30 November 2019

Omong Kosong Penularan HIV Baru Bisa Dihentikan 2030


Ilustrasi (Foto: spotlightenglish.com)

Epidemi HIV/AIDS memasuki tahun ke-36 tapi insiden infeksi HIV baru terus terjadi yang disebut-sebut bisa dihentikan 2030 tanpa program konkret

Oleh: Syaiful W. Harahap

Menghadapi epidemi HIV/AIDS yang tak kunjung reda sejak diidentifikasi tahun 1983 muncullah pernyataan-pernyataan yang bombastis dan sensasional tanpa didukung fakta. Tak kurang dari UNAIDS (Joint United Nations Programme on HIV/AIDS - Badan PBB yang khusus menangani HIV/AIDS) yang sejak beberapa tahun terakhir berkoar-koar bahwa epidemi (baca: penyebaran atau penularan) HIV/AIDS akan dihentikan pada tahun 2030. Ini dilakukan melalui program yang disebut tiga nol (Getting To 3 Zero), yaitu: tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS, dan tidak ada stigma dan diskriminasi.

Celakanya, tidak ada cara yang masuk akal secara medis yang mereka tawarkan untuk menghentikan epidemi HIV/AIDS bukan hanya pada tahun 2030 tapi sampai kiamat pun epidemi akan terus terjadi jika tidak ada langkah konkret untuk menghentikan perilaku berisiko. Insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi karena penyangkalan dan mitos (anggapan yang salah) yang kadung tersebar luas.

Perilaku Berisiko

Sampai akhir tahun 2018 kasus HIV/AIDS secara global dilaporkan oleh UNAIDS tercatat 37,9 juta warga dunia hidup dengan HIV/AIDS dengan 770.000 kematian. Sepanjang tahun 2018 terjadi 1,7 juta infeksi baru HIV. Sedangkan di tingkat nasional seperti dilaporkan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS adalah 466.859 yang terdiri atas 349.882 HIV dan 116.977 AIDS.

Sedangkan estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2016 adala 630.000. Yang terdeteksi 466.859 atau 74,1%. Itu artinya ada 163.141 (25,9%) warga yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi. Setiap tahun ada 46.000 kasus infeksi HIV baru. Sedangkan Odha (Orang dengan HIV/AIDS yang meminum obat antiretroviral (ARV) rutin disebut baru 17%. Setiap tahun terjadi 38.000 kematian terkait dengan HIV/AIDS (aidsdatahub.org). Kasus yang tidak terdeteksi sudah jadi masalah ditambah lagi dengan kasus infeksi HIV baru.

Yang tidak terdeteksi ini jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom di dalam atau di luar nikah.

Indonesia sendiri ada di peringkat ketiga di Asia setelah India dan Cina sebagai negara dengan percepatan kasus infeksi HIV baru terbanyak. Ada 10 provinsi dengan kasus kumulatif HIV/AIDS terbesar (Lihat tabel).

Dok Pribadi


Jumlah kasus AIDS yang dilaporkan paling banyak di Papua yaitu 22.554. Maka, ‘musuh’ besar warga Papua adalah HIV/AIDS. Celakanya, yang terjadi di sana justru penyangkalan terkait dengan perilaku seksual sebagian laki-laki dengan menyalahkan, maaf, pelacur (dari) Jawa.


Setiap tahun sejak tahun 1988 dunia menggelar Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) yang dirayakan setiap tanggal 1 Desember untuk menggerakkan kepedulian masyarakat dunia terhadap penanggulangan HIV/AIDS. Tahun ini temanya adalah “Communities make the difference” (Masyarakat bisa membuat perbedaan).

Ketika AIDS terdeteksi pada laki-laki gay di San Fransisco pada tahun 1981 ada anggapan AIDS hanya ‘menyerang’ laki-laki gay. Tapi, setelah HIV diidentifikasi sebagai penyebab AIDS tahun 1983 dan reagent untuk tes HIV diakui WHO tahun 1986 komunitas kesehatan global memahami bahwa HIV juga dapat menyebar di antara orang heteroseksual, melalui hubungan seksual, transfusi darah, dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya.

Persoalan besar yang dihadapi Indonesia adalah tidak ada langkah konkret untuk mencegah insiden infeksi HIV baru di hulu. Insiden infeksi HIV di hulu terjadi karena perilaku-perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS.

Dok Pribadi

Perilaku-perilaku seksual laki-laki yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, yaitu:

(1). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS;

(2). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam atau di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS;

(3). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).
PSK dikenal ada dua jenis, yaitu:

(a). PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti yang mangkal di tempat pelacuran (dulu disebut lokalisasi atau lokres pelacuran) atau mejeng di tempat-tempat umum, dan

(b). PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata. Mereka ini ‘menyamar’ sebagai anak sekolah, mahasiswi, cewek pemijat, cewek pemandu lagu, ibu-ibu, cewek (model dan artis) prostitusi online, dll. Dalam prakteknya mereka ini sama dengan PSK langsung sehingga berisiko tertular HIV/AIDS.

(4). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan waria. Sebuah studi di Surabaya awal tahun 1990-an menunjukkan laki-laki pelanggan waria umumnya laki-laki beristri. Ketika seks dengan waria mereka justru jadi ‘perempuan’ (dalam bahasa waria ditempong atau di anal) dan waria jadi ‘laki-laki’ (dalam bahasa waria menempong atau menganal).

(5). Laki-laki dewasa biseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis dan sejenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan perempuan dan laki-laki yang berganti-ganti.

Pertanyaannya adalah: Apakah ada langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mencegah perilaku berisiko nomor 1 sd. 5 di atas?

Tentu saja tidak ada. Itu artinya insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi. Yang tertular HIV/AIDS akan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat (horizontal) melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Perilaku Seksual

Begitu juga dengan perempuan beberapa perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, yaitu:

(a). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual (laki-laki tidak memakai kondom), di dalam nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS;

(b). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual (laki-laki tidak memakai kondom), di dalam atau di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS;

(c). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual (laki-laki tidak memakai kondom) dengan laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan, seperti gigolo, karena bisa saja salah satu dari gigolo itu mengidap HIV/AIDS.

(d). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual (waria tidak memakai kondom) dengan waria. Dalam prakteknya waria ada yang heteroseksual sehingga menyalurkan dorongan seksual dengan perempuan.

Pertanyaannya adalah: Apakah ada langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mencegah perilaku berisiko nomor a sd. d di atas?

Tentu saja tidak ada. Itu artinya insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi. Yang tertular HIV/AIDS akan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat (horizontal) melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Yang harus diperhatikan adalah kita tidak bisa mengenali orang-orang (laki-laki atau perempuan) yang mengidap HIV/AIDS karena tidak ada ciri-ciri, tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Selain itu status HIV seseorang yang tidak pernah tes HIV bukan negatif tapi tidak diketahui.

Terkait dengan pernyataan UNAIDS dan berbagai kalangan di Indonesia yang sambil membusungkan dada mengatakan pada tahun 2030 tidak ada infeksi HIV baru sangat patut dipertanyakan. Tapi, tidak ada yang mereka lakukan secara konkret untuk mengatasi perilaku-perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS pada laki-laki dan perempuan seperti yang disebutkan di atas.

Apakah bisa diawasi perilaku seksual orang per orang? Mustahil!

Langkah konkret untuk menurunkan, sekali lagi hanya menurunkan, insiden infeksi HIV baru hanya bisa dilakukan pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK yaitu dengan program ‘wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki setiap kali melakukan hubungan seksual. Ini sudah berhasil menekan insiden infeksi HIV baru di Thailand dengan indikator jumlah calon taruna yang terdeteksi HIV terus turun. Cuma, hal ini hanya bisa dilakukan jika praktek PSK dilokalisir.

Dalam matriks di bawah ini terlihat jelas jika PSK tidak dilokalisir tidak bisa dijangkau sehingga program 'wajib kondom 100 persen' tidak bisa dijalankan.

Dok Pribadi

Yang didengung-dengungkan di Indonesia sebagai cara menghentikan infeksi HIV baru adalah deteksi dini tes HIV dan pemberian obat antiretroviral. Ada lagi tes HIV pada ibu hamil dan tes HIV bagi calon pengantin.

Tes HIV dengan deteksi dini dan tes HIV pada ibu hamil adalah kegiatan di hilir karena yang tes HIV sudah tertular HIV. Yang diperlukan secara konkret adalah langkah di hulu yaitu mencegah agar tidak ada lagi yang melakukan perilaku berisiko sehingga insiden infeksi HIV baru bisa diturunkan dengan harapan bisa berhenti.

Sedangkan tes HIV bari calon pengantin tidak jaminan karena biar pun ketika hendak menikah status HIV pasangan tsb. negatif, tapi dalam perjalanan hidup pernikahan bisa saja salah satu melakukan perilaku berisiko tertular HIV. Ini bisa terjadi karena tes HIV bukan vaksin.

Dengan kondisi seperti sekarang ketika langkah penanggulangan hanya sebatas orasi moral untuk konsumsi sensasional media hasilnya sudah pasti: Nol besar. Big nothing (Bahan-bahan dari UNAIDS, WHO, CDC dan sumber-sumber lain). [] Sumber: https://www.tagar.id/omong-kosong-penularan-hiv-baru-bisa-dihentikan-2030
.

Hari AIDS Sedunia: Bualan, Indonesia Bebas Infeksi HIV Baru Tahun 2030

Ilustrasi (Sumber: shepherdexpress.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP
Beberapa tahun belakangan ini muncul pernyataan yang disebut tiga nol (Getting To 3 Zero), yaitu: tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS, dan tidak ada stigma dan diskriminasi.
Yang jadi persoalan besar adalah tidak ada langkah-langkah penanggulangan untuk menurunkan, sekali lagi hanya bisa menurunkan, insiden infeksi HIV baru.
Program yang dijalankan, dalam hal ini di Indonesia, hanya di hilir, seperti tes HIV untuk kalangan dengan perilaku seksual berisiko, tes HIV ibu hamil, tes HIV calon pengantin dan pemberian obat antiretroviral (ARV).
Ini jelas di hilir karena yang ditanggulangi adalah orang-orang yang sudah tertular HIV atau orang-orang yang sudah melakukan perilaku berisiko tertular HIV.
Infeksi Baru
Yang diperlukan adalah langkah konkret di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK). 
Beberapa negara yang berhasil menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki adalah dengan program "wajib kondom 100 persen" bagi laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual dengan PSK. Program ini bisa efektif jika praktik PSK dilokalisasi.
Thailand yang di awal tahun 1990-an yang mencatat kasus HIV/AIDS mendekati angka 1.000.000 bisa menurunkan kasus baru dengan indikator penurunan jumlah calon taruna militer yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.
Sampai akhir tahun 2018 kasus HIV/AIDS secara global dilaporkan oleh UNAIDS tercatat 37,9 juta warga dunia hidup dengan HIV/AIDS dengan 770.000 kematian. Sepanjang tahun 2018 terjadi 1,7 juta infeksi baru HIV. 
Sedangkan di tingkat nasional seperti dilaporkan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS adalah 466.859 yang terdiri atas 349.882 HIV dan 116.977 AIDS.
Sedangkan estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2016 adalah 630.000. Yang terdeteksi 466.859 atau 74,1%.  Itu artinya ada 163.141 (25,9%) warga yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi. Setiap tahun ada 46.000 kasus infeksi HIV baru.
Odha (Orang dengan HIV/AIDS yang meminum obat antiretroviral (ARV) rutin disebut baru 17%. Setiap tahun terjadi 38.000 kematian terkait dengan HIV/AIDS (aidsdatahub.org).
Yang tidak terdeteksi ini jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom di dalam atau di luar nikah.
Paling tidak ada lima pintu masuk HIV/AIDS melalui hubungan seksual yang disebut sebagai perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, yaitu:
(1). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS;
Pertanyaannya: Apa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko penularan HIV/AIDS melalui perilaku nomor 1 ini?
(2). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, di dalam atau di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS;
Pertanyaannya: Apa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko penularan HIV/AIDS melalui perilaku nomor 2 ini?
(3). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).
PSK dikenal ada dua jenis, yaitu:
(a). PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti yang mangkal di tempat pelacuran (dulu disebut lokalisasi atau lokres pelacuran) atau mejeng di tempat-tempat umum, dan
(b). PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata. Mereka ini 'menyamar' sebagai anak sekolah, mahasiswi, cewek pemijat, cewek pemandu lagu, ibu-ibu, cewek (model dan artis) prostitusi online, dll. Dalam prakteknya mereka ini sama dengan PSK langsung sehingga berisiko tertular HIV/AIDS.
Langkah Konkret
Pertanyaannya: Apa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko penularan HIV/AIDS melalui perilaku nomor 3 ini? Yang jelas tidak bisa dilakukan intervensi untuk PSK tidak langsung.
(4). Laki-laki dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan waria.
Sebuah studi di Surabaya awal tahun 1990-an menunjukkan laki-laki pelanggan waria umumnya laki-laki beristri. Ketika seks dengan waria mereka justru jadi 'perempuan' (dalam bahasa waria ditempong atau di anal) dan waria jadi 'laki-laki' (dalam bahasa waria menempong atau menganal).
Pertanyaannya: Apa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko penularan HIV/AIDS melalui perilaku nomor 4 ini?
(5). Laki-laki dewasa biseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis dan sejenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, dengan perempuan dan laki-laki yang berganti-ganti.
Pertanyaannya: Apa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko penularan HIV/AIDS melalui perilaku nomor 5 ini?
Sedangkan pada perempuan ada juga beberapa perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, yaitu:
(a). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual (laki-laki tidak memakai kondom), di dalam nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS;
(b). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual (laki-laki tidak memakai kondom), di dalam atau di luar nikah, dengan laki-laki yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS;
(c). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual (laki-laki tidak memakai kondom) dengan laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan, seperti gigolo, karena bisa saja salah satu dari gigolo itu mengidap HIV/AIDS.
(d). Perempuan dewasa heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual (waria tidak memakai kondom) dengan waria. Dalam prakteknya waria ada yang heteroseksual sehingga menyalurkan dorongan seksual dengan perempuan.
Pertanyaannya adalah: Apakah ada langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mencegah perilaku berisiko nomor a sd. d di atas?
Tentu saja tidak ada langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan pada perilaku seksual berisiko laki-laki dan perempuan di atas. Itu artinya insiden infeksi HIV di masyarakat akan terus terjadi.
Orang-orang yang tertular HIV tapi tidak terdeteksi akan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat (horizotal) terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dala atau di luar nikah.
Dengan kondisi ini adalah hal yang mustahil dan hanya merupakan bualan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan bebas infeksi HIV baru. Yang terjadi justru sebaliknya yaitu 'ledakan AIDS' yang bisa saja Indonesia jadi 'Afrika Kedua' (Bahan-bahan dari: UNAIDS, WHO, CDC dan sumber-sumber lain). * [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5de23382d541df1e21029794/hari-aids-sedunia-bualan-indonesia-bebas-infeksi-hiv-baru-tahun-2030?page=all]

25 November 2019

Cewek Ini Seks dengan Perjaka, Bisakah Tertular HIV/AIDS?

Ilustrasi (Sumber: metro.co.uk)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Tanya Jawab AIDS No 3/November 2019
Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, WA dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (2) WhatsApp: 0811974977. Redaksi.
Tanya: Jadi gini.  Ada temen saya dia melakukan hubungan seks dengan pacarnya kemudian putus lalu dia pacaran lagi dan melakukan hubungan seks dengan pacar barunya. (1) Apakah dia terkena HIV? (2) Dia sudah 2 kali melakukan hubungan seks dengan 2 laki2, apakah dia terkena HIV? (3) Kalo laki2 tersebut tidak berisiko HIV? (4) Dua laki2 tersebut mengaku tidak pernah melakukan hubungan seks sebelumnya. (5) Hanya si wanita yg sudah melakukan dengan 2 laki2 yang masih perjaka. (6) Lalu bagaimana dengan orang yang sudah menikah itu kan termasuk bergonta ganti pasangan? (7) Contoh janda yang menikah lagi dengan laki2 lain dan berhubungan seks. Terus cerai kemudian menikah lagi berhubungan lagi dengan laki2 yg ia nikahi? Apa itu termasuk HIV?
Via WA, 18/11-2019
Jawab: Salah satu perilaku berisiko tertular HIV/AIDS adalah melakukan hubungan seksual laki-laki tidak memakai kondom, di dalam atau di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering ganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK). Risiko terjadi karena ada kemungkinan salah satu dari pasangan yang berganti-ganti tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan HIV/AIDS.
(1) dan (2). Perilaku temanmu itu jelas berisiko karena status HIV pacar lama dan pacar barunya tidak diketahui. Yang perlu diperhatikan adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan tes HIV status HI-nya bukan negatif, tapi tidak diketahui.
(3) dan (4). Bagaimana cara Sdri membuktikan dua laki-laki tsb. tidak pernah melakukan perilaku-perilaku yang berisiko tertular HIV? Hanya pengakuan dua laki-laki tsb. bahwa mereka belum pernah melakukan hubungan seksual. Itu hanya sebatas pengakuan. Lagi pula risiko tertular HIV/AIDS tidak hanya melalui hubungan seksual, tapi juga melalui transfusi darah yang tidak diskrining HIV dan memakai jarum sunti secara bersama-sama dengan bergiliran.
(5). Perjaka atau perawan pun bisa mengidap HIV/AIDS karena bisa saja mereka tertular: (a) melalui ibu yang mengidap HIV/AIDS, (b) melalui transfusi darah yang tidak diskrining HIV, dan (c) nelalui jarum suntik yang dipakai secara bersama-sama dengan bergiliran atau bergantian, terutama pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya).
(6) dan (7). Kawin-cerai dan kawin-kontrak juga merupakan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS karena bisa saja salah satu dari laki-laki atau perempuan yang kawin-cerai mengidap HIV/AIDS.
Risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual bisa terjadi bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, zina, selingkuh, melacur, dll.), tapi karena kondisi saat tejadi hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua pasangan itu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom.
Status HIV seseorang hanya bisa diketahui melalui tes HIV yang sesuai dengan standar prosedur operasi yang baku sesuai dengan rekomendasi Badan Kesehatan Sedunia (WHO). Maka, jika hendak melakukan tes HIV silakan ke klinik VCT yang ditetapkan pemerintah, seperti di Puskesmas dan rumah sakit umum di daerah. * [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5ddb9c6cd541df449b76cc92/cewek-ini-seks-dengan-perjaka-bisakah-tertular-hiv-aids?page=all] *

21 November 2019

Cewek Ini Takut Kena AIDS karena Sering Ganti-ganti Cowok

Ilustrasi (Sumber: yahoo.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Tanya Jawab AIDS No 1/November 2019
Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, WA dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke: Syaiful W. Harahap, melalui: (1) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (2) WhatsApp: 0811974977. Redaksi.
Tanya: Kalo kita berhubungan di luar nikah tapi gonta ganti pasangan dan gonta ganti pasangan ya itu udh 5x dan berhubungan badan ya itu udh 4x. (1) Kira" bisa terkena hiv tidak ya? Soalnya tidak memakai pengaman. Dulu pernah pakai pengaman tapi cuma sekali aja sisa ya engga. (2) Kalau dari laki" yang tidak terkena aids gimana? (3) Pacar saya yang terakhir ini dia baru berhubungan badan baru 2x sedangkan saya udh 4x sama pacar saya yang ini. (4) Memang ciri ya gimana? (5) Kalau saya ingin berhubungan yang ke 5x ya kira" saya bakal terkena aids tidak ya? (6) Kalau dari perempuan ya emang tidak mengidap? (7) Gonta ganti pasangan ada maksimal ya tidak sih untuk berhubungan intim? (8) Kalau mau berhubungan intim untuk ke 6x ya dari perempuan kira" terkena tidak ya? (9) Kalau dari laki" tidak pernah berhubungan badan itu bagaimana? (10) I dont now, memang kalau laki" ya tersebut masih perjaka apa bisa (tertular HIV-pengasuh)? (11) Hmm seperti itu, misalkan saya mau berhubungan badan untuk yg ke 6x ya dan sih laki" tersebut tdk pernah berhubungan badan, suntik narkoba dll itu bisa terkena aids tidak?
Via WA, 19/11-2019
Jawab: Yang perlu diperhatikan adalah:
(a). Risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam atau di luar nikah adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS ada 1 kali kemungkinan tertular. Persoalannya adalah tidak bisa diketahui kapan terjadi penularan. Bisa pada hubungan seksual yang pertama, kedua, ketujuh, kedua puluh, kesembilan puluh bahkan pada yang keseratus.
Maka, setiap hubungan seksual tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan yang tidak diketahui status HIV-nya selalu ada risiko terrtular HIV/AIDS.
(b). Tidak ada kaitan penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual dengan status pernikahan. Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bisa terjadi bukan karena sifat hubungan seksual (di dalam atau di luar nikah, zina, melacur, dll.), tapi karena kondisi hubungan seksual (salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom).
(1). Seperti sudah dijelaskan perilaku Sdri jelas merupakan perilaku seksual yang berisiko tertular HIV/AIDS karena melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Risiko penularan bisa terjadi jika salah satu atau keempat laki-laki yang seks denganmu mengidap HIV/AIDS. Masalahnya adalah tidak ada ciri-ciri, tanda-tanda atau gejala yang terkait langsung dengan HIV/AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Hanya melalui tes HIV status HIV seseorang bisa diketahui. Kalau belum pernah tes HIV tidak disebut HIV-negatif, tapi status HIV tidak diketahui.
(2). Bagaimana Sdri memastikan keempat laki-laki yang pernah seks tanpa kondom denganmu tidak mengidap HIV/AIDS? Jika keempat laki-laki itu tidak pernah tes HIV, maka status HIV mereka adalah tidak diketahui bukan negatif atau tidak mengidap HIV/AIDS.
(3). Bagaimana Sdri membuktikan bahwa pacarmu yang terakhir baru dua kali seks? Itu kan hanya pengakuan. Lagi pula dua kali seks pun jika dilakukan tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam atau di luar nikah ada risiko tertular HIV/AIDS.
(4). Yang jadi persoalan besar dalam HIV/AIDS adalah tidak ada ciri-ciri, tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas HIV/AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan.
(5). Tergantung dari status HIV laki-laki yang akan Sdri ajak seks. Kalau perilaku seksualnya berisiko tetular HIV yaitu sering seks tanpa kondom dengan perempuan yang berganti-ganti itu artinya dia berisiko tertular HIV/AIDS. Kalau laki-laki itu tertular HIV/AIDS, maka jika kalian seks tanpa kondom ada risiko penularan HIV/AIDS dari laki-laki tsb. kepada Sdri.
(6). Dari perempuan yang mengidap HIV/AIDS tentu saja bisa menularkan ke laki-laki al. melalui hubungn seksual tanpa kondom di dalam atau di luar nikah.
(7). Seperti dijelaskan di atas setiap hubungan seksual yang berisiko selalu ada risiko penularan HIV. Tidak rumus sekian kali bisa tertular. Sekali pun ada risiko penularan kalau salah satu dari pasangan tsb. mengidap HIV/AIDS dan hubungan seksual dilakukan laki-laki tidak memakai kondom.
(8). Lagi-lagi tergantung dari status HIV laki-laki yang akan Sdri ajak seks. Yang perlu diingat kalau belum pernah tes HIV status HIV adalah tidak diketahui bukan negatif.
(9) dan (10). Seorang laki-laki atau perempuan yang belum pernah seks atau perjaka dan perawan juga tidak otomatis HIV-negatif karena risiko tertular HIV/AIDS juga bisa melalui transfusi darah yang tidak diskrining, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama dengan bergantian, terutama pada kelompok penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik. Atau tertular dari ibu yang mengidap HIV/AIDS, terutama pada saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).
(11). Sekali lagi biar pun perjaka, tidak pernah transfusi, tidak pernah pakai jarum suntik bergantian dan lahir dari ibu yang tidak mengidap HIV/AIDS status HIV-nya adalah tidak diketahui bukan negatif. Maka, karena status HIV laki-laki yang akan Sdri ajak seks tidak diketahui itu artinya hubungan seksual tsb. merupakan hubungan seksual yang berisiko terjadi penularan HIV/AIDS. * [Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5dd71e11097f3663507427d3/cewek-ini-takut-kena-aids-karena-sering-ganti-ganti-cowok] *

07 November 2019

AIDS di Karawang Memojokkan Remaja Abaikan Laki-laki Heteroseksual Dewasa

Ilustrasi (Sumber: nytimes.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Gaya hidup hedon yang dilakoni remaja di Kabupaten Karawang, berbanding lurus dengan penyakit HIV/AIDS. Setiap tahun, pelajar yang mengidap penyakit mematikan itu terus meningkat. Ini lead dalam berita "15 Remaja HIV. 15 Remaja HIV" (radarkarawang.id, 31/10-2019).
Lead berita ini jelas ngawur bin ngaco karena tidak akurat.
Pertama, apa yang dimaksud dengan hedon? Hedon tidak ada dalam bahasa baku bahasan Indonesia.Yang dikenal adalah hedonism (KBBI: pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup). Kalau wartawan atau redaktur mengatikan hedon adalah hedonisme, maka tidak ada kaitan antara penularan HIV/AIDS dan hedonism. Penularan HIV/AIDS  melalui hubungan seksual tidak ada kaitannya dengan hedonism. HIV/AIDS menular melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual), jika salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom (kondisi hubungan seksual).
Kedua, disebut 'penyakit HIV/AIDS'. Ini tidak akurat karena HIV/AIDS bukan penyakit. HIV adalah virus, sedangkan AIDS adalah kondisi orang-orang yang mengidap HIV yang secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular jika tidak meminum obat antiretroviral (ARV) sesuai dengan resep dokter.
Ketiga, pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif yaitu kasus lama ditambah kasus baru. Maka, jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan akan terus naik atau meningkat biar pun banyak pengidapnya yang meninggal.
Keempat, berita ini tida objektif karena tidak ada perbandingannya dengan perilaku seksual dan kasus HIV/AIDS pada laki-laki dewasa heteroseksual. Kasus-kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga terkait erat dengan perilaku seksual suami mereka, dalam hal ini laki-laki dewasa heteroseksual.
Maka, pernyataan Staf KPA Karawang, Yana Aryana, yang mengatakan bahwa selama lima tahun terakhir jumlah pengidap HIV AIDS di Karawang semakin meningkat tidak memperhatikan cara pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Sudah jelas akan terus meningkat karena kumulatif. Akan lain halnya kalau yang disebut adalah kasus HIV/AIDS yang baru.
Disebutkan dalam berita " .... sejak tahun 1992 di Karawang sudah tercatat 1153 ...." Yang perlu diingat ini hanya kasus yang terdeteksi, karena ada kasus yang tidak terdeteksi. Epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi, dalam hal ini 1.153, adalah yang terdeteksi yang digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ka atas permukaan air laut. Sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.
Dok Pribadi
Dok Pribadi
Dalam berita sama sekali tidak ada informasi yang akurat tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Dengan menonjolkan remaja berita ini terkesan sensasional, padahal dalam epidemi HIV yang persoalan besar adalah infeksi HIV pada laki-laki dewasa heteroseksual. Soalnya, mereka mempunyai istri sehingga ada risiko penularan ke istri (horizontal). Jika istri mereka tertular, maka ada pula risiko penularan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya (vertikal) terutama saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).
Sedangkan remaja tidak mempunyai istri. Hal ini sama dengan laki-laki gay (homoseksual) karena gay juga tidak punya istri.
Salama Pemkab Karawang tidak mempunyai program yang konkret untuk menurunkan, sekali lagi hanya bisa menurunkan, insiden infeksi HIV pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK), maka penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi di Karawang yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. * - Sumber: https://www.kompasiana.com/infokespro/5dc4ba24097f36382c36f872/aids-di-karawang-memojokkan-remaja-abaikan-laki-laki-heteroseksual-dewasa

04 November 2019

Penyangkalan Akan Dorong Penyebaran HIV/AIDS di Aceh

Ilustrasi (Sumber: timesofindia.indiatimes.com)
Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Imam Murahman di Meulaboh, mengatakan tingginya sebaran penyakit HIV/AIDS di Aceh dikarenakan seks menyimpang seperti homoseksual. Ini ada di lead berita "Perilaku Seks Menyimpang Cara Penyebaran HIV/AIDS di Aceh" di indozone.id, 10/9-2019.
Pernyataan di lead berita itu tidak akurat, karena:
Pertama, risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubunga seksual (di luar nikah, seks menyimpang, zina, melacur, selingkuh, homoseksual, dll.), tapi karena kondisi pada saat terjadi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom).
Kedua, disebutkan " .... tingginya sebaran penyakit HIV/AIDS di Aceh dikarenakan seks menyimpang seperti homoseksual." Infeksi HIV/AIDS pada kalangan homoseksual, khususnya gay, merupakan terminal terakhir karena mereka tidak mempunyai istri. Kalau pun ada sebaran HIV/AIDS itu hanya terjadi di komunitas gay.
Ketiga, disebutkan " .... penyakit HIV/AIDS ...." Ini tidak akurat karena HIV/AIDS bukan penyakit. HIV adalah virus sedangkan AIDS adalah kondisi pada seseorang yang tertular HIV secara statistik terjadi antara 5 -- 15 tahun setelah tertular.
Dengan mengatakan " .... tingginya sebaran penyakit HIV/AIDS di Aceh dikarenakan seks menyimpang seperti homoseksual" maka yang jadi pertanyaan besar adalah: mengapa 20 persen dari jumlah kumulatif HIV/AIDS di Aceh terdeteksi pada ibu rumah tangga?
Ini ada dalam berita "Astaga! 840 warga Aceh terjangkit HIV/AIDS" (elshinta.com, 10/9-2019): Menurutnya (Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Imam Murahman-pen.), sebagian besar pengidap penyakit menular yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut terdiri dari kalangan wiraswasta sebanyak 40 persen, dan 20 persen kalangan ibu rumah tangga.
Dalam laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27/8-2019, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Aceh 1.168 yang terdiri atas 642 HIV dan  526 AIDS. Tapi, dalam berita indozone.id, 10/9-2019 dan elshinta.com, 10/9-2019 disebutkan jumlah kasus HIV/AIDS di Aceh 840.
Terlepas dari perbedaan angka yang perlu diingat adalah jumlah yang terdeteksi tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.
Dok Pribadi
Dok Pribadi
Maka, kasus-kasus HIV/AIDS pada warga Aceh yang tidak terdeteksi akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Ada lagi pernyataan ini: "Kasus penularan HIV/AIDS di Provinsi Aceh didominasi oleh prilaku sex bebas, terutama mereka yang berhubungan seks sesama jenis seperti kalangan gay," kata Imam Murahman.
Dengan fakta 20 persen kasus HIV/AIDS di Aceh terdeteksi pada ibu rumah tangga, maka pernyataan di atas tidak objektif karena gay tidak mempunyai istri. Lalu, siapa yang menularkan HIV/AIDS kepada ibu-ibu rumah tangga itu?
Yang paling masuk akal ibu-ibu rumah tangga itu tertular HIV/AIDS dari suami. Jika tetap mengabaikan perilaku seksual laki-laki dewasa, dalam hal ini suami, yang berisiko tertular HIV/AIDS itu artinya penyangkalan. Salah satu faktor yang mendorong penyebaran HIV/AIDS adalah penyangkalan. * Sumber - https://www.kompasiana.com/infokespro/5dc0b5bf097f362532489c22/penyangkalan-akan-dorong-penyebaran-hiv-aids-di-aceh

02 November 2019

PSK Online di Kota Tasikmalaya Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: pngmart.com)

“Kami sedang melakukan pendampingan dan sekarang mereka akan diperiksa dulu kesehatannya, lalu tes HIV/AIDS yang bekerjasama dengan pihak Dinas Kesehatan (Dinkes).” Ini pernyataan Kepala Seksi (Kasi) PPA P2TP2A Bidang Pemberdayaaan dan Perlindungan Anak Dinas PPKBP3A Kota Tasik, Teti Rositawati, dalam berita “Para PSK Online yang Digerebek Polres Kota Tasik Dites HIV/AIDS” di radartasikmalaya.com, 31/10-2019.

Ini menunjukkan prostitusi online, dalam berita disebut ‘PSK Online’ (PSK – pekerja seks komersial), sudah menyebar di Nusantara. Ini hal yang masuk akal karena sekarang tidak ada lagi lokalisasi pelacuran dan kepemilikan telepon pintar juga sudah merata sampai ke daerah sehingga ada perangkat untuk mengakses media sosial (medsos).

Langkah yang dilakukan yaitu tes HIV terhadap empat cewek PSK online seperti yang disampaikan dalam berita lebih kepada sensasi karena tidak ada langkah konkret dari hasil tes HIV itu kelak.

Terkait dengan penangkapan empat PSK online di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, tsb. yang jadi masalah besar adalah:

(1) Laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK online tsb, bisa jadi mrk suami, bahkan ada yg istrinya lebih dari satu, dan

(2) Laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK online yang mengidap HIV/AIDS berisiko tertular HIV/AIDS, bisa jadi meraka adalah suami, bahkan ada yang istrinya lebih dari satu.

Masalah lain adalah banyak laki-laki ‘hidung belang’ yang menganggap mereka tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena PSK online bukan PSK yang mangkal di lokalisasi pelacuran. Soalnya, selama ini ada informasi yang ngawur yaitu menyebutkan penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual dengan PSK di lokalisasi pelacuran.


Padahal, dalam prakteknya PSK dikenal dua jenis, yaitu:

(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, PSK online, dll.

Dalam prakteknya PSK online sebagai PSK tidak langsung sama saja dengan PSK langsung karena mereka juga melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa jadi salah satu dari laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehinga PSK online berisiko tertular HIV/AIDS.

Berita tsb. sama sekali tidak memberikan informasi yang akurat tentang risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual dengan PSK online. Padahal, yang diharapkan dari penangkapan empat PSK online di Kota Tasikmalaya itu adalah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa empat PSK online itu sama saja dengan PSK langsung.

Itu artinya laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan salah dari dari empat PSK online tsb. berisiko tertular HIV/AIDS. Jika hasil tes HIV terhadap empat PSK online tsb. hasilnya positif, maka laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan PSK online yang ditangkap itu berisiko tinggi tertular HIV/AIDS jika hubungan seksual dilakukan tanpa memakai kondom.

Salah satu indikator penyebaran HIV/AIDS di kalangan laki-laki adalah penemuan kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga. Program yang menganjurkan ibu-ibu hamil tes HIV merupakan upaya untuk memutus mata rantai penularan HIV dari ibu-ke-anak yang dikandungnya.

Dari 500 kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya sampai Januari 2019 ternyata 38 persen terdeteksi pada ibu rumah tangga. Ini angka yang tidak kecil (liputan6.com, 16/1-2019).

Tapi, yang perlu dilakukan adalah suami dari ibu hamil yang terdeteksi HIV juga harus menjalani tes HIV. Dengan tes HIV suami-suami itu akan dikonseling agar tidak menyebarkan HIV ke perempuan lain. Celakanya, tidak semua suami mau menjalani tes HIV ketika istrinya terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Maka, yang terjadi adalah penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, yang dilakukan oleh suami-suami ibu hamil yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Penyebaran ini kelak akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’ di Kota Tasikmalaya. * [Sumber: