08 Februari 2017

HPN 2017: Menggugat Kepedulian Pers Nasional terhadap Penanggulangan HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: abtassociates.com)


Kamis, 9 Februari 2017, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini kegiatan dipusatkan di Kota Ambon, Maluku, yang dihadri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seiring dengan perjalanan panjang pers nasional yang juga berperan dalam kemerdekaan, patut juga dipertanyakan peran akrif pers nasional dalam ‘perang’ melawan penyebaran HIV/AIDS karena catatan menunjukkan peran pers nasional dalam penanggulangan HIV/AIDS sangat rendah sekali.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 20 November 2016 menyebutkan sampai tanggal 30 September 2016 kasus kumulatif  HIV/AIDS di Indonesia tercatat 302.004 yang terdiri atas 219.036 HIV dan 82.968 AIDS dengan 10.132 kematian. Secara global kasus HIV/AIDS di akhir tahun 2015 mencapai 36,7 juta dengan 1,1 juta kematian. Dengan kondisi seperti ini Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara di Asia yang pertambahan kasus HIV-nya tercepat.

Pelacuran dan Kondom

Jika dikaitkan dengan epidemi HIV, maka angka-angka itu tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Angka yang dilaporkan atau terdeteksi (digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut) yaitu 302.004 hanya sebagian kecil dari kasus yang ada (digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut). Estimasi dan proyeksi HIV/AIDS yang diterbitkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI,  jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia ada pada angka 608.667 (Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2011-2016, Jakarta, 2014).

Artinya, sejumlah penduduk, terutama laki-laki dewasa, yang mengidap HIV/AIDS di masyarakat tidak terdeteksi karena mereka tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas AIDS dan tidak ada pula keluhan kesehatan terkait AIDS. Orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi jadi mata rantai penularan HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Angka itu diperoleh dari tes terhadap pasien-pasien penyakit terkait HIV/AIDS di rumah sakit, tes HIV terhadap ibu hamil, tes wajib bagi penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bersama-sama, tes sukarela, dll. Belakangan ini ‘pencarian’ kasus HIV/AIDS bersifat pasif yaitu menunggu orang berobat ke rumah sakit jika ada gejala terkait AIDS kemudian dianjurkan tes HIV.

Celakanya, pemerintah sama sekali tidak bisa menjalankan program yang konkret yaitu pemakaian kondom untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, terutama melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) langsung. Program tidak bisa dijalankan karena kecaman dan penolakan yang sangat kuat dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat. Soalnya, program itu hanya bisa dijalankan jika praktek pelacuran yang melibatkan PSK langsung dilokalisir dan kondom tidak ditolak.

Dari 17 ‘pintu masuk’ HIV ke masyarakat yang paling potensial adalah melalui laki-laki yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV yakni sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung. Dengan menjalankan program penanggulangan di hulu yaitu pada laki-laki berisiko tinggi akan menurunkan penyebaran HIV di masyarakat.

Di awal tahun 1990-an ahli-ahli epidemilogi internasional sudah mengingatkan Thailand bahwa HIV/AIDS akan menjadi persoalan besar di Negeri Gajah Putih itu jika tidak dilakukan langkah-langkah penanggulangan yang konkret. Sayang, pemerintah di sana menampiknya al. dengan alasan negara itu didiami oleh penduduk yang berbudaya dan beragama.

Tapi, apa yang terjadi satu dekade kemudian? Kasus HIV/AIDS di sana mendekati angka 1.000.000. Biaya untuk penanggulangan HIV/AIDS secara langsung dan tidak langsung pada tahun 2000 saja menghabiskan dana 2,2 miliar dolar AS ini setara dengan 2/3 dana yang diperoleh dari sektor pariwisata.

Pemerintah Thailand pun langsung bergegas merancang program yang komprehensif untuk menanggulangi AIDS. Maklum, lorong-lorong di rumah sakit penuh sesak karena tempat tidur tidak cukup menampung pasien dengan penyakit terkait AIDS. Thailand menjalankan lima program dengan skala nasional secara simultan.

Mr Condom

Program di urutan pertama adalah meningkatan peran media massa sebagai media pembalajaran masyarakat tentang cara-cara melindungi diri agar tidak tertular HIV/AIDS. Bersamaan dengan itu diluncurkan pula program berupa sosialisasi kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual di uturan kelima (Integration of AIDS into National Development Planning, The Case of Thailand, Thamarak Karnpisit, UNAIDS, December 2000).

Memang, enolakan terhadap sosialisasi kondom juga terjadi di banyak negara. Di Thailand, misalnya, program ‘wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki yang melacur dengan PSK di lokalisasi pelacuran dan rumah bordir juga dikecam. Tapi, berkat dukungan media massa program itu berjalan lancar dan berbuah manis dengan salah satu indikator yaitu penemuan kasus HIV/AIDS yang terus menurun drastis di kalangan calon taruna militer ketika tes kesehatan. Pengagas program kondom ini adalah Mechai Viravaidya yang dikenal sebagai Mr. Condom di Thailand dngan semboyan “made Thailand a better place for life and love”. Mechai pun menerima hadiah “Magsaysay” tahun 1994.

Pemberitaan yang objektif dan konsisten pun mendorong banyak kalangan menyingsingkan lengan baju membantu pemerintah menanggulangi HIV/AIDS. Pasien yang tidak bisa ditampung rumah sakit langsung dibawa oleh bhiksu ke vihara. Itu gambaran ril betapa media massa berperan besar dalam memasyarakatkan penanggulangan HIV/AIDS. Tapi, itu ‘kan di Thailand.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Sejak awal epidemi HIV/AIDS yaitu di tahun 1981 pemberitaan media massa nasional berkutat pada mitos (anggapan yang salah). Mulai dari soal penyakit orang asing, penyakit bule, penyakit pelacur, penyakit perilaku menyimpang, penyakit kutukan, dst. (Syaiful W. Harahap, Pers Meliput AIDS, PT Sinar Harapan-The Ford Foundation, Jakarta, 2000). Celakanya, sampai sekarang pun tetap saja ada berita yang mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan mitos.

ilus-hpn-589b954a20afbdd50d90affe.jpg
Berita tentang HIV/AIDS pun sporadis. Jika ada perayaan seperti Hari AIDS Sedunia pada tanggal 1 Desember berita AIDS pun ramai, tapi dua hari kemudian dst sepi. Paling-paling ada berita jika ada keterangan dari dinas kesehatan (Dinkes) atau KPA (Komisi Penanggulangan AIDS). Berbeda dengan Thailand yang melancarkan sosialisasi HIV/AIDS melalui media massa secara simultan dan berkesinambungan.

Yang lebih menyedihkan adalah ada berita yang justru tidak memberikan pencerahan tentang langkah penanggulangan AIDS, malahan mendukung pengecam yang menolak lokalisasi dan kondom. Ini terjadi karena ada wartawan yang memakai moralitas dirinya sendiri ketika menulis berita. Banyak berita yang justru berseberangan dengan upaya-upaya penanggulangan HIV/AIDS yang konkret, al. dengan cara mewawancarai pihak-pihak yang berbicara melalut lidahnya dengan moral ketika membicarakan AIDS yang merupakan fakta medis (bisa diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran).

Tidak Berkompeten

Berita pun lebih banyak yang menakut-nakuti daripada meningkatkan kesadaran untuk melindungi diri, misalnya menyebutkan: “penyakit AIDS yang tidak ada obatnya” (padahal ada obat AIDS), “AIDS penyakit mematikan”  (padahal belum ada satu kasus pun kematian karena AIDS). Jurnalisme horor seperti ini dikenal di awal epidemi 30-an tahun yang lalu, sehingga tidak pas lagi dipakai saat ini.

Banyak kalangan, bahkan menteri kesehatan, yang menyampaikan statement berupa mitos, tapi wartawan dengan ringan tangan menulisnya dan media pun menyebarlaskan mitos tsb. Misalnya, ada menteri kesehatan yang mengatakan “AIDS tidak mungkin masuk Indonesia karena masyarakatnya berbudaya dan beragama”, ada lagi pernyataan yang menyebutkan “AIDS penyakit bule”. “AIDS penyakit homoseks”, dll. 

Kalau saja wartawan sedikit memutar otak tentulah bisa menulis berita yang komprehensif dengan perspektif kesehatan dengan narasumber yang kompeten agar berita AIDS tidak sekedar mitos. Celakanya, ada saja wartawan yang justru mewawancarai narasumber yang tidak berkompeten dalam bidang HIV/AIDS, seperti pemuka agama dan dokter yang membalut lidahnya dengan moral.

Untuk itulah penulis mengembangkan ‘jurnalisme harapan’ yaitu memberikan pencerahan kepada yang mengidap HIV/AIDS bahwa kehidupan mereka tetap akan berlanjut dengan obat antiretroviral (ARV) serta pola hidup yang baik. Bagi yang sering melakukan perilaku berisiko segera menjalani tes HIV agar tidak mencekalai orang lain, sedangkan bagi yang lain dianjurkan menghindari perilaku berisiko.

Sebagian besar berita HIV/AIDS ditulis wartawan dengan sudut pandang moral dan agama sehingga pesan yang diterima pembaca pun hanya seputar mitos. Dalam banyak berita HIV/AIDS selalu dikaitkan dengan ‘seks bebas’, seks menyimpang, di luar nikah, bukan dengan pasangan resmi/sah, seks pranikah, pelacuran, dll. Tentu saja ini tidak akurat karena penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas, seks menyimpang, dll.), tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom.

Selain itu dalam banyak berita HIV/AIDS tidak disebutkan cara-cara penularan dan pencegahan ang realistis. Pemakaian kata yang tidak baku dalam berita juga membuat informasi tentang HIV/AIDS tidak jelas. Misalnya, kondom disebut sebagai ‘pengaman’. Ini jelas tidak baku karena ‘pengaman’ tidak otomatis pengertiannya adalah kondom.

Selama media massa, media online dan media sosial di Indonesia tetap membalut informasi HIV/AIDS dengan moral, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru dan penyebaran di masyarakat terus terjadi secara terselubung karena terjadi tanpa disadari oleh orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Pada akhirnya epidemi HIV terselubung ini jadi ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

04 Februari 2017

AIDS: Temuan Kasus Baru Tidak Menggambarkan Jumlah Infeksi Baru



Belakangan ini ada cara berpikir yang tidak akurat yaitu mengesankan bahwa jumlah kasus baru yang terdeteksi menunjukkan keberhasilan penanggulangan yakni kasus penularan baru berkurang. Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI (20/11-2016), menyebutkan sampai tanggal 30 September 2016 kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia tercatat 302.004 yang teridiri atas 219036 HIV dan 82.968 AIDS dengan 10.132 kematian. Secara global kasus HIV/AIDS di akhir tahun 2015 mencapai 36,7 juta dengan 1,1 juta kematian.

Tentu saja pola pikir itu perlu dibawa ke realitas sosial di social settings terkait dengan epidemi HIV/AIDS.

Penyalahguna Narkoba

Kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi ada pada tahap infeksi HIV yaitu belum ada gejala-gejala terkait AIDS. Kondisi ini secara statistik bisa terjadi sejak tertular sampai beberapa tahun kemudian. Kasus HIV baru sering terdeteksi pada ibu-ibu yang hamil karena ada program yang menganjurkan perempuan yang sedang hamil menjalani tes HIV secara sukarela. Kasus baru infeksi HIV juga terdeteksi ketika ada yang menjalani tes untuk berbagai keperluan atau anjuran dari konselor serta aktivis LSM yang bergerak di bidang AIDS. Sedangkan temuan lain adalah pada pengidap HIV/AIDS yang sudah masuk masa AIDS, secara statistik terjadi antara 5-15 tahun sejak tertular HIV, karena ada gejala dan keluhan kesehatan terkait AIDS.

Pertama, mengapa penemuan kasus baru berkurang atau turun?

Kedua, bagaimana mekanisme penemuan kasus baru sebelumnya?

Ketiga, bagaimana mekanisme penemuam kasus baru sekarang ketika disebutkan kasus baru yang terdeteksi berkurang?

Jawaban terhadap tiga pertanyaan ini akan menunjukkan apakah cara berpikir bahwa penemuan kasus baru yang turun merupakan bukti bahwa kasus penularan baru juga berkurang.

Terkait dengan pertanyaan pertama ada beberapa kemungkinan penyebabnya, al.: di tahun 1990-an banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bergantian karena mereka diwajibkan tes HIV sebelum menjalani rehabilitasi. Belakangan penanganan narkoba yang dijalankan pemeirntah melalui BNN (Badan Narkotika Nasional) kian bagus sehingga penyalahguna baru semakian berkurang. Tentu saja ini membuat jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada penyalahguna narkoba kian sedikit.

Jumlah penemuan kasus baru yang kian bekurang juga bisa terjadi karena selama ini ketika ada ‘sedekah’ berupa hibah dari donor-donor internasional banyak kegiatan penjangkauan sampai ke masyarakat. Tapi, sejak Pemerintahan di masa Presiden SBY masuk ke G-20 atau negara maju, maka Indonesia dilarang menerima ‘sedekah’ sehingga banyak kegiatan penjangkuau yang berhenti.

Maka, penemuan kasus baru pun tidak lagi aktif atau jemput bola, tapi sudah pada kondisi pasif. Yang terjadi hanya menunggu ada yang ingin tes HIV atau pasien yang berobat ke rumah sakit. Tenaga medis dianjurkan aktif dengan mengamati pasien dengan penyakit yang terkait AIDS untuk selanjutnya dianjurkan tes HIV.

Sama juga halnya dengan jumlah kasus yang sedikit. Banyak kepala daerah yang menepuk dada karena di daerahnya jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan sedikit. Ini menyesatkan karena bisa saja kasus yang terdeteksi sedikit karena mekanisme pendeteksian kasus HIV/AIDS hanya pasif.

Bisa juga terjadi fasilitas tes HIV tidak ada di daerah tsb., atau hanya ada di ibukota provinsi atau ibu kota kabupaten. Tentu ini jadi faktor penghalang. Kondisinya kian runyam karena di daerah itu tidak ada LSM yang bergerak aktif dalam penyuluhan dan penjangkuan HIV/AIDS sampai ke masyarakat dan populasi kunci.

Ada daerah yang bangga karena kasus HIV/AIDS yang terdeteksi sedikit. Penguasa daerah itu pun menganggap hal itu sebagai hasil dari sistem pemerintah yang khusus. Padahal, ketika banyak daerah sudah menjalankan survailans tes HIV terhadap berbagai komunitas di daerah itu sampai tahun 2004 hanya sekali dilakukan survailans tes HIV yang terbatas. Setelah tahun itu pun fasilitas tes HIV juga sangat terbatas. Akibatnya, ada warga dari daerah itu yang tes HIV dan mengambil obat di luar daerah tsb.

17 Pintu Masuk AIDS

Ada pula daerah yang menganggap dengan memenjarakan pekerja seks komersial (PSK) yang terdeteksi mengidap IMS (infeksi menular seksual, seperti sifilis, kencing nanah, dll.) otomatis penularan baru HIV/AIDS berkurang. Tentu ini menyesatkan karena:

(a) bisa saja yang menularkan IMS ke PSK itu adalah laki-laki dewasa penduduk setempat sehingga laki-laki ini jadi mata rantai penularan IMS di masyarakat,

(b) sebelum PSK itu ditangkap dia sudah melayani puluhan bahkan ratusan laki-laki dewasa penduduk setempat yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, dan

(c) bisa saja ada PSK yang dipenjarakan itu sekaligus juga mengidap HIV/AIDS sehingga laki-laki dewasa yang pernah ata sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tsb. tertular IMS sekaligus HIV/AIDS.

Laki-laki pada kasus (b) dan (c) juga akan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Semua terjadi tanpa disadari karena pada batas tertentu tidak ada gejala dan keluhan kesehatan yang khas infeksi HIV/AIDS.

Berbangga kasus HIV/AIDS sedikit boleh-boleh saja asalkan bisa mencegah penularan HIV melalui 17 pintu masuk, al.:

(1) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah,  dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan perempuan yang berganti-ganti,  

(2) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada perempuan dewasa yang melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, dengan laki-laki yang berganti-ganti,

(3) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti PSK.

Kalau jawabannya TIDAK, maka jumlah kasus yang sedikit tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di masyarakata karena penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Angka yang dilaporkan digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan angka atau kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunug es di bawah permukaan laut.

Jadi, tidak ada kaitan langsung antara penurunan jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi dengan jumlah kasus infeksi HIV baru. Kasus-kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi jadi ‘bom waktu’ yang kelak akan terjadi ‘ledakan AIDS’. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

Ilustrasi (Sumber: www.cdi.it) 

07 Januari 2017

BERITA UTAMA Perda Perlu Direvisi, Penderita HIV/AIDS Di Maluku Terus Meningkat

Peraturan Daerah (Perda) Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia secara umum masih bersifat umum. Belum ada regulasi yang lebih spesifik mengatur guna menekan angka infeksi HIV AIDS di masyarakat. Bahkan sebagian besar Perda yang disusun berdasarkan hasil studi banding dan copy paste untuk pembentukannya di daerah.


Penegasan ini disampaikan aktifis LSM infokespro yang juga wartawan senior Syaiful W. Harahap, dalam lokakarya penguatan kapasitas wartawan penulisan berita HIV AIDS di 15 provinsi yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), yang dipusatkan di Pomelotel Jakarta, 13-15 Juni pekan lalu.
Menurutnya, angka yang terinfeksi HIV AIDS meningkat salah satunya karena praktek pelacuran dalam berbagai bentuk yang tidak akan bisa dihapuskan, karena ada permintaan dan ada pula pasokan. Oleh sebab itu, yang perlu dilakukan adalah mengurangi dampak buruk dengan cara menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual berisiko yaitu dengan memakai kondom.

06 Januari 2017

Belum Ada Perda Pencegahan HIV/AIDS di Indonesia

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

Selasa, 7 Juni 2011 11:29 WIB

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Dari 47 Perda tentang HIV & AIDS di Indonesia, tidak ada satu pasal pun dalam perda-perda tersebut yang memberikan cara pencegahan dan penanggulangan HIV& AIDS yang konkret.

Termasuk dalam hal ini di 5 Kab/ Kota di Jabar yang telah memiliki Perda HIV & AIDS, yaitu di Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Indramayu, Kota Tasikmalaya, Kota Bekasi, dan Kota Cirebon. Demikian diungkapkan Syaiful Harahap, aktivis dari LSM InfoKespro, dalam rilis yang diterima Tribun, Selas (7/6/2011). 

Menurutnya, Perda HIV dan AIDS di Jawa Barat nantinya disusun dengan memperhatikan fakta medis, bukan semata-mata fakta moral. Sehingga, pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS dapat dilakukan dengan efektif.

Jawa Barat sendiri telah memiliki Peraturan Gubernur No.78/2011 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS dan Rencana Strategis Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi Jawa Barat 2009-2013. (*)

Editor: Harismanto
Sumber: Tribun Jabar

05 Januari 2017

Jumlah Kasus Kumulatif HIV/AIDS Sudah Tembus Angka 300.000


Selama penanggulangan HIV/AIDS dibenturkan dengan moral dan agama, maka selama itu pula insiden penularan (infeksi) baru HIV akan terus terjadi karena pemerintah tidak bisa menjalankan program yang konkret.

* Rehabilitasi bukan untuk PSK
tapi untuk laki-laki
yang gemar melacur ...
Perkiraan ahli epidemilogi kasus HIV/AIDS di Indonesia sekitar 600.000. Yang sudah terdeteksi berdasarkan laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 20/11-2016 sampai 30 September 2016 sebanyak 302.004. Itu artinya ratusan ribu pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi  jadi mata rantai penularan HIV di masyarakat tanpa mereka sadari, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Sanksi Germo

Ketika dua dekade yl. pemerintah Thailand bak kebakaran jenggot karena kasus HIV/AIDS di Negeri Gajah Putih itu mendekati angka 1.000.000 dan pasien-pasien dengan penyakit terkait AIDS tidak tertampung lagi di rumah-rumah sakit, pemerintah Thailand pun menjalankan program penanggulangan yang konkret. Yang dilakukan adalah memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) yang dikenal sebagai program ‘wajib kondom 100 persen’.


04 Januari 2017

Brondong Ini Takut Sudah Kena AIDS karena Sering Ngesek Sesama Jenis



Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. 

Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: http://www.kompasiana.com/infokespro dan AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon/Fax (021) 22864594, (2) e-mail: tanyajawabaids@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977.

***
Tanya: Saya seorang remaja cowok umur 16 tahun. Sudah beberapa kali saya melakukan ‘seks sejenis’. Saya sering diare. Saya baca di Internet diare merupakan salah satu ciri orang tertular HIV. (1) Apakah saya sudah tertular HIV? (2) Apakah seks oral juga bisa menularkan HIV? Via SMS (4/1-2017)-Sulsel.

Jawab: (1) Perilakumu memang berisiko karena tingkat kemungkinan terjadi penularan HIV jika salah satu dari pasangan yang melakukan seks anal mengidap HIV/AIDS dengan kondisi yang menganal tidak memakai kondom. Di kalangan laki-laki gay mereka sudah akrab dengan pelicin yang dioles ke penis dan anus agar tidak terjadi iritasi. Tapi, tetap saja ada risiko. Untuk itu hindari seks atau atau pakai kondom lebih aman.

02 Januari 2017

Cowok Ini Khawatir Kena AIDS karena Petting dengan Odha


Oleh: Syaiful W. Harahap - AIDS Watch Indonesia


Tanya Jawab AIDS # 01/Jan 2017

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan di http://www.kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon/Fax (021) 22864594, (2) e-mail: tanyajawabaids@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977.

Tanya: Malam, Bang .... Teman saya, cowok, pacaran dengan cowok pengidap HIV/AIDS (Odha). Keduanya tak kuat tahan nafsu akhirnya sepakat disalurkan melalui petting (jika dikaitkan dengan hubungan seksual, petting semacam pemanasan atau foreplay dengan merangsang pasangan tanpa seks penetrasi). Teman saya bugil sedangkan pasangannya pakai celana. Selesai petting teman saya ‘keluar’. Teman saya sedikit menyesal. (1) Apakah ada risiko bagi teman saya tertular HIV? (2) Apakah teman saya perlu tes HIV? Via SMS (2/1-2017)

Jawab: (1) Tentu saja temanmu tidak berisiko tertular HIV karena yang mengeluarkan air mani dia. Dalam jumlah yang bisa ditularkan HIV al. terdapat dalam air mani atau semen (cairan yang keluar dari penis ketika penis ereksi). Temanmu berisiko tertular HIV kalau pasangannya yang Odha ejakulasi di badan temanmu yaitu terpapar air mani sehingga ada risiko tertular jika di bagian yang terkena air mani ada luka-luka (luka-luka di sini dalam ukuran mikroskopis, misalnya ketika berkumur-kumur setelah sikat gigi itu artinya ada luka tapi tida bisa dilihat dengan mata telanjang.

Tapi, karena pasangannya Odha beritahu temanmu untuk jaga diri agara tidak tertular HIV, misalnya, menjalankan seks yang aman yaitu selalu memakai kondom pada seks anal, seks oral atau petting.

(2) Jika dikaitkan dengan kasus ini temanmu tidak perlu tes HIV. Tapi, apakah dia pernah ngeseks tanpa kondom dengan perempuan atau laki-laki lain? Kalau pernah, maka anjurkanlah temanmu agar tes HIV. 

Hindari perilaku berisiko agar terhindar dari HIV/AIDS. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

Ilustrasi (Sumber: www.thebodypro.com)

25 Desember 2016

Perda AIDS di Indonesia: Mengekor ke Ekor Program Penanggulangan AIDS Thailand

                                          Ilustrasi (Sumber: HIV Dating Sites)
Oleh: Syaiful W Harahap

Tahun Depan Jatim Miliki Perda HIV/AIDS.” Ini adalah judul berita di skalanews.com (22/12-2016). Pernyataan pada judul berita ini benar-benar tidak masuk akal karena Pemprov Jawa Timur (Jatim) sudah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) seperti yang dimaksud di judul berita yaitu Perda No 5/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Timur.

Pernyataan tsb. disampaikan oleh anggota Komisi E DPRD Jatim, dr Benyamin Kristianto. Disebutkan oleh anggota dewan ini bahwa "Perda ini dibuat sebagai bentuk keprihatinan atas peringkat 2 tertinggi di Indonesia. Ini menjadi perhatian serius kami dalam penanggulangan HIV/AIDS di Jatim." Memang, dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2016, berdasarkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS Jawa Timur ada di peringkat kedua secara nasional di bawah DKI Jakarta dengan jumlah kasus 44.006 yang terdiri atas 27.575 HIV dan 16.431 AIDS. Ini menyubang 15,1 persen terhadap kasus nasional dengan jumlah 291.465.

Kondom

Perda AIDS Jatim itu merupakan perda keempat di Indonesia setelah Kab Nabire, Meruke dan Jayapura. Celakanya, Perda No 5/2004 yang ketika itu dibuat oleh banyak daerah sebagai bagian dari ‘perlombaan’ menanggulangi HIV/AIDS yang berkaca ke Thailand dengan menelurkan Perda. Negeri “Gajah Putih” ini berhasil menahan laju insiden infeksi HIV baru berkat program ‘wajib kondom 100 persen’ terhadap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK).


18 Desember 2016

Jumlah Kasus HIV/AIDS Nyaris Tembus Angka 300.000: Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia (Hanya) di Hilir



Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia priode tahun 1987 – 30 Juni 2015 sebanyak 291.465 yang terdiri atas 208.909 HIV dan 82.556 AIDS dengan 14.234 kematian. Estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 600.000, yang terdeteksi baru separuh. Dari jumlah yang terdeteksi baru 70.000-an yang meminum obat antiretrorival (ARV).

Yang perlu diingat adalah kasus yang terdeteksi tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya ada di masyarakat. “Epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es,” kata Syaiful W. Harahap, aktivis di “AIDS Watch Indonesia” di Jakarta. 

Lebih lanjut Syaiful mengatakan bahwa fenomena gunung es adalah kasus yang terdeteksi digambarakan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

17 September 2016

Bupati Aceh Utara Membiarkan Pengidap HIV/AIDS Mati


Oleh: Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia

“Bupati Aceh Utara: Yang Terindikasi HIV/AIDS Biarkan Mati.” Ini judul berita di merdekabicara.com (16/9-2016). Ini benar-benar di luar akal sehat karena seorang bupati, Muhammad Thaib, memberikan pernyataan yang melawan harkat dan martabat manusia sebagi makhluk Tuhan di muka Bumi ini.

Sekarang HIV/AIDS bisa diobati yaitu dengan obat antiretroviral (ARV) yang menurunkan risiko kematian. Maka, pemberian obata ARV kepada pengidap HIV/AIDS setelah memenuhi syarat medis akan menyelematkan mereka dari kematian sia-sia.

Salah satu hak setiap warga negara dalam jaminan sosial adalah masalah kesehatan. Sebaliknya pemerintah wajib menyediakan jaminan sosial bagi warga. HIV/AIDS murni masalah kesehatan karena menyangkut virus yang menular dan menyebabkan kesakitan. Celakanya, ada saja yang selalu mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan norma, moral dan agama. Memang, cara-cara penularan HIV ada kaitannya dengan moral, tapi kecelakaan lalu lintas, penyakit-penyakit degeratif, seperti penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, dll. juga terkait dengan perilaku yang juga bagian dari moralitas.

Dalam berita disebutkan: “Yang sudah terindikasi tertular  HIV AIDS, himbauan saya biarkan mati,“ kata Bupati menjawab wartawan. Astaga, rupanya wartawan pun sama saja dengan Pak Bupati yang memakai pola berpikir pada masa 35 tahun yang lalu dalam melihat AIDS di masa sekarang. Catatan penulis wartawan pun ada yang mengidap HIV/AIDS.

Patut juga Pak Bupati dan pegawai di Pemkab Aceh Utara diajak untuk tes HIV. Nah, kita tunggu apa reaksi Pak Bupati jika ada pegawai yang terindikasi mengidap HIV/AIDS. Apakah dibiarkan saja sampai mati?


11 September 2016

Cowok Ini Khawatir Kena AIDS Setelah Melakukan Seks Anal

Tanya Jawab AIDS No 2/September 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Bisa gak ya HIV itu tertular kalau berhubungan seks dengan cowok lain tanpa memakai kondom, tapi sperma dikeluarkan di luar?   

‘A’, via SMS (9/8-2016)

Jawab: Kuncinya ada pada cowok yang melakukan seks anal terhadap Saudara. Kalau cowok itu mengidap HIV/AIDS, maka ada risiko penularan HIV karena cowok itu tidak memakai kondom. Risiko penularan HIV melalui hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal), bukan soal air mani (bukan sperma karena dalam sperma tidak ada HIV dan sperma tidak bisa lepas dari air mani) di keluarkan di dalam vagina, rongga mulut atau anal, tapi pergesekan antara penis dengan vagina dan cairan vagina, dengan bibir dan dengan anus.

Jika air mani cowok pengidap HIV/AIDS yang melakukan hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal) dikeluarkan di dalam vagina, rongga mulut dan anus meka risiko tertular HIV bagi pasangan cowong itu lebih besar lagi karena selain gesekan ada cairan yang mengandung HIV masuk ke vagina, rongga mulut dan anus.

Yang jadi persoalan besar bagi Saudara adalah Saudara tidak bisa memastikan bahwa cowok tsb. tidak mengidap HIV/AIDS. Saudara juga tidak bisa memastikan bahwa cowok itu tidak pernah melakukan hubungan seksual (seks vaginal, seks oral dan seks anal) dengan perempuan atau laki-laki selain Saudara.

09 September 2016

Cewek Ini Khawatir Tertular HIV/AIDS karena Dimasturbasi Pemijat Cowok dengan Jari-jari



Tanya Jawab AIDS No 1/September 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang cewek, 20-an tahun, memilih cara yang aman untuk mencapai orgasme yaitu melakakukan masturbasi dengan bantuan pemijat cowok yaitu memakai jari tangan. (1) Dengan cara itu apakah ada risiko tertular HIV/AIDS? (2) Apakah saya perlu tes HIV/AIDS?

“Xz”, Jawa Barat, via SMS (8/9-2016)

Jawab: (1) Dari aspek risiko penularan HIV/AIDS sangat kecil. Risiko penularan HIV/AIDS ada jika pemijat cowok itu mengidap HIV/AIDS dan jari-jari yang dipakainya melakukan masturbasi luk dengan mengeluarkan darah. Namun, ada persoalan lain yang bisa terjadi yaitu kerusakan pada permukaan vagina dan di bagian dalam vagina jika ada kuku pada jari cowok yang dipakai masturbasi. Kulit jari pun keras sehingga bisa juga menyebabkan iritasi pada bagian-bagian vagina.

Selain itu bisa saja cowok menaruh sesuatu di jari sehingga masuk ke dalam vagina. Pekerja seks komersial (PSK) akan memeriksa penis laki-laki sebelum melakukan hubungan seksual karena bisa saja laki-laki ‘hidung belang’ melekatkan kulit ari telur di ujung penis sehingga tinggal di dalam vagina. Ini akan mengeluarkan bau busuk sehingga PSK itu pun tidak ‘laku’.

Bisa juga salah satu tangan cowon itu dia pakai untuk onani sehingga air mani tumpah di tangannya. Bisa saja cowok itu mengganti tangan dengan memakai jari tangan yang kena air mani melakukan masturbasi. Kalau cowok itu mengidap kencing nanah (GO) atau raja singa (sifilis) tentu penyakit itu menempel di jari-jarinya ketika dia onani. Kalau ini terjadi, maka ada risiko penularan penyakit infeksi menular atau HIV/AIDS jika si cowong mengidap HIV/AIDS.

(2) Kalau hanya memakai jari dan tidak sering risiko kecil. Tidak perlu tes HIV, tapi tes penyakit lain perlu juga, seperti kanker serviks, dll. Segeralah konsultasi ke dokter ahli kandungan. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.timeslive.co.za)

26 Agustus 2016

Seks Oral dengan Orang Sehat, Apakah ada Risiko Kena IMS atau AIDS?

Tanya Jawab AIDS No 3/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Apakah seks oral bisa terjadi penularan HIV atau IMS jika dilakukan dengan orang sehat?

Via SMS (16/8-2016)

Jawab: Pertama, sehat. Ini sangat subjektif karena selama tidak sedang berobat atau dirawat di rumah sakit bisa disebut sehat. Kedua, tidak ada kaitan langsung antara sehat dan mengidap IMS [infeksi menular seksual yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual (seks vaginal, seks anal dan seks oral), seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, klamidia, jengger ayam, herpes genitalis, virus hepatitis B, dll.] serta HIV/AIDS. Bisa saja orang-orang yang mengidap IMS dan HIV/AIDS atau kedua-duanya tampak sehat-sehat saja.

Pengidap HIV/AIDS sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala, ciri-ciri atau tanda-tanda yang khas HIV/AIDS pada fisik mereka. Tapi, mereka bisa menularkan HIV al. melalai darah (tranfusi) dan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Risiko penularan HIV melalui seks oral sanga rendah. Belum ada kasus HIV/AIDS yang dilaporkan dengan faktor risiko seks oral. Tapi, penularan penyakit lain, seperti IMS bisa saja terjadi dan sudah ada kasus IMS melalui seks oral (fellatio yaitu penis masuk ke mulut dan cunnilingus yaitu lidah ke vagina) di rongga mulut.

HIV ada di dalam air mani laki-laki dan cairan vagina perempuan. Kencing nanah dan raja singa ada infeksi di penis dan vagina.

Maka, pada seks oral rongga mulut akan menampung air mani yang mengidap HIV/AIDS pada fellatio dan melewati kerongkongan jika ditelan, serta lidah akan bersentuhan langsung dengan cairan vagina yang terkontaminasi dengan HIV/AIDS pada cunnilingus. Lalu, bibir dan rongga mulut perempuan pun akan bersentuhan langsung dengan penis yang ada infeksi kencing nanah atau raja singa. 

Yang jelas Saudara tidak bisa menjamin yang mengoral, laki-laki atau perempuan, tidak mengidap HIV/AIDS atau IMS atau dua-duanya sekaligus hanya dengan berpatokan bahwa orang tsb. (tampak) sehat.

Beberapa penyakit IMS ada gejala atau infeksi pada alat kelamin, seperti sifilis dan GO, tapi hepatitis B sama sekali tidak ada gejala atau infeksi pada alat kelamin. Maka, jangan berpatokan pada ‘kelihatan sehat’ karena IMS dan HIV/AIDS hanya bisa diketahui dengan pasti melalaui tes di laboratorium medis. *** [AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.cafepress.com) 

24 Agustus 2016

Pria Ini Ingin Agar Tidak Kena HIV/AIDS Setelah Ngeseks dengan PSK

Tanya Jawab AIDS No 2/Agustus 2016

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) Fax: 021.22864594, (3) E-mail: aidsindonesia@gmail.com, (4) SMS 08129092017, dan (5) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya seorang laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual tidak memakai kondom dengan pekerja seks komersial (PSK), saya tidak mengetahui dengan pasti apakah PSK itu mengidap HIV/AIDS atau tidak. Saya hanya melakukan sekali itu saja. Itu pun hanya 15 - 20 menit. Beberapa jam setelah kejadian itu badan saya terasa dingin. Serasa akan demam. Nafsu makan tidak ada. (1) Berapa besar kemungkinan saya tertular HIV/AIDS? (2) Bagaimana mengatasi agar saya tidak terkena HIV/AIDS?

Via SMS (29/7-2016)

Jawab: (1) Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual dengan tidak memakai kondom tidak bisa diperkirakan atau dihitung. Yang jelas hubungan seksual yang Saudara lakukan berisko karena:  Saudara tidak memakai kondom, dan Saudara melakukannya dengan perempuan yang perilaku seksualnya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS yaitu seorang PSK yang melayani hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti.

Persoalannya ada pada PSK itu. Kalau PSK tsb. tidak mengidap HIV/AIDS tidak ada risiko penularan HIV kepada Saudara. Tapi, yang perlu diingat adalah kita tidak bisa mengetahui status HIV seseorang dari penampilan fisik karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Maka, kondisi yang Saudara alami setelah melakukan hubungan seksual bisa saja karena faktor lain.

Yang perlu Saudara ketahui adalah probabilitas atau kemungkinan tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali risiko terjadi penularan HIV. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual ke berapa terjadi penularan HIV/AIDS. Bisa yang pertama, kedua, ketujuh, kedua puluh, ketujuh puluh, bahkan pada hubungan seksual yang ke-100.

Selain itu tidak pula bisa diketahui lama atau waktu hubungan seksual baru bisa terjadi penularan HIV/AIDS. Tidak ada penelitian tentang lama atau waktu hubungan seksual (seks vaginal dan seks anal) agar terjadi penularan HIV. Begitu juga dengan kondisi hubungan seksual dengan mengeluarkan air mani di luar vagina atau di luar anus juga tidak jaminan tidak terjadi penularan HIV kalau dilakukan dengan pengidap HIV/AIDS.

(2) Jika sesorang sudah tertular HIV/AIDS, maka tidak ada cara atau obat yang bisa mengeluarkan HIV/AIDS dari dalam tubuh. Obat AIDS yang ada sekarang, obat antriretroviral (ARV) hanya bisa menahan laju replikasi atau penggandaan virus di dalam darah.

Agar tidak tertular HIV/AIDS yang bisa dilakukan adalah, al. (1) Laki-laki menghindari hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS, (2) Laki-laki tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, dan (3) Laki-laki tidak melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK.


Untuk mengatasi rasa was-was, sebaiknya Saudara konseling ke Klinik VCT di puskesmas atau rumah sakit umum di tempat Saudara bermukim. Jika ada kesulitan, silakan kondom kami. *** [Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia] ***

Ilustrasi (Sumber: www.highschoolgh.com)