21 Juni 2015

Sepenggal Kenangan dengan Chris “Babe” Green “Bergelut” dengan HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap AIDS WatchIndonesia

Saya ingat betul perkenalan saya pertama kali dengan Babe, panggilan akrab Chris W. Green, aktivis HIV/AIDS sejak awal 1990-an di Jakarta, adalah di bulan puasa (1998). Waktu itu Bu Lia, Dr Rosalia Sciortino di Kantor Ford Foundation Jakarta, mengadakan diskusi tentang kondom. Malam ini, 21/6-2015, pkl 21.00 saya baca status Danel Marguari, Yayasan Spiritia Jakarta, yang mengatakan bahwa Babe akan disemayamkan di RS St Carolus, Jakarta Pusat, sampai tanggal 23/6-2015 selanjutnya akan dikremasi. Babe pergi untuk selama-lamanya sekitar pukul 15.30, 21/6-2015, di RS Siloam, Tangerang, Banten.

Ketika itu Babe menunjukkan newsletter “WartaAIDS” yang berisi informasi tentang HIV/AIDS. Sebagai wartawan yang bergelut di isu HIV/AIDS, ketika itu bekerja di Tabloid ‘MUTIARA’ Jakarta, saya tertarik membantu Babe. Usul saya kemudian yaitu menuliskan berita dan ulasan terkait AIDS dengan kasus Indonesia diterima Babe.

Saya pun bekerja di rumahnya di bilangan Pondok Gede, ini sudah masuk Bekasi, tapi di pinggiran Jakarta Timur. Di sana kami mengelola beberapa newsletter yang menyebarluaskan informasi HIV/AIDS dan Narkoba. Ada “WartaAIDS” dan “HindarAIDS” yang didanai oleh Ford Foundation dengan dukungan Bu Lia.

“Saya heran, Bang, koq Abang tidak kaget.” Itulah kira-kira tanggapan Babe terhadap reaksi saya ketika dia menceritakan orientasi seksnya. Waktu itu saya hanya tertawa kecil mendengar cerita Babe tentang “siapa” dia. Babe mengatakan bahwa dia tidak mau saya mengetahui informasi tentang dia dari orang lain. Hal yang sama juga dia lakukan dengan yang lain.

Bagi saya orientasi seks dan semua hal yang terkait dengan patologi sosial adalah hal biasa karena alm Damang (ayah) dulu di akhir tahun 1960-an sampai tahun 1970-an memberikan pekerjaan kepada seorang waria dan menyediakan rumah kepada seorang pekerja seks. Ayah saya memang jadi sasaran fitnah dan caci maki. Hal yang saya alami setiap hari. Banyak cerita yang saya dengar, waktu itu saya di SD dan ketika di SMP cerita-cerita itu tidak mengganggu saya lagi.

Toleransi saya dengan Babe berlanjut. Babe menyediakan sajadah di salah satu kamar di rumahnya. “Silakan, Abang salat,” kata Babe sambil menunjukkan kamar dan sajadah yang dia sediakan. Saya sendiri sebenarnya lebih memilih salat di musola di perumahan itu, tapi karena Babe sudah menyediakan sarana maka saya pun memakainya.

Juga di bulan puasa, “Abang bikin ulasan tentang cara berpuasa bagi Odha,” pinta Babe. Saya pun mencari bahan-bahan di buku-buku fiqih dan wawancara dengan ahli. Ulasan kami dimuat di “WartaAIDS”.

Setiap hari kami diskusi soal berita yang akan dimuat di newsletter karena sumber berita itu dari luar negeri. Artinya, kami mencari informasi yang ‘nyambung’ dengan kasus di Indonesia.

Karena Babe tahu persis kalau hari Senin dan Kamis saya sering puasa, maka jika tiba waktu sarapan dan makan siang Babe selalu minta maaaf, “Bang, maaf, ya kam sarapan dulu.” Bagi saya hal itu sangat berharga karena Babe menghargai yang saya lakukan dan sama sekali kami tidak pernah terlibat pembicaraan tentang SARA (suku, agama, ras dan antar golongan). 

Saya sendiri sejak kecil sudah diperkenalkan alm. Damang dengan beragama kehidupan, al. teman di kantornya, pemilik kantin yang selalu menyediakan bumbu pecal, dan hampir tiap malam saya dibawa menonton di bioskop. Tapi, kalau ada adegan ciuman dia pun menyuruh saya menunduk. Tapi, setelah SMP saya nonton sendiri karena salah satu karyawan di bioskop itu Uda (Oom) saya sehingga bisa masuk biar pun belum berumur 17 tahun. Waktu itu umur sangat ketat karena harus menunjukkan KTP kalau mau nonton dengan batas usia 17 tahun ke atas.

Permintaan untuk berlanggaan dan tanggapan yang kami terima menunjukkan betapa informasi HIV/AIDS belum menjangkau banyak orang. Untunglah Ford Foundation juga mendanai ongkos kirim sehingga newsletter itu kami kirim kepada siapa saja yang minta berlangganan.

“Oon duduk di atas,” kata tukang becak di mulut jalan perumahan tempat Babe. Waktu itu banjir besar melanda Jabodetabek. Air sebatas pinggang orang dewasa. Saya sampai ke rumah Babe. Astaga, rumah Babe bagaikan kapal pecah karena jadi tempat menampung penduduk yang kebanjiran. Yang saya lihat hanya rumah Babe ada ‘pengungsi’.

Kami sering ‘berdebat’ soal terjemahan karena Babe orang Inggris asli sehingga makna kata lebih pas dia terjemahkan. Pada akhirnya hasil terjemahan yang kami hasilkan benar-benar berbatu Indonesia dan kata-katanya pun baku. Misalnya, tema Hari AIDS Sedunia (HAS) tahun 1999: Listen, Learn, Live. Banyak versi tapi tidak baku. Kami sepakat terjemahannya adalah: Dengar, Simak, Tegar. Ini kami cari padanan kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Simak dan tegar itu bermakna luas berbeda dengan terjemahan harfiah, misalnya, belajar dan hidup.

Ketika Bu Lia diganti oleh Dr Meiwita Budhiharsana konsentrasi saya beralih ke kesehatan reproduksi, tapi kontak dengan Babe terus berlanjut. Terutama menyangkut berita HIV/AIDS di media massa nasional, Babe selalu minta tanggapan saya dan saya pun selalu mengirimkan tanggapan dalam bentuk tulisan atau Surat Pembaca ke media cetak yang memuat berita yang kami diskusikan.

Tahun 2008 Babe meminta saya menjadi narasumber dan instruktur workshop “Berhubungan dengan Media dan Cara Penulisan Berita HIV/AIDS untuk peer group jaringan Odha Yayasan Spirita” di Kota Jambi, Jambi.

Tahun 2000 saya dan Babe jadi Anggota Panel Seleksi Proposal ‘Masri Singarimbun Research Award’ Tahap IV “Penyalahgunaan Narkoba” yang diselenggarakan Pusat Penelitian Kependudukan-Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta. Kami terbang ke Yogyakarta. Selesai kegiatan di Bulaksumur, kami berpisah karena ada kegiatan masing-masing. Tawaran untuk menginap kami tolak karena kami memilih jalan sendiri. “Saya mau ke rumah saudara, Bang,” kata Babe sambil memanggil becak. Babe menjalin hubungan keluarga dengan sebuah keluarga di Yogyakarta.

Setiap kali bertemu kami selalu terlibat dalam diskusi tentang HIV/AIDS, termasuk masalah-masalah yang terkait dengan orientasi seks. Beberapa kali kami kecewa membaca berita yang tidak objektif tentang HIV/AIDS dan seks. Belakangan saya kabari Babe bahwa saya mengurangi frekuensi mengirim tanggapan ke media cetak karena saya khawatir akan ada nada sumbang terhadap saya.

Di ICAAP Bali, 2009, kami ngobrol panjang-lebar di bawah pohon kelapa sambil menunggu angkutan wira-wiri yang disediakan panitia. Lagi-lagi Babe mengangkat bahu ketika saya tanya apa yang menarik dari kongres itu untuk dibagi ke masyarakat.

Saya lupa kapan persisnya pertemuan saya terakhir dengan Babe. Itu tidak jadi masalah karena kami satu cakupan dalam upaya menyebarluaskan informasi HIV/AIDS yang realistis. Saya akan terus melanjutkan niat kami agar tidak ada lagi informasi HIV/AIDS yang simpang-siur dan menyesatkan.

Selamat jalan, Babe. Semoga Dia memberimu ampunan di alam sana. ***

Ilustrasi (Repro: www.youtube.com)

20 Juni 2015

Ironi Raperda AIDS Prov Bengkulu, Penyebaran AIDS Terjadi Justru Karena Laki-laki Tidak Pakai Kondom


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

“ .... ketika akses terhadap kondom dibatasi, warga, utamanya anak muda yang belum menikah, akan berhenti melakukan seks di luar nikah.” Ini pendapat anggota DPRD Bengkulu Septi Yuslinah dalam berita “Cegah HIV dengan Pembatasan Kondom, DPRD Bengkulu Dikritik” (kompas.com, 20/6-2015).

Ada hal yang mengganjal dari pendapat anggota dewa yth. ini, yakni: Apa yang dimaksud dengan ‘remaja akan berhenti melakukan seks di luar nikah’ itu dengan siapa?

Fakta Medis

Fakta menunjukkan bahwa remaja yang ngeseks dengan pekerja seks komersial (PSK) justru tidak mau memakai kondom. Ada atau tidak ada kondom tetap saja ada remaja laki-laki yang menyalurkan dorongan hasrat seksual dengan PSK. Kondisi inilah yang membuat mereka berisiko tertular HIV/AIDS atau IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja siga/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, dll.) atau dua-duanya sekaligus.

Jika yang dimaksud Septi adalah hubungan seks dengan pacar, maka fenomena yang terjadi sekarang adalah pasangan muda-mudi melakukan hubungan seksual dalam bentuk seks oral (penis masuk ke dalam mulut dan lidah menjilati vagina) dan seks anal (penis masuk ke dalam anus).

Tentu saja seks anal dan seks oral tidak membutuhkan kondom karena kedua bentuk variasi penyaluran dorongan seks itu tidak akan menyebabkan kehamilan.

Yang jadi persoalan besar adalah kalau laki-laki atau remaja putra yang dioral oleh cewek mengidap IMS, terutama kencing nanah dan raja singa, maka di penis ada luka dan nanah. Memang, dalam air mani dan sperma ada protein. Tapi, kalau kemudian air mani mengandung HIV/AIDS dan ;penis bernanah, tentu selain protein ada pula bakteri dan virus yang tertelan.

Jika dikaitkan dengan penularan HIV/AIDS, maka pernyataan Septi tentang ‘seks di luar nikah’ pun amat naif karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bisa terjadi karena kondisi (saat terjadi) hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua pasangan yang melakukan hubungan seksual mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom selama hubungan seksual, bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, zina, melacur, selingkuh, seks anal, seks oral, dll.).

Jika pasangan yang melakukan hubungan seksual di luar nikah dua-duanya tidak mengidap HIV/AIDS (HIV-negatif), maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun laki-laki tidak memakai kondom selama hubungan seksual.

Septi pun melanjutkan: "Hal ini (akses terhadap kondom dibatasi-pen.) dilakukan semata-mata untuk mencegah penularan HIV/AIDS di Bengkulu yang semakin meningkat."

Diberitakan bahwa di Prov Bengkulu sudah terdeteksi 600 kasus HIV/AIDS.

HIV/AIDS adalah fakta medis yaitu bisa diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran, sehingga pembahasan tentang HIV/AIDS pun berpijak pada fakta medis.

HIV adalah virus yang tergolong retrovirus yaitu virus yang mereplikasi diri (menggandakan diri) di sel-sel darah putih manusia karena kehidupan harus ada unsur RNA dan DNA. HIV mempunyai RNA sehingga ketika HIV hendak menggandakan diri dibutuhkan DNA. Ini ada di sel darah putih sehingga sel darah putih manusi dijadikan HIV sebagai ‘pabrik’ untuk menggandakan diri. Setiap hari HIV berkembang biak di dalam tubuh manusia yang mengidap HIV antara 10 miliar – 1 triliun.

Mata Rantai

HIV ditularkan dari orang yang mengidap HIV/AIDS ke orang lain antara lain melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom.

Untuk mencegah agar tidak terjadi penularan HIV dari pengidap HIV/AIDS ke orang lain melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah adalah dengan menghindarkan pergesekan penis dengan vagina. Salah satu caranya adalah dengan memakai kondom.

Maka, penyebaran HIV/AIDS di Prov Bengkulu terjadi bukan karena akses terhadap kondom tidak dibatasi, tapi karena laki-laki yang melakukan hubungan seksual berisiko yaitu dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, tidak memakai kondom. Ini fakta.

Di bagian lain Septi mengatakan: "Kita perlu mengatur penjualan alat kontrasepsi di masyarakat."

Penggunaan alat-alat kontrasepsi (alat untuk mencegah kehamilan), kecuali kondom, sudah diatur karena alat-alat tsb. pil KB, suntikan, spiral, dan implant serta bedah vasektomi serta tubektomi hanya untuk pasangan suami-istri. Alat-alat kontrapsi ini bukan alat mencegah penularan HIV/AIDS.

Mengapa kondom tidak diregulasi? Analoginya adalah kondom bisa menegah penyebaran IMS dan HIV/AIDS sehingga harus mudah diperoleh.

Tampaknya, sasaran Raperda AIDS itu adalah remaja. Ini naif karena:

Pertama, mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat adalah laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa yang tertular HIV akan menularkan HIV ke pasangannya, ke istri bagi yg berkeluarga (bahkan ada yang beristri lebih dari satu), ke pacar, ke selingkuhan dan ke PSK. Kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada ibu rumah tangga karena mereka ditulari suaminya.

Kedua, remaja yang tertular HIV/AIDS menjadi terminal terkahir. HIV/AIDS hanya pada dirinya karena mereka tidak mempunyai istri. Remaja bukan mata rantai penyebaran HIV/AIDS.

Dalam berita ada pula ditampilkan Melanie Tedja, seorang pengguna media sosial, bahkan membuat petisi online di change.org yang menentang rencana tersebut.

‘Seks Bebas’ Menyesatkan

Disebutkan oleh Melanie bahwa logika DPR Bengkulu tersebut adalah:

(1) Dengan membatasi penjualan kondom, anak muda akan lebih takut melakukan seks bebas

(2) Jika lebih sedikit orang yang melakukan seks bebas maka penyebaran HIV akan menurun

Menurut saya pribadi, ini logika yang cemerlang.

Pendapat Melanie Tedja ini menggambarkan pandangan banyak orang di Indonesia terkait dengan HIV/AIDS yang justru menyesatkan.

‘Seks Bebas’ adalah istilah yang rancu bin ngaco karena tidak jelas maknanya. ‘Seks bebas’ adalah terjemahan bebas dari free sex yang justru tidak ada dalam kamus-kamus Bahasa Inggris.

Kalau Melanie mengartikan ‘seks bebas’ sebagai zina atau hubungan seksual di luar nikah, maka lagi-lagi Melanie ngawur jika mengaitkan ‘seks bebas’ dengan HIV/AIDS karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, seks bebas, zina, dll.), tapi karena kondisi (saat terjadi) hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom selama terjadi hubungan seksual.

Untuk menurunkan insiden infeksi penularan HIV baru, terutama di kalangan dewasa, pilihan ada di tangan kita, yaitu tidak melakukan hubungan seksual yang berisiko:

(a) Laki-laki dewasa tidak melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, perempuan yang berganti-ganti;

(b) Laki-laki dewasa tidak melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK langsung (PSK yang kasat mata yaitu PSK di lokalisasi pelacuran, di rumah bordir, dan di jalanan) dan PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek panggilan, ‘artis’ prostitusi online, cewek pub, cewek kafe, cewek pemijar, ABG, cewek bispak, cewek bisyar, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.);

(c) Perempuan dewasa tidak melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti.
Masalahnya adalah: Apakah ada yang bisa mengawasi perilaku-perilaku di atas?

Tentu saja tidak bisa. Maka, pilihan lain adalah memberikan alat yang bisa menegah penulran HIV/AIDS bagi orang-orang yang lepas kontrol sehingga tidak bisa mengendalikan dorongan syahwatnya.

Tanpa langkah-langkah yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di Prov Bengkulu khususnya dan di Indonesia umumnya akan tibalah saatnya kelak pada “ledakan AIDS”. ***

18 Juni 2015

Ratusan “Hijaber” Tertular HIV/AIDS, Koq Bisa, Sih?

Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa mengatakan sebanyak 564 perempuan di Kota Batang, Jawa Tengah, positif terinfeksi penyakit HIV-Aids. Yang mengejutkan, kata Khofifah, 90 persen dari para perempuan tersebut adalah perempuan berhijab. (Ratusan Hijaber Terinfeksi HIV/AIDS, Ini Penyebabnya, tempo.co, 8/6-2015).

Dengan fakta ini salah satu mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS sudah dipatahkan yaitu HIV/AIDS menular karena zina. Ratusan perempuan itu melakukan hubungan seksual dengan suaminya dalam ikatan pernikahan yang sah.


Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual terjadi di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual) karena saat terjadi hubungan seksual salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dengan suami tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual (kondisi hubungan seksual).

Suami mereka tertular HIV/AIDS al. melalui hubungan seksual yang bisa saja di dalam nikah karena bisa saja suami tsb. beristri lebih dari satu. Kalau salah satu di antara beberapa istri tsb. mengidap HIV/AIDS, maka istri-istri lain pun berisiko tertular HIV/AIDS dengan suami sebagai penyebar.

Ada juga suami yang tertular HIV/AIDS dari pekerja seks komersial (PSK) langsung (PSK yang kasat mata seperti di lokasi pelacuran dan jalanan) atau dari PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek panggilan, pelacuran artis online, ayam kampus, cewek kafe, cewek pub, dll.).

Di bagian lain Khofifah mengatakan bahwa setelah didata, para perempuan malang itu bukanlah wanita nakal semacam pekerja seks. Bahkan, data menunjukkan 90 persen dari 564 perempuan yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS itu memakai hijab atau jilbab.

Bu Menteri ini memakai moralitas dirinya dalam menilai PSK dengan mengatakan PSK itu sebagai “wanita nakal”. Nah, celakanya Bu Menteri tidak menyebutkan apa julukan bagi suami yang berzina, al. melacur dengan PSK. Laki-laki, terutama yang beristri, tidak sekedar berzina tapi mereka pun sudah melakukan penyelengan moral yang juga dilarang agama dan hukum.

Disebutkan pula bahwa Khofifah memastikan secara perlahan akan menutup tempat lokalisasi di Indonesia. Salah satu wilayah yang jadi fokus Khofifah adalah wilayah Jawa Timur. 

Pertanyaan untuk Bu Menteri: Apakah dengan menutup lokasi atau lokalisasi pelacuran otomatis akan menghentikan praktek pelacuran?

Tentu saja tidak. Maka, yang jadi persoalan bukan lokasi pelacuran tapi perilaku sebagian laki-laki, ada juga yang beristri, yang gemar melacur. Biar pun tidak ada lokasi pelacuran tidak berarti tidak ada PSK.

Menurut Khofifah sudah 12 lokalisasi pelacuran yang ditutup di Jawa Timur. Pertanyaan untuk Khofifah: Apakah laki-laki di 12 kota atau kabupaten yang lokalisasi pelacurannya ditutup otomatis tidak ada lagi laki-laki, termasuk suami, yang melacur?

Maka, dengan menutup lokalisasi pelacuran tidak otomatis menghentikan praktek pelacuran. Yang bisa dilakukan hanyalah menurunkan insiden infeksi HIV baru melalui hubungan seksual dengan PSK. Tapi, ini hanya bisa dilakukan kalau pelacurna dilokalisir yaitu dengan memaksa laki-laki memakai kondom (AIDS di Indonesia Akan Terus Menyebar Selama Masih Ada Laki-laki Yang Beli Seks).

Biar pun satu mitos sudah digugurkan, tapi masih banyak mitos yang menjadi penghalang dalam penanggulangan HIV/AIDS. *** 

AIDS di Indonesia Akan Terus Menyebar Selama Masih Ada Laki-laki Yang Beli Seks



Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

“John menambahkan, penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seksual tersebut dilakukan di lokasi-lokasi berisiko, atau disebut lokasi-lokasi kunci, yang tempatnya cenderung menyebar.” Pernyataan Kepala Bidang Monitoring dan Evaluasi KPAP DKI Jakarta, John Alubwaman, ini ada dalam berita “Hubungan Seksual, Penyebab Terbesar Penyebaran AIDS” (kompas.com, 17/6-2015).

Pernyataan itu yang membuat banyak orang menganggap bahwa HIV/AIDS itu tumbuh dan berkembang di tempat-tempat yang terjadi hubungan seksual di luar nikah, seperti lokasi atau lokalisasi pelacuran, panti pijat, dll.

Seperti yang dialami oleh penulis ketika jadi pemateri di sebuah pertemuan tentang HIV/AIDS di Kota Pekanbaru, Riau (2012), ketika penulis katakan bahwa HIV/AIDS di tempat-tempat berisiko itu dibawa oleh laki-laki seorang wartawan (waktu itu dia mengaku Kompas TV) menyanggah, “Apakah sudah ada penelitiannya?”

Fenomena Gunung Es

Secara empiris hal itu adalah fakta karena sebagai virus HIV tidak bisa tumbuh dan berkembang sendiri dari material alam. HIV dalam jumlah yang bisa ditularkan hanya ada di dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani dan semen (laki-laki), cairan vagina (perempuan) dan air susu ibu/ASI (perempuan). Nah, HIV dibawa oleh laki-laki lalu ditularkan ke pekerja seks langsung di lokasi pelacurann, dan dibawa oleh laki-laki lalu ditularkan ke pekerja seks tidak langsung di panti pijat, cafe, pub, dll.

Maka, pernyataan di atas akan lebih bermakna kalau dideskripsikan secara jelas yaitu penyebaran HIV/AIDS dilakukan oleh laki-laki yang perilaku seksnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yaitu laki-laki yang sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah. Laki-laki yang mengidap HIV/AIDS menularkan HIV ke pekerja seks langsung dan tidak langsung, selanjutnya ada pula laki-laki lain yang tertular HIV dari pekerja seks langsung dan pekerja seks tidak langsung yang mengidap HIV/AIDS karena ditulari oleh laki-laki (Lihat Gambar).

Dengan kasus kumulatif HIV/AIDS yang mencapai 32.782 tentulah penyebaran HIV/AIDS di Jakarta sudah “lampu kuning” karena jumlah yang yang terdeteksi ini hanya sebagian kecil dari kasus yang ada di masyarakat. Soalnya, penyebaran HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Jumlah yang terdereksi (32.782) digambarkan sebagai puncak gunung es yang mencuat ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es yang ada di bawah permukan air laut.

Terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS di Jakarta dan daerah lain di Indonesia persoalan besar adalah tidak bisa dilakukan intervensi berupa penerapan seks aman (laki-laki selalu memakai kondom ketika ngeseks dengan pekerja seks) karena praktik hubungan seksual yang melibatkan pekerja seks langsung dan pekerja seks tidak langsung terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Seperti dikatakan John, tempat-tempatnya cenderung menyebar karena Jakarta tidak memiliki (area) lokalisasi khusus.

Kalau pekerja seks dilokalisir, maka intervensi bisa dilakukan terhadap laki-laki yang ngeseks dengan pekerja seks melalui regulasi yang ketat seperti yang dijalankan di Thailand dengan skala nasional. Germo atau mucikari di lokalisasi pelacuran dan rumah bordir diberikan izin sebagai ikatan hukum. Secara rutin pekerja seks menjalani tes IMS (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nika dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, seperti raja singa/sifilis, kencing nanah/GO, klamidia, virus hepatitis B, dll.). Jika ada pekerja seks yang terdeteksi mengidap IMS, maka germo diberikan sanksi mulai dari teguran, peringatan tertulis sampai pembatalan izin usaha.

Langkah Thailand itu berhasil dengan indikator jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada calon taruna militer turun dari tahun ke tahun. Sayangnya, di Kab Merauke, Papua, yang dijalankan terbalik. Yang dihukum malah pekerja seks. Ini ‘kan naif karena: (1) Ada laki-laki yang mengidap IMS yaitu laki-laki yang menularkan HIV ke PSK yang terdeteksi mengidap IMS, bisa jadi laki-laki tsb. juga mengidap HIV/AIDS, dan (2) Ada banyak laki-laki yang berisiko tertular IMS, kalau pekerja seksnya juga mengidap HIV/AIDS, maka sekaligus terjadi penularan IMS dan HIV/AIDS.

Tes HIV Pasangan

Kalau pekerja seksnya yang diberikan sanksi, al. pidana kurungan, maka 1 pekerja seks dibui akan ada puluhan pekerja seks lain. Lagi pula laki-laki akan memakai tangan germo untuk memaksa pekerja seks melayani tanpa mewajibkan laki-laki memakai kondom.

Maka, maaf, biar pun pekerja seks yang terdeteksi mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus “dihabisi” IMS dan HIV/AIDS sudah menyebar melalui laki-laki yang menularkan ke pekerja seks dan puluhan bahkan ratusan laki-laki yang berisiko tertular IMS dan HIV/AIDS dari pekerja seks.

Karena melokalisir pekerja seks mustahil, maka langkah yang bisa dijalan Pemprov DKI Jakarta untuk menurunkan (yang bisa dilakukan hanyalah menurunkan) insiden penularan HIV baru hanya terhadap bayi. Caranya adalah dengan membuat peraturan daerah (Perda) atau peraturan gubernur (Pergub) yang mewajibkan setiap perempuan hamil menjalani konseling HIV pasangan dengan suaminya. Jika hasil konseling menjukkan salah satu dari mereka perilaku seksnya berisiko, maka suami dan istri wajib menjalani tes HIV.

Agar program itu tidak melanggar hak asasi manusia (HAM), maka yang wajib konseling pasangan adalah yang berobat di sarana kesehatan pemerintah. Di Amerika Serikat sebagai negara demokrasi terbesar pun semua pasien yang berobat ke rumah sakit pemerintah wajib tes HIV. Tentu tidak melanggar HAM karena yang tidak mau konseling dan tes HIV silakan berobat ke rumah sakit swasta. Artinya, ada pilihan.

Disebutkan dalam berita untuk menekan penyebaran HIV tersebut, KPAP DKI Jakarta memiliki kelompok kerja di lokasi berisiko untuk memberikan informasi tentang pencegahan penyebaran HIV kepada para pekerja seks, seperti memberitahukan bagaimana memasang kondom yang benar.

Kalau hanya dengan cara-cara di atas maka tidak ada jaminan laki-laki ‘hidung belang’ akan dengan sukarela memakai kondom. Banyak alasan laki-laki tidak mau memakai kondom, al. merasa rugi karena sudah bayar ratusan ribu rupiah tapi koq penis dibungkus.

Disebutkan pula oleh John: "Selain itu, kami juga bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk menyediakan jasa dokter keliling yang bertugas melakukan pemeriksaan di lokasi-lokasi berisiko tersebut." Ini adalah langka di hilir. Artinya, Pemprov DKI Jakarta membiarkan penduduk tertular atau menularkan HIV baru ditangani.

Maka, hanya dengan melokalisir pelacuran penanggulangan HIV/AIDS bisa dijalankan dengan efektif. Jika ini ditolak banyak kalangan, maka mereka harus memberikan jalan keluar yaitu mengajak laki-laki agar tidak ada lagi yang membeli seks atau melacur dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah.

Tentu saja melarang semua laki-laki agar tidak ada lagi membeli seks atau berganti-ganti pasangan di dalam dan di luar nikah adalah hal yang mustahil.

Maka, sekarang pilihan hanya dua, yaitu: (1) Menurunkan insiden infeksi HIV melalui intervensi untuk memaksa laki-laki memakai kondom dengan melokalisir pelacuran, atau (2) Membiarkan penyebaran HIV/AIDS terus terjadi yang kelak bermuara pada ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak yang mereka lahirkan. *** 

22 Mei 2015

Pelaku Sodomi Tidak Otomatis Seorang Paedofilia atau Gay

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

Pelaku Pedofil di Australia Sebut Korbannya Setan Penuh Dosa.” Ini judul berita di Australia Plus ABC-detikNews (21/05/2015).

Judul berita ini tidak sejalan dengan fakta yang diungkapkan yaitu: Korban pelecehan seksual Stephen Woods mengungkapkan ia diperkosa oleh tiga orang petugas di sekolah keagamaan di Ballarat, Australia, saat ia masih anak sekolah. Parahnya, salah seorang pedofil melakukan perbuatan tersebut sambil menyebut korban sebagai "setan penuh dosa".

Yang dilakukan oleh tiga petugas di sekolah keagamaan itu adalah sodomi yakni hubungan seksual yang tidak alamiah. Sodomi terkait dengan ranah hukum sebagai tindakan hubungan seksual yang tidak alamiah berupa seks oral dan seks anal. Itu artinya alat kelamin dipakai untuk hubungan seksual secara paksa dengan organ yang bukan alat kelamin. Sodomi bisa dilakukan oleh orang dengan orientasi seks heteroseksual dan homoseksual.

Paedofila merupakan salah satu bentuk parafilia yaitu menyalurkan dorongan hasrat seksual dengan ‘cara lain’ tanpa ada unsur paksaan, yaitu laki-laki dewasa yang menyalurkan hasrat seksual dengan anak-anak usia 7-12 tahun melalui seks vaginal dan seks anal (Parafilia: Menyalurkan Dorongan Hasrat Seksual“Dengan Cara yang Lain”).

Sedangkan seorang gay akan ‘memadu’ cinta dengan gay lain sebagai pasangannya untuk melakukan hubungan seksual dalam bentuk seks anal. Begitu pula dengan lesbian yang ‘berpacaran’ dengan perempuan lain untuk melakukan hubungan seksual sebagai bagian dari percintaan mereka.

Maka, hubungan seksual yang dilakukan oleh ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ tsb. jelas bukan bentuk prafila karena mereka lakukan dengan paksaan dan dengan pembenaran bahwa korban adalah setan yang penuh dosa.

Dosa merupakan istilah yang terkait dengan agama sebagai bentuk hukuman bagi yang melakukan tindakan yang melawan norma atau aturan yang diatur dalam kitab suci.

Persoalannya adalah: Apakah Tuhan memberikan mandat secara eksplisit kepada manusia untuk menentukan atau menetapkan (kadar) dosa seseorang?

Alasan yang disebutkan oleh ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ merupakan salah satu bentuk pembenaran karena tidak ada perintah Tuhan secara eksplisit kepada ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ tsb. untuk menyodomi korban karena mereka sebut sebagai setan dan penuh dosa.

Agaknya, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ itu mengetahui kalau Woods pernah mengaku bahwa diia menyadari dirinya sebagai seorang gay sejak usia sangat dini. Nah, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ pun menyebut Woods sebagai orang bejat dan setan yang pantas menerima apa yang mereka lakukan.

Lalu, apakah tindakan sodomi dibenarkan oleh Tuhan?

Tentu saja tidak. Tapi, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ itu memakai ‘tangan Tuhan’ sebagai pembenaran tindakan mereka sebagai pelaku sodomi.


Dampak perbuatan ‘tiga petugas sekolah keagamaan’, al. ibu salah satu korban (Stephen Woods) tidak lagi percaya kepada agama yang dianut ibunya selama 70 tahun. Ayahnya sudah menarik pelatuk senapan untuk menutut balas terhadap ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ yang menyodomi Woods.

Bercermin dari kasus Woods ini Polri diharapkan tidak semerta menerima pernyataan pelaku sodomi yang mengatakan bahwa dia pernah jadi korban sodomi. Soalnya, bisa saja hal itu sebagai pembenaran terhadap perilaku kriminalnya menyodomi bocah-bocah.

Jika ada pelaku sodomi yang mengatakan dirinya korban sodomi, maka perlu dilakukan diagnosis medis untuk membuktikannya serta konseling psikologi untuk memasitkan apakah dia disodomi atau memang seorang parafilia.

Dari aspek penularan IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, dll.) dan HIV/AIDS risiko penularan melalui hubungan seksual tanpa kondom pada seks anal jauh lebih besar daripada melalui seks vaginal. ***

10 Mei 2015

Prostitusi Artis Seksi “AA” dan 200 “Artis” Lain, Ada Risiko Penyebaran ‘Penyakit Kelamin’ dan HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

* Dianjurkan agar laki-laki yang sudah pernah ngeseks dengan artis AA periksakan diri ke dokter dan tes HIV ....

Penyebaran penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, disebut IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, herpes genitalis, jengger ayam, kanker serviks, dll.) serta HIV/AIDS kian tidak terkendali di Indonesia karena praktek pelacuran yang tidak dilokalisir.

Laporan Ditjen PP & PL, Kemenkes RI tanggal 12 Februari 2015 menyebutkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS sampai tanggal 31 Desember 2014 adalah 225.928 yang terdiri atas 160.138 HIV dan 65.790 AIDS dengan 11.801 kematian. Angka-angka ini tidak menggambar kasus HIV/AIDS yang sebenarnya ada di masyarakat.

Seperti kasus yang baru dibongkar Polres Jakarta Selatan ini: “Artis AA Biasa ‘Dijual’ ke Pejabat dan Pengusaha” (rimanews.com, 9/5-2015).

Risiko penyebaran ‘penyakit kelamin’ dan HIV/AIDS di Indonesia, khususnya Jakarta, kian besar karena berdasarkan keterangan mucikari RA ke polisi disebutkan bahwa “Selain AA, mucikari punya 200 PSK artis.” (merdeka.com, 10/5-2015).

Kalau setiap “PSK artis” ini juga melayani 3-5 laki-laki setiap hari, maka setiap hari ada 600 – 1.000 laki-laki yang berisiko menularkan dan tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Sengaja Menularkan

Yang menjadi pertanyaan besar adalah: Apakah artis “AA” meminta atau memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual?

Jika berpijak pada jumlah rupiah yang dibayarkan oleh laki-laki ‘hidung belang’ antara Rp 80 juta – Rp 200 juta adalah hal yang mustahil laki-laki akan memakai kondom. Tentu saja mereka menolak karena merasa rugi besar, “Sudah bayar mahal koq penis dibungkus.”

Maka, hubungan seksual antara artis “AA” dan 200 “artis” lain dengan puluhan bahkan ratusan laki-laki yang ngeseks dengan bayaran puluhan sampai ratusan juta rupiah ada risiko penularan IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Dalam kaitan penyebaran ‘penyakit kelamin’ dan HIV/AIDS artis “AA” dan 200 “artis” lain merupakan korban karena posisi tawar dia yang sangat rendah ketika berhadap dengan mucikari dan laki-laki yang membayar puluhan sampai ratusan juta rupiah sekali ngeseks untuk short time tiga jam.

IMS pada perempuan hampir tidak ada gejalanya  yang khas berupa rasa sakit sehingga perempuan yang tertular GO atau sifilis, misalnya, kadang-kadang hanya keputihan. Dan, di kalangan PSK mereka membeli obat di kaki lima atau ramuan jamu. Gejalanya memang hilang, tapi penyakit tetap ada dalam tubuh mereka.

Begitu juga dengan HIV/AIDS tidak ada gejala yang khas AIDS pada laki-laki dan perempuan selama bertahun-tahun. Secara statistik gejala yang khas AIDS baru muncul pada masa AIDS setelah tertular HIV antara 5-15 tahu kemudian. Tapi, biar pun tidak ada gejala seorang yang mengidap HIV/AIDS sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain, al. melalui hubungan seskual (seks vaginal, seks anal dan seks oral) tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Laki-laki yang mengidap sifilis atau GO akan mengalami gejala yang khas yaitu sakit atau perih ketika kencing. Celakanya, ada laki-laki yang sengaja menularkan sifilis dan GO ke perempuan sebagai bagian dari balas dendam. “Saya ditulari, ya saya juga tularkan lagi,” kata seorang laki-laki dalam satu kesempatan wawancara dengan penulis.

Berbeda dengan HIV/AIDS. Orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS sudah berjanji sebelum tes bahwa: (1) Tidak akan melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV jika hasil tes negatif, dan (2) Akan menghentikan penyebaran atau menularkan HIV mulai dari diri sendiri jika hasil tes positif.

Risiko penyebaran sifilis, GO, kanker serviks dan HIV/AIDS melalui artis “AA” dan 200 “artis” lain kian besar karena “RA, Mucikari, Artis Seksi AA Biasa Layani 3-5 Pelanggan Tiap Hari” (detiknews, 9/5-2015).

Terkait dengan kanker serviks, “ .... 85 persen HPV masuk ke leher rahim disebabkan oleh kontak seksual, sisanya oleh kontak non-seksual." Penjelasan Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Andi Darma Putra (jpnn.com, 26/4-2015). Kanker serviks sendiri sekarang menjadi ‘pembunuh nomor satu’ pada kematian perempuan di Indonesia.

Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS

Perihal epidemi HIV/AIDS, gaya hidup artis “AA” dan 200 “artis” lain merupakan perilaku berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV/AIDS karena bisa saja ada di antara laki-laki yang ngeseks dengan AA mengidap HIV/AIDS sehingga terjadi penularan ke AA. Jika AA tertular HIV/AIDS, maka ada pula risiko penularan HIV/AIDS pada laki-laki yang ngeseks dengan “AA”.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kelak kasus IMS, kanker serviks dan HIV/AIDS  banyak terdeteksi pada istri-istri pejabat dan pengusaha. Kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga sudah terdeteksi sebanyak 6.000-an kasus. Ini artinya ada lebih dari 6.000 suami yang mengidap HIV/AIDS.

Yang menjadi persoalan besar terkait dengan artis “AA” dan 200 “artis” lain ‘milik’ germo “RA” adalah ada ratusan bahkan ribuan laki-laki yang bersiko tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus yang ngeseks dengan “artis-artis” tsb.

Dalam  kehidupan sehari-hari di antara mereka ada yang merupakan suami sehingga mereka merupakan jembatan penyebaran IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus dari mayarakat ke “artis-artis” tsb. dan dari “artis-artis” tsb. ke masyarakat al. istri(-istri), pacar, selingkuhan serta pasangan seks lain.

ada pula risiko menularkan IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus ke istri mereka (horizontal). Jika istri mereka tertular HIV/AIDS, maka ada pula risiko penularan HIV (vertikal) ke bayi yang dikandung istri mereka kelak.

Di sebuah sanggar yang bergerak dalam penanganan HIV/AIDS di Jakarta Selatan, misalnya, ada 140 anak-anak mulai dari bayi sampai usia SMP. Ada yang ayahnya meninggal, ada yang ibunya meninggal, ada pula yang yatim piatu. Ada dengan HIV/AIDS ada pula yang negatif HIV/AIDS. Ibu anak-anak itu rata-rata berusia muda di bawah 30 tahun.

Maka, tanpa langkah-langkah yang konkret, al. intervensi terhadap laki-laki yang ngeseks dengan perempuan dalam berbagai bentuk praktek prostitusi, maka insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi.

Laki-laki yang tertular HIV melalui hubungan seksual pada berbagai macam praktek prostitusi menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Ini kelak akan bermuara para “ledakan AIDS”. *** [SyaifulW. Harahap] ***

Foto: Artis sinetron AA (jaket hitam) sesaat setelah ditangkap polisi di sebuah hotel bintang lima (Repro: Dok/rimanews.com).

29 April 2015

Ini Dia Asuransi Kesehatan yang Membayar Klaim Tanpa Kecuali



* Asuransi ini membawa kabar gembira bagi pengidap HIV/AIDS ....

“Cukup dengan tiga langkah Anda sudah menjadi pemegang polis asuransi ‘Jaga Sehat Plus’.” Ini jaminan yang diberikan oleh Asuransi JAGADIRI dengan semboyan ‘Asuransi Tanpa Beban’.

Gampang amat?

“Ya, itu jaminan yang kami berikan,” kata Priska Sari Kurniawan, Vice President JAGADIRI, sebuah perusahaan asuransi kesehatan yang merupakan merek dagang PT Central Asia Financial, bagian dari Salim Group, lembaga yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Langkah mudah itu bisa dilakukan secara online melalui website JAGADIRI (jagadiri.co.id). Bukan hanya itu, ketika mendaftar sebagai nasabah sama sekali tidak ada pertanyaan tentang data pribadi, seperti penyakit yang diidap, dll., kecuali nama lengkap dan tanggal lahir serta alamat e-mail dan nomor kontak.

Tanpa Beban

JAGADIRI merupakan jawaban ril terhadap kebutuhan masyarakat yang dinamis terkait dengan asuransi keseahatan, yaitu instant protection  (perlindungan instan dan langsung), claim certainty process (jaminan penerimaan klaim), dan best transparent price (biaya ringan dan transparan).

Karena tidak ada keterangan terperinci tentang kesehatan pemegang polis ketika mendaftarkan diri melalui online, maka, “Kami tidak membayar klaim untuk 30 hari pertama jika pemegang polis rawat inap,” kata Reginald Yosiah Hamdani, President Director “JAGADIRI”.  Tapi, perlu diingat bahwa asuransi kesehatan ini justru menanggung biaya rawat inap yang tidak terbatas dan tanpa kecuali.

Perusahaan suransi yang mulai beroperasi sejak Januari 2015 ini menjalankan asuransi secara faktual karena berdarakan focus discussion group (FGD) dengan berbagai lapisan masyarakat salah satu keluhan yang muncul adalah kesulitan klaim. Untuk itulah, menurut Reggie, panggilan akrab Reginald, pada acara “Kompasiana Nangkring - Perlindungan Tanpa Beban Bersama Asuransi JAGADIRI” di Jakarta, 18/4-2015, JAGADIRI akan langsung membayar klaim maksimal 14 hari.

Asuransi kesehatan JAGADIRI memelopori asuransi yang tidak njelimet (ruwet, rumit) sehingga begitu mudah bagi banyak orang, terjangkau dan menguntungkan. Salah satu faktor yang membuat asuransi ini lebih terjangkau adalah jumlah premi yang murni karena tidak ada beban untuk membayar agen dan jasa bank. Itulah sebabnya tagline JAGADIRI memakai semboyan ‘Asuransi Tanpa Beban’.

Asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh JAGADIRI memberikan peluang bagi masyarakat untuk berasuransi sebagai solusi untuk perlindungan dengan manfaat yang nyata. Hanya dengan premi mulai dari Rp 60.000-an per bulan seseorang sudah bisa menjadi pemegang polis asuransi kesehatan. “Dipakai atau tidak dipakai setiap tiga tahun premi akan dikembalikan 50 persen kepada pemegang polis,” ujar Reggie.

Pilihan program yang ditawarkan JAGADIRI, menurut Reggie, berpijak pada hasil FGD sehingga merupakan gambaran ril yang menjadi harapan masyarakat terhadap asuransi.

Konsep lain yang ditawarkan JAGADIRI adalah potongan premi untuk jumlah pembayaran tertentu serta hadiah nonton gratis di Blitz Megaplex, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat setiap bulan. “Ini bagian dari kenyamanan berasuransi sehingga tidak ada lagi kesan asuransi itu ribet,” ujar Priska dengan nada yakin.

JAGADIRI memberikan santunan perawatan rumah sakit atau rawat inap mulai dari Rp 300.000 - Rp 1,5 juta per hari karena sakit atau kecelakaan. “Tida ada batas rawat inap,” kata Reggie. Santunan meninggal dunia mulai dari Rp 6 juta s/d Rp 30 juta.

Bukan hanya tidak ada batas rawat inap, JAGADIRI juga akan membayar klaim rawat inap tanpa melihat penyebab penyakit. “Penderita AIDS yang rawat inap pun kami ganti,” ujar Reggie. Ini dilakukan oleh JAGADIRI karena anjuran pemerintah kepada perusahaan asuransi tidak boleh membuat diskriminasi terkait dengan penyebab penyakit baik rawat jalan maupun rawat inap. 

Pengidap HIV/AIDS

Padahal, ada asuransi yang selalu menolak klaim jika pemegang polis ternyata mempunyai riwayat kesehatan sebagai pengidap HIV/AIDS. Celakanya, kalau pasien datang dengan riwayat kesehatan dengan HIV/AIDS juga ditolak di banyak rumah sakit. Kalau seorang pasien tidak menyebutkan status HIV/AIDS-nya ketika masuk rumah sakit, maka sudah bisa dipastikan jika dalam perawatan diketahui status HIV/AIDS pasien akan mengalami diskriminasi (perlakuan berbeda) dalam berbagai bentuk pelayanan medis dan nonmedis.

Itulah yang dilihat Reggie sebagai hal yang tidak boleh terjadi di Indonesia. Untuk itulah asuransi JAGADIRI sama sekali tidak melihat latar belakang penyakit yang membawa seorang pemegang polis dirawat di rumah sakit.

Lalu, kalau ada rumah sakit yang menolak pasien dengan status HIV/AIDS itu urusan regulator, dalam hal ini pemerintah, karena, “JAGADIRI sudah membuat komitmen dengan lebih dari 450 rumah sakit di seluruh Indonesia, disebut provider, bahwa JAGADIRI akan membayar klaim biaya rawat inap tanpa mempersoalkan penyakit penyebab rawat inap,” kata Reggie dengan nada yakin. Namun, kalau klaim terkait AIDS lama rawat inap 60 hari dan penyakit lain 90 hari.

Bandingkan pula JAGADIRI dengan asuransi yang selalu mencari-cari kelemahan pemang polis yang mengajuka klaim. Misalnya, asuransi kecelakaan akan menolak klaim jika ternyata ada penyakit pemegang polis yang menyebabkan kecelakaan tsb. Misalnya, seorang pemegang polis jatur di kamar mandi. Ternyata pemegang polis tsb. mengidap penyakit jantung. Maka, klaim ditolak karena kecelakaan itu dianggap tidak murni kecelakaan karena ada riwayat penyakit jantung pada pemegang polis.

Satu hal yang masih dipikirkan Reggie adalah membantu pengidap HIV/AIDS melalui pertanggungan rawat jalan, khususnya obat antiretroviral (ARV) melalui asuransi kesehatan. Soalnya, pengidap HIV/AIDS harus meminum obat ARV sepanjang hidupnya sejak CD4-nya terdeteksi di bawah 300 (CD4 adalah ukuran sistem kekebalan tubuh yang diketahui melalui tes darah). Sekarang harga obat ARV Rp 360.000/bulan.

Jika harus diminum sepanjang hidup tentulah sangat berat bagi pengidap HIV/AIDS karena dalam perjalanan hidup mereka tentu akan ada juga penyakit yang membawa mereka rawat inap. Kesulitan yang dihadapi pengidap HIV/AIDS, disebut Odha (Orang dengan HIV/AIDS), yang dilihat Reggie.

Tapi, karena asuransi adalah perusahaan tanggung renteng (pembayaran klaim dibayar oleh dua pihak sebara bersama), maka, “Kami akan bicarakan dulu dengan pihak re-asuransi,” kata Reggie menjanjikan.

Tentu saja langkah Reggie itu merupakan harapan besar bagi Odha agar mereka tetap bisa melakukan kegiatan keseharian tanpa harus diganggu penyakit. Soalnya, Odha sudah masuk pada masa AIDS sangat mudah terserang penyakit, apalagi mereka tidak meminum obat ARV.

Langkah yang dipilih JAGADIRI sebagai asuran yang menguntungkan dan sangat terjangkau merupakan gaya hidup tanpa beban karena menjadi pemegang polis yang begitu mudah dan terjangkau. *** [Syaiful W. Harahap] ***

Ilustrasi (Repro: www.sushilfinance.com)