22 Mei 2015

Pelaku Sodomi Tidak Otomatis Seorang Paedofilia atau Gay

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

Pelaku Pedofil di Australia Sebut Korbannya Setan Penuh Dosa.” Ini judul berita di Australia Plus ABC-detikNews (21/05/2015).

Judul berita ini tidak sejalan dengan fakta yang diungkapkan yaitu: Korban pelecehan seksual Stephen Woods mengungkapkan ia diperkosa oleh tiga orang petugas di sekolah keagamaan di Ballarat, Australia, saat ia masih anak sekolah. Parahnya, salah seorang pedofil melakukan perbuatan tersebut sambil menyebut korban sebagai "setan penuh dosa".

Yang dilakukan oleh tiga petugas di sekolah keagamaan itu adalah sodomi yakni hubungan seksual yang tidak alamiah. Sodomi terkait dengan ranah hukum sebagai tindakan hubungan seksual yang tidak alamiah berupa seks oral dan seks anal. Itu artinya alat kelamin dipakai untuk hubungan seksual secara paksa dengan organ yang bukan alat kelamin. Sodomi bisa dilakukan oleh orang dengan orientasi seks heteroseksual dan homoseksual.

Paedofila merupakan salah satu bentuk parafilia yaitu menyalurkan dorongan hasrat seksual dengan ‘cara lain’ tanpa ada unsur paksaan, yaitu laki-laki dewasa yang menyalurkan hasrat seksual dengan anak-anak usia 7-12 tahun melalui seks vaginal dan seks anal (Parafilia: Menyalurkan Dorongan Hasrat Seksual“Dengan Cara yang Lain”).

Sedangkan seorang gay akan ‘memadu’ cinta dengan gay lain sebagai pasangannya untuk melakukan hubungan seksual dalam bentuk seks anal. Begitu pula dengan lesbian yang ‘berpacaran’ dengan perempuan lain untuk melakukan hubungan seksual sebagai bagian dari percintaan mereka.

Maka, hubungan seksual yang dilakukan oleh ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ tsb. jelas bukan bentuk prafila karena mereka lakukan dengan paksaan dan dengan pembenaran bahwa korban adalah setan yang penuh dosa.

Dosa merupakan istilah yang terkait dengan agama sebagai bentuk hukuman bagi yang melakukan tindakan yang melawan norma atau aturan yang diatur dalam kitab suci.

Persoalannya adalah: Apakah Tuhan memberikan mandat secara eksplisit kepada manusia untuk menentukan atau menetapkan (kadar) dosa seseorang?

Alasan yang disebutkan oleh ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ merupakan salah satu bentuk pembenaran karena tidak ada perintah Tuhan secara eksplisit kepada ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ tsb. untuk menyodomi korban karena mereka sebut sebagai setan dan penuh dosa.

Agaknya, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ itu mengetahui kalau Woods pernah mengaku bahwa diia menyadari dirinya sebagai seorang gay sejak usia sangat dini. Nah, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ pun menyebut Woods sebagai orang bejat dan setan yang pantas menerima apa yang mereka lakukan.

Lalu, apakah tindakan sodomi dibenarkan oleh Tuhan?

Tentu saja tidak. Tapi, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ itu memakai ‘tangan Tuhan’ sebagai pembenaran tindakan mereka sebagai pelaku sodomi.


Dampak perbuatan ‘tiga petugas sekolah keagamaan’, al. ibu salah satu korban (Stephen Woods) tidak lagi percaya kepada agama yang dianut ibunya selama 70 tahun. Ayahnya sudah menarik pelatuk senapan untuk menutut balas terhadap ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ yang menyodomi Woods.

Bercermin dari kasus Woods ini Polri diharapkan tidak semerta menerima pernyataan pelaku sodomi yang mengatakan bahwa dia pernah jadi korban sodomi. Soalnya, bisa saja hal itu sebagai pembenaran terhadap perilaku kriminalnya menyodomi bocah-bocah.

Jika ada pelaku sodomi yang mengatakan dirinya korban sodomi, maka perlu dilakukan diagnosis medis untuk membuktikannya serta konseling psikologi untuk memasitkan apakah dia disodomi atau memang seorang parafilia.

Dari aspek penularan IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, dll.) dan HIV/AIDS risiko penularan melalui hubungan seksual tanpa kondom pada seks anal jauh lebih besar daripada melalui seks vaginal. ***

10 Mei 2015

Prostitusi Artis Seksi “AA” dan 200 “Artis” Lain, Ada Risiko Penyebaran ‘Penyakit Kelamin’ dan HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

* Dianjurkan agar laki-laki yang sudah pernah ngeseks dengan artis AA periksakan diri ke dokter dan tes HIV ....

Penyebaran penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, disebut IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, herpes genitalis, jengger ayam, kanker serviks, dll.) serta HIV/AIDS kian tidak terkendali di Indonesia karena praktek pelacuran yang tidak dilokalisir.

Laporan Ditjen PP & PL, Kemenkes RI tanggal 12 Februari 2015 menyebutkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS sampai tanggal 31 Desember 2014 adalah 225.928 yang terdiri atas 160.138 HIV dan 65.790 AIDS dengan 11.801 kematian. Angka-angka ini tidak menggambar kasus HIV/AIDS yang sebenarnya ada di masyarakat.

Seperti kasus yang baru dibongkar Polres Jakarta Selatan ini: “Artis AA Biasa ‘Dijual’ ke Pejabat dan Pengusaha” (rimanews.com, 9/5-2015).

Risiko penyebaran ‘penyakit kelamin’ dan HIV/AIDS di Indonesia, khususnya Jakarta, kian besar karena berdasarkan keterangan mucikari RA ke polisi disebutkan bahwa “Selain AA, mucikari punya 200 PSK artis.” (merdeka.com, 10/5-2015).

Kalau setiap “PSK artis” ini juga melayani 3-5 laki-laki setiap hari, maka setiap hari ada 600 – 1.000 laki-laki yang berisiko menularkan dan tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Sengaja Menularkan

Yang menjadi pertanyaan besar adalah: Apakah artis “AA” meminta atau memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual?

Jika berpijak pada jumlah rupiah yang dibayarkan oleh laki-laki ‘hidung belang’ antara Rp 80 juta – Rp 200 juta adalah hal yang mustahil laki-laki akan memakai kondom. Tentu saja mereka menolak karena merasa rugi besar, “Sudah bayar mahal koq penis dibungkus.”

Maka, hubungan seksual antara artis “AA” dan 200 “artis” lain dengan puluhan bahkan ratusan laki-laki yang ngeseks dengan bayaran puluhan sampai ratusan juta rupiah ada risiko penularan IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Dalam kaitan penyebaran ‘penyakit kelamin’ dan HIV/AIDS artis “AA” dan 200 “artis” lain merupakan korban karena posisi tawar dia yang sangat rendah ketika berhadap dengan mucikari dan laki-laki yang membayar puluhan sampai ratusan juta rupiah sekali ngeseks untuk short time tiga jam.

IMS pada perempuan hampir tidak ada gejalanya  yang khas berupa rasa sakit sehingga perempuan yang tertular GO atau sifilis, misalnya, kadang-kadang hanya keputihan. Dan, di kalangan PSK mereka membeli obat di kaki lima atau ramuan jamu. Gejalanya memang hilang, tapi penyakit tetap ada dalam tubuh mereka.

Begitu juga dengan HIV/AIDS tidak ada gejala yang khas AIDS pada laki-laki dan perempuan selama bertahun-tahun. Secara statistik gejala yang khas AIDS baru muncul pada masa AIDS setelah tertular HIV antara 5-15 tahu kemudian. Tapi, biar pun tidak ada gejala seorang yang mengidap HIV/AIDS sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain, al. melalui hubungan seskual (seks vaginal, seks anal dan seks oral) tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Laki-laki yang mengidap sifilis atau GO akan mengalami gejala yang khas yaitu sakit atau perih ketika kencing. Celakanya, ada laki-laki yang sengaja menularkan sifilis dan GO ke perempuan sebagai bagian dari balas dendam. “Saya ditulari, ya saya juga tularkan lagi,” kata seorang laki-laki dalam satu kesempatan wawancara dengan penulis.

Berbeda dengan HIV/AIDS. Orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS sudah berjanji sebelum tes bahwa: (1) Tidak akan melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV jika hasil tes negatif, dan (2) Akan menghentikan penyebaran atau menularkan HIV mulai dari diri sendiri jika hasil tes positif.

Risiko penyebaran sifilis, GO, kanker serviks dan HIV/AIDS melalui artis “AA” dan 200 “artis” lain kian besar karena “RA, Mucikari, Artis Seksi AA Biasa Layani 3-5 Pelanggan Tiap Hari” (detiknews, 9/5-2015).

Terkait dengan kanker serviks, “ .... 85 persen HPV masuk ke leher rahim disebabkan oleh kontak seksual, sisanya oleh kontak non-seksual." Penjelasan Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Andi Darma Putra (jpnn.com, 26/4-2015). Kanker serviks sendiri sekarang menjadi ‘pembunuh nomor satu’ pada kematian perempuan di Indonesia.

Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS

Perihal epidemi HIV/AIDS, gaya hidup artis “AA” dan 200 “artis” lain merupakan perilaku berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV/AIDS karena bisa saja ada di antara laki-laki yang ngeseks dengan AA mengidap HIV/AIDS sehingga terjadi penularan ke AA. Jika AA tertular HIV/AIDS, maka ada pula risiko penularan HIV/AIDS pada laki-laki yang ngeseks dengan “AA”.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kelak kasus IMS, kanker serviks dan HIV/AIDS  banyak terdeteksi pada istri-istri pejabat dan pengusaha. Kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga sudah terdeteksi sebanyak 6.000-an kasus. Ini artinya ada lebih dari 6.000 suami yang mengidap HIV/AIDS.

Yang menjadi persoalan besar terkait dengan artis “AA” dan 200 “artis” lain ‘milik’ germo “RA” adalah ada ratusan bahkan ribuan laki-laki yang bersiko tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus yang ngeseks dengan “artis-artis” tsb.

Dalam  kehidupan sehari-hari di antara mereka ada yang merupakan suami sehingga mereka merupakan jembatan penyebaran IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus dari mayarakat ke “artis-artis” tsb. dan dari “artis-artis” tsb. ke masyarakat al. istri(-istri), pacar, selingkuhan serta pasangan seks lain.

ada pula risiko menularkan IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus ke istri mereka (horizontal). Jika istri mereka tertular HIV/AIDS, maka ada pula risiko penularan HIV (vertikal) ke bayi yang dikandung istri mereka kelak.

Di sebuah sanggar yang bergerak dalam penanganan HIV/AIDS di Jakarta Selatan, misalnya, ada 140 anak-anak mulai dari bayi sampai usia SMP. Ada yang ayahnya meninggal, ada yang ibunya meninggal, ada pula yang yatim piatu. Ada dengan HIV/AIDS ada pula yang negatif HIV/AIDS. Ibu anak-anak itu rata-rata berusia muda di bawah 30 tahun.

Maka, tanpa langkah-langkah yang konkret, al. intervensi terhadap laki-laki yang ngeseks dengan perempuan dalam berbagai bentuk praktek prostitusi, maka insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi.

Laki-laki yang tertular HIV melalui hubungan seksual pada berbagai macam praktek prostitusi menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Ini kelak akan bermuara para “ledakan AIDS”. *** [SyaifulW. Harahap] ***

Foto: Artis sinetron AA (jaket hitam) sesaat setelah ditangkap polisi di sebuah hotel bintang lima (Repro: Dok/rimanews.com).

29 April 2015

Ini Dia Asuransi Kesehatan yang Membayar Klaim Tanpa Kecuali



* Asuransi ini membawa kabar gembira bagi pengidap HIV/AIDS ....

“Cukup dengan tiga langkah Anda sudah menjadi pemegang polis asuransi ‘Jaga Sehat Plus’.” Ini jaminan yang diberikan oleh Asuransi JAGADIRI dengan semboyan ‘Asuransi Tanpa Beban’.

Gampang amat?

“Ya, itu jaminan yang kami berikan,” kata Priska Sari Kurniawan, Vice President JAGADIRI, sebuah perusahaan asuransi kesehatan yang merupakan merek dagang PT Central Asia Financial, bagian dari Salim Group, lembaga yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Langkah mudah itu bisa dilakukan secara online melalui website JAGADIRI (jagadiri.co.id). Bukan hanya itu, ketika mendaftar sebagai nasabah sama sekali tidak ada pertanyaan tentang data pribadi, seperti penyakit yang diidap, dll., kecuali nama lengkap dan tanggal lahir serta alamat e-mail dan nomor kontak.

Tanpa Beban

JAGADIRI merupakan jawaban ril terhadap kebutuhan masyarakat yang dinamis terkait dengan asuransi keseahatan, yaitu instant protection  (perlindungan instan dan langsung), claim certainty process (jaminan penerimaan klaim), dan best transparent price (biaya ringan dan transparan).

Karena tidak ada keterangan terperinci tentang kesehatan pemegang polis ketika mendaftarkan diri melalui online, maka, “Kami tidak membayar klaim untuk 30 hari pertama jika pemegang polis rawat inap,” kata Reginald Yosiah Hamdani, President Director “JAGADIRI”.  Tapi, perlu diingat bahwa asuransi kesehatan ini justru menanggung biaya rawat inap yang tidak terbatas dan tanpa kecuali.

Perusahaan suransi yang mulai beroperasi sejak Januari 2015 ini menjalankan asuransi secara faktual karena berdarakan focus discussion group (FGD) dengan berbagai lapisan masyarakat salah satu keluhan yang muncul adalah kesulitan klaim. Untuk itulah, menurut Reggie, panggilan akrab Reginald, pada acara “Kompasiana Nangkring - Perlindungan Tanpa Beban Bersama Asuransi JAGADIRI” di Jakarta, 18/4-2015, JAGADIRI akan langsung membayar klaim maksimal 14 hari.

Asuransi kesehatan JAGADIRI memelopori asuransi yang tidak njelimet (ruwet, rumit) sehingga begitu mudah bagi banyak orang, terjangkau dan menguntungkan. Salah satu faktor yang membuat asuransi ini lebih terjangkau adalah jumlah premi yang murni karena tidak ada beban untuk membayar agen dan jasa bank. Itulah sebabnya tagline JAGADIRI memakai semboyan ‘Asuransi Tanpa Beban’.

Asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh JAGADIRI memberikan peluang bagi masyarakat untuk berasuransi sebagai solusi untuk perlindungan dengan manfaat yang nyata. Hanya dengan premi mulai dari Rp 60.000-an per bulan seseorang sudah bisa menjadi pemegang polis asuransi kesehatan. “Dipakai atau tidak dipakai setiap tiga tahun premi akan dikembalikan 50 persen kepada pemegang polis,” ujar Reggie.

Pilihan program yang ditawarkan JAGADIRI, menurut Reggie, berpijak pada hasil FGD sehingga merupakan gambaran ril yang menjadi harapan masyarakat terhadap asuransi.

Konsep lain yang ditawarkan JAGADIRI adalah potongan premi untuk jumlah pembayaran tertentu serta hadiah nonton gratis di Blitz Megaplex, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat setiap bulan. “Ini bagian dari kenyamanan berasuransi sehingga tidak ada lagi kesan asuransi itu ribet,” ujar Priska dengan nada yakin.

JAGADIRI memberikan santunan perawatan rumah sakit atau rawat inap mulai dari Rp 300.000 - Rp 1,5 juta per hari karena sakit atau kecelakaan. “Tida ada batas rawat inap,” kata Reggie. Santunan meninggal dunia mulai dari Rp 6 juta s/d Rp 30 juta.

Bukan hanya tidak ada batas rawat inap, JAGADIRI juga akan membayar klaim rawat inap tanpa melihat penyebab penyakit. “Penderita AIDS yang rawat inap pun kami ganti,” ujar Reggie. Ini dilakukan oleh JAGADIRI karena anjuran pemerintah kepada perusahaan asuransi tidak boleh membuat diskriminasi terkait dengan penyebab penyakit baik rawat jalan maupun rawat inap. 

Pengidap HIV/AIDS

Padahal, ada asuransi yang selalu menolak klaim jika pemegang polis ternyata mempunyai riwayat kesehatan sebagai pengidap HIV/AIDS. Celakanya, kalau pasien datang dengan riwayat kesehatan dengan HIV/AIDS juga ditolak di banyak rumah sakit. Kalau seorang pasien tidak menyebutkan status HIV/AIDS-nya ketika masuk rumah sakit, maka sudah bisa dipastikan jika dalam perawatan diketahui status HIV/AIDS pasien akan mengalami diskriminasi (perlakuan berbeda) dalam berbagai bentuk pelayanan medis dan nonmedis.

Itulah yang dilihat Reggie sebagai hal yang tidak boleh terjadi di Indonesia. Untuk itulah asuransi JAGADIRI sama sekali tidak melihat latar belakang penyakit yang membawa seorang pemegang polis dirawat di rumah sakit.

Lalu, kalau ada rumah sakit yang menolak pasien dengan status HIV/AIDS itu urusan regulator, dalam hal ini pemerintah, karena, “JAGADIRI sudah membuat komitmen dengan lebih dari 450 rumah sakit di seluruh Indonesia, disebut provider, bahwa JAGADIRI akan membayar klaim biaya rawat inap tanpa mempersoalkan penyakit penyebab rawat inap,” kata Reggie dengan nada yakin. Namun, kalau klaim terkait AIDS lama rawat inap 60 hari dan penyakit lain 90 hari.

Bandingkan pula JAGADIRI dengan asuransi yang selalu mencari-cari kelemahan pemang polis yang mengajuka klaim. Misalnya, asuransi kecelakaan akan menolak klaim jika ternyata ada penyakit pemegang polis yang menyebabkan kecelakaan tsb. Misalnya, seorang pemegang polis jatur di kamar mandi. Ternyata pemegang polis tsb. mengidap penyakit jantung. Maka, klaim ditolak karena kecelakaan itu dianggap tidak murni kecelakaan karena ada riwayat penyakit jantung pada pemegang polis.

Satu hal yang masih dipikirkan Reggie adalah membantu pengidap HIV/AIDS melalui pertanggungan rawat jalan, khususnya obat antiretroviral (ARV) melalui asuransi kesehatan. Soalnya, pengidap HIV/AIDS harus meminum obat ARV sepanjang hidupnya sejak CD4-nya terdeteksi di bawah 300 (CD4 adalah ukuran sistem kekebalan tubuh yang diketahui melalui tes darah). Sekarang harga obat ARV Rp 360.000/bulan.

Jika harus diminum sepanjang hidup tentulah sangat berat bagi pengidap HIV/AIDS karena dalam perjalanan hidup mereka tentu akan ada juga penyakit yang membawa mereka rawat inap. Kesulitan yang dihadapi pengidap HIV/AIDS, disebut Odha (Orang dengan HIV/AIDS), yang dilihat Reggie.

Tapi, karena asuransi adalah perusahaan tanggung renteng (pembayaran klaim dibayar oleh dua pihak sebara bersama), maka, “Kami akan bicarakan dulu dengan pihak re-asuransi,” kata Reggie menjanjikan.

Tentu saja langkah Reggie itu merupakan harapan besar bagi Odha agar mereka tetap bisa melakukan kegiatan keseharian tanpa harus diganggu penyakit. Soalnya, Odha sudah masuk pada masa AIDS sangat mudah terserang penyakit, apalagi mereka tidak meminum obat ARV.

Langkah yang dipilih JAGADIRI sebagai asuran yang menguntungkan dan sangat terjangkau merupakan gaya hidup tanpa beban karena menjadi pemegang polis yang begitu mudah dan terjangkau. *** [Syaiful W. Harahap] ***

Ilustrasi (Repro: www.sushilfinance.com)

20 April 2015

Pasangan Pengidap HIV/AIDS Ingin Anak yang Bebas AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Tanya Jawab AIDS No 1/April 2015

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Saya ingin bertanya beberapa hal, mohon kiranya dijawab pertanyaan-pertanyaan ini.

1. Selama menikah pasangan tsb. melakukan aktivitas seks meski cairan sperma tidak pernah masuk ke dalam vagina (karena istri sempat curiga suaminya berisiko AIDS dan istri tsb. juga tidak ingin hamil): Apakah hal tsb. di atas dapat menularkan AIDS? (Catatan: Sang istri pernah berpikir untuk mencoba tes HIV/AIDS, tapi niatnya urung dilakukan mengingat masih hal seperti ini masih tabu di kota tempat tinggal mereka).

2. Adakah obat-obatan herbal untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS?

3. Apa jenis tes yang akurat untuk mengetahui seseorang terinfeksi HIV/AIDS?

4. Bisakah penderita HIV/AIDS sembuh dan memiliki keturunan yang negatif HIV/AIDS?

Nn “Xz”, Jawa Tengah, via e-mail, 8/2-2015

Jawab: 1. HIV ada di cairan sperma atau air mani dan semen (cairan yang keluar ketika penis ereksi). Sebelum terjadi ejakulasi cairan semen sudah keluar dari penis. Kalau suami mengidap HIV/AIDS, maka ada risiko istri tertular HIV melalui semen yang sudah keluar ketika terjadi hubungan seksual vaginal. Ini terjadi jika suami tidak memakai kondom.  Kalau istri atau perempuan yang mengidap HIV/AIDS, maka gesekan penis dengan vagina menjadi pintu masuk HIV/AIDS dan dari cairan vagina ke penis.

2. Kita pakai akal sehat saja. Kalau pengobatan alternatif dan herbal bisa menyembuhkan (segala) macam penyakit tentulah rumah sakit sudah tutup dan dokter pun jadi pengangguran. Jangankan HIV, semua virus, seperti flu, tidak bisa dimatikan di dalam tubuh. Maka, jika HIV sudah masuk ke dalam tubuh virus itu akan ada di badan sepanjang hidup.

3. Tes HIV dilakukan setelah masa jendela yaitu setelah tiga bulan tertular (dalam hal ini hubungan seksual berisiko terakhir, yaitu hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berbanti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan). Standar prosedur operasi tes HIV yang baku adalah hasil tes pertama, misalnya dengan reagent ELISA, dikonfirmasi dengan tes lain, al. Western blot. Tapi, WHO (Badan Kesehatan Sedunia-PBB) merekomendasikan metode konfirmasi, terutama di kawasan dengan prevalensi HIV yang tinggi, yaitu tes pertama dengan ELISA sedangkan tes konfirmasi dengan ELISA tapi memakai reagent dan teknik yang berbeda.

Nah, jika mau tes HIV pastikan laboratorium itu melakukan standar tes HIV, yaitu: konseling sebelum dan sesudah tes, serta tes konfirmasi.

4. Lihat jawaban nomor 2 di atas. Pengidap HIV/AIDS dapat melahirkan anak yang tidak tertular HIV. Kalau suami yang mengidap HIV/AIDS, bisa dilakukan melalui proses bayi tabung. Kalau keduanya mengidap HIV/AIDS atau salah satu yang mengidap HIV/AIDS bisa juga mendapatkan anak yang tidak mengidap HIV/AIDS melalui pendampingan dokter. Hubungan seksual dilakukan ketika virus (HIV) sedang ‘tidur’ karena meminum obat antiretroviral (ARV). Tapi, ini hanya bisa dilakukan dengan penanganan dokter. ***


17 April 2015

60 Tahun KAA: 85 Persen Kasus HIV/AIDS Global Ada di Asia dan Afrika


* Besok (19/4-2015) pembukaan acara Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika, tapi kasus HIV/AIDS di Asia dan Afrika diabaikan ....

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

Tentu saja tidak ada satu pun peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung di Kota Bandung 60 tahun yang lalu membayangkan kawasan Asia Afrika kelak akan jadi ‘neraka’ karena penyebaran penyakit. Soalnya, kasus (terkait) AIDS pertama dipublikasikan di Amerika Serikat pada tahun 1981, sedangkan HIV sebagai virus yang menyebabkan AIDS baru diakui Badan Kesehatan Sedunia (WHO) pada tahun 1986.

Tapi, setelah 60 tahun konferensi itu sejarah mencacat bahwa kasus HIV/AIDS paling banyak terdeteksi di kawasan Asia Afrika.  

Tanggal 19-24 April 2015 berlangsung peringatan 60 tahun KAA yang diselenggarakan di Jakarta dan Bandung. Celakanya, agenda KAA hanya penuh dengan nuansa politik. Pergolakan, perang saudara, perebutan kekuasaan, pemberontakan, pertikaian paham agama, perkosaan, pembunuhan, dll. justru terjadi di kawasan Asia dan Afrika.

Abaikan AIDS

Dengan jumlah kasus HIV/AIDS di Asia dan Afrikayang mencapai 29.500.000 atau 84.29 persen dari kasus global serta estimasi infeksi baru yang mencapai 1.500.000 atau 71.43 persen dari estimasi global, pertanyaan yang sangat mendasar adalah: Apakah pembicaraan politik lebih penting daripada membahas upaya-upaya penanggulangan HIV/AIDS?

Dampak epidemi HIV/AIDS pun akan berimbas ke sektor ekonomi, politik dan keamanan, tapi hal ini diabaikan dengan memakai ‘baju moral’ yang mengesankan perilaku di kawasan AA tidak seperti di Eropa Barat dan Amerika. Padahal, tidak semua perilaku berisiko tertular HIV/AIDS ada kaitannya secara langsung dengan moral.

Tampaknya, para pemimpin di kawasan Asia dan Afrika akan tetap memilih pembicaraan politik karena hanya beberapa negara di kawasan ini yang sudah menerima HIV/AIDS sebagai fakta medis. Selebihnya, mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan norma, moral dan agama sehingga negara-negara tsb. tidak menjalankan program pencegahan yang realistis.

Epidemi HIV/AIDS sendiri menggerogoti perekonomian karena banyak hal yang terpapar, misalnya, tenaga kerja di berbagai sektor berkurang karena banyak penduduk usia produktif yang meninggal karena penyakit terkait AIDS. Penghasilan keluarga yang berkurang bahkan bisa tidak ada ketika suami mengidap HIV/AIDS karena dia tidak bisa lagi bekerja secara efektif. Bahkan, pada suatu saat akan berhenti atau diberhentikan.

Kebutuhan uang pada keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang mengidap HIV/AIDS pun bertambah al. untuk biaya pengobatan, bisa tes darah, ongkos ke rumah sakit, beli obat-obatan, dll. Bagi keluarga yang tidak didukung oleh asuransi tentulah kondisi ini akan memberatkan.

Di salah satu negara di Asia, misalnya, ada sebuah wilayah yang terkenal dengan cewek-ceweknya yang cantik-cantik yang banyak menjadi pekerja seks komersial (PSK) di kota. Ketika mereka bekerja sebagai PSK mereka mengirim uang ke kampung. Keluarga di kampung memakai uang untuk membeli tanah dan binatang ternak. Tapi, ketika ada di antara mereka yang mengidap HIV/AIDS dan tidak bisa lagi bekerja sebagai PSK, maka semua yang dibeli habis untuk biaya hidup dan pengobatan.

Pengalaman Thailand menghadapi epidemi HIV/AIDS bisa jadi pelajaran bersama. Di awal tahun 1990-an kalangan ahli mengingatkan bahwa Thailand harus menjalankan program penanggulangan yang komprehensif, tapi negara itu anggap remeh karena meraka merasa sebagai bangsa yang berbudaya dan bergama. Kondisi ini sekarang terjadi di banyak negara, seperti Indonesia yang selama ini juga selalu mengedepankan norma, moral dan agama dalam menanggulangi HIV/AIDS. Maka, tidaklah mengherankan kalau sampai 31 Desember 2014 sudah terdeteksi 225.928 kasus HIV/AIDS yang terdiri atas 160.138 HIV dan 65.790 AIDS dengan 11.801 kematian.

Tapi, apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian di Thailand?

Sampai awal tahun 2000-an dana yang dikeluarkan negara untuk penanggulangan HIV/AIDS secara langsung dan tidak langsung mencapai 8,7 miliar dolar AS. Di tahun 2000 saja diperlukan dana 2,2 miliar dolar AS. Devisa yang diperoleh negara itu dari pariwisata hanya cukup dua pertiga dari dana yang dibutuhkan. Nah, kondisi ini akan terjadi di negara lain. Indonesia, misalnya, dana penanggulangan HIV/AIDS akan menggerogoti APBN dan APBD.

Debat Kondom

Pasien-pasien dengan penyakit terkait AIDS tidak tertampung di tempat tidur rumah sakit. Thailand beruntung karena vihara menampung pasien-pasien AIDS tadi. Pertanyaannya: Apakah gereja dan masjid kelak mau menampung pengidap HIV/AIDS yang tidak tertampung di rumah sakit? 

Dengan kasus yang mendekati 1.000.000 pemerintah Thailand pun menjalankan lima program dengan skala nasional secara simultan. Salah satu adalah program “wajib kondom 100 persen” bagi laki-laki yang ngeseks dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran. Program ini menurunkan insiden infeksi HIV baru dengan indikator kasus HIV pada calon taruna angkatan bersenjata.

Isu lain yang menjadi masalah besar adalah harga obat karena ada hak paten obat-obatan terkait dengan HIV/AIDS. Bagi pengidap HIV/AIDS obat antiretroviral (ARV) adalah ‘penyambung nyawa’ karena mereka meminum obat ARV sepanjang hidupnya tanpa ada kemungkinan sembuh.

Begitu pula dengan reagent untuk tes HIV yang juga tidak murah. Di Indonesia, misalnya, tes HIV berkisar Rp 290.000. Kalau saja negara-negara AA menjadikan HIV/AIDS sebagai salah satu tema atau isu yang dibahas tentulah sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup puluhan juta penduduk AA yang terpapar HIV/AIDS. Misalnya, menggalang kerja sama untuk membangun pabrik obat ARV dan reagent untuk tes HIV sehingga tidak lagi tergantung kepada negara produsen obat dan reagent. 

Masalah lain yang tidak kalah peliknya yang menjadi salah satu faktor penghambat dalam penanggulangan epidemi HIV/AIDS adalah: (a) Stigmatitasi (pemberian cap buruk atau negatif) terhadap orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS dan identitasnya diketahui masyarakat dengan kaca mata norma, moral, agama dan hukum. Padahal, tidak semua orang yang tertular HIV/AIDS terkait dengan norma, moral, agama dan hukum, seperti istri yang tertular dari sumai, anak yang tertular dari ibu di kandungan, orang-orang yang tertular melalui transfusi darah, dll., dan (b) Diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS dan identitasnya diketahui masyarakat. Padahal, tidak ada risiko penularan HIV/AIDS melalui pergaulan sosial sehari-hari.

Selain itu mobilitas penduduk AA pun mendorong penyebaran HIV/AIDS pula. Banyak negara di kawasan Asia dan Afrika yang tidak memberikan izin untuk hiburan malam dan industri terkait seks. Tapi, kasus HIV/AIDS di negara-negara itu ternyat juga banyak. Hal itu terjadi karena ada laki-laki dari negara-negara itu yang mencari seks ke negara lain, baik di AA maupun di luar AA.

Di beberapa negara kemiskinan mendorong pelacuran dan perdagangan manusia. Selain untuk ‘perbudakan’ perdagangan manusia juga terkait dengan pelacuran. Kondisi ini menjadi salah satu aspek yang menjadi pemicu penyebaran HIV/AIDS. Pola utama penularan HIV/AIDS di kawasan AA adalah melalui hubungan seksual dalam industri seks sehingga diperlukan langkah bersama yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru di kalangan laki-laki pembeli seks.

Kasus di atas tentulah layak jadi topik pembicaraan di KAA karena menyangkut nasib perempuan dan anak-anak. Singapura, misalnya, meminta laki-laki beristri menjalani tes HIV sukarela jika kembali dari daerah Riau da Kepulauan Riau. Tentu saja hal ini masuk akal karena di dua daerah itu PSK datang dari berbagai daerah bahkan dari negara lain. Kondisinya kian runyam karena pelacuran di Riau dan Kepulauan Riau tidak diregulasi sehingga tidak ada intervensi yang mengharuskan laki-laki pakai kondom setiap kali ngeseks dengan PSK.

Sebuah laporan menunjukkan sejak awal tahun 1990-an penemuan kasus baru di beberapa wilayah sudah mulai menunjukkan grafik yang mendatar, seperti di Amerika, Oseania, Eropa Barat dan Afrika. Sebaliknya di kawasan Asia Pasifik kasus baru HIV/AIDS justru meroket.

Kalau di Amerika, Eropa Barat dan Oseania kasus baru mulai mendatar karena di negara-negara di kawasan itu sudah dijalankan cara-cara pencegahan HIV/AIDS yang konkret, terutama melalui hubungan seksual, terutama pada laki-laki dewasa yaitu memakai kondom pada hubungan seksual yang berisiko: (1) Hubungan seksual di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti, dan (2) Hubungan seksual dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, al. PSK.

Celakanya, di kawasan Asia Pasifik perdebatan soal kondom sudah masuk ke ramah ‘debat kusir’ yang tidak berkesudahan. Kondom dikait-kaitkan dengan moral yaitu dikatakan sebagai legalisasi perzinaan. Padahal, pezina-pezina yang ngeseks dengan PSK tidak akan pernah mau memakai kondom dengan 1001 macam alasan.

Itulah sebabnya banyak kasus HIV/AIDS pada perempuan, khususnya ibu rumah tangga, yang sama sekali tidak melakukan perilaku beisiko tertular HIV/AIDS.

Sedangkan di Afrika penemuan kasus baru mendatar karena penularan lebih banyak terjadi pada bayi. Ini terjadi karena orang-orang dewasa banyak yang mengidap HIV/AIDS sehingga kasus baru pada kalangan dewasa tidak sebanyak di awal-awal epidemi.

Kerja sama dalam sektor penanggulangan HIV/AIDS, memproduksi obat dan reagent serta saling dukung menjadi kerangka kerja sama yang jauh lebih penting bagi negara-negara di Asia dan Afrika daripada hanya sekedar ‘mengaum’ di hingar-bingar globalisasi yang akan tetap dimenangkan oleh negara-negara Barat. ***

14 April 2015

Pelacuran dan "Esek-esek" via Media Sosial Pindah ke Ranjang di Rumah (Kos), AIDS pun Menyebar Tak Terkendali

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

Media Sosial Jadi Lahan Baru Bisnis Esek-esek.” Ini judul berita di inet.detik.com (13/4-2015). Memang, di Facebook dan Twitter tinggal klik ‘bispak’ (cewek bisa pakai), ‘bisyar’ (cewek habis pakai bayar), ‘cewek kampus’, ‘ayam kampus’, dll. sudah muncul gambar-gambar cewek dengan berbagai pos dan berbagai gaya mulai dari yang hanya memakai Bra dan CD sampai yang bugil.

Penutupan lokasi dan lokalisasi pelacuran, di era Orba disebut resos yaitu rehabilitasi dan resosialisasi pekerja seks komersial (PSK) melalui regulasi, di era reformasi meninabobokkan masyarakat karena dikesankan hal itu menghapus atau memupus praktek perzinaan, dalam hal ini pelacuran. Maka, gubernur, bupati dan walikota pun menepuk dada: Di daerah saya tidak ada pelacuran.

Jenis Layanan

Ya, secara de jure itu benar. Tapi, secara de facto praktek pelacuran justru merajelala dalam berbagai bentuk dan dengan modus yang beragam pula.

Lihat saja kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin, 26 tahun, alias Tata alias Mpie di salah satu rumah kos di Tebet, Jakarta Selatan, membuktikan praktek pelacuran melalui jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, Ponsel, dll. Korban disebut-sebut sebagai ‘cewek bispak’ melalui jaringan media sosial. Sebelumnya juga pelacuran online ramai setelah seorang mahasiswi pergurutan tinggi agama di Bandung, Jawa Barat, terbongkar kedoknya sebagai ‘ayam kampus’.

Mulai Jumat sore sampai hari Minggu losmen dan hotel-hotel melati selalu penuh. “Tidak bisa pesan, Pak. Mau nginap langsung saja datang,” kata seorang karyawan hotel melati di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. Rupanya, kalau di-booking itu artinya kamar jadi hak selama 24 jam. Padahal, banyak tamu yang hanya “nginap” dua atau tiga jam. Jadi, kalau di-booking mereka rugi karena dalam 24 jam sudah bisa 5-7 pemesan yang ngamar.

Yang tidak masuk akal adalah tidak sedikit tamu yang datang ke hotel melati itu dengan membawa cewek yang memakai pakaian berpenutup kepala. Kalau mereka suami-istri tentulah hal yang naif harus ngamar di hotel melati karena di kamar kos juga tidak masalah kalau sudah ada surat nikah.

Tentu saja kalau seorang laki-laki membawa cewek ke losmen, hotel melati atau hotel berbintang serta apartemen itu bisa jadi indikator bahwa bisa jadi dia pernah atau sering ganti-ganti pasangan. Begitu juga dengan cewek yang mau dibawa ke ngamar bisa jadi juga pernah atau sering ganti-ganti pasangan.

Itu artinya perilaku mereka berisiko tertular dan menularkan IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Celakanya, di hotel itu sama sekali tidak ada penjangkauan untuk memberikan informasi tentang risiko tertular IMS (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyait yang ditularkan melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah dari pengidap IMS ke pasangan seksnya jika laki-laki atau suami tidak memakai kondom, seperti sifilis, GO, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, dll.) atau HIV/AIDS. Bisa juga dua-duanya sekaligus jika pasangan seks mengidap IMS dan HIV/AIDS.

Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia kian runyam karena praktek pelacuran terjadi melalui media sosial yaitu cewek ‘dipesan’ melalui jaringan media sosial.

Ada juga yang menawarkan diri dengan berbagai persyaratan,tarif, waktu, kondisi dan layanan yang disediakan: bayar DP (uang muka) ke rekening, ada pula yang cash di tempat tidur sebelum ‘bertempur’. Layanan yang diberikan selain seks vaginal ada juga servis BJ (blow job yaitu seks oral), CIF (cum in face atau crot di wajah), CIM (cum in mouth atau crot di dalam rongga mulut), dan servis lain seperti tertera di status media sosial. Juga dijelaskan langkah-langkah yang harus dilalui ‘pemesan’ agar bisa sampai ke peraduan.

Memang, ada juga yang memberikan syrat harus pakai kondom, tapi tidak ada jaminan karena bisa saja laki-laki menolak memakai kondom atau transaksi dibatalkan. Tentu saja cewek ‘bispak’, ‘bisyar’ atau ‘ayam kampus’ tidak punya pilihan lain selain melayani laki-laki yang tidak memakai kondom.

PSK Tidak Langsung

Itu artinya risiko penyebaran HIV/AIDS terbuka luas. Laporan Dijen PP & PL, Kemenkes RI per tanggal 12 Februari 2015 menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS mencapai 225.928 yang terdiri atas 160.138 HIV dan 65.790 AIDS dengan 11.801 kematian. Kasus ini tersebar dari Aceh sampai Papua. Artinya tidak ada daerah yang bebas HIV/AIDS.

Kondisi penyebaran HIV/AIDS kian runyam karena sama sekali tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas HIV/AIDS pada orang-orang yang tertular HIV. Itu artinya banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV/AIDS sehingga mereka pun tidak menerapkan seks (yang) aman, al. laki-laki memakai kondom, ketika melakukan hubungan seksual di dalam dan di luar nikah.

Persoalan lain yang muncul dari cewek ‘bispak’, ‘bisyar’, ‘ayam kampus’, dll. adalah ketika mereka mengalami kejanggalan di vagina, misalnya, ada cairan yang berbau atau tidak berbau mereka minum jamu atau membeli obat di pedagang obat atau membeli obat antibiotik. Kondisi itu menunjukkan mereka tertular IMS. Celakanya, pada perempuan IMS nyaris tanpa gejala seperti pada laki-laki yang akan terasa sakit ketika buang air kecil. Ini yang menjadi masalah besar karena setiap penyakit IMS berbeda obatnya. Pengobatan oleh dokter dilakukan melalui diagnosis setelah ada hasil laboratorium cairan vagina.

Praktek pelacuran yang melibatkan cewek-cewek melalui media sosial menjadi jembatan penyebaran IMS dan HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus yaitu dari laki-laki ke cewek-cewek itu dan dari cewek-cewek itu ke laki-laki yang ngeseks dengan mereka. Kalau laki-laki yang menularkan IMS atau HIV/AIDS ke cewek-cewek itu atau yang tertular IMS dan HIV/AIDS dari cewek-cewek itu mempunyai istri, maka ada risiko penularan IMS dan HIV/AIDS ke istri mereka. Pada akhirnya kalau istri mereka tertular IMS dan HIV/AIDS ada pula risiko penularan kepada bayi yang dikandung istri (vertikal).

Ada laporan yang menyebutkan jumlah laki-laki yang menjadi pelanggan PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata seperti di lokasi pelacuran atau yang di jalanan jumlahnya 6,7 juta. Dari jumlah ini 2,2 juta beristri.

Nah, dengan terbukanya media sosial sebagai saluran pelacuran maka jumlah laki-laki yang berisiko kian banyak karena pelacur yang dipesan melalui media sosial ini adalah PSK tidak langsung.

Jumlah PSK tidak langsung tidak bisa dimonitor karena tidak terpusat di satu tempat. Mereka pun bekerja sendiri-sendiri, sebagian ada yang dikendalikan germo, sehingga PSK tidak langsung tidak bisa diintervensi untuk sosialisasi risiko tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Itu artinya penyebaran IMS dan HIV/AIDS melalui PSK tidak langsung menjadi penyumbang terbesar dalam epidemi HIV/AIDS yang pada gilirannya akan menjadi pemicu “ledakan AIDS” di Tanah Air. *** 

Ilustrasi (Repro: merdeka.com)

10 April 2015

Tes HIV Hanya pada Ibu Hamil Membuat Suami Sebagai Penyebar HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Komitmen YHI Papua Terhadap Program KIA yang Terintegrasi HIV-AIDS. Setiap Ibu yang Periksa Kehamilannya Wajib Test VCT” Ini judul berita di Harian “Cenderawasih Pos”, Jayapura, Papua (9/4-2015).

Ada beberapa hal yang bisa ditanggapi dari judul berita tsb, yaitu:

Pertama, “Test VCT”. Ini rancu bin ngaco karena VCT (voluntary counseling and test) adalah sistem atau cara dalam tes HIV yakni tes HIV sukarela dengan konseling sebelum dan sesudah tes HIV. Yang benar adalah tes HIV melalui VCT.

Kedua, di judul disebut “wajib test VCT”. Lho, ini bagaimana? Koq bisa? Sistemnya sukarela tapi tesnya wajib.

Ketiga, langkah tes HIV terhadap ibu hamil menunjukkan patriarki yang bias gender karena ibu hamil itu jika terdeteksi mengidap HIV/AIDS adalah korban (dari suaminya).

Keempat, tes HIV terhadap ibu hamil adalah langkah di hilir. Artinya, YHI Papua membiarkan ibu-ibu di Papua tertular HIV dahulu, lalu kalau sudah hamil baru menjalani tes HIV. Ini merupakan pembiaran yang merupakan perbuatan melawan hukum dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM).

Di bagian lain dalam berita tsb. disebutkan “ .... yayasan ini mendorong ibu hamil (bumil) untuk memahami secara dini serta melakukan pemeriksaan Voluntary Counseling Test ....”

Dalam program pencegahan penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya langkah pertama adalah tes HIV terhadap ibu-ibu hamil. Yang perlu dijelaskan ke perempuan, dalam hal ini ibu rumah tangga atau istri, adalah program tsb. yaitu program pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya. Nah, program itu dilakukan dengan tes HIV kepada ibu hamil. Jika ibu hamil positif mengidap HIV/AIDS, maka program pencegahan pun dijalankan.

Dalam berita soal ibu hamil yang ‘wajib test VCT’ sama sekali tidak dikaitkan dengan suami. Padahal, jika seorang ibu rumah tangga terdeteksi mengidap HIV/AIDS melalui tes waktu hamil itu membuktikan suaminya mengidap HIV/AIDS.

Lalu, apa langkah YHI untuk meminta suami ibu-ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mau menjalani tes HIV?

Pengalaman di beberapa daerah menunjukkan suami ibu-ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS menolak untuk menjalani tes HIV.

Maka, kalau hal itu yang terjadi suami yang mengidap HIV/AIDS itu menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Bisa kepada istrinya yang lain kalau istrinya lebih dari satu, bisa juga ke selingkuhannya, pacarnya atau PSK. Bahkan bisa jadi ke waria atau sesama lelaki. Itu artinya penyebaran HIV/AIDS terus terjadi.

Dalam kaitan itulah diperlukan konseling pasangan. Ibu atau perempuan yang hamil diwajibkan membawa suami atau pasangannya untuk menjalani konseling. Jika suami atau pasangan ternyata perilaku seksnya berisiko tertular HIV/AIDS, maka pasangan itu harus menjalani tes HIV.

Tentu akan ada suara-suara sumbang, “Itu melanggar HAM.”

Nah, kita pakai kiat Amerisa Serikat (AS). Dalam satu wawancara dengan Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM (K), pakar hematologi dan pejuang AIDS, Prof Beri mengatakan bahwa di AS semua orang yang berobat, semua penyakit, ke rumah sakit pemerintah wajib tes HIV.

Mengapa hal itu tidak diprotes warga AS yang dikenal sebagai negara demokrasi?

Ya, HAM dilanggar jika tidak ada pilihan. Nah, kalau tidak mau tes HIV jangan berobat ke rumah sakit pemerintah.

Maka, wajib konseling pasangan itu pun diperuntukkan bagi yang periksa kehamilan ke sarana kesehatan pemerintah. Kalau tidak mau konseling pasangan, silakan periksan kehamilan ke sarana kesehatan nonpemerintah.

Hanya dengan mewajibkan konseling pasangan yang dilanjutkan dengan tes HIV pasangan salah satu mata rantai penyebaran HIV bisa diputus. Kalau hanya istrinya yang menjalani tes HIV, maka penyebaran HIV/AIDS terus terjadi melalui suami ibu yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Dalam kerangka yang lebih komprehensif diperlukan intervensi melalui regulasi yang memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK). Regulasi ini hanya efektif jika pelacuran dilokalisir dengan regulasi sehingga ada celah menerapkan sanksi hukum.

Tanpa intervensi terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK, maka insiden penularan HIV baru akan terus terjadi. Pada gilirannya ibu-ibu rumah tangga pun kian banyak pula yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Jika tidak ditangani anak-anak yang mereka lahirkan pun akan tertular HIV/AIDS. Kalau ini yang terjadi tinggal menunggu waktu saja untuk sebuah “ledakan AIDS”. *** 

08 April 2015

Terpecahkan, Teka-teki Penyebaran HIV dalam Tubuh!


Ilustrasi Human Immunodeficiency Virus (HIV)  (Repro: tribunnews.com/Fine Art America)

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang CD4 sel T manusia, menurunkan kekebalan tubuh, memicu Acute Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Namun demikian, pola penyebaran virus itu masih teka-teki.

Berusaha memecahkan teka-teki itu, pakar HIV sekaligus keamanan jaringan University College London, Changwang Zhang, mengembangkan simulasi. Modelnya terinspirasi dari virus Conficker menginfeksi jaringan militer dan polisi Eropa pertama kali tahun 2008.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa penyebaran HIV di dalam tubuh mirip dengan pola penyebaran Conficker. "Keduanya memakai mekanisme hibrida, bertahan dalam waktu lama, dan sulit dihilangkan," kata Zhang.

Untuk masuk ke sebuah jaringan, Conficker memilki dua jalur, yaitu antar komputer secara langsung dan lewat internet. HIV juga punya dua jalur, yaitu lewat darah dan langsung antar-sel.

"Model yang kami kembangkan menjelaskan ciri-ciri penting untuk memprediksi proses infeksi," kata Zhang seperti dikutip Daily Mail, Selasa (7/4/2015). Zhang menambahkan, model itu akan membantu memerangi dua virus komputer dan biologis itu.

Untuk mengonformasi pemodelan, Zhang meneliti 17 pasien HIV positif di London. Hasilnya, model penyebaran secara hibrida paling pas untuk menjelaskan kondisi pada pasien tersebut.

Terkait HIV, karena diketahui menyebar secara hibrida, maka penyebaran antar-sel secara langsung tak bisa diremehkan. Malah, pola penyebaran itulah yang kemungkinan berperan lebih besar mempercept perkembangan HIV ke AIDS.

Benny Chain, ilmuwan University College London yang turut serta meneliti mengatakan, "Jumlah HIV dalam aliran darah selalu lebih rendah dan model kami menunjukkan bahwa HIV dalam darah saja tak akan mampu menyebabkan AIDS."

"Kemungkinan besar HIV bersembunyi di tempat yang punya populasi sel T tinggi, seperti saluran pencernaan, dan kemudian menggunakan mekanisme antar-sel untuk menyebar secara efisien," imbuhnya.

Adanya HIV yang bersembunyi dalam tempat kaya sel T itu menunjukkan perlunya penggunaan ARV segera. Sebab, bagaimana bila begitu terinfeksi HIV langsung bersembunyi di tempat tersebut?

"Model kami memberi petunjuk bahwa memblokir penyebaran antar-sel akan mencegah perkembangan HIV menjadi AIDS, menggarisbawahi perlunya cara perawatan baru," jelas Chain. Ke depan, Chan dan Zhang berencana mempelajari langsung penyebaran virus serupa HIV pada hewan. (tribunlampung/kompas.com).

07 April 2015

Menggalang Partisipasi Masyarakat Memupus Stigma dan Diskriminasi Terhadap Odha

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) akan mengadakan kegiatan “Hugging Run”  yang bertema “Keluarga adalah Rumah Terbaik untuk ODHA” dengan tagline “One  Hug One Life” di Parkir Timur Senayan, Jakarta, tanggal 30-31 Mei 2015.

Acara tsb. digalang oleh PKBI karena banyak Orang dengan HIV/AIDS  (Odha) yang  masih mengalami stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda). Perlakuan tsb. tidak hanya oleh masyarakat, tapi juga kerap dilakukan oleh keluarga Odha itu sendiri.

Laporan Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, tanggal 12 Februari 2015, tentang Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan IV Tahun 2014: Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS Tahun 1987-Desember 2014 sebanyak 225.928 yg terdiri atas HIV 160.138 dan AIDS 65.790 dengan 11.801 kematian. Sekitar 71,9 % kasus HIV/AIDS terdeteksi pada rentang usia antara 25-49 tahun.

Stigma dan diskriminasi yang dihadapi Odha hingga saat ini sudah layak menjadi perhatian kita semua. Bahkan, unit terkecil, yaitu keluarga, masih saja ada yang melakukan stigma dan diskriminasi terhadap anggota keluarganya yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Kondisi ini akan memerparah kondisi psikologis Odha. Padahal, mereka menggantungka harapan kepada keluarga agar menerima mereka dengan perhatian dan dukungan.

Lagi pula tidak ada kaitan langsung antara norma, moral, agama dan hukum dengan penularan HIV/AIDS karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual, misalnya, bisa terjadi di dalam dan di luar nikah. Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi (saat terjadi) hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom ketika hubungan seksual di dalam dan di luar pernikahan yag sah (sifat hubungan seksual).

Maka, tidak ada alasan untuk melakukan stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS karena tidak semua orang yang tertular HIV terkait dengan pelanggatan norma, moral, agama dan hukum. Linat saja ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya melalui hubungan seksual yang sah dan halal di dalam ikatan pernikahan yang sah.

Pengalaman Randi, bukan nama sebearnya, seorang Odha di Jakarta ini memberikan gambaran stigma dan diskriminasi yang mereka hadapi. “Ketika di malam hari dalam suasana yang sangat tenang bersama mama dan kakakku, aku memberitahukan  hasil tes HIV yang ternyata hasilnya positif kepada mereka. Alhasil mamaku sangat kecewa dan sempat marah kepadaku, apalagi kakakku langsung menarik anaknya untuk menjauh dariku.”

Hal yang saja juga dialami oleh Erna, juga bukan nama sebenarnya, yang juga seorang Odha. Ini pengalaman Erna di lingkungan keluarganya. “Ketika keluarga mengetahui status HIV saya, mama hanya melarang saya untuk memegang keponakan saya yang masih kecil karena kasihan kalau tertular.” Bagi Erna sikap seperti itu wajar, “Karena mama belum paham dengan HIV,” ujar cewek ini.

Terkait dengan acara yang akan dilangsungkan, menurut Inang Winarso, Direktur Eksekutif PKBI,  pada acara Media Gathering bulanan PKBI di Jakarta (6/4-2015): “Event ini merupakan rangkaian kegiatan terkati dengan peringatan ‘Hari Keluarga Nasional’ 29 Juni 2015.”

Acara tsb. diramaikan dengan kegiatan olah raga dasosialisasi n informasi HIV/AIDS yang akan dilaksanakan secara serentak di 3 (tiga) kota yaitu Bandung, Denpasar, dan Jakarta selama 2 (dua) hari yakni pada tanggal 30 – 31 Mei 2015. “Kita berharap dengan kegiatan ini rekan-rekan media bisa memberikan informasi HIV/AIDS yang komprehensif agar saudara-saudara kita yang terinfeksi HIV tidak mengalami stigma dan diskrimasni,” kata Lola Lamanda, Business Development Manager “Limaplus Komunika”, yang akan menjalakan acara “Hugging Run”  ini.

Ajakan Lola merupakan harapan Inang: “Diharapkan dengan bentuk kegiatan seperti ini masyarakat dapat lebih paham isu HIV/AIDS dan terutama bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga HIV+ tidak lagi melakukan stigma dan diskriminasi karena pada prinsipnya keluarga adalah rumah terbaik bagi Odha.”

Salah satu kegiatan tanggal 31 Mei 2015 adalah Hugging Run 5K yang akan dikemas dengan kegiatan olah raga (futsal dan basket). Tim futsal Odha akan berhadapan dengan artis-artis ibu kota.

Sedangkan sosialisasi HIV/AIDS dilakukan al. melalui talk show, diskusi, Tes HIV Bersama,  dan Bazar.

Acara lain yang tidak kalah pentingnya adalah Malang Renungan AIDS Nasional (MRAN) 2015 yang merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk mengenang suami, istri, anak, keponakan, cucu, pacar, suami, istri, teman, sahabat, dll. yang sudah berpulang karena penyakit terkait AIDS. Dengan mengenang mereka masyarakat diharapkan bisa memetik hikmah agar tidak lagi ada yang melakukan perilaku yang berisik tertular HIV/AIDS.

Acara dua hari itu akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk Odha dan keluarganya serta dimeriahkan oleh artis-artis ibu kota.

PKBI adalah sebuah organisasi gerakan yang didirikan pada tahun 1957 yang berkantor pusat di Jakarta. PKBI memelopori gerakan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Hingga saat ini PKBI memiliki kantor daerah di 27 provinsi di Indonesia dan terus memperjuangkan hak warga negara agar hak kesehatan terpenuhi secara menyeluruh termasuk kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi. *

Foto: Repro: moneyaware.co.uk