08 Mei 2020

AIDS di Indonesia Hampir Sentuh Angka Setengah Juta

                                                               Ilustrasi. (Foto: hivplusmag.com/AP PHOTO).


Oleh: Syaiful W. HARAHAP


Biasanya setiap hari ada saja berita di media massa dan media online tentang HIV/AIDS, mulai dari penemuan kasus baru, ketersediaan obat antiretroviral (ARV), pelacuran, dll. Tapi, sejak pandemi virus corona baru (Covid-19) berita tentang HIV/AIDS benar-benar tenggelam.

Padahal, laporan terbaru menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS sejak tahun 1987 sd. 31 Desember 2019 berada di angka 498.665 yang terdiri atas 377.564 HIV dan 121,101 AIDS. Jumlah kasus ini nyaris menyentuh angka 500.000 atau setengah juta dengan selisih 1.335.

Mengingat sekarang ada di awal Mei 2020 itu artinya jumlah kasus baru triwulan pertama yaitu Januari-April 2020 belum dilaporkan. Selisih jumlah kasus yang dilaporkan antara Triwulan IV/2019 dan Triwulan III/2019 sebanyak 15.727, andaikan laporan kasus Triwulan I/2020 sekitar selisih itu berarti jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS dari tahun 1987 sd. 30 April 2020 lebih dari setengah juta.

1. Cewek Prostitusi Online sebagai PSK Tidak Langsung

Biar pun tidak ada berita HIV/AIDS di media bukan berarti tidak ada insiden infeksi HIV baru karena perilaku seksual yang berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV/AIDS tetap terjadi di masyarakat. Memang, pelacuran terbuka seperti lokasi atau lokalisasi pelacuran sudah tidak ada karena sejak reformasi ada gerakan moral yang masif dan menggebu-gebu untuk menutup lokalisasi pelacuran.

Tapi, penutupan lokasi dan lokalisasi pelacuran tidak menghentikan transaksi seks karena sekarang lokalisasi pelacuran sudah pindah ke media sosial. Transaksi dilakukan melalui daring di media sosial yang dikenal sebagai prostitusi online. Bahkan, dikabarkan melibatkan ‘artis’ dan foto model.


Celakanya, banyak laki-laki yang merasa tidak berisiko tertular HIV/AIDS dengan cewek yang di-booking melalui media sosial. Ini terjadi karena informasi tentang HIV/AIDS sejak awal epidemi, kasus pertama HIV/AIDS yang diakui pemerintah terdeteksi tahun 1987 pada turus Belanda di Bali, selalu dibalut dan dibumbui dengan norma, moral dan agama. Akibatnya fakta medis tentang HIV/AIDS kabur sedangkan yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah).

Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran. Padahal, cewek prostitusi online dalam prakteknya juga sebagai seorang PSK yaitu melayani hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti. Cewek prostitusi online disebut sebagai PSK tidak langsung yang juga berisiko tinggi tertular HIV/AIDS dari pelanggannya. Sedangkan PSK di tempat pelacuran disebut PSK langsung.

2. Kegiatan Seksual Berisiko Terjadi di Ranah Privat

Jumlah kasus HIV/AIDS yang terus bertambah di Indonesia terjadi karena tidak ada program penanggulangan di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama melalui hubungan seksual laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung.

Banyak kalangan yang selalu menyalahkan pemerintah terkait dengan pertambahan jumlah kasus HIV/AIDS yang terus bertambah di Indonesia. Padahal, penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual yang bisa diatur oleh pemerintah hanya pada pelacuran terbuka yang melibatkan PSK langsung jika pelacuran dilokalisir. Celakanya, sejak reformasi tidak ada lagi lokalisasi pelacuran yang dijalankan oleh dinas-dinas sosial.
Yang paling berperan besar dan langsung dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah masyarakat, terutama melalui hubungan seksual. Secara umum ada sembilan pintu masuk HIV/AIDS melalui hubungan seksual seperti tergambar di tabel di bawah ini.

Matriks sembilan pintu masuk HIV/AIDS ke masyarakat dan peran pemerintah serta masyarakat. (Foto: Tagar/Syaiful W. Harahap).

Dari tabel di atas jelas perilaku seksual berisiko nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan 8.1 merupakan aktivitas seksual di ranah privat (privasi) karena dilakukan di sembarang tempat dan sembarang waktu dengan berbagai modus. Yang bisa mencegah penularan HIV/AIDS melalui kegiatan seksual berisiko pada nomor 1 sd. 8.1 hanya masyarakat yang tidak melakukan perilaku berisiko tsb.


Pemerintah sama sekali tidak bisa melakukan intervensi karena semua terjadi di ranah privat. Terutama pada kasus nomor 1 dan 2 jelas merupakan kegiatan legal karena ada pernikahan yang sah tapi tidak dilaporkan ke pemerintah. Sedangkan kegiatan nomor 3 dan 4 juga merupakan kegiatan privat, seperti perselingkuhan, dll. Hal yang sama juga terjadi pada kasus nomor 5 karena bisa dalam berbagai bentuk dan modus.

3. Penyebaran HIV/AIDS Terus Terjadi di Masyarakat

Sedangkan pada kasus nomor 6 juga bisa terjadi secara privat, namun ada juga yang terkait dengan kegiatan pelacuran jalanan. Nomor 7 juga terjadi di ranah privat sehingga tidak bisa diintervensi.

Begitu pula pada kegiatan berisiko nomor 8.1 yang berlangsung di ranah privat. Kegiatan-kegiatan di ranah privasi ini hanya ketahuan kalau ada kasus yang dibongkar polisi, seperti razia pekat (penyakit masyarakat) tapi hanya menyasar penginapan, losmen dan hotel melati.

Itu artinya ada delapan pintu masuk HIV/AIDS melalui hubungan seksual yang sama sekali tidak bisa diintervensi oleh pemerintah yaitu memaksa laki-laki memakai kondom. Program ‘wajib kondom’ bagi laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK di tempat palcuran di Thailand membuahkan hasil dengan indikator terjadi penurunan jumlah calon taruna militer yang terdeteksi HIV/AIDS.

Langkah Thailand itu bisa dijalankan pada kasus nomor 8.2, tapi dengan syarat praktek pelacuran dilokalisir. Karena di Indonesia tidak ada lagi lokalisasi pelacuran yang dijadikan sebagai lokres (lokalisasi dan resosialisasi) bagi PSK, maka praktek-praktek pelacuran dalam berbagai bentuk transaksi seks tidak bisa diintervensi.

Itu artinya insiden infeksi HIV baru terus terjadi, terutama pada laki-laki melalui berbagai kegiatan berisiko tertular HIV/AIDS. Penyebaran HIV/AIDS terus terjadi di masyarakat yang kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. [] (Sumber: https://www.tagar.id/aids-di-indonesia-hampir-sentuh-angka-setengah-juta). 


Provinsi Jawa Timur di Puncak Epidemi AIDS Nasional

Seorang aktivis LSM menyalakan lilin selama kampanye kesadaran AIDS pada malam Hari AIDS Sedunia di Agartala, ibukota negara bagian Tripura, India timur laut, 30 November 2013. Hari AIDS Sedunia diperingati secara internasional setiap anggal 1 Desember. (Foto: chinadaily.com.cn/Agencies).


Oleh: Syaiful W. HARAHAP



Jakarta – Selama ini provinsi yang bercokol di puncak epidemi HIV/AIDS di Indonesia adalah DKI Jakarta dan Papua. Laporan Ditjen P2P Kemenkes RI terakhir tanggal 17 Februari 2020 menunjukkan justru Provinsi Jawa Timur (Jatim) yang bercokol di puncak epidemi HIV/AIDS dengan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS 77.963 yang terdiri atas 57.176 HIV dan 20.787 AIDS.

Di belakang Jatim dalam kelompok 10 besar provinsi ada DKI Jakarta dengan jumlah kasus 76.095, Papua 59.981 dan Jawa Barat (Jabar) 47.277. Berikutnya ada Jawa Tengah (Jateng) 45.046, Bali 29.748, dan Sumatera Utara (Sumut) 23.418. Selanjutnya Sulawesi Selatan (Sulsel) 13.789, Banten 10.039, dan Kepulauan Riau (Kepri) 11.773. Sedangkan provinsi lain ada di peringkat ke-11 sd. peringkat ke-34 (Lihat Tabel).

ilus2 jatim

Jatim merupakan salah daerah yang secara gencar dan massif menutup tempat-tempat pelacuran yang dimotori oleh, waktu itu Mensos Khofifah Indar Parawansa, yang sekarang sebagai Gubernur Jatim. Paling tidak sudah 22 lokasi pelacuran yang ditutup termasuk lokasi pelacuran yang dikenal luas, Dolly. Ini ditutup oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tahun 2014.

Dari aspek kesehatan masyarakat pelacuran yang dilokalisir bisa jadi zona memutus jembatan penyebaran penyakit dari pelacuran ke masyarakat dan sebaliknya melalui intervensi yang memaksa setiap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) memakai kondom. Tapi, karena sejak reformasi gerakan moral menggebu-gebu aspek-aspek kesehatan masyarakat diabaikan terkait dengan pelacuran.


Lagi pula dengan menutup semua tempat atau lokasi pelacuran tidak otomatis menghentikan praktek jual-beli seks karena sekarang lokalisasi sudah pindah ke media sosial. Tawar-menawar dilakukan melalui ponsel.


Belakangan polisi sering menangkap perempuan yang terlibat dalam prostitusi online, bahkan disebut-sebut melibatkan ‘artis’ dan foto model dengan tarif jutaan rupiah untuk short time. Ini bukti praktek jual-beli seks tidak berhenti dengan menutup lokasi atau tempat pelacuran.

Banyak laki-laki ‘hidung belang’ yang membeli seks melalui prostitusi online merasa tidak berisiko tertular ‘penyakit kelamin’, ini sebutan umum untuk IMS (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, al. sifilis/raja singa, GO/kending nanah, klamidia, virus hepatitis B, virus kanker serviks, dll. termasuk HIV/AIDS).

Ini terjadi karena selama ini informasi tentang IMS dan HIV/AIDS selalu dibalut dan dibumbui dengan moral dan agama sehingga fakta medis IMS dan HIV/AIDS hilang sedangkan yang sampai ke masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah). Misalnya, disebutkan bahwa IMS atau HIV/AIDS menular melalui pelacuran dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi. Nah, laki-laki ‘hidung belang’ yang beli seks melalui prostitusi online marasa tidak akan tertular IMS atau HIV/AIDS.

Padahal, cewek yang terlibat pada prostitusi online juga termasuk PSK yang disebut sebagai PSK tidak langsung. Perilaku seksual mereka berisiko tinggi tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus kalau PSK tidak langsung mengidap IMS dan HIV/AIDS.

Dengan jumlah kasus kumulatif yang dilaporkan sebanyak 77.963 belum menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang dilaporkan (77.963) hanya sebagian kecil dari kasus yang ada di masyarakat yang digambarkan sebagai puncak gunung es yang mencuat ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Maka, jika Pemprov Jatim dan pemerintah kabupaten serta kota di Jatim tidak menjalankan program penanggulangan yang konkret di hulu, maka insiden infeksi HIV akan terus terjadi di masyarakat sebagai ‘bom waktu’ yang kelak jadi ‘ledakan AIDS’. []

07 Maret 2020

Fenomena AIDS Persis Serupa dengan Corona

Seorang wanita pakaia masker saat dia berjalan di sepanjang jalan di kawasan pusat bisnis di Beijing, 29 Februari 2020. (Foto: nydailynews.com/AP/Mark Schiefelbein)


Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Jika virus corona ditandai dengan informasi palsu (hoaks) di media sosial, di awal epidemi HIV/AIDS awal tahun 1980-an ditandai dengan mitos


Kalau saja di awal epidemi HIV/AIDS, dipublikasikan pertama kali oleh MMWR (Morbidity and Mortality Weekly Report) pada 5 Juni 1981, ada media sosial (medsos) mungkin hoaks seputar HIV/AIDS lebih riuh dari hoaks virus corona.

Laporan pertama tsb. yang bersumber dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention yaitu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS) tentang lima kasus Pneumocystis carinii pneumonia (PCP) pada laki-laki gay. Dua diantaranya ketika itu meninggal. Karena secara medis belum diketahui penyebabnya mereka menyebutnya dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom atau sindroma penurunan kekebalan tubuh dapatan).

Tahun 1983 Luc Montagnier dkk di Perancis berhasil menemukan penyebab AIDS yang mereka sebut ALV (lymphadenopathy-associated virus). Pada tahun 1984 Robert Gallo dari Amerika Serikat juga menemukan virus penyebab AIDS yang mereka sebut HTLV-III. Pada tahun 1986 Badan Kesehatan Dunia (WHO) memutuskan nama virus penyebab AIDS adalah HIV (Human Immunodeficiency Virus) sekaligus merekomendasi reagen untuk mendeteksi antibodi HIV.

Dengan demikian HIV/AIDS adalah fakta medis yaitu bisa diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran. Tapi, karena kasus pertama terdeteksi pada gay sebagai bentuk homoseksualitas HIV/AIDS pun dikait-kaitkan dengan moral dan agama. Padahal, HIV/AIDS terdeteksi di semua ras, bangsa dan negara di seluruh dunia.

Selain itu ada juga isu konspirasi yang menyebut virus itu buatan bangsa dan negara tertentu. Berbagai publikasi pun menyebut virus itu berasal dari binatang (monyet Afrika). HIV/AIDS juga dikait-kaitkan dengan ras dan bangsa karena ada publikasi yang menyebutkan virus berasal dari Afrika.

Padahal, setelah WHO merekomendasi reagen untuk mendeteksi antibodi HIV di darah manusia beberapa negara menguji darah yang disimpan di rumah sakit. Di beberapa negara, terutama Eropa Barat, jika ada pasien meninggal di rumah sakit tidak bisa diketahui penyebabnya bagian-bagian badan dan darah disimpan di laboratorium. Tes HIV terhadap darah di Swedia menunjukkan ada contoh darah yang disimpan tahun 1959 ternyata reaktif terhadap reagen antibodi HIV.

Gambar 1. Fenomena HIV/AIDS dan virus corona dikait-kaitkan dengan hal di luar medis (Dok Tagar)


Selanjutnya berkembang mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS karena dikait-kaitkan dengan moral dan agama. Akibatnya epidemi HIV tidak bisa dibendung dan pada akhir tahun 2018 jumlah kasus HIV/AIDS secara global 37,9 juta dengan 770.000 kematian. Di Indonesia sendiri prediksi kasus HIV/AIDS pada tahun 2016 mencapai 640.000 sedangkan yang sudah terdeteksi baru separuh.


Persis sama dengan HIV/AIDS virus corona pun dikait-kaitkan dengan binatang, agama, moral, negara, bangsa, ras dan penuh dengan hoaks (Lihat Gambar 1).

Disebut-sebut virus corona berasal dari makanan binatang mentah. Dikaitkan pula dengan kebiasaan buruk ras dan bangsa tertentu. Agamawan pun angkat bicara. Bahkan ada yang menyebut virus corona sebagai ‘tentara Allah’. Celakanya, virus corona tidak hanya menginfeksi ras dan bangsa yang dituduhkan banyak orang karena di kawasan Timur Tengah pun wabah virus corona merebak. Bahkan, di luar China (80.711 dengan 3.045 kematian) dan Korea Selatan (6.284 dengan 42 kematian) kasus corona meledak di Italia (38.58 dengan 148 kematian) dan Iran (3.513 dengan 107 kematian). Sedangkan jumlah kasus global per 6 Maret 2020 sebanyak 98.192 dengan 3.380 kematian.

Gambar 2. Fenomena HIV/AIDS dan virus corona dalam berita dengan narasubmer di luar medis (Dok Tagar)

Mitos tentang HIV/AIDS al. terjadi karena sumber berita sebagian besar narasumber media, terutama yellow paper dan tabloid hiburan, adalah agamawan, aktor dan aktris, yang tidak berkompeten, dan kalangan non medis.

Hal yang sama juga terjadi terhadap virus corona. Bahkan, ada media di Indonesia yang meminta tanggapan kalangan artis terhadap virus corona. Ada pula yang mewawancarai agamawan dan sumber-sumber yang tidak berkompeten al. karena mereka pejabat publik.Padahal, salah satu faktor layak berita ada sumber yang berkompeten (sesuai keahlian).

Gambar 3. Fenomena HIV/AIDS dan virus corona terkait dengan stigma, diskriminasi, dll. (Dok Tagar)

Pemberitaan yang tidak objektif dan serbuan hoaks menimbulkan perilaku irasional, seperti kepanikan dengan membeli keperluan rumah tangga yang tidak logis. Begitu juga dengan pemakaian masker yang tidak rasional karena WHO menyebut yang kalau sehat jangan pakai masker kecuali ada di tempat yang berisiko terjadi penyebaran virus corona.


Dampak buruk dari sumber berita yang tidak berkompeten adalah stigmatisasi (pemberian cap buruk). Dua WNI warga Depok, Jabar, yang jadi kasus pertama dan kedua yang terinfeksi virus corona dikaitkan dengan kegiatan mereka dengan WN Jepang penular corona yaitu berdansa. Ini ditarik ke ranah moral dan agama lalu dikaitkan dengan penularan virus corona sehingga muncullah stigma.

Begitu juga dengan HIV/AIDS yang selalu dikaitkan dengan homoseksualitas dan seks di luar nikah mendorong stigmatisasi dan diskriminasi (perlakuan berbeda). Stigmatisasi dan diskriminasi tidak hanya dilakukan oleh kalangan awam, tapi juga oleh kalangan medis yang paham tentang HIV/AIDS dari aspek medis.


Penolakan warga Natuna, Kepri, terhadap WNI yang dievakuasi dari pusat wabah corona yaitu Wuhan, China, menunjukkan penolakan yang terjadi karena hoaks. Pemberitaan media, terutama televisi, terhadap dua warga Depok yang terinfeksi virus corona pun mendorong penolakan dan pengucilan. Di beberapa daerah di Indonesia terjadi pengucilan terhadap pengidap HIV/AIDS, bahkan ada dibuang ke pulau terpencil dan ke gunung.

Celakanya, ada saja kalangan yang membela penyebar hoaks dengan mengatakan hal itu sebagai kebebasan berekspresi. Ini jelas konyol karena ekspresi yang mereka sebarkan hoaks. Sedangkan untuk media massa dan dan media online sekarang pemerintah tidak bisa melakukan kontrol sesuai dengan UU Pers yang liberal. [] - Sumber: https://www.tagar.id/fenomena-aids-persis-serupa-dengan-corona

Laki-laki Heteroseksual Jadi Penyebar AIDS di Aceh


Ilustrasi (Foto: aids.nlm.nih.gov)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP


Beberapa daerah mengaitkan LGBT dalam penyebaran HIV/AIDS, padahal yang potensial menyebarkan HIV/AIDS di Aceh justru laki-laki heteroseksual

Jakarta – Ketika kasus HIV/AIDS mulai merangkak naik muncullah upaya cari kambing hitam yaitu menyalahkan LGBT, padahal yang jadi penyebar HIV/AIDS di masyarakat justru kaum heteroseksual. “Jadi untuk di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, maka kalangan LGBT yang bertanggung jawab paling besar terhadap penyebaran HIV dan AIDS di dua daerah tersebut,” tutur Khaidir. Ini ada dalam berita “Bocah Empat Tahun di Aceh Terinfeksi HIV”, Tagar, 4 Maret 2020.

Sebagai Direktur Yayasan Permata Aceh Peduli (YPAP) Khaidir menyampaikan informasi yang tidak akurat sehingga menimbulkan salah paham di masyarakat yang akan berujung pada stigmatisasi (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap LGBT.

Terkait dengan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang kasat mata hanya transgender yang juga dikenal sebagai waria. Sedangkan lesbian, gay dan biseksual tidak bisa dikenali karena tidak ada ciri-ciri yang khas pada fisik dan perilaku mereka yang menggambarkan lesbian, gay dan biseksual.

Pada lesbian tidak ada seks penetrasi sehingga risiko penularan HIV melalui aktivitas seksual pada lesbian tidak ada. Itulah sebabnya lesbian tidak masuk dalam kelompok kunci. Sedangkan gay tidak punya istri sehingga tidak ada penyebaran HIV/AIDS ke masyarakat. Penularan HIV/AIDS hanya terjadi di komunitas gay.

Maka, pernyataan Khaidir yang menyebutkan “ …. kalangan LGBT yang bertanggung jawab paling besar terhadap penyebaran HIV dan AIDS di dua daerah tersebut (Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara) ….” tidak akurat karena lesbian bukan kelompok kunci dan gay tidak mempunyai istri. Waria justru didatangi laki-laki heteroseksual, bahkan yang mempunyai istri.

Yang jadi persoalan besar pada LGBT adalah biseksual. Mereka ini mempunyai istri tapi juga pasangan homoseksual. Itu artinya biseksual jadi jembatan penyebaran HIV/AIDS dari komunitas mereka ke masyarakat. Yang beristri menularkan HIV/AIDS ke istrinya, sedangkan yang tidak punya istri menyebarkan HIV/AIDS ke pasangan seksual mereka.

Justru laki-laki heteroseksual yang jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam nikah dan di luar nikah. 

Perilaku laki-laki heteroseksual dewasa yang berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara serta di daerah lain di Aceh adalah:

(1). Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam nikah atau di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti di wilayah Aceh atau di luar wilayah Aceh, bahkan di luar negeri.

(2). Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), di wilayah Aceh atau di luar wilayah Aceh, bahkan di luar negeri.

Yang perlu diingat adalah PSK ada dua tipe, yaitu:

(a). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(b), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, cewek prostitusi online, 'artis dan model' prostitusi online, dll.

Maka, pernyataan Khaidir yang menyebutkan bahwa proses penularan HIV/AIDS kepada bocah umur empat tahun itu belum tahu bagaimana tentulah jadi tanda tanya besar karena sudah dijelaskan ibu anak itu HIV-positif. Itu artinya anak umur empat tahun itu tertular dari ibunya pada saat persalinan atau menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Kalau saja Khaidir berpikir jernih tanpa balutan moral tentulah akar persoalan penyebaran HIV/AIDS di Aceh dilakukan oleh laki-laki heteroseksual. Kalau disebutkan di Aceh tidak ada lokalisasi pelacuran bukan berarti tidak ada transaksi seks dengan berbagai modus, bahkan memakai media sosial. Berita “Prostitusi Online Lewat Facebook dan WhatsApp di Aceh” di Tagar, 9 Juli 2019, menunjukkan transaksi seks melalui media sosial di Aceh.

Jika Aceh terus menyangkal andil laki-laki heteroseksual sebagai mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat itu artinya Pemprov Aceh membiarkan penyebaran HIV/AIDS di masyarakat. Jika ini terjadi maka epidemi HIV/AIDS di Aceh kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. [] - Sumber: https://tagar.id/lakilaki-heteroseksual-jadi-penyebar-aids-d-aceh

17 Februari 2020

Memprihatinkan, Kasus HIV/AIDS di Indonesia Nyaris Tembus 300.000

Peringatan Hari AIDS Sedunia. (Shutterstock)

Ririn Indriani

Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia hanya di Hilir.


https://www.suara.com/health/2016/12/01/073000/memprihatinkan-kasus-hivaids-di-indonesia-nyaris-tembus-300000]