HIV/AIDS ke Istrinya



Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

70 Balita Idap HIV/AIDS.” Ini judul berita di news.okezone.com (10/1-2015) tentang kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada balita di Prov Sulawesi Utara sampiai Oktober 2014. Jumlah kasus pada balita ini merupakan bagian dari jumlah kasus kumulati HIV/AIDS di Sulut sampai Oktober 2014 yang mencapai 1.651

Judul berita ini menunjukkan ada 70 suami (laki-laki dewasa) yang mengidap HIV/AIDS, jika suami-suami itu beristri satu, selanjutnya 70 suami itu menularkan HIV/AIDS kepada 70 perempuan (istri mereka).

Kemungkinan besar 70 suami itu tertular melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK) langsung (PSK yang kasat mata di lokasi pelacuran dan di jalanan), atau PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata yaitu cewek panggilan, ABG, ayam kampus, cewek kafe, cewek pub, cewek pemijat, cewek gratifikasi seks, dll.). Bisa juga ada di antara 70 suami itu yang tertular HIV/AIDS melalui seks anal dengan waria.

Sayang, dalam berita tsb. sama sekali tidak digambarkan penyebaran HIV/AIDS berdasarkan fakta 70 balita. Bahkan, berita tsb. terkesan menyalahkan perempuan (ibu balita yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS).

Disebutkan: “Penularannya bisa melalui air susu ibu yang diberikan kepada bayinya," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Sulut dr M Tangel-Kairupan di Manado.

Dalam kaitan air susu ibu (ASI) ibu balita-balita itu tidak menyadari mereka sudah tertular HIV/AIDS dari suaminya.

Disebutkan lagi bahwa penularan dari ibu yang positif HIV ke anak memerlukan penanganan khusus pada masa kehamilan hingga melahirkan.

Persoalannya adalah: Apakah Pemprov Sulut mempunyai program yang konkret dan sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada ibu hamil?

Tidak ada!

Bahkan, dalam Perda AIDS Sulawesi Utara sama sekali tidak ada program pencegahan HIV/AIDS dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya secara konkret. Perda ini pun sudah dilengkapi dengan peraturan gubernur, tapi tetap saja tidak ada program penanggulangan yang realistis.

Maka, kasus HIV/AIDS pada bayi dan balita akan terus terdeteksi di Sulut karena tidak ada program yang konkret dan sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil. Kalau hanya dengan anjuran dan itu pun hanya terhadap perempuan hamil yang berobat atau memeriksakan kandungan ke fasilitas kesehatan pemerintah tentulah tidak akan bisa mendeteksi banyak kasus.

Untuk itulah diperlukan intervensi berupa program dengan regulasi agar kasus insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa bisa diturunkan. Langkah ini hanya bisa dilakukan jika pelacuran dilokalisir dengan regulasi yaitu memaksa setiap laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Celakanya, di Sulut, sama halnya dengan semua daerah di Nusantara, praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu sehingga tidak bisa dilakukan intervensi. Begitu juga dengan PSK tidak langsung dan waria tidak bisa dilakukan intervensi sehingga risiko laki-laki dewasa tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tidak langsung dan waria akan terus terjadi.

Kalau saja wartawan yang menulis berita ini lebih arif menjalankan jurnalistik, maka pertanyaan yang diajukan ke pihak terakait adalah: Apakah ibu dan ayah 70 balita itu sudah menjalani tes HIV?

Jika jawabannya TIDAK, maka ada persoalan besar di Sulut terkait dengan penyebaran HIV/AIDS yaitu 70 suami itu menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS secara horizontal di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Jumlah kasus yang dilaporkan (1.651) tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di masyarakat karena penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang dilaporkan (1.651) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Itu artinya kasus HIV/AIDS di Sulut bisa saja jauh lebih besar dari 1.651. Ini terjadi al. karena tidak ada program pendeteksian kasus HIV/AIDS yang sistematis. Kasus HIV/AIDS umumnya terdeteksi di rumah sakait ketika pengidap HIV/AIDS menderita penyakit. Sebagian lagi melalui tes sukarela yang didorong oleh penjangkauan dari berbagai kalangan, seperti LSM.

Tanpa program penangulangan yang konkret dan sistematis penyebaran HIV/AIDS di Sulut tidak akan terbendung yang kelak akan bermuara pada “ledakan AIDS”. ***

10 Januari 2015

Menunggu Langkah Konkret Presiden Jokowi Menanggulangi HIV/AIDS di Indonesia

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia


Sejak pemerintah mengakui kasus HIV/AIDS ada di Indonesia berdasarkan kasus kematian wisatawan Belanda di RS Sanglah, Denpasar, Bali (1987) tidak ada program penanggulangan HIV/AIDS yang konkret.

Dengan jumlah kasus kumulatif  HIV/AIDS 206.084 yang terdiri atas 150.285 HIV dan 55.799 AIDS dengan 9.796 kematian per 30 September 2014 seperti yang dilaporkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, tanggal 17 Oktober 2014 menunjukkan penyebaran HIV/AIDS di masyarakat secara horizontal, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah terus terjadi.

Bukti bahwa insiden infeksi HIV terus terjadi dapat dilihat dari kasus penemuan ibu-ibu rumah tangga dan bayi yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Ibu-ibu rumah tangga tsb. tertular dari suaminya yang al. tertular melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah di Indonesia dan di luar negeri.

Yang lebih celaka lagi adalah kasus yang dilapoirkan Kemenkes RI tsb. (), tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di masyarakat.

Epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es yaitu kasus yang dilaporkan atau terdeteksi, dalam hal ini 206.084, digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut dan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es yang tersembunyi di bawah permukaan air laut.

Itu artinya ada penduduk dewasa dewasa, laki-laki dan perempuan, di masyarakat yang sudah tertular HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi. Ini terjadi karena mereka tidak menyadari sudah mengidap HIV/AIDS karena tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas HIV/AIDS pada fisik mereka. Bahkan, tidak ada pula keluhan penyakit yang khas terkait dengan HIV/AIDS.

Akibatnya, orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak menyadarinya sehingga mereka pun menularkan HIV/AIDS kepada orang lain, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, tanpa mereka sadari. Merekalah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat.

Banyak “pintu masuk” HIV/AIDS, tertutama melalui hubungan seksual, ke masyarakat Indonesia, tapi hanya beberapa yang bisa ditanggulangi secara konkret.

“Pintu masuk” tsb. rancu karena informasi HIV/AIDS selama ini selalu dibumbui dengan norma, moral dan agama sehingga mengaburkan fakta HIV/AIDS. Akibatnya, yang muncul hanya mitos (anggapan) yang salah terhadap HIV/AIDS.

Dengan menetapkan turis bule seorang gay yang mati di RS Sanglah, Denpasar, Bali, sebagai kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia (1987) saja pemerintah sudah menyuburkan mitos, yaitu:

(a) HIV/AIDS adalah penyakit gay,

(b) HIV/AIDS adalah penyakit bule, dan

(c) HIV/AIDS ada di luar negeri.

Tiga hal itu berkembang terus sampai sekarang sehingga tetap jadi pegangan di banyak orang. Kondisinya kian runyam karena muncul pula pernyataan pejabat, bahkan dari lingkungan departemen kesehatan, bahwa:

(d) HIV/AIDS menular karena zina,

(e) HIV/AIDS menular di lokalisasi pelacuran,

(f) HIV/AIDS meneluar melalui perselingkuhan,

(g) HIV/AIDS menular melalui hubungan seksual di luar nikah,

(h) HIV/AIDS menular melalui hubungan seksual dengan yang bukan pasangan resmi,

 (i) HIV/AIDS menuilar melalui homoseksual,

(j) HIV/AIDS menlar melalui hubungan seksual pranikah, dst.

Mitos-mitos tsb. mencelakai banyak orang, misalnya, seorang laki-laki merasa tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena dia melakukan hubungan seksual bukan di lokalisasi pelacuran, bukan dengan PSK, dll.

Yang paling merusak akal sehat dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah penggunaan jargon “seks bebas” sebagai penyebab HIV/AIDS. Sampai hari ini dalam berbagai kesempatan dan pemberitaan jargon “seks bebas” tetap dijadikan “ikon” penyebab HIV/AIDS.

Tidak jelas apa yang dimaksud dengan “seks bebas”, tapi jika diamati yang disebut “seks bebas” adalah berizina dengan PSK di lokalisasi pelacuran. Nah, ini juga mencelakakan karena banyak orang yang merasa tidak melakukan “seks bebas” karena mereka tidak berzina dengan pelacur (PSK).

Sejak awal epidemi tanggapan pemerintah hanya sebatas reaktif dengan pernyataan moralistis dengan (hanya) mengajak masyarakat menjauhi “seks bebas”.

Maka, amatlah wajar kalau kemudian insiden infeksi HIV/AIDS baru terus terjadi yang mendorong penyebaran HIV/AIDS di Indonesia karena banyak laki-laki yang merasa tidak melakukan “seks bebas”.

Selama “pintu masuk” HIV/AIDS tidak ditangani, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS di Indonesia akan terus terjadi karena setiap saat terjadi insiden infeksi HIV baru, al. pada laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual yang bukan “seks bebas” yaitu dengan cewek panggilan, ayam kampus, ABG, cewek kafe, cewek pub, cewek gratifikasi seks, dll. di hotel berbintang atau apartemen mewah.

Jika pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla “pintu masuk” HIV/AIDS tidak diintervensi dengan program yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di Indonesia kelak bermuara pada “ledakan AIDS”. ***