24 April 2014

Enggan dan Takut Jadi Alasan Ibu Hamil Tak Lakukan Tes HIV/AIDS

Jakarta, Di Indonesia saat ini, masih ada sejumlah bayi dan balita yang terinfeksi HIV/AIDS. Tentunya hal ini sangat menyedihkan, mengingat penularan HIV/AIDS ke bayi dan balita adalah sebuah kondisi yang tidak seharusnya terjadi.

Menteri Kesehatan RI dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, mengungkapkan bahwa di samping penggunaan kondom sebagai upaya pencegahan penularan HIV/AIDS, masih ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mencegah hal tersebut, yaitu dengan cara melakukan tes HIV/AIDS pada ibu hamil. Sayangnya, Nafsiah menilai ada rasa enggan dan takut pada ibu hamil untuk melakukan tes tersebut.

"Masih banyak ibu hamil yang enggan untuk melakukan tes HIV. Hal ini dikarenakan mereka takut hasilnya positif," papar Nafsiah saat ditemui pada Press Conference terkait HIV/AIDS pada Wanita yang diadakan di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Jumat (25/4/2014).

Nafsiah menjelaskan bahwa ketakutan akan hasil yang didapat nantinya terjadi karena dianggap akan memunculkan pandangan buruk dari berbagai pihak terhadap ibu tersebut, khususnya pandangan dari sang suami.

"Mereka (para ibu) takut dinilai macam-macam sama suami jika hasilnya positif. Padahal mereka tidak tahu saja kalau penularannya itu berasal dari suaminya," terang Nafsiah menyorot malasnya penggunaan kondom pada pria yang sudah terinfeksi HIV/AIDS ketika melakukan hubungan seks dengan sang istri.

Tidak hanya itu, Nafsiah juga menilai keengganan para petugas medis di beberapa wilayah untuk menawarkan dan menjelaskan tes HIV/AIDS kepada ibu-ibu yang sedang mengandung menjadi salah satu penyebab ibu-ibu tidak tahu dan tidak mau untuk melakukan tes.

Berdasarkan data laporan Kementerian Kesehatan RI, pada tahun 2013 terdapat 759 bayi dan balita yang positif terkena HIV/AIDS. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2012, di mana saat itu jumlahnya adalah 649. (Zanel Farha Wilda/detikHealth).

Berperilaku Seks Berisiko, Kasus HIV pada Laki-laki Naik Tajam

Jakarta, aidsindonesia.com (24/4/2014) - Perilaku seks berisiko laki-laki memberikan kontribusi besar pada masih tingginya prevalensi HIV/AIDS di Indonesia. Dilaporkan, prevalensi HIV pada kelompok pria ini meningkat tujuh kali lipat.
Survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemkes) di 20 kota pada tahun 2007 sampai 2011 cukup mencengangkan. Prevalensi laki-laki seks laki-laki (LSL) meningkat 234%, yaitu dari 5,3% (2007) menjadi 12,4% (2011). Demikian pula laki-laki penjaja seks yang tidak aman atau disebut LBT meningkat tujuh kali lipat, yaitu dari 0,1% menjadi 0,7% atau naik 600%.
“Jadi, baik laki-laki berperilaku seks berisiko maupun LSL yang juga berhubungan seks dengan perempuan, menyebabkan prevalensi HIV ada perempuan yang tidak berisiko juga meningkat,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam temu media tentang pengendalian HIV/AIDS, khususnya pada perempuan dan anak dalam rangka memperingati Hari Kartini, di Jakarta, Kamis (24/4).
Kemkes juga melakukan survei di 13 kota yang berbeda pada tahun 2009-2013. Hasilnya, tetap menunjukkan tren meningkat. Prevalensi HIV di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun), yang sebagian besarnya adalah laki-laki, juga meningkat tajam. Peningkatannya 46,3%, yaitu dari 27% di tahun 2009 menjadi 39,5% pada 2013. Temuan yang tidak kalah mengejutkannya, prevalensi pada LSL juga meningkat tajam dari 7% menjadi 12,8% atau rata-rata peningkatannya sebesar 83%.
Menurut Menkes, angka-angka ini mengkhawatirkan. Sebab, laki-laki yang positif ini menularkan kepada pasangan tetapnya. Inilah yang menyebabkan jumlah kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga juga meningkat.
Menurut jenis pekerjaan, secara kumulatif tahun 1987 sampai 2013 kasus AIDS pada ibu rumah tangga adalah yang terbesar pertama, yaitu 6.230 orang. Baru disusul wiraswasta sebanyak 5.892 dan karyawan 5.287. (http://www.beritasatu.com/).

Menkes: Makin Banyak Balita Kena AIDS

Jakarta, aidsindonesia.com (25/4/2014) - Angka kejadian HIV di Indoensia ternyata bukan hanya terjadi pada pria atau wanita dewasa. Balita pun ikut menjadi korban keteledoran orangtua.

Seperti diungkapkan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi bahwa meskipun jumlah balita yang HIV telah berobat ditingkatkan, tapi beberapa diantaranya telah masuk tahap AIDS karena terlambat penanganannya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan dari tahun 2010-2013 terjadi peningkatan balita mengidap AIDS pada balita yang positif HIV dan telah diberi (antiretroviral) ARV.

Pada 2012, terdapat 3.488 balita yang dites HIV tapi yang positif HIV hanya 649. Sedangkan pada 2013, dari 5.127 balita yang tes HIV ada 759 HIV positif. Data sementara hingga Maret, dari 1.037 balita tes HIV, ada 110 yang HIV positif. "Tapi di antaranya sudah tahap AIDS, Ini dosa!," tegas Menkes saat temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, ditulis Jumat (25/4/2014). (Melly Febrida/http://health.liputan6.com/

Penularan HIV Mulai Rambah Pedesaan

Ungaran, aidsindonesaia.com (25/4/2014) – Penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Semarang diduga sudah merambah kalangan ibu rumah tangga di pedesaan. Diduga mereka terinfeksi penyakit ini dari suaminya yang masuk dalam golongan pria beresiko tinggi. 

Karenanya, Tim Penggerak PKK Ka bupaten Semarang be ker ja - sama dengan Komisi Pe nang gu - langan AIDS (KPA) menggelar pe meriksaan tes HIV, voluntary counseling test (VCT), secara bertahap di desa-desa di 19 ke ca - matan yang ada. “Memang sudah ada satu (ibu ru mah tangga) yang positif (HIV/ AIDS). Sehingga kami me la kukan pemeriksaan pada ibu-ibu rumah tangga di desadesa,” kata Ketua Tim Peng ge - rak PKK Kabupaten Semarang Bi n tang Narsasi Mundjirin ke - marin. 

Tahap pertama, PKK meng - ge lar uji coba VCT di Kecamatan Ber ingin. Sasaran awal adalah ibu-ibu rumah tangga pengurus TimPeng gerakPKK. Kegiatanitu diharapkan tersosialisasi dan me nye bar ke ibu-ibu rumah tangga lain. “Kami sebenarnya khawatir ada reaksi yang negatif. Bisa saja mereka protes, lho ke napa harus tes HIV/AIDS? Para bapak juga bisa marah karena tersinggung. Tapi kalau nanti reaksi para ibu dan bapak-ba pak nya baik, maka VCT akan di lan jutkan di daerah lain,” ucap nya. 

Menurut Bintang, pemeriksa an VCT tidak jauh beda dengan pupsmear atau pemeriksaan ada tidaknya kanker. Pemeriksaan tersebut sebagai deteksi dini, se - kaligus pencegahan penyebaran yang lebih luas atas penularan penyakit mematikan tersebut. Pa salnya, ibu rumah tangga sa - ngat berpotensi tertular oleh sua minya yang dimungkinkan bergaya hidup seks bebas dalam pergaulannya. Karena itu, ma - sya rakat diminta untuk tidak kha watir atas upaya pemerik saan tersebut. 

“Semua ini tujuannya untuk kesehatan ibu dan anak karena itu penting. Jangan sampai bapak’e sing penak ibu’e sing rekoso. Alhamdulillah ma sya ra - kat di Bringin tidak menolak saat pemeriksaan VCT,” ucapnya. KPA Kabupaten Semarang mendata penderita HIV/AIDS di Kabupaten Semarang secara ko mulatif hingga 2014 ini men - capai 90 orang. Terbaru, tahun ini ada lima warga dari k e lom - pok laki-laki suka laki-laki (LSL) serta dari lelaki seks berisiko (LSB). 

Anggota KPA Muhammad Yu suf menyatakan, dua ke lom - pok lelaki itu menjadi target pen - cegahan HIV/AIDS pada 2015. Berdasarkan survei pada 2011–2013, penderita HIV/ - AIDS di LSL meningkat tiga kali lipat dan LSB meningkat tujuh kali lipat. Peningkatan jumlah penderita dari LSL karena ko - mu nitas tersebut perilakunya se makin terbuka seiring mereka bisa lebih diterima masyarakat. 

“Dan untuk LSB perlu peng - awasan karena kelompok ini ma - yoritas pelanggan pekerja seks komersial (PSK) yang ber po - tensi menularkan kepada ke - luar ganya jika sudah beristri,” kata Yusuf. (agus joko/
http://koran-sindo.com/).

Ilmuwan Penemu HIV Katakan Tak Mungkin Ada Obat AIDS

Jakarta, aidsindonesia.com  (25/4/2014) - Salah satu ilmuwan yang menemukan virus penyebab AIDS dan tes darah untuk deteksi HIV, Dr.Robert Gallo, mengatakan tidak yakin akan ditemukan obat untuk menyembuhkan AIDS. 

HIV adalah virus yang menyerang sel darah putih (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh. Akibatnya, muncul sekumpulan gejala penyakit yang disebut dengan AIDS. 

Setelah epidemi HIV/AIDS berlangsung lebih dari 30 tahun, para ahli kesehatan kini lebih sering membicarakan HIV ketimbang AIDS. Ini karena kombinasi obat anti-HIV yang disebut antiretroviral (ARV) yang juga ikut diteliti oleh Gallo, membuat angka kesakitan dan kematian akibat virus ini menurun drastis. 

Mereka yang terinfeksi membaik kualitas hidupnya karena tetap sehat dan yang lebih penting lagi ARV secara signifikan menurunkan penularan.

Perkembangan positif pada pengobatan HIV ini membuat para ahli kesehatan optimis infeksi HIV bisa dihilangkan dan kematian akibat penyakit ini bisa ditekan. 

Dalam sebuah wawancara dengan majalah TIME baru-baru ini, Gallo mengatakan hal tersebut tidak mungkin. "Sampai kita bisa menemukan vaksin yang secara utuh bisa melindungi seseorang terinfeksi HIV, yang kita dapatkan hanyalah kesembuhan fungsional," katanya.

Kesembuhan fungsional berarti seseorang yang tertular HIV diberi pengobatan sampai virusnya tidak terdeteksi dan tidak mungkin aktif lagi. Meski begitu virusnya sebenarnya tetap tidur dalam tubuh orang tersebut. 

Kesembuhan fungsional sudah didapatkan dua bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV. Kedua bayi ini adalah yang pertama yang sembuh secara fungsional setelah diberikan ARV dalam dosis orang dewasa sesaat setelah dilahirkan. 

"Kita tak akan bisa menggantikan imunisasi aktif. Tetapi memakai obat ARV untuk mencegah infeksi bisa menjadi langkah penting untuk mengendalikan epidemi ini," ujarnya.

Mungkin ada yang akan menganggap langkah tersebut kecil, setelah 30 tahun penelitian mengenai penyakit HIV/AIDS. Tapi bagi mereka yang hidup dengan HIV saat ini, langkah itu adalah sebuah pencapaian besar untuk membuat mereka tetap hidup aktif dan produktif. (www.healthland.time.com/kompas.com).

HIV/AIDS Ancam Produktivitas Tenaga Kerja di Sulut

Manado, aidsindonesia.com (25/4/2014) - Masih tingginya temuan kasus HIV-AIDS di Sulawesi Utara (Sulut) bakal mempengaruhi produktivitas tenaga kerja di daerah ini. Pasalnya dari temuan 1.445 jiwa per Desember 2013, sebanyak 504 jiwa diantaranya ternyata berprofesi sebagai pekerja swasta dan karyawan. Persoalan ini pun perlu memperoleh perhatian serius, pasalnya 80 persen dari total kasus tersebut, ternyata merupakan usia produktif yakni berada direntang usia 20 hingga 39 tahun.
Wakil Gubernur Sulut Djouhari Kansil yang juga selaku Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi (KPAP) Sulut mengatakan bahwa penanggulangan HIVAIDS membutuhkan penanganan dan dukungan penuh seluruh pihak. 
“Manajemen perusahaan diharapkan segera merespon aktif upaya Pencegahan dan Penanggulangan (P2) HIVAIDS di lingkungan kerja masingmasing,” kata Wagub.
Ditambahkannya, dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 68/IV/2004, mengatur implementasi program di tempat kerja serta mengacu kepada kaidah ILO dalam penerapan kebijakan program P2 HIVAIDS di lingkungan kerja.
“Perusahaan mesti mengadakan kegiatan sosialisasi dan pemeriksaan status HIV bagi semua pekerjanya yang tentunya dengan menerapkan asas kerahasiaan hasil test dan tidak boleh ada stigma dan diskriminasi kepada karyawan yang sudah terlanjur diketahui status HIVnya,” tukasnya. (fly/http://www.harian-komentar.com/)

Menkes Priharin Angka HIV/AIDS Tinggi Pada Ibu Rumah Tangga

Jakarta, aidsindonesia.com (25/4/2014) - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi Prihatin atas makin meluasnya angka kasus Hiv/Aids yang masuk dalam lingkungan keluarga.  Keprihatinan Menkes disampaikan pada Press Conference terkait HIV/AIDS pada Wanita, terkait peringatan hari Kartini  yang diadakan di Jakarta, Kamis (24/04/2014)   

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS yang ada di Indonesia, paling banyak terjadi pada ibu rumah tangga. Hal ini tentu sangat merisaukan, mengingat peningkatan infeksi baru HIV pada ibu akan berdampak pada meningkatnya jumlah infeksi HIV pada bayi.
  

“ Besarnya angka ibu rumah tangga yang terkena HIV/AIDS tersebut  merupakan bentuk dari penularan HIV/AIDS yang diberikan oleh pasangannya. Fakta ini sangat mengejutkan  dimana prevalensi HIV/AIDS pada lelaki berisiko tinggi yang suka memakai jasa penjaja seks, meningkat, dan Akibatnya lelaki yang terkena HIV/AIDS itu bisa menularkan kepada istrinya,” jelas menkes.
Data 2012 menyebutkan telah terjadi peningkatan kasus 7 kali lipat dari 0,1 persen pada 2007 menjadi 0,7 persen pada 2012. Hal sebaliknya justru ditunjukkan pada populasi pengguna alat suntik (penasun) yang cenderung menurun 19,1 persen, wanita penjaja seks (WPS) tak langsung juga  menurun 22,5 persen.
Peningkatan laki-laki yang beresiko tinggi dalam hal seks membuat jumlah ibu rumah tangga dan anak yang terkena HIV/AIDS juga meningkat. Hingga 2013, tren jumlah penderita AIDS pada ibu rumah tangga mencapai 865 orang,/ HIV/AIDS pada anak usia 0-4 tahun 759 (HIV) dan 154 (AIDS). Kemenkes telah melakukan program pencegahan penularan ibu dan anak (PPIA) dengan melibatkan 236 puskesmas di 93 kabupaten/kota.

"Jadi tolong, jangan malas menggunakan kondom. Buat para pria yang suka melakukan hubungan seks, tolonglah bertanggung jawab untuk tidak menularkan HIV/AIDS kepada pasangan kalian. Karena jika wanita terinfeksi HIV, maka akan berisiko menularkan HIV pada bayi," pungkas Menkes Nafsiah Mboi. (BCS/WDA/Yus/rri.co.id)  

50 Anak-anak di Kota Samarinda, Kaltim, Mengidap HIV/AIDS

Samarinda, aidsindonesia.com (14/3-2014) - Sebanyak 50 anak-anak di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, sudah terinfeksi virus HIV/AIDS.
Hal itu, diungkapkan Ida Rustini, Kepala Bidang Kesejahteraan dan Perlindungan Anak BPMP Kota Samarinda dalam Sosialisasi Pengerustamaan hHak Anak di Balaikota Samarinda, Kamis (13/3/2014).

"Sesuai data, ada 50 orang anak di Kota Samarinda saat ini yang telah terinfeksi HIV AIDS. Dari sekian anak tersebut, ada di antaranya yang sudah tidak lengkap keberadaan orang tuanya. Inilah yang patut menjadi salah satu perhatian utama para pengambil keputusan di SKPD Pemerintah Kota," kata Ida.

Ida juga mengatakan, dalam memenuhi kebutuhan anak itu sendiri tidak terbatas pada kebutuhan pendidikan, kesehatan dan perlindungan secara menyeluruh.

Tapi, mencakup pula terhadap penyediaan sarana dan prasarana lainnya. Untuk itu, menurut Ida, diperlukan kerjasama dengan banyak pihak, salah satunya  Komisi Penanggulangan AIDS.

"Misalkan sarana arena permainan, fasilitas jembatan untuk menuju kesekolah tertentu. Termasuk fasilitas khusus lain yang ditujukan pada anak berkebutuhan khusus pula," kata Ida. (Laporan Wartawan Tribun Kaltim Doan E Pardede/tribunNews.com)

6.230 Ibu Rumah Tangga di Indonesia Mengidap HIV/AIDS

Jakarta, aidsindonesia.com (25/4-2014) - Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan kalangan ibu rumah tangga secara komulatif paling banyak terkena AIDS.

Sepanjang tahun 1987 hingga 2013, jumlah penderita AIDS dari kalangan ibu rumah tangga mencapai 6.230 orang. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan perempuan pekerja seks yakni 2.021 orang.

"Umumnya ibu rumah tangga ini terkena penularan dari suaminya yang suka jajan. Apalagi data yang ada 4,9 juta ibu rumah tangga menikah dengan pria berisiko tinggi," kata Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi di Jakarta  (24/4/2014).

Peningkatan jumlah ibu rumah tangga yang menderita AIDS ini diperkirakan akan berdampak makin meningkatnya jumlah infeksi HIV pada bayi.

"Untuk pencegahan penularan ibu ke bayi telah dilakukan dengan pemberian ARV pada 1.500 ibu hamil. Dari  1.400 bayi dengan ibu HIV bisa diselamatkan," katanya.

Untuk melakukan pencegahan ini Kementerian Kesehatan melibatkan 236 puskesmas di 93 Kabupaten kota.


"Kementerian Kesehatan juga melakukan intervensi struktural dengan fokus lelaki berisiko tinggi baik di tempat kerja maupun lokasi transaksi seks," katanya. (Eko Sutriyanto/tribunNews.com)

23 April 2014

Penderita HIV/AIDS di Wonogiri, Jateng, Didominasi Ibu Rumah Tangga

Wonogiri, aidsindonesia.com (23/4/2014) Penderita HIV/AIDS di Wonogiri setiap tahunnya mengalami peningkatan signifikan. Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Perempuan Badan Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera Peberdayaan Perempuan (BKBKSPP) Wonogiri, Kurnia Listyarini mengungkapkan, kasus HIV/AIDS di Wonogiri banyak diderita ibu rumah tangga.
“Mereka (ibu rumah tangga) itu hanya tertular lantaran suaminya merantau di luar kota, dan kemungkinan besar si suami sering melakukan hubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan. Karena posisi istri sendiri nilai tawarnya rendah di hadapan suami, sehingga mau tidak mau istri harus melayani suami, padahal di luar sana suami sering jajan tanpa menggunakan kondom, dan dimungkinkan sekali dia membawa HIV dan akhirnya menular kepada istrinya,” terang Kurnia Listyarini saat dijumpai wartawan di Pendopo Rumah Dinas Bupati di sela-sela Peringatan Hari Kartini, Rabu (23/4).
Dikatakan, penanganan kasus HIV/AIDS di Wonogiri saat ini sudah menjadi perhatian semua kalangan. Baik lintas sektoral, intansi dan NGO (Non Goverment Organization), semuanya terlibat dalam melakukan pendampingan.
“Maka dengan momen peringatan Hari Kartini ini kita menyadarkan kepada ibu-ibu yang hadir di sini agar lebih waspada dan lebih mengetahui soal HIV/AIDS, dan untuk penanganan kasus HIV/AIDS di Wonogiri kita melibatkan semua lapisan, baik lintas instansi, tokoh agama dan LSM, semuanya terlibat, kita akan dampingi semua penderita HIV di Wonogiri ini,” katanya.
Ditambahkan, dari data yang dirilis Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri pada tahun 2011, penderita HIV tercatat 19 orang, dengan perincian 6 pria dan 13 perempuan. Kemudian pada tahun 2012 meningkat menjadi 33 penderita HIV (18 pria, 15 perempuan). Selanjutnya tahun 2013 meningkat menjadi 40 pria dan 15 perempuan.
“Untuk tahun 2014 sebenarnya sudah ada tapi datanya belum masuk kepada kita, yang sejak 2001 hingga 2013 terdapat 127 kasus HIV/AIDS di Wonogiri ini,” jelas Kurnia.

HIV Aids Renggut Nyawa Dua Ibu Rumah Tangga di Buleleng, Bali

Buleleng, aidsindonesia.com (23/4/2014) - Hingga bulan Maret  lalu di Kabupaten Buleleng  sebanyak 4 orang ibu melahirkan mengalami kematian. Dua dari kasus kematian itu disebabkan karena  infeksi virus HIV Aids. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra usai rapat LKPJ Bupati Rabu (23/3/2014) siang di DPRD Buleleng.
“Pada bulan Januari lalu sebanyak empat orang ibu melahirkan mengalami kematian.  Kenyataan ini menambah angka kematian ibu melahirkan di Kabupaten Buleleng dan dua diantaranya akibat terinfeksi HIV Aids,” paprnya.
Sementara data dari Yayasan Citra Husada (YCUI Kabupaten Buleleng) dan KPAD Buleleng menyebutkan hingga Bulan ini muncul sebanyak 89 kasus HIV baru. (wir/http://bulelengroundup.com/)

Ditemukan 21 Penderita HIV/AIDS di Bondowoso, Jawa Timur

Bondonwoso, aidsindonesia.com (23/4/2014) - Sepanjang bulan Januari hingga April 2014 ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso me nemukan sekitar 21 pasien HIV/AIDS. Mereka ditemukan mengalami sakit berbahaya itu oleh petugas kesehatan saat dilakukan tes darah di laboratorium VCT dr Koesnadi Bondowoso. 

Bahkan, para penderita yang asli Bondo woso itu ada yang mengalami kehamilan. Namun, ibu dengan HIV/AIDS itu selamat dan bisa melahirkan bayinya dengan lancar. ”Bayinya pun sehat,” ujar Direktur RS dr Koesnadi Bondowoso, dr Agus Suwardjito, Selasa kemarin (22/4). 

Bahkan petugas kesehatan di RSD dr Koesnadi merawat pasien dengan intensif. ”Kami ingin mereka bisa sehat kembali dan beraktivitas normal. Meski sebenarnya belum ada obat yang mampu menyembuh kan HIV/AIDS,” terangnya. 

Tetapi obat-obatan anti HIV/AIDS, seperti ARV sudah tersedia cukup banyak di VCT dr Koesnadi. Pe ngobatan HIV/AIDS, kata dia, diberikan secara gratis agar pasien bisa bertahan hidup. 

Sementara itu, Kepala Dinkes Bondowoso, dr Imron membenarkan bahwa pasien HIV/AIDS sepanjang tahun 2014 ini mencapai 21 orang. ”Jum lahnya cukup tinggi,” katanya. Sedangkan, jumlah keseluruhan penderita HIV/AIDS di Bondowoso dari tahun 2004 hingga 2014 ini mencapai 223 orang. ”Selama sepuluh tahun terakhir ini, jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 223 orang,” katanya. 

Namun sebagian besar dari 223 penderita, sudah meninggal dunia. Karena, sampai saat ini memang belum ditemukan obat yang pas untuk melawan virus HIV/AIDS. ”Namun petugas kesehatan hanya memberikan obat-obatan untuk memperlambat keganasan virus HIV/AIDS,” katanya. Penyebaran penyakit HIV/AIDS, kata sumber media ini, sudah hampir merata di kecamatan yang ada di Bondowoso. Bila pada sepuluh tahun lalu, pasien HIV/AIDS ada di Kecamatan Sumber wringin, kali ini pasien menyebar ke beberapa kecamatan.

Sedangkan pasien HIV/AIDS itu kebanyakan tertular penyakit saat bekerja di Bali. Begitu mengalami sakit, mereka pulang ke Bondowoso. Nah, ketika memeriksakan kesehatannya ke RSD dr Koesnadi Bondowoso itulah, ternyata mereka mengidap penyakit HIV/AIDS. (
InfoBondowoso.NET)