07 Januari 2017

BERITA UTAMA Perda Perlu Direvisi, Penderita HIV/AIDS Di Maluku Terus Meningkat

Peraturan Daerah (Perda) Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia secara umum masih bersifat umum. Belum ada regulasi yang lebih spesifik mengatur guna menekan angka infeksi HIV AIDS di masyarakat. Bahkan sebagian besar Perda yang disusun berdasarkan hasil studi banding dan copy paste untuk pembentukannya di daerah.


Penegasan ini disampaikan aktifis LSM infokespro yang juga wartawan senior Syaiful W. Harahap, dalam lokakarya penguatan kapasitas wartawan penulisan berita HIV AIDS di 15 provinsi yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), yang dipusatkan di Pomelotel Jakarta, 13-15 Juni pekan lalu.
Menurutnya, angka yang terinfeksi HIV AIDS meningkat salah satunya karena praktek pelacuran dalam berbagai bentuk yang tidak akan bisa dihapuskan, karena ada permintaan dan ada pula pasokan. Oleh sebab itu, yang perlu dilakukan adalah mengurangi dampak buruk dengan cara menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual berisiko yaitu dengan memakai kondom.

06 Januari 2017

Belum Ada Perda Pencegahan HIV/AIDS di Indonesia

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

Selasa, 7 Juni 2011 11:29 WIB

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Dari 47 Perda tentang HIV & AIDS di Indonesia, tidak ada satu pasal pun dalam perda-perda tersebut yang memberikan cara pencegahan dan penanggulangan HIV& AIDS yang konkret.

Termasuk dalam hal ini di 5 Kab/ Kota di Jabar yang telah memiliki Perda HIV & AIDS, yaitu di Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Indramayu, Kota Tasikmalaya, Kota Bekasi, dan Kota Cirebon. Demikian diungkapkan Syaiful Harahap, aktivis dari LSM InfoKespro, dalam rilis yang diterima Tribun, Selas (7/6/2011). 

Menurutnya, Perda HIV dan AIDS di Jawa Barat nantinya disusun dengan memperhatikan fakta medis, bukan semata-mata fakta moral. Sehingga, pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS dapat dilakukan dengan efektif.

Jawa Barat sendiri telah memiliki Peraturan Gubernur No.78/2011 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS dan Rencana Strategis Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi Jawa Barat 2009-2013. (*)

Editor: Harismanto
Sumber: Tribun Jabar

05 Januari 2017

Jumlah Kasus Kumulatif HIV/AIDS Sudah Tembus Angka 300.000


Selama penanggulangan HIV/AIDS dibenturkan dengan moral dan agama, maka selama itu pula insiden penularan (infeksi) baru HIV akan terus terjadi karena pemerintah tidak bisa menjalankan program yang konkret.

* Rehabilitasi bukan untuk PSK
tapi untuk laki-laki
yang gemar melacur ...
Perkiraan ahli epidemilogi kasus HIV/AIDS di Indonesia sekitar 600.000. Yang sudah terdeteksi berdasarkan laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 20/11-2016 sampai 30 September 2016 sebanyak 302.004. Itu artinya ratusan ribu pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi  jadi mata rantai penularan HIV di masyarakat tanpa mereka sadari, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Sanksi Germo

Ketika dua dekade yl. pemerintah Thailand bak kebakaran jenggot karena kasus HIV/AIDS di Negeri Gajah Putih itu mendekati angka 1.000.000 dan pasien-pasien dengan penyakit terkait AIDS tidak tertampung lagi di rumah-rumah sakit, pemerintah Thailand pun menjalankan program penanggulangan yang konkret. Yang dilakukan adalah memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) yang dikenal sebagai program ‘wajib kondom 100 persen’.


04 Januari 2017

Brondong Ini Takut Sudah Kena AIDS karena Sering Ngesek Sesama Jenis



Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. 

Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: http://www.kompasiana.com/infokespro dan AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon/Fax (021) 22864594, (2) e-mail: tanyajawabaids@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977.

***
Tanya: Saya seorang remaja cowok umur 16 tahun. Sudah beberapa kali saya melakukan ‘seks sejenis’. Saya sering diare. Saya baca di Internet diare merupakan salah satu ciri orang tertular HIV. (1) Apakah saya sudah tertular HIV? (2) Apakah seks oral juga bisa menularkan HIV? Via SMS (4/1-2017)-Sulsel.

Jawab: (1) Perilakumu memang berisiko karena tingkat kemungkinan terjadi penularan HIV jika salah satu dari pasangan yang melakukan seks anal mengidap HIV/AIDS dengan kondisi yang menganal tidak memakai kondom. Di kalangan laki-laki gay mereka sudah akrab dengan pelicin yang dioles ke penis dan anus agar tidak terjadi iritasi. Tapi, tetap saja ada risiko. Untuk itu hindari seks atau atau pakai kondom lebih aman.

02 Januari 2017

Cowok Ini Khawatir Kena AIDS karena Petting dengan Odha


Oleh: Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia


Tanya Jawab AIDS # 01/Jan 2017

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan di http://www.kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon/Fax (021) 22864594, (2) e-mail: tanyajawabaids@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977.

Tanya: Malam, Bang .... Teman saya, cowok, pacaran dengan cowok pengidap HIV/AIDS (Odha). Keduanya tak kuat tahan nafsu akhirnya sepakat disalurkan melalui petting (jika dikaitkan dengan hubungan seksual, petting semacam pemanasan atau foreplay dengan merangsang pasangan tanpa seks penetrasi). Teman saya bugil sedangkan pasangannya pakai celana. Selesai petting teman saya ‘keluar’. Teman saya sedikit menyesal. (1) Apakah ada risiko bagi teman saya tertular HIV? (2) Apakah teman saya perlu tes HIV? Via SMS (2/1-2017)

Jawab: (1) Tentu saja temanmu tidak berisiko tertular HIV karena yang mengeluarkan air mani dia. Dalam jumlah yang bisa ditularkan HIV al. terdapat dalam air mani atau semen (cairan yang keluar dari penis ketika penis ereksi). Temanmu berisiko tertular HIV kalau pasangannya yang Odha ejakulasi di badan temanmu yaitu terpapar air mani sehingga ada risiko tertular jika di bagian yang terkena air mani ada luka-luka (luka-luka di sini dalam ukuran mikroskopis, misalnya ketika berkumur-kumur setelah sikat gigi itu artinya ada luka tapi tida bisa dilihat dengan mata telanjang.

Tapi, karena pasangannya Odha beritahu temanmu untuk jaga diri agara tidak tertular HIV, misalnya, menjalankan seks yang aman yaitu selalu memakai kondom pada seks anal, seks oral atau petting.

(2) Jika dikaitkan dengan kasus ini temanmu tidak perlu tes HIV. Tapi, apakah dia pernah ngeseks tanpa kondom dengan perempuan atau laki-laki lain? Kalau pernah, maka anjurkanlah temanmu agar tes HIV. 

Hindari perilaku berisiko agar terhindar dari HIV/AIDS. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

Ilustrasi (Sumber: www.thebodypro.com)

25 Desember 2016

Perda AIDS di Indonesia: Mengekor ke Ekor Program Penanggulangan AIDS Thailand

                                          Ilustrasi (Sumber: HIV Dating Sites)
Oleh: Syaiful W Harahap

Tahun Depan Jatim Miliki Perda HIV/AIDS.” Ini adalah judul berita di skalanews.com (22/12-2016). Pernyataan pada judul berita ini benar-benar tidak masuk akal karena Pemprov Jawa Timur (Jatim) sudah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) seperti yang dimaksud di judul berita yaitu Perda No 5/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Timur.

Pernyataan tsb. disampaikan oleh anggota Komisi E DPRD Jatim, dr Benyamin Kristianto. Disebutkan oleh anggota dewan ini bahwa "Perda ini dibuat sebagai bentuk keprihatinan atas peringkat 2 tertinggi di Indonesia. Ini menjadi perhatian serius kami dalam penanggulangan HIV/AIDS di Jatim." Memang, dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2016, berdasarkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS Jawa Timur ada di peringkat kedua secara nasional di bawah DKI Jakarta dengan jumlah kasus 44.006 yang terdiri atas 27.575 HIV dan 16.431 AIDS. Ini menyubang 15,1 persen terhadap kasus nasional dengan jumlah 291.465.

Kondom

Perda AIDS Jatim itu merupakan perda keempat di Indonesia setelah Kab Nabire, Meruke dan Jayapura. Celakanya, Perda No 5/2004 yang ketika itu dibuat oleh banyak daerah sebagai bagian dari ‘perlombaan’ menanggulangi HIV/AIDS yang berkaca ke Thailand dengan menelurkan Perda. Negeri “Gajah Putih” ini berhasil menahan laju insiden infeksi HIV baru berkat program ‘wajib kondom 100 persen’ terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK).


18 Desember 2016

Jumlah Kasus HIV/AIDS Nyaris Tembus Angka 300.000: Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia (Hanya) di Hilir



Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia priode tahun 1987 – 30 Juni 2015 sebanyak 291.465 yang terdiri atas 208.909 HIV dan 82.556 AIDS dengan 14.234 kematian. Estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 600.000, yang terdeteksi baru separuh. Dari jumlah yang terdeteksi baru 70.000-an yang meminum obat antiretrorival (ARV).

Yang perlu diingat adalah kasus yang terdeteksi tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya ada di masyarakat. “Epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es,” kata Syaiful W. Harahap, aktivis di “AIDS Watch Indonesia” di Jakarta. 

Lebih lanjut Syaiful mengatakan bahwa fenomena gunung es adalah kasus yang terdeteksi digambarakan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

17 September 2016

Bupati Aceh Utara Membiarkan Pengidap HIV/AIDS Mati


Oleh: Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

“Bupati Aceh Utara: Yang Terindikasi HIV/AIDS Biarkan Mati.” Ini judul berita di merdekabicara.com (16/9-2016). Ini benar-benar di luar akal sehat karena seorang bupati, Muhammad Thaib, memberikan pernyataan yang melawan harkat dan martabat manusia sebagi makhluk Tuhan di muka Bumi ini.

Sekarang HIV/AIDS bisa diobati yaitu dengan obat antiretroviral (ARV) yang menurunkan risiko kematian. Maka, pemberian obata ARV kepada pengidap HIV/AIDS setelah memenuhi syarat medis akan menyelematkan mereka dari kematian sia-sia.

Salah satu hak setiap warga negara dalam jaminan sosial adalah masalah kesehatan. Sebaliknya pemerintah wajib menyediakan jaminan sosial bagi warga. HIV/AIDS murni masalah kesehatan karena menyangkut virus yang menular dan menyebabkan kesakitan. Celakanya, ada saja yang selalu mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan norma, moral dan agama. Memang, cara-cara penularan HIV ada kaitannya dengan moral, tapi kecelakaan lalu lintas, penyakit-penyakit degeratif, seperti penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, dll. juga terkait dengan perilaku yang juga bagian dari moralitas.

Dalam berita disebutkan: “Yang sudah terindikasi tertular  HIV AIDS, himbauan saya biarkan mati,“ kata Bupati menjawab wartawan. Astaga, rupanya wartawan pun sama saja dengan Pak Bupati yang memakai pola berpikir pada masa 35 tahun yang lalu dalam melihat AIDS di masa sekarang. Catatan penulis wartawan pun ada yang mengidap HIV/AIDS.

Patut juga Pak Bupati dan pegawai di Pemkab Aceh Utara diajak untuk tes HIV. Nah, kita tunggu apa reaksi Pak Bupati jika ada pegawai yang terindikasi mengidap HIV/AIDS. Apakah dibiarkan saja sampai mati?


11 September 2016

Cowok Ini Khawatir Kena AIDS Setelah Melakukan Seks Anal

Tanya Jawab AIDS No 2/September 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Bisa gak ya HIV itu tertular kalau berhubungan seks dengan cowok lain tanpa memakai kondom, tapi sperma dikeluarkan di luar?   

‘A’, via SMS (9/8-2016)

Jawab: Kuncinya ada pada cowok yang melakukan seks anal terhadap Saudara. Kalau cowok itu mengidap HIV/AIDS, maka ada risiko penularan HIV karena cowok itu tidak memakai kondom. Risiko penularan HIV melalui hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal), bukan soal air mani (bukan sperma karena dalam sperma tidak ada HIV dan sperma tidak bisa lepas dari air mani) di keluarkan di dalam vagina, rongga mulut atau anal, tapi pergesekan antara penis dengan vagina dan cairan vagina, dengan bibir dan dengan anus.

Jika air mani cowok pengidap HIV/AIDS yang melakukan hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal) dikeluarkan di dalam vagina, rongga mulut dan anus meka risiko tertular HIV bagi pasangan cowong itu lebih besar lagi karena selain gesekan ada cairan yang mengandung HIV masuk ke vagina, rongga mulut dan anus.

Yang jadi persoalan besar bagi Saudara adalah Saudara tidak bisa memastikan bahwa cowok tsb. tidak mengidap HIV/AIDS. Saudara juga tidak bisa memastikan bahwa cowok itu tidak pernah melakukan hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal) dengan perempuan atau laki-laki selain Saudara.

09 September 2016

Cewek Ini Khawatir Tertular HIV/AIDS karena Dimasturbasi Pemijat Cowok dengan Jari-jari



Tanya Jawab AIDS No 1/September 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang cewek, 20-an tahun, memilih cara yang aman untuk mencapai orgasme yaitu melakakukan masturbasi dengan bantuan pemijat cowok yaitu memakai jari tangan. (1) Dengan cara itu apakah ada risiko tertular HIV/AIDS? (2) Apakah saya perlu tes HIV/AIDS?

“Xz”, Jawa Barat, via SMS (8/9-2016)

Jawab: (1) Dari aspek risiko penularan HIV/AIDS sangat kecil. Risiko penularan HIV/AIDS ada jika pemijat cowok itu mengidap HIV/AIDS dan jari-jari yang dipakainya melakukan masturbasi luk dengan mengeluarkan darah. Namun, ada persoalan lain yang bisa terjadi yaitu kerusakan pada permukaan vagina dan di bagian dalam vagina jika ada kuku pada jari cowok yang dipakai masturbasi. Kulit jari pun keras sehingga bisa juga menyebabkan iritasi pada bagian-bagian vagina.

Selain itu bisa saja cowok menaruh sesuatu di jari sehingga masuk ke dalam vagina. Pekerja seks komersial (PSK) akan memeriksa penis laki-laki sebelum melakukan hubungan seksual karena bisa saja laki-laki ‘hidung belang’ melekatkan kulit ari telur di ujung penis sehingga tinggal di dalam vagina. Ini akan mengeluarkan bau busuk sehingga PSK itu pun tidak ‘laku’.

Bisa juga salah satu tangan cowon itu dia pakai untuk onani sehingga air mani tumpah di tangannya. Bisa saja cowok itu mengganti tangan dengan memakai jari tangan yang kena air mani melakukan masturbasi. Kalau cowok itu mengidap kencing nanah (GO) atau raja singa (sifilis) tentu penyakit itu menempel di jari-jarinya ketika dia onani. Kalau ini terjadi, maka ada risiko penularan penyakit infeksi menular atau HIV/AIDS jika si cowong mengidap HIV/AIDS.

(2) Kalau hanya memakai jari dan tidak sering risiko kecil. Tidak perlu tes HIV, tapi tes penyakit lain perlu juga, seperti kanker serviks, dll. Segeralah konsultasi ke dokter ahli kandungan. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.timeslive.co.za)

26 Agustus 2016

Seks Oral dengan Orang Sehat, Apakah ada Risiko Kena IMS atau AIDS?

Tanya Jawab AIDS No 3/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Apakah seks oral bisa terjadi penularan HIV atau IMS jika dilakukan dengan orang sehat?

Via SMS (16/8-2016)

Jawab: Pertama, sehat. Ini sangat subjektif karena selama tidak sedang berobat atau dirawat di rumah sakit bisa disebut sehat. Kedua, tidak ada kaitan langsung antara sehat dan mengidap IMS [infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual (seks vaginal, seks anal dan seks oral), seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, klamidia, jengger ayam, herpes genitalis, virus hepatitis B, dll.] serta HIV/AIDS. Bisa saja orang-orang yang mengidap IMS dan HIV/AIDS atau kedua-duanya tampak sehat-sehat saja.

Pengidap HIV/AIDS sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala, ciri-ciri atau tanda-tanda yang khas HIV/AIDS pada fisik mereka. Tapi, mereka bisa menularkan HIV al. melalai darah (tranfusi) dan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Risiko penularan HIV melalui seks oral sanga rendah. Belum ada kasus HIV/AIDS yang dilaporkan dengan faktor risiko seks oral. Tapi, penularan penyakit lain, seperti IMS bisa saja terjadi dan sudah ada kasus IMS melalui seks oral (fellatio yaitu penis masuk ke mulut dan cunnilingus yaitu lidah ke vagina) di rongga mulut.

HIV ada di dalam air mani laki-laki dan cairan vagina perempuan. Kencing nanah dan raja singa ada infeksi di penis dan vagina.

Maka, pada seks oral rongga mulut akan menampung air mani yang mengidap HIV/AIDS pada fellatio dan melewati kerongkongan jika ditelan, serta lidah akan bersentuhan langsung dengan cairan vagina yang terkontaminasi dengan HIV/AIDS pada cunnilingus. Lalu, bibir dan rongga mulut perempuan pun akan bersentuhan langsung dengan penis yang ada infeksi kencing nanah atau raja singa. 

Yang jelas Saudara tidak bisa menjamin yang mengoral, laki-laki atau perempuan, tidak mengidap HIV/AIDS atau IMS atau dua-duanya sekaligus hanya dengan berpatokan bahwa orang tsb. (tampak) sehat.

Beberapa penyakit IMS ada gejala atau infeksi pada alat kelamin, seperti sifilis dan GO, tapi hepatitis B sama sekali tidak ada gejala atau infeksi pada alat kelamin. Maka, jangan berpatokan pada ‘kelihatan sehat’ karena IMS dan HIV/AIDS hanya bisa diketahui dengan pasti melalaui tes di laboratorium medis. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.cafepress.com) 

24 Agustus 2016

Pria Ini Ingin Agar Tidak Kena HIV/AIDS Setelah Ngeseks dengan PSK

Tanya Jawab AIDS No 2/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) E-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual tidak memakai kondom dengan pekerja seks komersial (PSK), saya tidak mengetahui dengan pasti apakah PSK itu mengidap HIV/AIDS atau tidak. Saya hanya melakukan sekali itu saja. Itu pun hanya 15 - 20 menit. Beberapa jam setelah kejadian itu badan saya terasa dingin. Serasa akan demam. Nafsu makan tidak ada. (1) Berapa besar kemungkinan saya tertular HIV/AIDS? (2) Bagaimana mengatasi agar saya tidak terkena HIV/AIDS?

Via SMS (29/7-2016)

Jawab: (1) Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual dengan tidak memakai kondom tidak bisa diperkirakan atau dihitung. Yang jelas hubungan seksual yang Saudara lakukan berisko karena:  Saudara tidak memakai kondom, dan Saudara melakukannya dengan perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yaitu seorang PSK yang melayani hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti.

Persoalannya ada pada PSK itu. Kalau PSK tsb. tidak mengidap HIV/AIDS tidak ada risiko penularan HIV kepada Saudara. Tapi, yang perlu diingat adalah kita tidak bisa mengetahui status HIV seseorang dari penampilan fisik karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Maka, kondisi yang Saudara alami setelah melakukan hubungan seksual bisa saja karena faktor lain.

Yang perlu Saudara ketahui adalah probabilitas atau kemungkinan tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali risiko terjadi penularan HIV. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual ke berapa terjadi penularan HIV/AIDS. Bisa yang pertama, kedua, ketujuh, kedua puluh, ketujuh puluh, bahkan pada hubungan seksual yang ke-100.

Selain itu tidak pula bisa diketahui lama atau waktu hubungan seksual baru bisa terjadi penularan HIV/AIDS. Tidak ada penelitian tentang lama atau waktu hubungan seksual (seks vaginal dan seks anal) agar terjadi penularan HIV. Begitu juga dengan kondisi hubungan seksual dengan mengeluarkan air mani di luar vagina atau di luar anus juga tidak jaminan tidak terjadi penularan HIV kalau dilakukan dengan pengidap HIV/AIDS.

(2) Jika sesorang sudah tertular HIV/AIDS, maka tidak ada cara atau obat yang bisa mengeluarkan HIV/AIDS dari dalam tubuh. Obat AIDS yang ada sekarang, obat antriretroviral (ARV) hanya bisa menahan laju replikasi atau penggandaan virus di dalam darah.

Agar tidak tertular HIV/AIDS yang bisa dilakukan adalah, al. (1) Laki-laki menghindari hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS, (2) Laki-laki tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, dan (3) Laki-laki tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK.


Untuk mengatasi rasa was-was, sebaiknya Saudara konseling ke Klinik VCT di puskesmas atau rumah sakit umum di tempat Saudara bermukim. Jika ada kesulitan, silakan kondom kami. *** [Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.highschoolgh.com) 

22 Agustus 2016

Anak Muda Ini Pengen Segera Tes HIV Karena Mau Menikah

Tanya Jawab AIDS No 1/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax (021) 22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya mau konseling karena hati saya benar-benar tidak bisa tenang. Beberapa hari yang lalu saya melakukan tindakan berisiko tanpa pengaman dengan PSK (pekerja seks komersial-peng.). Sebelum kejadian ini tahun-tahun sebelumnya pernah juga saya lakukan hal yang sama, tapi bua bulan yang lalu saya medical check up dengan hasil yang baik. (1) Apakah melalui medical check up seseorang yang sudah tertular HIV/AIDS bisa terdeteksi? Saya benar-benar galau. Mohon bantuan dan bimbingan karena saya ingin segera tes HIV karena saya segera akan menikah. (2) Mohon rekomendasi tempat tes HIV dengan biaya yang terjangkau. (3) Apakah tes HIV lebih baik segera dilakukan dan 3, 6 dan 9 bulan ke depan saya tes HIV lagi?

Mr ‘X’, di Kota “J”, via SMS (22/8-2016)

Jawab: (1) Tes HIV hanya dilakukan atas permintaan sehingga pada medical check up tidak otomatis ada tes HIV. Permintaan bisa dilakukan oleh seseorang atau oleh sebuah perusahaan, badan, lembaga, institusi, dll. Tapi, jika diminta oleh   perusahaan, badan, lembaga, institusi, dll. harus sepengetahuan karyawan atau pegawai.

Nah, kalau Saudara medical check up berdasarkan rekomendasi tempat Saudara bekerja, silakan ditanya apakah termasuk tes HIV. Celakanya, sering terjadi perusahaan tidak memberitahu karyawan bahwa dalam medical check up ada tes HIV. Ini merupakan perbuatan yang melawan hukum, apalagi kemudian karyawan di-PHK dengan alasan mengidap HIV/AIDS perusahaan tsb. sudah melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan yaitu tidak boleh memecat atau mem-PHK karyawan dan pegawai karena mengidap HIV/AIDS.

Tapi, perusahan dll. punya kebijakan sendiri yang disepakati sehingga bisa saja mereka melakukan pemecatan atau PHK terhadap karyawan atau pegawai yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Tentu saja proses pemecatan tidak disebutkan karena HIV/AIDS, tapi alasan-alasan lain yang terkait dengan perilaku.

(2) dan (3) Alasan Saudara ingin cepat tes HIV karena mau menikah sangat masuk akal. Persoalannya adalah tes HIV dengan reagen ELISA bisa akurat kalau virus (HIV) sudah membentuk antibody HIV di dalam darah yaitu tiga bulan setelah perbuatan berisiko. Jika tes pada masa jendela, tertular di bawah tiga bulan, hasilnya bisa negatif palsu (HIV ada di dalam darah tapi tidak terdeteksi oleh ELISA atau nonreaktif) atau positif palsu (HIV tidak ada di dalam darah tapi hasil tes dengan ELISA reaktif).

Untuk mengatasi kegalauan Saudara, silakan konsultasi ke tempat-tempat tes HIV yang direkomendasikan oleh pemerintah. Alamat klinik yang dimaksud sudah dikirim melalui SMS ke nomor Saudara. Jika ada kesulitan, silakan kontak kami. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.hivandhepatitis.com).

21 Agustus 2016

AIDS di Kota Blitar Ditanggulangi (Hanya) dengan Sosialisasi

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

“Saat ini prostitusi sudah ditutup, tingginya angka HIV/AIDS  ini sungguh mengejutkan. Kami menduga,  penyebaran HIV/Aids itu sekarang bersumber dari café, tempat karaoke dan rumah kost yang seringkali digunakan sebagai tempat mesum dan pesta narkoba. Kami mengimbau Dinkes untuk turun memberikan sosialiasi di tempat-tempat itu.” Ini pernyataan anggota Komisi I DPRD Kota Blitar, M.Nuhan Eko Wahyudi dalam berita “Dewan Imbau Dinkes Sosialisasi HIV/AIDS Ke Café, Kost dan Karaoke” (jatimtimes.com, 18/8-2016).

Data di Dinkes Kota Blitar menunjukkan sampai pertengahan Agustus 2016 sudah ada 92 penderita HIV-AIDS yang terdeteksi. Angka ini tidak menggambarkan jumlah warga yang mengidap HIV/AIDS karena ada yang tidak terdeteksi. Hal ini terjadi karena warga yang mengidap HIV/AIDS tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka dan tidak ada pula keluhan kesehatan yang terkait langsung dengan AIDS.

Pernyataan anggota DPRD Kota Blitar itu menunjukkan anggota DPRD itu terkungkung mitos (anggapan yang salah) yang selama ini menjadi salah satu faktor yang menyulitkan penanggulangan HIV/AIDS, yaitu sumber HIV/AIDS adalah prostitusi, dalam hal ini lokalisasi pelacuran.

Fakta: HIV/AIDS di lokalisasi pelacuran yang terdeteksi pada pekerja seks komersial (PSK) dibawa atau ditularkan oleh laki-laki ‘hidung belang’ yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa memakai kondom.

Laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, atau lajang yang seterusnya menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Bagi laki-laki yang mempunyai istri, maka ada risiko menularkan HIV ke istrinya. Jika istrinya tertular, itu artinya anak yang dikandung istrinya berisiko pula tertular HIV dari ibunya selama di kandungan atau ketika persalinan atau sewaktu menyusu ke ibunya.

Selanjutnya ada pula laki-laki yang tertular HIV dari PSK karena melakukan hubungan seksual dengan tidak memakai kondom. Laki-laki ini pun dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, atau lajang yang seterusnya menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Fakta inilah yang tidak diketahui oleh anggota Komisi I DPRD Kota Blitar tadi sehingga mengaitkan lokalisasi pelacuran dengan penyebaran HIV/AIDS.

Disebutkan pula oleh Nuhan: “Kami menduga,  penyebaran HIV/Aids itu sekarang bersumber dari café, tempat karaoke dan rumah kost yang seringkali digunakan sebagai tempat mesum dan pesta narkoba ....”

Ini juga persis sama dengan lokalisasi pelacuran. HIV/AIDS tidak serta-merta hadir atau ada di café, tempat karaoke dan rumah kost. Perempuan-perempuan di café, tempat karaoke dan rumah kost yang melayani transaksi seksual tertular HIV dari laki-laki yang mereka ladeni melakukan hubungan seksual tanpa kondom.

Di sisi lain anggota DPRD Blitar ini mengakui bahwa di café, tempat karaoke dan rumah kost terjadi praktek pelacuran. Lalu, untuk apa menutup lokalisasi pelacuran kalau kemudian pelacuran itu pindah ke café, tempat karaoke dan rumah kost?

Ya, bisa jadi untuk pencitraan: Di Kota Blitar, Jawa Timur, tidak ada pelacuran! Benar. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran. Sedangkan praktek pelacuran, ya, tetap ada. Buktinya, seperti yang disebutkan anggota DPRD itu yaitu café, tempat karaoke dan rumah kost.

Katakanlah di Kota Blitar tidak ada lagi café, tempat karaoke dan rumah kost yang menerima transaksi seksual, apakah Pemkot Blita bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa warga Kota Blitar yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan PSK di luar Kota Blitar atau di luar negeri?

Tentu saja tidak bisa. Maka, laki-laki dewasa warga Kota Blitar yang tertular HIV di luar kota atau di luar negeri kalau pulang ke Kota Blitar jadi mata rantai penyebaran HIV.

Langkah konkret yang bisa menurunkan insiden infeksi HIV di Kota Blitar adalah dengan melakukan intervensi terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan perempuan di café, tempat karaoke dan rumah kost, yaitu memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual.

Tanpa langkah konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual, akan jadi ‘bom waktu’ untuk ‘ledakan AIDS’ di Kota Blitar. Untuk mencegah hal ini semua terpulang kepada Pemkot Blitar: pilih sosialisasi atau intervensi. ***  

Ilustrasi (Sumber: www.dnaindia.com)

20 Agustus 2016

Penyebaran HIV/AIDS pada Prostitusi Berkedok Penyewaan Jasa Pramugari, Artis, SPG dan Model

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

Karena informasi HIV/AIDS di awal-awal epidemi selalu dibalut dengan norma, moral dan agama muncullah mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Akibatnya, banyak orang yang tidak menyadari perilaku seksualnya berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS.

Salah satu mitos yang berkebang pesat adalah HIV/AIDS hanya menular melalui pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran.

Maka, laki-laki yang tidak ngeseks dengan PSK di lokalisasi pelacuran tidak menyadari perilakunya tsb. berisko tertular HIV karena cewek-cewek atau perempuan yang bekerja seperti PSK tetap saja risikonya sama dengan PSK yang melayani laki-laki di lokasi atau lokalisasi pelacuran.

Itulah salah satu faktor yang mendorong praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak langsung yaitu cewek atau perempuan yang melakukan praktek PSK di luar lokasi dan lokalisasi pelacuran, seperti yang ada di judul berita ini “Prostitusi Berkedok Penyaluran Jasa SPG dan Model Terbongkar” (kompas.com, 20/8-2016).

Perilaku seksual yang berisiko tertular HIV/AIDS adalah:

(1) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti.

(2) Perempuan yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti.

(3) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan sebagai PSK langsung (PSK yang kasat mata yaitu PSK yang beroperasi di lokasi atau lokalisasi pelacuran).

(4) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan sebagai PSK tidak langsung [PSK yang tidak kasat mata yaitu perempuan yang beroperasi sebagai PSK, seperti cewek panggilan, cewek pemijat plus-plus, cewek kafe, cewek disko, cewek yang disamarkan sebagai SPG (sales promotion girl) , cewek yang disamarkan sebagai model, cewek yang disamarkan sebagai artis, ibu-ibu, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.].

Terkait dengan berita di kompas.com itu yang terjadi adalah poin nomor (4). Cewek-cewek yang disebut sebagai pramugari, model, SPG, dan artis adalah perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV karena mereka melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang menjadi pasangan kencan mereka mengidap HIV/AIDS sehingga cewek-cewek itu pun berisiko tertular HIV/AIDS.

Soalnya, orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisiknya karena tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka sampai belasan tahun sebelum mencapai masa AIDS.

Biar pun tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang mengidap HIV/AIDS, mereka bisa menularkan HIV/AIDS al. melalui hubungan seksual, terutama seks vaginal dan seks anal, tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Cewek-cewek PSK tidak langsung itu sering mengaku memeriksakan kesehatan  secara rutin tiap bulan, maklum mereka punya banyak uang sehingga bisa saja ada “dokter pribadi”, itu tidak jaminan karena:

(a) Pemeriksaan kesehatan rutin dan medical check up tidak otomatis termasuk tes HIV,

(b) Tes HIV dengan reagen ELISA hanya akurat jika tertular HIV sudah lebih tiga bulan,

(c) Hasil tes HIV di bawah tiga bulan (masa jendela) dengan reagen ELISA bisa menghasilkan negatif palsu (HIV ada di darah tapi tidak terdeteksi) atau positif palsu (HIV tidak ada di darah tapi tes reaktif), dan

(d) Hasil tes HIV hanya berlaku sampai pengambilan darah waktu tes HIV karena setelah itu bisa saja ybs. melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko tertular HIV.

Dalam berita disebutkan: “Kepada anggota yang menyamar, AN sempat menawarkan seorang pramugari berinisial V dengan harga Rp 7 juta untuk sekali kencan.”

Alangkah sialnya kalau dengan uang Rp 7 juta pada hubungan seksual juga terjadi penularan HIV/AIDS. Yang jadi korban berikutnya adalah istri dan akan berakhir pada bayi yang akan dilahirkan istri.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian banyak ibu rumah tangga yang hanya melakukan hubungan seksual dengan suami tertular HIV/AIDS. Catatan Kemenkes RI sampai tanggal 1 Desember 2015 jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mencapai 9.096.

Angka tsb. (9.096) tidak menggambarkan jumlah kasus yang ril pada ibu rumah tangga karena kasus itu terdeteksi al. pada pemeriksaan ibu hamil dan persalinan di sarana kesehatan yang sudah menjalankan program konseling kepada ibu hamil.

Tidak semua fasilitas kesehatan yang menjalankan program konseling HIV/AIDS bagi ibu-ibu hamil, sehingga jumlah ril ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS tidak diketahui. Belakangan ini ibu-ibu terdeteksi mengidap HIV/AIDS ketika bayi mereka sakit dengan penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS.

Ketika bayi mereka dites HIV dan hasilnya positif, maka ibu dan ayah anak itu pun menjalani tes HIV. Celakanya, banyak suami yang menolak menjalani tes HIV sehingga mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: prostitutionrecovery.org) 

08 Agustus 2016

Mengapa Ibu Rumah Tangga di Lhokseumawe, Aceh, Rentan Tertular HIV/AIDS?

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Rentan Tertular HIV/AIDS Ibu Hamil Diharuskan Tes Darah.” Ini judul berita di www.goaceh.co (4/8-2016). Judul berita ini mengesankan ibu-ibu hamil itu rentan tertular HIV/AIDS karena perilaku (seksual) mereka. Padahal, mereka rentan tertular HIV/AIDS karena, seperti dikatakan oleh Kepala Bidang  Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Lhokseumawe, Aceh, Herliza: “ .... kalangan ibu rumah tangga lebih banyak tertular disebabkan faktor suami yang sering ganti pasangan serta menggunakan narkoba.”

Maka, judul berita itu tidak tepat karena menyudutkan ibu-ibu rumah tangga. Judul yang pas dan objektif adalah: “Rentan Tertular HIV/AIDS dari Suami, Ibu Hamil Diharuskan Tes Darah”.

Tapi, satu hal yang perlu diingat adalah tes HIV pada ibu-ibu hamil itu adalah langkah penanggulangan di hilir. Artinya, mereka dibiarkan oleh Pemkot Lhokseumawe ditulari HIV oleh suami.

Lagi pula ibu hamil yang menjalani tes HIV kan hanya yang periksa kehamilan di puskesmas dan rumah sakit umum. Kalau ke bidan atau dokter pribadi serta rumah sakit swasta tentu tidak ada kontrol. Itu artinya ada risiko bayi-bayi yang lahir dengan HIV/AIDS.


06 Agustus 2016

Dalang Sosialiasi AIDS: Yang Mendesak Turunkan Insiden Infeksi HIV Baru Bukan Sosialiasi Bahaya AIDS (Lagi)

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

“Tugas dalang kini bertambah. Pemkab meminta para dalang untuk menyosialisasikan bahaya penyakit HIV/AIDS.” Ini ada di berita “Dalang di Kabupaten Kebumen Diminta Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS” (Radar Banyumas, 5/8-2016).

Sosialisasi bahaya HIV/AIDS sudah dilakukan jauh-jauh hari sejak kasus HIV/AIDS terdeteksi (1981). Tapi, tetap saja banyak orang yang tidak mengindahkan sosialisasi karena mitos (anggapan yang salah) yang membalut HIV/AIDS sehingga fakta tentang HIV/AIDS pun ‘terkubur’.

Misalnya, penularan HIV selalu dikait-kaitkan dengan (pelanggaran) norma, moral dan agama. Padahal, sebagai virus HIV menular melalui cara-cara yang tidak terkait langsung dengan norma, moral dan agama. Lihat saja penularan HIV melalui transfusi darah dan jarum suntik. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pelanggaran norma, moral dan agama. Begitu juga dengan penularan HIV di dalam ikatan pernikahan yang sah sama sekali tidak terkait dengan pelanggaran norma, moral dan agama.

Akibat dari informasi HIV/AIDS yang dibalut dengan nomor, moral dan agama itu banyak orang yang kemudian lalai karena mereka merasa tidak melakukan pelanggaran moral, seperti kawin-cerai dan kawin kontrak. Padahal, dua hal ini merupakan perilaku yang berisiko tertular HIV karena hubungan seksual dilakukan dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan.


03 Agustus 2016

Program Pencegahan HIV/AIDS Kota Cirebon “Membiarkan” Suami Tularkan HIV ke Istri

Oleh: SYAIFUL W  HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Laki-laki dewasa ada yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

PSK sendiri dikenal dua macam, yaitu: (1) PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti di lokasi atau lokalisasi pelacuran dan di jalanan, dan (2) PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak bisa dikenali, seperti cewek pemijat, cewek kafe, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.

Laki-laki yang tertular HIV akan menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal di masyarakat, al. kepada istrinya, selingkuhan, sampai PSK. Kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga menjadi bukti bahwa mereka tertular HIV dari suami.

Celakanya, lima program pencegahan penularan HIV/AIDS yang dijalankan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, Jawa Barat, justru mengabaikan potensi laki-laki dewasa sebagai penyebar HIV. Dalam berita “KPA Cirebon Siapkan 5 Program Pencegahan Penularan HIV-AIDS” (republika.co.id, 29/7-2016) disebutkan lima program itu adalah: (1) Kalangan remaja, (2) Ibu hamil, (3) Calon pengantin, (4) Ibu ke anak, dan (5) Pengguna narkoba suntik.


Dengan lima program tsb., maka (Gambar 1):

Pertama, laki-laki yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV diabaikan. Maka, insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa pun akan terus terjadi yang pada gilirannya akan menambah jumlah ibu hamil yang tertular HIV. Di terminal akhir akan menambah bayi yang berisiko lahir dengan HIV/AIDS.

Laki-laki dewasa yang perilaku seksualnya berisiko melakukan hubungan seksual berisiko sebelum program dijalankan dan selama program dijalankan karena tidak ada intervensi terhadap mereka. Pada waktu yang bersamaan ada risiko mereka menularkan HIV ke istri atau pasangan seks lain serta PSK.

Kedua, KPA Kota Cirebon membiarkan ibu-ibu rumah tangga ditulari HIV oleh suami mereka karena tidak ada program yang menjangkau suami-suami untuk menjalankan seks yang aman (Gambar 2). Yang perlu dilakukan KPA Kota Cirebon adalah menjalankan intervensi yaitu mewajibkan laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK selalu memakai kondom.


Atau KPA Kota Cirebon membusungkan dada dengan mengatakan: Di Kota Cirebon tidak ada perzinaan (baca: praktek pelacuran)!

Di satu sisi kita percaya kalau tolok ukurnya lokalisasi pelacuran. Memang di Kota Cirebon tidak ada pelacuran yang dilokalisir.

Tapi, apakah KPA Kota Cirebon bisa menjamin di Kota Cirebon tidak ada hubungan seksual yang berisiko antara laki-laki dan perempuan dengan imbalan uang?

Tentu saja tidak bisa. Itu artinya di Kota Cirebon ada praktek pelacuran. Di Kota Cirebon dan sekitarnya memang tidak ada ’pelacuran’ karena di sana disebut ”esek-esek”. Ini eufemisme terhadap praktek pelacuran sehingga laki-laki pun tidak rikuhya menjawab kalau ditanya: Pulang dari mana? Karena jawabannya bukan dari pelacuran atau berzina, tapi pulang dari ”esek-esek” (Praktek ‘Esek-esek’ di Kab Cirebon, Jabar).

Penanggulangan pada ibu hamil (program nomor 2) yaitu tes HIV adalah program di hilir. Artinya, KPA Kota Cirebon membiarkan ibu-ibu rumah tangga (baca: istri) ditulari suaminya, setelah hamil baru dilakukan tes HIV (Gambar 3).


Bagi laki-laki dewasa yang beristri ada dua pilihan, yaitu: (a) tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual berisiko, tapi memakai kondom ketika sanggama dengan istri sehingga proses reproduksi terhenti, atau (b) memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual berisiko sehingga tidak perlu memakai kondom ketika sanggama dengan istri dan proses reproduksi bisa berjalan alamiah.

KPA Cirebon hanya menyelematkan bayi agar tidak tertular HIV dari ibunya, sementara ibu-ibu dibiarkan tertular HIV karena tidak ada program yang melindungi istri-istri dari risiko ditulari oleh suaminya.

Pelajar SMA dan SMK yang tertular HIV merupakan terminal terakhir karena mereka tidak mempunyai pasangan yang tetap (baca: istri) sehingga penyebaran HIV berhenti pada mereka. Persentase pelajar puitra dengan perilaku seks berisiko sangat kecil jika dibandingkan dengan laki-laki dewasa.

Sedangkan laki-laki dewasa yang mengidap HIV/AIDS akan jadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal ke istrinya, pasangan seks yang lain serta PSK. Celakanya, program KPA Kota Cirebon justru tidak menyasar laki-laki dewasa sehingga penyebaran HIV di Kota Cirebon akan terus bertambah, al. bisa dilihat dari jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.          

Peraturan daerah (Perda) Kota Cirebon No 1 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS juga tidak menawarkan cara-cara penanggulangan yang konkret (Perda AIDS Kota Cirebon, Jawa Barat).

Lima program pencegahan yang akan dilakukan KPA Kota Cirebon tidak akan menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, pada gilirannya jumlah ibu rumah tangga yang tertular HIV pun bertambah. Di ujung jumlah bayi yang berisiko lahir dengan HIV pun banyak pula.

Maka, tanpa program pencegahan yang konkret di hulu insiden infeksi HIV baru di Kota Cirebon akan terus terjadi yang akan jadi ’bom waktu’ menuju ’ledakan AIDS’. ***

Ilustrasi (Sumber: www.lifemartini.com)