17 September 2016

Bupati Aceh Utara Membiarkan Pengidap HIV/AIDS Mati


Oleh: Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

“Bupati Aceh Utara: Yang Terindikasi HIV/AIDS Biarkan Mati.” Ini judul berita di merdekabicara.com (16/9-2016). Ini benar-benar di luar akal sehat karena seorang bupati, Muhammad Thaib, memberikan pernyataan yang melawan harkat dan martabat manusia sebagi makhluk Tuhan di muka Bumi ini.

Sekarang HIV/AIDS bisa diobati yaitu dengan obat antiretroviral (ARV) yang menurunkan risiko kematian. Maka, pemberian obata ARV kepada pengidap HIV/AIDS setelah memenuhi syarat medis akan menyelematkan mereka dari kematian sia-sia.

Salah satu hak setiap warga negara dalam jaminan sosial adalah masalah kesehatan. Sebaliknya pemerintah wajib menyediakan jaminan sosial bagi warga. HIV/AIDS murni masalah kesehatan karena menyangkut virus yang menular dan menyebabkan kesakitan. Celakanya, ada saja yang selalu mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan norma, moral dan agama. Memang, cara-cara penularan HIV ada kaitannya dengan moral, tapi kecelakaan lalu lintas, penyakit-penyakit degeratif, seperti penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, dll. juga terkait dengan perilaku yang juga bagian dari moralitas.

Dalam berita disebutkan: “Yang sudah terindikasi tertular  HIV AIDS, himbauan saya biarkan mati,“ kata Bupati menjawab wartawan. Astaga, rupanya wartawan pun sama saja dengan Pak Bupati yang memakai pola berpikir pada masa 35 tahun yang lalu dalam melihat AIDS di masa sekarang. Catatan penulis wartawan pun ada yang mengidap HIV/AIDS.

Patut juga Pak Bupati dan pegawai di Pemkab Aceh Utara diajak untuk tes HIV. Nah, kita tunggu apa reaksi Pak Bupati jika ada pegawai yang terindikasi mengidap HIV/AIDS. Apakah dibiarkan saja sampai mati?

Ini data HIV/AIDS di Aceh Utara. Hingga kini tercatat 37 warga terjangkit HIV dan masih hidup. Sedangkan 21 warga lainnya sudah meninggal. Jumlah kasus HIV/Aids di Aceh Utara masih yang tertinggi di Aceh (aceh.tribunnews.com, 26/8-2016).

Atau Pak Bupati membusungkan dada dengan mengatakan: Warga Aceh Utara hidup di daerah dengan syariat Islam dan tidak ada pelacuran di Aceh Utara!

Pak Bupati benar seratus persen. Tapi:

(1) Apakah Pak Bupati bisa menjamin sama sekali tidak ada praktek perzinaan dalam bentuk pelacuran di Aceh Utara?

(2) Apakah Pak Bupati bisa menjamin tidak ada laki-laki warga Aceh Utara yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK) di luar Aceh Utara?

(3) Apakah Pak Bupati bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa warga Aceh Utara yang melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan dewasa asal luar Aceh Utara atau di luar Aceh Utara?

(4) Apakah Pak Bupati bisa menjamin tidak ada perempuan dewasa warga Aceh Utara yang melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan laki-laki dewasa asal luar Aceh Utara atau di luar Aceh Utara?

(5) Apakah Pak Bupati bisa menjamin tidak ada warga Aceh Utara yang menyalahgunakan narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan jarum yang dipakai bersama-sama?

Jika jawaban dari lima pertanyaan di atas salah satu saja TIDAK, maka ada warga Aceh Utara yang berisiko tertular HIV dan warga yang tertular HIV inilah yang akan menyebarkan HIV/AIDS di Aceh Utara, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Agaknya, cara berpikir Pak Bupati ini tetap berada 35 tahun yang lalu di awal epidemi HIV/AIDS ketika banyak orang hanya melihat penularan HIV/AIDS pada kalangan laki-laki gay dan PSK. Cara berpikir yang mundur empat dekade.

Padahal, HIV/AIDS di kalangan PSK justru dibawa oleh laki-laki ‘hidung belang’ yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang pejabat, pegawai, karyawan, aparat, rampok, maling, mahasiswa, copet, sopir, pilot, pelaut, wartawan, dll. Laki-laki ini dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, suami kawin-kontrak, suami nikah mut’ah, dll.

Pernyataan Pak Bupati yang tidak manusiawi itu menghujat hati nurani istri-istri yang tertular HIV/AIDS dari suami, bayi dan anak-anak yang tertular HIV dari ibu mereka, dan orang-orang yang tertular HIV dari transfusi darah.

Apakah Pak Bupati memikirkan dampak buruk pernyatannya? Ternyata tidak karena pola pikir yang mundur tadi. Pernyataan ini membuktikan pemahaman Pak Bupati terhadap HIV/AIDS sebagai fakta medis sangat rendah: “Yang perlu kita tingkatkan (himbauan) kepada orang tuanya agar menjaga anaknya. memberi pendidikan,” kata Muhammad Thaib.

Nah, Pak Bupati rupanya tidak mengetahui kalau banyak anak-anak yang justr tertular HIV dari ibunya, sedangkan ibu mereka tertular HIV dari suami. Yang perlu dididik bukan anak-anak, tapi orang-orang tua, dalam hal ini laki-laki dewasa, agar menjaga perilaku seksnya sehingga tidak tertular HIV/AIDS.

Pemahaman Pak Bupati terhadap HIV/AIDS sebagai fakta medis yang sangat rendah bisa disimak dari pernyataan ybs.: Menurut bupati, menggunakan dukun beranak juga dapat menyebabkan timbulnya HIV AIDS.

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: bagaimana cara penularan HIV/AIDS dari dukun beranak ke ibu yang melahirkan? Celakanya, wartawan hanya mengutip pernyataan bupati tanpa bertanya lebih jauh tentang pernyataan tsb.

Pemahaman wartawan yang menulis berita ini terhadap HIV/AIDS memang jeblok sampai ke titik nadir. Buktinya ini: “Kebeberadaan klinik ini diharapkan dapat membantu korban hiv aids dan dapat mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut.” Sampai hari ini (18/9-2016) belum ada kasus kematian karena HIV/AIDS. Kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi karena penyakit-penyakit yang ada pada masa AIDS, disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TBC, dll. Masa AIDS secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertula HIV. Sekarang masa AIDS tidak masalah lagi karena sudah ada obat ARV yang menekan pertambahan jumlah virus (HIV) di dalam darah.

Menurut wartawan yang menulis berita ini poin penting yang harus dilakukan adalah orang tua harus memeriksa kesehatan calon menantunya bila ingin menikahkan anaknya. “Jangan bangga pada motto,… oo…calon menanatu saya baru pulang dari Malaysia.“

Tes HIV pada calon menantu tidak jaminan si menantu selamanya akan bebas dari HIV/AIDS. Bisa saja setelah menikah si suami melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV/AIDS yaitu salah satu dari lima perilaku di atas sehingga tertular HIV. Jika ini terjadi, maka bisa saja si suami menuding istrinya yang selingkuh karena dia memegang surat keterangan ‘bebas AIDS’.


Satu hal yang luput dari perhatian Pak Bupati adalah sebelum seorang pengidap HIV/AIDS mati jika tidak ditangani sejak terdeteksi tanpa dia sadari dia menularkan HIV/AIDS kepada orang lain. Misalnya, kalau seorang laki-laki maka dia akan menularkan HIV/AIDS ke istrinya. Kalau istrinya lebih dari satu, maka kian banyak perempuan dan bayi yang berisiko tertular HIV/AIDS hanya karena seruan bupati: ‘Yang Terindikasi HIV/AIDS Biarkan Mati’. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

11 September 2016

Cowok Ini Khawatir Kena AIDS Setelah Melakukan Seks Anal

Tanya Jawab AIDS No 2/September 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Bisa gak ya HIV itu tertular kalau berhubungan seks dengan cowok lain tanpa memakai kondom, tapi sperma dikeluarkan di luar?   

‘A’, via SMS (9/8-2016)

Jawab: Kuncinya ada pada cowok yang melakukan seks anal terhadap Saudara. Kalau cowok itu mengidap HIV/AIDS, maka ada risiko penularan HIV karena cowok itu tidak memakai kondom. Risiko penularan HIV melalui hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal), bukan soal air mani (bukan sperma karena dalam sperma tidak ada HIV dan sperma tidak bisa lepas dari air mani) di keluarkan di dalam vagina, rongga mulut atau anal, tapi pergesekan antara penis dengan vagina dan cairan vagina, dengan bibir dan dengan anus.

Jika air mani cowok pengidap HIV/AIDS yang melakukan hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal) dikeluarkan di dalam vagina, rongga mulut dan anus meka risiko tertular HIV bagi pasangan cowong itu lebih besar lagi karena selain gesekan ada cairan yang mengandung HIV masuk ke vagina, rongga mulut dan anus.

Yang jadi persoalan besar bagi Saudara adalah Saudara tidak bisa memastikan bahwa cowok tsb. tidak mengidap HIV/AIDS. Saudara juga tidak bisa memastikan bahwa cowok itu tidak pernah melakukan hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal) dengan perempuan atau laki-laki selain Saudara.

Maka, setiap hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal), di dalam dan di luar nikah, yang dilakukan dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom dengan pasangan yang berganti-ganti (kawin-cerai, kawin kontrak, dll.) atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan (seperti pekerja seks komersial atau PSK langsung dan PSK tidak langsung) selalu ada risiko terjadi penularan HIV antar pasangan.

PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll. *** [AIDS Watch Indonesia] 
***
Ilustrasi (Sumber: biblicalgenderroles.com)



09 September 2016

Cewek Ini Khawatir Tertular HIV/AIDS karena Dimasturbasi Pemijat Cowok dengan Jari-jari



Tanya Jawab AIDS No 1/September 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang cewek, 20-an tahun, memilih cara yang aman untuk mencapai orgasme yaitu melakakukan masturbasi dengan bantuan pemijat cowok yaitu memakai jari tangan. (1) Dengan cara itu apakah ada risiko tertular HIV/AIDS? (2) Apakah saya perlu tes HIV/AIDS?

“Xz”, Jawa Barat, via SMS (8/9-2016)

Jawab: (1) Dari aspek risiko penularan HIV/AIDS sangat kecil. Risiko penularan HIV/AIDS ada jika pemijat cowok itu mengidap HIV/AIDS dan jari-jari yang dipakainya melakukan masturbasi luk dengan mengeluarkan darah. Namun, ada persoalan lain yang bisa terjadi yaitu kerusakan pada permukaan vagina dan di bagian dalam vagina jika ada kuku pada jari cowok yang dipakai masturbasi. Kulit jari pun keras sehingga bisa juga menyebabkan iritasi pada bagian-bagian vagina.

Selain itu bisa saja cowok menaruh sesuatu di jari sehingga masuk ke dalam vagina. Pekerja seks komersial (PSK) akan memeriksa penis laki-laki sebelum melakukan hubungan seksual karena bisa saja laki-laki ‘hidung belang’ melekatkan kulit ari telur di ujung penis sehingga tinggal di dalam vagina. Ini akan mengeluarkan bau busuk sehingga PSK itu pun tidak ‘laku’.

Bisa juga salah satu tangan cowon itu dia pakai untuk onani sehingga air mani tumpah di tangannya. Bisa saja cowok itu mengganti tangan dengan memakai jari tangan yang kena air mani melakukan masturbasi. Kalau cowok itu mengidap kencing nanah (GO) atau raja singa (sifilis) tentu penyakit itu menempel di jari-jarinya ketika dia onani. Kalau ini terjadi, maka ada risiko penularan penyakit infeksi menular atau HIV/AIDS jika si cowong mengidap HIV/AIDS.

(2) Kalau hanya memakai jari dan tidak sering risiko kecil. Tidak perlu tes HIV, tapi tes penyakit lain perlu juga, seperti kanker serviks, dll. Segeralah konsultasi ke dokter ahli kandungan. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.timeslive.co.za)

26 Agustus 2016

Seks Oral dengan Orang Sehat, Apakah ada Risiko Kena IMS atau AIDS?

Tanya Jawab AIDS No 3/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Apakah seks oral bisa terjadi penularan HIV atau IMS jika dilakukan dengan orang sehat?

Via SMS (16/8-2016)

Jawab: Pertama, sehat. Ini sangat subjektif karena selama tidak sedang berobat atau dirawat di rumah sakit bisa disebut sehat. Kedua, tidak ada kaitan langsung antara sehat dan mengidap IMS [infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual (seks vaginal, seks anal dan seks oral), seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, klamidia, jengger ayam, herpes genitalis, virus hepatitis B, dll.] serta HIV/AIDS. Bisa saja orang-orang yang mengidap IMS dan HIV/AIDS atau kedua-duanya tampak sehat-sehat saja.

Pengidap HIV/AIDS sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala, ciri-ciri atau tanda-tanda yang khas HIV/AIDS pada fisik mereka. Tapi, mereka bisa menularkan HIV al. melalai darah (tranfusi) dan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Risiko penularan HIV melalui seks oral sanga rendah. Belum ada kasus HIV/AIDS yang dilaporkan dengan faktor risiko seks oral. Tapi, penularan penyakit lain, seperti IMS bisa saja terjadi dan sudah ada kasus IMS melalui seks oral (fellatio yaitu penis masuk ke mulut dan cunnilingus yaitu lidah ke vagina) di rongga mulut.

HIV ada di dalam air mani laki-laki dan cairan vagina perempuan. Kencing nanah dan raja singa ada infeksi di penis dan vagina.

Maka, pada seks oral rongga mulut akan menampung air mani yang mengidap HIV/AIDS pada fellatio dan melewati kerongkongan jika ditelan, serta lidah akan bersentuhan langsung dengan cairan vagina yang terkontaminasi dengan HIV/AIDS pada cunnilingus. Lalu, bibir dan rongga mulut perempuan pun akan bersentuhan langsung dengan penis yang ada infeksi kencing nanah atau raja singa. 

Yang jelas Saudara tidak bisa menjamin yang mengoral, laki-laki atau perempuan, tidak mengidap HIV/AIDS atau IMS atau dua-duanya sekaligus hanya dengan berpatokan bahwa orang tsb. (tampak) sehat.

Beberapa penyakit IMS ada gejala atau infeksi pada alat kelamin, seperti sifilis dan GO, tapi hepatitis B sama sekali tidak ada gejala atau infeksi pada alat kelamin. Maka, jangan berpatokan pada ‘kelihatan sehat’ karena IMS dan HIV/AIDS hanya bisa diketahui dengan pasti melalaui tes di laboratorium medis. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.cafepress.com) 

24 Agustus 2016

Pria Ini Ingin Agar Tidak Kena HIV/AIDS Setelah Ngeseks dengan PSK

Tanya Jawab AIDS No 2/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) E-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual tidak memakai kondom dengan pekerja seks komersial (PSK), saya tidak mengetahui dengan pasti apakah PSK itu mengidap HIV/AIDS atau tidak. Saya hanya melakukan sekali itu saja. Itu pun hanya 15 - 20 menit. Beberapa jam setelah kejadian itu badan saya terasa dingin. Serasa akan demam. Nafsu makan tidak ada. (1) Berapa besar kemungkinan saya tertular HIV/AIDS? (2) Bagaimana mengatasi agar saya tidak terkena HIV/AIDS?

Via SMS (29/7-2016)

Jawab: (1) Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual dengan tidak memakai kondom tidak bisa diperkirakan atau dihitung. Yang jelas hubungan seksual yang Saudara lakukan berisko karena:  Saudara tidak memakai kondom, dan Saudara melakukannya dengan perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yaitu seorang PSK yang melayani hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti.

Persoalannya ada pada PSK itu. Kalau PSK tsb. tidak mengidap HIV/AIDS tidak ada risiko penularan HIV kepada Saudara. Tapi, yang perlu diingat adalah kita tidak bisa mengetahui status HIV seseorang dari penampilan fisik karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Maka, kondisi yang Saudara alami setelah melakukan hubungan seksual bisa saja karena faktor lain.

Yang perlu Saudara ketahui adalah probabilitas atau kemungkinan tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali risiko terjadi penularan HIV. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual ke berapa terjadi penularan HIV/AIDS. Bisa yang pertama, kedua, ketujuh, kedua puluh, ketujuh puluh, bahkan pada hubungan seksual yang ke-100.

Selain itu tidak pula bisa diketahui lama atau waktu hubungan seksual baru bisa terjadi penularan HIV/AIDS. Tidak ada penelitian tentang lama atau waktu hubungan seksual (seks vaginal dan seks anal) agar terjadi penularan HIV. Begitu juga dengan kondisi hubungan seksual dengan mengeluarkan air mani di luar vagina atau di luar anus juga tidak jaminan tidak terjadi penularan HIV kalau dilakukan dengan pengidap HIV/AIDS.

(2) Jika sesorang sudah tertular HIV/AIDS, maka tidak ada cara atau obat yang bisa mengeluarkan HIV/AIDS dari dalam tubuh. Obat AIDS yang ada sekarang, obat antriretroviral (ARV) hanya bisa menahan laju replikasi atau penggandaan virus di dalam darah.

Agar tidak tertular HIV/AIDS yang bisa dilakukan adalah, al. (1) Laki-laki menghindari hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS, (2) Laki-laki tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, dan (3) Laki-laki tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK.


Untuk mengatasi rasa was-was, sebaiknya Saudara konseling ke Klinik VCT di puskesmas atau rumah sakit umum di tempat Saudara bermukim. Jika ada kesulitan, silakan kondom kami. *** [Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.highschoolgh.com) 

22 Agustus 2016

Anak Muda Ini Pengen Segera Tes HIV Karena Mau Menikah

Tanya Jawab AIDS No 1/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax (021) 22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya mau konseling karena hati saya benar-benar tidak bisa tenang. Beberapa hari yang lalu saya melakukan tindakan berisiko tanpa pengaman dengan PSK (pekerja seks komersial-peng.). Sebelum kejadian ini tahun-tahun sebelumnya pernah juga saya lakukan hal yang sama, tapi bua bulan yang lalu saya medical check up dengan hasil yang baik. (1) Apakah melalui medical check up seseorang yang sudah tertular HIV/AIDS bisa terdeteksi? Saya benar-benar galau. Mohon bantuan dan bimbingan karena saya ingin segera tes HIV karena saya segera akan menikah. (2) Mohon rekomendasi tempat tes HIV dengan biaya yang terjangkau. (3) Apakah tes HIV lebih baik segera dilakukan dan 3, 6 dan 9 bulan ke depan saya tes HIV lagi?

Mr ‘X’, di Kota “J”, via SMS (22/8-2016)

Jawab: (1) Tes HIV hanya dilakukan atas permintaan sehingga pada medical check up tidak otomatis ada tes HIV. Permintaan bisa dilakukan oleh seseorang atau oleh sebuah perusahaan, badan, lembaga, institusi, dll. Tapi, jika diminta oleh   perusahaan, badan, lembaga, institusi, dll. harus sepengetahuan karyawan atau pegawai.

Nah, kalau Saudara medical check up berdasarkan rekomendasi tempat Saudara bekerja, silakan ditanya apakah termasuk tes HIV. Celakanya, sering terjadi perusahaan tidak memberitahu karyawan bahwa dalam medical check up ada tes HIV. Ini merupakan perbuatan yang melawan hukum, apalagi kemudian karyawan di-PHK dengan alasan mengidap HIV/AIDS perusahaan tsb. sudah melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan yaitu tidak boleh memecat atau mem-PHK karyawan dan pegawai karena mengidap HIV/AIDS.

Tapi, perusahan dll. punya kebijakan sendiri yang disepakati sehingga bisa saja mereka melakukan pemecatan atau PHK terhadap karyawan atau pegawai yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Tentu saja proses pemecatan tidak disebutkan karena HIV/AIDS, tapi alasan-alasan lain yang terkait dengan perilaku.

(2) dan (3) Alasan Saudara ingin cepat tes HIV karena mau menikah sangat masuk akal. Persoalannya adalah tes HIV dengan reagen ELISA bisa akurat kalau virus (HIV) sudah membentuk antibody HIV di dalam darah yaitu tiga bulan setelah perbuatan berisiko. Jika tes pada masa jendela, tertular di bawah tiga bulan, hasilnya bisa negatif palsu (HIV ada di dalam darah tapi tidak terdeteksi oleh ELISA atau nonreaktif) atau positif palsu (HIV tidak ada di dalam darah tapi hasil tes dengan ELISA reaktif).

Untuk mengatasi kegalauan Saudara, silakan konsultasi ke tempat-tempat tes HIV yang direkomendasikan oleh pemerintah. Alamat klinik yang dimaksud sudah dikirim melalui SMS ke nomor Saudara. Jika ada kesulitan, silakan kontak kami. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.hivandhepatitis.com).

21 Agustus 2016

AIDS di Kota Blitar Ditanggulangi (Hanya) dengan Sosialisasi

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

“Saat ini prostitusi sudah ditutup, tingginya angka HIV/AIDS  ini sungguh mengejutkan. Kami menduga,  penyebaran HIV/Aids itu sekarang bersumber dari café, tempat karaoke dan rumah kost yang seringkali digunakan sebagai tempat mesum dan pesta narkoba. Kami mengimbau Dinkes untuk turun memberikan sosialiasi di tempat-tempat itu.” Ini pernyataan anggota Komisi I DPRD Kota Blitar, M.Nuhan Eko Wahyudi dalam berita “Dewan Imbau Dinkes Sosialisasi HIV/AIDS Ke Café, Kost dan Karaoke” (jatimtimes.com, 18/8-2016).

Data di Dinkes Kota Blitar menunjukkan sampai pertengahan Agustus 2016 sudah ada 92 penderita HIV-AIDS yang terdeteksi. Angka ini tidak menggambarkan jumlah warga yang mengidap HIV/AIDS karena ada yang tidak terdeteksi. Hal ini terjadi karena warga yang mengidap HIV/AIDS tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka dan tidak ada pula keluhan kesehatan yang terkait langsung dengan AIDS.

Pernyataan anggota DPRD Kota Blitar itu menunjukkan anggota DPRD itu terkungkung mitos (anggapan yang salah) yang selama ini menjadi salah satu faktor yang menyulitkan penanggulangan HIV/AIDS, yaitu sumber HIV/AIDS adalah prostitusi, dalam hal ini lokalisasi pelacuran.

Fakta: HIV/AIDS di lokalisasi pelacuran yang terdeteksi pada pekerja seks komersial (PSK) dibawa atau ditularkan oleh laki-laki ‘hidung belang’ yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa memakai kondom.

Laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, atau lajang yang seterusnya menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Bagi laki-laki yang mempunyai istri, maka ada risiko menularkan HIV ke istrinya. Jika istrinya tertular, itu artinya anak yang dikandung istrinya berisiko pula tertular HIV dari ibunya selama di kandungan atau ketika persalinan atau sewaktu menyusu ke ibunya.

Selanjutnya ada pula laki-laki yang tertular HIV dari PSK karena melakukan hubungan seksual dengan tidak memakai kondom. Laki-laki ini pun dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, atau lajang yang seterusnya menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Fakta inilah yang tidak diketahui oleh anggota Komisi I DPRD Kota Blitar tadi sehingga mengaitkan lokalisasi pelacuran dengan penyebaran HIV/AIDS.

Disebutkan pula oleh Nuhan: “Kami menduga,  penyebaran HIV/Aids itu sekarang bersumber dari café, tempat karaoke dan rumah kost yang seringkali digunakan sebagai tempat mesum dan pesta narkoba ....”

Ini juga persis sama dengan lokalisasi pelacuran. HIV/AIDS tidak serta-merta hadir atau ada di café, tempat karaoke dan rumah kost. Perempuan-perempuan di café, tempat karaoke dan rumah kost yang melayani transaksi seksual tertular HIV dari laki-laki yang mereka ladeni melakukan hubungan seksual tanpa kondom.

Di sisi lain anggota DPRD Blitar ini mengakui bahwa di café, tempat karaoke dan rumah kost terjadi praktek pelacuran. Lalu, untuk apa menutup lokalisasi pelacuran kalau kemudian pelacuran itu pindah ke café, tempat karaoke dan rumah kost?

Ya, bisa jadi untuk pencitraan: Di Kota Blitar, Jawa Timur, tidak ada pelacuran! Benar. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran. Sedangkan praktek pelacuran, ya, tetap ada. Buktinya, seperti yang disebutkan anggota DPRD itu yaitu café, tempat karaoke dan rumah kost.

Katakanlah di Kota Blitar tidak ada lagi café, tempat karaoke dan rumah kost yang menerima transaksi seksual, apakah Pemkot Blita bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa warga Kota Blitar yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan PSK di luar Kota Blitar atau di luar negeri?

Tentu saja tidak bisa. Maka, laki-laki dewasa warga Kota Blitar yang tertular HIV di luar kota atau di luar negeri kalau pulang ke Kota Blitar jadi mata rantai penyebaran HIV.

Langkah konkret yang bisa menurunkan insiden infeksi HIV di Kota Blitar adalah dengan melakukan intervensi terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan perempuan di café, tempat karaoke dan rumah kost, yaitu memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual.

Tanpa langkah konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual, akan jadi ‘bom waktu’ untuk ‘ledakan AIDS’ di Kota Blitar. Untuk mencegah hal ini semua terpulang kepada Pemkot Blitar: pilih sosialisasi atau intervensi. ***  

Ilustrasi (Sumber: www.dnaindia.com)

20 Agustus 2016

Penyebaran HIV/AIDS pada Prostitusi Berkedok Penyewaan Jasa Pramugari, Artis, SPG dan Model

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP - AIDS Watch Indonesia

Karena informasi HIV/AIDS di awal-awal epidemi selalu dibalut dengan norma, moral dan agama muncullah mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Akibatnya, banyak orang yang tidak menyadari perilaku seksualnya berisiko tertular dan menularkan HIV/AIDS.

Salah satu mitos yang berkebang pesat adalah HIV/AIDS hanya menular melalui pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi pelacuran.

Maka, laki-laki yang tidak ngeseks dengan PSK di lokalisasi pelacuran tidak menyadari perilakunya tsb. berisko tertular HIV karena cewek-cewek atau perempuan yang bekerja seperti PSK tetap saja risikonya sama dengan PSK yang melayani laki-laki di lokasi atau lokalisasi pelacuran.

Itulah salah satu faktor yang mendorong praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak langsung yaitu cewek atau perempuan yang melakukan praktek PSK di luar lokasi dan lokalisasi pelacuran, seperti yang ada di judul berita ini “Prostitusi Berkedok Penyaluran Jasa SPG dan Model Terbongkar” (kompas.com, 20/8-2016).

Perilaku seksual yang berisiko tertular HIV/AIDS adalah:

(1) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti.

(2) Perempuan yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti.

(3) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan sebagai PSK langsung (PSK yang kasat mata yaitu PSK yang beroperasi di lokasi atau lokalisasi pelacuran).

(4) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan sebagai PSK tidak langsung [PSK yang tidak kasat mata yaitu perempuan yang beroperasi sebagai PSK, seperti cewek panggilan, cewek pemijat plus-plus, cewek kafe, cewek disko, cewek yang disamarkan sebagai SPG (sales promotion girl) , cewek yang disamarkan sebagai model, cewek yang disamarkan sebagai artis, ibu-ibu, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.].

Terkait dengan berita di kompas.com itu yang terjadi adalah poin nomor (4). Cewek-cewek yang disebut sebagai pramugari, model, SPG, dan artis adalah perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV karena mereka melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang menjadi pasangan kencan mereka mengidap HIV/AIDS sehingga cewek-cewek itu pun berisiko tertular HIV/AIDS.

Soalnya, orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisiknya karena tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik mereka sampai belasan tahun sebelum mencapai masa AIDS.

Biar pun tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang mengidap HIV/AIDS, mereka bisa menularkan HIV/AIDS al. melalui hubungan seksual, terutama seks vaginal dan seks anal, tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Cewek-cewek PSK tidak langsung itu sering mengaku memeriksakan kesehatan  secara rutin tiap bulan, maklum mereka punya banyak uang sehingga bisa saja ada “dokter pribadi”, itu tidak jaminan karena:

(a) Pemeriksaan kesehatan rutin dan medical check up tidak otomatis termasuk tes HIV,

(b) Tes HIV dengan reagen ELISA hanya akurat jika tertular HIV sudah lebih tiga bulan,

(c) Hasil tes HIV di bawah tiga bulan (masa jendela) dengan reagen ELISA bisa menghasilkan negatif palsu (HIV ada di darah tapi tidak terdeteksi) atau positif palsu (HIV tidak ada di darah tapi tes reaktif), dan

(d) Hasil tes HIV hanya berlaku sampai pengambilan darah waktu tes HIV karena setelah itu bisa saja ybs. melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko tertular HIV.

Dalam berita disebutkan: “Kepada anggota yang menyamar, AN sempat menawarkan seorang pramugari berinisial V dengan harga Rp 7 juta untuk sekali kencan.”

Alangkah sialnya kalau dengan uang Rp 7 juta pada hubungan seksual juga terjadi penularan HIV/AIDS. Yang jadi korban berikutnya adalah istri dan akan berakhir pada bayi yang akan dilahirkan istri.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian banyak ibu rumah tangga yang hanya melakukan hubungan seksual dengan suami tertular HIV/AIDS. Catatan Kemenkes RI sampai tanggal 1 Desember 2015 jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mencapai 9.096.

Angka tsb. (9.096) tidak menggambarkan jumlah kasus yang ril pada ibu rumah tangga karena kasus itu terdeteksi al. pada pemeriksaan ibu hamil dan persalinan di sarana kesehatan yang sudah menjalankan program konseling kepada ibu hamil.

Tidak semua fasilitas kesehatan yang menjalankan program konseling HIV/AIDS bagi ibu-ibu hamil, sehingga jumlah ril ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS tidak diketahui. Belakangan ini ibu-ibu terdeteksi mengidap HIV/AIDS ketika bayi mereka sakit dengan penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS.

Ketika bayi mereka dites HIV dan hasilnya positif, maka ibu dan ayah anak itu pun menjalani tes HIV. Celakanya, banyak suami yang menolak menjalani tes HIV sehingga mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: prostitutionrecovery.org) 

08 Agustus 2016

Mengapa Ibu Rumah Tangga di Lhokseumawe, Aceh, Rentan Tertular HIV/AIDS?

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Rentan Tertular HIV/AIDS Ibu Hamil Diharuskan Tes Darah.” Ini judul berita di www.goaceh.co (4/8-2016). Judul berita ini mengesankan ibu-ibu hamil itu rentan tertular HIV/AIDS karena perilaku (seksual) mereka. Padahal, mereka rentan tertular HIV/AIDS karena, seperti dikatakan oleh Kepala Bidang  Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Lhokseumawe, Aceh, Herliza: “ .... kalangan ibu rumah tangga lebih banyak tertular disebabkan faktor suami yang sering ganti pasangan serta menggunakan narkoba.”

Maka, judul berita itu tidak tepat karena menyudutkan ibu-ibu rumah tangga. Judul yang pas dan objektif adalah: “Rentan Tertular HIV/AIDS dari Suami, Ibu Hamil Diharuskan Tes Darah”.

Tapi, satu hal yang perlu diingat adalah tes HIV pada ibu-ibu hamil itu adalah langkah penanggulangan di hilir. Artinya, mereka dibiarkan oleh Pemkot Lhokseumawe ditulari HIV oleh suami.

Lagi pula ibu hamil yang menjalani tes HIV kan hanya yang periksa kehamilan di puskesmas dan rumah sakit umum. Kalau ke bidan atau dokter pribadi serta rumah sakit swasta tentu tidak ada kontrol. Itu artinya ada risiko bayi-bayi yang lahir dengan HIV/AIDS.

Yang perlu dilakukan oleh Pemkot Lhokseumawe adalah menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa. Mereka ini berisiko tertular HIV karena perilaku seksual yang berisiko yaitu:

(1) Melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti, dan

(2) Melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) langsung dan PSK tidak langsung.

PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu yang ada di tempat terbuka, seperti lokasi, lokalisasi atau tempat-tempat pelacuran dan transaksi seks, sedangkan PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak bisa dikenali karena mereka tidak beroperasi secara terbuka, seperti cewek kafe, cewek disko, cewek pemijat, ABG, ayam kampus, ibu-ibu, dll.

Pada poin (1) jelas tidak bisa ditangani karena hubungan seksual terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Sedangkan poin (2) hanya bisa dilukan terhadap PSK langsung dengan catatan praktek mereka dilokalisir.

Tentu saja intervensi tidak bisa dilakukan terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung karena tidak ada tempat pelacuran yang terbuka

Disebutkan oleh Herliza: “Berdasarkan hasil pendataan oleh pihak kita, ditemukan puluhan ibu rumah tangga yang tertular virus HIV/AIDS dan ada yang sudah meninggal. Secara umum mereka tertular akibat faktor suami.”  

Itu membuktikan suami-suami yang menlarkan HIV ke istri melakukan perilaku seksual yang berisiko yaitu poin (1) atau poin (2) atau dua-duanya.

Dikatakan lagi oleh Herliza: “Penyakit HIV/AIDS itu lebih bagus terdeteksi secara dini, sehingga bisa dilakukan berbagai tindakan medis untuk memperlambat perkembangbiakan virus tersebut. Maka bagi kalangan ibu hamil harus melakukan pemeriksaan, agar bisa diketahui postif atau tidak.”

Biar pun bisa ditangani, tapi kan sudah tertular HIV. Yang perlu dilakukan adalah program yang bisa mengurangi risiko tertular HIV bukan menjalani tes HIV karena dibiarkan tertular dan meminum obata untuk memperlambat perkembangbiakan virus.

Tanpa program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, maka penyebaran HIV/AIDS di masyarakat akan terus terjadi terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Kasus-kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi jadi ‘bom waktu’ yang kelak sampai pada ‘ledakan AIDS’. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.pinterest.com) 

06 Agustus 2016

Dalang Sosialiasi AIDS: Yang Mendesak Turunkan Insiden Infeksi HIV Baru Bukan Sosialiasi Bahaya AIDS (Lagi)

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

“Tugas dalang kini bertambah. Pemkab meminta para dalang untuk menyosialisasikan bahaya penyakit HIV/AIDS.” Ini ada di berita “Dalang di Kabupaten Kebumen Diminta Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS” (Radar Banyumas, 5/8-2016).

Sosialisasi bahaya HIV/AIDS sudah dilakukan jauh-jauh hari sejak kasus HIV/AIDS terdeteksi (1981). Tapi, tetap saja banyak orang yang tidak mengindahkan sosialisasi karena mitos (anggapan yang salah) yang membalut HIV/AIDS sehingga fakta tentang HIV/AIDS pun ‘terkubur’.

Misalnya, penularan HIV selalu dikait-kaitkan dengan (pelanggaran) norma, moral dan agama. Padahal, sebagai virus HIV menular melalui cara-cara yang tidak terkait langsung dengan norma, moral dan agama. Lihat saja penularan HIV melalui transfusi darah dan jarum suntik. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pelanggaran norma, moral dan agama. Begitu juga dengan penularan HIV di dalam ikatan pernikahan yang sah sama sekali tidak terkait dengan pelanggaran norma, moral dan agama.

Akibat dari informasi HIV/AIDS yang dibalut dengan nomor, moral dan agama itu banyak orang yang kemudian lalai karena mereka merasa tidak melakukan pelanggaran moral, seperti kawin-cerai dan kawin kontrak. Padahal, dua hal ini merupakan perilaku yang berisiko tertular HIV karena hubungan seksual dilakukan dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan.

Informasi HIV/AIDS lain yang juga dibalut dengan norma, moral dan agama adalah mengait-ngaitkan penularan HIV dengan lokasi atau kokalisasi pelacuran dan pekerja seks komerisal (PSK). Maka, lokasi dan lokalisasi pelacuran pun ditutup di semua daerah.

Tapi, apa yang terjadi kemudian?

Penyebaran IMS (infeksi menular seksual atau yang lebih dikenal sebagai ‘penyakit kelamin’, seperti raja singa/sifilis, kencing nanah/GO, virus hepatitis B, klamidia, herpes genitalis, dll.) dan HIV/AIDS pun tidak terkendali karena praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Ketika PSK dilokalisir bisa dilakukan intervensi berupa memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Dampak lain adalah banyak laki-laki yang merasa tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena mereka tidak melakukan hubungan seksual dengan PSK di lakasi atau lokalisasi pelacuran. Mereka melakukan hubungan seksual dengan cewek kafe, cewek pemijat, anak sekolah, ayam kampus, dll. Ini dikenal sebagai PSK tidak langsung. Tapi, yang perlu diingat adalah perilaku seksual PSK langsung (PKS yang kasat mata yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran)  dan PSK tidak langsng terkait dengan HIV/AIDS sama saja yaitu berisiko tertular HIV.

Pertanyannya adalah dengan kondisi yang ada: Apa yang akan dilakukan dalang sebagai sosialisasi bahaya HIV/AIDS?

Tentu saja tidak ada karena yang diperlukan bukan sosialisasi bahaya HIV/AIDS, tapi langkah nyata yaitu menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung.

Di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi adalah 551 dengan 187 kematian. Angka ini tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di Kab Kebumen karena banyak orang yang mengidap HIV/AIDS tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Orang-orang inilah yang akan jadi mata rantai menyebarkan HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Mungkin Pemkab Kebumen akan menepuk dada dengan mengatakan: Di wilayah kami tidak ada pelacuran.

Pernyataan itu benar kalau yang dimaksud adalah pelacuran yang dilokalisir, tapi praktek pelacuran tentu saja terjadi setiap saat di sembarang tempat di wilayah Kabupaten Kebumen. Itu artinya perilaku berisiko yaitu laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa kondom tetap terjadi di wilayah Kabupaten Kebumen yang pada gilirannya akan menambah jumlah laki-laki dewasa yang tertular HIV dan akan berakhir pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi yang mereka lahirkan kelak.

Selain itu apakah Pemkab Kebumen bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa penduduk Kebumen yang melakukan perilaku berisko di luar wilayah Kebumen atau di luar negeri?

Tentu saja tidak bisa. Ini juga akan menambah jumlah laki-laki dewasa penduduk Kebumen yang tertular HIV yang akan berimbas pada jumlah ibu rumah tangga dan bayi yang lahir dengan HIV/AIDS.

Maka, yang perlu dilakukan Pemkab Kebumen adalah menurunkan jumlah insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa. Celakanya, hal ini tidak bisa dilakukan karena praktek pelacuran tidak dilokalisir dan tidak ada pula mekanisme yang bisa mencegah laki-laki dewasa penduduk Kebumen agar tidak melakukan perilaku berisiko di luar Kebumen dan di luar negeri.

Itu artinya sosialisasi dalang tentang bahaya HIV/AIDS ibarat ‘menggantang asap’. *** 

Ilustrasi (Sumber: solopos.com)

03 Agustus 2016

Program Pencegahan HIV/AIDS Kota Cirebon “Membiarkan” Suami Tularkan HIV ke Istri

Oleh: SYAIFUL W  HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Laki-laki dewasa ada yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

PSK sendiri dikenal dua macam, yaitu: (1) PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti di lokasi atau lokalisasi pelacuran dan di jalanan, dan (2) PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak bisa dikenali, seperti cewek pemijat, cewek kafe, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.

Laki-laki yang tertular HIV akan menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal di masyarakat, al. kepada istrinya, selingkuhan, sampai PSK. Kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga menjadi bukti bahwa mereka tertular HIV dari suami.

Celakanya, lima program pencegahan penularan HIV/AIDS yang dijalankan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, Jawa Barat, justru mengabaikan potensi laki-laki dewasa sebagai penyebar HIV. Dalam berita “KPA Cirebon Siapkan 5 Program Pencegahan Penularan HIV-AIDS” (republika.co.id, 29/7-2016) disebutkan lima program itu adalah: (1) Kalangan remaja, (2) Ibu hamil, (3) Calon pengantin, (4) Ibu ke anak, dan (5) Pengguna narkoba suntik.


Dengan lima program tsb., maka (Gambar 1):

Pertama, laki-laki yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV diabaikan. Maka, insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa pun akan terus terjadi yang pada gilirannya akan menambah jumlah ibu hamil yang tertular HIV. Di terminal akhir akan menambah bayi yang berisiko lahir dengan HIV/AIDS.

Laki-laki dewasa yang perilaku seksualnya berisiko melakukan hubungan seksual berisiko sebelum program dijalankan dan selama program dijalankan karena tidak ada intervensi terhadap mereka. Pada waktu yang bersamaan ada risiko mereka menularkan HIV ke istri atau pasangan seks lain serta PSK.

Kedua, KPA Kota Cirebon membiarkan ibu-ibu rumah tangga ditulari HIV oleh suami mereka karena tidak ada program yang menjangkau suami-suami untuk menjalankan seks yang aman (Gambar 2). Yang perlu dilakukan KPA Kota Cirebon adalah menjalankan intervensi yaitu mewajibkan laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK selalu memakai kondom.


Atau KPA Kota Cirebon membusungkan dada dengan mengatakan: Di Kota Cirebon tidak ada perzinaan (baca: praktek pelacuran)!

Di satu sisi kita percaya kalau tolok ukurnya lokalisasi pelacuran. Memang di Kota Cirebon tidak ada pelacuran yang dilokalisir.

Tapi, apakah KPA Kota Cirebon bisa menjamin di Kota Cirebon tidak ada hubungan seksual yang berisiko antara laki-laki dan perempuan dengan imbalan uang?

Tentu saja tidak bisa. Itu artinya di Kota Cirebon ada praktek pelacuran. Di Kota Cirebon dan sekitarnya memang tidak ada ’pelacuran’ karena di sana disebut ”esek-esek”. Ini eufemisme terhadap praktek pelacuran sehingga laki-laki pun tidak rikuhya menjawab kalau ditanya: Pulang dari mana? Karena jawabannya bukan dari pelacuran atau berzina, tapi pulang dari ”esek-esek” (Praktek ‘Esek-esek’ di Kab Cirebon, Jabar).

Penanggulangan pada ibu hamil (program nomor 2) yaitu tes HIV adalah program di hilir. Artinya, KPA Kota Cirebon membiarkan ibu-ibu rumah tangga (baca: istri) ditulari suaminya, setelah hamil baru dilakukan tes HIV (Gambar 3).


Bagi laki-laki dewasa yang beristri ada dua pilihan, yaitu: (a) tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual berisiko, tapi memakai kondom ketika sanggama dengan istri sehingga proses reproduksi terhenti, atau (b) memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual berisiko sehingga tidak perlu memakai kondom ketika sanggama dengan istri dan proses reproduksi bisa berjalan alamiah.

KPA Cirebon hanya menyelematkan bayi agar tidak tertular HIV dari ibunya, sementara ibu-ibu dibiarkan tertular HIV karena tidak ada program yang melindungi istri-istri dari risiko ditulari oleh suaminya.

Pelajar SMA dan SMK yang tertular HIV merupakan terminal terakhir karena mereka tidak mempunyai pasangan yang tetap (baca: istri) sehingga penyebaran HIV berhenti pada mereka. Persentase pelajar puitra dengan perilaku seks berisiko sangat kecil jika dibandingkan dengan laki-laki dewasa.

Sedangkan laki-laki dewasa yang mengidap HIV/AIDS akan jadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal ke istrinya, pasangan seks yang lain serta PSK. Celakanya, program KPA Kota Cirebon justru tidak menyasar laki-laki dewasa sehingga penyebaran HIV di Kota Cirebon akan terus bertambah, al. bisa dilihat dari jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.          

Peraturan daerah (Perda) Kota Cirebon No 1 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS juga tidak menawarkan cara-cara penanggulangan yang konkret (Perda AIDS Kota Cirebon, Jawa Barat).

Lima program pencegahan yang akan dilakukan KPA Kota Cirebon tidak akan menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, pada gilirannya jumlah ibu rumah tangga yang tertular HIV pun bertambah. Di ujung jumlah bayi yang berisiko lahir dengan HIV pun banyak pula.

Maka, tanpa program pencegahan yang konkret di hulu insiden infeksi HIV baru di Kota Cirebon akan terus terjadi yang akan jadi ’bom waktu’ menuju ’ledakan AIDS’. ***

Ilustrasi (Sumber: www.lifemartini.com)