28 April 2017

Ironis: Kondom Ditolak, Vaksin AIDS Ditunggu-tunggu ....

                               Ilustrasi (Sumber: 3Jamaica)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

AIDS: Obat dan Vaksin Akan Membuat (Perilaku) sebagian Orang Seperti Binatang.” Ini judul tulisan di kompasiana.com/infokespro (30/11-2-11) yang ditanggapai secara beragam. Tanggapan berupa caci-maki, hujatan, dll. pun tertuju kepada saya sebagai penulis. Ini tentu saja perkiraan karena selama ini biar pun tidak ada vaksin dan obat, tapi orang tidak takut melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tertular HIV. Sayang, tulisan ini tidak bisa lagi dibaca.

Selama ini di banyak negara, termasuk Indonesia, ada penolakan yang sangat kuat terhadap (sosialisasi) kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual (seks vaginal, seks anal dan seks oral) di dalam dan di luar nikah. Padahal, berbagai penelitian dan studi menunjukkan kondom adalah satu-satunya alat untuk mencegah penularan HIV ketika terjadi hubungan seksual.

Seks Yes, Kondom No

Belakangan muncul pula informasi tentang sirkumsisi (sunat) pada laki-laki yang dikatakan bisa juga mencegah penularan HIV. Pendapat ini pertama kali muncul di Afrika ketika ada dilakukan penelitian terhadap mayat-mayat yang mati karena penyakit yang terkait HIV/AIDS. Hasilnya, lebih banyak laki-laki yang tidak disunat. Tapi, yang tidak muncul dari penelitian ini adalah perilaku seksual orang-orang yang mati tadi semasa hidupnya. Bisa saja karena aturan-aturan tertentu sehingga ada perbedaan perilaku seksual antara yang disunat dan tidak disunat.

Yang benar bukan mencegah penularan HIV, tapi menurunkan risiko tertular HIV ketika terjadi hubungan seksual karena bagian kepala penis mengeras pada penis yang disunat. Tapi, bagian batang penis tetap berisiko menjadi pintu masuk HIV jika terjadi perlukaan selama hubungan seksual karena bersentuhan dengan dinding vagina dan cairan vagina.

Di Papua, misalnya, ada pendeta yang menolak kondom dengan jargon “Seks Yes, Kondom No”. Maka, pemerintah di sana pun menjadikan sunat sebagai prioritas utama dalam penanggulangan HIV/AIDS. Tentu saja ini berdampak buruk karena laki-laki yang disunat merasa aman melakukan hubungan seksual yang berisiko tertular HIV karena menganggap sunat sebagai ‘kondom alam’.

Pakar-pakar kesehatan, terutama yang terkait dengan HIV/AIDS, terus-menerus memutar otak untuk mencari vaksin HIV (yaitu virus yang menurunkan sistem kekebalan tubuh yang akan berakhir pada kondisi AIDS jika tidak ditangani secara medis). Ada yang sudah mulai uji coba.

                                Sumber: http://kmpa.fkunud.com/mengenal-tipe-grup-dan-subtipe-hiv/

Tentu bukan hal yang mudah menemukan vaksin HIV karena sub-type HIV banyak sehingga kalau pun cocok untuk sub-type A belum tentu cocok untuk sub-type lain.

PSK

Yang tidak masuk akal adalah kondom ditolak tapi sunat dipakai sebagai alat mencegah penularan HIV dan vaksin HIV ditunggu-tunggu. Maka, bisa jadi kelak akan terjadi dialog ini:

Seseorang: “Dok, suntikin vaksin HIV, dong, gue mau ngeseks, nih!”

Disebut-sebut kondom melegalisasi zina, mendorong orang berzina, mengajak orang melacur, dst. Padahal, dengan sunat yang dianggap kondom alam juga sama saja dengan kondom, dampaknya jauh lebih lebih parah karena sunat bukan vaksin [Sunat Vs Kondom: Sunat Juga (Bisa) Mendorong Zina dan Pelacuran].

Dengan imunitas HIV di dalam tubuh tentulah tidak ada lagi hambatan bagi yang suka melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti, seperti dengan pekerja seks komersial (PSK), selingkuhan, dll. PSK sendiri diketahui ada dua tipe, yaitu:

(1) PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(2) PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), dll.

Maka, sunat bukan menurunkan kasus HIV  tapi meningkatkan jumlah insiden infeksi HIV baru karena kian banyak orang kelak yang tidak lagi memakai kondom. Sedangkan vaksin menurunkan insiden infeksi HIV baru tapi tidak membawa cara hidup baru dalam penyaluaran dorongan seksual. *[kompasiana.com/infokespro] *


*Catatan: yang benar adalah vaksin HIV, tapi banyak orang yang tidak memahami berbagai aspek tentang HIV/AIDS sehingga mereka lebih mengenal AIDS sehingga judul pakai AIDS agar cepat dikenali ....

23 April 2017

Ganti-ganti Pasangan Seks, Apakah Otomatis Tertular HIV/AIDS?


Tanya Jawab AIDS No 1/April 2017

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: https://www.kompasiana.com/infokespro dan AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Teman saya, perempuan, punya 2 pacar, dia sering lakukan seks tanpa kondom secara bergantian dengan dua pacarnya itu. Selain itu dia pun pernah seks dengan teman laki-lakinya. Juga pernah sekali seks dengan tetangganya.  Apakah dia sudah positif terkena HIV/AIDS?

“N”, Pontianak, via SMS (13/1-2017)

Jawab: Penularan HIV melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah,  kondisi laki-laki tidak memakai kondom dengan seseorang yang mengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui dengan pasti pada hubungan seksual yang ke berapa terjadi penularan HIV. Bisa yang pertama, kedua, ketiga, kesembilan, kesembilan belas, kelima puluh, bahkan pada hubungan seksual yang ke-100.

Di Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Jakarta seorang anak muda yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mengaku baru 10 kali melakukan hubungan seksual dengan PSK di Kalijodo, sekarang tidak ada lagi karena sudah dihancurkan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan dijadikan sebagai tempat berbagai kegiatan warga, seperti olah raga, jalan-jalan, dll.

Maka, hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan pasangan yang berganti-ganti yang tidak diketahui status HIV-nya adalah kegiatan yang sangat berisiko tertular HIV karena bisa saja salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS.

Nah, terkait dengan temanmu itu jelas dia sangat berisiko karena melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Tidak ada jaminan bahwa semua laki-laki itu tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan perempuan, waria atau laki-laki lain selain dengan temanm itu.

Memang, tidak otomatis tertular. Tapi, lebih baik minta temanmu segara menghentikan kegiatannya dan tunggu tiga bulan. Setelah itu ajak dia melakukan tes HIV di Klinik VCT di rumah sakit umum di tempat kalian tinggal. Jika ada kesulitan, jangan segan mengontak kami. * [kompasiana.com/infokespro] *


Ilustrasi (Sumber: Health Aim) 

02 April 2017

Jawa Timur: Penutupan Lokasi Pelacuran Terbanyak, Tapi Laporan Kasus HIV Pun Banyak Pula

Salah satu sudur Gang Dolly sebelum ditutup (Sumber: Tribun Jateng - Tribunnews.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP


Ada salah kaprah di Indonesia terkait dengan epidemi HIV/AIDS. Sejak awal kasus HIV/AIDS terdeteksi di Indonesia (1987) selalu saja ada suara-suara dengan nada sumbang yang menyebutkan lokalisasi atau tempat pelacuran terbuka sebagai sumber HIV/AIDS.

Ketika reformasi bergulir pemerintah daerah pun banyak yang menutup lokalisasi pelacuran yang di era Orde Baru dijadikan sebagai resos yaitu tempat rehabilitasi dan resosialisasi pekerja seks komersial (PSK) dengan membekali berbagai macam keterampilan, seperti jahit-menjahit dan tara rias (salon). Bahkan, tidak sedikit daerah yang menguatkan penutupan tempat pelacuran terbuka dengan peraturan daerah (Perda).

Tutup Lokalisasi

Lalu, muncullah orasi moral yang membentuk opini publik bahwa dengan menutup pelacuran maka penyebaran HIV/AIDS pun dikendalikan. Itulah sebabnya ada judul berita salah satu media massa cetak di Bandung, Jawa Barat, yang membuat judul sesuai dengan jalan pikiran redaktur karena bertentangan dengan kutipan wawancara wartawan yang juga dimuat dalam berita tsb.

Judul berita “Kalau Saritem (tempat pelacuran terbuka di Kota ‘Kembang’Bandung-pen.) Terlambat Ditutup AIDS Akan Menyebar” sedangkan dalam tubuh berita ada kutipan dari wawancara dengan seorang dokter yang mengatakan jika Saritem ditutup maka penyebaran AIDS idak terkendali.

Salah satu tempat pelacuran yang dikenal di Indonesia, bahkan di banyak pelabuhan kapal laut di duni, yang juga disebut-sebut sebagai tempat pelacuran terbesar di Asia Tenggara adalah ‘Dolly’ di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Maka, seiring dengan euforia reformasi Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, pun dengan resmi menutup kegiatan pelacuran terbuka di ‘Dolly’. “BBC Indonesia” melaporkan (19/6-2014): Pemerintah kota Surabaya tetap menggelar deklarasi penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak di tengah protes warga dan para pekerja seks komersial (PSK), pada Rabu malam (18/6-2014).

Soal tempat pelacuran Mensos Khofifah Indar Parawansa juga tak kalah keras suaranya dengan menjadikan  Jatim sebagai model: "Saat ini lokalisasi terbanyak pertama adalah Jabar yakni 11 titik‎. Dulu Jatim terbanyak, yakni 47 titik, tapi sekarang sudah tutup semua. Dan itu patut dicontoh," kata Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, , Kamis (2/6/2016). (news.metrotvnews.com, 3/6-2016).



Dari pernyataan Mensos Kofifah itu jelas bahwa di Jatim semua tempat pelacuran terbuka sudah ditutup. Lalu, apakah insiden infeksi HIV lantas berhenti?

Itulah yang jadi masalah besar karena dalam laporan triwulanan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 8 Februari 2017 menyebutkan dari 10 daerah yang melaporkan kasus infeksi HIV terbanyak priode Oktober-Desember 2016 adalah Provinsi Jatim pada peringkat pertama yaitu sebanyak 2.450 di atas Jawa Barat (1.864) dan Jakarta (1.617). Triwulan pertama (Januari-Maret 2016)  Jatim melaporkan 1.136 kasus HIV pada peringkat kedua di bawah Jakarta (1.164). Triwulan kedua (April-Juni 2016) Jatim melaporkan 1.523 kasus HIV pada peringkat pertama di atas Jakarta (1.391). Pada triwulan ketiga (Juli-September 2016) Jatim melaporkan 1.404 kasus HIV pada peringkat kedua dibawah Jakarta (1.847). Laporan jumlah kasus HIV priode 1987 sd. 31 Desember 2016 Jatim ada di peringkat kedua dengan 31.429 kasus di bawah Jakarta (45.355). Sedangkan kasus AIDS Jatim ada di peringkat pertama pada kurun waktu 1987 sd. 31 Desember 2016 dengan 16.911 kasus.

Berdasarkan  jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS dari tahun 1987-31 Desember 2016 Jatim ada di uturan kedua dengan 48.340 kasus di bawah DKI Jakarta (54.003) serta di atas Papua (38.123) dan Jawa Barat (28.396).

Kegiatan Seksual Berisiko

Infeksi HIV bisa terdeteksi pada seseorang yang pernah atau sering melakukan kegiatan seksual berisiko, seperti melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan pasangan yang berganti-ganti, atau melakukan hubungan seksual dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan seseorang yang sering ganti-ganti pasangan, misalnya, PSK dan gigolo. Celakanya, bertolak dari anggapan yang sudah memasyarakat bahwa risiko itu hanya ada di lokalisasi pelacuran terbuka. Itulah sebabnya ada saja orang-orang yang tertular HIV melalui kegiatan berisiko karena pasangannya bukan PSK karena dilakukan dengan yang bukan PSK dan di luar lokalisasi pelacuran.

HIV terdeksi melalui tes HIV (darah) dengan reagent ELISA akurat setelah terjadi penularan HIV, dalam hal ini setelah melakukan kegiatan seksual berisiko. Itu artinya kasus HIV yang dilaporkan Jawa Timur bisa jadi merupakan infeksi HIV baru setelah tempat pelacuran terbuka ditutup. Soalnya, di Jawa Timur pelacuran terjadi secara online dan di beberapa tempat yang bukan lokalisasi pelacuran.

Dari aspek kesehatan masyarakat melokalisir pelacuran merupakan salah satu bentuk untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, virus kanker serviks, klamidia, dll.) dan HIV/AIDS dari masyarakat ke PSK dan sebaliknya. Langkah ini dikenal sebagai intervensi dengan cara memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Tapi, ketika praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat, sembarang waktu dan dengan berbagai modus intervensi pun tidak bisa dilakukan. Itu artinya kita menyimpan ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *

23 Maret 2017

Apakah PSK yang Rutin Periksa Kesehatan ke Puskesmas Bebas AIDS?



Tanya Jawab AIDS No 3/Maret 2017

Oleh: Syaiful W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) pertama kali tanpa pakai kondom. PSK itu HIV-negatif karena tiap bulan periksa ke Puskesmas. Hari-hari berikutnya saya lakukan lagi dengan PSK itu tapi pakai kondom.  Lima hari dari seks yang terakhir saya flu, apakah ini gejala-gejala tertular HIV/AIDS?

Via SMS (26/8-2016)


Jawab: Pertama, status HIV seseorang hanya bisa diketahui melalui tes HIV yang sesuai dengan standar prosedur operasi yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Sedunia (WHO). Misalnya, setiap tes HIV harus dikonfirmasi. Artinya, apa pun hasil tes HIV pertama dengan reagent ELISA harus dites ulang dengan reagent lain. WHO merekomendasi tes konfirmasi bisa dengan ELISA tiga kali dengan reagent dan teknik yang berbeda.

Kedua, risiko tertular HIV melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom adalah 1:100. Dalam 100 kali hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan pengidap HIV/AIDS dengan kondisi suami atau laki-laki tidak pakai kondom setiap kali hubungan seksual ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan. Persoalannya adalah: tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan. Bisa yang pertama, kedua, kedua puluh, bahkan yang keseratus.

Ketiga, biar pun PSK itu tiap bulan cek kesehatan ke Puskesmas itu tidak jaminan bebas HIV/AIDS karena tes HIV hanya berlaku sampai darah diambil untuk dites karena setelah tes bisa saja ybs. melakukan kegiatan yang berisiko sehingga terjadi penularan HIV/AIDS,

Keempat, tidak ada gejala-gejala, tanda-tanda atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan seseorang yang tertular HIV sebelum masa AIDS (secara statistik masa AIDS terjadi pada renang waktu antara 5-15 tahun setelah tertular HIV).

Kelima, karena Saudara sudah melakukan kegiatan seks yang berisiko tertular HIV sebaiknya segera ke Klinik VCT (tempat tes HIVsecara sukarela dengan konseling sebelum dan sesudah tes HIV) di rumah sakit umum atau puskesmas di tempat domisili Saudara. Ini akan lebih baik agar Saudara tidak was-wasa, tapi tes hanya bisa akurat jika dilakukan minimal tiga bulan setelah kegiatan seksual yang berisiko tertular HIV. * [kompasiana.com/infokespro] *

12 Maret 2017

Risiko Seks Oral dengan Pasangan ‘yang Sehat’


Ilustrasi (Sumber: DHgate.com)

Tanya Jawab AIDS No 2/Maret 2017

Oleh: Syaiful W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.


*****

Tanya: Kalau melakukan oral dengan pasangan yang sehat, apakah berbahaya walaupun yang mengoral sedang sariawan?

Via SMS (20/8-2016)

Jawab: Yang jadi persoalan apa yang Saudara maksud dengan sehat? Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, disebut IMS yaitu infeksi menular seksual, ada dengan gejala tapi ada tanpa gejala. Seperti kencing nanah (GO) dan raja singa (sifilis) ada gejala di alat kelamin. Tapi, infeksi virus hepatitis B dan HIV/AIDS sama sekali tidak ada infeksi di alat kelamin dan tidak ada pula gejala yang khas pada fisik orang-orang yang tertular virus hepatitis B dan HIV/AIDS dalam jangka waktu yang pendek.

Tampaknya Saudara bertanya terkait dengan HIV/AIDS. Penularan HIV/AIDS melalui seks oral ada risiko tapi sejauh ini belum ada kasus yang dilaporkan. Sedangkan infeksi di rongga mulut dan tenggorokan bisa terjadi kalau yang dioral mengidap GO atau sifilis atau keduanya sekaligus.

Yang perlu Saudara perhatikan adalah orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tetap saja sehat karena tidak ada gejala yang khas dan tidak ada pula keluhan kesehatan yang khusus. Maka, sehat yang Saudara maksud tidak bisa dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS.

Untuk mengetahui apakah seseorang mengidapo HIV/AIDS atau tidak hanya bisa diketahui melalui tes HIV bukan melalui pemeriksaan kesehatan secara umum. Jadi, Saudara tidak bisa mengatakan ‘pasangan yang sehat’ terkait dengan HIV/AIDS jika ybs. belum menjalani tes HIV. *

09 Maret 2017

Masih Adakah Risiko Tetular HIV/AIDS Kalau Air Mani Keluar di Luar Vagina?

                                                   Ilustrasi (Sumber: newera.com.na)

Tanya Jawab AIDS No 1/Maret 2017

Oleh: SYAIFUL W. HARAHAP – AIDS Watch Indonesia

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya baru pertama kali melakukan hubungan seksual. Saya lakukan dengan pekerja seks komersial (PSK). Saya tidak pakai kondom.  Tapi, sperma saya kasi di  luar. PSK itu sendiri tiap bulan periksa kesehatan di Puskesmas. Apakah saya bisa kena HIV/AIDS?

Via SMS (14/8-2016)

Jawab: Risiko tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual ada 1 kali kemungkinan terjadi penularan HIV. Masalahnya adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual keberapa terjadi penularan. Maka, setiap hubungan seksual berisiko, di dalam dan di luar nikah, yaitu tidak memakai kondom yang dilakukan dengan pengidap HIV/AIDS atau seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, ada risiko penularan HIV.

Sebagai virus yang bisa ditularkan HIV terdapat al. dalam air mani bukan dalam sperma serta cairan vagina. Nah, ketika terjadi hubungan seksual penis yang tidak memakai kondom gesekan dengan vagina dan bersentuhan dengan cairan vagina. Kalau PSK itu mengidap HIV/AIDS maka ada risiko penularan HIV ketika terjadi hubungan seksual. Itu artinya tidak ada kaitannya dengan mengeluarkan air mani di luar vagina karena sebelumnya penis sudah bergesek dengan vagina dan cairan vagina.

Untuk mengetahui apakah seseorang tertular HIV atau tidak melalui tes HIV baru bisa diketahui setelah tiga bulan sejak tertular. Itu artinya biar pun PSK itu tiap bulan cek kesehatan ke Puskesmas itu tidak jaminan dia bebas HIV/AIDS. Bisa saja setelah tes HIV dengan hasil negatif dia tertular HIV. * 

24 Februari 2017

Penanggulangan AIDS di Indonesia ‘Bak Pemadam Kebakaran’


Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Banyak peraturan terkait (penanggulangan) HIV/AIDS, tapi tidak menyentuh akar persoalan yaitu menurukan insiden infeksi HIV baru, khususnya pada laki-laki dewasa, melalui hubungan seksual dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan yaitu pekerja seks komersial (PSK).

Bahkan, dalam 90-an peraturan daerah (Perda) provinsi, kabupaten dan kota juga tidak ada cara-cara yang konkret untuk menjalankan program di atas. Celakanya, semua perda itu dibalut dengan moral dan agama sehingga yang muncul hanya mitos. Misalnya, disebutkan mencegah penularan HIV/AIDS adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang bukan pasangan, tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, dll.

Larangan itu jelas mitos (anggapan yang salah) karena penularan HIV melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi (saat terjadi) hubungan seksual (salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak pakai kondom) bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, melacur, dll.).

Maka, di dalam ikatan pernikahan yang sah secara agama dan negara pun bisa terjadi penularan HIV kalau suami mengidap HIV/AIDS dan tidak pakai kondom ketika sanggama. Buktinya, sudah banyak ibu rumah tangga (baca: istri yang sah) terdeteksi mengidap HIV/AIDS, padahal mereka tidak pernah sanggama dengan laki-laki lain.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 20 November 2016 menyebutkan sampai tanggal 30 September 2016 kasus kumulatif  HIV/AIDS di Indonesia tercatat 302.004 yang terdiri atas 219.036 HIV dan 82.968 AIDS dengan 10.132 kematian. Secara global kasus HIV/AIDS di akhir tahun 2015 mencapai 36,7 juta dengan 1,1 juta kematian. Dengan kondisi seperti ini Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara di Asia yang pertambahan kasus HIV-nya tercepat.

“Keberadaan Peraturan Presiden Nomor 124 Tahun 2016 dipersoalkan sejumlah pihak. Dalam regulasi itu, Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Nasional ditempatkan di Kementerian Kesehatan sehingga dikhawatirkan bisa menghambat koordinasi lintas kementerian.” Ini lead pada berita “HIV DAN AIDS, Perpres No 124/2016 Dipersoalkan” (Harian KOMPAS, 23/2-2017).

Persoalan yang hakiki bukan soal regulasi tsb., tapi sejauh mana program penanggulangan HIV/AIDS selama ini di Indonesia?

Semua program hanya berkutat di hilir, yaitu: tes HIV terhadap ibu hamil, tes HIV terhadap orang-orang berperilaku berisiko tertular HIV, tes HIV bagi kominitas kelompok kunci, tes HIV terhadap penylahaguna narkoba yang akan menjalani rehabiliasi, dan pasien yang berobat ke rumah sakit dengan gejala-gejala terkait AIDS. Ibarat kata program-progtam ini ‘bak pemadam kebakaran’ yaitu menangggulagi di hilr.

Dalam berita disebutkan: “Jika pengendalian HIV-AIDS hanya dilakukan Kemenkes, programnya terfokus di populasi kunci. Padahal, di Papua, misalnya, HIV masuk dalam populasi umum. Tren serupa di provinsi lain terjadi pada ibu hamil dan anak.” Ini jelas asimsi karena program kerja pemangku Perpres No 124/2016 belum bekerja. Perpres memberi waktu sampai 31 Desember 2017.

Selama ini ada kesan yang buruk yang menggiring opini publik bahwa populasi kunci, PSK dan waria bukan bagian dari masyarakat. Apakah populasi kunci bukan populasi umum? Apakah PSK dan waria bukan anggota keluarga?

PSK dan waria adalah bagian dari keluarga di masyarakat. Maka, tidak perlulah menyebut-nyebut populasi kunci, populasi khusus, dll. karena semua bagian dari masyarakat yang hidup dalam tatanan sosial.

Hal lain yang sering dipersoalan adalah stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS). Diposisikan bahwa penanggulangan HIV/AIDS terhalang karena stigma dan diskriminasi.

Anggapan itu sempit dan tidak objektif karena stigma dan diskriminasi terjadi di hilir yaitu terhadap orang-orang yang (sudah) tertular HIV/AIDS. Lalu, penanggulangan apa yang terganggu?

Yang jelas pemerintah tidak bisa melakukan program yang konkret dalam menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK karena:

Pertama, program tsb. merupakan kegiatan berupa intervensi terhadap laki-laki untuk memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK. Hal ini tidak bisa dilakukan karena kondom ‘dilarang’ dipromosikan di Indonesia. Banyak kalangan, bahkan pakar dan tokoh, yang menyerang promosi kondom. Bahkan, ada ketua organisasi keagamaan yang menyebut Menkes Nafsiah Mboi sebagai ‘menteri cabul’ karena mendukung promosi kondom untuk pencegahan HIV/AIDS (Lihat Gambar 1).

Dokumen pribadi

Kedua, intervensi tsb. hanya bisa dilakukan jika PSK dilokalisir (Lihat Gambar 2). Sejak reformasi semua daerah berlomba-lomba menutup tempat pelacuran. Bahkan, sekarang Mensos Kofifah Indar Parawansa jadi motor penggeran penutupan tempat-tempat pelacuran tanpa memikirkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat terkait dengan penyebaran ‘penyakit kelamin’ (IMS-infeksi menular seksual yaitu kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, virus kanker serviks, jengger ayam, dll.) dan HIV/AIDS.

Soalnya, dengan membubarkan dan menutup lokasi pelacuran maka praktek pelacuran dan transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu sehingga tidak bisa lagi dikontrol melalui regulasi.

Selama promosi kondom dan melokalisir praktek pelacaran ditolak, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru tidak bisa diturunkan yang pada gilirannya laki-laki yang tertular HIV jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakata yang kelak bermuara pada ‘ledakan ADIS’. ***

08 Februari 2017

HPN 2017: Menggugat Kepedulian Pers Nasional terhadap Penanggulangan HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: abtassociates.com)


Kamis, 9 Februari 2017, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini kegiatan dipusatkan di Kota Ambon, Maluku, yang dihadri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seiring dengan perjalanan panjang pers nasional yang juga berperan dalam kemerdekaan, patut juga dipertanyakan peran akrif pers nasional dalam ‘perang’ melawan penyebaran HIV/AIDS karena catatan menunjukkan peran pers nasional dalam penanggulangan HIV/AIDS sangat rendah sekali.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 20 November 2016 menyebutkan sampai tanggal 30 September 2016 kasus kumulatif  HIV/AIDS di Indonesia tercatat 302.004 yang terdiri atas 219.036 HIV dan 82.968 AIDS dengan 10.132 kematian. Secara global kasus HIV/AIDS di akhir tahun 2015 mencapai 36,7 juta dengan 1,1 juta kematian. Dengan kondisi seperti ini Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara di Asia yang pertambahan kasus HIV-nya tercepat.

Pelacuran dan Kondom

Jika dikaitkan dengan epidemi HIV, maka angka-angka itu tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Angka yang dilaporkan atau terdeteksi (digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut) yaitu 302.004 hanya sebagian kecil dari kasus yang ada (digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut). Estimasi dan proyeksi HIV/AIDS yang diterbitkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI,  jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia ada pada angka 608.667 (Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2011-2016, Jakarta, 2014).

Artinya, sejumlah penduduk, terutama laki-laki dewasa, yang mengidap HIV/AIDS di masyarakat tidak terdeteksi karena mereka tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas AIDS dan tidak ada pula keluhan kesehatan terkait AIDS. Orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi jadi mata rantai penularan HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Angka itu diperoleh dari tes terhadap pasien-pasien penyakit terkait HIV/AIDS di rumah sakit, tes HIV terhadap ibu hamil, tes wajib bagi penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bersama-sama, tes sukarela, dll. Belakangan ini ‘pencarian’ kasus HIV/AIDS bersifat pasif yaitu menunggu orang berobat ke rumah sakit jika ada gejala terkait AIDS kemudian dianjurkan tes HIV.

Celakanya, pemerintah sama sekali tidak bisa menjalankan program yang konkret yaitu pemakaian kondom untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, terutama melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) langsung. Program tidak bisa dijalankan karena kecaman dan penolakan yang sangat kuat dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat. Soalnya, program itu hanya bisa dijalankan jika praktek pelacuran yang melibatkan PSK langsung dilokalisir dan kondom tidak ditolak.

Dari 17 ‘pintu masuk’ HIV ke masyarakat yang paling potensial adalah melalui laki-laki yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV yakni sering melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung. Dengan menjalankan program penanggulangan di hulu yaitu pada laki-laki berisiko tinggi akan menurunkan penyebaran HIV di masyarakat.

Di awal tahun 1990-an ahli-ahli epidemilogi internasional sudah mengingatkan Thailand bahwa HIV/AIDS akan menjadi persoalan besar di Negeri Gajah Putih itu jika tidak dilakukan langkah-langkah penanggulangan yang konkret. Sayang, pemerintah di sana menampiknya al. dengan alasan negara itu didiami oleh penduduk yang berbudaya dan beragama.

Tapi, apa yang terjadi satu dekade kemudian? Kasus HIV/AIDS di sana mendekati angka 1.000.000. Biaya untuk penanggulangan HIV/AIDS secara langsung dan tidak langsung pada tahun 2000 saja menghabiskan dana 2,2 miliar dolar AS ini setara dengan 2/3 dana yang diperoleh dari sektor pariwisata.

Pemerintah Thailand pun langsung bergegas merancang program yang komprehensif untuk menanggulangi AIDS. Maklum, lorong-lorong di rumah sakit penuh sesak karena tempat tidur tidak cukup menampung pasien dengan penyakit terkait AIDS. Thailand menjalankan lima program dengan skala nasional secara simultan.

Mr Condom

Program di urutan pertama adalah meningkatan peran media massa sebagai media pembalajaran masyarakat tentang cara-cara melindungi diri agar tidak tertular HIV/AIDS. Bersamaan dengan itu diluncurkan pula program berupa sosialisasi kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual di uturan kelima (Integration of AIDS into National Development Planning, The Case of Thailand, Thamarak Karnpisit, UNAIDS, December 2000).

Memang, enolakan terhadap sosialisasi kondom juga terjadi di banyak negara. Di Thailand, misalnya, program ‘wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki yang melacur dengan PSK di lokalisasi pelacuran dan rumah bordir juga dikecam. Tapi, berkat dukungan media massa program itu berjalan lancar dan berbuah manis dengan salah satu indikator yaitu penemuan kasus HIV/AIDS yang terus menurun drastis di kalangan calon taruna militer ketika tes kesehatan. Pengagas program kondom ini adalah Mechai Viravaidya yang dikenal sebagai Mr. Condom di Thailand dngan semboyan “made Thailand a better place for life and love”. Mechai pun menerima hadiah “Magsaysay” tahun 1994.

Pemberitaan yang objektif dan konsisten pun mendorong banyak kalangan menyingsingkan lengan baju membantu pemerintah menanggulangi HIV/AIDS. Pasien yang tidak bisa ditampung rumah sakit langsung dibawa oleh bhiksu ke vihara. Itu gambaran ril betapa media massa berperan besar dalam memasyarakatkan penanggulangan HIV/AIDS. Tapi, itu ‘kan di Thailand.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Sejak awal epidemi HIV/AIDS yaitu di tahun 1981 pemberitaan media massa nasional berkutat pada mitos (anggapan yang salah). Mulai dari soal penyakit orang asing, penyakit bule, penyakit pelacur, penyakit perilaku menyimpang, penyakit kutukan, dst. (Syaiful W. Harahap, Pers Meliput AIDS, PT Sinar Harapan-The Ford Foundation, Jakarta, 2000). Celakanya, sampai sekarang pun tetap saja ada berita yang mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan mitos.

ilus-hpn-589b954a20afbdd50d90affe.jpg
Berita tentang HIV/AIDS pun sporadis. Jika ada perayaan seperti Hari AIDS Sedunia pada tanggal 1 Desember berita AIDS pun ramai, tapi dua hari kemudian dst sepi. Paling-paling ada berita jika ada keterangan dari dinas kesehatan (Dinkes) atau KPA (Komisi Penanggulangan AIDS). Berbeda dengan Thailand yang melancarkan sosialisasi HIV/AIDS melalui media massa secara simultan dan berkesinambungan.

Yang lebih menyedihkan adalah ada berita yang justru tidak memberikan pencerahan tentang langkah penanggulangan AIDS, malahan mendukung pengecam yang menolak lokalisasi dan kondom. Ini terjadi karena ada wartawan yang memakai moralitas dirinya sendiri ketika menulis berita. Banyak berita yang justru berseberangan dengan upaya-upaya penanggulangan HIV/AIDS yang konkret, al. dengan cara mewawancarai pihak-pihak yang berbicara melalut lidahnya dengan moral ketika membicarakan AIDS yang merupakan fakta medis (bisa diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran).

Tidak Berkompeten

Berita pun lebih banyak yang menakut-nakuti daripada meningkatkan kesadaran untuk melindungi diri, misalnya menyebutkan: “penyakit AIDS yang tidak ada obatnya” (padahal ada obat AIDS), “AIDS penyakit mematikan”  (padahal belum ada satu kasus pun kematian karena AIDS). Jurnalisme horor seperti ini dikenal di awal epidemi 30-an tahun yang lalu, sehingga tidak pas lagi dipakai saat ini.

Banyak kalangan, bahkan menteri kesehatan, yang menyampaikan statement berupa mitos, tapi wartawan dengan ringan tangan menulisnya dan media pun menyebarlaskan mitos tsb. Misalnya, ada menteri kesehatan yang mengatakan “AIDS tidak mungkin masuk Indonesia karena masyarakatnya berbudaya dan beragama”, ada lagi pernyataan yang menyebutkan “AIDS penyakit bule”. “AIDS penyakit homoseks”, dll. 

Kalau saja wartawan sedikit memutar otak tentulah bisa menulis berita yang komprehensif dengan perspektif kesehatan dengan narasumber yang kompeten agar berita AIDS tidak sekedar mitos. Celakanya, ada saja wartawan yang justru mewawancarai narasumber yang tidak berkompeten dalam bidang HIV/AIDS, seperti pemuka agama dan dokter yang membalut lidahnya dengan moral.

Untuk itulah penulis mengembangkan ‘jurnalisme harapan’ yaitu memberikan pencerahan kepada yang mengidap HIV/AIDS bahwa kehidupan mereka tetap akan berlanjut dengan obat antiretroviral (ARV) serta pola hidup yang baik. Bagi yang sering melakukan perilaku berisiko segera menjalani tes HIV agar tidak mencekalai orang lain, sedangkan bagi yang lain dianjurkan menghindari perilaku berisiko.

Sebagian besar berita HIV/AIDS ditulis wartawan dengan sudut pandang moral dan agama sehingga pesan yang diterima pembaca pun hanya seputar mitos. Dalam banyak berita HIV/AIDS selalu dikaitkan dengan ‘seks bebas’, seks menyimpang, di luar nikah, bukan dengan pasangan resmi/sah, seks pranikah, pelacuran, dll. Tentu saja ini tidak akurat karena penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas, seks menyimpang, dll.), tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual yaitu salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom.

Selain itu dalam banyak berita HIV/AIDS tidak disebutkan cara-cara penularan dan pencegahan ang realistis. Pemakaian kata yang tidak baku dalam berita juga membuat informasi tentang HIV/AIDS tidak jelas. Misalnya, kondom disebut sebagai ‘pengaman’. Ini jelas tidak baku karena ‘pengaman’ tidak otomatis pengertiannya adalah kondom.

Selama media massa, media online dan media sosial di Indonesia tetap membalut informasi HIV/AIDS dengan moral, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru dan penyebaran di masyarakat terus terjadi secara terselubung karena terjadi tanpa disadari oleh orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Pada akhirnya epidemi HIV terselubung ini jadi ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

04 Februari 2017

AIDS: Temuan Kasus Baru Tidak Menggambarkan Jumlah Infeksi Baru



Belakangan ini ada cara berpikir yang tidak akurat yaitu mengesankan bahwa jumlah kasus baru yang terdeteksi menunjukkan keberhasilan penanggulangan yakni kasus penularan baru berkurang. Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI (20/11-2016), menyebutkan sampai tanggal 30 September 2016 kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia tercatat 302.004 yang teridiri atas 219036 HIV dan 82.968 AIDS dengan 10.132 kematian. Secara global kasus HIV/AIDS di akhir tahun 2015 mencapai 36,7 juta dengan 1,1 juta kematian.

Tentu saja pola pikir itu perlu dibawa ke realitas sosial di social settings terkait dengan epidemi HIV/AIDS.

Penyalahguna Narkoba

Kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi ada pada tahap infeksi HIV yaitu belum ada gejala-gejala terkait AIDS. Kondisi ini secara statistik bisa terjadi sejak tertular sampai beberapa tahun kemudian. Kasus HIV baru sering terdeteksi pada ibu-ibu yang hamil karena ada program yang menganjurkan perempuan yang sedang hamil menjalani tes HIV secara sukarela. Kasus baru infeksi HIV juga terdeteksi ketika ada yang menjalani tes untuk berbagai keperluan atau anjuran dari konselor serta aktivis LSM yang bergerak di bidang AIDS. Sedangkan temuan lain adalah pada pengidap HIV/AIDS yang sudah masuk masa AIDS, secara statistik terjadi antara 5-15 tahun sejak tertular HIV, karena ada gejala dan keluhan kesehatan terkait AIDS.

Pertama, mengapa penemuan kasus baru berkurang atau turun?

Kedua, bagaimana mekanisme penemuan kasus baru sebelumnya?

Ketiga, bagaimana mekanisme penemuam kasus baru sekarang ketika disebutkan kasus baru yang terdeteksi berkurang?

Jawaban terhadap tiga pertanyaan ini akan menunjukkan apakah cara berpikir bahwa penemuan kasus baru yang turun merupakan bukti bahwa kasus penularan baru juga berkurang.

Terkait dengan pertanyaan pertama ada beberapa kemungkinan penyebabnya, al.: di tahun 1990-an banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bergantian karena mereka diwajibkan tes HIV sebelum menjalani rehabilitasi. Belakangan penanganan narkoba yang dijalankan pemeirntah melalui BNN (Badan Narkotika Nasional) kian bagus sehingga penyalahguna baru semakian berkurang. Tentu saja ini membuat jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada penyalahguna narkoba kian sedikit.

Jumlah penemuan kasus baru yang kian bekurang juga bisa terjadi karena selama ini ketika ada ‘sedekah’ berupa hibah dari donor-donor internasional banyak kegiatan penjangkauan sampai ke masyarakat. Tapi, sejak Pemerintahan di masa Presiden SBY masuk ke G-20 atau negara maju, maka Indonesia dilarang menerima ‘sedekah’ sehingga banyak kegiatan penjangkuau yang berhenti.

Maka, penemuan kasus baru pun tidak lagi aktif atau jemput bola, tapi sudah pada kondisi pasif. Yang terjadi hanya menunggu ada yang ingin tes HIV atau pasien yang berobat ke rumah sakit. Tenaga medis dianjurkan aktif dengan mengamati pasien dengan penyakit yang terkait AIDS untuk selanjutnya dianjurkan tes HIV.

Sama juga halnya dengan jumlah kasus yang sedikit. Banyak kepala daerah yang menepuk dada karena di daerahnya jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan sedikit. Ini menyesatkan karena bisa saja kasus yang terdeteksi sedikit karena mekanisme pendeteksian kasus HIV/AIDS hanya pasif.

Bisa juga terjadi fasilitas tes HIV tidak ada di daerah tsb., atau hanya ada di ibukota provinsi atau ibu kota kabupaten. Tentu ini jadi faktor penghalang. Kondisinya kian runyam karena di daerah itu tidak ada LSM yang bergerak aktif dalam penyuluhan dan penjangkuan HIV/AIDS sampai ke masyarakat dan populasi kunci.

Ada daerah yang bangga karena kasus HIV/AIDS yang terdeteksi sedikit. Penguasa daerah itu pun menganggap hal itu sebagai hasil dari sistem pemerintah yang khusus. Padahal, ketika banyak daerah sudah menjalankan survailans tes HIV terhadap berbagai komunitas di daerah itu sampai tahun 2004 hanya sekali dilakukan survailans tes HIV yang terbatas. Setelah tahun itu pun fasilitas tes HIV juga sangat terbatas. Akibatnya, ada warga dari daerah itu yang tes HIV dan mengambil obat di luar daerah tsb.

17 Pintu Masuk AIDS

Ada pula daerah yang menganggap dengan memenjarakan pekerja seks komersial (PSK) yang terdeteksi mengidap IMS (infeksi menular seksual, seperti sifilis, kencing nanah, dll.) otomatis penularan baru HIV/AIDS berkurang. Tentu ini menyesatkan karena:

(a) bisa saja yang menularkan IMS ke PSK itu adalah laki-laki dewasa penduduk setempat sehingga laki-laki ini jadi mata rantai penularan IMS di masyarakat,

(b) sebelum PSK itu ditangkap dia sudah melayani puluhan bahkan ratusan laki-laki dewasa penduduk setempat yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, dan

(c) bisa saja ada PSK yang dipenjarakan itu sekaligus juga mengidap HIV/AIDS sehingga laki-laki dewasa yang pernah ata sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tsb. tertular IMS sekaligus HIV/AIDS.

Laki-laki pada kasus (b) dan (c) juga akan jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Semua terjadi tanpa disadari karena pada batas tertentu tidak ada gejala dan keluhan kesehatan yang khas infeksi HIV/AIDS.

Berbangga kasus HIV/AIDS sedikit boleh-boleh saja asalkan bisa mencegah penularan HIV melalui 17 pintu masuk, al.:

(1) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah,  dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom dengan perempuan yang berganti-ganti,  

(2) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada perempuan dewasa yang melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom, dengan laki-laki yang berganti-ganti,

(3) pemerintah daerah tsb. bisa menjamin tidak ada laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan, seperti PSK.

Kalau jawabannya TIDAK, maka jumlah kasus yang sedikit tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di masyarakata karena penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Angka yang dilaporkan digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan angka atau kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunug es di bawah permukaan laut.

Jadi, tidak ada kaitan langsung antara penurunan jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi dengan jumlah kasus infeksi HIV baru. Kasus-kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi jadi ‘bom waktu’ yang kelak akan terjadi ‘ledakan AIDS’. *** [kompasiana.com/infokespro] ***

Ilustrasi (Sumber: www.cdi.it)