01 Agustus 2019

Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia Hanya Sebatas Orasi Moral

Ilustrasi (Sumber: in.one.un.org)
Oleh: Syaiful W. HARAHAP

"Indonesia diperkirakan gagal mencapai target penanggulanganHIV/AIDS pada 2020. Kendala teknis dan stigma diduga jadi penyebabnya." Pernyataan ini ada dalam berita "Terburuk ke-7 di Asia, RI Terancam Gagal Capai Target Penanggulangan HIV/AIDS" (VOA Indonesia, 31/7-2019).
Kesimpulan dalam pernyataan di atas jelas ngawur bin ngaco.
Pertama, stigma (pemberian cap buruk) ada di hilir yaitu pada orang-orang yang sudah tertular HIV/AIDS dan terdeteksi melalui tes HIV.
Kedua, orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS sebagian besar sudah menjalani pengobatan yaitu dengan terapi obat antiretroviral (ARV) sehingga menurunkan risiko menularkan.
Ketiga, kendala teknis apa?
Penanggulangan HIV/AIDS yang dimaksud berhasil pada tahun 2020 adalah tidak ada lagi infeksi HIV baru. Ini 'kan sama saja dengan angan-angan sebagai bunga tidur di siang bolong. Soalnya, sejak awal epidemi HIV/AIDS yang diakui pemerintah yaitu tahun 1987 tidak ada program riil dan konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru di hulu yaitu pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK).
Estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2016 disebutkan 640.443, tapi per 31 Maret 2019 baru 453.964  yang terdeteksi atau  70,88 persen yang terdiri atas 338.363 HIV dan 115.601 AIDS (Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 11/5-2019).
Dikatakan oleh Direktur Eksekutif Rumah Cemara, Aditia Taslim, jika banyak orang tidak mengetahui status HIV-nya, bisa saja mereka menularkannya kepada orang lain.
Yang jadi persoalan besar adalah tidak ada mekanisme yang konkret untuk mendeteksi kasus HIV/AIDS yang tersembunyi di masyarakat. Dalam epidemi HIV/AIDS disebut sebagai bongkahan gunung es yang ada di bawah permukaan air laut, sedangkan kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut.
Yang terjadi salama ini al. adalah penjangkauan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan bantuan donor asing. Tapi, sejak Presiden SBY memasukkan Indonesia dalam kelompok negara G-20 Indonesia tidak boleh lagi menerima hibah (grant) dari luar negeri. Akibatnya, penjangkauan terkendala dan kasus HIV/AIDS banyak ditemukan secara pasif yaitu ketika pengidap HIV/AIDS berobat ke Puskesmas atau rumah sakit dan tes HIV terhadap ibu hamil.
UNAIDS, Badan PBB yang mengangai HIV/AIDS melancarkan isu 90-90-90 yaitu 90 persen Odha tahu status HIV-nya, 90 persen dari Odha itu menjalani terapi ARV, 90 persen menekan kematian.
Disebutkan dalam berita: Mengejar target, pemerintah Indonesia meluncurkan strategi STOP atau singkatan dari Suluh Temukan Obati Pertahankan.
Persoalannya, apa cara-cara yang konkret untuk mendeteksi warga yang tertular HIV/AIDS tapi tidak menyadari bahwa dirinya sudah mengidap HIV/AIDS?
Tidak ada!
Itulah yang terjadi di Indonesia. Penanggulangan hanya di hilir yaitu tes HIV dan terapi ARV, sementara insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa terus terjadi. Bahkan, suami ibu-ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS banyak yang menolak tes HIV sehingga mereka jadi mata rantai penyebaran HIV baru.
Keberhasilan Thailand menanggulangi HIV/AIDS adalah melalui program 'wajib kondom 100 persen' bagi laki-laki yang ngeseks dengan PSK di tempat-tempat pelacuran. Nah, ini dicangkok di Indonesia tapi praktek PSK tidak lagi dilokalisir sehingga intervensi tidak bisa dilakukan.
Transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu yang melibatkan PSK langsung dan PSK tidak langsung sehingga insiden infeksi HIV baru terus terjadi. Laki-laki yang tertular HIV jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
PSK sendiri dikenal ada dua tipe, yaitu:
(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.
(2), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dll.
Celakanya, banyak laki-laki yang tidak merasa berisiko tertular HIV karena mereka ngeseks dengan PSK tidak langsung.
Selama tidak ada intervensi terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual berisiko, terutama dengan PSK, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru terus terjadi yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. * [kompasiana.com/infokespro] *

28 Juli 2019

Raperda Anti-LGBT Kota Depok, Kasihan Waria Akan Terusir

Ilustrasi (Sumber: medicalxpress.com)
Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Tragis benar nasib waria di Kota Depok, Jabar, jika rancangan peraturan daerah (Raperda) Anti-LGBT disahkan jadi peraturan daerah (Perda) karena sebagai transgender mereka tidak diterima lagi hidup sebagai makhluk Tuhan di Kota Depok.
Soalnya, dalam LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) yang kasat mata hanya transgender yaitu waria. Sedangkan lesbian, gay dan biseksual tidak bisa dikenali dari fisiknya.
Lagi pula sebagai orientasi seksual lesbian, gay dan biseksual (catatan: transgender bukan orientasi seksual tapi identitas gender) ada di alam pikiran sehingga tidak bisa dilarang. Yang perlu dilarang adalah perilaku seksual dalam bentuk homoseksual yaitu seks oral dan seks anal di dalam dan di luar nikah.
Pemrakarsa Raperda Anti-LGBT, Hamzah, anggota Fraksi Partai Gerindra, mengatakan: "Prilaku LGBT dinilai telah bertentangan dengan Pancasila sila pertama dan kedua." (jabar.suara.com, 21/7-2019).
Tidak jelas apa perilaku LGBT yang disebut Hamzah bertentangan dengan sila pertama dan kedua Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab).
Kalau yang dimaksud Hamzah adalah seks oral dan seks anal, maka hal ini juga dilakukan oleh kalangan heteroseksual. Bahkan, tidak sedikit pasangan suami-istri yang melakukan seks oral dan seks anal, bahkan dalam posisi "69".  Banyak istri yang mengeluh karena dipaksa suami melayani seks oral dan seks anal. Ini termasuk 'marital rape' yaitu perkosaan dalam pernikahan.
Dalam berita Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok dikatakan menyebut: "Tercatat 2014 ada 4.932 gay dan bertambah, kini ada sekitar 5.791 gay."
Secara fisik gay tidak bisa dikenali. Apakah 5.791 warga yang disebut KPA Kota Depok itu mengaku bahwa mereka gay sebagai sumber primer? Adalah hal yang tidak masuk akal ada 5.791 warga Kota Depok yang menyatakan diri sebagai gay.
Sedangkan Dinas Sosial Kota Depok mengungkapkan ada 114 orang dari 222 orang yang mengindap HIV adalah para gay.
Jika disimak dari aspek epidemiologi HIV/AIDS data ini sangat baik karena HIV/AIDS pada gay ada di terminal terakhir di komunitasnya. HIV/AIDS pada gay tidak perlu dikhawatirkan karena mereka tidak punya istri sehingga tidak ada jembatan penyebaran ke masyarakat.
Disebutkan bahwa Dinas Kesehatan Kota Depok juga mencatat kasus HIV/AIDS priode September 2018 sebanyak 168 yang terbanyak adalah gay. Ini juga kabar baik bagi penanggulangan HIV/AIDS di Kota Depok karena mereka tidak mempunyai istri sehingga tidak akan banyak lagi ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS yang pada akhirnya bayi yang lahir dengan HIV/AIDS pun akan turun.
Jika Raperda Anti-LGBT itu pada akhirnya dikaitkan dengan HIV/AIDS, maka tidak akan ada gunanya dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS karena laki-laki heteroseksual justru lebih banyak yang melakukan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS daripada gay.
Dalam kegiatah sharing dengan 2 pekerja seks komersial (PSK) dan 1 waria yang beroperasi di Kota Depok pada "Pelatihan Media dan CSO" dengan tema "Pemberitaan Media yang Positif bagi ODHA" yg diikuti oleh wartawan dan pendamping Odha diprakarsai oleh Indonesia AIDS Coalition (IAC)/Koalisi AIDS Indonesia di Kota Depok tanggal 18-20 Juli 2019 di Hotel Bumi Wiyata, Kota Depok, Jawa Barat, terungkap bahwa pelanggan mereka justru kebanyakan lagi-laki beristri.
Satu dari 2 PSK itu dan 1 waria mengidap HIV/AIDS, tapi tetap saja ada pelanggan yang menolak memakai kondom. Itu artinya banyak laki-laki dewasa beristri warga Kota Depok yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS.
Apakah dengan Perda Anti-LGBT penyebaran HIV/AIDS di Kota Depok bisa ditanggulangi? Tentu saja tidak bisa. Itu aritnya penyebaran HIV/AIDS di Kota Depok (akan) terus terjadi yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. * [kompasiana.com/infokespro] *

Inisiatif Vaksin AIDS Menafikan Perilaku

Ilustrasi (Sumber: guardian.ng)
Oleh: Syaiful W. HARAHAP

"Beberapa pilihan untuk pencegahan adalah vaksin, kombinasi alat kontrasepsi dengan obat HIV, penggunaan antibodi, pemakaian obat terapi untuk pencegahan, injeksi obat kerja panjang (long-acting), hingga cincin vaginal. Bahkan, muncul perdebatan bagaimana memanfaatkan teknik rekayasa genetika untuk mencegah infeksi HIV." Ini kutipan dari berita "Inovasi Pencegahan HIV Terus Dikembangkan" di Harian "Kompas" (25/7-2019).
Ketika kalangan medis merekomendasikan kondom, yang sejak dulu dikenal sebagai alat mencegah kehamilan melalui hubungan seksual atau disebut juga kontrasepsi, dunia pun bereaksi keras terutama yang melihanya dari sisi negatif. "Kondom menjerumuskan orang ke lembah maksiat." "Kondom mendorong orang berzina." Dst ....
 Waktu dr Nafsiah Mboi sebagai Menteri Kesehatan (Menkes) RI mendorong sosialisasi kondom untuk mencegah penularan HIV dia malah di-bully habis-habisan oleh banyak kalangan, terutama ormas agama, dengan menyebut Bu Naf, panggilan akrabnya, sebagai ‘menteri cabul’. Padahal, Bu Naf mendorong promosi kondom untuk melindungi diri agar tidak tertular HIV melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah.

Celakanya, tak ada yang berani membela Bu Naf, bahkan presiden waktu itu juga memilih diam. “Menkes RI yang baru, Nafsiah Mboi, adalah menteri cabul liberal, karena baru saja jadi menteri sudah bikin heboh dengan kampanye kondom bagi remaja yang belum menikah, dengan dalih untuk cegah AIDS dan cegah kehamilan di luar nikah,” kata Habib Rizieq Syihab (arrahmah.com, 19/6-2012).
Tapi, ketika ada lembaga yang menjalankan program untuk menemukan vaksin melawan HIV yaitu Inisiatif Vaksin AIDS Internasional (International AIDS Vaccine Initiative)/IAVI yang berpusat di New York, AS, tak satupun yang buka mulut. Bahkan, tokoh ormas agama yang mem-bully Bu Naf juga tak buka mulut.
Padahal, vaksin (antibody atau kekebalan tubuh untuk melawan bakteri, virus, dll. yang menyerang tubuh) justru lebih 'berbahaya' daripada kondom. Dengan sekali divaksinasi seumur hidup kebal. Bandingkan dengan kondom yang harus dibeli dulu, dibuka bungkusnya, dipasang, dst. yang memerlukan uang dan keterampilan. Bahkan, banyak yang menyebutkan kondom mengurangi sensasi hubungan seksual.
Padahal, berbagai studi dan penelitian menunjukkan kondom efektif mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual dengan catatan kualitas kondom terjamin, tidak lewat masa kadaluarsa dan cara pemakaian yang benar.
Penyebaran HIV/AIDS di berbagai belahan Dunia (Sumber: who.int)
Penyebaran HIV/AIDS di berbagai belahan Dunia (Sumber: who.int)
UNAIDS, Badan Khusus PBB yang menangani HIV/AIDS, berkoar-koar tahun 2030 Dunia bebas AIDS tapi tanpa langkah konkret untuk menghentikan insiden infeksi HIV baru. Yang dijalankan banyak negara, termasuk Indonesia, hanya pengobatan bagi warga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Ini jelas langkah di hilir yang tidak menghentikan insiden penularan HIV baru di hulu, terutama pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual berisiko, al. dilakukan dengan pekerja seks komersial (PSK).
Rupanya, Konferensi International AIDS Society (IAS) Ke-10 di Mexico City, Meksiko (21-24 Juli 2019) mengedepankan studi tentang pencegahan. Celakanya, yang dibahas justru vaksin yang bisa saja membuat banyak orang lupa daratan karena tidak takut lagi melakukan hubungan seksual berisiko.
Nah, ini sama sekali tidak jadi perhatian kalangan yang selama ini membalut lidahnya dengan moral yang menentang pemakaian kondom pada hubungan seksual berisiko untuk mencegah penularan HIV.
Ketika kalangan ahli lebih memilih vaksin daripada mengajak ummat menjalankan hubungan seksual yang aman itu artinya mengabaikan harkat manusia sebagai makhluk yang bisa mengedepankan akal sehat daripada membabibuta mengumbar nafsu birahi.
Tapi, ternyata kalangan ahli justru 'didukung' oleh orang-orang yang (selama ini) sok moralis dengan membalut lidah dengan moral menentang sosialisasi kondom sebagai alat mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual.
Kita tinggal menunggu seperti apa gerangan perilaku sebagian orang yang sudah menerima vaksin AIDS kelak dalam melampiaskan dorongan birahinya. * [kompasiana.com/infokespro]*

AIDS di Kota Bogor yang Berkurang Bukan Pengidapnya

Ilustrasi (Sumber: vinmec.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP
"Penderita HIV di Kota Bogor Berkurang 25 Persen, Ini Penyebabnya" Ini judul berita di radarbogor.id (16/3-2019). Dari judul berita ini ada beberapa hal yang janggal, yaitu:
Pertama, orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS melalui tes HIV tidak otomatis menderita. Bahkan, sejak ada pengobatan HIV/AIDS dengan obat antiretroviral (ARV) kondisi pengidap HIV/AIDS terus terjaga sehingga tidak mudah kena panyakit.
Kedua, apa tolok ukur pengidap HIV/AIDS di Kota Bogor berkurang 25 persen? Apakah bisa diketahui dengan pasti jumlah penduduk Kota Bogor yang tertular HIV setiap hari, setiap bulan atau setiap tahun?
Disebutkan dalam berita: Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) menghitung ada sekitar 25 persen ODHA berkurang sejak 2016 lalu. Kasus HIV/AIDS pada tahun 2015 ada 700, 2016 ada 400 dan saat ini 337 kasus. Menurut Sekretaris KPA Kota Bogor, Iwan Suryawan, penurunan    angka itu sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh KPA
Tapi, Iwan rupanya tidak memahami kalau angka-angka tsb. adalah jumlah kasus yang terdeteksi bukan kasus insiden infeksi HIV baru atau penularan HIV baru pada warga Kota Bogor.
Bisa dikatakan berkurang kalau setiap tahun semua warga Kota Bogor menjalani tes HIV sehingga ada perbandingan dari tahun ke tahun. Tapi, ini pun tidak akurat karena tes HIV hanya berlaku saat darah diambil untuk tes HIV. Setelah tes HIV status HIV seseorang tergantung kepada perilaku seksualnya atau perilaku seksual pasangan atau suaminya.
Penurunan jumlah kasus yang terdeteksi tidak identik dengan penurunan jumlah insiden infeksi HIV baru karena warga yang terdeteksi tertular HIV/AIDS pada tahun 2015 bisa saja tertular pada tahun-tahun sebelumnya. Apalagi ada di antaranya yang terdeteksi pada masa AIDS itu artinya ybs. sudah tertular antara 5-15 tahun sebelum tahun 2015.
Yang jelas yang bekurang bukan jumlah warga Kota Bogor yang tertular HIV, tapi jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi.
Iwan pun mengatakan pencegahan pertama melakukan edukasi tentang HIV dan AIDS kepada seluruh elemen masyarakat. Berikut penanggulangan, dengan melakukan penjangkauan menyisir kepada kelompok populasi kunci, di antaranya pengguna narkoba, gay, waria dan WTS terakhir pelanggannya.
Edukasi tidak semerta menghentikan seseorang dari perilaku seksual berisiko. Butuh waktu. Dalam rentang waktu antara menerima edukasi dan mengubah perilaku seksual bisa saja sudah terjadi penularan HIV karena ybs. tetap melakukan perilaku berisiko.
Transaksi seks dalam berbagai bentuk terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu dengan berbagai modus. Bisa jadi Pemkot Bogor atau KPA Kota Bogor menganggap tidak ada praktek pelacuranlagi karena sudah tidak ada lokalisasi pelacuran.
Tentu saja tidak mungkin dijangkau untuk melakukan intervensi terutama terhadap laki-laki dewasa agar memakai kondom setiap kali melalukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) langsung dan PSK tidak langsung karena transkasi seks tidak dilokalisir.
Tanpa intervensi di hulu, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi pada laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa yang tertular HIV akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Ini kelak akan bermuara pada 'ledakan AIDS'. * [kompasiana.com/infokespro] *

27 Juli 2019

Setiap Hari 1 Juta Warga Dunia Tertular "Penyakit Kelamin"*

Ilustrasi (Sumber: refinery29.com)


Informasi yang dirilis WHO (Badan Kesehatan Sedunia PBB) (6/6-2019): "More than 1 million new curable sexually transmitted infections every day" jadi menarik karena infeksi, dalam hal ini empat jenis IMS, yaitu: klamidiaGO/gonorrhoea (kencing nanah), trikomoniasis, dan sifilis (raja singa) bisa dicegah dengan cara-cara yang riil.
IMS menular dari seseorang yang mengidap salah satu atau beberapa jenis IMS kepada orang lain, terutama melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom yang disebut sebagai hubungan seksual berisiko.
Hubungan seksual yang berisiko terjadi penularan IMS dan HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus adalah:
(a). Hubungan seksual di dalam dan di luar nikah dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom yang dilakukan dengan pasangan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari pasangan tsb. mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya, dan
(b) Hubungan seksual tanpa kondom dengan seseorang yang sering berganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK). PSK sendiri dikenal dua tipe, yaitu:
(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan, dan
(2). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dll.
Di Indonesia di sekitar lokasi tempat transaksi seks, sebelum reformasi ada lokalisasi pelacuran, laki-laki 'hidung belang' akan mencari obat antibiotik Supertetra dll. Ada mitos (anggapan yang salah) yang menyebutkan bahwa obat antibiotik bisa mencegah penularan IMS. Yang tidak masuk akal di Papua ada tokoh agama dan pejabat yang justru menolak memakai kondom dengan jargon: Seks Yes, Kondom No!
Maka, jangan heran kalau kemudian kasus HIV/AIDS merebak di Papua. Bahkan, belakangan pemerintah daerah di sana menjadikan sirkumsisi (sunat) pada laki-laki untuk mencegah penularan HIV/AIDS, termasuk IMS. Padahal, sunat menurukan risiko tertular IMS dan HIV/AIDS bukan mencegah penularan IMS dan HIV/AIDS.
Rilis WHO menyebutkan kasus baru IMS terjadi pada warga pada rentang usia 15 -49 tahun. Pada rentang usia ini dorongan seksual sedang menggebu-gebu. Celakanya, informasi tentang risiko tertular IMS atau HIV/AIDS, bahkan bisa dua-duanya sekaligus, selalu dibalut dengan norma dan moral sehingga yang muncul hanya mitos bukan cara-cara yang konkret untuk melindungi diri agar tidak tertular IMS atau HIV/AIDS melalui hubungan seksual berisiko.
Sebelumnya "VOA Indonesia", 30/8-2018,  melaporkan "Jumlah Penderita Penyakit Menular Seksual Capai Rekor Tertinggi di Amerika". Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, seperti dilansir kantor berita "AFP", mengatakan bahwa tahun 2017 kasus "penyakit kelamin" mencapai rekor tertinggi. 2,3 juta kasus klamidia, gonore (kencing nanah) dan siflis (raja singa) dilaporkan terdeteksi pada warga Amerika sepanjang tahun 2017.
Ketika ada alat untuk mencegah penularan IMS dan HIV/AIDS yang murah-meriah dan mudah dibeli, ternyata banyak warga dunia yang memilih hubungan seksual berisiko dengan tidak memakai kondom. Bisa jadi banyak laki-laki yang termakan mitos bahwa risiko tertular IMS atau HIV/AIDS hanya melalui hubungan seksual dengan PSK langsung di lokalisasi pelacuran. Mereka melakukan hubungan seksual dengan PSK tidak langsung yang dalam prakteknya sama saja dengan PSK langsung.
IMS yang dikenal luas adalah GO dan sifilis, padahal banyak jenis IMS yang ditularkan oleh pengidap IMS ke orang lain melalui hubungan seksual tanpa kondom di dala dan di luar nikah. Pada perempuan IMS tidak menunjukkan gejala yang khas dan tidak pula menimbulkan rasa sakit ketika buang air kecil.
Dalam bulletin online yang diterbitkan WHO disebutkan penelitian menunjukkan bahwa di antara pria dan wanita yang berusia 15-49 tahun, pada tahun 2016 terdeteksi 127 juta kasus baru klamidia, 87 juta GO, 6,3 juta sifilis, dan 156 juta trikomoniasis. Dr Peter Salama, Executive Director for Universal Health Coverage and the Life-Course at WHO, mengatakan: "Ini adalah seruan untuk upaya terpadu untuk memastikan semua orang, di mana saja dapat mengakses layanan yang mereka butuhkan untuk mencegah dan mengobati penyakit yang melemahkan ini."
Empat jenis IMS yang terdeteksi itu bisa diobati. Persoalannya adalah banyak malu ke dokter sehingga mereka membeli obat sendiri di penjual obat di pinggir jalan atau di kaki lima. Selain itu di Indonesia anak-anak dan remaja harus bersama orang tua jika berobat. Padahal, WHO menyebutkan kasus IMS sudah terdeteksi pada umur 15 tahun. Tentu saja remaja-remaja yang tertular IMS itu tidak akan pernah meminta bantuan orang tua mengantar ke dokter, Puskesmas, atau rumah sakit. Akibatnya, mereka pun membeli obat di pinggir jalan.
Infeksi IMS kian mencemaskan karena secara global pada tahun 2016 sekitar 200.000 kematian bayi saat persalinan dan setelah dilahirkan karena ibunya mengidap sifilis. * [kompasiana.com/infokespro] *
* Pemakaian frasa 'penyakit kelamin' untuk memudahkan pembaca menangkap isi artikel. Istilah atau terminologi yang tepat adalah infeksi menular seksual (IMS), yang semula disebut sexually transmitted diseases (STDs) yang diindonesikan jadi penyakit menular seksual (PMS). Istilah ini diganti dengan sexually transmitted infections (STIs) atau infeksi menular seksual (IMS).

Penanggulangan HIV/AIDS di Bintan Kepri Dilakukan di Hilir

Ilustrasi (Sumber: msn.com)

Ini ada dalam berita "Penderita HIV/AIDS di Bintan Bertambah di 2019, Dinkes Tempuh Cara Ini Untuk Antisipasi"(batam.tibunnews.com, 4/7-2019): Angka kasus penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome(AIDS) bertambah di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri pada 2019 ini. Hal tersebut disebabkan oleh perilaku hubungan seksual bebas hingga gonta-ganti pasangan dan suka sesama jenis yang dipraktikkan oleh warga Bintan.
Pernyataan di atas tidak akurat, karena:
Pertama, kasus HIV/AIDS bertambah karena ada kasus baru yang terdeteksi. Jumlah kasus HIV/AIDS akan terus naik karena pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru sehingga angkanya terus naik. Biar pun ada pengidap yang meninggal dunia tidak dikurangi dari jumlah kasus.

Fenomena Gunung Es
Kedua, penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual, dalam berita disebut 'hubungan seksual bebas', tapi karena kondisi hubungan seksual yaitu salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual. Begitu juga dengan 'suka sesama jenis' penularan HIV terjadi jika salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS.
Ketiga, 'gonta-ganti' pasangan bukan penyebab penularan HIV/AIDS tapi perilaku berisiko tinggi tertular HIV karena bisa saja salah satu dari pasangan tsb. mengidap HIV/AIDS. Jika hubungan seksual tidak memakai kondom maka ada risiko penularan HIV.
Pernyataan di atas merupakan bentuk mitos (anggapan yang salah) yang jadi batu sandungan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia karena masyarakat tidak memahami fakta medis tentang penularan HIV/AIDS.
Secara (fakta) medis penularan HIV/AIDS melalui berbagai bentuk hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, bisa terjadi jika salah satu atau kedua pasangan tsb. mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom.
Persoalannya adalah pengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisiknya karena tidak ada ciri-ciri fisik dan keluhan kesehatan yang khas HIV/AIDS pada orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Itulah sebabnya melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, tanpa memakai kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering ganti-gantai pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), adalah perilaku seksual yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS.
Dalam berita disebutkan: Sebab, sepanjang tahun 2018 lalu, jumlah penderita HIV tercatat 34 orang dan penderita dengan AIDS sebanyak 25 orang.
Jika dikaitkan dengan epidemi HIV/AIDS, maka jumlah kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan hanyalah yang terdeteksi sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat bisa lebih banyak. Soalnya, epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi (34 HIV dan 25 AIDS) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.
Dok Pribadi
Dok Pribadi
Disebutkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, Kepri, dr Gama Isnaeni: .... adapun penyebab terjangkitnya penyakit HIV/ AIDS ini kepada masyarakat di kabupaten Bintan rata-rata adalah perilaku hubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan.
Dalam berita tidak dijelaskan dengan siapa warga Bintan melakukan 'perilaku hubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan'.
Ini yang jadi kunci persoalan. 'Perilaku hubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan' dilakukan dengan PSK melalui transaksi seks dalam bentuk pelacuran terselubung dengan berbagai macam modus.
PSK Tidak Langsung
Celakanya, Pemkab Bintan dan Dinkes Bintan mungkin menganggap di daerahnya tidak ada pelacuran karena tidak ada lokalisasi pelacuran yang dibina oleh pemerintah setempat seperti sebelum reformasi. Ini anggapan yang keliru karena praktek pelacuran terus terjadi yang melibatkan PSK langsung dan PSK tidak langsung melalui cara-cara yang tidak konvensional yaitu dengan memanfaatkan telekonuminasi dan media sosial.
PSK sendiri dikenal ada dua tipe, yaitu:
(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.
(2), PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dll.
Bisa saja laki-laki warga Bintan melakukan 'perilaku hubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan' dengan PSK tidak langsung. Ini terjadi karena selama ini berkembang mitos (anggapan yang salah) bahwa HIV/AIDS menular melalui hubungan seksual dengan PSK langsung di lokalisasi pelacuran.
Kondisinya kian runyam karena transaksi seks tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dijalankan program berupa intervensi yang memaksa laki-laki selalu memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.
Itu artinya insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual yang tidak aman (tidak memakai kondom) dengan PSK langsung atau PSK tidak langsung terus terjadi yang selanjutnya disebarkan ke masyarakat. Yang punya istri menularkan ke istrinya. Kalau istrinya tertular, maka ada pula risiko penularan (vertikal) kepada bayi yang dikandungnya terutama saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).
Celakanya, penanggulangan yang akan dijalankan Dinkes Bintan tidak menyentuh hulu yaitu transaksi seks dengan PSK. Ini yang dilakukan Dinkes Bintan: Gama Isnaeni juga menambahkan, agar penyebaran HIV/AIDS tidak meluas, Dinkes terus berupaya melakukan penjaringan ke masyarakat lewat screening calon pengantin (Caten) dan ibu hamil (Bumil) dan juga langkah lainnya.
Tes HIV pada calon pengantin bukan vaksin. Artinya, biar pun status HIV calon pengantin negatif, dalam rentang waktu perkawinan bisa saja terjadi penularan HIV kalau salah satu atau keduanya melakukan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS.
Sedangkan tes HIV pada ibu hamil adalah langkah di hilir yaitu ketika suami sudah tertular HIV dan menularkan ke istri. Maka, ketika ibu hamil terdeteksi HIV-positif itu artinya ada dua warga yang mengidap HIV/AIDS yaitu suami dan istri. 
Kalau si suami mempunyai istri lebih dari satu, maka jumlah perempuan yang berisiko tertular HIV juga tambah banyak yang kelak bermuara pada jumlah bayi yang lahir dengan HIV/AIDS. * [kompasiana.com/infokespro] *

22 Juli 2019

Ibu Ini Kebingungan Ketika Anaknya Terdeteksi Mengidap HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: nih.gov)

Tanya Jawab AIDS No 1/Juli 2019

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, WA dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Selain di Kompasiana, Tanya Jawab AIDS ini juga bisa dilihat di aidsindonesia.com. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

Tanya: Saya seorang ibu sebagai single parent di Bali. Maaf sekali saya WA tengah malam. Saya sedih dan syok, Pak. Barusan anak laki-laki saya, berumur 24 tahun, bilang kalau dia kena HIV. (1) Apa dosa saya, Pak? Saya selalu berusaha jadi ibu yang baik. (2) Apa yang harus saya perbuat, Pak? (3) Pendapatan saya gak banyak. Anak saya tes HIV di rumah sakit swasta di salah satu kota di Bali. (4) Apakah anak saya umurnya pendek?

Via WA, 19/7-2019

Jawab: Ibu tidak sendirian karena banyak ibu yang juga menghadapi kenyataan pahit ketika anaknya terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Bahkan, banyak pula bayi yang lahir dengan HIV/AIDS. Ibu mereka tertular HIV dari suaminya. Banyak dari suami itu yang tidak jantan karena meninggalkan istri dan anak-anaknya ketika diberitahu anak dan istrinya mengidap HIV/AIDS.

(1). Tidak ada kaitan langsung antara dosa dan penularan HIV karena HIV juga menular melalui hubungan seksual di dalam nikah jika salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS.

(2). Yang perlu ibu jalankan adalah memberikan dukungan yang positif bagi anak ibu. Menjaga kesehatannya dan tentus saja mengawasi jadwalnya meminum obat antiretroviral (ARV). Pengawasan ini penting karena ketika pertama kali diberikan obat ARV disebut obat lini pertama. Jika tidak teratur minum atau berhenti, maka ketika hendak minum obat ARV lagi akan diberikan obat lini kedua yang harganya lebih mahal. Jika lini kedua tidak diminum teratur atau berhenti, maka akan masuk ke obat lini ketiga yang harga jauh lebih mahal lagi.

(3). Ibu dan orang tua pengidap HIV/AIDS di Indonesia karena obat ARV diberikan gratis. Begitu juga dengan beberapa tes terkait HIV/AIDS serta obat-obatan untuk penyakit penyerta juga gratis. Jika anak ibu ikut program BPJS Kesehatan tentulah pengobatan dan obat-obatan lain juga gratis.

(4). Soal umur ada di tangan Tuhan. Banyak Odha (Orang dengan HIV/AIDS) yang sudah belasan tahun sejak terdeteksi tetap hidup dengan baik seperti layaknya orang yang tidak mengidap HIV/AIDS. Tentu saja jika minum obat ARV sesuai dengan anjuran dokter dengan menjaga kesehatan dan asupan gizi yang seimbang.

Sebaiknya ibu menghubungi kelompok dampingan di tempat tinggal ibu agar anak ibu berkumpul dengan teman sebaya dengan status HIV yang sama. Silakan ditanya ke rumah sakit tempat tes HIV nama dan alamat kelompok dukungan di tempat tinggal ibu. * [kompsiana.com/infokespro] *

21 Juli 2019




Pada “Pelatihan Media dan CSO” dengan tema "Pemberitaan Media yang Positif bagi ODHA" yg diprakarsai oleh Indonesia AIDS Coalition (IAC)/Koalisi AIDS Indonesia di Kota Bogor (15-17 Juli 2019) dan Kota Depok (18-20 Juli 2019), keduanya di Jawa Barat, presentasi dari Dinkes setempat sama sekali tdk ada program yg riil tentang upaya2 untuk menurunkan insiden infeksi HIV di hulu, al. pada laki2 melalui hubungan seksual tanpa kondom dng pekerja seks komersial (PSK). Apakah penguasa di kedua kota itu menganggap tdk ada lagi transaksi seks dlm bentuk pelacuran terselubung krn tdk ada lokalisasi pelacuran? Klu ini yg terjadi, maka celakalah warga di kedua kota itu krn penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi yg kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’ …. (Ilustrasi – Sumber: elpais.com) …. 

- Syaiful W. Harahap

12 Juli 2019

Perilaku Seksual LGBT Juga Dilakukan oleh Sebagian Kaum Heteroseksual

Sumber: twgram.me

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

MENOLAK SEGALA BENTUK AKTIVITAS DAN TINDAKAN LGBT(LESBIAN, GAY, BISEKSUAL DAN TRANSGENDER). LGBT ITU PENYAKIT BUKAN HAK ASASI MANUSIA "Kalian yang berdosa, kami yang kena azab". Ini adalah spanduk JURUSAN BIOLOGI, FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGER PADANG
Ada beberapa hal terkait dengan pernyataan di atas, yaitu:
Pertama, dengan menyebut 'menolak segala bentuk aktivitas dan tindakan LGBT' itu artinya yang ditolak adalah tindakan atau perbuatan LGBT. Tidak jelas tindakan atau perbuatan apa yang dimaksud dalam spanduk tsb.
Apakah mahasiswa dan civitas akademi Jurusan Biologi itu menolak usaha seorang waria (transgender) sebagai tukang rias atau pemotong rambut?
Tak kurang dari   Menristekdikti, M Nasir, yang mengatakan 'Kampus mestinya tidak dimasuki LGBT' (antaranews.com, 23/1-2016). Ini jelas tidak masuk akal sehat karena yang kasat mata hanya transgender, sedangkan lesbian, gay dan biseksual tidak kasat mata.
Kedua, kalau yang dimaksud dengan 'menolak segala bentuk aktivitas dan tindakan LGBT' adalah aktivitas seksual, maka tindakan seksual yang selalu dikaitkan dengan LGBT, khususnya gay dan transgender yaitu seks anal dan seks oral, juga dilakukan oleh orang-orang yang bukan LGBT.
TIdak sedikit pasangan suami-istri yang melakukan seks oral dan seks anal. Ada juga kasus suami memaksa istri melakukan seks oral, bahkan dalam posisi "69".
Ketiga, LGBT sebagai orientasi seksual ada di alam pikiran. Adalah hal yang mustahil melarang setiap orang berpikir soal seks anak dan seks oral.
Maka, yang merupakan tindakan atau perbuatan yang melawan hukum adalah tindakan atau perilaku seksual yang mereka lakukan.
Analoginya, seks oral dan seks anal pada laki-laki dan perempuan heteroseksual pun termasuk perbuatan melawan hukum. Bahkan, jika seorang suami memaksa istri seks oral atau seks anal itu merupakan perbuatan melawan hukum sebagai marital rape atau perkosaan dalam perkawinan.
Maka, amatlah naif peringatan Jurusan Biologi itu jika dibawa ke ranah realitas sosial karena yang bisa dikenali dengan mata telanjang hanyalah transgender atau waria. Betapa menyedihkan kalau seorang waria dilarang beraktivitas sebagai penata rias atau pemotong rambut.
Jika yang dimaksud tindakan seksual, maka banyak kalangan heteroseksual yang juga melakukan tindakan seksual seperti yang dilakukan LGBT. Di kalangan remaja yang pacaran juga sering terjadi seks oral dan seks anal untuk menghindari kehamilan. Apakah mereka ini termasuk dalam amar Jurusan Biologi itu?
Dalam epidemi HIV/AIDS belakangan ini muncul mitos bahwa yang menyebarkan HIV/AIDS adalah LGBT. Ini keliru karena yang potensial sebagai penyebar HIV/AIDS di masyarakat justru laki-laki dan perempuan heteroseksual.
Penyebutan 'LGBT itu penyakit bukan hak asasi manusia' jika berdasarkan perilaku seksual tentulah laki-laki dan perempuan heteroseksual yang melakukan perbuatan LGBT, bahkan dalam ikatan pernikahan yang sah secara agama dan hukum, juga merupakan penyakit bukan hak sebagai seorang suami.
Apa kaitan antara LGBT sebagai orientasi seksual dengan dosa? Bagaimana pula dengan yang bukan LGBT tapi dalam pikirannya ada (seks) LGBT, apakah ini juga dosa? * [kompasiana.com/infokespro] *