19 Juli 2015

Program UEP dan KUBE Kemensos Bak Mengulang Kegagalan Program Resos PSK



Oleh Syaiful W. Harahap-AIDS Watch Indonesia

Jumlah Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan Wanita Tuna Susila (WTS) semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, Kementerian Sosial pun memperhatikan mereka dengan meluncurkan program terbaru.” Ini lead pada advertorial Kemensos “Kementerian Sosial Berdayakan TKW dan WTS” (tribunnews.com, 15/7-2015).

Jika disimak pernyataan di atas, terkait dengan WTS (terminologi ini tidak objektif karena bias gender dan hanya menyalahkan perempuan dengan mengabaikan moralitas laki-laki ‘hidung belang’ sebagai pembeli seks, dianjurkan memakai terminologi pekerja seks atau pekerja seks komersial/PSK), yang menjadi persoalan besar adalah permintaan yang tinggi dari laki-laki terhadap perempuan untuk dijadikan pasangan kecan menyalurkan dorongan hasrat seksual.

Kalau persoalannya ada pada laki-laki, disebut  laki-laki ‘hidung belang’, mengapa yang jadi sasaan tembak perempuan (dalam hal ini PSK)?

Praktek pelacuran, baik terbuka (PSK langsung yaitu kasat mata, seperti di lokalisasi pelacuran dan jalanan) maupun tertutup (PSK tidak langsung yaitu tidak kasat mata, seperti cewek bispak, cewek biyar, anak sekolah, ABG, ayam kampus, cewek pemijat, cewek pub, cewek kafe, cewek gratifikasi seks, dll.) ada karena permintaan pasar (baca: laki-laki ‘hidung belang’).

Salah satu bukti bahwa laki-laki ‘hidung belang’ kian banyak dalam beberapa tahun terakhir ini adalah jumlah isteri yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS juga terus bertambah. Mereka terdeteksi ketika memeriksa kehamilan atau ketika hendak melahirkan. Tahun 2010 diperkirakan ada 40.000 ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya (VOA Indonesia, 27/11-2010). Di Kota Batang, Jateng, misalnya, disebutkan oleh Mensos Khofifah Indar Parawansa ada 564 ibu ruma tangga yang memakai jilbab terdeteksi mengidap HIV/AIDS (Harian TERBIT, 9/6-2015).

Jika ditilik dari epidemi HIV/AIDS biar pun Kemensos ‘memerdekakan’ PSK (perlu diingat bahwa hanya PSK langsung sedangkan PSK tidak langsung tidak bisa dijangkau oleh Kemensos) penyebaran HIV/AIDS tidak akan berhenti karena: (1) Laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, dan (2) Ratusan bahkan ribuan bisa juga puluhan ribu laki-laki ‘hidung belang’ yang tertular HIV dari PSK juga  mata rantai penyebaran HIV di masyarakat al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Persoalan lain adalah dengan menarik PSK langsung mengikuti program pemberdayaan Kemensos tidak ototmatis menghentikan pasokan PSK karena permintaan pasar yang besar dan terus bertambah seiring dengan peningkatan pendapatan dan praktek-praktek korupsi.

Lagi pula apakah dengan program UEP (Usaha Ekonomi Produktif) dan KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang menyediakan dana Rp 3 juta dan Rp 20 juta menarik untuk PSK? Tentu saja tidak menarik karena melalui praktek pelacuran mereka lebih mudah mendapatkan uang dan tidak perlu kerja keras. Selain itu menjadi PSK adalah pilihan bagi sebagian dari mereka bukan karena kemiskinan semata.

Maka, Kemensos perlu membalik paradigma berpikir karena kunci penanggulangan pelacuran bukan pada PSK tapi ada pada laki-laki ‘hidung belang’. Tentu tidak mudah mengajak laki-laki ‘hidung belang’ agar tidak melacur (lagi). Apalagi dengan PSK tidak langsung adalah hal yang mustahil mencegah praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak lansung ini.

Paling tidak Kemensos diharapkan melakukan intervensi kepada perempuan yang berisiko memilih pelacuran sebagai pekerjaan. Cara-cara yang dilakukan oleh perekrut (calo) PSK bisa menjadi pintu masuk bagi Kemensos untuk memulai intervensi. Itu artinya program UEP dan KUBE bukan diberikan kepada PSK yang sudah menjalani pekerjaan tsb., tapi kepada perempuan-perempuan yang menjadi sasaran tembak calo-calo yang mencari calon PSK di desa-desa.

Kalau program UEP dan KUBE hanya diberikan kepada PSK yang praktek, maka pasokan PSK baru akan terus terjadi seiring dengan permintaan pasar. Selain itu PSK yang menjadi peserta UEP dan KUBE juga ada yang gagal dan kembali ke habitatnya di dunia pelacuran.

Progam resosialisasi dan rehabilitasi (resos) PSK yang dijalakan Departemen Sosial di era Orba jelas ‘gatot’ (gagal total) karena banyak faktor, al. program tsb. adalah top-down [Menyingkap (Kegagalan) Resosialisasi dan Rehabilitasi Pelacur(an)]. Program ini juga melatih PSK dan memberikan modal usaha, tapi tetap saja tidak berhasil.

Apakah program UEP dan KUBE akan senasib dengan dengan program resos versi Orba? Kita tunggu saja. *** 

17 Juli 2015

Khawatir Kena AIDS Karena Terbiasa Mengisap Puting Susu

Tanya Jawab AIDS No 2/Juli 2015

Oleh: Syaiful W. HarahapAIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Dulu saya pernah ML (making love yaitu hubungan seksual) ketika masih bersekolah. Sekarang umur saya 23 tahun. Sampai umur ini saya tidak mengalami demam dan diare panjang. Sejak itu saya tidak pernah ML lagi, tapi hanya mengisap puting dan ciuman. Beberapa waktu yl. saya kena jamur di bibir. Kata dokter karena infeksi  di pencernaan. Tapi, saya khawatir karena saya baca di Internet jamur terkait dengan HIV/AIDS. Biar pun jamur sembuh, tapi saya kehilangan semangat hidup. Jujur saya sangat menyesal dengan apa yang sudah pernah saya perbuat. Biar pun sampai saat ini tidak ada gejala-gejala mayor dan minor terkait HIV/AIDS, tapi jujur saya sangat khawatir dan semangat hidup saya pun hilang. (1) Apa yang harus saya perbuat?

Mr “X” (via SMS 21/4-2015)

Jawab: (1) Memang probabilitas tertular HIV melalui hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seskual dengan pengidap HIV/AIDS ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan. Persoalannya adlah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan. Bisa yang pertama, kedua, ketujuh, ketiga puluh, bahkan yang keseratus.

Nah, masalah besar yang Anda hadapi adalah Anda tidak mengetahui status pasangan Anda. Kalau dia HIV-negatif, maka Anda aman. Tapi, kalau dia mengidap HIV/AIDS maka Anda berisiko tertular HIV.

Jamur tidak otomatis gejala terkait HIV/AIDS, apalagi jamur yang Anda derita bisa sembuh.

Kebiasaan Anda mengisap puting juga bisa berisiko tertular HIV karena di air susi ibu (ASI) ada HIV yang bisa ditularkan. Maka, kalau perempuan yang Anda isap putingnya mengidap HIV/AIDS ada risiko penularan HIV.

Ciuman pun akan berisiko jika lawan ciuman mengidap HIV/AIDS ketika dia mengidap sariawan karena ada infeksi di rongga mulut.

Jika virus (HIV) sudah masuk ke dalam tubuh, maka tidak ada lagi artinya penyesalan karena semua jenis virus yang masuk ke tubuh tidak bisa dimatikan di dalam tubuh. Jika Anda terus was-was silakan tes HIV ke Klinik VCT di RSU di kota Anda. *** 

Ilustrasi (Repro: family.fimela.com)

15 Juli 2015

Mudik (PSK + Laki-laki Hidung Belang) Mendorong Penyebaran HIV/AIDS dengan Skala Nasional



* Pemerintah daerah ‘pemasok’ PSK dianjurkan kerja sama dengan pemerintah daerah tempat PSK beroperasi ....

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS WatchIndonesia

Realitas sosial menunjukkan pekerja seks komersial (PSK), baik PSK langsung (PSK yang kasat mata, al. di lokasi atau lokalisasi pelacuran dan di jalanan) dan PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, anak sekolah, ayam kampus, cewek panggilan, cewek gratifikasi seks, dll.) akan ‘bekerja’ di luar daerah asalnya.

Ketika ada hari libur panjang, seperti Lebaran dan Natalan, PSK langsung dan PSK tidak langsung serta laki-laki ‘hibung belang’ pun ramai-ramai pula pulang kampung. Beberapa daerah yang menjadi ‘tujuan praktek pelacuran’ secara massal al. Sumut, Riau, Kepulauan Riau, Kalbara, Kalsel, Kalteng, Kaltim, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sultara, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Daerah ‘Tujuan Praktek Pelacuran’

Laporan Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, tanggal 12 Februari 2015 menyebutkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS mulai dari tahun 1987 sampai 31 Desember 2014 adalah 225.928 yang terdiri atas 160.138 HIV dan 65.790 AIDS dengan 11.801 kematian. Angka yang dilaporkan ini tidak menggarkan realitas kasus di masyarakat karena penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang dilaporkan (225.928) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan es di bawah permukaan air laut.

Jika di antara mereka yang mudik itu ada yang mengidap HIV/AIDS, maka ada beberapa ‘pintu masuk’ penyebaran HIV/AIDS di kampung halaman mereka, al.

(1) PSK langsung dan PSK tidak langsung yang bersuami akan menularkan HIV/AIDS ke suaminya. Selanjutnya, ketika PSK tsb. kembali ke tempat kerjanya atau ke tempat kerja baru, maka ada di antara suami-suami itu yang menularkan HIV ke pasangan selingkuh atau istri lain serta ke PSK di kampung itu.

(2) PSK langsung dan PSK tidak langsung yang tidak bersuami tapi punya pasangan, seperti pacar, akan menularkan HIV/AIDS ke pasangan atau pacarnya. Selanjutnya, ketika PSK tsb. kembali ke tempat kerjanya atau ke tempat kerja baru, maka ada di antara pacar itu yang menularkan HIV ke pasangan perempuan lain atau ke PSK di kampung itu.

(3) PSK langsung dan PSK tidak langsung ada yang buka ‘praktek’ di kampung halamannya sehingga laki-laki yang ngeseks dengan mereka tanpa memakai kondom berisiko tertular HIV/AIDS jika di antara PSK yang ‘praktek’ itu ada yang mengidap HIV/AIDS.

(4) Laki-laki ‘hidung belang’ yang mengidap HIV/AIDS karena sering ngeseks tanpa memakai kondom dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung di seluruh Nusantara dan di luar negeri akan menularkan HIV ke istrinya atau ke perempuan lain juga ke PSK di kampung halamannya.

Dari empat ‘pintu masuk’ di atas hanya sedikit yang bisa dilakukan upaya penanganan yaitu menurunkan risiko penyebaran HIV/AIDS di kampung halaman PSK dan laki-laki ‘hidung belang’ yaitu intervensi terhadap PSK langsung. Ini pun hanya bisa dilakukan jika ada kerja sama antara daerah-daerah asal PSK langsung dengan pemerintah di daerah-daerah ‘tujuan praktek pelacuran’.

Pendampingan Daerah Asal

Namun, hal itu juga sangat kecil kemungkinannya karena di banyak daerah ‘tujuan praktek pelacuran’ PSK langsung tidak dilokalisir dengan regulasi. Artinya, di beberapa tempat di daerah ‘tujuan praktek pelacuran’ hanya ada tempat atau lokasi pelacuran yang dibiarkan dengan pengawasan setengah hati dan bermuka munafik dengan balutan moral.

Kalau pemerintah di daerah ‘tujuan praktek pelacuran’ melokalisir pelacuran dengan regulasi, maka pemerintah daerah ‘pemasok’ PSK langsung menjalankan kerja sama melakukan survailans tes IMS secara rutin (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, herpes genitalis, jengger ayam, dll.). Selanjutnya jika ada kasus IMS terdeteksi, maka dilanjutkan dengan survailans tes HIV.

Kalau dalam survailans tes HIV ada contoh darah yang reaktif, maka dilanjutkan dengan tes HIV melalui konseling sebelum dan sesudah tes HIV. Inilah yang menjadi ranah kerja sama yiatu PSK langsung yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS didampingi oleh konselor bisa dari daerah asal PSK atau konselor di daerah ‘tujuan praktek pelacuran’.

Pendampingan ini dimaksudkan sebagai salah satu langkah intervensi untuk memastikan PSK langsung tsb. tidak akan menjadi mata rantai penyebaran jika kelak ybs. pulang kampung dengan berbagai alasan.

Jika pemerintah daerah yang menjadi ‘pemasok’ PSK langsung tidak menjalan kerja sama dengan pemeintah di daerah-daerah ‘tujuan praktek pelacuran’, maka PSK langsung yang berasal daerai daerah ‘pemasok’ akan menjadi mata rantai penyebaran IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Maka, selesai mudik PSK langsung kembali ke ‘tujuan praktek pelacuran’ semula atau yang baru dengan meninggalkan HIV/AIDS pada suami atau laki-laki lain di kampung halamannya dan suami atau laki-laki lain di kampung halamannya yang tertular HIV pun menjadi mata rantai baru penyebaran IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus.

Maka, kasus HIV/AIDS pun terus bertambah ibarat ‘deret ukur’ yang al. bisa dilihat dari kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga. Ini kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. *** 

13 Juli 2015

Cari Obat Cegah HIV Setelah Ngeseks dengan PSK

Oleh Syaiful W. Harahap-AIDSWatch Indonesia

Tanya Jawab AIDS No 1 /Juli 2015

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap di AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146 dan (021) 8566755, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****

Tanya: Saya, pemuda 24 tahun, pernah ML (making love yaitu hubungan seksual) dengan pekerja seks komersial (PSK) tanpa memakai kondom. Saya takut tertular HIV/AIDS. (1) Apakah saya bisa ditolong dengan pengobatan dokter agar tidak tertular HIV/AIDS? Saya baca di Internet ada obat yang diminum agar tidak tertular HIV sebelum 72 jam. (2) Di mana saya bisa membeli obat itu? Tolong saya, Mas, walaupun biaya pengobatannya besar. Sungguh saya sangat menyesal.

A (via SMS, 14/4-2015)

Jawab: Pertama, PSK adalah orang yang berisiko tinggi tertular HIV karena dia melakukan hubungan seksual, kebanyakan dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja ada di antara laki-laki tsb. yang mengidap HIV/AIDS sehingga PSK tsb. berisiko tertular HIV.

Kedua, persoalannya adalah seseorang yang sudah tertular HIV tidak bisa dikenali dari ciri-ciri fisik. Sehingga ngeseks dengan PSK tanpa memakai kondom adalah perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV.

Ketiga, kalau PSK tsb. mengidap HIV/AIDS, maka risiko Anda adalah 1:100. Artinya, dari 100 kali hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan yang mengidap HIV/AIDS ada 1 kali kemungkinan tertular. Masalahnya, tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang ke berapa terjadi penularan. Bisa yang pertama, kedua, keeam, kesebelas, kedua puluh, kelima puluh, kesembilan puluh, bahkan bisa pada hubungan seksual yang ke-100.

(1) Jika virus (HIV) sudah masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seksual Anda dengan PSK tsb., maka HIV akan terus ada di dalam darah Anda sepanjang hidup. Tidak ada obat yang bisa mencegah penularan HIV, apalagi HIV sudah di dalam darah maka HIV akan langsung menggandakan diri karena HIV adalah virus yang tergolong retrovirus yaitu virus yang menggandakan diri. HIV menggandakan diri di sel darah putih manusia. Sel ini dikenal sebagai benteng untuk sistem kekebalan tubuh. HIV menggandakan diri antara 10 miliar sampai 1 triliun per hari di dalam darah. Virus-virus yang baru kemudian menggandakan diri lagi. Begitu seterusnya sampai pada tahap imunitas rendah sehingga mudah kena panyakit. Ini dikenal sebagai masa AIDS yang secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV. Dan, penyakit-penyakit itulah kemudian, disebut infeksi oportunistik, yang menyebabkan kematian, al. diare dan TB.

(2) Tentang obat tsb. apakah bisa mencegah HIV setelah HIV masuk ke dalam tubuh dan di mana dijual, maaf, bukan ranah kami. Maka, silakan ditanya ke dokter atau ke Klinik VCT di rumah-rumah sakit pemerintah. ***

21 Juni 2015

Sepenggal Kenangan dengan Chris “Babe” Green “Bergelut” dengan HIV/AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap AIDS WatchIndonesia

Saya ingat betul perkenalan saya pertama kali dengan Babe, panggilan akrab Chris W. Green, aktivis HIV/AIDS sejak awal 1990-an di Jakarta, adalah di bulan puasa (1998). Waktu itu Bu Lia, Dr Rosalia Sciortino di Kantor Ford Foundation Jakarta, mengadakan diskusi tentang kondom. Malam ini, 21/6-2015, pkl 21.00 saya baca status Danel Marguari, Yayasan Spiritia Jakarta, yang mengatakan bahwa Babe akan disemayamkan di RS St Carolus, Jakarta Pusat, sampai tanggal 23/6-2015 selanjutnya akan dikremasi. Babe pergi untuk selama-lamanya sekitar pukul 15.30, 21/6-2015, di RS Siloam, Tangerang, Banten.

Ketika itu Babe menunjukkan newsletter “WartaAIDS” yang berisi informasi tentang HIV/AIDS. Sebagai wartawan yang bergelut di isu HIV/AIDS, ketika itu bekerja di Tabloid ‘MUTIARA’ Jakarta, saya tertarik membantu Babe. Usul saya kemudian yaitu menuliskan berita dan ulasan terkait AIDS dengan kasus Indonesia diterima Babe.

Saya pun bekerja di rumahnya di bilangan Pondok Gede, ini sudah masuk Bekasi, tapi di pinggiran Jakarta Timur. Di sana kami mengelola beberapa newsletter yang menyebarluaskan informasi HIV/AIDS dan Narkoba. Ada “WartaAIDS” dan “HindarAIDS” yang didanai oleh Ford Foundation dengan dukungan Bu Lia.

“Saya heran, Bang, koq Abang tidak kaget.” Itulah kira-kira tanggapan Babe terhadap reaksi saya ketika dia menceritakan orientasi seksnya. Waktu itu saya hanya tertawa kecil mendengar cerita Babe tentang “siapa” dia. Babe mengatakan bahwa dia tidak mau saya mengetahui informasi tentang dia dari orang lain. Hal yang sama juga dia lakukan dengan yang lain.

Bagi saya orientasi seks dan semua hal yang terkait dengan patologi sosial adalah hal biasa karena alm Damang (ayah) dulu di akhir tahun 1960-an sampai tahun 1970-an memberikan pekerjaan kepada seorang waria dan menyediakan rumah kepada seorang pekerja seks. Ayah saya memang jadi sasaran fitnah dan caci maki. Hal yang saya alami setiap hari. Banyak cerita yang saya dengar, waktu itu saya di SD dan ketika di SMP cerita-cerita itu tidak mengganggu saya lagi.

Toleransi saya dengan Babe berlanjut. Babe menyediakan sajadah di salah satu kamar di rumahnya. “Silakan, Abang salat,” kata Babe sambil menunjukkan kamar dan sajadah yang dia sediakan. Saya sendiri sebenarnya lebih memilih salat di musola di perumahan itu, tapi karena Babe sudah menyediakan sarana maka saya pun memakainya.

Juga di bulan puasa, “Abang bikin ulasan tentang cara berpuasa bagi Odha,” pinta Babe. Saya pun mencari bahan-bahan di buku-buku fiqih dan wawancara dengan ahli. Ulasan kami dimuat di “WartaAIDS”.

Setiap hari kami diskusi soal berita yang akan dimuat di newsletter karena sumber berita itu dari luar negeri. Artinya, kami mencari informasi yang ‘nyambung’ dengan kasus di Indonesia.

Karena Babe tahu persis kalau hari Senin dan Kamis saya sering puasa, maka jika tiba waktu sarapan dan makan siang Babe selalu minta maaaf, “Bang, maaf, ya kam sarapan dulu.” Bagi saya hal itu sangat berharga karena Babe menghargai yang saya lakukan dan sama sekali kami tidak pernah terlibat pembicaraan tentang SARA (suku, agama, ras dan antar golongan). 

Saya sendiri sejak kecil sudah diperkenalkan alm. Damang dengan beragama kehidupan, al. teman di kantornya, pemilik kantin yang selalu menyediakan bumbu pecal, dan hampir tiap malam saya dibawa menonton di bioskop. Tapi, kalau ada adegan ciuman dia pun menyuruh saya menunduk. Tapi, setelah SMP saya nonton sendiri karena salah satu karyawan di bioskop itu Uda (Oom) saya sehingga bisa masuk biar pun belum berumur 17 tahun. Waktu itu umur sangat ketat karena harus menunjukkan KTP kalau mau nonton dengan batas usia 17 tahun ke atas.

Permintaan untuk berlanggaan dan tanggapan yang kami terima menunjukkan betapa informasi HIV/AIDS belum menjangkau banyak orang. Untunglah Ford Foundation juga mendanai ongkos kirim sehingga newsletter itu kami kirim kepada siapa saja yang minta berlangganan.

“Oon duduk di atas,” kata tukang becak di mulut jalan perumahan tempat Babe. Waktu itu banjir besar melanda Jabodetabek. Air sebatas pinggang orang dewasa. Saya sampai ke rumah Babe. Astaga, rumah Babe bagaikan kapal pecah karena jadi tempat menampung penduduk yang kebanjiran. Yang saya lihat hanya rumah Babe ada ‘pengungsi’.

Kami sering ‘berdebat’ soal terjemahan karena Babe orang Inggris asli sehingga makna kata lebih pas dia terjemahkan. Pada akhirnya hasil terjemahan yang kami hasilkan benar-benar berbatu Indonesia dan kata-katanya pun baku. Misalnya, tema Hari AIDS Sedunia (HAS) tahun 1999: Listen, Learn, Live. Banyak versi tapi tidak baku. Kami sepakat terjemahannya adalah: Dengar, Simak, Tegar. Ini kami cari padanan kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Simak dan tegar itu bermakna luas berbeda dengan terjemahan harfiah, misalnya, belajar dan hidup.

Ketika Bu Lia diganti oleh Dr Meiwita Budhiharsana konsentrasi saya beralih ke kesehatan reproduksi, tapi kontak dengan Babe terus berlanjut. Terutama menyangkut berita HIV/AIDS di media massa nasional, Babe selalu minta tanggapan saya dan saya pun selalu mengirimkan tanggapan dalam bentuk tulisan atau Surat Pembaca ke media cetak yang memuat berita yang kami diskusikan.

Tahun 2008 Babe meminta saya menjadi narasumber dan instruktur workshop “Berhubungan dengan Media dan Cara Penulisan Berita HIV/AIDS untuk peer group jaringan Odha Yayasan Spirita” di Kota Jambi, Jambi.

Tahun 2000 saya dan Babe jadi Anggota Panel Seleksi Proposal ‘Masri Singarimbun Research Award’ Tahap IV “Penyalahgunaan Narkoba” yang diselenggarakan Pusat Penelitian Kependudukan-Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta. Kami terbang ke Yogyakarta. Selesai kegiatan di Bulaksumur, kami berpisah karena ada kegiatan masing-masing. Tawaran untuk menginap kami tolak karena kami memilih jalan sendiri. “Saya mau ke rumah saudara, Bang,” kata Babe sambil memanggil becak. Babe menjalin hubungan keluarga dengan sebuah keluarga di Yogyakarta.

Setiap kali bertemu kami selalu terlibat dalam diskusi tentang HIV/AIDS, termasuk masalah-masalah yang terkait dengan orientasi seks. Beberapa kali kami kecewa membaca berita yang tidak objektif tentang HIV/AIDS dan seks. Belakangan saya kabari Babe bahwa saya mengurangi frekuensi mengirim tanggapan ke media cetak karena saya khawatir akan ada nada sumbang terhadap saya.

Di ICAAP Bali, 2009, kami ngobrol panjang-lebar di bawah pohon kelapa sambil menunggu angkutan wira-wiri yang disediakan panitia. Lagi-lagi Babe mengangkat bahu ketika saya tanya apa yang menarik dari kongres itu untuk dibagi ke masyarakat.

Saya lupa kapan persisnya pertemuan saya terakhir dengan Babe. Itu tidak jadi masalah karena kami satu cakupan dalam upaya menyebarluaskan informasi HIV/AIDS yang realistis. Saya akan terus melanjutkan niat kami agar tidak ada lagi informasi HIV/AIDS yang simpang-siur dan menyesatkan.

Selamat jalan, Babe. Semoga Dia memberimu ampunan di alam sana. ***

Ilustrasi (Repro: www.youtube.com)

20 Juni 2015

Ironi Raperda AIDS Prov Bengkulu, Penyebaran AIDS Terjadi Justru Karena Laki-laki Tidak Pakai Kondom


Oleh Syaiful W. HarahapAIDS WatchIndonesia

“ .... ketika akses terhadap kondom dibatasi, warga, utamanya anak muda yang belum menikah, akan berhenti melakukan seks di luar nikah.” Ini pendapat anggota DPRD Bengkulu Septi Yuslinah dalam berita “Cegah HIV dengan Pembatasan Kondom, DPRD Bengkulu Dikritik” (kompas.com, 20/6-2015).

Ada hal yang mengganjal dari pendapat anggota dewa yth. ini, yakni: Apa yang dimaksud dengan ‘remaja akan berhenti melakukan seks di luar nikah’ itu dengan siapa?

Fakta Medis

Fakta menunjukkan bahwa remaja yang ngeseks dengan pekerja seks komersial (PSK) justru tidak mau memakai kondom. Ada atau tidak ada kondom tetap saja ada remaja laki-laki yang menyalurkan dorongan hasrat seksual dengan PSK. Kondisi inilah yang membuat mereka berisiko tertular HIV/AIDS atau IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja siga/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, dll.) atau dua-duanya sekaligus.

Jika yang dimaksud Septi adalah hubungan seks dengan pacar, maka fenomena yang terjadi sekarang adalah pasangan muda-mudi melakukan hubungan seksual dalam bentuk seks oral (penis masuk ke dalam mulut dan lidah menjilati vagina) dan seks anal (penis masuk ke dalam anus).

Tentu saja seks anal dan seks oral tidak membutuhkan kondom karena kedua bentuk variasi penyaluran dorongan seks itu tidak akan menyebabkan kehamilan.

Yang jadi persoalan besar adalah kalau laki-laki atau remaja putra yang dioral oleh cewek mengidap IMS, terutama kencing nanah dan raja singa, maka di penis ada luka dan nanah. Memang, dalam air mani dan sperma ada protein. Tapi, kalau kemudian air mani mengandung HIV/AIDS dan ;penis bernanah, tentu selain protein ada pula bakteri dan virus yang tertelan.

Jika dikaitkan dengan penularan HIV/AIDS, maka pernyataan Septi tentang ‘seks di luar nikah’ pun amat naif karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bisa terjadi karena kondisi (saat terjadi) hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua pasangan yang melakukan hubungan seksual mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom selama hubungan seksual, bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, zina, melacur, selingkuh, seks anal, seks oral, dll.).

Jika pasangan yang melakukan hubungan seksual di luar nikah dua-duanya tidak mengidap HIV/AIDS (HIV-negatif), maka tidak ada risiko penularan HIV biar pun laki-laki tidak memakai kondom selama hubungan seksual.

Septi pun melanjutkan: "Hal ini (akses terhadap kondom dibatasi-pen.) dilakukan semata-mata untuk mencegah penularan HIV/AIDS di Bengkulu yang semakin meningkat."

Diberitakan bahwa di Prov Bengkulu sudah terdeteksi 600 kasus HIV/AIDS.

HIV/AIDS adalah fakta medis yaitu bisa diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran, sehingga pembahasan tentang HIV/AIDS pun berpijak pada fakta medis.

HIV adalah virus yang tergolong retrovirus yaitu virus yang mereplikasi diri (menggandakan diri) di sel-sel darah putih manusia karena kehidupan harus ada unsur RNA dan DNA. HIV mempunyai RNA sehingga ketika HIV hendak menggandakan diri dibutuhkan DNA. Ini ada di sel darah putih sehingga sel darah putih manusi dijadikan HIV sebagai ‘pabrik’ untuk menggandakan diri. Setiap hari HIV berkembang biak di dalam tubuh manusia yang mengidap HIV antara 10 miliar – 1 triliun.

Mata Rantai

HIV ditularkan dari orang yang mengidap HIV/AIDS ke orang lain antara lain melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom.

Untuk mencegah agar tidak terjadi penularan HIV dari pengidap HIV/AIDS ke orang lain melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah adalah dengan menghindarkan pergesekan penis dengan vagina. Salah satu caranya adalah dengan memakai kondom.

Maka, penyebaran HIV/AIDS di Prov Bengkulu terjadi bukan karena akses terhadap kondom tidak dibatasi, tapi karena laki-laki yang melakukan hubungan seksual berisiko yaitu dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, tidak memakai kondom. Ini fakta.

Di bagian lain Septi mengatakan: "Kita perlu mengatur penjualan alat kontrasepsi di masyarakat."

Penggunaan alat-alat kontrasepsi (alat untuk mencegah kehamilan), kecuali kondom, sudah diatur karena alat-alat tsb. pil KB, suntikan, spiral, dan implant serta bedah vasektomi serta tubektomi hanya untuk pasangan suami-istri. Alat-alat kontrapsi ini bukan alat mencegah penularan HIV/AIDS.

Mengapa kondom tidak diregulasi? Analoginya adalah kondom bisa menegah penyebaran IMS dan HIV/AIDS sehingga harus mudah diperoleh.

Tampaknya, sasaran Raperda AIDS itu adalah remaja. Ini naif karena:

Pertama, mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat adalah laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa yang tertular HIV akan menularkan HIV ke pasangannya, ke istri bagi yg berkeluarga (bahkan ada yang beristri lebih dari satu), ke pacar, ke selingkuhan dan ke PSK. Kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada ibu rumah tangga karena mereka ditulari suaminya.

Kedua, remaja yang tertular HIV/AIDS menjadi terminal terkahir. HIV/AIDS hanya pada dirinya karena mereka tidak mempunyai istri. Remaja bukan mata rantai penyebaran HIV/AIDS.

Dalam berita ada pula ditampilkan Melanie Tedja, seorang pengguna media sosial, bahkan membuat petisi online di change.org yang menentang rencana tersebut.

‘Seks Bebas’ Menyesatkan

Disebutkan oleh Melanie bahwa logika DPR Bengkulu tersebut adalah:

(1) Dengan membatasi penjualan kondom, anak muda akan lebih takut melakukan seks bebas

(2) Jika lebih sedikit orang yang melakukan seks bebas maka penyebaran HIV akan menurun

Menurut saya pribadi, ini logika yang cemerlang.

Pendapat Melanie Tedja ini menggambarkan pandangan banyak orang di Indonesia terkait dengan HIV/AIDS yang justru menyesatkan.

‘Seks Bebas’ adalah istilah yang rancu bin ngaco karena tidak jelas maknanya. ‘Seks bebas’ adalah terjemahan bebas dari free sex yang justru tidak ada dalam kamus-kamus Bahasa Inggris.

Kalau Melanie mengartikan ‘seks bebas’ sebagai zina atau hubungan seksual di luar nikah, maka lagi-lagi Melanie ngawur jika mengaitkan ‘seks bebas’ dengan HIV/AIDS karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, seks bebas, zina, dll.), tapi karena kondisi (saat terjadi) hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom selama terjadi hubungan seksual.

Untuk menurunkan insiden infeksi penularan HIV baru, terutama di kalangan dewasa, pilihan ada di tangan kita, yaitu tidak melakukan hubungan seksual yang berisiko:

(a) Laki-laki dewasa tidak melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, perempuan yang berganti-ganti;

(b) Laki-laki dewasa tidak melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK langsung (PSK yang kasat mata yaitu PSK di lokalisasi pelacuran, di rumah bordir, dan di jalanan) dan PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek panggilan, ‘artis’ prostitusi online, cewek pub, cewek kafe, cewek pemijar, ABG, cewek bispak, cewek bisyar, ayam kampus, cewek gratifikasi seks, dll.);

(c) Perempuan dewasa tidak melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti.
Masalahnya adalah: Apakah ada yang bisa mengawasi perilaku-perilaku di atas?

Tentu saja tidak bisa. Maka, pilihan lain adalah memberikan alat yang bisa menegah penulran HIV/AIDS bagi orang-orang yang lepas kontrol sehingga tidak bisa mengendalikan dorongan syahwatnya.

Tanpa langkah-langkah yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di Prov Bengkulu khususnya dan di Indonesia umumnya akan tibalah saatnya kelak pada “ledakan AIDS”. ***

18 Juni 2015

Ratusan “Hijaber” Tertular HIV/AIDS, Koq Bisa, Sih?

Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa mengatakan sebanyak 564 perempuan di Kota Batang, Jawa Tengah, positif terinfeksi penyakit HIV-Aids. Yang mengejutkan, kata Khofifah, 90 persen dari para perempuan tersebut adalah perempuan berhijab. (Ratusan Hijaber Terinfeksi HIV/AIDS, Ini Penyebabnya, tempo.co, 8/6-2015).

Dengan fakta ini salah satu mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS sudah dipatahkan yaitu HIV/AIDS menular karena zina. Ratusan perempuan itu melakukan hubungan seksual dengan suaminya dalam ikatan pernikahan yang sah.


Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual terjadi di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual) karena saat terjadi hubungan seksual salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dengan suami tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual (kondisi hubungan seksual).

Suami mereka tertular HIV/AIDS al. melalui hubungan seksual yang bisa saja di dalam nikah karena bisa saja suami tsb. beristri lebih dari satu. Kalau salah satu di antara beberapa istri tsb. mengidap HIV/AIDS, maka istri-istri lain pun berisiko tertular HIV/AIDS dengan suami sebagai penyebar.

Ada juga suami yang tertular HIV/AIDS dari pekerja seks komersial (PSK) langsung (PSK yang kasat mata seperti di lokasi pelacuran dan jalanan) atau dari PSK tidak langsung (PSK yang tidak kasat mata, seperti cewek panggilan, pelacuran artis online, ayam kampus, cewek kafe, cewek pub, dll.).

Di bagian lain Khofifah mengatakan bahwa setelah didata, para perempuan malang itu bukanlah wanita nakal semacam pekerja seks. Bahkan, data menunjukkan 90 persen dari 564 perempuan yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS itu memakai hijab atau jilbab.

Bu Menteri ini memakai moralitas dirinya dalam menilai PSK dengan mengatakan PSK itu sebagai “wanita nakal”. Nah, celakanya Bu Menteri tidak menyebutkan apa julukan bagi suami yang berzina, al. melacur dengan PSK. Laki-laki, terutama yang beristri, tidak sekedar berzina tapi mereka pun sudah melakukan penyelengan moral yang juga dilarang agama dan hukum.

Disebutkan pula bahwa Khofifah memastikan secara perlahan akan menutup tempat lokalisasi di Indonesia. Salah satu wilayah yang jadi fokus Khofifah adalah wilayah Jawa Timur. 

Pertanyaan untuk Bu Menteri: Apakah dengan menutup lokasi atau lokalisasi pelacuran otomatis akan menghentikan praktek pelacuran?

Tentu saja tidak. Maka, yang jadi persoalan bukan lokasi pelacuran tapi perilaku sebagian laki-laki, ada juga yang beristri, yang gemar melacur. Biar pun tidak ada lokasi pelacuran tidak berarti tidak ada PSK.

Menurut Khofifah sudah 12 lokalisasi pelacuran yang ditutup di Jawa Timur. Pertanyaan untuk Khofifah: Apakah laki-laki di 12 kota atau kabupaten yang lokalisasi pelacurannya ditutup otomatis tidak ada lagi laki-laki, termasuk suami, yang melacur?

Maka, dengan menutup lokalisasi pelacuran tidak otomatis menghentikan praktek pelacuran. Yang bisa dilakukan hanyalah menurunkan insiden infeksi HIV baru melalui hubungan seksual dengan PSK. Tapi, ini hanya bisa dilakukan kalau pelacurna dilokalisir yaitu dengan memaksa laki-laki memakai kondom (AIDS di Indonesia Akan Terus Menyebar Selama Masih Ada Laki-laki Yang Beli Seks).

Biar pun satu mitos sudah digugurkan, tapi masih banyak mitos yang menjadi penghalang dalam penanggulangan HIV/AIDS. *** 

AIDS di Indonesia Akan Terus Menyebar Selama Masih Ada Laki-laki Yang Beli Seks



Oleh Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

“John menambahkan, penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seksual tersebut dilakukan di lokasi-lokasi berisiko, atau disebut lokasi-lokasi kunci, yang tempatnya cenderung menyebar.” Pernyataan Kepala Bidang Monitoring dan Evaluasi KPAP DKI Jakarta, John Alubwaman, ini ada dalam berita “Hubungan Seksual, Penyebab Terbesar Penyebaran AIDS” (kompas.com, 17/6-2015).

Pernyataan itu yang membuat banyak orang menganggap bahwa HIV/AIDS itu tumbuh dan berkembang di tempat-tempat yang terjadi hubungan seksual di luar nikah, seperti lokasi atau lokalisasi pelacuran, panti pijat, dll.

Seperti yang dialami oleh penulis ketika jadi pemateri di sebuah pertemuan tentang HIV/AIDS di Kota Pekanbaru, Riau (2012), ketika penulis katakan bahwa HIV/AIDS di tempat-tempat berisiko itu dibawa oleh laki-laki seorang wartawan (waktu itu dia mengaku Kompas TV) menyanggah, “Apakah sudah ada penelitiannya?”

Fenomena Gunung Es

Secara empiris hal itu adalah fakta karena sebagai virus HIV tidak bisa tumbuh dan berkembang sendiri dari material alam. HIV dalam jumlah yang bisa ditularkan hanya ada di dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani dan semen (laki-laki), cairan vagina (perempuan) dan air susu ibu/ASI (perempuan). Nah, HIV dibawa oleh laki-laki lalu ditularkan ke pekerja seks langsung di lokasi pelacurann, dan dibawa oleh laki-laki lalu ditularkan ke pekerja seks tidak langsung di panti pijat, cafe, pub, dll.

Maka, pernyataan di atas akan lebih bermakna kalau dideskripsikan secara jelas yaitu penyebaran HIV/AIDS dilakukan oleh laki-laki yang perilaku seksnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yaitu laki-laki yang sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah. Laki-laki yang mengidap HIV/AIDS menularkan HIV ke pekerja seks langsung dan tidak langsung, selanjutnya ada pula laki-laki lain yang tertular HIV dari pekerja seks langsung dan pekerja seks tidak langsung yang mengidap HIV/AIDS karena ditulari oleh laki-laki (Lihat Gambar).

Dengan kasus kumulatif HIV/AIDS yang mencapai 32.782 tentulah penyebaran HIV/AIDS di Jakarta sudah “lampu kuning” karena jumlah yang yang terdeteksi ini hanya sebagian kecil dari kasus yang ada di masyarakat. Soalnya, penyebaran HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Jumlah yang terdereksi (32.782) digambarkan sebagai puncak gunung es yang mencuat ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es yang ada di bawah permukan air laut.

Terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS di Jakarta dan daerah lain di Indonesia persoalan besar adalah tidak bisa dilakukan intervensi berupa penerapan seks aman (laki-laki selalu memakai kondom ketika ngeseks dengan pekerja seks) karena praktik hubungan seksual yang melibatkan pekerja seks langsung dan pekerja seks tidak langsung terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Seperti dikatakan John, tempat-tempatnya cenderung menyebar karena Jakarta tidak memiliki (area) lokalisasi khusus.

Kalau pekerja seks dilokalisir, maka intervensi bisa dilakukan terhadap laki-laki yang ngeseks dengan pekerja seks melalui regulasi yang ketat seperti yang dijalankan di Thailand dengan skala nasional. Germo atau mucikari di lokalisasi pelacuran dan rumah bordir diberikan izin sebagai ikatan hukum. Secara rutin pekerja seks menjalani tes IMS (infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nika dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, seperti raja singa/sifilis, kencing nanah/GO, klamidia, virus hepatitis B, dll.). Jika ada pekerja seks yang terdeteksi mengidap IMS, maka germo diberikan sanksi mulai dari teguran, peringatan tertulis sampai pembatalan izin usaha.

Langkah Thailand itu berhasil dengan indikator jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada calon taruna militer turun dari tahun ke tahun. Sayangnya, di Kab Merauke, Papua, yang dijalankan terbalik. Yang dihukum malah pekerja seks. Ini ‘kan naif karena: (1) Ada laki-laki yang mengidap IMS yaitu laki-laki yang menularkan HIV ke PSK yang terdeteksi mengidap IMS, bisa jadi laki-laki tsb. juga mengidap HIV/AIDS, dan (2) Ada banyak laki-laki yang berisiko tertular IMS, kalau pekerja seksnya juga mengidap HIV/AIDS, maka sekaligus terjadi penularan IMS dan HIV/AIDS.

Tes HIV Pasangan

Kalau pekerja seksnya yang diberikan sanksi, al. pidana kurungan, maka 1 pekerja seks dibui akan ada puluhan pekerja seks lain. Lagi pula laki-laki akan memakai tangan germo untuk memaksa pekerja seks melayani tanpa mewajibkan laki-laki memakai kondom.

Maka, maaf, biar pun pekerja seks yang terdeteksi mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus “dihabisi” IMS dan HIV/AIDS sudah menyebar melalui laki-laki yang menularkan ke pekerja seks dan puluhan bahkan ratusan laki-laki yang berisiko tertular IMS dan HIV/AIDS dari pekerja seks.

Karena melokalisir pekerja seks mustahil, maka langkah yang bisa dijalan Pemprov DKI Jakarta untuk menurunkan (yang bisa dilakukan hanyalah menurunkan) insiden penularan HIV baru hanya terhadap bayi. Caranya adalah dengan membuat peraturan daerah (Perda) atau peraturan gubernur (Pergub) yang mewajibkan setiap perempuan hamil menjalani konseling HIV pasangan dengan suaminya. Jika hasil konseling menjukkan salah satu dari mereka perilaku seksnya berisiko, maka suami dan istri wajib menjalani tes HIV.

Agar program itu tidak melanggar hak asasi manusia (HAM), maka yang wajib konseling pasangan adalah yang berobat di sarana kesehatan pemerintah. Di Amerika Serikat sebagai negara demokrasi terbesar pun semua pasien yang berobat ke rumah sakit pemerintah wajib tes HIV. Tentu tidak melanggar HAM karena yang tidak mau konseling dan tes HIV silakan berobat ke rumah sakit swasta. Artinya, ada pilihan.

Disebutkan dalam berita untuk menekan penyebaran HIV tersebut, KPAP DKI Jakarta memiliki kelompok kerja di lokasi berisiko untuk memberikan informasi tentang pencegahan penyebaran HIV kepada para pekerja seks, seperti memberitahukan bagaimana memasang kondom yang benar.

Kalau hanya dengan cara-cara di atas maka tidak ada jaminan laki-laki ‘hidung belang’ akan dengan sukarela memakai kondom. Banyak alasan laki-laki tidak mau memakai kondom, al. merasa rugi karena sudah bayar ratusan ribu rupiah tapi koq penis dibungkus.

Disebutkan pula oleh John: "Selain itu, kami juga bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk menyediakan jasa dokter keliling yang bertugas melakukan pemeriksaan di lokasi-lokasi berisiko tersebut." Ini adalah langka di hilir. Artinya, Pemprov DKI Jakarta membiarkan penduduk tertular atau menularkan HIV baru ditangani.

Maka, hanya dengan melokalisir pelacuran penanggulangan HIV/AIDS bisa dijalankan dengan efektif. Jika ini ditolak banyak kalangan, maka mereka harus memberikan jalan keluar yaitu mengajak laki-laki agar tidak ada lagi yang membeli seks atau melacur dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah.

Tentu saja melarang semua laki-laki agar tidak ada lagi membeli seks atau berganti-ganti pasangan di dalam dan di luar nikah adalah hal yang mustahil.

Maka, sekarang pilihan hanya dua, yaitu: (1) Menurunkan insiden infeksi HIV melalui intervensi untuk memaksa laki-laki memakai kondom dengan melokalisir pelacuran, atau (2) Membiarkan penyebaran HIV/AIDS terus terjadi yang kelak bermuara pada ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak yang mereka lahirkan. *** 

22 Mei 2015

Pelaku Sodomi Tidak Otomatis Seorang Paedofilia atau Gay

Oleh Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia

Pelaku Pedofil di Australia Sebut Korbannya Setan Penuh Dosa.” Ini judul berita di Australia Plus ABC-detikNews (21/05/2015).

Judul berita ini tidak sejalan dengan fakta yang diungkapkan yaitu: Korban pelecehan seksual Stephen Woods mengungkapkan ia diperkosa oleh tiga orang petugas di sekolah keagamaan di Ballarat, Australia, saat ia masih anak sekolah. Parahnya, salah seorang pedofil melakukan perbuatan tersebut sambil menyebut korban sebagai "setan penuh dosa".

Yang dilakukan oleh tiga petugas di sekolah keagamaan itu adalah sodomi yakni hubungan seksual yang tidak alamiah. Sodomi terkait dengan ranah hukum sebagai tindakan hubungan seksual yang tidak alamiah berupa seks oral dan seks anal. Itu artinya alat kelamin dipakai untuk hubungan seksual secara paksa dengan organ yang bukan alat kelamin. Sodomi bisa dilakukan oleh orang dengan orientasi seks heteroseksual dan homoseksual.

Paedofila merupakan salah satu bentuk parafilia yaitu menyalurkan dorongan hasrat seksual dengan ‘cara lain’ tanpa ada unsur paksaan, yaitu laki-laki dewasa yang menyalurkan hasrat seksual dengan anak-anak usia 7-12 tahun melalui seks vaginal dan seks anal (Parafilia: Menyalurkan Dorongan Hasrat Seksual“Dengan Cara yang Lain”).

Sedangkan seorang gay akan ‘memadu’ cinta dengan gay lain sebagai pasangannya untuk melakukan hubungan seksual dalam bentuk seks anal. Begitu pula dengan lesbian yang ‘berpacaran’ dengan perempuan lain untuk melakukan hubungan seksual sebagai bagian dari percintaan mereka.

Maka, hubungan seksual yang dilakukan oleh ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ tsb. jelas bukan bentuk prafila karena mereka lakukan dengan paksaan dan dengan pembenaran bahwa korban adalah setan yang penuh dosa.

Dosa merupakan istilah yang terkait dengan agama sebagai bentuk hukuman bagi yang melakukan tindakan yang melawan norma atau aturan yang diatur dalam kitab suci.

Persoalannya adalah: Apakah Tuhan memberikan mandat secara eksplisit kepada manusia untuk menentukan atau menetapkan (kadar) dosa seseorang?

Alasan yang disebutkan oleh ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ merupakan salah satu bentuk pembenaran karena tidak ada perintah Tuhan secara eksplisit kepada ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ tsb. untuk menyodomi korban karena mereka sebut sebagai setan dan penuh dosa.

Agaknya, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ itu mengetahui kalau Woods pernah mengaku bahwa diia menyadari dirinya sebagai seorang gay sejak usia sangat dini. Nah, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ pun menyebut Woods sebagai orang bejat dan setan yang pantas menerima apa yang mereka lakukan.

Lalu, apakah tindakan sodomi dibenarkan oleh Tuhan?

Tentu saja tidak. Tapi, ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ itu memakai ‘tangan Tuhan’ sebagai pembenaran tindakan mereka sebagai pelaku sodomi.


Dampak perbuatan ‘tiga petugas sekolah keagamaan’, al. ibu salah satu korban (Stephen Woods) tidak lagi percaya kepada agama yang dianut ibunya selama 70 tahun. Ayahnya sudah menarik pelatuk senapan untuk menutut balas terhadap ‘tiga petugas sekolah keagamaan’ yang menyodomi Woods.

Bercermin dari kasus Woods ini Polri diharapkan tidak semerta menerima pernyataan pelaku sodomi yang mengatakan bahwa dia pernah jadi korban sodomi. Soalnya, bisa saja hal itu sebagai pembenaran terhadap perilaku kriminalnya menyodomi bocah-bocah.

Jika ada pelaku sodomi yang mengatakan dirinya korban sodomi, maka perlu dilakukan diagnosis medis untuk membuktikannya serta konseling psikologi untuk memasitkan apakah dia disodomi atau memang seorang parafilia.

Dari aspek penularan IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, dll.) dan HIV/AIDS risiko penularan melalui hubungan seksual tanpa kondom pada seks anal jauh lebih besar daripada melalui seks vaginal. ***