18 April 2014

Pasangan Laki-laki Gay Tes HIV, Satu Positif dan Satu Negatif

Tanya Jawab AIDS No 4/April 2014

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) melalui: (1) Surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: Saya gay dan punya pasangan. Kemarin dia ajak saya tes HIV. Yang mengejutkan adalah hasil tes saya reaktif dan pasangan saya itu nonreaktif.

Via SMS (17/4-2014)

Jawab: Hal itu bisa saja terjadi. Paling tidak ada lima kemungkinan yang bisa menyebabkan hasil yang berbeda itu.

Pertama, reagen dan cara tes yang dipakai. Standar baku tes HIV adalah setiap hasil tes harus dikonfirmasih dengan tes lain. Apakah tes yang kalian lakukan menjalankan standar tes yang baku?

Kedua, apakah Anda punya pasangan lain? Jika Anda sudah melakukan seks anal atau seks vaginal berisiko (dilakukan tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering ganti-ganti pasangan) sebelum dengan pasangan Anda sekarang, maka ada kemungkinan Anda tertular dari pasangan sebelumnya.

Ketiga, jika pasangan Anda itu tidak punya pasangan dan tidak pernah seks anal atau seks vaginal berisiko sebelumnya, maka risiko dia tertular HIV kemungkinan hanya dari seks anal dengan Anda.

Keempat, secara teoritis risiko tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom adalah 1:100. Artinya, dalam 100 kali hubungan seksual, seks anal atau seks vaginal, tanpa kondom dengan yang mengidap HIV/AIDS ada satu kali terjadi penularan. Namun, perlu diingat tidak bisa diketahui penularan terjadi pada hubungan seksual yang ke berapa. Bisa yang pertama, kesepuluh, ketujuh puluh, dst.


Kelima, apakah tes HIV yang kalian lakukan sudah melewati masa jendela atau tiga bulan setelah seks anal berisko terakhir? Kalau belum lewat masa jendela, maka hasil tes bisa positif palsu (HIV tidak ada di dalam darah tapi reaksi reagen reaktif) atau negatif palsu (HIV ada di dalam darah tapi reaksi reagen nonreakti). Itulah sbabnya setiap tes HIV harus dikonfirmasi dengan res lain.

Jika tes HIV yang kalian lakukan tidak sesuai dengan standar baku tes HIV, maka silakan ke Klinik VCT di rumah sakit umum di daerah Anda atau ke klinik yang ditunjuk oleh pemerintah.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap


Dua Warga Kalijodo, Tambora, Jakarta Barat, Idap HIV/AIDS

Jakartaaidsindonesia.com (22/3/2014) - Dua warga yang bermukim di kawasan Kalijodo, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, diketahui mengidap virus HIV/AIDS.
Informasi tersebut di dapat dari data yang berada di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat, setelah melakukan pemeriksaan darah serta tes urine terhadap warga di kawasan Kalijodo, Jakarta Barat pada Januari - Februari 2014, lalu.

"Dalam pemeriksaan darah dan tes urine, keduanya diketahui terjangkit HIV/AIDS," kata Kepala Konseling Klinik Cinta Puskesmas Tambora, dr Nurlaila, Sabtu (22/3/2014).

Dijelaskan Nurlaila, dua orang warga Kalijodo yang mengidap HIV/AIDS adalah pekerja seks komersil (PSK) dan seorang pria homo seksual.

"Keduanya saat ini dalam pengawasan Puskesmas Tambora guna mencegah penyebaran virus HIV/AIDS, khususnya di kawasan Kecamatan Tambora," ungkapnya.

Dari data yang dimiliki, sambung Nurlaila, dalam satu tahun terakhir setidaknya terdapat 26 orang yang terjangkit penyakit kelamin akibat seks bebas, 4 orang positif HIV dan 7 orang menderita penyakit spilis.

Untuk itu, kata Nurlaila, pihaknya selalu mengadakan monitoring dan penyuluhan bagi para PSK di kawasan Kalijodo. Hanya saja, Nurlaila menyangkan ulah dari para PSK yang kerap tidak peduli atau bahkan kabur saat sosialisasi tentang HIV/AIDS digelar.

"Kalau kami periksa mereka cenderung kabur dan tidak peduli, jadi agak sulit juga kita untuk memantau penularan virus HIV di Kalijodo," tandasnya.

Camat Tambora, Yusuf Burhan menuturkan, wajar saja jika di Kalijodo ditemukan banyak penyakit menular karena wilayah tersebut memang tempat prostitusi. "Kami selalu berupaya mencegah penyebaran penyakit HIV/AIDS berkoordinasi dengan puskesmas dan pihak terkait lainnya," kata Yusuf. [dit/Wahyu Praditya Purnomo/inilah.com]

17 April 2014

1.400 Warga Bekasi terjangkit penyakit menular seksual

Kota Bekasi, aidsindonesia.com (22/3/2014) Penyebaran penyakit menular melalui hubungan seksual di Kota Bekasi terbilang tinggi. Saat ini tercatat sekitar 1.400 lebih warga setempat terjangkit penyakit Infeksi Menular Seksual. Mereka pun terancam mengidap HIV/AIDS.

"Kalau tak diobati, bisa mengakibatkan HIV/AIDS," kata Kepala Seksi Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Reni Amalia di Bekasi, Jumat (21/03).


Menurut dia, IMS merupakan pintu masuk bagi penyakit HIV/AIDS. Namun demikian, penderitanya masih dapat disembuhkan. Karena itu, ribuan penderita IMS terus dipantau perkembangan kesehatannya.
"Tidak cukup satu kali kunjungan ke petugas medis," kata dia.


IMS, sambung dia, merupakan infeksi yang ditularkan melalui aktivitas seksual. Ia mengatakan, dampak dari IMS dapat menyebabkan kemandulan, dan sangat mudah ditularkan lewat perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab seperti berganti-ganti pasangan.


Beberapa jenis penyakit IMS kata dia, di antaranya syphilis (raja singa), gonorrhea (kencing nanah), klamidia, herpes simpleks, dan jengger ayam (condiloma akuminata).


Tanda-tanda orang yang mengidap, seperti gejala perih atau nyeri dan panas saat kencing, gatal di sekitar kelamin, keluar cairan berbeda dari biasanya dari kemaluan atau dubur, tumbuh kutil di sekitar kelamin, dan kantung pelir membengkak.


Pada tahun 2013 di Kota Bekasi tercatat sebanyak 401 warga sudah positif terjangkit virus HIV. Virus ini akan menyebabkan penurunan kekebalan tubuh bagi penderita yang terinfeksi. Sementara jumlah penderita AIDS tercatat 213 orang.


Ia menambahkan, layanan konseling dan pemeriksaan terkait HIV/AIDS dilakukan petugas medis di RSUD Kota Bekasi, RS Elisabeth, RS Ananda, serta 12 Puskesmas. Sedangkan layanan pengobatan HIV/AIDS hanya diberikan oleh RSUD Kota Bekasi, Rumah Sakit Elisabeth, dan Rumah Sakit Ananda. (Adhi Nugroho/merdeka.com).

Suami 'doyan jajan', 33 ibu rumah tangga di Bekasi kena AIDS

Kota Bekasi, aidsindonesia.com (24/3/2014)Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat sedikitnya 33 ibu rumah tangga mengidap AIDS. Hal tersebut cukup mengejutkan.

"Temuan itu cukup mengejutkan bagi kami, karena penularan HIV/AIDS biasanya kan lebih banyak pengguna narkoba dan pelaku seks beresiko," kata Kasie Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Reni Amalia, di Bekasi, Minggu (23/3).


Jumlah penderita HIV (Human Immuno Deficiency Virus)di Bekasi pada 2013 tercatat 401 orang. 121 Orang di antaranya sudah positif terjangkit AIDS.

Penularan yang terjadi kepada ibu rumah tangga kebanyakan berasal dari suaminya sendiri. Biasanya suami berhubungan seks di luar kemudian menulari istrinya.


"Suami yang memiliki perilaku seks berlebihan biasanya melakukan hubungan seks beresiko ketika berada di luar rumah atau kota," kata Reni.


"Ibu rumah tangga yang tertular itu awalnya memeriksakan kesehatan karena curiga kena keputihan, tetapi setelah dicek lebih lanjut ternyata itu HIV," ujar Reni.


Upaya penyelamatan yang dilakukan pihaknya saat ini masih difokuskan pada pasien yang tengah mengandung.


"Ibu hamil yang diketahui sudah tertular HIV/AIDS akan diberikan obat pencegahan untuk memutus rantai penularan dari ibu," kata Reni.


Kemudian langkah yang dilakukan selanjutnya adalah proses kelahiran bayi yang dilakukan secara sesar dan tidak disusui oleh ibu kandungnya.


"Masih bisa dilakukan upaya penyelamatan, khususnya untuk si bayi," katanya. (
Ramadhian Fadillah/merdekalcom).

Ribuan Warga Kota Bekasi Terinfeksi Penyakit Kelamin

* Sebagian dari mereka akan terancam HIV?

Kota Bekasi, aidsindonesia.com (22/4/2014) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mencatat sebanyak 1.400-an warga Kota Bekasi terindikasi menderita penyakit infeksi menular seksual (IMS) selama 2013 lalu.
"Data itu terpantau dari hasil kunjungan pasien di RSUD Kota Bekasi dan puluhan puskesmas," ungkap Kepala Seksi Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK), Dinkes Kota Bekasi, dr Reni Amalia.
Menurut Reni, ribuan penderita IMS itu terus dipantau perkembangan kesehatannya. Mereka membutuhkan waktu untuk pengobatan, karena  tidak cukup hanya satu kali kunjungan ke petugas medis.
Beberapa jenis penyakit IMS itu diantaranya syphilis (raja singa), gonorrhea (kencing nanah), klamidia, herpes simpleks, dan jengger ayam (condiloma akuminata).
Penderita biasanya mengalami gejala perih atau nyeri dan panas saat kencing, gatal di sekitar kelamin, keluar cairan berbeda dari biasanya dari kemaluan atau dubur, tumbuh kutil di sekitar kelamin, dan kantung pelir membengkak.
Jika dibiarkan tanpa pengobatan dan perubahan perilaku seksual, kata Reni, penderita IMS itu berpotensi juga akan terjangkit virus HIV. "Karena perilaku seksual yang tak terjaga, ujung-ujungnya nanti bisa kena HIV/AIDS juga," kata Reni.
Pada 2013 saja, tercatat sebanyak 401 warga Kota Bekasi yang sudah positif terjangkit virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini akan menyebabkan penurunan kekebalan tubuh bagi penderita yang terinfeksi.
Sementara jumlah penderita AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) pada 2013 tercatat 213 orang. AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul akibat turunnya kekebalan tubuh dalam melawan penyakit.
Catatan Dinkes Kota Bekasi, sejak 2004 lalu, terhitung sebanyak 4.213 kasus penyakit IMS, 2.762 kasus HIV, dan 902 kasus AIDS yang terdeteksi oleh petugas medis di RSUD dan belasan Puskesmas di Kota Bekasi.
Saat ini, layanan konseling dan pemeriksaan terkait HIV/AIDS dilakukan petugas medis di RSUD Kota Bekasi, RS Elisabeth, RS Ananda, serta 12 Puskesmas. Sedangkan layanan pengobatan HIV/AIDS hanya diberikan oleh RSUD Kota Bekasi, RS Elisabeth, dan RS Ananda. (Laporan: Makhsanuddin Kurniawan l tvOne/VIVAnews).

Dinkes: 33 Kaum Ibu Bekasi Positif AIDS

Bekasi, aidsindonesia.com (23/3/2014) - Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat sedikitnya 33 warga setempat yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga diketahui mengidap AIDS.
"Temuan itu cukup mengejutkan bagi kami, karena penularan HIV/AIDS biasanya kan lebih banyak pengguna narkoba dan pelaku seks berisiko," kata Kasie Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Reni Amalia, di Bekasi, Ahad (23/3).

Menurut dia, jumlah penderita HIV (Human Immuno Deficiency Virus) pada 2013 sebanyak 401 orang, dan 121 orang di antaranya sudah positif terjangkit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Dikatakan Reni, penularan yang terjadi kepada ibu rumah tangga diketahui pihaknya berasal dari suaminya sendiri.

"Suami yang memiliki perilaku seks berlebihan biasanya melakukan hubungan seks berisiko ketika berada di luar rumah atau kota," katanya.

Sesampainya di rumah, kata dia, suami yang sudah tertular virus mematikan itu kembali menularkannya melalui hubungan intim kepada istri.

"Ibu rumah tangga yang tertular itu awalnya memeriksakan kesehatan karena curiga kena keputihan, tetapi setelah dicek lebih lanjut ternyata itu HIV," ujar Reni.

Adapun upaya penyelamatan yang dilakukan pihaknya saat ini masih difokuskan pada pasien yang tengah mengandung.

"Ibu hamil yang diketahui sudah tertular HIV/AIDS akan diberikan obat pencegahan untuk memutus rantai penularan dari ibunya," katanya, seperti dikutip Antara.

Kemudian langkah yang dilakukan selanjutnya adalah proses kelahiran bayi yang dilakukan secara sesar dan tidak disusui oleh ibu kandungnya.

"Masih bisa dilakukan upaya penyelamatan, khususnya untuk si bayi," katanya. (ARF/
GATRAnews).

Orangtua Suka Jajan, Anak Tertular HIV

Samarinda, aidsindonesia.com (22/3/2014) - Komisi Perlindungan AIDS (KPA) Samarinda melansir data baru. Dalam kurun sembilan tahun (2005-2013), sebanyak 50 anak di Samarinda terjangkit Human Immunodeficiency Virus (HIV). Ironisnya, virus itu diakibatkan perilaku seks menyimpang orang tuanya.

Pejabat pengelola KPA Samarinda, Basuki ketika ditemui beberapa hari lalu mengatakan, temuan tersebut berdasarkan penyisiran di beberapa rumah sakit. Salah satunya di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie (AWS).  Ia tidak memungkiri, angka tersebut bisa saja bertambah  jika orangtua maupun anak yang disebut  ODHA (orang dengan HIV/AIDS) terbuka dan melaporkannya ke KPA. 

“Stigma di masyarakat tentang HIV-AIDS masih membuat penderita penyakit ini takut ketahuan. Orang dengan HIV-AIDS malu dan takut dikucilkan di lingkungan masyarakat. Padahal, penularan HIV-AIDS tidak seperti penyakit lain,” beber Basuki.  

Menurut dia, anak-anak itu tertular HIV akibat ulah seks orangtua yang menyimpang. “Salah satunya adalah perilaku ayah yang gemar melakukan hubungan seks dengan pasangan lain. Gonta-ganti pasangan itu rawan terkena HIV/AIDS,” ucapnya. Hal tersebut diperparah orangtua yang tidak pernah konsultasi ke rumah sakit. “Jadi susah dideteksi awalnya. Kasihan anak-anak yang menjadi korban,” imbuhnya. 

Perempuan yang hamil dengan HIV-AIDS, menurut Basuki, jelas berpotensi 60 persen menularkan penyakit kepada bayinya. Peluang besar tersebut bisa saja diminimalisasi, dengan catatan ibu tersebut rutin mengonsumsi antiretroviral (arv). “Obat arv tidak membunuh virus itu. 

Namun, dapat melambatkan pertumbuhan virus. Waktu pertumbuhan virus dilambatkan, begitu juga penyakit HIV,” bebernya. Cara lain yang bisa mencegah adalah melahirkan dengan cara caesar. “Sangat memprihatinkan, anak-anak ini harus terkena penyakit mematikan. Mereka harus menanggung beban akibat ulah orangtuanya. Bahkan, di antaranya sudah menjadi yatim dan tinggal sama neneknya. Karena orangtuanya telah meninggal duluan akibat HIV,” ujarnya. (*/riz/kri/k8/kaltimpost.com).

Pemahaman Tenaga Medis Terkait HIV/AIDS Belum Baik

Jakarta, aidsindonesia.com (14/4/2014) - Stigma terhadap pasien pengidap HIV oleh tenaga kesehatan ataupun lembaga pelayanan kesehatan akan kontraproduktif terhadap upaya pencegahan HIV. Padahal, perubahan perilaku pengidap HIV akan terjadi jika tenaga medis memperlakukan pasien dengan baik.


Hal tersebut disampaikan Gabriel John Culbert, pengajar dari Yale School of Medicine, pada lokakarya HIV Prevention Science: Behavioral and Biomedical Approaches di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), Sabtu (12/4).



Menurut situs LSM yang bergerak di bidang pencegahan HIV, www.avert.com, stigma dan diskriminasi terkait HIV/AIDS merujuk pada prasangka, perilaku negatif, dan perundungan terhadap pengidap HIV dan AIDS. Akibat dari stigma dan diskriminasi, antara lain pengidap dijauhi keluarga, teman, dan masyarakat, perawatan tak memadai dari fasilitas pelayanan kesehatan, perlakuan tak semestinya dari pihak sekolah, pengurangan hak, gangguan psikologi, serta akan berefek buruk terhadap keberhasilan tes HIV dan pengobatan.



Culbert mengatakan, stigma terhadap pasien pengidap HIV tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal itu juga ditemui di negara lain, bahkan di negara maju.

Keyakinan tenaga kesehatan akan sangat memengaruhi perilaku pasien HIV. Jika tenaga kesehatan berasumsi bahwa pasien HIV yang dirawat tidak mau mengonsumsi metadon atau obat antiretroviral (ARV), pasien akan benar-benar tidak mau mengonsumsi metadon dan ARV.

Menurut Culbert, berbagai riset menunjukkan, dengan menghilangkan stigma terhadap pasien HIV dan merawat mereka dengan sepenuh hati justru akan berpengaruh positif terhadap pencegahan penyebaran HIV.

”Pasien yang dirawat dengan baik, perilakunya akan berubah. Pasien akan cenderung mengikuti pengobatan sehingga penularan berkurang,” ujarnya.

Culbert menambahkan, selama ini berbagai pihak di dunia menjalankan program pencegahan dan pengobatan HIV secara terpisah.

Namun, perkembangan penelitian mengubah hal itu. Upaya pencegahan bisa dilakukan bersama dengan upaya kuratif. ”Pendekatan ini mengubah paradigma kita,” katanya.

Pemahaman belum baik

Dosen FIK UI, Agung Waluyo, yang juga menjadi pembicara di lokakarya tersebut, menambahkan, riset yang ia lakukan pada 2010-2011 menunjukkan, pemahaman perawat terhadap HIV belum baik. Riset dilakukan terhadap 400-an perawat di empat rumah sakit di Jakarta.

Perawat cenderung menolak untuk merawat pasien HIV. Hal itu karena perawat tidak begitu paham dengan seluk-beluk HIV dan cara merawat pengidap. Ada kekhawatiran, mereka akan tertular. Akibatnya, pasien HIV diperlakukan berbeda oleh tenaga kesehatan.

”Jika bisa memilih, perawat cenderung memilih untuk tidak merawat pasien HIV,” ujar Agung.

Menurut Agung, hal tersebut bukan semata-mata kesalahan perawat. Fasilitas pelayanan kesehatan tempat perawat bekerja juga ikut andil. Hal itu karena rumah sakit atau klinik tempat perawat bekerja tidak memfasilitasi sumber daya manusianya dengan pembekalan tentang HIV/AIDS. Bisa juga rumah sakit tidak memiliki kebijakan yang baik terhadap pasien HIV.

Agung menyarankan, tenaga kesehatan terus mengikuti perkembangan terkini terkait pencegahan, pengobatan, dan penanggulangan HIV. (ADH/kompas.com).

16 April 2014

Sinar Mas Kaji Jaminan Risiko HIV/AIDS

Jakarta, aidsindonesia.com (13 Februari 2014) - Imbauan Kementerian Kesehatan agar perusahaan asuransi juga menjamin risiko Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) sepertinya masih membuat pelaku mikir-mikir. Salah satunya, PT Asuransi Sinar Mas.
Soalnya, bukan tanpa alasan, Dumasi MM Samosir, Direktur Sinarmas mengatakan, orang yang hidup dengan HIV/AIDS lebih rentan jatuh sakit. “Misalnya, kami cover orang dengan penyakit darah tinggi, ketika masuk rumah sakit dan mendapatkan perawatan lalu sembuh. Selesai. Jika HIV/AIDS sakitnya, kami tidak tahu kapan sembuhnya,” ujarnya seperti dilansir Tribunnews dari Kontan  (13/2).

Alasan lain, sambung Dumasi, belum ada reasuransi yang mau menerima jaminan risiko ini. Meskipun, berdasarkan pengalaman perseroan selama ini, ada saja beberapa kasus yang mengajukan klaim dengan tertanggung HIV/AIDS. Adapun saat ini pemegang polis asuransi  kesehatan Sinarmas berkisar 600.000 tertanggung.

Karenanya, sebelum mengamini permintaan Kemkes dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang menyatakan agar tidak ada diskriminasi dalam layanan kesehatan para tenaga kerja, termasuk mereka yang hidup dengan HIV/AIDS, perseroan masih ingin melakukan kajian lebih lengkap.

Harap maklum, sesuai nafasnya, bisnis asuransi  memang menjamin ketidakpastian risiko dalam hidup. Bukan risiko yang pasti. HIV/AIDS sendiri memastikan orang yang terjangkiti kehilangan sistem kekebalan tubuhnya. Sederhananya, menjadi mudah terserang berbagai penyakit.

Sekadar menyegarkan ingatan, berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 20/2012 tanggal 19 November 2012 yang merupakan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 53/2012 tentang Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, penderita HIV/AIDS berhak mendapatkan fasilitas layanan kesehatan sebesar Rp 20 juta per tahun.


“Semua buruh, pekerja, termasuk yang terkena HIV/AIDS berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang terjangkau, jaminan asuransi, perlindungan sosial dan berbagai paket asuransi kesehatan lain,” tutur Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. (Christine Novita Nababan/tribunNews.com)

Bahamas remains committed to the AIDS response


Bahamas, aidsindonesia.com (14 April 2014) - During a visit to the Commonwealth of the Bahamas the Deputy Executive Director of UNAIDS Luiz Loures commended the government on the progress made in curbing its AIDS epidemic. 
Once a country with the highest rates of HIV prevalence in the Caribbean, the Government of the Bahamas has taken strong ownership of its response to HIV from the outset, providing most of the funding and human resources from domestic sources. This commitment has resulted in marked progress and the Bahamas was cited by Dr Loures as an example of how political will and leadership are key to advancing progress towards the end of the AIDS epidemic.
Dr Loures also recognized the valuable contributions of civil society, care providers and private sector partners and confirmed that in this global effort, UNAIDS is looking forward to supporting the Bahamas leadership in its quest to end the national epidemic.
The Government reconfirmed its commitment to providing high-quality, accessible HIV services to improve the health and well-being of people living with and affected by HIV. 
Quotes
"UNAIDS and the Bahamas remain strong partners in the AIDS response". 
Honorable Perry Christie, Prime Minister of the Bahamas

"From the beginning of the epidemic, the Government of the Bahamas has made a strong commitment to address AIDS. We are committed to furthering our efforts to curb the epidemic."

Honorable Perry Gomez, Minister of Health, Bahamas
"We have seen first-hand the importance of country ownership, and we will continue to lend our support to furthering the efforts to achieve the Three Zeros in the Bahamas and by extension in the Caribbean region". (http://www.unaids.org/).

Cooperation for the local manufacturing of pharmaceuticals in Africa intensifies

African Union, UNAIDS, UNECA, UNIDO convene event with African finance ministers
Geneva/Abuja, aidsindonesia.com (29 March 2014) - African leaders and key multilateral organizations are strengthening and broadening support for the local production of essential medicines on the continent. This was one of the key outcomes of the Seventh Joint African Union (AU) Conference of Ministers of Economy and Finance and the Economic Commission for Africa (ECA) Conference of African Ministers of Finance, Planning and Economic Development held in Abuja, Nigeria, from 25 to 30 March.
On the sidelines of the annual conferences, the AU, UNAIDS, UNECA and UNIDO held a high-level meeting, Local Manufacture of Pharmaceuticals: an Untapped Opportunity for Inclusive and Sustainable Industrial Development in Africa, with African ministers of finance and economic planning. The event highlighted the opportunities for developing a high-quality pharmaceutical industry in Africa, which will bring important health and economic development benefits.
African Union Commission Deputy Chairperson, Erastus Mwencha stressed the benefits of the local production of medicines. “Local production of generic medicines promises affordability and availability of needed drugs, employment opportunities and overall public health benefits, including shortened supply chains, hence helping to reduce stock outs, as well as enhancing the capacity of local regulatory authorities to oversee the quality standards of essential medicines for their countries.”
The Pharmaceutical Manufacturing Plan for Africa business plan, the Action Plan for the Accelerated Industrial Development of Africa and the AU Roadmap on Shared Responsibility and Global Solidarity for AIDS, TB and Malaria Response in Africa have been endorsed by African Heads of State and Government as strategic continental frameworks for developing the pharmaceutical sector from both the public health and industrial development perspectives.
UNAIDS Executive Director Michel Sidibé welcomed the broader support from financial and industrial leaders for the local manufacture of medicines. “The time for Africa to break its dependency on foreign imports is now. The local manufacture of pharmaceuticals in Africa is an opportunity to develop a broader manufacturing and knowledge-based economy,” he said.  
Mr Sidibé called for a major continental meeting before the end of 2014 on local production with ministers of finance, trade, industry and health, regional economic communities and the pharmaceutical industry.
Africa is the continent most affected by the AIDS epidemic, but remains hugely dependent on imported pharmaceutical and medical products. It is estimated that more than 80% of antiretroviral medicines (ARVs) medicines are imported from outside Africa. Local production of ARVs is vital to secure continued access to life-saving treatment for the 7.6 million people already accessing ARVs in Africa and the millions more, who still need access to treatment. Local production is important not only for the AIDS response, but for other existing and future health challenges faced by the continent.
UNECA Executive Secretary Carlos Lopes said “We must develop a business case if we want to convince African banks to invest in the pharmaceutical industry.”
The immense need for ARVs and other medicines presents a big market opportunity for pharmaceutical companies on the continent. Total pharmaceutical spending for the continent in 2012 was estimated at US$ 18 billion and is expected to reach US$ 45 billion by 2020.
The Director General of UNIDO, LI Yong, is committed to working in partnership with key continental stakeholders. “Together, we can develop the pharmaceutical industry in Africa; this will contribute to improved public health and will help alleviate human suffering. In line with our mandate to promote inclusive and sustainable industrial development, we will support efforts to enhance public health and enable populations to be increasingly economically productive through the development of viable high-quality industries in this important knowledge-intensive sector in Africa.”
The challenges the pharmaceutical industry faces in upgrading facilities and production practices in Africa include the requirement for large capital investments and the need for experts, specially trained workers, increased regulatory oversight and regulatory harmonization at the regional and continental levels in order to create bigger markets. However, there is growing consensus that strengthening the local production of essential medicines is a priority, along with advancing industrial development and moving the continent towards sustainability of treatment programmes for HIV, tuberculosis and malaria, and improving access to safe and effective medicines to treat a broad range of communicable and non-communicable diseases. (http://www.unaids.org/)

Brazilian football star David Luiz appointed new UNAIDS International Goodwill Ambassador

UNAIDS leverages the power of football ahead of FIFA 2014 World Cup
Geneva, aidsindonesia.com (16 April 2014)In the lead-up to the FIFA World Cup in Brazil starting in June, UNAIDS has teamed up with Brazilian football champion and vice-captain of the national Brazilian football team David Luiz, appointing him as UNAIDS International Goodwill Ambassador. 
David Luiz, who is playing in the Premier League, will support UNAIDS by promoting the organization’s key advocacy and outreach initiatives. He will help mobilize football fans around the world, particularly young people, with important messages calling for an end to discrimination, advocating for HIV prevention and access to HIV treatment for people living with HIV.
“I am convinced that David with his heart and compassion will make a big difference reaching out to millions of young people,” said UNAIDS Executive Director, Michel Sidibé. “In football, players come together to produce results. In the same way we must unite and as a team get to zero new HIV infections. During the World Cup, everyone’s eyes will be on Brazil and David will be an inspiration both on and off the pitch.”
“It is a massive honour to be a global ambassador for UNAIDS and I want to use this position to spread the word about how to overcome AIDS around the world,” said David Luiz. ”People will be looking to my country Brazil to see great football at the World Cup and this is a great opportunity for UNAIDS and I to speak out—and I want to help make UNAIDS the winning team.”
David Luiz is featured in Protect the Goal which is a UNAIDS campaign using the popularity and convening power of sport to raise awareness of HIV and drive young people to commit to HIV prevention. In addition, David Luiz is promoting UNAIDS’  #zerodiscrimination campaign, which calls on people to celebrate everyone’s right to live a full life with dignity – no matter what they look like, where they come from or whom they love.
Of the total estimated 35.3 million people living with HIV around the world, an estimated 5.4 million are young people aged 10-24. Many are unaware of their status. There are some       900 000 adolescents (10-14) living with HIV. In addition, an estimated 780 000 of the total 2.3 million new HIV infections worldwide are among adolescents and young people aged 15–24 with 97% of the new infections occurring in low and middle-income countries. (http://www.unaids.org/).